Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Teater Boneka Poppenkast terancam tutup!

Jumlah penonton yang semakin menyusut membuat Erin berjuang keras membuat cerita-cerita baru untuk dimainkan di teater boneka yang ia warisi dari sang kakek. Tapi ini bukan pekerjaan mudah. Erin merasa tak ada yang memahami cita-citanya, termasuk Robert, kekasihnya.

Hingga Erin bertemu Awan, lelaki dengan latar belakang misterius yang memaksa bekerja di Poppenkast tanpa meminta bayaran. Dukungan lelaki itu terhadap kelangsungan teater boneka membuat Erin jatuh hati.

Namun Awan ternyata menyimpan rahasia masa lalu yang membuatnya harus bersembunyi di Poppenkast. Saat rahasia lelaki itu terungkap, ternyata dia bukan orang yang selama ini dikira Erin. Hingga Awan akhirnya harus memilih antara menyelesaikan persoalan masa lalunya atau terus bersama Erin.

320 pages, Mass Market Paperback

First published April 3, 2014

9 people are currently reading
138 people want to read

About the author

Emilya Kusnaidi

3 books40 followers
Emilya Kusnaidi is a passionate writer who also happens to be a doctor. She is the Metropop finalist of Gramedia Writing Project batch 1 (2014), with Orinthia Lee and Ayu Rianna.

Her published novels are Teater Boneka (GPU, 2014), Romansick (GPU, 2015 - reprinted in 2017), and Sparks, a short story in Kata Kota Kita (GPU, 2105)

When she isn’t glued to a computer screen, she spends time reading good books, learning how to cook, and trying very hard not be the sloppiest in her workplace. She is currently working on her new book.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (11%)
4 stars
45 (35%)
3 stars
53 (41%)
2 stars
13 (10%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 38 reviews
Profile Image for Orinthia Lee.
Author 12 books123 followers
March 17, 2014
5 bintang untuk pengalaman tak terlupakan, untuk kerja keras, dan kerja sama yang solid. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk menulis bersama kalian berdua; Ayu dan Emilya. Untuk ide luar biasa dari Clara Ng yang menginspirasi, untuk mentoring yang super sabar dari Ci Hetih Rusli, terima kasih banyak xD

Buku ini meski ditulis bertiga, tetap merupakan sebuah cerita utuh. Semoga bisa memberi penghiburan, dan juga sesuatu yang berarti buat kalian semua yang membacanya.


XOXO,

Orin


PS. Aku rela... berbagi Awan kalau ada yang jatuh cinta padanya... sungguh, nggak bohong... #heh
Profile Image for Luz Balthasaar.
87 reviews69 followers
May 3, 2014
Saia pingin kasi bintang 4, tapi kebentur 1 faktor yang bikin saia orz abis: tokoh cowoknya saia tiada suka. Saia kasih 3.5 deh, bulatin ke bawah karena pas ngasi nilai totalnya masi 3.75

Kenapa saia tiada suka? Pertama, Mas Awan ini beneran dodol Garut banget.



Kedua, Mas Awan ini gaya ngomongnya rada seksis gitu. Maaf. Saia ga suka sebetulnya lempar tudingan seksisme kiri-kanan, tapi saia kira Awan masuk kualifikasi seksis, meski versi yang ga over 9000.



Mengesampingkan Awan yang orz, keluhan kedua saia adalah alur novel ini. Endingnya ketebak sejak bagian Awan dan kunci BMW. Tapi saia cukup lancar baca dan yah, menikmati. Jadi saia bisa fokus pada bagian-bagian yang saia suka.

Pertama, saia suka Arum. Dia yang mengaku nggak pinter ternyata adalah karakter paling logis di buku ini. Team Arum all the way, huahahahaha~ :*

Saia juga bisa memahami Erin, yang rela kerja keras demi impiannya. Walau saia gak suka resolusi dari konfliknya. Gampang amat. Dan... ya, kesannya transaksional, seperti yang sudah saia sebutkan.

Saia juga suka Chantika meski dia karakter sampingan banget. Wew.

Jadi akhirnya, 3 bintang untuk buku ini. Satu buat Arum, satu buat Erin, setengah buat Chantika, dan satu lagi buat usaha para penulisnya untuk ngasih pembaca cerita enak dengan tiga cewek keren yang bersikap dewasa . :P
Profile Image for Laura Yuwi.
212 reviews16 followers
June 4, 2023
"𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐣𝐢𝐰𝐚. 𝐌𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐠𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐣𝐢𝐰𝐚 𝐤𝐢𝐭𝐚." --𝐇𝐚𝐥. 𝟑𝟔

"𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐏𝐚𝐩𝐚 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢? 𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡𝐦𝐮 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚𝐧𝐲𝐚. 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭? 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐧𝐭𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐖𝐚𝐧. 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧." --𝐇𝐚𝐥.𝟐𝟑𝟎

