Tiong-tsiah, si Gampang Lapar, begitu Papa memanggil Gongka. Tapi, kalau punya ayah yang jago masak apa saja, mulai bihun bebek, dadar tiram, bakcang, mi teh, kari daging, sampai kue-kue yang ketika digoreng menguarkan aroma manis yang memenuhi rumah, kau pasti akan gampang lapar juga seperti Gongka. Belum lagi jika Mama membuat sayur asem sedap dengan potongan ikan asin jambal roti. Surga sudah. Tak hanya itu, penjual makanan enak setiap hari berkeliling di gang tempat tinggal Gongka.
Permainan Gongka dan teman-temannya seru dan menyenangkan, seperti lompat tali, masak-masakan, taplak gunung, ataupun petak umpet walaupun kadang saat sial bisa menginjak tahi ayam.
Frisca Saputra mengenang masa kecilnya di kawasan Pecinan Jakarta yang penuh warna dalam Gongka, karya pertama seri Cerita Istimewa baNANA.
Kalau kamu suka Na Willa, pasti kamu juga akan sayang pada Gongka. 'Gongka' menceritakan masa kecil penulis hidup di Pecinan Jakarta sebagai anak dari tukang kue. Isinya terdiri dari tulisan-tulisan pendek yang tidak harus dibaca secara berurutan, namun semuanya menimbulkan rasa hangat dan kebanyakan menerbitkan air liur. Penulis mendeskripsikan berbagai makanan dengan cara yang entah begitu menggiurkan sehingga membacanya membuat saya kerap mencari kudapan tengah malam 😂 Berbagai jajanan pasar hingga menu tradisi keluarga diceritakan dengan seru dan menyenangkan.
Walaupun demikian ada cerita-cerita yang mengharukan juga mengenalkan kita pada nilai-nilai dan budaya Tiong Hoa yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Saya sih suka sekali dan berharap ada lebih banyak banyak 'teman' Na Willa ❤️
Bagus. Tetapi benar-benar seperti mendengar penulis mendongeng di depan kita, nyantai sekali dan lompat sana lompat sini. Gongka beneran masih kecil dan menggemaskan, tapi yang paling seru yaaaa sebab semua membicarakan makanan.
Andai Frisca menulis lebih panjang dan padu, sebagaimana "memoar" atau novel akan lebih menarik. Sebab ini potensial menjadi cerita yang cakep banget.
Seru sekali seperti membaca diary anak tahun 80an kala itu. Pecinan di Jakarta selalu menarik sih, banyak makanan enak. Itu terlihat banget dalam cerita Gongka. Mana ngomongin makanan yang enak-enak pula. Keluarga tionghoa memang biasanya seseru itu, ya tradisinya, keluarganya dan jg kerja kerasnya.
Cute and warm. relatable with the rumah di gang situation. Satu hal yang agak kupikirkan adalah ini penceritanya usia berapa ya? Karena aku membayangkannya yang bercerita juga masih anak-anak.
Baca Gongka tuh bikin lapar. Semua catatan-catatan soal makanan, kudapan, dan banyak hal yang terikat dalam memori soal dapur dan budaya makan keluarga Gongka itu kuat sekali.
Kumpulan esai ini manis. Sebagai pembaca, aku merasa digandeng tangannya oleh Gongka dan diajak menjelajah waktu. Aku bisa membayangkan aroma makanan dari uap yang keluar dari tungku dapur mama dan papa. Aku bisa ikut merasakan sibuknya dapur rumah Gongka yang mungkin beraroma macam-macam: bahan makanan, hasil masakan, sabun cuci piring, dan aroma khas dari bak cuci pirinh yang terus dialiri air (ini bayanganku aja). Bahkan, aku juga bisa ikut jengkel sama pemilik pohon belimbing pelit dan songongnya anak kepala sekolah. Aku bisa merasaman pula riuhnya suara gang. Sibuk.
