"...Saya menghayalkan bertemu dengan cerpen-cerpen yang menciptakan rangkaian metafor segar diantara cerpen-cerpen pilihan Kompas. Dan saya bertemu dengan 'Ziarah Arwah-arwah Bayi' Indra Tranggono dan 'Umairah' Yanusa Nugroho. Kedua cerpen Tersebut menghadirkan sosok-sosok yang seolah hidup disebuah dunia yang sebagian besar terdiri dari malam hari." ( Hasif Amini )
"Dalam meneteskan diri menjadi secuil kehidupan, sebelas dari enam belas cerpen yang dipilih untuk dimuat dalam kumpulan ini, sadar atau tidak, sedikit banyak berbicara tentang elemen kekerasan....Dalam empat dari sebelas cerpen yang memuat elemen kekerasan sebagai 'entropi' sosial itu kekerasan dialami oleh seorang perempuan, atau setidaknya melintas dalam pengalaman hidup seorang perempuan..."
Daftar Cerpen: 01. Budi Darma – Mata Yang Indah 02. Jujur Prananto – Jakarta Sunyi Sekali Di Malam Hari 03. Yanusa Nugroho – Umairah 04. Martin Aleida – Elegi Untuk Anwar Saeedy 05. Ratna Indraswari Ibrahim – Bunga Kopi 06. Sori Siregar – Krueng Semantoh 07. K Usman – Ikan Di Dalam Batu 08. Veven Sp Wardhana – Deja Vu: Kathmandu 09. Gus tf Sakai – Upit 10. Cok Sawitri – Rahim 11. AA Navis – Inyik Lanak Si Tukang Canang 12. Indra Tranggono – Ziarah Arwah-Arwah Bayi 13. Herlino Soleman – Tabir Kelam 14. Wilson Nadeak – Burung Senja 15. Harris Effendi Thahar – Seperti Koin Seratus 16. Umar Kayam – Lebaran Di Karet, Di Karet…
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.
Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.
Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).
Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).
Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu. Cerpennya, "Laki-laki Pemanggul Goni," merupakan cerpen terbaik Kompas 2012.
Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”
Saya pertama kali menemukan buku ini ketika sedang melihat-lihat aplikasi iPusnas. Wah, ada buku kumpulan cerpen pilihan Kompas dari tahun 2001. Kebetulan sekali tahun itu adalah tahun kelahiran saya, dan saya juga menemukan buku ini tepat di hari ulang tahun saya yang ke-20. Karena saya memang suka membaca cerpen mingguan Kompas saat masih berlangganan koran beberapa tahun silam, akhirnya saya memutuskan untuk membacanya.
Buku Mata yang Indah: Cerpen Pilihan KOMPAS 2001 ini terdiri dari enam belas cerpen terpilih dari berbagai penulis. Topik, tema, dan latar yang diangkat dalam setiap cerpen pun berbeda-beda, ada yang mengangkat kejadian sejarah, perjuangan kemerdekaan, kehidupan dan pikiran seorang pelacur, kehidupan pria tua yang ditinggal istri dan anak-anaknya, maupun kisah seorang pria yang mencari keadilan. Beberapa cerpen pada buku ini meninggalkan kesan yang kuat bagi saya, terutama cerpen berjudul Upit karya Gus tf Sakai. Buku ini dibuka oleh esai sekaligus review dari Hasif Amini yang berjudul Cerita Pendek di Dunia Eksentrik dan ditutup oleh esai sekaligus review dari Alois A. Nugroho yang berjudul Secuil Kehidupan, Setetes Pengalaman. Saya men-skip esai dari Hasif Amini supaya saya bisa membaca cerpen-cerpen dalam buku ini dengan pikiran yang fresh, belum terpengaruh review dan spoiler dari Hasif Amini.
