A high school girl is found collapsed in the courtyard of her own home. Her mother is at a loss for words. "I can't believe such a thing could happen to my own daughter, whom I raised with all the love I could give her." The public is in a frenzy. Was this an accident or a suicide? On a day of a typhoon eleven years ago, the happiness that enveloped the two was suddenly stolen from them. As the mother's accounts and the daughter's memories intertwine, the truth comes out. Was this an accident, or was it...? An intense and new mystery about mothers and daughters.
Kanae MINATO (湊 かなえ, born 1973) is a Japanese writer of crime fiction and thriller.
She started writing in her thirties. Her first novel Confessions (告白, Kokuhaku) became a bestseller and won the Japanese Booksellers Award. The movie Confession directed by Tetsuya Nakashima was nominated to 2011 Academy Award.
She has been described in Japan as "the queen of iyamisu"(eww mystery), a subgenre of mystery fiction which deals with grisly episodes and the dark side of human nature.
Cerita di buku ini diawali dengan berita seorang anak perempuan ditemukan tak sadarkan diri yang diduga melakukan percobaan bunuh diri. Para guru di sekolahnya mengatakan bahwa tidak tampak gejala apa-apa pada si anak perempuan yang menunjukkan tanda-tanda bahwa ia ingin bunuh diri. Pernyataan yang dicetuskan oleh ibu si anak perempuan serta surat yang dituliskan oleh si anak perempuan pun membawa polisi pada kecurigaan pada sang ibu. Apa yang menjadi penyebab si anak melakukan hal tersebut? Apakah ada dorongan dari sang ibu sehingga si anak perempuan melakukan hal tersebut?
Sepenggal berita yang menjadi pembuka buku ini membawaku menelusuri hubungan sang ibu dan anak perempuannya lewat kisah yang diceritakan secara bolak balik di setiap chapternya. Dan lagi-lagi aku dibuat kagum dengan kemampuan Minato Kanae Sensei menggali setiap karakter dalam buku ini sehingga aku bisa tahu dengan jelas apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh si ibu dan si anak perempuan. Aku bisa paham kenapa si ibu melakukan hal ini (meski banyak tingkah lakunya yang tidak ku setujui) dan aku juga bisa berempati pada si anak perempuan. Menariknya, ada satu tokoh lain yang adalah seorang guru yang seolah menjadi "juri" yang menggunakan kacamata orang ketiga dari hubungan antara si ibu dan si anak perempuan. Si guru ini membahas sifat-sifat keibuan yang membuatku banyak merenung. Apa iya memang kodrat perempuan adalah menjadi seorang ibu? Lalu tolak ukur ibu yang baik itu seperti apa? Karena tentu kita sering mendengar bahwa ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dari sudut pandang si ibu, aku bisa melihat bahwa maksudnya "yang terbaik" adalah hal-hal yang membuat ia senang saat ia masih menjadi anak-anak sementara si ibu lupa bahwa apa yang membuatnya senang belum tentu membuat anaknya senang juga, apa yang ia anggap "terbaik" belum tentu benar-benar baik untuk anaknya.
Dari hubungan ibu dan anak perempuan di buku ini, aku juga diperlihatkan anggota keluarga yang makin lama makin menutup diri terhadap satu sama lain yang kalau ditilik ke belakang, akar masalahnya sebenarnya sederhana namun berkembang menjadi sangat kompleks yang membuatku berpikir, "kenapa malah jadi begini?". Sayangnya (atau untungnya, ya?), aku pun pernah merasakan hubungan rumit itu dengan mamaku. Aku ingat bagaimana kecewanya aku saat maksudku melakukan A disalah pahami menjadi B. Aku ingat masa-masa di mana aku merasa bahwa apa pun yang aku lakukan, aku akan selalu dianggap "kurang" oleh mamaku. Karena itu, di antara buku-buku Minato Kanae Sensei yang lain, Motherhood ini adalah buku yang paling beresonansi denganku, terutama di bagian yang dituturkan oleh si anak perempuan. Tidak hanya karena aku juga adalah seorang anak perempuan yang lahir dari seorang ibu, tapi juga ada beberapa bagian yang membuatku bergumam, "oh, aku juga pernah merasakan hal yang sama", "oh, aku juga pernah melakukan hal yang sama".
Ada satu kalimat yang ku sering ku ulang-ulang pada diriku sendiri, "jadi orang tua itu gak ada sekolahnya", kalimat yang menjadi pemantik untukku berdamai dengan apa pun yang mamaku lakukan akibat ketidaktahuannya dan juga berdamai dengan apa pun yang aku rasakan sebagai anak di waktuku kecil. Mungkin, hal itu juga yang ingin ditunjukkan di buku ini.
Mungkin ada beberapa bagian dari sisi si ibu yang akan membuat pembaca risih, "kok jadi ibu gitu amat?", "kok bisa dia kayak gitu banget sama anaknya?", dll, tapi di acara Festival Buku Asia minggu lalu, Minato Kanae Sensei bilang bahwa jadi ibu itu gak ada standarnya. Jika ada 10 orang perempuan, maka 10 orang perempuan itu bisa menjadi 10 orang ibu yang berbeda. Apa yang dilakukan si ibu dalam buku ini mungkin berbeda dengan konsep keibuan yang dikantongi masyarakat, tapi bukankah ibu itu juga manusia yang punya trauma dan masa lalunya sendiri? Menjadi seorang ibu itu sangat tidak mudah, gaes. Tapi, di dunia yang (masih) patriarki ini, peran ibu masih saja dianggap sebelah mata.
Aku jadi ingat juga dengan si tokoh ayah yang perannya dalam kehidupan rumah tangga sangat minim tapi karakternya diulik dengan cukup dalam oleh Minato Kanae Sensei. Aku bisa tahu dengan apa yang menjadi masa lalu si ayah yang akhirnya membentuknya jadi orang yang seperti itu. tapi kurasa Minato Kanae Sensei menghadirkan sosok ayah yang seperti itu bukan untuk dijudge oleh pembaca, melainkan untuk membuat kita lebih sadar bahwa tentu masih ada sosok ayah yang seperti itu di kehidupan nyata. Keluarga yang fatherless pun bukan hanya ada di Indonesia rupanya.
