What do you think?
Rate this book


188 pages, Paperback
First published January 1, 1921
Kalau kita dalam kekayaan, banyaklah kaum dan sahabat; bila kita jatuh miskin, seorang pun tak ada lagi yang rapat, sedang kaum yang karib itu menjauhkan dirinya.
Umpamanya seorang perempuan tiada akan menolak suaminya, yang meminta ampun akan kesalah-annya, meskipun bagaimana sekali besarnya dosa laki-laki itu kepada istrinya. Penanggungan perempuan yang sakit, aniaya suaminya yang bengis, dilupakannya, bila ia melihat suaminya meminta ampun di hadapannya.
Akan tetapi, tiada jarang kejadian seorang laki-laki memandang istri yang bersalah kepadanya sebagai musuh besar, meskipun perempuan itu berlutut dan membasahi kaki suaminya dengan air matanya akan meminta ampun atas kesalahan yang diperbuatnya dalam pikiran yang sesat itu.
Tetapi sebagai keinginan Ibu, Ibu berusaha akan memperbaiki keadaan kita, tapi sampai kini suatu pun tak ada yang kuperoleh. Itulah sebabnya, maka Ibu ingin mempersuamikan anakku, karena si (sensor) itu tiada berorang tua lagi, hanyalah saudaranya yang ada. Jika anakku pandai mengambil hatinya, sampai ia sayang akan anakku, tentu ia memandang Bunda sebagai ibunya sendiri, dan adikmu itu pun diperbuatnya sebagai saudara kandungnya pula. Kalau demikian dapatlah kita kelak diam bersama-sama, karena gajinya pun besar, kata orang. Bukankah lebih baik kita meninggalkan luhak Sipirok ini, sawah setelempap atau lembu sebulu kepunyaan kita tak ada di sini. Itulah harapan Bunda. Dengan sepandai-pandaimulah membawakan dirimu kepada si (sensor). Dan anakku ingatlah perkawinan ini sajalah yang dapat menyudahkan sengsara kita yang bertimbun-timbun ini.
Tapi menurut sebaiknya haruslah kita pikir lebih panjang, adakah perkawinan itu akan membawa kesenangan dan keuntungan bagi laki-laki dan perempuan kedua belah pihak.
... demikianlah rupanya manusia itu di dunia ini. Kalau kita dalam kekayaan, banyaklah kaum dan sahabat; bila kita jatuh miskin, seorang pun tak ada lagi yang rapat, sedang kaum yang karib itu menjauhkan dirinya
... karena seharusnyalah raja itu memikirkan kesentosaan rakyatnya, bukanlah raja itu memuaskan hawa nafsunya saja dan orang banyak menanggungkan kemelaratannya
Tertawa dan beriang hatilah kamu, hai anak-anak yang berbahagia! Waktu masih anak-anak itulah hidupmu yang sesenang-senangnya, pada hari tuamu kegirangan itu amat jarang, karena makin banyak penanggungan!
Maklumlah, siapa yang jahat itu tentu memikirkan orang lain jahat pula sebagai dia