Oke walaupun konflik yg disajikan tergolong berat tapi alur novelnya ringan yg menarik dan positif.
Tentang perjuangan dan usaha keras Erin dalam mempertahankan masa depan Teater Boneka Poppenkast yg mana adalah warisan dari kakek dan ayahnya yg amat berharga. Masalahnya zaman sekarang membuat anak2 kecil untuk tertarik sama Teater boneka itu gak mudah, benar2 gak mudah karna udah ada yg namanya TV, PS, dsb. That's why penonton pun menyusut di era teknologi yg canggih ini. Really good story. Yah sebenernya waktu Robert dan Erin berdebat itu gak bisa salahin jalan pikirnya si Robert karna memang dia realistis hidup di zaman now terlihat impossible untuk terus menjalankan bisnis teater boneka yg makin berkurang peminatnya, niatnya pun baik waktu ngajak Erin ke Belanda bareng, yaitu demi masa depan Erin, tapi Erin juga gak salah untuk mempertahankan warisan tsb karna itu yg menemani dia dari kecil, banyak kenangan di dalamnya, plus itu adalah passionnya, kesukaannya. Like I said before, konfliknya berat! Untungnya Erin dipertemukan dengan Awan yg sama² menyukai teater boneka karna banyak kenangan masa kecil disana. Gak cuma si Erin nih yg ngalemin, tapi Awan si anak konglomerat yg tiba2 muncul di Poppenkast utk kerja disana tanpa minta digaji juga ngalemin masalah besar, yaitu harus nerusin perusahaan alm bokapnya yg kondisinya lagi gak beres nih, plus rasa tertuduh yg dialami Awan setelah kematian bokapnya.. Menurutku yaa kayak bukan baca Novel, tapi lebih kayak baca kisah hidup org beneran gitu, kesannya real. Ada alur mundurnya yg tiba2 tanpa dikasih tau, cuman gak membingungkan sih. Tokoh favorit ku tentu saja Erin, karna dia punya kegigihan dan semangat yg luar biasa hebat dalam mengatasi segala kendala dan menyikapi segala permasalahannya. Dalam cerita ini ada kisah tentang pertemanan, solidaritas, cinta, impian juga keluarga. Aku suka dengan kekompakan dan loyalitas para staf Poppenkast. Memang dalam berbisnis itu bukan memulainya yg susah tapi mempertahankannya dan membuat berkembang itu yg sulit.

Hmm.. Aku seumur2 pun belom pernah nonton Teater Boneka secara langsung, pernahnya liat di TV. Aku juga penasaran kalau nonton langsung bakal bosan atau menikmati sampai akhir.

Overall, this is a great story. Cerita manis yg menarik dan enak diikutin.
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
September 25, 2020
#hasilbongkartimbunan

i tried so hard to love this one, but i couldn't.

bab 1 cukup membuat saya merasa akan betah membacanya. lalu muncullah sosok awan yang menggerecoki hubungan erin-robert. lalu, robert yang karakternya dimatikan seperti itu. fixed, saya jadi skeptis lanjut baca. kalau saja kisah benar-benar fokus ke teater boneka-nya saja tanpa kisah penuh drama sinetron dari keluarga awan, mungkin saya bakal lebih suka (mungkin). drama awan ini bener-bener twist paling ngeselin, pengin banget dihapus. hih.
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
July 11, 2016
Judul: Teater Boneka
Penulis: Ayu Rianna, Orinthia Lee, & Emilya Kusnaidi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan Pertama, April 2014
Tebal: 320 Halaman
ISBN: 978-602-03-0371-0

Hidup Erin berada di ujung tanduk saat kekasihnya terus mendesaknya untuk menutup teater boneka milik Erin. Gadis itu tidak bisa mengindahkan permintaan sang kekasih karena teater boneka Poppenkast adalah warisan kakek dan ayah Erin. Kekasihnya menganggap Erin tidak masuk akal. Namun, Erin tetap memaksakan untuk terus menghidupkan teater boneka Poppenkast meskipun gedung teaternya sudah tua, tak terawat, dan beraroma apak. Penontonya pun sedikit.

Erin mencoba menghargai kerja keras para pekerja di Poppenkast. Erin menyukai semangat mereka untuk terus menghidupkan teater itu. Meskipun mereka digaji dengan sangat minim, Erin tak patah semangat. Ia pun mengajar les Bahasa Inggris dan menyalurkan hampir seluruh gajinya demi kesejahteraan pegawai di teater boneka Poppenkast. Sikap Erin sudah tidak bisa ditolerir sang kekasih, maka ia pun diputuskan secara sepihak. Erin kemudian patah hati dan selalu murung.

Di tengah kegamangan hidupnya, Erin dikejutkan dengan sesosok lelaki yang minta dipekerjakan di Poppenkast tanpa upah. Awan datang saat Erin tengah patah hati berat. Ia pun mencoba menghibur Erin sekaligu mencoba menyumbang beberapa ide untuk pertunjukan boneka di teater Poppenkast. Siapa sangka teater boneka Poppenkast pelan-pelan hidup. Meskipun Awan tidak berbakat menjadi dalang, ternyata Awan memiliki ide-ide segar yang dinilai Erin lumayan. Namun, saat identitas Awan terungkap, Erin tidak bisa lagi untuk terus mempekerjakan laki-laki yang telah membuat hatinya berdebar-debar keras itu. Awan pun lenyap dari kehidupan Erin.