Catatan manis soal senangnya pergi ke Gloria bersama mama dan papa juga melekat sekali. Aku jadi ikut mengingat-ingat bahagianya aku kalau tiap ayahku terima gaji, kami (aku, ayah, dan ibu) akan pergi ke Sanrio untuk belanja bulanan dan aku selalu dibelikan roti untuk dimakan pakai es krim.
Intinya di ulasan soal Gongka ini, aku cuma mau ikut merayakan kalau kadang, aroma-aroma dari masa kecil itu masih kita simpan dan ingat betul. Pernah nggak sih, out of the blue gitu mencium aroma sesuatu lalu langsung teringat sama masa kecil? Kalau buatku, itu adalah aroma pohon bambu dan asap pembakaran daun kering (sedih banget).
Nggak pernah terpikir olehku sebelumnya kalau aku akan butuh banget baca buku seperti ini untuk dibantu merayakan masa kecil. Mbak Frisca nulis terus ya... Aku pasti baca lagi! 🥹🩷
Buku yang ringan dibaca untuk mengisi waktu luang yang singkat. Aku menuntaskannya kurang lebih selama satu setengah jam di kafe. Buku ini bercerita tentang keseharian Gongka (Yap Mu Yung) yang hidup di gang kawasan Pecinan, Jakarta. Beberapa ceritanya mengingatkanku pada masa kecil. Hal ini membuat hatiku menghangat dan bibirku melukis senyum. Masa-masa itu adalah bagian terindah ketika aku dan teman-teman puas bermain. Di samping itu, buku ini juga memberi gambaran tentang makanan dan budaya Cina (khususnya Hokkien). Menarik.
Aku merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang suka genre slice of life heart warming dan yang ingin tetap membaca pada waktu sibuk (karena benar-benar ringan!).
Setelah membaca Red Dragon yang berat dan brutal, rasanya pas milih Gongka sebagai bacaan berikutnya.. Gongka ini bacaan ringan, lucu dan gemas, semacam biografi atau memoir sang penulis juga, sehari selesai, menghibur sekali hanya kurang "dalam" 🤭🤭🤭
Buku Gongka berhasil menghadirkan eksplorasi mendalam tentang budaya Tionghoa, khususnya bagi mereka yang ingin lebih memahami akar budaya peranakan. Dalam diskusi yang dipandu oleh Ko Fredric dan Ai Frisca, pembahasan berlangsung dengan sangat informatif dan mendalam yang memberikan wawasan yang lebih luas mengenai identitas Tionghoa Indonesia.
Sesi diskusi ini terasa begitu edukatif karena menghadirkan berbagai perspektif dan kajian mendalam. Banyak peserta yang awalnya merasa kurang memahami budaya Tionghoa justru menyadari betapa kaya dan kompleksnya warisan tersebut melalui buku Gongka. Harapannya, kajian-kajian semacam ini dapat terus dilakukan agar warisan nilai budaya tetap lestari.
Salah satu aspek menarik dari Gongka adalah gaya penulisan yang ringan dan mengalir. Kisah masa kecil penulis disampaikan dengan cara yang menyenangkan, penuh ilustrasi imut yang membuat pembaca tersenyum sepanjang membacanya. Meski demikian, beberapa pemilihan kata dalam buku ini cukup eksplisit, sehingga lebih cocok untuk pembaca berusia 18 tahun ke atas.
Kelebihan lain dari buku ini adalah dokumentasi mendetail tentang kehidupan sehari-hari komunitas Tionghoa Hokkian. Pembaca akan menemukan kosakata bahasa Hokkian, resep masakan khas, hingga kebiasaan keluarga penulis. Salah satu kutipan yang menjadi pengingat bagi banyak peserta diskusi adalah: "Kesulitan hari ini biar buat hari ini saja." Sebuah pesan sederhana namun begitu dalam maknanya.
Penulis, Frisca Saputra, membagikan kisah masa kecilnya, termasuk tantangan yang dihadapinya selama era Orde Baru hingga Reformasi. Pengalaman hidupnya memberikan pelajaran berharga tentang perjuangan dan identitas dalam lingkungan yang terus berubah.
