Jump to ratings and reviews
Rate this book

Teka-Teki Terakhir

Rate this book
Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya...

256 pages, Mass Market Paperback

First published March 27, 2014

96 people are currently reading
1233 people want to read

About the author

Annisa Ihsani

6 books181 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
618 (39%)
4 stars
682 (44%)
3 stars
227 (14%)
2 stars
18 (1%)
1 star
5 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 408 reviews
Profile Image for Dewi.
177 reviews67 followers
July 29, 2016
Sini saya ceritakan tentang gadis kecil bernama asdewi. Dia sangat mencintai matematika (walo gak bisa disebut jago) tapi mengenaskan dalam urusan IPA.
Kalo diledekin tentang nilai IPA-nya yang tiarap, dia selalu berkelit dengan : "Biarin aja. Aku kan mau jadi koki jadi gak perlu jago IPA. Yang penting bisa matematika biar bisa menakar bahan."

Then life happens...
Semakin dewasa, dia menemukan keasyikan dalam biologi (catat : biologi, bukan IPA), menganggap masak itu cuma hobi di kala iseng bukan lagi profesi impian, dan kecintaan akan Matematika? Ah...cuma jadi kenangan usang di ruang ingatan.
Sampai dia membaca novel tentang Laura kecil yang tertarik pada Matematika. Dan kenangan yang lama membeku itu pun berpendar kembali.

Novel ini dibuka dengan narasi Laura yang sudah lama penasaran dengan rumah putih milik pasangan Maxwell, pasangan paling misterius di Littlewood.
Kenapa misterius? Karena banyak gosip yang beredar mengenai pasangan tersebut. Dari gosip mereka adalah ilmuwan gila sampai isu keluarga ningrat yang bersembunyi. Laura sendiri mengira mereka adalah penyihir. Pada akhirnya, tak ada yang tahu persis kebenarannya. Dan ketertarikan Laura pada rumah Maxwell pun surut.

Hingga suatu hari di bulan Maret 1992.
Hari itu, Laura sedang kesal karena nilai tes matematikanya mendapat 0. Saking jengkel, dia membuang lembaran nilai tes itu di tong sampah depan rumah Maxwell.
Eh ndilalahnya...ketika Laura melewati depan rumah itu keesokannya, Tuan Maxwell memanggilnya. Beliau menyerahkan kertas tes Laura yang kemarin dengan sebuah buku berjudul "Nol : Asal-usul dan Perjalanannya" beserta pesan "Mendapat nol tidak terlalu buruk, terutama setelah begitu lama pencariannya".

Sesampainya di rumah, Laura melihat bahwa Tuan Maxwell mengoreksi jawaban tesnya. Rasa penasaran yang lama terpendam terhadap pasangan Maxwell pun menyeruak kembali. Terutama setelah dia membaca buku sejarah angka nol yang diberikan Tuan Maxwell.
Dengan niat berterima kasih dan mengembalikan buku, Laura memberanikan diri mengetuk pintu rumah keluarga Maxwell. Dan itulah awal persahabatannya dengan Nyonya Maxwell yang ramah dan suaminya yang penggerutu.

Namun bukan hanya teman yang didapat Laura. Karena di balik pintu rumah keluarga Maxwell, ada sekumpulan teka teki logika, paradoks tentang tukang cukur dan pengetahuan tentang teorema matematika yang belum terpecahkan selama tiga abad. Laura juga jadi tahu bahwa Tuan Maxwell adalah matematikawan yang selama 40 tahun terakhir sedang mencari pembuktian teorema tersebut.

Teorema apa sih yang sebegitu hebatnya sampai membuat Tuan Maxwell terobsesi? Akankah dia berhasil menemukan pemecahannya? Untuk menemukan jawabannya, kamu mesti baca sendiri buku ini.

"Pikirkan seorang tukang cukur di kota bernama Seville. Di kota itu, semua penduduk kalau tidak mencukur rambut mereka sendiri, tentu dicukur oleh si tukang cukur. Tetapi si tukang cukur hanya mencukur rambut orang-orang yang tidak mencukur rambutnya sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah si tukang cukur mencukur rambut sendiri?" -Nyonya Maxwell-


Segar. Itu kesan pertama yang lewat di benak saya saat membaca novel ini. Beda dengan novel sejenis yang problem tokohnya berkutat seputar cinta monyet dan nge-geng ala sinetron yang lebay, Teka Teki Terakhir (TTT) membahas keseharian gadis biasa. Bagaimana Laura pusing dengan nilai ulangannya kemudian belajar untuk memperbaiki nilai atau bagaimana Laura sulit menyesuaikan diri dengan sekolahnya. Di tangan yang salah, materi seperti itu bisa jadi sangat ngebosenin. Tapi penulis lincah merangkai kata sehingga baca keseharian Laura ya ngalir aja rasanya.

Unsur matematika yang diselipkan dalam TTT juga menambah keasyikan membaca.
Sekali lagi, salut buat penulisnya yang pinter masukkin knick-knack seputar Matematika secara halus sehingga novel ini jauh dari menggurui apalagi menimbulkan kesan 'pamer-pengetahuan-penulis'. Yang ada malah seru dan kesan 'matematika-itu-keren-banget-yaa'.

Saya juga suka dengan settingnya, baik dari setting waktu maupun tempat.
Littlewood, desa kecil yang entah di mana itu cocok untuk cerita semacam ini. Karena kecil maka wajar kalo masyarakatnya jadi akrab dan kepo. Lama tinggal di Jakarta bikin saya kangen suasana desa kecil seperti itu.
"Lagi pula kalau kau ingin mencari tahu tentang sesuatu, perpustakaan tempat yang tepat untuk memulai." -Laura-

Tapi buat saya, yang paling 'megang' adalah setting waktu di tahun 1992. Jaman internet sudah ada tapi belum umum digunakan, dan google masih dalam angan-angan Larry Page & Sergey Brin. Maka perpustakaan satu-satunya sumber Laura dalam mencari informasi.
Coba kalo waktu itu sudah ada Google ya, Laura kan tinggal memasukkan nama Tuan Maxwell dan voila...keluar info lengkap beliau. Gak ada lagi deh rasa penasaran yang mendorongnya untuk berkenalan dengan keluarga Maxwell. Ah teknologi; memperluas cakrawala tapi kadang membatasi interaksi dunia nyata.

