Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perhatikan Celah Peron

Rate this book
Ario tahu ia menyukai Gia, dengan semua senyum kecil dan kalimat-kalimat singkat yang keluar dari mulut perempuan itu . Tapi, di peron stasiun hari itu, ketika cahaya jingga matahari menerpa rambut hitam Gia, Ario sadar hanya Gia yang membuatnya merasa bahwa menyukai seseorang bisa semudah dan sesederhana ini.

Gia tidak pernah melihat Ario selain sebagai teman sejurusannya yang ramah dan mudah diajak bicara. Namun, perjalanan dua puluh menit dari kampus menuju stasiun tempat Gia turun yang sering kali mereka tempuh bersama mungkin bisa mengubah pikiran Gia - entah ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya.

280 pages, Paperback

Published July 3, 2024

Loading...
Loading...

About the author

Sashi Kirana

6 books24 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (15%)
4 stars
12 (37%)
3 stars
14 (43%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for aynsrtn.
607 reviews24 followers
June 6, 2025
Buku ini kebanyakan isinya cuma ngobrol, ngobrol, dan ngobrol. Ditambah ajang kontemplasi para pemeran utamanya yang di mana keduanya tuh sama-sama butuh validasi, jadi apa-apa ditanya, apa-apa diobrolin. Jadi, intinya ini kisah dua insan yang kebanyakan ngobrol di kereta.

3.75⭐

Dibandingkan buku penulisnya yang ku baca sebelumnya yaitu Hectic, Hectic, Hat Trick!, yang ini lebih jelas plot ceritanya. Tentang Ario yang naksir Gia. Keduanya berbeda sifat. Yang satu bawel ekstrovert, yang satu tipe kalem-kalem introvert. Yang bawel cowoknya, yang kalem ceweknya. Agak di luar kebiasaan, kan? Hehe.

Nah, satu hal yang jadi perhatianku adalah daripada aku menangkap sifat dan kebiasaan dua insan yang bertolak belakang ini melalui sikap dan interaksi mereka, aku malah tahunya karena diceritain oleh penulisnya dan lewat dialognya yang repetitif isinya: lo kan bawel, lo kan diem nih. Berulang kali sampe di titik, ku udah tahu kalian begitu, udah hapal banget. Telling rather than showing. Jadi, ku nggak nemu sebenarnya di mana mereka bawel dan pendiemnya karena rasanya sama aja.

Konfliknya pun nggak yang berat-berat. Lebih ke berputar di bubble-nya Gia dan Gio (kembaran Gia). Gio yang strict ke hubungan Gia dengan cowok menurutku masih so-so, kecuali di bagian dia baca DM Gia—tapi itu kan nggak sengaja yang jadi sengaja. Tapi, dibuat berputar-putar.

Karena itu, di pertengahan agak struggle baca buku ini karena boring. Rasanya pengen cepet-cepet selesai atau mana nih berantemnya (emang pembaca satu ini senang keributan, haha). Tapi, menjelang akhir ya semua menjadi cepat. Kayak hubungan Ario dan Ayahnya tuh bisa banget dieksplor, tetapi cukup 1 marahnya Ario, tetiba Ayahnya nerima Ario. Asian parents tidak semudah itu bisa “luluh” pada anaknya.

Meski begitu, buku ini cukup asyik buatku. Masih bisa diikuti dan dinikmati.

Stasiun Pasar Minggu, Stasiun Cawang
Ario menunggu, Gia pun datang.
Tsaah~~
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 3 books105 followers
July 7, 2024
Mengalir dan menarik di awal, meski menuju akhir kumerasa agak tersendat tetapi PCP bisa jadi pilihan yang dibaca saat duduk di kereta. Adegan terperosok ke celah peron yang kunanti, tak kutemukan. Sehingga disimpulkan Gia dan Iyo selalu berhati-hati meski asyik mengobrol menunggu kereta.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,569 reviews78 followers
October 10, 2025
Biasanya jenis cerita yang kusukai itu yang penuh konflik menegangkan. Yang konfliknya beneran tajam. Yang tokohnya melakukan banyak aksi. Yang para tokohnya punya trauma dan konflik psikologis mendalam. Kalaupun aku suka cerita yang soft dan santai, ya yang genre healing sekalian, yang narasinya benar-benar cantik. Makanya aku enggak nyangka kalau aku bisa suka sama cerita sesederhana ini yang sebagian besar ceritanya didominasi kegiatan ngobrol dua orang yang lagi pedekate di stasiun kereta dan di dalam kereta. Narasi dan dialognya pun juga kasual, biasa saja. Dialog keseharian.

Gimana ya, butuh skill yang sangat mumpuni untuk bisa bikin cerita sesederhana ini jadi nggak terkesan receh, menarik dan masih terasa penting untuk disimak. Salut buat Sashi Kirana. Jadi penasaran sama karya-karyanya yang lain.

