"Buat apa sih repot begini?" - itulah keluhan Aileen saat membantu Ama di kelenteng . Sebagai anak yang dibesarkan tanpa kekurangan, Aileen kurang berminat dan paham budaya leluhurnya, bahkan cenderung mengabaikan dan lalai. Namun, segalanya akan berubah ketika dia mengalami perjalanan misterius menembus batas dunia. Makna di balik hal-hal yang dikerjakan Ama, akar dari masakan yang biasanya tidak Aileen lirik ... sebuah pelajaran besar yang mungkin tidak akan dialami oleh lain, menantinya.
Writing is her passion since elementary school. She’ve been writing short comics/ stories and sending them to tabloid/ magazine since high-school.
Her first book Past Promise was published by Elex Media Komputindo. It was the first comic made by young female artist that was published in Indonesia at that time.
Wow! Akhirnya menemukan buku middle-grade dari penulis lokal yang menyenangkan, kaya akan wawasan, dan nasihat kebaikan. Meniti sejarah dan makna di balik lontong Cap Go Meh, hidangan utama dari tradisi Cap Go Meh, puncak perayaan Tahun Baru Imlek pada malam ke-15 kalender lunar di Indonesia bersama seorang remaja SMP bernama Aileen. Sebagai non Tionghoa, kisah Aileen seakan-akan menjadi jendela yang membantuku melihat keluhuran budaya dan kepercayaan Tionghoa lebih dekat. Terlebih, ceritanya banyak berlatar di Klenteng.
Petualangan dimulai ketika Aileen dititipkan orang tuanya di rumah Ama, neneknya, untuk sementara waktu. Keputusan yang tidak menggembirakan bagi Aileen, baginya rumah Ama kurang nyaman dan tidak selaras dengan rencana yang sedang dijalankannya: lomba mencapai 1000 followers dengan Carol dan Wulan. Bisa dibilang, Aileen anak sosmed banget! Representasi paling mendekati dari mayoritas gen alpha 😆 Benar saja, ternyata jaringan di rumah Ama tidak stabil, selain tidak bisa ngonten dia juga kehilangan akses internet. Siapa sangka, situasi ini justru mendatangkan pengalaman baru dan tidak terduga untuk Aileen.
Meski sudah tuwir, aku teramat menyukai plotnya! Sebelum masuk ke bagian fantasy, penulis terlebih dahulu membangun kebersamaan Aileen dengan Ama beserta interaksi mereka dengan orang sekitar yang merefleksikan kehangatan toleransi, sebagaimana arti "berbaur" di balik lontong Cap Go Meh itu sendiri. Hidangan adaptasi yang tetap menjaga kehormatan leluhur.
"Semua senang kok dapat Lontong Cap Go Meh. Gantinya, tiap Lebaran pasti ada saja yang mengirim ketupat dan nastar buat Ama, tiap Natal juga ada yang mengirimkan kue tar."
Meskipun diperuntukkan untuk pembaca middle-grade atau remaja, penulis tidak tanggung dalam mendeskripsikan hidangan dari tradisi Cap Go Meh, mulai dari memilih bahan di pasar, tips memasak, hingga pembagian. Secara tidak langsung jadi belajar memasak, deh! Demikian juga dengan cara penulis ketika menggambarkan kemegahan klenteng dan seisinya, rasa masakan, tokoh-tokoh antropomorfis, ataupun keindahan dunia fantasy yang dimasuki Aileen. Gaya berceritanya begitu ilustratif, sederhana, dan efisien, khas untuk pembaca muda, tp tetap detail. Overall, bagus sekali!
"Orang Asia itu nggak butuh takaran bumbu! Mereka tinggal nambah terus sampai leluhur mereka bilang, Sudah cukup, Nak!"
Aku sering mendengar soal Cap Go Meh tapi nggak ngerti maksudnya apa. Ternyata tahun baru Tionghoa itu adalah perayaan malam purnama pertama (hari kelima belas) di kalender bulan. Sama seperti tradisi di Okinawa berarti. Buku ini menjelaskan cukup detail tentang tradisi Cap Go Meh di kalangan Tionghoa Indonesia lengkap dengan berbagai penjelasan akan simbolisasinya dalam format novel middle-grade yang menyenangkan untuk diikuti.
Plotnya sendiri sangat sederhana dan linear. Bagian build-up memakan porsi sampai enam puluh satu halaman dan jujur aku merasa agak jenuh apalagi tidak ada ilustrasi yang memperlihatkan pernak-pernik Cap Go Meh-nya. Bagian fantasinya baru muncul di bab tujuh dan setelah itu cerita jadi terasa lebih menarik untuk diikuti. Sayang sekali pertemuan Aileen dengan dua singa Ciok Say, Dewi Makcoy sang Penjaga Pintu klenteng dan dua belas hewan shio versi demi-human tak diilustrasikan. Coba format buku ini adalah buku bergambar ala cerita anak, pasti jadinya indah sekali. Lihat saja, ilustrasi kovernya saja sangat indah, kan. Apalagi ilustrasi isinya. Hiks.