Karakter yang ada di TTT sejujurnya gak ada yang menonjol banget. Semuanya punya kekhasan sendiri dan sama kuatnya. Sebagai karakter utama dan narator tunggal, Laura cukup oke. Dia gak humoris, sarkastis atau sinis. Dia cuma gadis biasa aja. Karakter kesukaan saya malah Tuan Maxwell yang eksentrik dan Katie, sahabat Laura, yang suka menjadi 'voice of wisdom' untuk Laura.

Protes saya pada novel ini hanya satu: yaitu penyebutan Tuan dan Nyonya kepada pasangan Maxwell. Kalo disebut sebagai kata ganti orang ketiga sih masih wajar. Tapi kalo dalam percakapan langsung jadi aneh. Seperti kalimat : "Ya Tuan, dari mana anda tahu namaku?" "Terima kasih Nyonya". Kok Laura lebih terasa seperti bawahan daripada tetangga ya...
Saya bisa ngerti kalo novel ini berbahasa Inggris. Tuan dan Nyonya memang jadi Mr dan Mrs. Tapi bahkan novel terjemahan pun mengubahnya jadi "Bapak dan Ibu". Ini memang kesalahan kecil sih. Tapi lumayan menganggu di awal baca. Walau pun lama-lama saya jadi terbiasa dan bisa cuekkin.

Novel ini ditutup dengan ending yang realistis dan cocok. Gak semanis martabak toblerone,tapi juga gak sepahit brotowali. Memang seperti itulah hidup.
"Semua orang aneh dengan caranya sendiri. Terkadang keanehanmu tidak cocok dengan keanehan orang lain, jadi mereka menyebutmu aneh. Tetapi terkadang keanehanmu cocok dengan keanehan seseorang, dan kalian bisa berteman." -Julius-


In short, Teka Teki Terakhir mengajarkan kita untuk menghargai setiap aksi dan setiap momen yang kita lakukan. Kita jarang sadar bahwa satu aksi kecil dan tampak gak penting yang kita lakukan hari ini, bisa berpengaruh besar di esok hari. Seperti aksi kecil Laura yang membuang kertas ujiannya di tong sampah keluarga Maxwell.

Teka Teki Terakhir juga mengajarkan untuk terus mengejar mimpi. Berikan usahamu yang terbaik dan nikmati prosesnya. Seperti Tuan Maxwell yang berusaha maksimal untuk membuktikan penelitiannya dan gak pusing dengan kemungkinan usahanya berakhir sia-sia. Karena bagi beliau yang terpenting adalah proses, bukan hanya hasil.

Empat bintang untuk Teka Teki Terakhir termasuk untuk covernya yang cakep banget.
Good job, Gramedia Pustaka Utama. Banyakin dong menerbitkan teenlit bagus kayak gini.
Dan kamu keren deh mbak Annisa Ihsani. I'm your new fan. :)
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews853 followers
February 26, 2017
Annisa Ihsani
Teka-Teki Terakhir
Gramedia Pustaka Utama
256 halaman
7.9

Jika ada satu hal yang bisa saya banggakan dari kehidupan 22 tahun saya yang menyedihkan ini, itu adalah saya tidak bego matematika. Jika Ihsani mengatakan bahwa orang-orang dewasa biasanya akan berbasa-basi dengan mengatakan kalau mereka payah dalam matematika, saya dengan pongahnya akan mengatakan hal yang sebaliknya. Matematika adalah hal yang seru, menantang, dan cantik. Tapi, jujur saja, saya suka sekali dengan matematika dan di saat nilai mata kuliah saya yang lain awur-awuran, mata kuliah matematika sayalah yang menyelamatkan IP saya dari keterpurukan. Ketertarikan saya dari matematika mungkin dimulai dari SD ketika saya menyadari keajaiban dan keteraturan dari angka-angka tersebut. Siapa yang menyangka kita bisa menentukan apakah satu bilangan bisa dibagi tiga hanya dengan menjumlahkan digit-digit penyusunnya?

Ketertarikan saya akan matematika terus ada sampai kuliah--dan sampai sekarang tentu saja. Saat ada waktu luang, saya suka iseng-iseng mengerjakan brain teaser di brilliant.org yang adiktif--yang kemudian hanya mendapat cibiran dari masyarakat sekitar tentang bagaimana saya menghabiskan waktu luang. Tentu saja saya tidak bisa mengerjakan soal level 4-5 karena keterbatasan otak saya, tetapi ketika berhasil menyelesaikan satu problem, rasanya seperti habis terapi dan memuaskan. Saat kuliah pulalah saya mulai 'ngeh' dengan adanya beberapa problematika kehidupan yang belum terpecahkan di dalam matematika. Yang paling terkenal (dan susah karena bahkan saya sendiri juga enggak mengerti sebenarnya apa yang jadi masalah) adalah Millennium Prize Problems yang memuat tujuh problematika matematika di milenium ini yang belum terpecahkan. Sejauh ini hanya ada satu yang sudah dipecahkan. Saat itu pulalah saya juga membaca soal Teorema Terakhir Fermat.

Kalau ada orang randomly datang ke saya dan menyuruh saya membuat cerita dengan ide pokok Teorema Terakhir Fermat, saya akan langsung membuat cerita sains fiksi yang canggih yang mbulet seperti dinasti kepemimpinan Kabupaten Klaten atau seperti cerpen soal domestic drama yang dibumbui dengan kehidupan matematikawati yang stres karena ia berhasil membuktikan kalau 1=2 macam Division by Zero karya Ted Chiang (yang, omong-omong harus kalian baca). Tidak pernah terbayangkan kalau Teorema Terakhir Fermat bisa diangkat menjadi cerita young adult yang menarik dan menggugah, tetapi masih bisa dicerna untuk anak-anak middle grade. Untuk itu, saya angkat topi untuk Ihsani.

Teka-Teki Terakhir, karya debut Ihsani sangat berbeda dengan karyanya yang pertama kali saya baca A Untuk Amanda --yang juga masuk ke dalam salah satu buku favorit saya tahun lalu karena sasaran usia pembacanya meski keduanya sama-sama cerdas dan bergizi. A Untuk Amanda juga cenderung gelap, sementara Teka-Teki Terakhir lebih ringan dan cerah, seperti cahaya crepuscular yang menelusup dari awan di langit.