Aku sangat menikmati buku ini secara keseluruhan dan gak masalah dengan endingnya yang terkesan tahu-tahu begitu Jadi, aku memberikan rating 4.5 ⭐ untuk buku ini dan kurasa buku ini akan sangat seru jika didiskusikan 🤔🤔
GILAAAA. MAU NGAMUK BACANYA. BAKALAN KUREVIU LENGKAP. 4,5 DIBULETIN KE ATAS. KASIH 5 KALO AKHIRNYA NGGAK BEGITU DOANG. HADEH. POKOKNYA AKU SIAP NONTON FILMNYA.
Takhta tertinggi novel Minato Kanae versi aku. Ngebalap Confessions.
It is 4.3🌟 actually! And the characters from this book need therapy!!!!
Buat pecinta tulisan Kanaeru sensei, don't miss this book! Karena karakter-karakter dalam buku ini tidak kalah gila dari buku-buku sebelumnya. Jujur aku capek ngebatin "ni orang udah gila" setiap kali pergantian bab tapi ya mau gimana lagi emang pada gila nih orang-orang dalam buku ini. Kurangnya cuma di plot twist yang gak segereget buku-buku sebelumnya, tapi dari awal sampai menjelang ending OKE BGT!
MAKASIH UNTUK BUKU BARU KANAERU SENSEI! Akhirnya keluar dari reading slump😇
Selesaiiii! Dan selalu suka sama tulisan Minato Kanae Sensei. Meskipun sempat terseok-seok bacanya dan pakai acara bingung tapi aku tetap suka. Sempat juga apa-apaan sih Si Ibu ini 🙄. Menurutku semua perempuan baik seorang ibu maupun yang akan atau ingin menjadi ibu wajib baca novel ini. Tapi ya nggak cuman novel ini sih harus baca semua novelnya Minato Kanae deh 👍🏼. . “Tidak semua perempuan yang melahirkan anak bisa menjadi seorang ibu. Tidak semua perempuan memiliki sifat keibuan dan tanpa sifat keibuan pun, perempuan bisa melahirkan. Saya yakin ada pula perempuan yang sifat keibuannya memunculkan kuncup begitu melahirkan anak. Tetapi, di lain pihak, ada juga perempuan yang meski punya sifat keibuan, dia tetap ingin menjadi putri seseorang, ingin selalu berdiri di posisi yang dilindungi, dan saking kuatnya mengharapkan itu, tanpa sadar dia menghilangkan sifat keibuan di dalam dirinya.” (Hal 282).
Sometimes I wonder what I'd do if my mother, who gives my a lot of love, were to die:( It’s the thing I fear most in the world. And then I seriously think that maybe not being loved would be happier (?) Of course that couldn't be true; my parents’ love shaped me. At what age will I come to accept that life includes loss?
Iyamisu-nya buku ini bukan sesuatu yang terlalu f*cked up bikin mual kayak buku-buku Minato Kanae-sensei yang lain, melainkan iyamisu yang menimbulkan perasaan nggak enak karena cerita di buku ini terlalu realistis ....
... yang bikin saya merasa sangat nggak nyaman membaca buku ini, sebab saya teringat seorang teman yang jalan hidupnya setelah menikah 80% PERSIS cerita novel ini. Makanya saya nggak suka buku ini karena rasanya kayak membaca kisah hidup teman saya itu--sudah bertahun-tahun saya menjadi tempat curhat dia seputar masalah rumah tangganya, dan saya nggak tahan harus menemukan kisah seperti itu lagi di buku ini.
Segala hal tentang dia yang tumbuh bahagia bersama ortunya, lalu menikah, punya rumah mimpi, sebelum akhirnya pindah bersama mertua dan ipar, kemudian hidup struggling di sana...... aduh, benar-benar mirip banget sama ceritanya teman saya itu. T_T
My heart almost can't take it.
Nggak ada satu pun tokoh yang saya sukai di sini, tapi mereka semua sangat hidup sebagaimana manusia yang kompleks. (Sensei selalu jago menggambarkan kompleksitas manusia, tapi dari semua buku Minato-sensei yang udah saya baca, menurut saya kompleksitas itu paling tecermin dalam karakter-karakter di buku ini.)
Saya angkat topi dengan teknik penulisannya, pengambilan PoV-nya, ketiadaan nama untuk si Ibu dan si Putri , dan fakta tentang hubungan antarkarakter di linimasa cerita ...... tapi saya sama sekali nggak bisa menyukai novel ini. Terlalu nggak tega, hati saya terlalu hancur kalau mengingat teman yang ketawa-ketawa bareng saya semasa SMA kini harus menjalani kehidupan rumah tangga seperti itu.
Ini pertama kalinya saya benar-benar nyaris nggak bisa objektif menilai buku... Kalau cerita novel ini nggak semirip itu sama kisah teman saya, mungkin saya bisa lebih menyukainya sedikit. Karena bagaimanapun, novel ini adalah novel yang penting, yang sangat bagus dalam memotret hubungan ibu dan anak dengan berbagai dinamika dan kesalahpahaman antara mereka. Ada banyak pelajaran tentang parenting yang patut diambil dari sini.
"Namun, menurutku, seorang perempuan yang tak bisa memperlakukan perempuan lain dengan kasih itu kemanusiaannya cacat ...." (halaman 213)
Berkisah tentang anak perempuan yang mendamba kasih sayang dari ibunya dan tentang duka seorang perempuan yang kehilangan ibunya demi menyelamatkan anak perempuannya.
"Tidak semua perempuan yang melahirkan anak bisa menjadi seorang ibu. Tidak semua perempuan memiliki sifat keibuan dan tanpa sifat keibuan pun, perempuan bisa melahirkan. Saya yakin ada pula perempuan yang sifat keibuannya memunculkan kuncup begitu melahirkan anak. Tetapi, di lain pihak, ada juga perempuan yang meski punya sifat keibuan, dia tetap ingin menjadi putri seseorang, ingin selalu berdiri di posisi yang dilindungi, dan saking kuatnya mengharapkan itu, tanpa sadar dia menghilangkan sifat keibuan di dalam dirinya." -p. 282 ~ p. 283
Buku ini tidak hanya menyingkap dinamika dan interaksi antara ibu dan anak perempuannya, tetapi juga mengangkat isu peran ganda perempuan di keluarga, patriarki, misoginis yang lucunya malah pelakunya sesama perempuan, dan dimensi keluarga indah [baca: toksik].