Walau cerpen-cerpen dalam buku ini berkesan bagi saya, saya memutuskan untuk memberi bintang 4 karena topik-topik dalam cerita ini kurang begitu beragam dan saya rasa kurang relatable untuk saya yang masih seorang anak muda ini, apalagi cerpen-cerpen ini ditulis pada tahun 2000 (tetapi dikumpulkan pada tahun 2001 sehingga buku ini diberi judul Cerpen Pilihan KOMPAS 2001), di mana terdapat banyak sekali perbedaan antara zaman itu dengan zaman sekarang. Hal yang paling noticeable ialah absennya teknologi modern seperti telepon genggam/ponsel/smartphone dalam cerpen-cerpennya. Selain itu, di buku ini, banyak cerpen yang mengisahkan seorang pria tua—yang sama sekali bukan saya banget, saya jauh sekali dari deskripsi itu—sehingga membuat saya sedikit kebingungan ketika saya mencoba memosisikan diri sebagai si tokoh utama.
Walau begitu, terlepas dari relatable atau tidaknya, saya tetap merasa cerpen-cerpen dalam buku ini dituliskan dalam bahasa yang indah. Kosakata yang digunakan memang ada beberapa yang tidak umum, tetapi itu justru menambah wawasan kosakata saya. Diksi-diksi yang digunakan juga terasa pas. Tak heranlah jika cerpen-cerpen di sini merupakan cerpen pilihan. Beragamnya gaya bahasa khas dari tiap penulis cerpen juga menambah warna dalam perjalanan membaca buku ini.
Berikut merupakan enam belas cerpen yang ada dalam buku ini: [MENGANDUNG SPOILER!!!] 1) Mata yang Indah, karya Budi Darma. Cerpen ini dipilih sebagai cerpen terbaik di antara lima belas cerpen lainnya berdasarkan putusan dari tiga juri (dari total lima juri) sehingga judul cerpen ini mendapat kehormatan untuk ditaruh pada cover buku kumpulan cerpen ini. Mata yang Indah bercerita tentang seorang pria bernama Haruman yang mengembara jauh dari ibunya untuk mencari pengalaman. Suatu hari, Haruman mengalami kejadian aneh, yaitu diperkosa oleh seorang wanita yang merupakan istri Gues, pendayung perahu tambang yang kerjanya digantikan oleh Haruman karena kemampuan pengelihatan Gues kian menghilang. Kejadian ini membawa Haruman pulang kembali ke ibunya, di mana di sana ia menyaksikan ibunya membeberkan suatu rahasia padanya sebelum ibunya meregang nyawa. Sejujurnya, saya kurang bisa mengerti mengapa cerpen ini bisa dipilih menjadi yang terbaik. Mungkin daya pemahaman saya kurang bisa memahami pesan tersembunyi dari cerpen ini.
2) Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari, karya Jujur Prananto. Cerpen ini mengisahkan perjalanan Mudakir, seorang pria tua dari Magelang yang mengunjungi putri bungsunya, Wanti, yang tinggal di Jakarta, tepatnya di Tanah Abang. Kunjungan Mudakir yang tiba-tiba itu ternyata hanya memberi kerugian pada Mudakir karena uangnya habis diperas seorang pelacur tua yang menawarkan tempat menginap dan juga memberi kekecewaan karena ternyata rumah Wanti kosong, padahal uang Mudakir sudah habis tak bersisa; dan hal ini disebabkan kesalahpahaman antara Wanti dan ayahnya sehingga Wanti menolak untuk berkabar kepada Mudakir selama dua tahun. Wanti sudah pindah rumah dari Tanah Abang.
3) Umairah, karya Yanusa Nugroho. Umairah adalah seorang pelacur yang tinggal bersama anak perempuannya yang masih kecil yang bernama Umi. Pada saat ia masih kecil, Umairah sering diceritakan kisah ketulusan cinta Nabi Muhammad kepada Aisyah oleh neneknya dan kisah itu terus terngiang-ngiang sampai ia dewasa. Umairah tidak pernah menemukan sosok lelaki seromantis Nabi Muhammad sampai akhir hidupnya, sebelum ia melihat sesosok pria muda yang membelai wajahnya dan mengucapkan kalimat lembut yang selama ini begitu Umairah dambakan tepat sebelum Umairah meninggalkan dunia.