Bercerita soal Laura Welman, seorang gadis kecil berusia 12 tahun, yang membuang kertas ulangan matematikanya yang bernilai nol di depan rumah besar milik pasangan misterius Maxwell. Sejak saat itulah, ia mulai berkenalan dengan pasangan suami istri Maxwell yang ternyata seorang ahli matematika dan di sana ia menemukan serunya matematika dan rahasia suami istri Maxwell yang perlahan terkuak, termasuk pergumulan James Maxwell dengan Teorema Terakhir Fermat selama empat puluh tahun.

Mengambil latar tahun 1992, beberapa tahun sebelum Teorema Terakhir Fermat dibuktikan, Teka-Teki Terakhir terasa seperti cerita yang autentik, membuktikan bahwa ada sisi lain dari peristiwa sejarah dan ini hal yang baru dalam dunia young adult dalam negeri ini. Bahwa di balik kesuksesan orang lain, ada kegagalan orang lain pula. Tapi, Teka-Teki Terakhir mengajarkan bahwa kegagalan juga merupakan bagian hidup yang harus diterima dan setelah kita belajar menerima kegagalan, dan berusaha untuk mengatasinya, itulah hal yang paling penting. Bagaimana sebuah buku yang ditujukan untuk bocah-bocah SMP masih relevan dengan kehidupan orang dewasa benar-benar di luar nalar saya.

Dan bukan itu saja yang mengejutkan dari Teka-Teki Terakhir karena sekali lagi Ihsani menyelipkan isu-isu dan pemikiran sensitif, seperti agnotisme di A Untuk Amanda. Kali ini ia menyinggung how to handle death dan kehidupan setelah kematian itu sendiri. Perkara apakah kehidupan setelah kematian itu ada atau tidak tidaklah penting, karena yang paling penting bagaimana kita meninggalkan legacy di dunia ini. Menarik sekali memahami pikiran anak dua belas tahun lebih dewasa daripada kita-kita ini. Selain dua isu itu, buku ini juga mengajarkan arti persahabatan, persaudaraan, dan hal-hal penting lainnya yang diperlukan para remaja muda.

Meski demikian, meski Teka Teki Terakhir tetap mengagumkan, saya merasa jalinan plotnya kurang terikat dengan baik, seperti jilidan buku dengan beberapa halaman yang lepas. Saya tidak bisa menunjukkan bagian yang mana, tetapi saya menduga ini salah satu sebabnya kenapa saya tidak menikmati Teka-Teki Terakhir sama seperti saya menikmati A Untuk Amanda.

Tapi, tetap saja Teka-Teki Terakhir adalah sebuah karya yang impresif, dan mengingat jarangnya buku remaja yang mengangkat tema-tema penting dan unik di negeri ini, karya-karya Ihsani rasanya selalu wajib untuk dinanti.

Ulasan ini juga bisa dibaca di sini.
Profile Image for Ilman Akbar.
Author 2 books10 followers
April 17, 2014
Saya mau membuat pengakuan jujur. Walaupun saya amat sangat suka membaca, saya tidak suka membaca novel. Sedikiit sekali saya novel yang pernah saya baca, itu pun hanya yang best seller nasional atau internasional. Beberapa di antaranya seperti Laskar Pelangi, 5 cm, The Alchemist, salah satu buku Harry Potter, saking sedikitnya saya sampai tidak ingat yang lain, hahaha. Mengapa? Hmm, masalah preferensi saja. Saya jauh lebih suka membaca buku-buku non-fiksi.

Sampai pada akhirnya bulan lalu, sebuah judul novel baru mengusik perhatian saya. “Teka Teki Terakhir“, karya dari Annisa Ihsani. Ia adalah salah seorang teman dekat saya, kami satu SMA dan satu jurusan kuliah. Memang, rasanya akan sangat jahat untuk tidak membeli dan mengapresiasi karya pertama kali seorang teman dekat. Tapi bukan itu yang membuat saya akhirnya memutuskan membeli buku Teka Teki Terakhir ini.

Ada dua alasan:

Pertama, Nisa cerita, ini adalah pertama kalinya ia mengirim naskah novel ke penerbit, dan langsung diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama! Saya tahu bahwa ribuan naskah ditolak oleh penerbit tiap bulannya, maka novel ini pasti bukan novel kacangan.

Kedua, tema yang diangkat oleh Nisa di buku ini unik banget. Serius. Umumnya, saya cuma tahu kalau tema novel itu kalau nggak misteri, thriller atau detektif, science fiction, fantasy, atau tema sehari-hari seperti keluarga atau pendidikan. Tapi, Nisa memasukkan tema matematika! Dalam buku ini, bertebaran konsep-konsep matematika murni maupun nama-nama ahli matematika yang pasti 99% dari kita tidak pernah mendengarnya.

Saya dan Nisa dulu sama-sama kuliah Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Apa yang kami pelajari di sana, sebagiannya tertuang ada di buku ini. Nisa, yang bakat dan minatnya sangat kuat di bidang ini, pun menyelesaikan kuliah masternya pada jalur yang sama. Jadi saya bisa bilang ini bukan novel fiksi ilmiah atau fantasi, ini adalah novel ilmu pengetahuan ilmiah.

Tanpa sadar, setelah membaca novel ini kamu jadi ngerti tentang konsep-konsep logika matematika, teorema, aksioma, konjektur, pembuktian matematika, hipotesa, dan sebagainya. Seandainya saja Nisa menulis buku ini sebelum saya masuk kuliah, niscaya nilai saya pada mata kuliah matematika diskret di kampus tidak akan C! >_<

Saya nggak akan membahas tentang bagaimana cerita, karakter, dsb, karena ini bukan review atau resensi novel.

Secara umum, novel Teka Teki Terakhir ini memiliki jalan cerita yang amat logis dan runtut, klimaks yang jleb, penggambaran karakter yang mendalam serta konflik yang masuk akal dari para tokoh-tokohnya. Novel ini juga menyajikan ilmu dan inspirasi besar yang bisa diambil tanpa menggurui, serta yang paling penting adalah emosi yang membawa kita masuk ke dalam dunia di novel ini. Semua aspek sukses di novel-novel best seller yang pernah saya baca, saya temukan juga saat menutup halaman terakhir Teka Teki Terakhir.

Mungkin teman-teman sama sekali tidak akan percaya kalau ini adalah novel pertama Nisa. Tapi saya sendiri akan percaya, karena saya tahu Nisa adalah seorang penggila novel dari dirinya kecil dahulu. Ditambah lagi kecintaannya yang luar biasa terhadap dunia ilmu matematika, ya hasilnya jadi Teka Teki Terakhir ini!