Tokoh Gia dan Ario di sini tuh beneran pasangan green flag. Mereka nggak main tarik ulur. Mereka nggak memanipulasi perasaan orang yang mereka suka. Mereka tampil apa padanya dan terbuka pada satu sama lain. Mereka juga saling menghormati batasan satu sama lain. Dan mereka menghargai perasaan satu sama lain. Benar-benar dua manusia yang sangat sehat secara psikologis. Buku ini seolah bisa menjadi panduan soal bagaimana memperlakukan orang yang menyukaimu dan orang yang kamu sukai dengan hormat.

Simak tanggapan Gia ketika Ario merasa malu karena terlalu terbuka mengungkapkan perasaan sukanya pada gadis itu.

"Gue cukup salut sama lo, Yo," ucap Gia, memecah keheningan di antara mereka berdua." Gue tahu nggak gampang ngomong hal kayak gitu ke orang yang lo suka. Jadi, jangan merasa kalau omongan lo klise atau norak dari ngomongin tentang perasaan lo."

Mendengar ucapan Gia, Ario tersenyum kecil. "Lo selalu tahu hal apa yang tepat buat diomongin ya, Gi?"

(hal. 150)


Gia juga mengatakan pada Ario bahwa dia ingin melihat Ario apa adanya, termasuk sisi-sisi lemahnya juga. Gia menghargai Ario sebagai manusia yang utuh.

"Lo keliatan kayak orang yang nggak tahu malu, bener-bener pede banget. Jadi, gue lumayan kaget ngeliat sisi lo yang suka segan dan agak-agak insecure. Makanya, gue pernah bilang beberapa kali kalau gue nggak nyangka lo ternyata orangnya kayak gini."

Ario tersenyum tipis. "Ternyata gue nggak sebagus keliatannya, ya?"

Kontan, Gia menggeleng. "Ternyata, lo lebih kompleks dari yang lo kasih lihat dan gue kan pernah bilang juga, gue ingin lebih kenal sama Ario yang kompleks daripada Ario yang haha-hihi doang."

(hal. 151)


"Sejak ngeliat lo yang beneran berusaha deket sama gue, gue selalu menganggap lo sebagai orang yang suka sama gue, gue selalu menganggap lo sebagai orang yang suka sama gue dan gue nggak berniat mengubah itu. Gue nggak berniat bikin lo berhenti suka sama gue, nggak berniat deket sama lo cuma untuk akhirnya bilang mending kita temenan aja. Gue ngeliat lo sebagai cowok yang mungkin, bisa gue sukai dalam konteks lebih dari temen. Makanya, Yo, jangan cuma kasih liat sisi positif dari diri dan hidup lo karena gue nggak ingin ngeliat hal yang sama dengan apa yang orang lain lihat."

(Gia, hal. 153)


*

"Iyo hari ini agak aneh," bisik Dival pada Don di tengah kelas pagi mereka. "Padahal biasanya, dia selalu heboh tiap kelas MPK."

Don mengangguk kecil. "Dari tadi nggak nyambung kalau diajak ngobrol. Udah kena kali, LCD-nya."

(hal. 169)


*

Gia juga tidak keberatan ketika Ario curhat padanya soal masalahnya dengan ayahnya. Sebagai cowok, Ario mungkin merasa mengeluhkan masalah pribadinya pada Gia itu tidak keren. Namun, Gia menanggapinya secara wajar. Membuat Ario merasa aman.

"Lo nggak harus minta maaf buat semua emosi negatif yang lo punya, Yo. Apalagi kalau sama gue. Oke?"

(Gia, hal. 204)


*

Akhirnya Gino pun bisa menghargai perasaan Ario karena kejujuran lelaki itu juga. Dia juga salut karena Ario benar-benar tulus mendekatinya karena ingin berteman. Bukan hanya agar mendapatkan poin plus supaya pedekate-nya dengan Gia berjalan mulus.

"Waktu gue tanya kenapa mereka suka sama lo, jawabannya nggak memuaskan dan selalu ngambang. Dari situ, gue bisa ngeliat kalau mereka cuma deketin lo karena iseng atau pengen punya cewek dan kebetulan, respons lo bagus."

(Gino, hal 220)

"...dia berusaha akrab sama gue sebagai temen, bukan sebagai kembaran cewek yang dia suka."

(Gino, hal 221)


"...Cuma gue ngerasa agak canggung aja, karena dia keliatan genuinely pengin akrab sama gue. Biasanya,s etelah kenal sama gue, cowok-cowok yang dulu deket sama lo cuma nagajak gue ngobrol sebagai formalitas, biar keliatan bagus di depan kita berdua."

(Gino, hal 222)


Gia juga secara sederhana mendorong Ario untuk mencoba terbuka dengan ayahnya. Dan setelah Ario melakukannya, ternyata dia baru tahu kalau selama ini dia dan ayahnya saling salah paham.