Sungguh dibuatkan jengkel, kesal, dan marah pada seluruh keluarga Tadokoro. Memang, ya, keluarga dari pihak Bapak itu lebih sering jadi tokoh antagonis dan beban keluarga.
Baca sudut pandang sang ibu: 🥲😒😔😠😡 Baca sudut pandang sang anak perempuan: 🤬😠😡😤😭😭
Jika kamu sedang darah rendah, hidup rasanya gitu-gitu aja, bacalah buku ini. Dia akan membawamu pada polemik ibu dan anak yang akan membakar emosimu.
Serius ya, aku marah banget seudah baca ini. Samoe skrang kek ada yg mengganjal nih di tenggorokan aku. Klo kata ibu guru, kek ada ikan yg mengganjal di tenggorokan.
Aku marah sama si Ibu, marah sama di ibu mertua, dan makin marah sama si Ayah!!!!!!!! Ih sumpah kagak ada yang bener ini ya orang2. Ya Allah sedih banget aku tiap baca kenangan si Anak. Huaaaaa.
Aku bakalan kash rating tinggi kalau endingnya nggak gitu doang sih asli yaaaa. Ih. Kesel kesel kesel.
Bacanya pelan-pelan karena capeek. Selelah itu memang melihat konflik keluarga. Keren banget tapi ceritanya bisa kasih 2 point of view seperti ini jadi bisa bantu kita banyak refleksi supaya tidak melakukan atau mengalami hal yang sama.
Too many characters straightly being annoying just for the sake of being annoying. It's trying too hard to make uneasy feeling by all means to make it `psychological`, but unfortunately, they're not believable. The Mother's extreme love towards her mom was unconvincing. And the Mother's extreme hate towards her daughter is also ridiculously nonsensical. She needed a lot of time just to love her daughter. But, –without spoiling the story– she could randomly love other little kids unconditionally. I understand some problems the book's trying to tell about her daughter, but it feels like the writer just forcefully tried to find reasons for the Mother to hate her daughter just to advance through the story. That's only the Mother character I described, but there're actually a lot more annoying characters.
What I like about the previous works by the same writer is that even with an evil or morally gray character, I was convinced that they can't help but do what they think is best because of their situation. But I didn't find that in this book. Also, the problem is not only about the characters, but the plot itself is very underwhelming. Idk exactly how to describe, but it fails to build the story continuously, and keep introducing new conflicts, with new characters as well.
What a journey! On par with Shirley Jackson (from what I’ve read so far); Domestic Horror of the northeastern Asian branch.
All the POV here is unreliable narrator (too bad I can’t help but believe whatever I read). Tho the Grandma was portrayed as an absolute saint, I’m skeptical about what’s left unsaid. We know that she raised her daughter to be an extreme people pleaser and codependent, and she’s clearly a sexist.
I’m glad to found something centring “mommy issue” (and mother-daughter relationship, and generational trauma). I don’t know if the ending would be considered a happy ending. To me it sounds more like a prelude to another thriller.
For real tho, most the struggles can be easily resolved by moving into the Grandma’s house instead of renting it out and moving into the 田所(tadokoro) estate. (Or, simple not marrying or procreating.)
jujur setelah selesai baca aku bingung mau ngasih rate berapa karena sepanjang cerita banyak bingungnya tapi yang pasti di cerita ini semua karena miskomunikasi antar tokohnya sih jadinya semua sama-sama mendem, kasian😭
dan ada saat dimana aku ngerasa frustasi dan ke-trigger pas baca ceritanya karena relate sama beberapa kejadiannya jadi pas baca hati ikutan sakit karena nginget momennya sama persis 😔
Gak expect kalo ceritanya bakalan mengharu pilu. Pengin peluk ibu dan anak iniiiii, Satoshi juga. Jangan dipendem semua nya sendiri doooong, kalian padahal saling sayang dan perhatian satu sama lain, tapi gak bisa tersampaikan dengan baik. 😢
Apakah semua perempuan yang memiliki anak pantas disebut sebagai seorang Ibu?
Motherhood diawali dengan penemuan seorang remaja SMA yang tewas di sebuah taman perumahan. Ia diduga meninggal karena bunuh diri. Wali kelas bersaksi tidak ada tanda-tanda putus asa dari muridnya tersebut. Namun, pernyataan Sang Ibu justru menimbulkan kejanggalan. Mulai dari pembuka ini, pembaca akan dihadapkan pada kisah ibu dan anak yang memiliki hubungan tidak biasa. Mengapa pernyataan sang ibu harus terasa janggal? Kemungkinan apa yang terjadi pada si siswi SMA tersebut? dan apa sebenarnya arti dari "sepanjang kasih" dari seorang Ibu?
Premis buku ini menjadi menarik karena kita mungkin merasa arti "kasih ibu" teramat jelas. Ibu pasti melakukan segala yang terbaik demi anak-anaknya secara tulus. Tapi, apa memang demikian jelasnya? “Motherhood” memberi nuansa abu-abu pada makna "kasih ibu" tersebut. Minato Kanae secara manis memperlihatkan makna kelam dan tersembunyi tentang dua kata itu.
Plot cerita disampaikan dengan dua sudut pandang: ibu dan anak. Meski demikian, dunia “Motherhood” tidak berpusat hanya kepada mereka. Aku merasa buku ini cukup padat. Aku bisa menemukan kisah Ayah, Oma, Ibu Mertua, Ayah Mertua, hingga Ipar hanya dengan 300-an halaman.
Kebimbangan muncul saat aku membacanya. Meski aku diberi nuansa kehangatan, ada pula situasi yang membuatku sedih, marah, dan kecewa. Aku diberi harapan kalau keluarga ini penuh dengan kasih yang bisa kurengkuh erat-erat dalam pikiran. Tapi, aku juga tidak bisa menutup mata bahwa masing-masing dari mereka memiliki sisi gelap. Aku jadi terpikir beginilah hebatnya ikatan keluarga. Meski dalam kapal yang karut-marut sekalipun, mereka tetap terhubung.
