Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Oyen, si badut kampung, ditemukan mati gantung diri di kamarnya. Tak seorang pun percaya pria sebaik Oyen bisa seputus asa itu hingga mengakhiri nyawanya sendiri.

Pihak kepolisian berusaha mengusut kasusnya dan menemukan banyak keganjilan dalam kematian pria itu. Tetapi, ketika tersangka yang dicurigai polisi ditemukan mati mengenaskan, kasus kematian Oyen kembali tak terpecahkan. Kampung mereka diteror hantu badut yang menghampiri anak-anak, bahkan mulai meminta korban.

Apa yang sebenarnya terjadi?

224 pages, Paperback

First published March 1, 2014

4 people are currently reading
70 people want to read

About the author

Marisa Jaya

3 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (6%)
4 stars
17 (15%)
3 stars
65 (58%)
2 stars
22 (19%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 47 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
April 8, 2014
INTRO: Badut Oyen ini aku belinya di Palembang, lalu bela-belain bawa ke launching bukunya di Jakarta untuk minta ttd penulisnya. Oke, skip!

Suka dengan ide cerita novel ini. Tentang sosok badut yang seharusnya lucu dan menghibur, malah menjelma jadi sosok yang menyeramkan karena kematiannya yang misterius. Horor campur thriller.

Walaupun ditulis secara estafet oleh 3 penulis, Badut Oyen dieksekusi dengan baik. Di setiap peralihan chapter, kadang kentara sekali perbedaan gaya dan napas tulisan penulisnya. Tapi nggak kaku, narasi dan diksinya malah jadi lebih kaya. Cuma ada juga chapter yang kayak ditulis terburu-buru, jadi semacam ada bagian plot yang bolong. Penulisnya yang lagi capek atau memang aku yang telmi, ya? Nggg.

Tokoh-tokoh yang semula kukira figuran (dan nyaris susah dihafal karena banyak), rupanya punya peran juga di titik klimaks. Baguslah, jadi tokohnya nggak mubazir. Sayangnya, di pertengahan buku, twist yang mau dihadirkan di ending sedikit ketebak. Tapi nggak gagal.

Terus, sayangnya lagi, ada beberapa kata nggak baku yang nyelip, seperti "sirine" dan "jenasah", lalu typo fatal "Mbah Engkuh" jadi "Mbak Engkuh". Yaelah... (Btw, editornya ini penulis Katarsis. Kebetulan sempat ngobrol juga pas ketemu di Jakarta. *bangga*)

Selebihnya, lumayan seru dan bikin penasaran.

Great job, Pinung dan kawan-kawan!
Profile Image for Ivon.
Author 1 book21 followers
May 21, 2014
Kamu punya teman. Kalian sama-sama suka buku, dan kalian sering saling bertukar bacaan.

Suatu hari, kalian janjian (bersama rombongan lain) di sebuah tempat. Temanmu telat. Telat parah. Telat empat jam. Kamu kesal, kamu ingin melindasnya, menabraknya dengan bajaj. Tetapi kamu harus pulang lima menit lagi. Jadi apa yang bisa kamu lakukan di waktu sesingkat itu?



