Tak ada kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.
Irfan, seorang agen senior SEABI yagn telah lama pensiun, tersentak mendengar kenyataan ini. SEABI, sebuah biro penegak keadilan dan kebenaran yang beroperasi di Asia Tenggara, di ambang kehancuran akibat ulah salah seorang agennya yang culas.
Dengan kecerdasan dan keculasannya, dia berhasil mengadu domba rekan danpara petinggi SEABI. Agen culas ini, nyaris menggapai apa yang diimpikannya; meraih jabatan tertinggi di biro, termasuk menghabisi Irfan!
Irfan pun meradang, dia kembali berjibaku dengan peluru dan bau mesiu, berusaha menguak siapa dalang di balik keretakan SEABI.
Siapakah dia?! Irfan telah siap emgnarahkan ujung pistol ke arahnya!
3,5/5 Membaca ulang salah satu koleksi masa SMP, yang isi ceritanya udah ga ingat sama sekali tentang apa. Ternyata masih cukup menyenangkan untuk dibaca.
Menceritakan tentang seorang agen rahasia (untuk kawasan negara ASEAN) yang terpaksa kembali bertugas demi menguak siapa pengkhianat di dalam Biro tempat ia dulu bertugas.
Ehm ... dapat buku ini di pameran buku murah dan karena cukup tipis, cukup dibaca 4 jam saja.
Ide ceritanya menarik, tentang sebuah badan spionase gabungan yang dibentuk negara-negara ASEAN guna menangani kontra spionase intelijen negara barat serta memutus mata rantai transaksi ilegal di ASEAN seperti transaksi narkoba (yang biasanya berpusat di Thailand) dsb.
Plotnya wajar untuk sebuah novel spionase, ada agen-super-duper hebat seperti James Bond yang di sini namanya Irfan serta ada pengkhianat dalam organisasi.
Tapi novel ini punya kelemahan fatal di antaranya : 1. Afifah - saat bertugas di lapangan memakai model jilbab los. Oke ... rasanya nggak lazim lihat agen lapangan yang banyak melakukan aksi-aksi berbahaya pakai jilbab yang menurut saya malah bikin ribet.
2. Irfan, saat pertama kali dikenalkan oleh penulis, seolah menceramahi Dirgo - yang juga agen senior seperti dirinya - bak Dirgo itu anak kecil yang nggak tahu apa-apa. Oke, mungkin supaya pembaca ngerti latar belakangnya Irfan ya? Tapi haruskah dijelaskan dalam dialog seperti itu?
3. Irfan selalu dapat bantuan di saat yang tepat, jadi kerasa kurang tegang saja.
4. Irfan dan Erlangga itu eks-Kopassus? Sayangnya latar belakang mereka yang ini tidak diceritakan lebih lanjut.
5. Wut? Wut? Wut? Lambas - seorang ahli komputer (dan saya yakin juga ahli sandi dan kriptografi) bisa ceroboh mengenali IIB dengan I-IB?
6. Dan yang terakhir, di endingnya saya menangkap kesan seperti ini : BELUM CUKUP BANYAKKAH MASALAH DI ASIA TENGGARA DARI MYANMAR - INDONESIA sampai Irfan harus dikasih tugas ke Palestina? Oke, saya bukannya pro-Israel atau anti-Palestina sih, tapi kayaknya masalah di Asia Tenggara saja sudah cukup pelik untuk diurusi Seabi (dan Andromeda), ngapain pula harus urus Palestina?
saya lupa detail cerita di buku ini, kalo nggak salah saya baca buku ini waktu masih SMP ... tapi saya ingat saya pernah suka pada buku ini, sekarang dimana ya ? hmm, bikin galau deh kalo inget-inget buku yang petak umpet entah dimana :p