Benar yang pernah saya dengar, apa yang kamu baca, itu yang akan kamu hasilkan. Karena saya sukanya baca buku-buku non-fiksi, buku pertama saya 101 Young CEO juga adalah buku non-fiksi.

Terakhir, sebelum menutup catatan ini, saya mau mengutip satu percakapan dari Teka Teki Terakhir yang menurut saya merupakan pesan utama yang ingin Nisa sampaikan kepada pembaca. Sesuatu yang saya aminkan dan saya jadikan salah satu value saya dalam hidup ini.

"Menurutku penting untuk meninggalkan sesuatu selagi kau hidup. Bagi beberapa orang, mungkin ini berupa bukti teorema. Bagi orang lain, mungkin lukisan atau puisi. Tetapi intinya, apa saja yang menunjukkan kau pernah hidup…"

So, berkaryalah dan berikan manfaat kepada sekitarmu selama kamu masih hidup. Jangan sampai ada atau tidak adanya dirimu, tidak ada bedanya bagi orang lain di dunia ini.

Sekali lagi selamat buat Nisa atas karya pertamanya, ayo teman-teman semua beli bukunya ya! Jadikan buku ini best seller, karena trust me, buku ini lebih dari layak untuk dijadikan BEST SELLER!
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
April 1, 2020
*baca di Gramedia Digital
=)

"Janganlah terlalu fokus pada satu hal hingga lupa menghargai apa yg ada di sekelilingmu." Hal 93

ehmm..
mungkin ekspetasi q yg terlalu tinggi dengan novel ini..
q benci matematika, asli..
dan q kira novel ini kayak judul'y gitu penuh misteri..
tapi ternyataaaaa..
>,<

mungkin selera q yg berbeda dengan orang lain yg udah baca novel ini..
:p
Profile Image for Rezza Dwi.
Author 1 book278 followers
March 17, 2020
"Katakan, Laura. Apakah kau tahu teorema Pythagoras?"

Salah satu kutipan favoritku dari buku ini, LOL =D
Loh, apa yang bagus dari itu?
Umm ..., karena momennya menarik xD

Buku ini memang menarik. Banyak hal menarik di dalamnya. Karakter menarik, kisah menarik, tempat menarik. Nah, coba, udah berapa kali aku bilang kata "menarik"? Saking menariknya memang buku ini =D

Kisah middlegrade ini menceritakan tentang pertemuan Laura dengan tetangganya, sepasang kakek-nenek yang ternyata menyimpan banyak kejutan tentang matematika. Kamu akan menemukan sudut pandang baru, kacamata baru, tentang beberapa hal.

Buku ini bagus buat anak-anak maupun orang dewasa. Hangat, juga dekat. Bahwa hidup memang tentang belajar. Belajar akademik maupun belajar menjadi pribadi yang baik.

I do like this book. Bangga Indonesia punya karya ini xD
Author 4 books21 followers
July 17, 2016
Duh, karena buku ini tingkat penasaranku sama matematika jadi membesar. My boss will be proud. Haha...

Setelah kemarin jatuh cinta sama Amanda, sekarang jatuh cinta sama Laura. Intinya sih, 'Gue suka gaya bercerita lo, Annisa!' xD

Serius deh, remaja kita harus banyak baca novel kayak gini.

Review lengkap menyusul...
Profile Image for Shanya Putri.
352 reviews166 followers
August 4, 2021
Annisa Ihsani nggak pernah ngecewain!

Gaya penulisannya bagus banget. Rasanya seperti baca terjemahan😂. Suka!!!

Teka-Teki Terakhir banyak bahasan tentang matematika, yaitu Teori Terakhir Fermat. Sebagai seseorang yang tidak begitu menikmati yang namanya matematika, aku nggak kesusahan baca buku ini.

Ceritanya juga seru. Mungkin karena dari sudut pandang orang pertama dan tokoh utamanya merupakan murid SMP yang "pintar".

Tapi aku kurangin satu bintang, karena sempat bosan bacanya😂

Suka banget, deh! Next, mau baca A Hole in the Head ❤😊
Profile Image for Zulfy Rahendra.
284 reviews76 followers
January 16, 2017
Ini buku tentang matematika, dan ketika kelar ini komen saya "yaampun yaampun yaampun bagus banget yaampun..."
Bahkan saya bilang gitu. Saya, yang secara genetis dan berdasarkan pengalaman sangat benci matematika.

Pertama kali baca sinopsisnya, saya langsung inget George's Secret Key to Universe. Seorang anak yang penasaran sama tetangganya, yang dianggap penyihir aneh sama masyarakat sekitar, tapi kemudian dia tau tetangganya itu profesor ahli. Buku ini, kurang lebih awalnya begitu. Tapi kelanjutannya ngga ada mesin ajaib yang bisa bikin menjelajah semesta, ngga ada. Adanya cuma perpustakaan kaya, obrolan profesor tua tentang matematika, dan obsesinya pada satu teorema.

Laura yang awalnya benci matematika, pelan-pelan mulai bisa ngeliat dimana serunya matematika, bahkan dia sendiri jadi agak terobsesi sama keluarga Maxwell. Penasaran sama masa lalu Nyonya Maxwell, penasaran sama obsesi Tuan Maxwell, penasaran sama matematika. Buku ini kayaaaaa sekali sama sejarah dan pengetahuan matematika. Alurnya yang cepet dan metafora-metafora persamaan matematika yang dibikin jadi teka-tekinya bikin cerita jadi ngga bosenin.
Kayak ini:

"Pikirkan seorang tukang cukur di kota bernama Seville. Di kota itu, semua penduduk kalau tidak mencukur rambut mereka sendiri, tentu dicukur oleh si tukang cukur. Tetapi si tukang cukur hanya mencukur rambut orang-orang yang tidak mencukur rambutnya sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah si tukang cukur mencukur rambut sendiri?"

Seru sekali, kayak diajak main logika, hahahahahahhahahaha. Setiap ada bagian begini, sebelum nerusin baca saya coba jawab teka-tekinya, dan berakhir dengan "mbuh ah". Gampang nyerah banget orangnya yha. Ga ada ambisinya sama sekali.