Setahuku buku ini adalah produk disertasi Mbak Shienny. Aku sempat mengintip isi artikel jurnalnya. Seharusnya buku ini punya ilustrasi berwarna yang khas Mbak Shienny di setiap babnya. Kedua belas hewan shio pun semuanya ada desain yang cukup mendetail. Entah kenapa Elex kok malah menghilangkan bagian ilustrasi yang seharusnya jadi nilai jual novel ini. Sungguh sayang.
Aku berharap bisa membaca buku-buku cerita lain untuk anak middle-grade yang mengangkat detail budaya Tionghoa-Indonesia seperti ini.
Mungkin nanti review-nya akan kubuat lebih detail lagi. Untuk saat ini sampai di sini dulu.
Cerita yang cocok untuk remaja ke bawah, bukan bacaan untuk adult. Buat yang sudah dewasa baca ini mungkin agak crige dengan tokoh Aileen. Ceritanya sangat-sangat positif dan terlalu berbudi luhur untuk yang sudah dewasa.
Aileen ini berasal dari keluarga yang sangat positif. Keluarganya menengah ke atas, punya keluarga bahagia ala sinetron, dan lingkungan yang sangat positif. Jadi, meski Aileen karakternya agak tengil hidupnya tetap berjalan lurus.
Pas baca sinopsisnya udah mikir ini bakal jadi genre fantasi, tapi kok udah baca berhalaman-halaman gk ada bau-bau fantasinya. Eh, fantasinya baru muncul pas dipertengahan novel. Alurnya sederhana dan cukup simpel. Konfliknya pun sangat ringan.
Penulisan novelnya sangat formal dengan gaya penulisan novel luar negeri. Namun, karena memasukkan banyak informasi tentang budaya Indonesia masih ada cita rasa lokal dalam novel ini. Budaya tiongkok yang masuk ke Indonesia ini lumayan menambah wawasan.
Ini bacaan ringan yang agak membosankan sebenarnya untuk yang sudah dewasa. Mungkin bakal seru untuk yang masih remaja ke bawah.
Aileen anak usia pra remaja dengan kehidupan modernnya tetiba harus kembali ke rumah ama (nenek) nya karena orangtuanya pergi berlibur menggantikan temannya.
Aileen di rumah ama banyak belajar hal baru (termasuk didalamnya belajar memasak masakan yang sudah menjadi tradisi , belajar adat istiadat dan mengapa adat itu tetap harus ada).
Bersama ama, Aileen belajar memasak lontong cap go meh beserta lauk pauk yang menemani sajian lontong cap go meh ini.
Lontong : Melambangkan umur panjang Opor ayam : Melambangkan emas dan keberuntungan Telur rebus : Melambangkan kemakmuran Daging rendang : Warna khas Imlek (Halaman 197)
Dikuil pun Aileen bersama ama juga diajarkan cara sembhayang, doa yang dinaikkan seperti apa dan dewa-dewa apa saja yang ada di dalam kuil itu.
Sebuah kejadian menimpa Aileen sehingga dia melintasi waktu bertemu dengan 12 shio secara nyata (kalau aku yang ngalamin ini, pingsan kali ya...hahahaha), namun di dunia shio ini Aileen juga belajar sesuatu -- Jangan mengambil sesuatu yang bukan menjadi milik kita.
Aku agak kurang puas diakhir ceritanya, mungkin lebih dikembangkan untuk unsur fantasinya (saat Aileen bersama para 12 shio itu - mungkin bisa ke mengapa harus ada ke 12 shio , bagaimana awal mula shio-shio tersebut teebentuk)
Secara keseluruhan buku ini menyajikan sesuatu yang beda dengan buku genre teenlit lainnya -- karena dalam buku ini ada pembahasan budaya, adat istiadat, kebiasaan Cina Indonesia (Cindo / peranakkan) yang mungkin saja generasi milenial sekarang ini tidak aware. Penggunaan bahasanya pun tidak terlalu baku, masih terselip nama panggilan kaum Chindo, bahkan terselip bahasa Jawa yang lebih mengarah ke daerah Jawa Timur (Surabaya lebih tepatnya).
Animasinya didalam buku ini aku suka😍😍, seperti real dan buat kalian yang masih awam dengan istilah yang biasa digunakan Chindo ada Glosariumnya kok di bagian akhir buku.
Buat kalian yang suka dengan tema adat, cerita teenlit ringan...aku rekomendasiin buku ini untuk kalian peluk.