Novel ini sangat unik karena tema yang diangkat jarang diekplorasi oleh novel-novel lain. Temanya adalah mengenai perjuangan sebuah teater boneka yang berada di zaman yang modern, kehadiran teater boneka ini sudah tergerus zaman. Tetapi, orang-orang yang bekerja di teater itu terus-menerus tak pantang menyerah. Mereka tak menginginkan Poppenkast tutup begitu saja. Segala usaha dikerahkan demi keberlangsungan teater boneka yang berjaya di masa lalu itu.

Novel ini mencoba menyuguhkan pesan bahwa perjuangan keras memang selalu disertai mimpi-mimpi yang sejati. Seperti halnya mimpi-mimpi para pekerja teater boneka Poppenkast yang ingin teater tidak tutup. Perjuangan keras perlu mereka lakukan demi sebuah kesuksesan. Perjuangan paling keras tercermin dari tokoh utama novel ini. Erin sebagai sosok wanita muda representasi kaum urban, ia tetap menjaga amanat dari keluarganya demi sebuah hal yang mungkin saja dianggap remeh di zaman ini. Erin bahwa mengorbankan hubungannya dengan sang kekasih akibat sikapnya yang tak mau dianggap tidak rasional oleh kekasihnya karena mempertahankan teater boneka Poppenkast. Untung saja kehadiran Awan mengobati luka hati Erin yang menganga.

Novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca karena pesannya sangat inspiratif namun kisahnya sendiri sama sekali tidak membosankan. Segala hal dan komponen lainnya pun dalam novel ini dikemas apik dan tidak mengada-ada. Gaya penceritaannya pun sangat mengalir meskipun ditulis oleh tiga penulis. Novel ini sangat-sangat patut untuk dibaca karena kontennya memang bagus sekali.[]
Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
August 28, 2014
Sudah lama selesai baca buku ini. Karena load kerja lagi menurun, aku sempatkan diri menulis review. Kebetulan sudah lama gak update dan menulis apa-apa. Hehehe…

Premisnya ialah ada seorang perempuan bernama Erin yang jatuh bangun mempertahankan teater boneka warisan kakeknya. Lalu ada laki-laki misterius yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan sudi membantu Erin memperjuangkan teater bonekanya.

Sampai situ, kelihatannya menarik. Sampai ada hal-hal seperti berikut yang lumayan mengganggu nalar saya:

1. Kemunculan Awan yang terlalu tiba-tiba itu totally strange. Kendati dia punya masa lalu dengan teater itu, tetap saja aku merasa aneh dengan cara dia memohon agar dipekerjakan di teater. Ah, dia pasti modus aja itu karena lihat ownernya cantik… ya khan…

2. Kenapa Erin mati-matian mempertahankan Poppenkast (nama teater boneka itu) tapi bapaknya Erin malah kayaknya adem ayem saja. Iya, ini agak aneh menurutku. Kirain Erin hidup sebatang kara dan hanya teater itu tempat dia bergantung. Eh, ternyata dia punya bapak… selow pula…

3. Perjalanan romansa Erin dan Awan masih kurang bisa kurasakan. Mungkin karena aku terlalu apatis dengan romance yang begitu-begitu saja. //eits, curhat//

Juga, aku agak bingung dengan label metropop yang tercetak di sampulnya. Dalam imejku, metropop itu hal-hal yang kekinian banget, sedangkan latar belakang teater boneka sama sekali tidak mencerminkan itu. Rasa metropop baru terasa ketika terjadi adegan sinetron Awan dan om-nya. Aih, sumpah ini sinitrin bingit. Tapi kurang intrik sih. Mestinya om-nya menyuruh pembunuh bayaran buat menghabisi Awan sehingga si om bisa jadi direktur. Muhahaha! //ketahuan deh siapa yang sebenarnya suka nonton sinetron//

Buku ini juga terlalu tebal untuk ukuran buku metropop yang akhirnya membuatku menutup buku dengan ekspresi datar. Hal yang patut diapresiasi adalah kemampuan ketiga penulis menulis suatu karya secara estafet namun aku tidak merasa ada polisi tidur di perjalanannya yang menandakan pergantian penulis atau cara penulisan. Semuanya terasa smooth dan aku rasa ini penting kalau sebuah buku ditulis estafet. Kebayang gak, kalau di bab satu gaya penulisnya kayak Dewi Kharisma Michellia terus di bab dua berasa ada penulis lain yang merusaknya sehingga jadi tulisan yang alay?

Untuk sampulnya sendiri, kayaknya gak nyambung dengan deskripsi bentuk boneka yang ada pada isi cerita. Jadi, mending ga usah ada gambar boneka di sampul. Itu akan merusak imajinasi pembaca. Seriously. Aku sepanjang baca buku mentah-mentah membayangkan bahwa teater boneka yang Erin kelola adalah teater boneka dengan wujud seperti ada di sampul depan. Bertali-tali dan butuh keterampilan khusus untuk menggerakkannya.

Atau akunya saja yang bodoh? Siapa suruh berpikir begitu? HIH!

Eh tapi untuk layout sampulnya, aku suka sih.