Di sisi lain, lewat buku ini juga, aku dibuat cukup ngeri. Jangan-jangan setiap keluarga jika kita perhatikan lebih dalam memiliki "kejanggalan tak nyaman" yang sama mengejutkannya daripada hubungan ibu-anak dalam buku ini?
Terkait pion penggerak plotnya, aku merasakan sekali bagaimana Minato Kanae melakukan "pertunjukkan" bukan mendikte pembaca tentang sifat-sifat tokoh. Kita dibuat mencerna penokohan melalui kata-kata dan tindakan yang mereka lakukan. Pada awalnya, mungkin kita akan berpikir tokoh A memiliki sifat tertentu, tapi seiring dengan perjalanannya, kita terkejut dengan kecenderungan sesungguhnya tokoh tersebut. Aku juga kagum dengan penokohannya yang amat erat dengan inti pesan dari novel. Penulis menggunakan pengembangan karakter sebagai petunjuk apa yang ingin ia sampaikan.
Jika memerhatikan dengan saksama, kita akan menyadari bagaimana definisi perempuan sebagai Ibu (dan yang bukan) menurut penulis sebenarnya sudah bisa kita rasakan sejak awal buku. “Motherhood” bukan buku yang tiba-tiba ada simpulan di bagian akhir. Tapi, dari benih-benih yang disebar sedari awal, lalu tumbuh menjadi pohon yang akhirnya bisa dilihat lebih jelas.
Aku sulit memilih mana tokoh yang paling menarik dari buku ini karena setiap dari mereka memiliki potensi untuk disukai terlepas dari tindakannya yang memicu emosi. Penulis dengan apiknya dapat menunjukkan manusia memiliki sekian lapis sifat yang tak bisa hanya dikelompokkan oleh dua kubu seperti baik dan jahat.
Ada tokoh yang dapat membuatku marah pada awalnya, tapi penulis mengajakku untuk merenungi diri kalau aku pun bukan orang yang selalu berbuat baik, lalu apa jadinya jika aku membencinya? Lagipula, penulis telah berusaha memberikan sisi lain dari si tokoh yang memperlihatkan semua tindakan entah baik atau buruk selalu punya hubungan sebab-akibat. Terlebih, siapa yang menyuruh kita untuk selalu memberi kategori pada setiap orang (dan hal)? Novel ini membawaku untuk berpikir "pasrahkan saja".
Ada sesuatu yang tak bisa kita tentukan dengan penilaian yang sifatnya pasti. Seperti tokoh dalam buku ini, meski tokoh A demikian buruknya pada tokoh B, namun kita akan terkejut dengan bagaimana ia begitu baik pada tokoh C. Lalu, meski kita merasa tokoh B adalah korban dari A, kita akan kaget juga bagaimana B amat berapi-api pada tokoh C. Itu baru hubungan antartokoh. Belum pembahasan tentang latar dari setiap tokoh yang memiliki dinamikanya sendiri. Dengan latar demikian, apakah kita masih bisa menarik batas kategori dengan tegas seenaknya tanpa pertimbangan apa yang tokoh tersebut lalui?
Ada yang menarik dari "Motherhood" jika dibandingkan dengan dua buku yang membahas tentang ibu lainnya, "Confessions" dan "Penance". Jika di dua buku tersebut penulis menggambarkan sosok seorang Ibu yang bisa begitu membara ketika anaknya mengalami hal yang mengenaskan, "Motherhood" kurasa bukan perihal perbuatan nyata yang dilakukan Ibu seperti itu. Aku merasa pesan di dalam novel ini lebih kepada “teori” tentang keibuan. Selain kedua tokoh utama, aku menemukan sosok ibu dan anak lainnya sebagai perbandingan.
Ternyata, Minato Kanae sedang berusaha untuk mengklasifikasikan perempuan menjadi dua kutub kategori dan pembagian tersebut tak ada kaitannya dengan memiliki atau tidak seorang anak. Ia berusaha menjelaskan apa arti menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Dari segi efek kekalutan yang kuterima, mungkin masih kuat "Confessions" dan "Penance" (salah satunya) karena keduanya melibatkan kejadian luar biasa: pembunuhan. Rincian yang terjadi pada korban dan bagaimana itu berdampak pada sekitarnya membuat kita terbawa emosi. Namun, "Motherhood" memiliki narasi tentang keseharian sebuah keluarga yang mungkin detailnya dapat dirasakan oleh sekian pembaca. Menurutku, peneropongan secara lebih dekat tentang kondisi yang "tampaknya kerap terjadi" juga menarik. Kita diberi ruang untuk melihat dari lebih dalam. Penulis membawa kita berfokus pada hal dasar. Kita tidak perlu melihat perihal keibuan dari keadaan istimewa yang mendorong ibu menjadi seorang pelindung bagi anaknya, tapi kita bisa melihatnya dari keadaan rumah dan merenungi apa arti ibu sesungguhnya.
"apakah mungkin seorang anak yang tidak di cintai oleh orangtuanya bisa di cintai oleh orang lain?"
seorang anak perempuan yang masih remaja melakukan percobaan bunuh diri dan reaksi sang ibu di pertanyakan oleh orang-orang.
jujur ya, gue sendiri bingung gimana mendeskripsikan novel ini dalam bentuk sinopsis singkat, karena sinopsis originalnya aja cuma "seorang putri akan selalu mendambakan kasih ibunya" :) kalo bukan karya minato kanae, kayaknya gue akan ragu buat beli. tapi karena yang nulis beliau, jadi gue percaya meski sinopsisnya cuma singkat aja. soalnya sejauh ini sih gue suka sama karya-karya minato kanae, terutama confessions.
gue suka sih sama motherhood ini, unsur mother and daughter issue yang kentel kadang bikin perasaan hangat, tapi kadang juga bikin pengen ngumpat. apalagi pas baca pov ibunya, karena di sini tuh ada 3 pov, pov ibu, anak perempuan, sama ada pov guru yang sebenernya nggak terlalu mendominasi sih, lebih ke pov ibu sama anak perempuannya.