Dari nama penulisnya, jelas banget ini buku karya anak bangsa. Tapi diliat dari nama tokohnya, bahasanya yang dipakenya, rasa bukunya terjemahan sekali. Desa Littlewood aja saya bayanginnya kayak rumah-rumah di pinggiran Inggris yang ada di buku Agatha Christie atau Enid Blyton. Untungnya penulis konsisten nulisnya begitu sampe akhir. Berhubung saya kebanyakan baca novel terjemahan juga, jadi enak-enak aja bacanya. Dan emang sempet lupa ini bukan buku terjemahan juga sih.. :D
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
July 21, 2016
sedikit catatan dan curhatan-nya ada disini XD http://wp.me/p5X1bH-oH


ada di iJak tapi bukunya belum tersedia. karena penasaran+sampulnya yang cakep akhirnya cari di instagram dan untuk nemu yang murah.

tema yang dibahas menarik. Angka. Matematika, sesuatu yang saya nggak bisa dari dulu T_T
pada beberapa bab saat menjelaskan soal angka dan teori gitu saya sempat kleyengan bingung. tapi keren karena bisa disampaikan dalam suatu cerita ringan sambil menyelipkan pengetahuan.

''Mendapat nol tidak terlalu buruk, terutama setelah begitu lama pencariannya''

waktu baca bagian itu jadi inget pas SMA dan dapat nilai 0 pertama kali di ulangan matematika setelah selesai libur panjang. kebetulan sebelum libur panjang itu sempat bagi rapot, dan saya juara 1. nah pas ulangan dapat 0 itulah saya disindir habis oleh guru mtk saya dan bilang ''kamu gak pantes rangking 1''. hh, apa memang indikator juara itu harus pintar mtk ya? T_T tapi ya emang saya nggak ngerti juga sih kenapa saya bisa ranking 1 padahal sering tidur di kelas(selalu) dan nilai mtk selalu remed.

kalau buku ini saya baca pas masih sekolah keren kali ya. soalnya pas selesai baca langsung kayak merasa,,,apa ya,,,nggak buruk2 banget memandang matematika gitu. matematika itu luas, jadi gak berhak di benci karena ada 1 bagian yang tidak kamu sukai*apaan wqwq*

btw kurang suka dengan endingnya.
dan baru ngeh kalau ini tuh teenlit. dari penulis indonesia pula. tak kira ini terjemahan XD
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
July 31, 2016
Sempat berpikir apakah aku benar-benar menyukai buku berlabel 'teenlit' ini. Tapi, aku benar-benar menyukainya. Teka-teki kehidupan yang sebenarnya dipulas apik oleh penulis. Dan aku yakin penulis tidak main-main dalam melakukan riset untuk buku ini. Segala hal seputar matematika dijabarkan. Bagai baca modul sekaligus cerita remaja. Baru kali ini menyelesaikan 'teenlit' yang aku tidak "malu" membacanya.

Tapi, setelah itu semua, aku kembali berpikir, apakah benar buku ini ditujukan kepada remaja tanggung? Aku pikir buku ini terlalu berat--apalagi tentang penjabaran matematikanya yang walaupun dideskripsikan dengan asyik tetapi begitu bervolume sampai-sampai aku yakin para remaja lebih lekas menutup buku ini tanpa menyelesaikannya.

Oh, buku ini sepertinya mulus tanpa cela. Bagi yang sudah baca, colek aku bila aku salah mengatakan bahwa buku ini tak ada salah ketik ejaan!

Ulasan lengkapnya: http://bibliough.blogspot.co.id/2016/...
Profile Image for Hana Bilqisthi.
Author 4 books279 followers
December 5, 2016
Alhamdulillah akhirnya selesai juga.
Sempat berhenti baca di tengah buku ini karena aku merasa Laura mirip sekali dengan Amanda dari A untuk Amanda , cara berpikir dan juga konfliknya. nah baca amanda itu bikin depresi, jadi ketika merasa laura mirip sekali dengan Amanda, aku berhenti karena sedang tidak ingin merasa stress atau mengingat momen-momen depresi.
Mungkin karena itu kali ya beberapa yang baca cerita ini lebih dahulu jadi kurang menyukai A untuk Amanda.

Sempat hendak memberikan bintang 3 saja tapi untuk novel debut, ini keren sekali. Ceritanya mengalir dan karakternya terasa nyata. :)
Profile Image for Lia Agustin.
77 reviews14 followers
March 8, 2017
Well-written, good quotes, mengedukasi dengan cara yg nggak boring (plus berhasil bikin mewek di bagian akhir). Bakal jadi salah satu karya lokal favorit saya. Keren!
Profile Image for Bila.
315 reviews22 followers
July 22, 2018
"...matematika juga menyenangkan begitu kau mengenalnya."


Coba aja aku baca buku ini pas masih sekolah, mungkin aku bakal menobatkan buku ini sebagai buku favorit sepanjang masa. Tapi terlambat huhu.

Aku SUKA BANGET sama gaya tulis yang disajikan! Serasa baca buku terjemahan (tentu maksudku itu terjemahan yang bagus yaak). Penggambaran latarnya juga patut diacungi jempol. Konflik yang dimunculkan tidak terlalu berat.

Ada beberapa hal yang agak mengganjal saat aku membacanya:
(Catatan: kebanyakan keluhan ini disebabkan oleh faktor...umur. 😂)
1. Unsur matematika yang ternyata ga penting-penting amat detailnya.
Jadi kesannya cuma sebagai pelengkap atau pengetahuan tambahan.Ya memang matematika berperan dalam cerita, tapi ga sampai penjelasan segala macamnya. Jadinya kan satu bab tebal gara-gara bahas teorema -.-

2. Aku agak bingung, apa peran Peter di kisah ini? Pemanis? Atau biar ada cowoknya?
Tapi menurutku ini bagus untuk remaja. Jadi biar gausah banyak cinta-cintaan.

3. Apa cuma aku yang berpikir kalau beberapa bagian konflik terlalu kekanakan? (Atau aku sekarang sok dewasa? Ah, lupakan saja! 😂)


Intinya sih, buku ini sangat cocok untuk anak-anak yang BARU beranjak remaja. Sangat bagus daripada baca buku yang ga sesuai umur. Ya tapi sekali lagi, aku terlambat bacanya, jadinya ga bisa ngasih 5 bintang utuh.
Profile Image for Ayu Lestari Gusman.
122 reviews
October 18, 2017
"Semua orang aneh dengan caranya sendiri. Terkadang keanehanmu tidak cocok dengan keanehan orang lain, sehingga mereka menyebutmu aneh. Tetapi terkadang keanehanmu itu cocok dengan keanehan seseorang, dan kalian bisa berteman" (hal. 147)

Ga nyangka, bisa suka 'teenlit' :D
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
July 7, 2016
Laura Welman, seorang anak perempuan berusia 12 tahun, merasa sangat sedih ketika mendapatkan nilai nol di kuis Matematika. Pada perjalanannya pulang ke rumah, dia melipat kertas kuisnya itu menjadi sebuah perahu kertas, kemudian membuangnya di tempat sampah keluarga Maxwell, tetangganya yang aneh. Tuan Maxwell dan istrinya dianggap aneh karena mereka jarang keluar rumah. Lagipula rumah mereka terkesan angker dan tidak terawat.