Berhubung sudah agak lama bacanya jadi kalau ada hal-hal yang salah, tolong ditegur saja. Aku sebetulnya gak begitu ingat lagi detailnya. Hahaha //keplak//

Buku ini merupakan buku kedua Gramedia Writing Project yang aku baca. Ada Hujan Daun-daun yang belum dibaca.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
April 28, 2014
"Erin tidak pernah menduga akan membiarkan orang lain membaca ceritanya yang belum jadi. Biasanya ia akan menyembunyikan tulisannya rapat-rapat. Tapi Awan memang aneh. Selain misterius, Awan juga dengan cara yang tidak terduga bisa membuat Erin merasa nyaman berada di dekatnya - membuat Erin merasa membutuhkan lelaki itu."

Teater Boneka Poppenkast adalah warisan yang amat berharga bagi Erin Anindita. Poppenkast sudah berdiri selama lima puluh tahun; dan meskipun teater boneka ini mengalami banyak kesulitan, Erin sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Ia ingin terus memperjuangkan Poppenkast beserta seluruh staf yang sudah amat setia bekerja keras. Akan tetapi tindakannya tersebut menimbulkan pertengkaran antara Erin dan kekasihnya, Robert - yang menganggap bahwa usaha Erin sia-sia. Keterpurukan Erin menemui titik terang saat ia melihat seorang lelaki dewasa datang untuk menonton di Poppenkast - sesuatu yang sudah lama tidak dilihatnya. Lelaki misterius bernama Awan itu membawa perubahan bagi Erin dan Teater Boneka Poppenkast...

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2014/0...
Profile Image for Catz Tristan.
20 reviews2 followers
June 22, 2015
Ceritanya mengalir dengan rapi. Tidak terlihat bahwa ditulis 3 penulis.

Suka dengan perjuangan Erin dalam mempertahankan bahkan berkorban demi teater poppenkast.

Ndak suka ma si Robert. Padahal seharusnya kalaupun tidak suka, tak perlu memaksa orang lain jadi sama seperti dirinya.

^_^
Profile Image for Amaya.
749 reviews58 followers
October 20, 2022
Actual rating: 2.5

Awalnya niat mau kasih bintang tiga bulat (tambah 0.5 karema cover-nya cakep), tapi makin ke belakang makin ke sini makin ke sana.

Erin harus berjuang mempertahankan teater boneka yang sudah didirikan oleh kakeknya. Karena pertunjukan seperti ini kalah dengan gadget, teknologi di masa sekarang, tidak banyak yang bisa dia lakukan. Bertahan setiap hari dengan harapan akan mendapat banyak penonton lagi jelas tidak bisa menjadi satu-satunya modal. Di tengah krisis itu, kekasihnya, Robert, mendadak harus pergi ke luar negeri untuk menempuh pendidikan lagi dan Erin menyadari prioritas mereka berbeda.

This book basically dongeng. Bukan hanya soal cerita yang dibuat untuk pertunjukan saja, tapi kisah Erin dan Teater Boneka Poppenkast ini juga dongeng. Sebenarnya, premisnya menjanjikan. Prolog juga sudah bikin penasaran, tapi entah kenapa begitu tahu alasan Erin mempertahankan teater rasanya kayak dongeng aja.

Robert memang kasar ngomongnya, tapi kurang lebih aku setuju sama dia soal bersikap realistis. Teater memang dalam kondisi yang nggak memungkinkan buat diteruskan, tapi sempat mikir, kenapa nggak dicari jalan keluarnya? Misal promosi lebih gencar, mencari investor, dll. Alasan Erin marah karena Robert ngatain dia nggak realistis itu malah kekanakan menurutku. Aku nggak tau usia karakter di sini rata2 berapa, tapi emang rasanya nggak bisa diajak mikir lebih matang aja.

Ada beberapa hal yang nggak bisa aku toleransi lagi, seperti cara Awan menyikapi masalah. I know dia syok, tapi masa caranya begitu? Calon pemimpin, hmmm. Entah kenapa sukanya kabur. Kayak kabur adalah cara terbaik buat mikir. Perubahan emosi dari penyebab dia kabur ke keputusannya buat kabur agak2 ambigu. I mean, kenapa kesannya kayak dipaksa? Kenapa Awan nggak bisa fight for apa yang dia sudah perjuangkan di awal malah nambah minus kesungguhannya di mataku. Bahkan, aku mendukung sikap keras Arum (karakter favoritku di sini).

Bagian akhir kenapa harus kasih bintang kecil buat buku ini. Lagi2 emosi dan terlalu cepat proses jatuh cinta antara Awan dan Erin. Terus dituliskan Awan kerja di Poppenkast 3 bulan. Wow, cepat, yah? Perasaan pertama nulis cerita bareng Erin setelahnya Awan dapat masalah itu, kan? Tiga bulannya dia kontribusi nulis cerita di situ, kah? Kenapa kesannya selama tiga bulan kerja biasa aja, ya, dan naskah hasil kerja sama dengan Erin adalah kontribusi pertama dia? Yah, well.