pandangan ibu dan anak perempuannya ini lah yang menarik, dinamika hubungan mereka itu rumit, serumit karakter-karakternya. sebenernya pembaca akan paham sih kenapa karakter a, b, c bisa begitu, karena background mereka menjelaskan segalanya, tapi masih aja ngeselin maaf gue emosi mulu, apalagi pas baca pov si ibu.
gue suka banget "sifat keibuan" yang di bahas di novel ini, ada satu kalimat yang membekas banget, bunyinya, "perempuan itu ada dua jenis, ibu dan anak perempuan" topik itu menarik banget, lo harus baca sendiri sih biar lebih ngena. gue tuh ngerasa banyak dapet hal baru aja setelah baca, topik tentang sifat keibuan dan hubungan rumit ibu dan anak perempuan ini emang jadi alasan utama gue memutuskan baca. tapi bukan berarti gue ga membawa ekspektasi tentang unsur thriller, iyamisu, atau plot twist yang gong di ending, tentu gue bawa itu dan sayang sekali novel ini tergolong mengecewakan kalau di bandingkan sama 2 novel sebelumnya yang gue baca (confessions dan penance)
drama keluarga juga adegan mertua dan menantu yang super drama itu justru lebih mendominasi, unsur thrillernya di awal sampe 90% menuju ending itu ga berasa. meski perasaan ngeri masih berasa sih sesekali, karena celetuk karakter "ibu" di novel ini, sumpah ya lo baca sendiri deh, dia tuh asbun banget sumpah. terus di ending plot twistnya nggak yang gong banget, biasa aja jujur.
meski begitu, gue sangat menikmati proses baca novel ini, narasinya enak, issue yang di bahas juga menarik. tapi buat kalian yang baca karena berharap akan bertemu dengan perasaan ga nyaman dan plot twist yang super mencengangkan sih, gue ga terlalu merekomendasikan. mending baca confessions atau penance aja, tapi kalo pengen baca yang "ngeri" dan lumayan ringan novel ini baru cocok.
"Tidak semua perempuan yang melahirkan anak bisa menjadi seorang ibu. Tidak semua perempuan memiliki sifat keibuan dan tanpa sifat keibuan pun, perempuan bisa melahirkan. Saya yakin ada pula perempuan yang sifat keibuannya memunculkan kuncup begitu melahirkan anak. Tetapi, di lain pihak, ada juga perempuan yang meski punya sifat keibuan, dia tetap ingin menjadi putri seseorang, ingin selalu berada di posisi yang dilindungi, dan saking kuatnya mengharapkan itu, tanpa sadar dia menghilangkan sifat keibuan di dalam dirinya" (hlmn 283)
Saya rasa paragraf di atas yang saya kutip dari dalam novel ini adalah inti dari novel Motherhood.
Seorang perempuan diperiksa oleh polisi karena dicurigai telah membunuh putrinya sendiri. Perempuan ini lalu menceritakan tentang dirinya dalam bentuk sebuah jurnal. Dia tumbuh sebagai seorang putri yang disayangi oleh Ibunya. Dia bahkan menempatkan Ibunya sebagai pusat dunianya. Namun ketika dia menikah (dengan laki-laki yang juga disukai oleh ibunya), satu per satu kejadian yang menimpanya membuatnya kehilangan kasih sayang ibunya secara nyata. Ketika dia melahirkan seorang putri, dia menjadi ragu apakah dia bisa memberikan kasih sayang yang sama kepada putrinya. Sayangnya, orang yang paling disayanginya meminta dirinya menyelamatkan putrinya ketimbang dirinya. Dia pun pindah ke rumah mertuanya, dan mendapati dirinya menjadi sasaran rasa tidak suka Ibu mertua dan keluarga suaminya. Suaminya tidak hanya diam tidak membela dirinya, dia bahkan selingkuh dan pergi dengan perempuan lain.
Di sisi lain, putrinya tumbuh dengan menyadari betapa sulit mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari ibunya. Segala upaya dia lakukan, termasuk menuruti kemauan ibunya, tetapi tetap saja ada yang hilang di antara mereka. Saat dia mengetahui alasan mengapa ibunya bertindak demikian, dia pun menyalahkan dirinya.
Jujur saja, saya jadi frustasi membaca novel ini. Dari sisi si Ibu dan putrinya keduanya bikin frustasi. Tapi kalau boleh memihak, saya mungkin condong kepada si putri, yang paling tidak sedikit memiliki keberanian mengutarakan pemikirannya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Perkenalan yang sangat manis dengan buku Minato Kanae. Aku di buat kagum dengan narasi serta alur ceritanya.
Hubungan ibu dan anak di buku motherhood ini cukup complicated. Sekilas aku melihat ibu dan anak, mereka saling menyayangi dan melindungi, tapi karena kurang komunikasi menjadikan mereka saling salah paham dan membuat pendapat sendiri.
Dapat di lihat, kalau menjadi seorang ibu benar-benar tidak mudah. Ia harus menempatkan diri sebaik mungkin, menjadi seorang istri dan ibu serta seorang anak. Belum lagi dengan keberadaan mertuanya yang tidak menyukainya, sungguh membuat tidak nyaman sekali.
Tapii, menjadi sang anak juga ngga kalah berat. Serba salah, dari sudut pandang anak-anaknya, ia merasa kasihan dgn sang ibu, di suruh ini itu, di salahkan bahkan tidak di bela oleh sang ayah, dan dia berusaha untuk membela sang ibu, tapi itupun salah di mata orang dewasa 🥺
Ada banyak perbuatan yang sepatutnya di wajarkan, tapi tidak lantas membuat orang itu menjadi buruk. Membaca buku ini lagi-lagi membuat aku sadar bahwa komunikasi itu ada sebuah kunci kedamaian, terlalu banyak prasaka dan praduga yang menjadikan Ibu dan Anak di buku ini menjadi sangat jauh.
Dengan bantuan dua sudut pandang yang di pakai di buku ini, kita bisa melihat dari bebeberapa sisi dan tidak langsung menjugde salah satu karakternya.
