Gilang sangat menyukai dunia film sejak kecil. Meski tampang pas-pasan, dia pun ikut casting beberapa film, dan hasilnya ia selalu jadi figuran. Selama sepuluh tahun menjadi figuran, tanpa diketahui orang-orang, Gilang belajar banyak hal.
Ketika ada drama penculikan di luar skenario yang melibatkan dirinya, Gilang beserta Rachel, si aktris ternama, dan Tegas, sutradara andal, berusaha untuk menyelesaikannya. Di luar kamera, skill Gilang benar-benar diuji. Si Paling Aktor kata orang-orang ternyata sungguh berbakat.
Petualangan yang seperti di film-film, tapi bukan. Menghadapi para penjahat beneran, membuat Gilang, Rachel, dan Tegas harus kompak agar bisa selamat.
Adhitya Mulya (Adit) aspires to be a story-teller.
At early age, Adit learned and enjoyed story telling thru visual mediums like movies and drawings. This, inspired little Adit to take up drawing as a child, and later photography in his teen years.
As a young adult, Adit tries to expand his storytelling medium thru novels. Jomblo (2003) is his first novel (romantic comedies) and was national best-seller - and later made into a movie by the same title (2006). He went on to write another rom-com novel Gege Mengejar Cinta (2004).
Adit uses novels as a medium to try new genres. Travelers Tale (2007) was the amongst the first Indonesian fiction novels with traveling theme before becoming mainstream in Indonesia. Mencoba Sukses (2012) was his effort to try on horror-comedy which later found, not working very well.
He released Sabtu Bersama Bapak (2014), a family themed novel which again became national best seller, well received, and also made its' way into motion picture (2016).
His latest novel, Bajak Laut & Purnama Terakhir (2016) - is his effort in learning how to make a thriller-history novel.
Adit's passion towards storytelling branches out from drawing, photography to novel and move scripts, which amongst other are, Jomblo (2006) Testpack (2012) Sabtu Bersama Bapak (2016) Shy-Shy cat (2016).
Ternyata novel ini masih satu semesta dengan novel-novel Adhitya Mulya sebelumnya. Tokoh utamanya, Gilang Garnida, adalah keponakan dari Gunawan Garnida—tokoh "Bapak" yang meninggal karena kanker dan mewariskan rekaman video berisi petuah hidup yang harus ditonton oleh kedua anaknya (Satya dan Cakra) dalam Sabtu Bersama Bapak. Ayahnya Gilang bernama Dedi Garnida, ialah kakak dari Gunawan, yang kebetulan juga meninggal di usia relatif muda karena serangan jantung. Nah, yang masih menjadi misteri, kira-kira apa hubungan mereka dengan karakter Geladi Garnida—alias Gege—dalam novel Gege Mengejar Cinta?
Sekadar trivia tambahan, ibunya Gilang yang bernama Euis Gurniwa, ialah kerabat dari Agus Gurniwa (tokoh utama dalam novel Jomblo) dan Guti Gurniwa (bibi yang merawat Jaka Gurniwa, tokoh utama dalam novel Medium Ugly). Artinya, secara tidak langsung, hubungan orang tua Gilang dalam novel ini ibarat jembatan interkoneksi antara klan Garnida dan klan Gurniwa. Mungkin kapan-kapan perlu dibuat semacam pohon keluarga biar tidak puyeng.
Kembali ke bahasan novel ini. Meskipun paragraf di atas sudah menyinggung perihal kematian ayah Gilang, apalagi saat usianya masih 8 tahun, bukan berarti ini adalah novel drama melankolis yang plotnya mengharu biru. Justru novel ini penuh kadar kelucuan tingkat tinggi khas Kang Adhit, yang sebelumnya absen saya temukan dalam satu judul novelnya yang lain, Sabar Tanpa Batas—yang isinya terlalu banyak "ceramah" itu.
Gilang Garnida adalah seorang aktor figuran yang telah menekuni dunia perfilman selama bertahun-tahun, tetapi nasib belum pernah membawanya pada kesempatan menjadi pemeran utama. Ia dikenal karena totalitasnya yang kadang malah menimbulkan masalah, salah satunya skill untuk berimprovisasi berlebihan, sehingga membuatnya dimasukkan ke daftar hitam oleh beberapa sutradara. Sebuah titik balik datang ketika ia terlibat dalam aksi penculikan di lokasi syuting, yang menuntutnya bertindak sebagai “pemeran utama” demi keselamatan dirinya dan kedua rekannya; Rachel sang aktris muda peraih Piala Citra dan Tegas sang sutradara yang juga peraih Piala Citra.
Kalau boleh dibilang, hampir semua elemen komedi dalam novel ini berangkat dari adegan komikal yang dinarasikan dengan hiperbolis oleh Kang Adhit. Beda, misalnya, dengan novel Jomblo dan novel beliau lainnya yang saking niatnya melucu, sampai harus memanfaatkan catatan kaki sebagai selipan humor. Setidaknya catatan kaki di sini digunakan sebagaimana mestinya.
Di novel ini juga terlihat usaha Kang Adhit untuk melakukan riset tentang dunia akting dengan mengambil pendekatan dari aktor-aktor yang memang eksis di dunia nyata. Nah, tapi inilah masalahnya... Mungkin karena terlalu serius mencari istilah-istilah tertentu dalam proses pembuatan film, ia malah lupa mencari tahu penulisan nama aktor yang benar. Misalnya, dengan menyebut Ari Ilham (harusnya Ari Irham), Jeffri Nichols (harusnya Jefri Nichol), dan Nicolas Saputra (harusnya Nicholas Saputra), yang saya tahu itu murni kelalaian karena pada kesempatan lain ia mengetik nama Angga Yunanda dengan tepat.