Ada beberapa typo dan seringnya pindah "kepala" di bagian akhir, entah tulisan siapa. Bacaan yang cocok buat pencinta Metropop yang lagi ingin baca yang ringan2.
Profile Image for Lommie  Ephing.
116 reviews2 followers
September 10, 2019
Berhasil menamatkan isinya dengan rasa bahagia yang membuncah (elah, apaan sih?!).
Sukak banget. Nyesel kenapa gak dari dulu-dulu aku bacanya.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
April 18, 2014
Judul: Teater Boneka
Penulis: Emilya Kusnaldi, Orinthia Lee, Ayu Rianna
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 320 halaman
Terbitan: 3 April 2014

Teater Boneka Poppenkast terancam tutup!

Jumlah penonton yang semakin menyusut membuat Erin berjuang keras membuat cerita-cerita baru untuk dimainkan di teater boneka yang ia warisi dari sang kakek. Tapi ini bukan pekerjaan mudah. Erin merasa tak ada yang memahami cita-citanya, termasuk Robert, kekasihnya.

Hingga Erin bertemu Awan, lelaki dengan latar belakang misterius yang memaksa bekerja di Poppenkast tanpa meminta bayaran. Dukungan lelaki itu terhadap kelangsungan teater boneka membuat Erin jatuh hati.

Namun Awan ternyata menyimpan rahasia masa lalu yang membuatnya harus bersembunyi di Poppenkast. Saat rahasia lelaki itu terungkap, ternyata dia bukan orang yang selama ini dikira Erin. Hingga Awan akhirnya harus memilih antara menyelesaikan persoalan masa lalunya atau terus bersama Erin.

Review

Terima kasih untuk Orinthia Lee, bandar PO saya, yang sudah mendapatkan tanda tangan ketiga penulisnya + Clara Ng. Walau bukunya entah kenapa lama bingits sampai, tapi yang penting tiba dengan selamat.

Pertama saya akan memuji kovernya. Suka banget sama kombinasi warna panggung bonekanya. Suka juga sama boneka talinya, walau saya kurang bisa nangkap bentuk boneka di sebelah kanan.

Secara cerita, saya agak terbagi dua. Kasusnya sama dengan novel 8... 9... 10... Udah Belom?!. Setengah bagian depannya seru, setengah bagian belakangnya kurang nendang.

Di bagian pertamanya, sebelum terkuak siapa sebenarnya Awan, ada banyak twist dan misteri yang menarik. Hal ini berhasil membuat saya penasaran dan melaju dengan kecepatan tinggi. Cuma setelah teka-teki tentang Awan terjawab... Nah, ini.

Begitu tahu masalahnya Awan, jujur saya sempat merasa dia bego. Mungkin karena saya setuju dengan apa yang Arum paparkan. Juga dengan apa yang ayah Awan sampaikan di bagian akhir.

Kesimpulan akhir: saya suka dengan ide cerita novel ini. Penggunaan latar panggung bonekanya sangat menarik. Eksekusinya juga oke. Mengingat novel ini ditulis oleh 3 orang, well, saya bilang hasilnya oke. Tidak terlihat canggung ketika terjadi perpindahan antar penulis. Cuma bagian 2 novel ini kurang nonjok buat saya. Penyelesaian akhirnya juga terasa biasa. Typo juga masih ada. Seperti 'mengumam' (hal. 7, paragraf pertama novel) dan 'Rober' di hal. 30.

Tiga setengah bintang, dibulatkan ke empat untuk novel ini.
Profile Image for Cindy Pricilla.
Author 4 books13 followers
April 23, 2014
3,5 stars.

Sebelum memulai review (atau kesan-kesan setelah membaca), saya mau mengucapkan SELAMAT kepada ketiga penulis yang berhasil menjadi finalis GWP 1 di geng metropop. You guys deserve it!

Oke, langsung saja.

1. Saya suka premis buku ini. Mbak Clara Ng pintar meramu plot yang unik. Dan Kak Me, Kak Ayu, dan Kak Orin menulis buku ini dengan sangat baik. Nggak kerasa kalau buku ini ditulis oleh tiga orang, which is nyatuin isi kepala dan feel untuk buku ini pasti susah. Ya, paling ada lah di beberapa bagian yang saya rasa, ini pasti Kak Me yang nulis begini, kalau ini pasti tulisan Kak Ayu, wah nggak salah lagi ini sepertinya kata-kata Kak Orin banget. Itu karena saya kenal ketiga penulisnya. :)

2. Karakter Awan yang di awalnya misterius itu, suka banget. Tapi pas udah tahu siapa sebenarnya Awan, kecepatan membaca saya langsung menurun. Hehe forgive me :) Apalagi pas Erin jarang muncul di cerita. Lebih sering Awan dan Arum yang berperan. But, overall semua karakternya pas sesuai takaran.

3. Awalnya diksinya variatif, tapi makin mendekati ending kenapa sering ada analogi yang diulang-ulang, kayak "seakan-akan tidak ada hal yang menarik selain itu" intinya begitu, saya lupa. (pas nge-review ini nggak lihat bukunya). Terus semakin mendekati ending juga masih ada beberapa typo yang jadi sedikit mengganggu keasyikan membaca. Biasanya kan GPU jarang banget ada typo, apalagi kalau Ci Hetih yang berperan sebagai editornya.