Pedih rasanya hati aku membaca buku ini, butuh beberapa kali untuk berhenti dan melepaskan sesak di hati. Banyak kalimat di buku ini yang membuat aku merenung, kelak saat aku akan jadi seorang ibu, siapa yang akan lebih aku pilih dan aku utamakan, seorang ibu yang sudah membesarkan aku, atau seorang anak yang akan aku besarkan?
“Tidak semua perempuan yang melahirkan anak bisa menjadi seorang ibu. Tidak semua perempuan memiliki sifat keibuan dan tanpa sifat keibuan pun, perempuan bisa melahirkan.”
Awalnya saya takut membaca novel ini karena membaca review yang mengatakan novel ini cukup kelam, apalagi saya baru mulai kembali membaca setelah bertahun tahun reading slump.
Novel ini sesuai dengan judulnya, berusaha mengeksplor arti dari "motherhood". Ada 3 karakter dari 3 generasi yg berbeda yg menjadi titik utama novel ini, yaitu oma, ibu, dan putri.
Di bab awal awal mungkin agak terasa sedikit membingungkan ceritanya mau dibawa kemana, karena cerita ditarik mundur sangat jauh sekali. Yaitu ke masa masa awal pernikahan si ibu dengan tadokoro (sang suami). Akan tetapi lambat laun pecahan puzzle cerita mulai tersusun dengan baik, dan menuntun pembaca ke hubungan antara ibu dan anak yang memang cukup rumit.
Memang novel ini cukup kelam/dark karena semua karakter membuat geleng-geleng kepala, ada saja kelakuan mereka yang membuat saya merasa "kok bisa sih ada orang yang kayak gini". Akan tetapi lambat laun saya merasa cerita ini sangatlah realistis. Dan kerealistisan itu yang membuat hati saya terasa tersayat.
Yang sedikit disayangkan adalah epilognya yang terlalu terburu-buru. Akhir ceritanya sendiri merupakan time skip sekitar 15 tahun pasca kejadian utama, yaitu bunuh dirinya si putri. Sehingga kompleksitas hubungan ibu dan anak yang sudah dibangun di bab-bab sebelumnya terasa diakhiri dengan begitu saja.
Oleh karena itu saya tidak memberikan rating yang sempurna untuk novel ini. Akan tetapi bila anda ingin membaca novel yang mengeksplorasi kerumitan hubungan ibu dan anak serta makna dari menjadi seorang ibu, maka saya sangat merekomendasikan novel ini!
Novel ini adalah novel pertama karya minato kanae yang saya baca, dan saya menyukai gaya penulisannya. Saya tentu aku mencoba membaca karyanya yang lain.
"Kasih Ibu" sudah jelas ibu akan melakukan semuanya demi anaknya. Apa benar demikian? Buku ini memberikan nuansa abu-abu tentang makna dua kata tersebut.
Diceritakan lewat dua sudut pandang ibu dan anak. Dari sudut pandang ibu kita akan mengetahui bahwa menjadi ibu tidaklah mudah. Apalagi semenjak pindah ke rumah mertua. Ia dijadikan bak sebagai pembantu dan selalu salah di mata mertua, hingga akhirnya sang anak menjadi korban pelampiasan kekesalannya.
Dari sudut pandang anak, ia merasa kasihan dengan sang ibu, ia mencoba membantu sang ibu di rumah neneknya. Ia mencoba membela ibunya namun ia tetap salah di matanya. Ia hanya butuh kasih sayang ibunya.
Meskipun hanya menggunakan dua sudut pandang semua tokoh diceritakan secara detail, saya bisa menemukan kisah Ayah, Oma, Ibu mertua, Ayah mertua hingga Ipar dalam 300 halaman.
Alur cerita terasa lambat di awal, konflik mulai terasa ketika kejadian kebakaran menimpa keluarga mereka, hingga terpaksa harus pindah dan tinggal bersama mertua.
Plot twist? tentu saja, bagai sayur tanpa garam jika tulisan Minato Kanae tidak ada hal tersebut. Jadi bisa persiapkan diri sebelum membaca.
Membaca buku ini lagi-lagi membuat saya sadar bahwa diam saja tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah banyak masalah dan membuat prasangka yang bahkan tidak tentu kebenarannya.
I chose this book because of the name 母性 (motherhood) and because I know Kanae Minato through movies based on her work.
The story starts with a newspaper article about a girl who has been in a coma since falling out of a window. They do not know if it was a mere accident or a suicide attempt. The mother's statement reads "I cannot believe that something like this would happen to my daughter, who I brought up with all the love I can give".
Each of the chapters is divided into three sections: 母性について (About motherhood), where a school teacher who is interested in the case talks to an older colleague who used to teach the girl in question; 母の手記 (The mother's memorandum), where the mother of the girl writes to a Father; 娘の回想 (The daughter's reminiscence) where the comatose girl tells her story.
It all begins with Mother (I don't think she is named in the book) talking about her love for her own mother (Grandma for the means of this review). She loves Grandma so much, she does everything she does for her, thriving on her praise. Same when she gets into a relationship with Tadokoro, who she meets at a painter's club. While Mother herself thinks he is a bit dull and his paintings are too dark, Grandma praises the paintings. This is the only reason Mother gets married - to make her mother happy.
They move into a small house provided for by Tadokoro's family and after a few years have a girl, Daughter (her name is only mentioned in the last few pages of the book). Everything is going well, until one day, while Grandma stays with them, the house collapses due to a typhoon and Grandma and Daughter are trapped under heavy furniture. Mother doesn't even think of her little daughter, who is six at the time, but tries to rescue Grandma instead. Daughter has to be rescued by her father, who had been at work for his night shift. Grandma's dying wish is for Mother to "love the child as much as you can".
The small family moves to their in-law's house, where Mother is made to work the rice fields, clean the house and cook, without receiving any praise or money. The family's own daughters don't have to lift a finger and Tadokoro, Mother's husband, doesn't ever defend her. Mother believes that if her in-laws just see what a great person she is, they will understand. Of course, this never happens. In the meantime she steadily ignores Daughter, who she blames for Grandma's death, for four years and doesn't even touch her. When after those four years Mother tries to caress Daughter's face while Daughter is asleep, her hand is pushed away - which she blames on Daughter. Anything is blamed on the daughter really. "Why doesn't this child understand?" "Why does a child like this have a mother, when I do not have one anymore?" "If this was me, I would react like XXX, why doesn't this child?" "I love her so much, why doesn't she turn out the way I want her to?".