4) Elegi untuk Anwar Saeedy, karya Martin Aleida. Wah, cerpen ini sangat tragis sih menurut saya. Anwar Saeedy adalah seorang mantan pejuang kemerdekaan yang sekarang hidup terseok-seok. Negara tidak mengakuinya sebagai pejuang kemerdekaan padahal Anwar Saeedy sudah memiliki bukti berupa kliping artikel-artikel dari koran yang meliput dirinya saat sedang melakukan pemogokan buruh di pelabuhan New York sebagai bentuk protesnya terhadap Kerajaan Belanda. Anwar Saeedy kemudian mencoba berjualan ramuan penyembuh patah tulang dan terkilir ala Aceh, kota asalnya, di Pasar Jatinegara, tetapi ramuannya itu tidak laku dan malah dibawa oleh Satpol PP. [SPOILER ALERT BANGET] Anwar Saeedy yang sudah sangat kecewa dan sedih itu akhirnya gantung diri. Wow. Sadis banget emang negara ini..... cerpen ini juga menyadarkan pembaca akan kerasnya hidup.
5) Bunga Kopi, karya Ratna Indraswari Ibrahim. Cerpen ini nggak terlalu ngena buat saya, pokoknya cerpen ini mengisahkan Jeng Lena, cucu pemilik kebun kopi, dan Parno, salah satu pegawai di kebun kopi tersebut. Parno terjebak dilema antara rasa cinta dan setianya kepada Jeng Lena dengan keinginannya untuk ikut protes buruh akibat upah yang dibayarkan terlalu rendah.
6) Krueng Semantoh, karya Sori Siregar. Cerpen ini berkisah tentang Parlagutan, seorang mantan tentara yang berganti profesi menjadi kepala satpam di perkebunan sawit keluarganya. Sejak ia pindah ke kampung halamannya, sahabatnya, Sahat, menjadi sering mengunjunginya dan di menjadi seringlah mereka bertukar cerita sampai akhirnya Parlagutan membeberkan alasan pemecatan aslinya: karena ia mengepalai pembantaian sebuah kampung akibat tertembaknya anak buah kesayangannya sampai isi seluruh kampung itu habis tak bersisa.
7) Ikan di Dalam Batu, karya K. Usman. Cerpen ini merupakan salah satu cerpen yang saya sukai dalam buku kumpulan cerpen ini. Pesan yang dikandungnya begitu mulia dan sedihnya keadaan pada cerpen ini masih relatable dengan keadaan sekarang, yaitu korupsi merajalela di mana-mana. Kamil, tokoh utama cerpen ini, bermimpi tentang sebuah ikan di dalam batu yang diletakkan di atas meja kerjanya. Kamil terus memikirkan apa kira-kira arti mimpinya itu, tetapi ia tak bisa menemukan jawabannya. Kamil tetap pergi kerja seperti biasa pada pagi harinya, tetapi ia menemukan fakta bahwa salah satu supir perusahaannya baru dipecat. Pimpinan perusahaannya yang baru, Pak Mayor, senang memecat pegawai yang tidak sejalan dengannya. Kamil protes kepada Pak Mayor akan pemecatan tersebut, tetapi Kamil malah dituduh radikal (pendukung komunis), padahal Kamil hanya ingin membela karyawan-karyawan yang telah di-PHK yang menurutnya tidak pantas untuk dipecat. Kamil juga mendengar dari temannya bahwa Pak Mayor suka membeli barang dengan harga yang lebih rendah dengan yang tertera pada kuitansi yang akan dijadikan bukti reimburse perusahaan. Kamil, selaku kepala bagian rumah tangga di perusahaannya, selalu mengumpulkan dokumen-dokumen pembelian dan penjualan. Sejak datangnya TNI untuk memimpin perusahaan tersebut, Kamil makin rajin mengumpulkan dokumen-dokumen serta bukti-bukti pengeluaran yang makin tidak masuk akal. Akhirnya, Kamil menceritakan hal tersebut kepada temannya yang bekerja di harian The Humanity dan memintanya untuk membantu mempublikasikan kasus korupsi di perusahaannya. Para pimpinannya tidak terima, menganggap Kamil membocorkan aib perusahaan, dan akhirnya Kamil dijebloskan ke tahanan militer tepat saat istrinya membutuhkan Kamil untuk menemaninya melahirkan anak mereka akibat keinginan Kamil untuk membela keadilan dan kebenaran. Sama seperti Kamil, sampai akhir juga saya tidak mengerti apa maksud mimpi ikan di dalam batu tersebut. Apakah itu menggambarkan keadaan Kamil sebagai orang kecil yang terperangkap dalam jebakan orang-orang yang penuh kuasa? Saya tidak tahu pastinya. Yang pasti saya suka dengan perjuangan Kamil dalam membela yang benar, walaupun akhirnya mesti berakhir tragis.