4. Covernya bagus banget! Melihatnya saya jadi pengen nonton teater boneka, tapi di mana ya? Masih ada kah?

5. Banyak kata-kata inspiratif yang menyentuh hati. Secara nggak langsung, bikin kita makin semangat.

Hmm, ya sudah segitu aja. Ditunggu novel solo kalian di GPU. Ditunggu juga kumpulan cerpen omnibus kita semua! Yeay
Profile Image for Lidya Renny Ch.
67 reviews10 followers
June 20, 2014

Covernya keren banget dan tema Teater Boneka bikin aku pengeen nonton. Dimana ya? Dufan kali ya? :D Upss salah fokus. Okee...

Ini cerita tentang Erin yang mati-matian berusaha mempertahankan Teater Poppenkast. Pemasukan yang nggak seberapa, sementara Erin harus menggaji beberapa karyawan yang setia padanya. Erin pontang-panting kerja sambilan sana sini, tapi sayang nggak dituliskan gimana dia menjalani itu? Misal jam berapa dia kerja sambilan jadi guru atau apa.

Cerita bergulir dan muncullah Awan, cowok aneh yang maksa banget kerja di Teaternya Erin bahkan tanpa bayaran sepeserpun. Hari gini ada yang sukarela kerja? Penyebabnya kenapa akhirnya terjawab juga meski sudah kutebak. Ehuehue...

Si Awan ini ternyata juga punya tunangan meski benih-benih cinta sudah timbul antara dia dan Erin. Ada juga cewek cantik bernama Arum yang ternyata adiknya dan terlihat lebih masuk akal pikirannya ketimbang Awan yang well memang terlihat pengecut kabur dari masalah yang sangat besar. Okey daripada spoiler mendingan kalian baca langsung saja. Asik banget kok novel ini jadi meski tebal nggak kerasa langsung tamaat...

Anyway kok Erin ini sepertinya suka warna biru muda kayak aku ya? #plaks. Salah fokus lagi.

Selamaat yaaa... Emilya, Ci Orinthia dan Ayu, kalian menulis cerita yang baguss dan kereen... (^0^)/
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
January 22, 2015
3.5 bintang dari aku.
Ini novel jebolan Gramedia Writing Project (GWP) pertama yang aku baca karena aku suka genrenya.
Novel ini ditulis secara estafet sama 3 penulis terpilih, tapi aku berasa baca novel yang ditulis 1 orang.
Rapi dan nggak keliatan bedanya antara penulis satu sama penulis lainnya.
Menurutku itu keren!
Karena kalo nulis estafet kan masing-masing penulis harus meredam egonya untuk tampil stand out.
Ini menurutku sih, hehe.

Ide ceritanya oke banget.
Mbak Clara Ng emang hebat banget karena setauku mbak Clara yang nentuin tema tiap novel jebolan GWP.
Gaya penulisan tiap penulis di novel ini juga oke.
Udah kayak penulis profesional deh :D

Dan pesan sosial novel ini lho.. super keren!
Sedikit banyak aku bisa berempati sama karakter Erin waktu scene Erin-Robert.
I feel you, Erin.
:p

Yang aku nggak suka dari novel ini cuma typo dan karakter utama cowoknya.
Iya, karakter utama cowoknya.
Si Awan itu!
Menurutku si Awan itu cemen banget jadi cowok.
Aku sih nggak suka sama karakter cowok model Awan gitu.
Meskipun endingnya manis banget, aku tetep nggak suka karakter Awan.
Karakter favoritku justru karakter Arum.
Ini sih murni seleraku aja ya.
Btw typo-nya seingetku nauzubillah banyak banget.
Aku sering ngebenerin sendiri waktu baca ~_~

http://thecloudsinautumn.tumblr.com/p...
Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
September 13, 2014
Sebagai novel kolaborasi, novel ini terasa menyatu. Tidak terasa beda tulisan yang bikin susah menikmati bacanya karena ditulis oleh tiga orang. Secara cerita, konflik ceritanya oke, tentang keberadaan sebuah teater boneka yang menyimpan kenangan tetapi terancam kelangsungannya karena kondisi ekonomi dan juga menurunnya minat pengunjung. Namun, sisi minusnya adalah saya kurang merasa gregetnya saat membaca novel ini. Proporsi showing dan telling-nya menurut saya seimbang sih, tapi kok terasa agak datar aja, emosinya kurang berasa. Lalu, yang membuat saya merasa seru justru konflik di dalam keluarga Awan. Yah, meski adegan saat ayahnya terserang jantungnya saat beradu argumen dengan Awan itu tampak "sinetron banget", tapi tetap saja konfliknya klimaks banget. Malah, jatuhnya jadi lebih seru konflik keluarga Prawirya ketimbang konflik Teater Boneka Poppenkast itu sendiri. Anyway, selamat untuk Ayu, Orinthia, dan Emilya yang sudah menyusun novel ini melalui Gramedia Writing Project! :)
Profile Image for Nia.
486 reviews24 followers
October 5, 2015
"If it's not happy, it's not the end"

Novel ini cukup menyentil saya. Di saat teknologi semakin canggih dan gadget semakin mudah didapat dan dipelajari, bahkan anak-anak sekalipun. Terkadang lebih pintar mereka dalam menggunakan beberapa aplikasi di dalamnya daripada orangtuanya sendiri.