I'll keep the recounting of the story at this, because it's enough to make my point. I loathe this woman (Mother). Sacrificing herself for no proper reason, working for her in-laws, being pushed around by her sisters-in-law, making her daughter work for her in-laws, staying in a relationship with a husband who defends her only ONCE in their entire marriage and doesn't help around the house either. All for some missunderstood sense of responsibility to a woman who is dead. "I keep on going, because I know that my mother would be proud of me." I felt like taking this woman by the shoulders and shaking her. Probably while screaming GET THE FUCK OUT OF THERE, DON'T YOU SEE WHAT YOU ARE DOING TO YOUR DAUGHTER? I mean, she doesn't know what she is doing to her daughter, because everything Daughter does to help or to protect her mother is entirely missunderstood. You cannot just ignore a child for years and years, throwing horrible things at their head, and then expect that child to be happy-go-lucky "I love you mummy". Not to be missunderstood, Daughter loves Mother. But years of being shunned by her mother, pushed away by her father and loathed by her grandmother have taken their toll. At one point she says "My mother hates me so much, she wants to kill me."
Of course, both Mother and Daughter are unrealiable narrators. Mother obviously has a problem, thinking of herself as saint-like (though not as much as Grandma, who is the judge over all of Mother's life. "What would mother think of me?" Grandma herself appears as a very lovely person though, so the blame isn't on her), and taking on all punishments in hope of things getting better. Coupled with a healthy dose of "Why does this child have a mother, when I do not have a mother anymore?". Daughter is just distraught, trying to do the right thing while being pushed around by all of her family, longing for love from her mother, while expressing her own in ways that her mother doesn't understand. At one point in the book, one stretches out her arms to hug the other - who interprets it as an attempted strangling.
Minato Kanae has managed to write an extremely compelling story, making me want to read on while being so invested that I wanted to scream at the characters (see above). We just do not know what to believe, when even the conclusion of the whole mess just doesn't ring quite true.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bacanya capek, tapi endingnya mengharukan. Sangat berbeda dgn karya Minato Kanae lainnya. Buku ini membuatku banyak belajar tentang hubungan, jalinan kasih dan bahasa cinta antara orang tua dan anak.
Bingung harus nulis review apa setelah baca. Banyak mikir, trus diem trus merasakan rasanya jadi si ibu, jadi si anak. Ah rasanya diobrak-abrik perasaan ibu dan perempuan dalam buku ini.
INI BUKU PECAHHH BANGETT!!!! walaupun emang bener semua karakter di buku ini "sakit" dan pas baca aku merasa sedikit pusing, tapi buku ini bisa dibilang bagus banget
Sudah lama aku nggak merasa ‘sepenuh’ ini dalam membaca buku baru, lebih tepatnya tahun ini karena beberapa buku yang aku baca kurang memenuhi ekspektasi. Tapi kebalikannya, Motherhood juga tidak memenuhi ekspektasiku, dalam artian buku ini malah jauh melampauinya. Novel ini memberi kedalaman konflik internal dua karakter utamanya, sang ibu dan anak perempuan, dibanding menyajikan thriller yang mencekam seperti buku Minato Kanae yang lain. Bahkan bisa kubilang kesan yang kudapatkan dalam buku ini justru kelewat ‘dingin’. Jadi, untuk pembaca yang berharap akan plot yang sedemikian tidak tertebak dan sensasi berdebar-debar dari genre thriller, sepertinya akan kecewa, terlebih karena konfliknya lebih banyak bermain di ‘dalam’ yang mungkin akan terasa membosankan bagi sebagian pembaca.
Dan sepertinya akan banyak yang skeptis kenapa novel ini oleh sebagian orang dikategorikan sebagai novel feminisme. Bagi banyak orang, penindasan terhadap perempuan selalu dilakukan oleh laki-laki. Mereka lupa, bahwa para perempuan patriarkis bisa lebih sadis dalam menyiksa kaumnya sendiri. Bagi mereka, sudah sewajarnya tugas perempuan adalah melayani orang lain, bertutur yang lembut, penurut, dan menghindari konflik agar harmoni tetap terjaga. Tapi untuk apa menghamba penerimaan masyarakat jika bertumbuh membunuh diri dan melahirkan yang dibenci?
Perempuan saling menuding perempuan lain, perempuan saling memeringkat satu sama lain. Dan pembaca pun turut menuding sang perempuan. Mengapa tidak meminta pertanggungjawaban lelaki pengecut yang menjadi sumber konflik keluarga besar ini? Mengapa bisa mengasihani trauma sang laki-laki sehingga membiarkan diam dan kaburnya? Itulah keberhasilan misogini yang terinternalisasi, sehingga kita pun luput ada ketidakseimbangan kekuatan di antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, yang membuat pihak perempuan lebih rentan 'dikutuk' masyarakat.
Kita pun dibuat terlalu terfokus pada judul buku ini Motherhood. Sedikit dari kita yang menggugat Fatherhood, sosok orang tua yang dipersilakan absen dalam keluarga intinya. Semua sibuk mendefinisikan keibuan itu seperti apa, lagi ribut mengisi dan terus menambah checklist. Beban pengasuhan adalah kodrat perempuan, pengasih adalah perempuan, pekerja rumah tangga juga harus perempuan. Anak yang nakal pun salah ibunya (perempuan). Agaknya penamaaan khusus yang bergender ini memuluskan kelicikan laki-laki untuk merendahkan perempuan, karena apapun yang mereka lakukan tidak akan pernah cukup.