8) Deja Vu: Kathmandu, karya Veven Sp Wardhana. Cerpen ini mengisahkan pertemuan Xiao Qing dan Xu Xian pada sebuah hotel di Kathmandu, Nepal, yang memberi keduanya perasaan bahwa mereka pernah bertemu di suatu tempat yang tidak mereka ingat. Cerpen ini ditulis dalam sudut pandang yang berbeda-beda, menjadikan cerita ini sebagai salah satu yang paling unik di dalam buku ini. Andai saja cerpen ini dibuat menjadi cerita yang lebih panjang lagi, saya akan tertarik membacanya. Konsepnya sudah bagus sekali.
9) Upit, karya Gus tf Sakai. Nah, ini dia cerpen favorit saya di buku ini, simply karena plot twist-nya yang menarik dan cukup relatable dengan keadaan di masyarakat saat ini, terutama di kalangan LGBTQ+ community di Indonesia. Bahasa yang digunakan juga pas, tidak terdengar seperti cerita yang ditulis amatiran dan tidak menggunakan bahasa-bahasa sulit yang berlebihan. Saya sudah me-review cerpen ini di twitter saya, berikut link menuju post-nya: https://twitter.com/apocalyptyic/stat... Namun tentu saja akan saya review kembali di sini dengan lebih singkat. Cerpen ini memberi potret kehidupan rumah tangga seorang closeted gay (saya menggunakan istilah ini untuk menyebut pria gay yang masih belum melela/belum come out) dengan istrinya yang tidak tahu menahu tentang rahasia suaminya sebelum mereka tinggal serumah. Upit adalah istri dari pria gay tersebut. Bagaimana perjalanan Upit dalam menjalani rumah tangganya? Anda bisa langsung membaca cerpen ini atau silakan berkunjung ke post saya, sudah saya rangkum di sana. Saya menyukai cerpen ini karena saya merasa bisa cukup mengerti dengan pilihan Si Abang, suami Upit, untuk menjalani kehidupan rumah tangga seperti itu. Tentu saja hal tersebut salah—menikahi seseorang semata-mata hanya untuk menyembunyikan identitas asli diri sendiri—tetapi saya mengerti mengapa hal semacam ini banyak dilakukan. Andai saja negara ini bisa lebih ramah terhadap komunitas LGBTQ+, hal-hal seperti ini tidak akan terjadi—teman-teman LGBTQ+ bisa menjalani hidup seperti biasa, sebagai diri sendiri, dengan pasangan yang benar-benar dicintai, tanpa harus takut dipersekusi dan dianggap menjijikan oleh masyarakat. Sayangnya, keadaan ideal seperti itu mungkin baru bisa terjadi bertahun-tahun kemudian—buktinya saja 21 tahun semenjak cerpen ini ditulis, keadaan terkait hal ini masih belum banyak berubah. Walaupun saya rasa orang-orang sekarang sudah jauh lebih berani untuk come out, tetap saja pihak pembenci LGBTQ+ community masih tersebar di mana-mana, mengakibatkan kami belum bisa hidup dengan tenang. Dengan adanya cerpen ini, saya harap di tahun-tahun yang akan datang kejadian-kejadian semacam yang dituliskan dalam cerpen ini bisa jauh berkurang, sehingga akan lebih sedikit teman-teman LGBTQ+ yang menjalani hidup seperti si Abang dan lebih sedikit perempuan-perempuan seperti si Upit yang tidak mendapat nafkah secara batin karena suaminya diam-diam gay.
10) Rahim, karya Cok Sawitri. Cerpen ini menceritakan Nagari, seorang perempuan yang pernah menjalani operasi pengangkatan rahim akibat adanya tumor yang dituduh membuang rahimnya sebagai bentuk gerakan politik baru. Cerpen ini menunjukkan betapa anehnya logika lelaki dan betapa mahirnya mereka mengaitkan hal-hal yang aneh untuk dikaitkan. Lagi-lagi, perempuan yang jadi korban.