Kamu tahu, itu perbuatan kejam. Tapi itu demi kebaikan temanmu. Setelah ini temanmu akan sadar betapa pentingnya menepati waktu janji. Karena ia akan teringat pada teror yang telah kamu berikan setiap kali benaknya bermain-main untuk telat datang ke acara ketemuan selanjutnya.

~~~

Anyway, review asli: Yah, setidaknya tulisannya rapi. Dan waktu hantunya muncul, lumayan tegang.
Profile Image for Nene.
68 reviews1 follower
March 6, 2015
di tengah Cerita sudah bisa menebak pembunuh, hanya saja masih penasaran dengan proses pembunuhannya.
Cukup Mencekam , Sempet merinding juga #untukdikamargaklagisendiri..hohoho

Profile Image for Aravena.
677 reviews36 followers
November 29, 2017
Dibaca via iPusnas. Tertarik karena imej 'hantu badut' yang mengingatkan saya pada It-nya Stephen King, serta latar belakang bukunya yang ternyata ditulis estafet oleh tiga orang via Gramedia Writing Project.

Diawali dengan in medias res, plotnya bergulir secara maju-mundur menceritakan kematian si badut Oyen, riwayat hidupnya, dan peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi setelah kematiannya. Gaya penuturannya cepat dan gamblang, saking gamblangnya saya kadang berasa seperti baca naskah film..... alias rentetan kejadian dan dialog dengan deskripsi seadanya. Mungkin sengaja diseragamkan, supaya tidak terasa kalau ditulis tiga orang berbeda? Yah, sisi positifnya: ceritanya jadi gampang dicerna dan memudahkan pembaca yang mau cepat-cepat tahu akhir kisah & jawaban misterinya.

Bagian awal bukunya (yang menceritakan perjuangan hidup Oyen dan sahabatnya Suparni) cukup membuat saya simpati, tapi sayang terjangkit 'sindrom adegan sinetron/FTV' saat tokoh utama yang kelewat malaikat ditimpa kemalangan bertubi-tubi akibat orang-orang jahat di sekitarnya. Ada adegan saat Oyen jalan pulang sambil bawa uang honor dan singgah di sebuah warung.....pikiran saya langsung "pasti mau dicopet nih".....dan ternyata benar, saudara-saudara!

Misteri utamanya pun rasanya bisa gampang diterka oleh banyak pembaca. Paling tidak, skenario tebak-tebak-manggis pertama yang muncul di kepala saya.... ternyata memang benar-benar dipakai oleh penulisnya. Sebenarnya saya tidak begitu masalah soal "gampang ditebak" selama eksekusinya bagus,

Terlepas dari itu, ada beberapa bagian yang saya suka, misal latarnya: sebuah kampung yang warganya saling mengenal satu sama lain, gampang percaya hal berbau mistis, serta doyan bergunjing. Latar seperti ini memang terasa lebih 'akrab' buat saya :] Saya juga suka teknik penulisnya yang kadang menyisipkan tokoh-tokoh figuran yang mengomentari peristiwa yang terjadi; mungkin berkesan cuma-numpang-lewat-apa-gunanya-nih-karakter, tapi faktor ini jadi membuat dunia dalam buku ini terasa lebih nyata dan hidup.

Adegan horornya juga lumayan efektif. Terasa telegenik, dalam artian saya bisa memvisualisasikan adegan-adegan itu jadi adegan film yang bisa sangat mencekam kalau didukung sinematografi dan akting mumpuni. Ada dua adegan yang paling berkesan di sini: adegan saat seorang anak perempuan diteror di dalam kamarnya, dan adegan klimaks sebelum epilog.

Begitulah, ini perpaduan yang cukup lumayan saya nikmati, lengkap dengan segala ketidakpuasannya.
Profile Image for Magdalena Amanda.
Author 2 books32 followers
July 22, 2015
Sesungguhnya kalo secara scoring 2,5, tapi saya memutuskan untuk mengikuti apa kata Goodreads, 2 bintang = it was ok.

Jadi intinya semua yang terjadi di novel ini adalah akibat NTR alias netorare (istilah yg biasanya dipake otaku dan wibu; lihat link artikel Wikipedia utk artikel mendetailnya) yang artinya bisa dijelaskan dengan singkat sebagai: orang yg kita suka keburu diembat orang lain sblm kita sempat ngomong2 apa2 apalagi mencegah.

Karena saya bacanya cukup serius, bisa dibahas per poin seperti biasanya.

Cerita

Ide ceritanya bukan ide yang baru, tapi karena tidak sering dipakai, jadi masih mungkin ada pembaca yang menemukannya sebagai sebuah ide fresh dan pembaca yang sudah banyak baca tidak bosan dengan pola yang sama terus menerus.

Yang kurang oke menurut saya adalah penyampaian ceritanya.

Ada beberapa bagian yang ketika diceritakan secara mendetail malah jadi terasa "hampa" (mungkin dalam usaha mengikuti aturan "show, don't tell"). Karakter yang menjadi fokus berganti2 sehingga "teror" yang dirasakan jadi "tipis" dan tidak fokus. Gregetnya jadi berkurang lah.