Beberapa hari kemudian, Tuan Maxwell memanggil Laura ketika dia melewati rumah angker itu. Tuan Maxwell memberinya sebuah buku tipis beserta kertas kuisnya yang telah dicoret-coret oleh Tuan Maxwell. Itulah awal perkenalan Laura dengan keluarga Maxwell. Selanjutnya Laura memberanikan dirinya mengunjungi Tuan Maxwell. Ketika dia mendapati bahwa Nyonya Maxwell adalah orang yang ramah dengan koleksi buku-buku yang sangat banyak, Laura berjanji akan selalu datang ke rumah itu. Apalagi Laura mendapatkan pelajaran matematika secara gratis sehingga nilai matematika-nya mulai membaik.

Rupanya Tuan Maxwell dan istrinya adalah ahli matematika. Tuan Maxwell sendiri sedang mencoba menemukan pembuktian Teorema Terakhir Fermat, sebuah konjektur yang dicetuskan oleh seorang ahli matematika Prancis yang bernama Pierre de Fermat. Waktu itu, di tahun 1992, konjektur ini sudah menjadi misteri selama lebih dari 350 tahun.Tuan Maxwell sendiri sudah menghabiskan waktu selama 40 tahun lebih untuk mencari pembuktiannya.

Saya sudah lama sekali penasaran dengan novel teenlit yang satu ini, dan akhirnya kesampaian juga membaca buku digitalnya. Ternyata, meskipun penulisnya adalah penulis lokal, tapi rasanya seperti membaca novel terjemahan dengan citarasa yang tinggi. Saya menyukai bagaimana penulis meramu ilmu matematika yang menurut kebanyakan orang adalah ilmu yang sulit, menjadi sebuah kisah yang menarik untuk dibaca. Apalagi dikisahkan melalui sudut pandang seorang anak perempuan belasan tahun. Tapi tentu saja bukan hanya matematika yang menjadi topik dalam novel ini. Ada unsur persahabatan, keluarga, saling menghargai, dan juga tentang penghargaan atas sebuah karya.

Menurutku penting untuk meninggalkan sesuatu selagi kau hidup. (Hal. 217)

Saya suka sekali dengan quote di atas, yang di dalam buku ini diucapkan oleh seorang tukang kebun. Bukan hanya berlaku bagi seorang ilmuwan, dalam hal apapun setiap orang pasti ingin dikenang dengan karyanya. Lantas bagaimana caranya meninggalkan sesuatu yang penting itu? Berikut ada dua quote lagi untuk menjawabnya.

Kalau aku boleh memberimu satu nasihat, Laura, janganlah terlalu fokus pada satu hal hingga lupa menghargai apa yang ada di sekelilingmu (Hal. 93)

Dengar, apa pun yang kau lakukan, akan selalu ada orang yag menganggapnya salah. Jadi, sebaiknya lakukan saja yang kau suka, oke? (Hal. 171)


Lima bintang untuk Teka-Teki Terakhir.
Profile Image for Leila Rumeila.
1,006 reviews28 followers
October 9, 2024
1st read by ebook in Apr 2021 : 3.5⭐
2nd read by audiobook in Oct 2024 : 4⭐

Buku ketiga Annisa yg gue baca, dan gaya penulisannya tetap menjadi unsur yg paling gue suka dari buku2nya.
Seperti baca buku terjemahan dari penulis luar, alih2 buku lokal.

Atmosfer dari buku ini sejujurnya gue suka, khususnya bagian2 tiap kali Laura berkunjung ke rumah keluarga Maxwell, it warmed my heart.
Tapi, gue kesulitan untuk menangkap makna secara keseluruhan yg sebenarnya ingin disampaikan buku ini.
Mungkin dari judulnya "Teka-Teki Terakhir", gue mengharapkan Laura, sebagai karakter utama berhasil menyelesaikan "teka-teki" apapun yg dimaksud pada judulnya. Hmm...
Profile Image for Pretty Angelia.
Author 7 books56 followers
December 8, 2017
Bagusss, cerdas, dan realistis. Meski aku nggak ngerti tentang matematika, tapi aku menikmati banget baca buku ini. Aku baca ini di Scoop Premium. Ntar mau beli bukunya :D
Profile Image for Afifah.
409 reviews17 followers
September 2, 2018
Ini adalah salah satu buku Indonesia yang paling hyped untukku pribadi. Dari awal aku lihat cover lamanya, aku sudah merasa tertarik dengan buku ini. Setelah agak lama (atau mungkin sebentar tapi aku yang kurang peka), orang-orang mulai banyak yang menulis review bagus tentang buku ini. Tapi karena satu dan lain hal, susah banget untukku mencari buku ini setelah banyak review bagus tersebut.

Untungnya tahun lalu buku ini diterbitkan ulang. Langsung aku beli tapi kemudian aku takut untuk mulai baca. Takut ternyata overhyped dan tidak sesuai ekspektasi, padahal aku sendiri yang terlalu berlebihan. Ketika akhirnya aku memberanikan diri untuk baca buku ini, akhirnya aku merasakan sendiri. Sebagai buku debut, buku ini bagus banget.

Gaya menulisnya Annisa Ihsani sangat mudah untuk aku pahami dan ikuti. Bukan tipe yang lyrical atau bisa memainkan emosi-ku seperti Windry Ramadhina atau Arleen, tapi sangat simpel dan agak ada distance antara aku sebagai pembaca dengan karakter Laura dalam buku ini. Tapi justru bagian itu yang paling aku suka, karena aku melihat banyak karakter diriku sendiri dalam diri Laura dan memang penulisan seperti itu yang paling tepat.

Karakter kedua orang tua Laura, Jack, Suami-Istri Maxwell, Julian, dan Katie juga tidak hanya tempelan saja dalam buku ini. Dan aku sangat suka dengan keterlibatan dan hubungan mereka semua dengan perkembangan karakter Laura di dalam buku.

