Sepertinya saya sudah salah mengira buku ini. Saya sedang tersirap keindahan sampul, misteriusnya judul, dan melangitnya komentar penulis favorit saya Maggie Tiojakin akan novel Galila ini. Tetapi saya toh tidak menyesal menjadikannya sebagai kawan malam minggu.
Kalau kalian sudah sering nonton FTV tentang keluarga kaya yang tidak setuju anak laki-lakinya yang bakal melanjutkan trah keluarga terhormatnya mencintai seorang gadis biasa saja, maka kalian akan dengan mudah membaca novel ini. Premis permasalahannya sudah biasa terjadi. Bahkan Sitti Nurbaya, Karmila sudah memulainya terlebih dahulu.
Galila adalah seorang diva penyanyi yang berasal dari Indonesia TImur, Saparua, dua jam dari Ambon. Dia melejit sukses sebagai penyanyi bahkan mengalahkan saingannya seniornya, lantaran kisah sinderella yang disukai masyarakat indonesia saat Galila mengikuti kontes Indonesia Mencari Diva. Di antara gelimang kesuksesan dia selalu menutup rahasia masa lampau dan berhati-hati dengan persoalan hati.
Lalu muncullah tokoh Edie, lelaki pengusaha anak emas dari Jackson, yang berketurunan Batak. Galila Dan Edie salng jatuh cinta. Tetapi ada penghalang utama yaitu ibunya Hana, yang tidak setuju. Menurut Hana, Galila tidak sebibit-sebobot-sebebet dengan keluaraganya. Hana menjuluki Galila perempuan bermental kuli (hal.177). Selain itu Hana bermaksud agar Edie menikah dengan wanita BAtak, sehingga garis marganya akan tetap terjaga.Berhubung Edie adalah anak lelaki satu-satunya.
Bila salah potong rambut, menyesal hanya sebulan. Bila kau salah makan, perutmu hanya sakit satu atau dua jam. Tapi bila kau salah pilih jodoh, seumur hodp kau tinggal dalam duka dan penyesalan. (hal.112)
Sedang Edie selalu beranggapan bahwa keglamoran hanya bahagia material. Dan Edie selalu menganggap cinta adalah murni kebahagia. Dan sikap ibunya adalah bentuk dari pengotakan akan luasnya makna kebahagiaan. Pada Waktu tertentu, manusia memang bisa menciptakan tuhan kecil dalam dirinya. Menentukan suka atau tidak suka tanpa memberi ruang bagi logika dan perbantahan. (hal. 144)
Dan bagi Edie Galila adalah sebentuk kebahagiaan yang selama ini aku cari dan akan terus aku perjuangkan. Kebahagiaan kita adalah cita-cita. (hal.162)Maka melajulah rencana pernikahan Edie dengan Galila tanpa restu orang tua.
Tetapi itu gagal? Mengapa? Karena Edie tiba-tiba tahu rahasia besar yang selama ini disembunyikan Galila. Galila dengan seorang lelaki pengajar paduan suara di SMA-nya dulu, Marco.
Sebenarnya alur ceritanya biasa saja. Banyak hal yang sudah sering kita baca. Bahkan premis yang dipergunakan pun tidak lepas dari kebiasaan pada umumnya. Hanya saja Batak dan Ambon memang baru? Tetapi apa benar Batak dan Ambon betul disinggung benar?
Kurasa juga tidak. Andai Galila diganti dengan orang Jawa asli, misal seorang Pariyem (ingat novel Linus Suryadi AG) yang sudah pernah dihamili tuannya dan melahirkan pun ini tidak jadi soal. Karena local wisdom yang sepetinya dijanjikan penulis tidak tersaji dengan spektakular. Konflik utamanya adalah Galila saat sudah di Jakarta. Terlebih alur di awal-awal yang sangat lambat.
Mohon maaf, dua bintang bukan berarti jelek. Tetapi dua bintang berkaitan dengan selera.