Dan, sesungguhnya, cerita ini bisa banget diarahkan jadi misteri/thriller tanpa horor yang melibatkan makhluk supernatural.

Karakter

Kalau saya disuruh membahas buku ini di pelajaran bhs Indonesia kelas SMP/SMA, saya--jujur--bakalan bingung siapa yang akan saya taruh sebagai protagonis cerita ini. Apakah Oyen si badut, atau barangkali Iryanto si Pak RT, atau si mbah dukun kampung sebelah, atau malah Suparni yang sebenarnya adalah pelaku sesungguhnya di balik pembunuhan2 yang terjadi?

Kenapa saya menyebut Suparni sebagai protagonis bukan antagonis? Karena saya merujuk pada pengertian protagonis selaku "pembawa ide utama cerita".

Semisal cerita buku ini dituliskan dengan fokus dan sudut pandang Suparni, saya memikirkan beberapa potensi bagus:

1. Bagaimana penulis menutupi fakta bahwa Suparni adalah pelaku pembunuhan Oyen dan dua orang lainnya hingga 90% buku.

2. Bagaimana penulis menunjukkan isi pikiran Suparni yang dari hari ke hari makin terganggu karena dihantui rasa bersalah dll.

3. Bagaimana penulis menunjukkan struggle dan shit happen yang dialami oleh Oyen dari sudut pandang Suparni? Dan juga struggle yg dialami Suparni? Bagaimanapun juga Suparni itu pernah kuliah dan lulus lho. Dia pasti punya perjuangan tersendiri mencari pekerjaan yg layak dan sesuai dengan bidang kuliahnya kan?

4. Bagaimana penulis membuat pembaca bersimpati pada Suparni dan di akhir--ketika diketahui bahwa dalang semua peristiwa pembunuhan yang menghantui kampung--pembaca dibiarkan mengalami dilema karena dirinya telah bersimpati dengan "orang gila".

Semisal yang jadi protagonis adalah Iryanto si ketua RT, potensi yang terpikirkan adalah:

1. Bagaimana penulis menunjukkan dilema Iryanto antara pendekatan logis atau mistis; polisi atau dukun; pembunuh atau hantu.

2. Bagaimana penulis membuat pembaca bersimpati pada tekanan yang dialami oleh Iryanto selaku pimpinan kampung.

3. Bagaimana penulis menunjukkan Iryanto--mungkin--akhirnya memutuskan untuk mencoba memecahkan masalah ini dan menjadi sasaran Supriani selanjutnya

Ya sayangnya semua potensi di atas adalah hasil pemikiran saya, bukan yang terjadi di buku ini.

Setting

Agak kurang jelas settingnya di mana, selain bahwa ini bersetting di Indonesia.

Ya sudah. Sekian saja review kali ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Natha.
780 reviews73 followers
April 20, 2014
2.5 from 5.

Please jangan baca review ini kalau tidak mau kena spoiler. Aku tidak bertanggung jawab kalau kena spoiler yang kebablasan. :P

Akhirnya setelah membaca Teater Boneka (beberapa waktu lalu) dan me-skip Hujan Daun-Daun, kuputuskan untuk membaca buku yang satu ini. Actually, kalau dari sinopsisnya, aku lebih suka sinopsis Hujan Daun-Daun, karena di sana kerasa misterinya, tetapi karena sudah maraton Agatha Christie, sekalian sajalah yang segenre. =))

Oh, abaikan saja kalau aku bisa menebak siapa pelakunya sejak awal, meski tidak tahu motif atau caranya, kadang selalu mampu menebak hanya dengan feeling. :P

Abaikan typo yang ada di dalam, tidak banyak koq. Hanya beberapa titik yang missed, tidak terlalu gimana-gimana. Tetapi harus kuakui, ada beberapa bab yang patah banget alurnya. Aku kudu mesti konsen inget adegan sebelumnya untuk tahu bab berikutnya ini nyeritain siapa sih.



Tapi overall, sebagai satu tim penulis baru, tetap saja hasil kerja kerasnya oke. XD Sudah waktunya aku lanjut baca yang ketiga ya. :))
Profile Image for Agista Saraswati.
18 reviews60 followers
March 1, 2015
Oyen adalah seorang pemuda ramah yang berprofesi sebagai badut. Tak ada api, tak ada asap tiba-tiba nyawa Oyen terenggut mengenaskan. Dia ditemukan mati gantung diri. Satu per satu orang yang dianggap sebagai tersangka kematian Oyen juga perlahan terbunuh secara mengenaskan. Oyen yang semasa hidup dicintai anak-anak kini ditakuti oleh anak-anak yang seringkali dia hibur.

Tidak heran naskah novel ini memenangi Gramedia Writing Project batch pertama. Kolaborasi tiga penulis dari latar yang berbeda ini memang menelurkan buah karya yang menakjubkan. Genre yang diangkat pun bukan genre mainstream yang muncul di pasaran. Dengan berani penulis mengangkat genre horror.