Terkadang anak-anak asyik dengan gadgetnya sendiri karena orangtuanya memberikan contoh yang serupa. Entah itu hanya untuk membuat status, ngecek wa dan bbm atau lainnya.

Dengan novel ini, hati saya sedikit terbuka. Dongeng walaupun simpel dan sederhana, tidak membutuhkan waktu banyak namun banyak manfaatnya.

Membacakan dongeng untuk balita setiap menjelang tidur di malam hari dapat menstimulasi perkembangan otaknya dan tentu saja mempererat ikatan antara orangtua dan anak.

Sepertinya itu pe-er saya sekarang dan belum terlambat :-D
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
March 30, 2014
Bagaimana rasanya dilamar dengan sebuah buku cerita, tentang kita, dengan sebuah cincin tersemat di halaman terakhir buku itu?Duh, melted banget pasti rasanya.Dan itu juga yang saya rasakan saat membaca halaman demi halaman sebuah novel metropop yang ditulis oleh 3 orang pengarang sekaligus, yang merupakan peserta dari Gramedia Writing Project. Ide ceritanya unik, penceritaan dan karakter tokoh tokohnya hidup, dengan romance yang masih dalam koridor. Nggak sabar untuk baca karya- karya peserta GWP yang lain.

Oh ya, resensi lengkapnya bisa dilihat di www.penyuntingaksara.blogspot.com
Profile Image for Idawati Zhang.
Author 4 books7 followers
April 19, 2014
Saya gak bisa gak bias ngereview buku ini. Soalnya yang nulis temen sendiri hehehe.

Anyway, good job karena nggak berasa ditulis oleh 3 org. Good job juga karena berhasil mengaduk emosi pembaca (lihat aja omelan2 sepanjang membaca di progress review hahaha).

Ada beberapa hal yang menimbulkan tanda tanya yang tidak terjawab di buku ini, tapi itu private aja deh kalau ketemu penulisnya ;).

Looking forward to their solo novel. (^^)y
Profile Image for Bagus Santoso.
103 reviews1 follower
August 23, 2014
Baru aja selesai baca buku ini meskipun sudah dibeli seminggu yang lalu :p. Awalnya beli buku ini karena waktu beli buku ke gramedia ada uang siswa dan cukup untuk nambah buku jadinya beli deh.
Saat udah dibeli ternyata ceritanya bagus yeah. Menurut saya sih cerita di awal-awalnya agak membosankan, baru terasa asik pas Mas Awan udah muncul. Cover dari buku ini juga bagus, desainernya keren.
Profile Image for Ryo.
2 reviews
September 11, 2015
5 bintang untuk kerja keras ketiga penulis yang bisa membuat cerita Teater Boneka Poppenkast ini menjadi satu padu.
Erin, Awan, Pak Gun, Rani, Dedi, Dian, dan Bang Janu, kerja keras mereka mempertahankan keberadaan teater boneka memotivasi pembaca untuk selalu optimis bekerja keras pantang menyerah dalam memperjuangkan cita cita. Happy ending.
Profile Image for Khansa.
51 reviews
May 3, 2015
Premisnya bagus. Cuma sayang ceritanya kelewat datar. Kurang greget rasanya. Dan saya nggak suka sama Awan, untuk lead-hero, kok rasanya kurang greget ya? Is it just me, or....But well, saya suka Arum. Erin? Not so much. Just average.

Penulisannya rapi, cuma ada beberapa typo sedikit dan bagian yang nggak pas. Overall, nice.
Profile Image for Dinur A..
258 reviews97 followers
July 30, 2016
3,5 stars.

Liked it. Nggak terasa kalau yang nulis bertiga. Salut!

tapi sejujurnya agak kecewa sih karena kirain rahasia Awan itu bakalan wow dan taunya cuma begitu doang dan klise.

but overall, good job. :)
Profile Image for Marina Lee.
65 reviews26 followers
November 27, 2015
So-so aje.
Gue ngeharepin sesuatu yang duar sih, ah memang expectation kills. Sebenernya bukunya gak jelek, cuma ya itu ... kurang duar! Gitu!

Sayang gue gak gitu suka Erin dan Awan. Tokoh kesukaan gue malahan si Arum! Ha!
Profile Image for Miss Clover.
3 reviews
April 9, 2014
Kayanya bakalan jadi keren kalau novel ini difilmkan deh!
Beneran ya ditulisnya bertiga? Nga kliatan loh.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book267 followers
April 18, 2019
Teater Boneka Poppenkast terancam tutup. Erin, pemilik sekaligus pengelola Poppenkast, menyadari bahwa peminat teater boneka semakin menurun. Perkembangan teknologi membuat banyak anak-anak lebih menikmati gawai daripada menonton pertunjukan boneka. Erin mulai gelisah dan gundah dengan warisan Kakek dan Ayahnya ini. Belum lagi Robert kekasihnya mengatakan bahwa dia hanya melakukan hal yang sia-sia jika mempertahankan Poppenkast.

