Pernikahan zaman sekarang telah memasuki tren baru . Angkanya secara konsisten mengalami penurunan, perceraian kian meningkat, dan pemberitaan tentang KDRT seolah tiada ujungnya. Semua ini tak pelak membuat orang"mungkin juga kamu"bertanya-tanya, apakah pernikahan seburuk itu?
Tidak, jika itu dengan pasangan yang tepat dan hubungan yang sehat. Fenomena kegagalan rumah tangga sendiri, dalam ilmu family constellation atau konstelasi keluarga, dipahami sebagai akibat tidak pulihnya pola rantai toksik yang diwariskan orang tua dan leluhur. Oleh karenanya, mengenali pasanganmu, keluarganya, dan histori dirimu sendiri sudah sepatutnya menjadi kewajiban sebelum memasuki hubungan jangka panjang.
Buku ini bukan membahas tentang bagaimana menciptakan wedding seindah tema fairy tale, melainkan memandumu untuk mengenali dan memutus trauma turun-temurun yang berpotensi merusak hubungan. Dengan metode konstelasi keluarga yang dapat mengidentifikasi masalah ke akar, temukan jalan untuk membangun, membina, dan mentransformasi hubungan berpasanganmu menjadi lebih sehat, intim, dan memuaskan.
Salah satu bagian yang paling ngena buat aku di buku ini adalah tentang pentingnya keseimbangan dalam hubungan. Penulis jelasin kalau dalam hubungan, jangan sampai ada satu pihak yang terus ngasih dan mengorbankan diri, sementara yang lain cuma menerima tanpa berusaha memberi balik. Pas baca bagian ini, aku sadar kalau keseimbangan itu sering banget luput dari perhatian. Kadang kita terlalu sibuk ngasih tanpa batas atau malah terbiasa nerima terus-menerus, sampai lupa kalau hubungan yang sehat itu butuh timbal balik. Buku ini bener-bener ngingetin aku soal hal itu.
Buku ini juga ngebahas tentang trauma turun-temurun dalam hubungan. Kadang kita kira masalahnya cuma ada di diri sendiri atau pasangan, padahal bisa jadi itu pola yang udah kebentuk dari kecil dan tanpa sadar kebawa ke hubungan kita sekarang.
Selain bikin aku lebih ngerti tentang pola hubungan yang selama ini aku jalanin, buku ini juga disampein dengan cara yang enak, ngajak refleksi tapi nggak berasa digurui, dan banyak contoh yang relatable. Setelah baca, aku kepikiran kalau buku ini bakal lebih seru kalau didiskusiin bareng pasangan, biar bisa saling ngerti pola masing-masing.
Buku Ini Cocok Buat Siapa? Kalau kamu pernah ngerasa hubungan yang dijalanin selalu ngalamin masalah yang sama, atau sering mikir "kok rasanya hubungan aku gini-gini terus ya?", buku ini bisa ngasih perspektif baru dan bantu lebih ngerti akar masalahnya.
Akhirnya, Worth It Nggak? Recommended banget buat siapa aja yang pengen lebih ngerti diri sendiri dan pola hubungan, apalagi kalau punya niat buat bangun hubungan jangka panjang yang lebih sehat.
Buku ini memberikan pemahaman bahwa menikah adalah menjadi satu, bukan menjadi sama. Ketika hendak memustuskan untuk menikah, masing-masing calon pasangan harus sudah selesai dengan diri sendiri dan memahami trauma-trauma apa yang tidak tersembuhkan atau triggering. Menikah bukan dijadikan eskapisme atas kemalangan yang dihadapi saat masih lajang. Pasangan bukan samsak dan juru selamat untuk semua permasalahan yang kita alami.
Dalam pernikahan, memberi dan diberi merupakan kerja sama yang harus seimbang. Pasanganmu adalah teman hidupmu. Bukan anak atau orang tuamu. Terus diskusikan bagaimana komunikasi bahasa cinta di antara pasangan. Menerima pasangan adalah menerima seperangkat calon istri/suami dengan lengkap, beserta pengalaman, value, cita-cita, karakter, kerabat, dan orang tuanya. Pertimbangkan dengan matang sebelum memustuskan untuk hidup bersama.
Pernikahan adalah penyatuan dua keluarga, meskipun berdasarkan hukum konstelasi keluarga, order of love atau urutan cinta jadi akan berubah. Pasangan yang menikah harus memprioritaskan pasangan yang dinikahinya terlebih dulu, anak, baru orang tua dan saudaranya.
Menikah adalah tahap untuk bertumbuh bersama. Memilih pasangan yang akan dinikahi merupakan langkah awal untuk membentuk generasi yang lebih baik. Setelah menikah, putuskanlah untuk menjadi cycle breaker (nenek moyang yang baik) daripada keturunan yang baik. Menjadi berbakti kepada orang tua adalah berterima kasih, bukan menjadi patuh buta.
Baguus!! Sangat insightful! Penyampaiannya sangat mudah dipahami. Buku yang cocok dibaca bagi mereka yang berencana buat menikah. Atau yang udah menikah juga cocok2 aja sih menurutku. Ada part yang cocok buat dibaca sama ortu yang anaknya mau menikah hehe :D
Suka bgt buku selfhelp yang berlandaskan teori gini, jadi kesannya ga hanya ngasih nasihat 'kosong' melainkan juga ada research2 yang mem-backup
Such an eye and mind opener reading since first page. This book is very helpful for everyone—who still single, planning to married, even who already in marriage.
Such a great book by @msutanto_msutanto Banyak dijelaskan gimana dinamika kita, pasangan, org tua, mertua bahkan dengan saudara. Gimana seharusnya kita bersikap, dan di titik mana kita bisa seimbang antara keluarga dan pasangan. Ad beberapa poin juga yang resonate, dan sedikit banyak bawa teori Family Constellation di buku pertamanya.
So far buku yg jauh lebih baik dari sisi bahasa, konten, penulisan. Penjelasan runtut dan enak dipahami, dan tidak terlalu hardsell
Takeaways : anak adalah tanggung jawab org tua, bukan saudara. Tanggung jawab kita adalah diri kita, pasangan, dan anak. Dan semua harus dalam porsinya masing². Hal ini sangat perlu, supaya tidak ada kejadian menuntut orang lain untuk membahagiakan kita, karena kita sibuk membahagiakan yang bukan tanggung jawab kita.
Fav quote : "tidak ada berlian yang ditemukan langsung jadi. Tidak ada pasangan yg langsung sempurna. Yang ada kita