Satu hal yang membuat Saya semakin tergila-gila dengan novel ini adalah kemampuan para penulis meramu alibi dan misteri yang berujung pada plot-twis di bagian akhir cerita, meski cukup bisa ditebak. Selain itu, ketiga penulis juga dengan bangga memasukkan kearifan lokal dalam cerita sebagai unsur ekstrinsik cerita.

Dialog serta setting yang disampaikan ditulis dengan baik dan membuat pembaca betah menelusuri kalimat demi kalimat. Meski agaknya bahasa kurang popular, tidak sesuai dengan cover yang membungkus novel, novel ini layak diangkat ke dalam film layar lebar. Pasti akan jadi film yang sangat menarik, mengingat film horror karya anak bangsa kini kurang berbobot
Profile Image for Novella Putriasafa.
5 reviews2 followers
April 15, 2014
Setelah baca novel ini agak ngerasa-rasa gimana gitu, masih agak susah nerima kenyataan kalo endingnya beda banget dari yang aku pikirkan. -,- ternyata hantu badut Oyennya itu emang ada karena kupikir si Suparni yang nakut-nakutin anak-anak kampung dengan memakai kostum badut, eh taunyaaa. (/.\)
Agak kecewa sih alur ceritanya jadi gitu, padahal aku udah baca dari awal di blog Gramedia Writing Project dan sangat menanti-nantikan bukunya terbit, huuh. Aku kira novel ini mengangkat tema phsycology-thriller di mana tokoh yang membunuh memiliki kepribadian ganda atau psikopat sejati. >D tapi yaah jangan bereskpetasi terlalu tinggi nanti kalo jatuh sakit *plakk.
Meskipun agak kecewa, overall novel ini bagus, aku suka covernya simple & sesuai tema dan ditulis oleh tiga orang yang tentunya susah untuk menyatukan 3 kepala dalam satu ide, endingnya meskipun kayak gitu tapi penjelasan masalahnya sudah cukup lumayan. Nice. ^^
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 27, 2018
Idenya sebenarnya baguuss, tapi penulisannya masih berantakan dan berlebihan, alur ceritanya aneh, kurang membumi dan kurang logis, misterinya tertebak dari awal, serta ada tokoh2 yang mubazir.

Untuk penulisannya, di beberapa tempat terasa janggal karena pemakaian gaya bahasa yg kurang konsisten. Bayangkan sekelompok ibu-ibu sedang menggosip di pinggir gerobak tukang sayur, membahas kejadian mistis malam sebelumnya. Masak dalam kondisi demikian salah seorang diantara mereka berkata "mereka bergegas pulang mengambil senter". Yaelah, berbahasa Indonesia yang baik dan benar sekali para ibu ini yak. Demikian pula beberapa kosa kata yang kurang pas dipakai dalam pertuturan informal di kampung, seperti "cenayang" dll.

Lalu tentang kejadian yang sebenarnya terjadi pada badut Oyen,

Karakter polisi Nanang di sini juga sepertinya hanya sebagai hiasan saja. Gak ada fungsinya. Lebih akan terasa gaungnya bila selama kasus kedua dan ketiga, disertakan juga perkembangan kasus oleh pihak kepolisian dan bukannya cuma embel-embel di epilog.

Yah, tapi okelah temanya. Semoga karya2 selanjutnya dari para jebolan gwp ini makin moncer ke depannya.
Profile Image for Titis Wardhana.
995 reviews14 followers
December 6, 2017
Done in one sitting...

Oyen si Badut yang sering menerima panggilan untuk menghibur anak-anak di pesta ultah, pada suatu hari tiba-tiba ditemukan gantung diri. Warga langsung heboh karena selama ini Oyen dikenal sebagai orang yang gigih dan tidak pernah putus asa. Karyawan Oyen sekaligus sahabat dekatnya, Suparni, sangat terpukul melihat kematian Oyen. Polisi pun menyelidiki misteri kematian sang badut ini, apalagi hanya beberapa setelah peristiwa itu, terjadi beberapa pembunuhan dan desas desus kalau Oyen menjadi hantu gentayangan yang penasaran.

Sudah lama penasaran sama buku ini, partly because I like horror. Dan ternyata tidak mengecewakan. Kalimat-kalimatnya tersusun rapi dan enak dibaca, mengalir. Meski di awal alurnya maju mundur, tapi tidak membingungkan. Pelakunya tentu saja uda ketebak hahaha... Tapi gw suka gaya penulis yang menjelaskan motifnya pas di akhir-akhir. Endingnya tentu saja harus begitu, karena nasib apalagi yang pantas untuk si pelaku (menurut gw ya). Tentang kemunculan hantu Oyen, karena gw bacanya siang ya ga gitu serem, kalau baca malem serem juga kayaknya. Di awal-awal tidak ada typo, tapi pas mulai setengah ke belakang agak sedikit sering, sampai gw bingung pas warga mau manggil cenayang, disebutnya mbak. Mang cenayangnya mbak2 gitu haha...