Di saat itu, Awan hadir. Awalnya Erin melihat Awan sebagai salah satu penonton yang ingin mengulang masa lalunya di Teater Boneka Poppenkast. Lalu tiba-tiba, Awan menawarkan diri menjadi karyawan di situ meskipun tanpa digaji. Dengan susah payah Erin meyakinkan rekannya untuk menerima Awan. Karena Erin memahami perasaan Awan yang terikat dengan kenangan teater boneka itu. Hanya saja, sosok Awan sangat misterius. Seperti ada yang sengaja ditutupi Awan darinya. Namun, di balik itu semua kehadiran Awan membawa perasaan baru yang bersemi di hati Erin.

Cerita dalam cerita. Itu sensasi yang saya dapatkan saat membaca novel ini. Soalnya ada beberapa selipan cerita skenario teater boneka yang ditampilkan oleh penulis, para penulis tepatnya. Dari sisi ide cerita, saya suka dengan tema teater boneka. Saya sendiri belum pernah menonton teater boneka, tapi saya bisa membayangkan serunya pertunjukan itu. Namun ada beberapa bagian dari novel ini yang masih "mengusik" saya. Misalnya tentang Awan yang tiba-tiba saja sadar setelah bermimpi tentang ayahnya. Dan hubungan antara Awan dan Erin yang chemistry-nya tidak begitu terasa, dan tiba-tiba saja Erin merasa jatuh cinta pada Awan. Terus soal ayahnya Erin. Saya pikir ayahnya sudah tiada, dan meninggalkan Teater Boneka Poppenkart untuk diurus oleh Erin sendirian. Eh, ternyata ayahnya masih hidup dan tinggal di Jogja.

Terlepas dari itu saya mengapresiasi novel kolaborasi yang menurut saya tergolong sukses. Meskipun ada tiga penulis, tapi kolaborasi yang apik membuat novel ini terasa ditulis oleh hanya satu orang saja. Saya berusaha menebak-nebak bagian mana yang ditulis oleh siapa, namun tidak berhasil. Salut untuk ketiga penulisnya.
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
November 7, 2017
3.5 🌟


Teater Boneka Poppenkast teracam tutup!
Erin pun kecewa dan galau, di sisi lain dia ingin mempertahankan tapi di satu sisi lagi biaya yang tinggi membuat dia bingung.
Teater Boneka ini warisan dari sang kakek, jadi Erin merasa bertanggungjawab. Disaat keadaan galau, sang pacar pun malah tidak membantu nya sama sekali. Malah menyudutkan dan merendahkan. Akhirnya sang pacar pun pergi karena Erin yang kerasa kepala.
Suatu waktu, Poppenkast kedatangan lelaki misterius. Dan dia memaksa bekerja disana. Apakah sosok lelaki misterius ini yang menyelamatkan Poppenkast? .
.
Akhirnya saya beres baca ini, awalnya saya kira ini novel agak-agak misteri gitu. Liat dari kover nya, padahal asli nya ini novel roman bagus. Bukan hanya tentang percintaan trus hehe...
Gaya cerita novel nya, mengalir dan detail juga. Tokoh-tokohnya juga, Erin yang emang punya sifat tanggungjawab dan tangguh. Awan lelaki misterius yang rapuh dan juga kuat. Konflik nya bagus, dan penyelesaian nya juga cukup nggak bikin kepo. Tapi chemistry Awan dan Erin, ini agak kurang. Meskipun emang sweet sih pas momen terakhir.
Rekomen bagi yang suka cerita roman ❤❤
Profile Image for Aulia  Rofiani.
326 reviews4 followers
October 9, 2019
Rating asli 3.5
Bagusss
Cerita ttg teater boneka yg diceritkan dgn ironis utk masa skrg yg anak2nya lbh suka liat youtube drpda baca buku cerita
Cukup membangkitkan rasa nostalgia gue dgn dongeng2 yg gue baca jaman dulu
Trus rasanya nyesel pas masi kecil blm pernah liat pertunjukan boneka gtu :(((
Dengan 320 halaman, ga berasa bertele-tele, dan ga ada drama yg ga penting
Cerita romansanya juga gak menye2
Walaupun ditulis oleh 3 penulis, ga kerasa aja ada perpindahan gaya penulisan atau apa deh, pokoknya pas banget lah
Tapiii, agak aneh nih, masa dalam sehari doang bisa lsg renovasi gedung sih? 😂
Profile Image for Ima Aisyah Rahma.
5 reviews
August 12, 2017
Untuk sebuah karya estafet, gaya berceritanya sangat apik dan imbang dalam setiap bab. Bagus sekali. Namun sayangnya saya kurang puas dengan chemistry antara Erin dan Awan. Menurutku masih nanggung dan lebih banyak dipenyelesaian konflik jadi feel romance-nya kurang berkesan. Juga, penggambaran karakter untuk sebuah karya metropop ini saya kurang suka krn lebih ke cara berpikir remaja dibandingkan org dewasa.
Displaying 1 - 30 of 38 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.