Overall, 5 out of 5 stars untuk buku yang ternyata tidak overhyped ini. Keren dan salut banget untuk Annisa Ihsani yang menulis buku debut seperti ini.
Profile Image for Fathiyah.
128 reviews4 followers
October 2, 2021
Kisah ini lebih ke pelajaran matematika sih, dengan sentuhan misteri teka-teki yang si tokoh utama harus selesaikan. Awalnya agak kurang sreg dengam ceritanya karena rada kaku, mungkin kalau gaya bahasanya lebih santai, tambah enak. Tapi lama-lama konfliknya lumayan menegangkan.
Profile Image for Nidos.
302 reviews78 followers
August 10, 2019
Membaca kisah Laura untuk kali kedua, dan masih sama terpukaunya dengan ketika saya menghabiskan buku ini untuk kali pertama hampir lima tahun lalu. Bedanya, sekarang sudah yakin untuk membulatkan rating ke atas karena Teka Teki Terakhir terlalu ajaib untuk hanya diberikan empat bintang saja.

Salah satu buku yang untuknya saya bersedia merekomendasikan kepada siapa saja, salah satu penulis yang tiap merilis judul baru otomatis harus saya punya.

Lima bintang ketiga di rak saya.

*****

This is my idea about writing fiction! You write about things you like and recognize well. If it's mathematics then be it. What's so wrong about not writing about romance? This is a legit proof.

Aak I've just finished the book and am still in awe, don't know what to say. This is gold, the author knows what she wanna tell and writes it down smoothly--and still has time to insert values in it. Rad! Teenlit for all ages, indeed.

Actually it's between 4 and 5 but I don't give 5 bcs I don't believe in perfection :p

Ps: I'll write the proper review later when my mind is ready to put it all together. Ms Ihsani I am a fan of yours!
Profile Image for Dinur A..
260 reviews97 followers
August 13, 2019
5 GLOWING STARS! Pas awal beli ga ada ekspektasi apa-apa, kalaupun ada palingan ini semacam middle-grade fantasi gitu. Ga nyangka klo ternyata ini ga memuat fantasi samsek, lebih ga nyangka lagi pas saya nanges di perempat terakhir cerita.

Salah satu scene favorit saya itu ketika semuanya berkumpul di kediaman Maxwell sambil makan pai apel, lalu Tuan Maxwell berkata sesuatu tentang "luar biasa". Selalu suka sama scene-scene macem gini; ga perlu dramatis dan dibuat2 segala macem, efek haru-birunya disampaikan secara simpel dan implisit.

Setelah namatin buku ini, saya jadi ngerti kenapa di sinopsis tertulis bahwa sebuah teka-teki terakhir bisa "mengubah hidup Laura selamanya".

Sebuah mid-grade yg wajib dibaca semua umur sih kalo kata saya. Efeknya healing bgt buat jiwa.



.
Profile Image for sifa fauziah.
52 reviews
May 29, 2016
Aku menerka-nerka sepanjang cerita ini, seperti---Apa yang terjadi di rumah Jalan Eddington nomor 112, itu? Seperti apa sebenarnya keluarga Maxwell? kenapa Nyonya Eliza tiba-tiba berubah sikap ketika Laura melihat catatannya? Bagaimana perihal teori fermat yang digeluti Tuan Maxwell, apakah berhasil?, dan yah, lain sebagainya.
Meskipun aku tidak begitu paham perihal teori atau apalah--yang sangat buatku mikir--yang dijelaskan Tuan Maxwell, tapi buku ini menyenangkan, tentu saja.
Bahkan kurasa porsi ceritanya cukup, banyak halamannya pas, karena menurutku, andai saja dijelaskan begitu detail akan sedikit membosankan, untunglah tidak.
Yeah, pada akhirnya aku menyukai keluarga Maxwell, juga Julius. Huh, harus aku akui, aku cukup sedih dengan akhir ceritanya, mungkin karena aku terlalu senang melihat Laura, Tuan Maxwell, Nyonya Eliza, dan Julius bersama-sama.
Profile Image for Ren Puspita.
1,491 reviews1,021 followers
February 22, 2025
3 bintang

Apa kamu suka matpel matematika atau minimal matkul kalkulus? Jika iya, buku debut Annisa Ihsani ini cocok untukmu.

Kamu ga suka matematika karena nilai selalu jeblok atau harus ngulang lagi matkul kalkulus? Hmm, buku ini tetap bisa dibaca sih, tapi bisa jadi diskusi soal matematikanya akan bikin lewat aja sekilas di otak.

Gue termasuk yang suka matematika walau untuk bagian bangun ruang gue agak lemah. Hal yang lucu karena gue masuk teknik sipil dan apa yang dipelajari di sipil? Tentu saja salah satunya tentang bangun ruang, wkwkw. Tapi matematika gue termasuk yang kuat jadi kuliah gue dulu ga sengsara banget dan bahkan seandainya saat ini gue disuruh memecahkan persamaan matematika sederhana mungkin masih bisa meski gue akui sudah lupa semua rumusnya karena terlalu lama tidak dipakai. But, enough about myself.

Teka Teki Terakhir awalnya gue kira sebuah misteri yang berhubungan dengan perburuan harta karun atau sebuah novel remaja yang ringan. Sebenarnya ceritanya bisa dibilang ringan banget, karena tanpa pembahasan terkait Teorema Terakhir Fermat, maka kisah hidup Laura Welman, seorang bocah berusia 12 tahun saat cerita ini dimulai, bisa dibilang BIASA banget. Konflik - konfliknya khas anak remaja jelang SMP di sebuah kota fiktif Littlewood yang entah berada dimana, tapi mengingat gaya tulisan buku ini kaku bak kanebo kering alias kayak baca terjemahan, maka gue rasa kota tempat tinggal Laura mungkin antara di Inggris atau Amerika atau wherever you want to be. Gaya tulisan yang kaku emang sempat buat gue mengernyit walau lama - lama gue akhirnya terbiasa. Anggap saja ini terjemahan, begitulah pikir gue, agar sesuai sama setting ceritanya (yang entah dimana).