Profile Image for Edotz Herjunot.
Author 5 books14 followers
November 13, 2021
Awalnya saya kira Oyen ini karena badut ini warnanya oren, ternyata beneran namanya Oyen 😁

Dari awal2 baca udah ketebak siapa pelakunya, karena minimnya tokoh lain yang punya motif sama Oyen.

Jadi bacanya tinggal nunggu motifnya kira2 apaan.

Memang agak diluar dugaan karena ternyata hantunya beneran ada, padahal kalau ternyata semua ini bisa dijelaskan dengan logika. Kalau ternyata yang melakukan teror itu adalah pelaku mungkin cerita ini bakalan lebih bagus.

Seperti novel Surat dari Kematian karya Adham T. Fusama yang berhasil menciptakan keseraman dan ternyata semuanya bisa dibikin logis.
Profile Image for Faishal Mahdi.
20 reviews2 followers
January 25, 2018
[2018/02]

Saya sebenarnya menyukai ide cerita novel tragedi ini - tokoh-tokohnya punya latar belakang menarik, begitu pula dengan latar belakangnya.

Hanya saja eksekusinya terasa kurang 'greget'. Beberapa adegan yang mestinya menegangkan, terasa datar. Saya juga tidak merasakan empati dengan karakter-karakter dalam buku ini.

Karya ini potensial, namun belum matang. 'Kurang bumbu', dan banyak hal yang bisa digali lebih dalam.
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
June 8, 2021
bagus sihhh ceritanya, walaupun endingnya ketebak siapa pembunuhnya.
bacaan ringan, sekali duduk langsung habis.

awalnya sedih lhooo sama kondisi oyen dan suparni, kek sial banget gitu nasibnya. terus kesel gara2 rentenir. relate banget yaaa, kayak sinetron. orang susah pinjem ke rentenir, gabisa bayar utang, disiksa, ya gitu sihhhh

jalan ceritanya boleh jugaa, suasana yang dibangun cukup baik
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
897 reviews30 followers
May 27, 2017
horror dan thriller nya nanggung. mau thriller tapi terlanjur pake penampakan, mau hantu tapi kurang meyakinkan.
Profile Image for Maulana Ayu.
42 reviews12 followers
June 1, 2017
Ini mungkin mengenai selera, bukan tentang kualitas buku. Namun terima kasih sudah melahirkannya di dunia
Profile Image for Auntie Sya.
13 reviews
August 11, 2017
Jalan cerita yang agak membosankan untuk meneruskan pembacaan . Perasaan yang dinantikan adalah untuk pengakhiran kisah kematian si badut 🤡
Profile Image for Vindri Prachmitasari.
Author 3 books6 followers
October 1, 2017
So-so..
Dari awal saya sudah menduga siapa pelakunya. Hanya motifnya saja yg saya tidak ketahui. Tidak terlalu spesial tapi sisi horornya lumayan bikin serem klo dibaca pas malam hari.
Profile Image for Jefri S.
85 reviews2 followers
January 16, 2018
bole la untuk mengisi waktu luang, but nothin special in this book;)
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
July 10, 2016
Judul: Badut Oyen
Penulis: Marisa Jaya, Rizky Noviyanti, & Dwi Ratih R.
Penerbit: Gramedia
Terbit: Cetakan Pertama, April 2014
Tebal: 224 Halaman

Oyen adalah badut penghibur anak-anak yang pantang menyerah. Dia dulunya seorang mahasiswa yang terpaksa drop out berhubung kondisi ekonomi keluarga yang tak mendukungnya kuliah. Kini Oyen tinggal sendiri di rumahnya. Selain menjadi badut penghibur, dia juga membuka toko alat pesta di rumahnya. Meskitoko itu sepi pengunjung

Maka hidup Oyen jauh dari yang namanya berkecukupan. Ditambah akhir-akhir ini kebutuhan hidup yang mencekik membuatnya harus bekerja lebih keras. Oyen tak disangka berhutang pada Syamsul, rentenir kampung yang sering membuat warga melarat semakin hancur. Syamsul tak segan melukai para penghutang yang telat bayar. Ia dibantu algojo-algojonya yang siap sedia melakukan apapun yang diperintah termasuk tindak kekerasan.

Oyen mempekerjakan Suparni. Gadis itu selalu berada di sisi Oyen yang miskin. Suparni jatuh hati pada Oyen, namun lelaki itu kurang peka pada Suparni. Hingga di suatu pagi yang cerah, Oyen si badut penghibur ditemukan tergantung di kamarnya sendiri. Seluruh warga kampung Oyen gempar dan menduga-duga bahwa tidak mungkin Oyen bunuh diri.

Kematian Oyen disusul kematian misterius Syamsul si lintah darat. Orang yang dicurigai membunuh Oyen itu pun meninggal. Oyen sebelumnya tak mampu membayar hutangnya pada Syamsul. Warga kampung curiga pada Syamsul namun pria paruh baya itu pun menjadi korban pembunuhan misterius. Lalu pembunuhan keji selanjutnya menimpa Rudi yang merupakan anak Ratna, perempuan yang ditaksir Oyen. Kini, teror semakin mencekam di kampung Oyen karena banyak warga diteror hantu badut yang disinyalir arwah gentayangan Oyen. Siapa korban berikutnya? Apakah benar disebabkan hantu badut Oyen?