11) Inyik Lunak si Tukang Canang, karya A.A. Navis. Cerpen ini mengisahkan Otang selaku warga sipil yang kampungnya diduduki APRI. Otang marah karena seorang komandan APRI memperkosa istrinya pada saat Otang sedang ronda malam dan tidak ada yang menghalangi komandan tersebut dalam melakukan hal bejat tersebut, termasuk mertua Otang (menurut saya perbuatan Otang sangatlah tidak tepat karena ya namanya juga pemerkosaan, korban memang gak bisa berbuat apa-apa dong??? Namanya juga dipaksa. Mertuanya juga mungkin segan melawan komandan tersebut, takut celaka). Akhirnya Otang pindah ke Jakarta dengan cara ikut bersama temannya yang bupati dan tinggal di sana sampai tua, menjalani kehidupan baru dengan cara jadi "tukang cerita" yang datang dari rumah orang ke rumah orang (penceramah, kali ya).
12) Ziarah Arwah-arwah Bayi, karya Indra Tranggono. Cerpen ini menceritakan cintanya terhadap malam hari, di mana ia bisa mengunjungi arwah bayi-bayi yang sudah ia aborsi akibat pekerjaannya sebagai pelacur. Perempuan tersebut sempat merasakan malam-malam yang indah, di mana ia bisa terus mengunjungi arwah bayi-bayinya saat ia tinggal di villa sebagai perempuan simpanan seseorang yang membebaskannya dari belenggu kehidupan pelacur—sebelum akhirnya tiba-tiba dijebloskan kembali ke kehidupan lamanya sebagai pelacur dengan cara dibawa paksa oleh lelaki-lelaki asing, di mana akhirnya ia tidak dapat lagi menziarahi bayi-bayinya karena malam penuh ketenangan yang sempat ia rasakan sudah direnggut kembali.
13) Tabir Kelam, karya Herlino Soleman. Sama seperti Deja Vu: Kathmandu, cerpen ini berlatar di Asia Timur, tepatnya di Jepang. Nakamura, tokoh utama dalam cerpen ini, adalah satu-satunya orang yang mengetahui alasan geisha Hirada bunuh diri, dan tetap berniat untuk menjadikan alasan kematiannya yang sebenarnya sebagai misteri abadi.
14) Burung Senja, karya Wilson Nadeak. Isinya tentang seorang pria tua yang merasa kesepian sesudah ditinggalkan istrinya yang meninggal akibat kanker usus. Pria tua itu kemudian diajak untuk tinggal bersama anak dan cucunya, tetapi tetap saja pria itu merasakan kesepian dan sadarlah ia bahwa apa yang ia butuhkan adalah tinggal di rumahnya sendiri, yang dulunya pernah ditinggali ia dan istrinya.
15) Seperti Koin Seratus, karya Harris Effendi Thahar. Cerpen ini bercerita tentang seorang anak yang ditinggali warisan oleh ayahnya berupa koin-koin seratus perak sebanyak satu peti yang harus dibagikan sama rata sesuai jumlah anak-anak ayahnya. Sayangnya, saudaranya yang lain banyak yang menganggap sepele warisan tersebut karena seratus perak pada zaman itu sudah tidak begitu laku, harganya dianggap sedikit.
16) Lebaran di Karet, di Karet..., karya Umar Kayam. Cerpen ini lagi-lagi berkisah tentang pria tua bernama Is yang sudah ditinggal mati istrinya (sudah 4 cerpen dalam buku ini yang mengisahkan pria tua yang ditinggal mati istrinya, apakah ini semacam topik yang ngetren di antara para cerpenis-cerpenis tua masa itu?). Is kesepian karena ketiga anaknya sudah tinggal di luar negeri dan tidak ada yang bisa menemaninya saat lebaran. Akhirnya Is menghabiskan lebaran tahun itu di pekuburan Karet, pemakaman yang didamba-dambakan istrinya yang ternyata akhirnya malah dimakamkan di Jeruk Purut entah karena apa alasannya.