Yang membuat Teka - Teki Terakhir menarik memang pembahasan tentang Teorema Terakhir Fermat dan juga beberapa bahasan tentang matematika. Sayangnya, karena saat baca buku ini gue ingin bacaan yang ringan, jadinya semua bahasan tentang matematika itu walau unik yang cuma lewat sekelebat aja tanpa gue pengen tahu lebih lanjut. Penceritaan buku yang semuanya dari sudut pandang pertama Laura juga sebenarnya jadi salah satu kelemahan buku ini, karena pada beberapa bagian gue merasa bukan Laura yang bercerita tapi justru pengarangnya! Jadi seorang pribadi Laura dan pribadi Annisa Ihsani ini saling tumpah tindih. Terasa di saat Laura sedang gundah karena persahabatannya dengan Katie rusak itu gue bisa paham kalau ini Laura, tapi saat Laura sedang mendengarkan teori matematika dari Tuan Maxwell gue merasa penjabarannya seperti authornya dan bukan Laura yang ada disana. Tapi gue berusaha maklum aja, karena ini karya debut jadi mungkin belum sempurna dan ga semua penulisan dari sudut pandang pertama itu bisa dibawakan dengan mulus.

Interaksi Laura dengan pasutri Maxwell yang unik emang menjadi salah satu fokus di buku ini, walaupun gue merasa interaksi Laura lebih banyak bersama Nyonya Eliza Maxwell ketimbang Tuan James Maxwell. Tema coming of age yang dibawakan juga cukup oke ditulisnya meski kata mutual gue buku ini "heartwarming", tapi bagi gue kayak yang biasa aja hahaha. Ya, kayak baca kisah remaja pada umumnya meski dibuat lebih level up dengan bahasan tentang matematikanya dan mungkin sedikit pesan moral untuk tidak semudah itu menghakimi orang hanya dari penampakan luarnya. Mungkin karena mood baca gue juga, tidak terlalu banyak kesan hangat atau menggugah yang gue dapatkan setelah baca Teka Teki Terakhir. Walau begitu bukan berarti buku ini jelek, malah menurut gue meski dengan gaya penulisan kaku bak terjemahan pun bukunya bisa dibaca semua kalangan. Tapi gue rasa ga cocok dibaca kalau lagi penat atau butuh hiburan ringan, karena bahasan tentang teori matematika yang ditulis di buku ini butuh perhatian lebih saat membacanya.
Profile Image for wulan.
247 reviews7 followers
January 27, 2024
sukak 🥹 buku ini keren banget! bisa mengemas matematika dengan menyenangkan. aku emang pengen aja baca buku karya kak annisa, cuman emang nggak terlalu perhatiin blurb nya jadi nggak nyangka buku ini bahas matematika

sebenernya pembahasan matematika di buku ini bukan topik utama, lebih ke sampingan aja sih menurutku. lebih tepatnya, itu nggak menutupi/mengambil spotlight si tokoh utama kita, laura.

oh iya, ini ceritanya berlatar tahun 1990 an, tapi di awal aku nggak sadar. dan ternyata memang disebutkan di blurb. latar tempatnya juga di luar negeri.

karena berlatar di luar negeri, aku jadi kayak baca buku terjemahan. tapi tenang, ini nggak sekaku itu kok. malah bikin aku pengen cepet tahu kelanjutan ceritanya.

vibes nya tuh mirip sama the secret garden. bedanya, di sini aku lebih terkagum kagum sama perpustakaan keluarga maxwell. tmi aku tuh dari dulu pengen punya perpustakaan di rumah :")

ceritanya? hangat 🫂 kehidupan laura di sekolah, pertemanannya dengan katie, pertemanannya dengan tuan dan nyonya maxwell. ah, rasanya aku ingin mengingat cerita ini untuk waktu yang lama.

kak annisa juga jago banget mainin emosi. laura ngerasain emosi apa tuh, aku jadinya ikut ngerasain juga. aku juga sampai menitikkan air mata.
Profile Image for Kiky ☆.
140 reviews5 followers
March 23, 2024
Membaca buku ini di iPusnas dan kurasa aku menikmatinya.

Buku ini bercerita tentang seorang anak SMP bernama Laura yang selalu ketakutan dan punya rasa penasaran terhadap rumah keluarga Maxwell, sepasang suami istri, James dan Eliza Maxwell, yang merupakan ahli matematika.

Disini belajar banyak tentang matematika, terutama sebuah teka teki berumur ratusan tahun Teorema Terakhir Fermat. Ada banyak ilmuwan asli yang dibahas disini, jadi rasanya belajar logika matematika.

Endingnya cukup memuaskan bagiku, walau sad ending penuh dengan rasa kecewa. Tapi aku suka gaya penulisannya yang mudah dipahami.
Profile Image for Francisca Todi.
Author 8 books48 followers
July 3, 2017
Baca buku ini bikin aku penasaran, siapa sih Annisa Ihsani ini? Gaya nulisnya bener-bener kayak buku terjemahan. Kalau dibilang yang nulis Jostein Gaarder pun rasanya aku percaya. Ternyata penulis memang pernah tinggal di luar negeri. Pantas suasana asing dan bahasa bakunya kental.

Buku ini menarik dan ceritanya ngga biasa. Ngga banyak buku Indonesia yang menjelaskan dengan detail seluk-beluk suatu topik (setidaknya, aku sendiri jarang menemukannya). Persahabatan Laura dengan keluarga Maxwell juga manis dan menyentuh, apalagi menjelang akhir buku. Jadi penasaran, jurusan apa yang Laura pilih akhirnya?
Profile Image for echyrosalia.
158 reviews
February 21, 2015
... Menurutku penting untuk meninggalkan sesuatu selagi kau hidup. Bagi beberapa orang, mungkin ini berupa bukti Teorema. Bagi orang lain, mungkin lukisan atau puisi. Tetapi intinya, apa saja yang menunjukkan kau pernah hidup. Supaya orang tahu, apa impianmu, apa yang membuatmu bersedih, apa kau lebih suka anjing atau kucing..


Intinya seperti itu,


3,5 bintang untuk bahasan matematika nya, dan 0,5 bintang untuk gambar angka angka di pojok kanan atas kertas, saya suka.
Profile Image for Virginia .
36 reviews
July 14, 2022
What a heartwarming story about a little girl and a grumpy old man with his lovely wife. Gaya penulisannya juga bagus, kayak novel terjemahan, yang membuat gue ga bisa berhenti untuk membaca. Akhir cerita ini berhasil buat gue nangis. Pokoknya buku ini gue tetapkan menjadi salah satu buku terbaik yang pernah gue baca. Great job, Kak Annisa!
Displaying 1 - 30 of 408 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.