Novel Badut Oyen adalah novel bergenre horor karangan tiga penulis wanita. Meskipun ditulis lebih dari satu orang, novel ini terasa mulus gaya penceritannya dan tentu saja tidak terkesan ditulis secara terpisah. Hal ini meningkatkan kualitas novel yang semakin bagus karena konten ceritanya pun sudah sangat menegangkan, sangat horor dan mencekam.

Yang paling penting dari novel ini adalah amanatnya yang mencoba menyampaikan bahwa perjuangan hidup di dunia memang memiliki sebab akibat. Seperti halnya Oyen, sang badut yang disukai anak-anak. Saat ia meninggal dengan tragis, orang-orang tetap berprasangka baik padanya, namun semuanya lenyap kala teror hantu badut menyerang kampung padahal hantu itu belum tentu arwah dari Oyen yang terbunuh. Alhasil, dari plot ceritanya itulah novel ini terkesan masih memiliki pesan yang kuat meskipun novel horor.

Novel Badut Oyen sangat berpotensi menghibur pembaca lewat rangkaian ceritanya yang membuat jantung berdebar-debar sepanjang 224 halaman novelnya. Walaupun novel Badut Oyen ini bisa membuat bulu kuduk pembaca merinding, amanat di dalamnya sungguhlah mampu memengaruhi pembaca bahwa berpikiran negatif pada suatu hal akan menimbulkan dampak negatif lainnya berdatangan. Seperti kala teror pasca kematian badut Oyen, warga kampung malah berpikiran yang tidak-tidak, alih-alih mencari solusi yang tepat kala hal diluar nalar terjadi. Segala hal memang seyogiyanya dipasarahkan kepada Sang Pencipta yang mengetahui rahasia baik di dunia nyata maupun ghaib.[]
Profile Image for Ramadhania.
22 reviews1 follower
April 8, 2014
reviu ini mengandung spoiler. jadi kalau nggak mau bete pas baca novelnya karena sudah tahu ceritanya gara-gara baca reviu ini, mohon hindari reviu ini untuk dibaca. :)) ^^v




tetep baca juga? saya udah peringatin ya, hehe. *nggak mau disalahin banget*

oke, sebagai pecinta novel thriller (meskipun novel ini ceritanya dicampur horor), dan berhasil digoda oleh cover serta blurbnya, saya langsung mengambil novel ini pas datang ke KGF hari minggu kemarin. :DD saya suka covernya. memperlihatkan keseraman dalam gambar sederhana.

novel ini ditulis oleh tiga orang. mungkin karena sebelumnya saya baru beres membaca Teater Boneka dan langsung disambung dengan novel ini, saya merasakan sekali kalau novel ini ditulis tiga orang. maksudnya, Teater Boneka benar-benar seperti ditulis oleh hanya satu orang. sedangkan novel ini, terasa ditulis oleh orang yang berbedanya. mungkin karena ceritanya dibagi-bagi ke dalam bab pendek, dan dari bab yang satu ke bab yang lainnya--mmm, gimana ya bilangnya--perpindahannya kurang mulus, jadi rasanya kayak patah-patah gitu nyambungnya. tapi mungkin saya saja sih yang merasa seperti ini.

setiap membaca/menonton cerita tentang pembunuhan, biasanya saya menaruh curiga pada orang terdekat korban sebagai pelakunya. dugaan saya kali ini benar. dan karena dugaan saya benar, jadi saya nggak dapat rasa terkejut yang biasanya saya cari dari membaca thriller/horor. :D

yang sedikit saya bingung adalah, apa benar Ratna seperti yang dituduhkan Suparni sampai Suparni segitu bencinya sama Ratna? karena tidak ada pernyataan yang membenarkan tuduhan Suparni. dari sisi Syamsul, hanya dibenarkan bahwa Ratna adalah janda kembang cantik dan seksi. jadi agak susah juga menerima kebencian Suparni karena alasan yang sepertinya hanya dia yang berpikir seperti itu.

untuk eksekusi akhirnya, karena ini cerita horor, saya tidak bisa komentar apa-apa. namanya juga hantu. tapi saya betah baca cerita ini dari awal sampai akhir. :))
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lidya Renny Ch.
67 reviews10 followers
June 15, 2014

Badut menurutku memang bisa menjadi sosok lucu sekaligus seram. Kita kan nggak tahu siapa orang di dalamnya. Inilah kisah sang Badut Oyen, yang namanya kayak es yang lagi ngetren :D Oyen adalah pria yang sangat baik dan tulus, meski miskin dia sering tak tega meminta bayaran kepada orang yang menggunakan jasanya sebagai badut di pesta ultah anak mereka. Dia bahagia jika anak-anak gembira bermain bersamanya. Intinya Oyen pecinta anak-anak dan dia menikmati pekerjaannya sebagai Badut.