Sekarang, beralih ke feminitas beracun yang mengakar dari silsilah keluarga ini. Sang nenek, tidak juga bisa memberikan kasih sayang tulus tanpa mengharapkan kebaikan anak perempuannya. Sang nenek, juga yang menjerumuskan sang anak ke neraka barunya. Kepatuhan anak tentu mutlak, apalagi memaksa patuh perempuan, terlebih di kalangan masyarakat Asia yang menjunjung tinggi harmoni dalam hierarki dan komunalitas. Sang anak, walau tumbuh dengan sedikit keraguan akan penerimaan ibunya, tetap dilimpahi lebih banyak kasih sayang karena waktu luang ibunya. Tidak adanya sosok ayah dalam kasus ini bisa jadi membuatnya tidak bisa membandingkan peran keduanya, yang dalam masyarakat kebanyakan jelas berat sebelah. Absennya ayah membawa berkah karena merekatkan mereka.
Lalu sang anak melahirkan anak. Kini ia berstatus ibu. Kini ia juga harus mengalirkan darah dari ibunya, putrinya harus menjadi cerminnya. Semua akan baik ketika ibu dan ayah akur sehingga masing-masing pun dalam caranya sendiri bisa meluangkan momen kecil yang berharga bagi sang putri. Namun di sini pun sang ibu merasa kalah saingan dengan ‘ibunya’ karena sang anak lebih mencintai nenek, sosok yang dianggap memberi cinta tanpa syarat, yang tidak membebankan ekspektasi padanya dalam membahagiakan dan membanggakan dirinya sebagai representasi anak dari ibunya. Yang ia pahami, kasih akan terjalin ketika tak perlu terhubung langsung dan bertemu setiap hari, cinta dengan hormat otomatis bertumbuh ketika dua pihak hanya perlu hadir dan saling menemani.
Tapi tatkala keluarga kecil itu diseret masuk ke dalam keluarga yang lebih besar, ketentraman itu¬—kesetaraan dan waktu luang—binasa. Penguasa rumah ditentukan berdasarkan hierarki usia, status kepemilikan, dan darah pemilik rumah. Pada gilirannya, perempuan mendapat akses untuk ‘juga dilayani’ perempuan lain dengan berbayar hinaan sepanjang hari dan sandera yang lebih kecil. Akhirnya ada ‘samsak’ baru yang tidak akan memantulkan kemarahan yang sama. Itulah tugas perempuan dari keluarga yang lain, menjadi ‘pijakan’ keluarga laki-laki.
Ia sudah menetapkan diri melayani ‘yang di atas’. Sang perempuan bahkan tak lagi terhubung dengan dirinya sendiri, apalagi memberi perhatian sang anak. Tapi agaknya ia direndahkan karena anak perempuan bukan ‘karunianya’. Bahkan perempuan di atasnya pun lebih memilih laki-laki daripada perempuan yang sudah ada. Ironis bahwa perempuan ditumbuhkan untuk menolak sebisa mungkin eksistensi perempuan lain, tapi dengan tangan terbuka begitu bermurah hati pada laki-laki. Itulah tugas subtil perempuan sepanjang hidup, untuk saling berkompetisi memperebutkan afeksi pihak laki-laki dalam keluarga.
Lalu kepada siapa si anak bisa berharap? Yang terhubung dengannya sebelum kelahiran adalah sang ibu, yang melekat dengannya pada masa kecilnya. Di mata anak, ia merindukan sang ‘induk bebek’, subjek pertama yang dilihatnya, yang menjadi begitu berharga karenanya. Sang ibu gagal menjadi ibu karena ia lebih suka berstatus sebagai anak perempuan ibunya. Agaknya benar bahwa tidak semua perempuan pantas menjadi ibu. Ironis, karena bahkan perempuan sendiri lebih memilih sebagai pihak yang diberi kasih sayang, juga sebagai pihak yang harusnya paling dikasihani karena segala pengorbanannnya. Inilah sosok perempuan yang mengamini hierarki gender untuk menguntungkan dirinya sendiri.
Memfasilitasi anak tidak cukup membuatnya bertumbuh, apalagi menjadi ‘ideal’. Dan aku rasa trope ‘pengabaian emosional’/emotional neglect ini cukup jarang diangkat dalam karya fiksi sebagai sumber trauma terbesar yang membentuk manusia, padahal dalam realitanya banyak anak yang menjadi korban. Hanya saja, masyarakat, atau pop culture secara general lebih menyukai trope ‘physical abuse’ sebagai alasan seorang anak layak dikasihani. Pengabaian emosi dianggap sebatas ‘alasan cengeng’ tanda tidak bersyukur karena sang anak setidaknya masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mereka lupa bahwa kebutuhan anak juga untuk belajar sebagai manusia, belajar melihat cinta, belajar menerima cinta, dan lalu mempraktikan cinta pada manusia lainnya sepanjang hidup. Jika sedari kecil manusia dianggap tidak seberharga itu, lalu apa pentingnya memutuskan untuk tetap tumbuh ‘menjadi manusia’?
This entire review has been hidden because of spoilers.
I finally did it, after *looks down* THREE MONTHS. I finished reading my first novel completely in Japanese... No rating because I'm not confident enough in my understanding that I want to skew the average with something I may have not understood all the nuances of.
Anyway, as for my enjoyment with what I did understand, I picked this up after seeing the movie trailer and thinking it sounded right up my alley. I love me some complicated mother-daughter relationships. Unfortunately I took so long reading that I missed the film in theaters, but whatever.
I enjoyed the alternating POVs telling the same scenario, though sometimes I wish Sayaka's had had a few more differences added to it. I also found some characters and plot points to be a bit lacking in their relevancy, but this could have been me missing nuances since my Japanese isn't up to par. I wouldn't mind revisiting this book if it ever got translated, or when my Japanese improves to a point it's worth it.
Exemplary display of story writing skills: same events from two different POVs and unreliable narrators, both elements well played by Minato Kanae. I am amazed at how she always manage to challenge the most ambiguous and subjective part of human nature, this time surrounding the theme of maternal instinct. We always describe it as an instinct, as if women are born with it and become a mother naturally. Yet we forgot that women are also daughters, who yearn for protection and love rather than protecting and loving. The way each of us define 'love' is also different, even for mother and daughter. Human relationship is so complex that nothing comes naturally, yet we always forget this and grow further and further apart without bothering to talk about our expectation, our need and how we want to love or be loved.