Ini naskah pinangan hasil event kuliner indonesia ya? suka idenya. tentang lontong cap go meh. hidangan khusus pas perayaan festival lentara warga tionghoa. banyak informasi nambah pengetahun. terus ada diselipin low fantasy. terus plotnya asyik dibaca sampai ending. apalagi tipis 140 hal.
Novel ini berawal dari penelitian dalam disertasi doktoral saya, yang membahas budaya Tionghoa-Indonesia, khususnya tradisi lontong Cap Go Meh. Dari riset yang melibatkan sejarah, wawancara, hingga perjalanan ke kelenteng cagar budaya seperti Hok An Kiong di Surabaya, saya jadi menyadari bahwa tradisi bukan hanya soal ritual—di dalamnya ada kisah, dan ada hubungan antar generasi yang tak ternilai.
Kisah Aileen dan Ama lahir dari pemikiran ini. Aileen, seorang anak muda yang tumbuh tanpa merasa terhubung dengan budaya leluhurnya, menemukan makna di balik tradisi yang selama ini ia abaikan. Perjalanannya bukan sekadar petualangan, tapi juga refleksi bagaimana generasi yang hidup di zaman modern—termasuk saya—memahami tradisi yang diwariskan oleh keluarga kita.
Salah satu aspek yang paling berkesan dalam proses penulisan ini adalah eksplorasi Lontong Cap Go Meh, hidangan khas yang menjadi bagian penting dalam perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol dan bukti bagaimana budaya Tionghoa dan Nusantara berbaur menjadi satu.
Dari sisi kreatif, menulis novel ini adalah tantangan tersendiri. Bagaimana menggabungkan hasil riset akademik dengan cerita yang mengalir ringan dan dekat di hati pembaca? Bagaimana menyampaikan pesan tentang budaya tanpa terasa seperti buku teks? Pada akhirnya saya memilih untuk menulis dengan pendekatan yang lebih personal, dengan menuangkan sebagian dari masa kecil saya sendiri sebagai bagian dari keluarga keturunan Tionghoa ke dan mengajak pembaca untuk ikut merasakan pengalaman yang sama dengan Aileen.
Pada akhirnya, Warisan Dua Dunia adalah surat cinta untuk tradisi, keluarga, dan kenangan. Sebuah pengingat bahwa terkadang, untuk memahami siapa kita, kita perlu menengok kembali ke akar kita. Semoga kisah ini bisa menghangatkan hati, mengajak kita lebih menghargai warisan yang kita miliki, dan—mungkin—membuat kita ingin mencicipi seporsi Lontong Cap Go Meh sambil membaca. 😊✨ (Highly recommended! Go find your local LCGM dealer now)
Cute dan penuh moral value. Bocil rese harus baca buku ini wkwk (ʃƪ^3^)
Aileen, bocah jaman now banget atau sebut aja iPad Kids gen. Jenis adek adek yang ga bisa lepas dari gadget. Dikit dikit bikin konten, dikit dikit tiktokan. Ya, begitulah Aileen.
Ketika kedua orang tuanya pergi berlibur, Aileen dititipkan ke rumah Ama yang sialnya susah sinyal. Di rumah Ama Aileen membantu persiapan Cap Go Meh mulai dari belanja ke pasar, masak, sampai membantu di Klenteng.
Middle grade book yang cocok buat dibaca anak anak usia SD-SMP, apalagi settingnya yang jaman sekarang banget bikin tokoh Aileen ini akan relatable sama mereka. Jadi mungkin akan lebih mudah untuk diikuti.
Kalo buat yang udah *uhukk* tua *uhukk* agak cringe dan nyebelin. Kek weew ini bocah dibilang nakal ya nakal, tapi baik ya baik, tapi ngeselin juga. Senormal nya bocah bocah pada umumnya.
Meski tipis, aku merasa bagian awal rasanya memakan waktu yang lama. Apalagi aku nungguin mana nih fantasy nya????? Yang ternyata ada setelah setengah perjalanan.
Dan ternyata, aku baru ngeh kalau versi cetak itu ada ilustrasinya, sementara versi ebook dari eperpus enggak ada. Agak menyayangkan, karena aku awalnya berharap ada ilustrasi, ternyata enggak ada. Tapi waktu lihat yang lain versi cetak, ternyata ada ಠ︵ಠ
Tapi, disamping itu temanya keren. Menceritakan tradisi dengan cara menyenangkan. Ga cuma buat aksesoris aja, tradisi yang ada dijelaskan cukup detail sampai ke makna nya juga. Dan juga, bahasanya enak, termasuk mudah dipahami bahkan oleh aku yang jarang bersinggungan dengan Chinese culture di lingkunganku. Well written dan aku suka .
Meski cukup predictable, tapi ga bikin bosen dan ini enteng banget buat dibaca.