Suparni adalah sosok wanita yang selalu bersama Oyen. Membantunya mengurus toko kecil perlengkapan pesta. Oyen tak menyadari Suparni mencintainya dan berharap menjadi istrinya. Sayang Oyen hanya menganggap Suparni sebagai adiknya.

Tiba-tiba Oyen ditemukan menggantung diri. Beberapa menduga bunuh diri namun sebagian juga menduga Oyen dibunuh, karena mereka mengenal Oyen dengan baik. Betapa miskin dan berat hidupnya, Oyen selalu tak putus asa. Dugaan mengarah ke Syamsul sebagai rentenir yang kerap menagih hutang dan memukul Oyen. Tapi Syamsul ditemukan mati mengenaskan. Hantu Oyen pun meneror kota, sempat aku berharap ini Suparni yang menyamar tapi ternyata hantu Oyen benar ada. Semasa hidup dia disukai anak-anak tapi setelah jadi hantu, Oyen malah membuat anak-anak takut padanya. Kasihan Oyen... :(

Novel ini cukup menegangkan namun sayangnya beberapa misteri terlalu dibuka di pertengahan. Siapa pelaku pembunuhan Oyen sudah bisa ditebak. Tapi tetap saja membuat penasaran ingin menuntaskan sampai akhir.

Marisa, Ratih dan Kiky kerja kalian bagus! :)
Profile Image for me.lita.
139 reviews
October 6, 2014
penasaran dengan salah satu novel hasil kolaborasi gramedia writing project yang bergenre horor ini, jadi ketika Selvi ngadain garage sale, langsung deh aku booking. lumayan bisa dapet buku kondisi bagus dengan potongan setengah harga.

di awal cerita, entah kenapa aku sudah bisa menebak si pembunuh korban. mungkin karena clue-nya jelas atau mungkin karena keseringan nonton berita kriminal yah? hahaha..

dari segi plot cerita sih bagus dan semoga gramedia lebih sering nerbitin novel dengan genre horor-triller seperti ini. yang bikin aku sedikit sebal saat membaca adalah di bagian akhir cerita seolah dipaksakan semua harus ada jawabannya dan ada sedikit kejanggalan menurutku. terutama saat hari H pembunuhan berlangsung, mungkin karena ditulis bersama jadi alurnya sedikit ga nyambung. yang jelas terlihat itu adalah nasi goreng vs sup. masa sih Oyen gak curiga ketika dia ditawari makan sup sementara beberapa jam sebelumnya dia ditawari makan nasi goreng? terus kenapa polisi gak mengusut kasus pembunuhan si Rudi dan Syamsul? masa polisinya gak curiga atau membuat beberapa analisis tersangka? proses investigasinya pun gak mendetail. Menurutku, sayang banget peran polisi disini cuma seuprit.

tapi yah itu semua terserah para penulis sih yaa.. semoga aja gramedia bisa mengembangkan lini horor-triller macam badut oyen atau katarsis (btw, saya sukaa sekali baca katarsis dan ternyata si penulis adalah editor untuk badut oyen ini). dua bintang sudah cukup.
Profile Image for Orinthia Lee.
Author 12 books123 followers
April 8, 2014
Keren! Nggak ketahuan kalau yang nulis buku ini 3 orang. Deskripsinya mengalir dan mudah diikuti, plus mencekam banget! Terasa situasinya seperti apa, bahkan waktu baca ini, ada satu waktu aku 'diganggu' sampai aku menunda menyelesaikan buku ini beberapa hari. Haha... malah jadi curhat.

Aku suka sekali dengan tokoh Oyen yang baik hati, sayang pada anak-anak kecil sampai rela panas-panasan demi menghibur mereka yang gelisah waktu kampung kebanjiran. Aku pun suka dengan ketulusan Suparni yang mencintai Oyen dan selalu berada di sisinya di saat sulit. Tapi mulai ke pertengahan, aku langsung bisa menerka siapa sebenarnya pembunuh Oyen, tapi itu sama sekali nggak mengurangi keasyikan membaca buku ini. Satu per satu misteri dikuak, alasan dibalik pembunuhan pun dijabarkan dengan jelas sehingga ada rasa iba plus benci pada si pembunuh.

Sayangnya, aku nggak bisa memberikan bintang 4 karena aku merasa kecewa dengan endingnya. Tapi ini masalah selera sepenuhnya! Jadi belum tentu orang lain merasa yang sama.

Two thumbs up untuk tim horor! Ditunggu loh novel solonya!

PS. Typo Mbah Engkuh menjadi Mbak Engkuh cukup bikin bingung wkwkwk... moga2 di cetakan kedua nanti diperbaiki.
9 reviews
May 18, 2014
awalnya saya kira ini novel thriller/suspense, soalnya covernya si badut megang palu gt. Eh tapi ternyata salah :3
awal baca cerita, saya terpukau dgn konsep cerita si oyen yang harus menghidupi dirinya dgn menjadi badut. saya suka sekali dgn ceritanya yang manusiawi, seakan2 oyen adalah tokoh nyata.