Buku ini adalah kumcer kompas pertama yang saya baca. Mungkin juga saya mengambil tahun yang agak jadul, tahun 2001. Tapi yaa dapet buku pinjemannya di tahun itu, jadi mau bagaimana lagi? *alasan yang apa banget :P
Tapi tak masalah. Toh saya mendapat cukup banyak pelajaran dari cerpen2 yang tersaji di buku ini. Meski sudah diperingatkan di awal oleh si peminjam buku bahwa bahasan2 juga diksi yang dipakai agak berat *untuk ukuran saya yang dudul dalam hal sastra tepatnya --"* tapi akhirnya saya bisa melahap semuanya juga. Tepatnya lagi, memaksakan agar buku ini segera dituntaskann. Dan menyicil dalam membacanya agaknya memang satu tips jitu agar buku ini cepat selesai dibaca.
Dari total 16 cerpen yang termuat dalam buku ini, saya menjagokan "Deja Vu: Kathmandu" karya Veven Wardhana. Bercerita tentang pertemuan dua insan yang rasanya saling kenal, entah di mana. Seperti deja vu saja. Tapi akhirnya meski kedekatan yang begitu mudah terjalin, semua harus diputuskan. Perpisahan yang indah untuk pertemuan yang hanya sejenak. Ditulis dengan pergantian PoV yang teratur serta ending yang menghentak, seperti juga cerpen2 lain -dan memang begitulah seharusnya sebuah cerpen diakhiri- melengkapi keseluruhan cerpen yang menarik.
Ah, komentar saya ini tentu amat jauh dibanding komentar dua penulis tamu, Hasif Amini dan Alois A Nugroho. Catatan keduanya sesungguhnya amat membantu saya dalam menginterpretasikan setiap cerpen yang ada di dalam buku ini. Hasif Amini yang menjadi pembuka setiap cerpen dengan tulisannya yang berjudul "cerita Pendek di Dunia Eksentrik" bukan hanya mengkritisi satu demi satu cerpen di sana tapi juga memberi tips-tips dalam membuat cerpen yang baik.
Jika seubah cerpen tidak sekadar bercerita, namun berminat (entah diam-diam atau terang-terangan) menawarkan keelokan da kecanggihan pikiran serta bahasa, tentu ia menjanjikan pengalaman membaca yang berbeda, yang bisa asyik dan mengejutkan. Sebab, dalam cerpen demikian kita tak hanya bertemu dengancerita, melainkan dengan peragaan sebuah (atau sejumlah) kemungkinan naratif yang bisa terbangun dari pelbagai anasir verbal. Memang tak selalu mudah dinikmati sebagai hiburan, cerita jenis itu; tindakan membaca tak jarang menjad semacam pergelutan keras, petualangan aneh, meski kadang juga permainan gila-gilaan atau percumbuan yang ajaib. Seakan kata demi kata, bersama sunyi demi sunyi, bekerja (atau bermain) membuka sudut-sudut baru dunia, barangkali menangkap sisa-sisa gema dari seberkas puisi yang jauh dan tua itu, "Jadilah, maka jadilah!" --bukan sebagai titah, melainkan sandi, yang bisa saja tertangkap secara keliru (sambil siap dengan kejutan-kejutan), seperti "Yang terjadi, terjadilah!" -hal. xxiv
Jika di awal Hasif Amini sudah memberikan gambaran awal tentang masing2 cerpen, itu sebenarnya tak terlalu membantu karena judul2 yang dibahasnya terlalu asing. Tapi Alois A Nugroho melengkapiya. Menjadi penutup cerpen2 tersebut dengan tulisannya yang berjudul "Secuil Kehidupan, Setetes Pengalaman" seolah memberikan penekanan pada pembaca tentang maksud dari cerpen tersebut dibuat.
Btw, buku ini bagus, tapi saya tak terlalu suka dengan kaver bukunya. LIhatlah, simbol mata satu itu, tau kan maksudnya apa? ^^
Sebenernya kumpulan cerpennya unik2 dan kerasa sentuhan2 kehidupan dan sosialnya, tapi menurutku ada banyak cerita yg lebih hanya menggambarkan suatu fenomena tertentu tanpa adanya klimaks, solusi, dan ending yg pasti (entah happy/sad ending). Kata2 yg dipakai dalam cerpen2 disini bagus banget. Kata2 dan bahasanya berasa artistik dengan penggunaan kiasan/metafora untuk menggambarkan fenomena yg familiar
Zaman ketika dulu rutin beli Kompas Minggu, cerpen adalah salah satu rubrik yang bikin saya penasaran. "Cerpen siapa lagi yang dimuat di minggu ini? siapa penulisnya?" Walaupun jujur nggak semua cerpen dapat saya nikmati juga, ya. Ada kalanya diceritakan terlalu rumit sehingga susah dimengerti (well, keterbatasan kemampuan saya juga dalam menyerapnya).