*

Namun, aku berharap cerita ini bisa lebih show, misalnya menggambarkan adegan-adegan yang secara langsung menunjukkan kepedeannya Ario hingga dia dicap tidak tahu malu itu apa.
Profile Image for wulan.
257 reviews6 followers
January 4, 2026
seru!! meskipun sebagian besar buku ini membahas tentang "perasaan suka" tapi aku tuh bener bener enjoy aja bacanya, dan gak ngerasa bosen meski latar tempatnya itu itu aja.

sebenernya kalo dipikir pikir aku juga gak begitu sering merhatiin latar tempat di suatu buku sih ya ... 🤔 cuman pengen memuji penulis aja karena dengan latar tempat yang itu itu aja, dengan masalah utama yang konstan sepanjang cerita, aku menikmati membaca ceritanya.

bercerita tentang ario, yang naksir sama gia. mereka sempet beberapa kali kelas bareng dan kebetulan satu kelompok untuk tugas suatu matkul. ario sebenernya gak begitu sering ngobrol sama gia karena menurut ario, gia itu orangnya pendiam dan sulit didekati.

suatu hari gia tiba di kelas lebih awal dan memilih untuk tidur, namun didengarnya suara ario yang menghampirinya. ario yang mengira gia betulan tidur, mengungkapkan perasaannya. saat itu gia bingung alasan apa yang membuat ario menyukainya.

mereka kebetulan naik kereta dengan jurusan yang sama dan dari situlah keduanya mengobrol. di sini tuh ario kelihatan banget sisi people pleaser nya, yang mana bikin aku sedih karena berhubungan sama keluarganya.

sementara itu gia punya alasan untuk gak dekat sama lelaki manapun, juga sebisa mungkin hanya memiliki sedikit teman dekat di kampus. namun percakapannya dengan ario di luar dugaan terasa cukup mengalir. dan bukan satu dua kali mereka pulang bersama.

aku suka banget sama personality ario dan gia 🥹 cuman kalo aku bisa ngomong ke ario, HEH kurang2in itu sifat people pleaser lo! 🫵
gia juga ... tau betul kata kata yang harus diucapkan 🥹 bahkan setiap gia ngomong aku berasa dipuk puk padahal aku cuman pembaca loh ...

menurut aku semua aspek dalam buku ini tuh sebenernya sederhana, poin utamanya tuh sesimpel perasaan suka ario pada gia. tapi ceritanya tuh meaningful banget 🥹
next pengen deh kepoin buku2 karya penulis hehe
Profile Image for Arutala.
536 reviews1 follower
June 4, 2026
Melihat sampul bukunya sudah bisa ditebak kalau ceritanya akan mengaitkan antara stasiun, perjalanan dan interaksi para tokohnya. Kisah yang klise dengan pdkt paling minim konflik alias mulus tanpa hambatan yang berarti.

Karakter yang dibangun cukup luwes dan tokoh Gia mampu menampilkan diri dan ego yang lebih kuat ketimbang lainnya. Alur yang tenang ditambah pertentangan kecil antar kakak adik kembar menjadikan cerita ini tidak berakhir dengan biasa saja namun meninggalkan sesuatu selain dari perbincangan demi perbincangan mendalam di kereta baik bersama Gio ataupun Ario.
Profile Image for sesamesyrup.
58 reviews
June 25, 2025
⭐4/5

Romansa masa kuliah yang cerita cintanya nggak terlalu menggebu-gebu, tapi ngga terlalu selow juga karena ada konflik-konflik yang menyertainya. Saat dimana ada beberapa matkul yang mengharuskan mereka sekelas & berkelompok dalam mengerjakan tugas, saling menyapa di lingkungan kampus, pulang bersama, dan diledek oleh teman-teman tentang kedekatan mereka, cukup mengingatkanku akan kisah cintaku di masa kuliah juga hehe
Profile Image for Anya Azzahra.
11 reviews
April 12, 2026
It's giving my campus life so much! Kind of a light and cheesy books to read to give a little sparks of my chaotic days #LOL. Overall, I love how the dialogues of all characters run so well and very communicated and CLEAR. 4/5! 🌟
Profile Image for Rue.
51 reviews3 followers
September 18, 2024
Lucuk, gemas, mau punya pacar kek Ario jugak
Profile Image for Siti.
34 reviews1 follower
June 2, 2025
Kisah cinta mahasiswa yang menurutku mirip romansa anak SMA. Konflik keluarga yg dibangun penulis cukup intens memengaruhi kehidupan dua insan yg sedang mencari jati dirinya.
Profile Image for Dyah Mile.
40 reviews1 follower
Read
October 5, 2025
kisah dua mahasiswa yang menumbuhkan rasa suka dengan ngobrol di kereta. urutannya; suka, bilang suka, ngobrol, saling suka. that simple.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews