Bukan hanya candi-candi peninggalan Dinasti Syailendra, petualangan Asisi Suhariyanto serta Selviya Hanna juga termasuk pada dinasti turunannya!
Perpaduan yang pas, begitulah sampul buku ini. Lampiran berupa foto dan infografis—dibuat oleh Selviya—pun menemani pembaca menyusuri peninggalan yang tersaji, sehingga terasa dekat. Deretan candi seolah mengajak kita untuk turut datang. Gaya bahasa yang santai sekaligus bernuansa behind the scene; terselipkannya dialog pasangan tersebut. Penyampaiannya menyiratkan Asisi sebagai penulis, sedangkan Selviya, pembaca yang kritis.
Catatan kaki yang melimpah menjadi tanda, meskipun sebuah catatan perjalanan, fakta historis yang tertera juga dapat dipertanggungjawabkan setelah kritik dan interpretasi sumber. Mulai dari buku, artikel jurnal, hingga wawancara. Peristiwa-peristiwa coba dibandingkan dengan kejadian di belahan dunia lainnya pada periode yang sama. Relevansinya tetap terasa, salah satunya soal penjarahan dan vandalisme artefak.
“Dari Dieng hingga Liyangan, saya melihat bagaimana pengaruh asing mencoba menghegemoni Jawa, tapi hanya bisa diterima jika sudah hancur lebur dengan kelokalan kita hingga menjadi sintesisi baru.”—Halaman 83.
Asisi (2024:82) sempat menyebutkan dugaan bahwa tidak adanya korban jiwa erupsi bisa jadi disebabkan binatang yang turun dari gunung, alhasil mereka ikut menyelamatkan diri. Lalu, “apa yang menyebabkan Situs Liyangan ditinggalkan? Apakah tidak ada upaya untuk membangun ulang pemukiman kembali?
Kode batang yang ada di setiap awal bab mengarah pada video terkait—menuju ke akun YouTube "ASISI Channel", isinya dengan catatan perjalanan keduanya kurang lebih serupa. Di satu sisi menjadi alternatif—bentuknya audio-visual, tetapi hal tersebut pun terkesan mengurangi kandungan buku.
Hal lainnya mengenai layout, banyak ruang yang masih tersisa pada halaman, saya rasa dibandingkan menyesuaikan pada hal tersebut, buku ini disusun dengan menyertakan foto penjelas pada halaman yang sama dengan topiknya. Sedikit saran, bila ruang nanggung, agaknya foto bisa dibuat menjadi potrait agar lebih rapi dan bervariasi. Omong-omong variasi dan kerapihan, rupa huruf pada sub-pembahasan akan lebih mudah dibaca jika disamakan dengan jenis huruf bagian isi paragraf.
Fungsi, struktur, juga hubungan candi bersama manusia—menjadi saksi, terkandung di dalam buku berbarengan dengan pengetahuan penting lain, tetapi tenang, penyampaian serta lampiran membantu pembaca untuk dapat memahaminya. Mengenai hal yang sedikit mengganggu lebih pada selera subjektif saya pada aspek teknis; 3,75/5.