Walau begitu, jika "nemu" obralan kumcer Kompas, saya tidak dapat menahan diri untuk nggak membeli. Bayangkan saya, nulis cerpen itu susah. Nembus kompas itu susah banget. Dan, jika dalam satu tahun ada 48 minggu yang memuat 48 cerpen, dalam satu kumcer pilihan jumlahnya kurang dari setengahnya. Jelas, cerpen yang terpilih untuk dibukukan adalah cerpen-cerpen yang terbaik.
Bagian paling menyenangkan dari sebuah buku adalah jika tersedia bagian pengantar yang memuat proses kreatif dalam pembuatan bukunya. Seperti buku Mata yang Indah ini, di mana panitia pemilihan memuat kisah di balik layar bagaimana proses penyaringan dan pemilihan cerpen-cerpen yang ada sehingga mereka dapat memilih belasan dari 48 cerpen yang terbit di sepanjang tahun 2000.
Jadi, sederhananya ada dewan pemilihan yang menyaring. "Dari 16 cerpen yang terpilih, 10 di antaranya langsung masuk dalam daftar calon yang akan dibukukan karena didukung minimal oleh empat juri alias lebih dari separuh dari jumlah anggota tim juri.....
Namun, perlu diketahui, cerpen yang pada pemilihan awal mendapatkan suara paling banyak tiadk dengan sendirinya ditetapkan sebagai cerpen terbaik, sebab untuk pemilihan cerpen terbaik harus melewati tahap pengusulan kembali oleh masing-masing juri." Hal. x dan xi.
Lantas, dari judulnya sudah ketahuan ya jika cerpen Mata yang Indah yang ditulis oleh Budi Darma-lah yang kemudian dipilih sebagai cerpen terbaik. Sedangkan cerpen yang mendapatkan angka sempurna adalah Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari karya Jujur Prananto, cerpenis yang saya lebih dulu kenal karena skenario beberapa filmnya yang laku keras seperti Petualangan Sherina (1999) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2001).
Ya, saya pribadi memang lebih suka cerita sederhana yang terasa dekat dengan kehidupan yang dijalani manusia pada umumnya. Di cerpen Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari, Jujur bercerita tentang seorang bapak yang rindu dengan anaknya sehingga memutuskan untuk datang diam-diam ke Jakarta, namun ternyata kehidupan Jakarta yang keras langsung menempanya di sekian jam pertama begitu ia tiba.
Cerpen Mata yang Indah saya suka juga, namun ceritanya yang sedikit absurd jelas sulit ditemui di kehidupan nyata. Cerpen lain yang saya suka adalah Deja Vu: Kathmandu yang bercerita tentang pertemuan laki-laki dan perempuan di Kathmandu, Nepal. Sederhana, dan endingnya dapat tertebak. Termasuk cerita yang sederhana juga, walaupun saya mikir lagi, ketika dibaca 20 tahun lalu, pasti beda taste-nya karena menyoroti sebuah tragedi besar yang baru terjadi tak lama sebelum cerita ini ditulis.
Intinya ya, saya banyak belajar dari kisah-kisah yang ada di cerpen ini. Walaupun pada akhirnya penilaian akhir kembali kepada selera, ya.