sayang sekali, setelah cerita kematiannya, saya merasa agak jleb (?) jjur saya bisa dgn mudah menebak siapa pelaku pembunuhan oyen, gaada lagi orang yang dekat dgn dia dan mempunyai peluang membunuh selain suparni -_- dan saya heran kenapa di ceritanya polisi bisa sebodoh itu tak mencurigainya? sampai, entah sudah berapa hari dan minggu terlewati (sampai muncul korban2 lain). jalan cerita yang "mendadak" horor juga agak mengganggu, kesannya dipaksakan.
tapi overall, lumayan sih. tiga penulis ini bisa menuturkan dengan gaya bahasa yang ngalir, juga mengambil latar yang 'Indonesia' banget :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lelita P..
632 reviews58 followers
April 9, 2014

Semacam salah deh baca novel ini malem-malem sendirian.... -_-;;


Sinopsisnya agak menipu. Saya kira ini cerita kriminal/detektif--whodunnit, gitulah. Ternyata, begitu buka kata pengantarnya ....


Ini cerita horor, astaga. -_-


Dan horor bukan selera saya sama sekali.



Secara umum ceritanya lumayan sih. Gaya penceritaannya juga enak untuk cerita horor, yang tentu saja lebih menekankan pada pembangunan atmosfer mencekam. Atmosfer itu dapet, karena memang bikin tegang. Dan saya mengecap sedikit sentuhan sastra dalam novel ini, membuatnya enak dinikmati.

Tapi ... saya nggak bisa bilang "suka banget" sama cerita novel ini. Entah kenapa ada yang terasa kurang, walaupun saya sendiri nggak tahu apa. Satu lagi: sangat disayangkan, cukup banyak kesalahan ejaan di sini, sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan di novel terbitan GPU.


Profile Image for Rian Ramdani.
44 reviews
August 29, 2014
novel dengan genre thriller penulis lokal mulai bermunculan di toko buku, dan siap menginvasi...hahaha

novel ini adalah hasil dari acara gramedia writing project yang diadakan penerbit gramedia, dan kesembilan finalis yang lolos berhak menggarap 3 novel dengan genre yang berbeda, dan badut oyen adalah salah satunya. editor novel ini adalah anastasia aemilia dimana sebelumnya beliau sudah terlebih dahulu menerbitkan novel thriller pertamanya yang berjudul katarsis. atas dasar itulah saya tertarik untuk membaca novel ini, namun ternyata badut oyen diluar dugaan, tidak seperti katarsis yang pure thriller, novel ini juga bergenre horror dimana semakin menambah kengeriannya.

membalikan karakter badut yang lucu menjadi mengerikan mengingatkan saya pada IT stephen king..hehe ini adalah novel lokal yang wajib baca bagi pencinta thriller dan horror
Profile Image for Ruru.
47 reviews4 followers
June 19, 2014
Untuk buku yang ditulis tiga orang, ini termasuk oke. Ngalir dan nggak terasa beda cara penulisannya. Selama ini aku kalo baca novel duet, belum pernah nemu yang terasa kayak satu orang gini. Tapi sayangnya, sering kali di awal bab tiba-tiba lompat setting waktunya, jadi mesti mikir dulu.

Ide cerita...sebenernya oke. Tapi pencampuran horor (hantu) dengan misteri (nyari pembunuh beneran) di sini agak terkesan absurd..... Penuturan oke banget. Nggak wah sih, sederhana dan gampang dicerna aja (dan aku pribadi lebih suka yang begini sih), meski masih ada typo. Cuma...endingnya sangat amat nggak memuaskan. Yah, minimal epilog-nya mending diapus aja deh kayaknya. Malah jadi terkesan beneran labil, ini novel sebenernya horor apa misteri.... (.____.)

(review lengkap menyusul di blog)
Profile Image for Elisabeth Belinda.
15 reviews
January 11, 2016
First of All, saya ingin mengapresiasi Author(s) dan GWP yang sudah bersusah payah menggabungkan tiga pikiran menjadi satu novel. *slow claps for you all*

Novelnya mudah ketebak ( it's very obvious ) Tapi yang bikin deg2an bukan siapa dalangnya, tapi bagaimana dan mengapa. Endingnya lumayan mencekam walau terasa terburu-buru.

Bagian yang disuka dari Badut Oyen mungkin penggambaran ketakutan yang tercermin dari sikap masyarakat ( especially ritual2 pengusiran setan ;D ) dan sikap juga tutur kata dari Suparni.

Alurnya maju mundur mungkin menjadi poin lebih disamping post klimaksnya yang dilambat2kan, terkesan menambah2 jumlah bab. Memang novel begini kayaknya 'kurang greget.'

After all, novel ini bagus dan tidak mengecewakan. Tetap berkarya ya sis ;*
Displaying 1 - 30 of 47 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.