Masalah lainnya, cukup banyak saltik minor yang saya temukan. Bahkan ada satu cacat logika yang cukup mengganggu. Awalnya dijelaskan, kalau Gilang lahir tahun 1992 dan lulus S-1 pada usia 22 tahun. Ia sudah menggeluti akting selama 10 tahun sampai usianya menginjak 32 tahun (artinya latar novel ini tahun 2024). Lantas, di halaman lain disebutkan bahwa Gilang wisuda pada tahun 2010. Sempat saya pikir kalau term wisuda yang dimaksud merujuk pada masa kelulusan SMA (sebab masuk akal kalau ia lulus pada umur 18), tapi yang dimaksud ternyata memang wisuda perkuliahan. Jelas ada yang keliru di sini, karena di awal disebutkan Gilang wisuda pada umur 22, yang artinya itu seharusnya terjadi pada TAHUN 2014. Mungkin saat menulis deskripsi itu Kang Adhit tertukar antara masa sekolah dan kuliah.
Di samping segala kekurangannya, jujur saja novel ini bisa dibilang bacaan yang segar di tengah oasis novel lokal bergenre komedi-aksi. Si Paling Aktor ditulis bukan hanya sebagai surat cinta bagi dunia akting dan film, tapi lebih dari itu, ia ditulis sebagai bentuk penghormatan kepada khususnya aktor figuran—mereka yang sering terabaikan dalam industri perfilman, padahal tanpa kehadirannya, aktor utama tak bisa terlihat menonjol. Figuran-lah yang menjadikan peran aktor utama itu terlihat penting.
Chel... naha ujug-ujug ngaku pacar, Chel? Emang kata Gilang iya gitu? Rachel, "Cantik mah bebasssss."
Perasaan buku ini hadir sebelum kejadian si Paling Aktor yang improve bikin karakter sendiri untuk film adaptasi, ya? Tapi kok kayak nyambung, gitu. Figuran aja bisa mikir sampai mendalami karakter padahal durasi tayang muka figuran sama mangkok bubur aja lamaan mangkok bubur. Hahaha.
Penggambaran Kang Adit di sini jelas sekali ya, bahwa apa pun pekerjaan kita, sekecil apa pun peran kita dalam sebuah pekerjaan, entah itu cuma tukang angkutin gelas kopi di kantor korporat sekali pun, kerja tuh harus sepenuh hati dan maksimal. Karena ketika kita udah jadi ahli dalam bidang tersebut, otomatis kita akan menjadi yang paling dicari. Usaha, biasanya, tidak mengkhianati hasil. Walau pun hasilnya enggak langsung, bisa jadi nanti, tergantung Allah, karena rezeki mah gak akan ketuker. Apa yang memang untukmu, tidak akan melewatkanmu. Dan satu lagi kekagumanku sama novel-novel Kang Adit, selalu inget sama yang di atas. Masya Allah tabarakalla ya, boeend...
Beginilah kalau method actor masih berstatus figuran abadi. Penuh pendalaman karakter, dan maunya ad-lib kalau naskah dan situasi terasa perlu disesuaikan. Musuh sutradara, penulis naskah, atau aktor lainnya karena buang-buang waktu dan ongkos produksi, serta bisa jadi bikin trauma siapapun yang berurusan dengannya.
Beda hanya kalau method actornya adalah pemeran utama. Misalnya RDJ yang kerap ad-lib di film-filmnya. Bahkan boleh dibilang film Iron Man pertama sebagian besar ad-lib, tapi didukung penuh sutradara ini mah karena memang naskahnya bare minimum. Btw, aku punya novel film ini yang diangkat dari naskah, dan memang yang sama cuma garis besar plotnya saja. Itupun mungkin sebagian besar dikembangkan sendiri oleh Peter David yang kebagian tugas jadi penyadur.
Baca sinopsisnya, aku agak yakin buku ini bacaan yang ringan, mungkin mirip sama Mencoba Sukses. Jadi aku udah setting ekspektasi segitu dan benar. Randomnya para tokoh dan plot ceritanya sangat mudah diikuti. Nggak bikin mumet, alis bertaut kening berkerut deh pokoknya. Sayang banget banyak typonya, kaya buru-buru banget buat diselesaiin:(
Mau bacaan ringan dengan komedi khas penulisnya? Baca judul iniii.. kuhabiskan dalam 1 jam saja disela2 waktu sblm tdr, worth it banget. Critanya ringan, lucu dan bikin otak sehabis kerja di freshhh
Baca buku ini jadi nostalgia sama gaya penulisan komedi novel jaman 2000-an yang lucu dengan asbun-asbunnya. Menyenangkan buat dibaca setelah capek kerja (gak curhat)
Gilang Garnida telah menjalani profesi sebagai pemeran figuran selama 10 tahun karena kecintaannya terhadap film. He took his job seriously, hingga mempelajari banyak hal yang tak pernah orang pikirkan demi perannya sebagai figuran. Saat ia menyerah karena tak kunjung mendapat peran utama, tiba-tiba ia terlibat dalam penculikan seorang aktor sekaligus influencer terkenal ketika melakukan proyek film terakhirnya. Funny, witty, exciting, and absurd at the same time. Bacaan sekali duduk yang sangat menghibur, action-comedy yang membuat pembaca capek ketawa.