Membaca kumcer Kompas seakan membawa saya flashback ketika masih tinggal di Surabaya. Di mana Bapak saya selalu langganan koran seperti Jawa Pos dan Kompas. Hari minggu adalah edisi favorit saya dan selalu ditunggu karena memuat cerita pendek yang selalu bagus dan menarik. Terlebih membaca kumcer itu seperti menyuntikan doping ke dalam otak saya untuk membunuh rasa malas membaca yang akhir-akhir ini menyerang. Mata yang Indah adalah kumpulan cerpen pilihan Kompas yang terbit pada tahun 2001. Topik-topiknya tidak jauh dari kritik sosial, sejarah, dan tentunya permasalahan sehari-hari. Sayang hampir semua cerpen di buku ini bernuansa kelam. Tapi itulah ciri khas cerpen Kompas. Jika pinjam istilahnya gen Z itu nyastra banget! Kumcer ini diisi oleh penulis-penulis top pada masanya hingga kini seperti Budi Darma, A.A. Navis, Cok Sawitri, Umar Kayam, dll. Maka saya rekomendasikan kumcer ini untuk menemani waktu membaca teman-teman yang singkat namun padat. Oh iya hampir lupa menyebutkan cerpen favorit saya yaitu: 1. Umairah 2. Elegi untuk Anwar Saeedy 3. Krueng Semantoh 4. Deja Vu: Kathmandu 5. Ziarah Arwah-arwah bayi 6. Lebaran di Karet, di Karet…
📚 Mata yang Indah (Cerpen Pilihan Kompas 2001) ✍️ Budi Darma dll ⭐️ 8.5/10
Mohon maaf, tapi dipilihnya Mata yang Indah dari Budhi Darma sebagai judul buku ini adalah kekeliruan. Saya rasa masih banyak cerpen2 yang lebih bagus di buku ini~~terlebih Dejavu : Kathmandu....
Dejavu : Kathmandu karya Veven Sp. Wardhana sangat potensial sekali untuk diangkat layar lebar. Permainan suduut pandang.
Elegi untuk Anwar Saeedy dan Krueng Semantoh juga sangat apik menceritakan perjalanan hidup traumatis masa lalu (dan masa kini) seorang "pejuang"....
Ikan dalam Batu juga sangat kritis menciptakan suasana kelam dari adanya Dwifungsi ABRI di Lembaga Sipil.
Rahim, Umairah, Upit hingga Ziarah Arwah-Arwah Bayi cukup lugas mengisahkan wanita di tengah kuasa patriarkis.
Burung Senja, Seperti Koin Seratus, Lebaran di Karet... di Karet hingga Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari sangat getir mengisahkan penderitaan dan kesepian para orang tua di akhir masa hidupnya atas perlakuan anak-anaknya..
Kumpulan cerpen kompas dari tahun 90-an sampai 20-an bagus bagus sekali karena cerpen-cerpen yang masuk lumayan bervariasi. Cerpen favorit: Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari, Upit, Deja Vu: Kathmandu, Tabir Kelam. Itu cerpen-cerpen yang masih meninggalkan jejak di pikiranku lama setelah menamatkannya. Cerpen-cerpen lain yang enggak kufavoritkan juga keren-keren.
Inget banget pertama kali beli dan baca ini saya masih SMP, dan kayaknya semua cerita di dalamnya agak berat untuk anak seusia saya waktu itu. Dan memang benar kok hahahha, butuh beberapa kali untuk memahami makna di balik setiap ceritanya.
But this book is one of my all-time favorite books.
Buku ini adalah kumcer Kompas pertama yang saya baca. Alasannya kekanak-kanakkan, saya ambil buku ini di rak Gramedia ketika melihat tahun lahir saya terpampang di sampul. Sejak kecil, karena saya lebih akrab dengan cerpen daripada dengan puisi, saya selalu mengagumi para cerpenis sebagaimana para gadis mengagumi idolanya.
Nama-nama yang sudah tak lagi asing, perlahan mulai membawa saya untuk bernostalgia di mana saya sibuk membaca cerpen di koran edisi Minggu pagi. Hangat, syahdu. Seperti itu pula Mata yang Indah. 'Ziarah Arwah-Arwah Bayi' adalah favorit saya sejauh ini. Meski selesai dalam sekali duduk, nggak mungkin kalau suatu saat nanti saya nggak baca ulang kumcer ini.
Kata banyak kritikus, cerpen2 terbaik di Indonesia hampir selalu diterbitkan oleh harian Kompas, makanya saya penasaran. Ternyata tidak berlebihan. Mata yang paling indah adalah kumpulan cerpen karya cerpenis bahkan sastrawan senior Indonesia dari jaman AA Navis yang terkenal dengan Robohnya Surau Kami, sampai Umar Kayam. Penuh dengan tema-tema sosial yang hampir semuanya memuat cerita getir kehidupan rakyat bawah.