Banyak peserta diskusi yang merasa nostalgia saat membaca buku ini, terutama mereka yang memiliki kenangan tumbuh besar dalam komunitas Tionghoa Indonesia. Buku ini berhasil menggugah memori masa lalu dan menghadirkan kembali suasana hangat dalam kehidupan keluarga peranakan.
Presentasi yang dibawakan oleh Ko Fredric sangat mendetail dan berbobot. Analisisnya mengenai budaya dan identitas Tionghoa Indonesia memberikan tambahan wawasan yang luar biasa. Namun, beberapa peserta merasa informasi yang disampaikan cukup padat untuk durasi diskusi yang terbatas, sehingga sulit untuk mencerna semua poin yang dibahas.
Secara keseluruhan, buku Gongka memberikan pengalaman membaca yang heartwarming dan informatif. Dari kisah lucu masa kecil hingga momen-momen haru yang menggugah emosi, buku ini sukses membawa pembaca masuk ke dalam kehidupan penulis dan memahami lebih dalam budaya peranakan Tionghoa. Bagi mereka yang tertarik pada sejarah dan budaya Tionghoa, Gongka adalah bacaan yang sangat direkomendasikan.
Kisah masyarakat Tionghoa di Indonesia kerap menjadi sorotan, terutama saat momen perayaan Imlek tiba. Tradisi, budaya, hingga perjalanan sejarah mereka yang penuh warna sering menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Namun, bagaimana jika cerita-cerita tersebut dihadirkan dalam bentuk kisah yang lebih personal, ringan, namun menyentuh?
Buku "Gongka: Cerita-cerita dari Pecinan Jakarta" karya Friska Saputra, yang diterbitkan oleh Penerbit Banana, menawarkan perspektif yang segar dalam menceritakan tentang kehidupan masyarakat Tionghoa di kawasan Pecinan Jakarta. Buku ini ibarat diary dari penulisnya, yang merupakan keturunan Tionghoa, tentang masa kecilnya yang besar di kawasan Pecinan Jakarta. Disampaikan dalam bentuk kumpulan cerita pendek yang dilengkapi dengan ilustrasi di beberapa bagian, buku ini sangat ringan untuk dibaca dan membuat kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan penulisnya kala itu.
Dalam salah satu diskusi bukunya, Frisca mengungkapkan bahwa Gongka ditulis selama empat tahun, dimulai sejak ulang tahunnya yang ke-50. Pada momen tersebut, ia mengikuti kelas menulis yang diadakan oleh Reda Gaudiamo, yang kemudian melahirkan beberapa cerita pendek. Salah satu benang merah dari tulisan-tulisannya adalah kenangan masa kecilnya di Pecinan Jakarta—memori yang begitu membekas hingga dewasa. Sejak saat ini Frisca mulai mengumpulkan kembali cerita-cerita masa kecilnya. Membaca Gongka membuat kita memahami mengapa kenangan itu begitu kuat: masa kecil Frisca, yang meski dilalui dalam kesederhanaan, dipenuhi dengan kehangatan keluarga yang tulus dan bersahaja.
Bisa dibilang sekitar setengah dari buku ini bercerita tentang makanan. Ada bagian yang bercerita tentang bihun bebek, onde ronde, mi teh, sekba (semacam kuah semur Cina yang encer berisi daging dan jeroan babi), siomai Koh Aseng, bubur ubi, o-cien (dadar tiram goreng), sayur asem dengan ikan asin jambal roti, sate ayam Madura, dan masih banyak lagi. Bahkan di beberapa cerita makanan dilengkapi juga dengan resep turun-temurun dari ayahnya. Belum lagi cerita-cerita tentang dapur dan segenap aktivitas di dalamnya yang membuat kita bisa merasakan bahwa keluarga ini menempatkan makanan sebagai pusat dalam interaksi keluarga. Menurut Frisca, keluarganya merupakan keturunan Cina Hokkian, yang di dalam tradisi memang dikenal sebagai yang suku yang hobi makan. Bahkan Frisca oleh ayahnya sering disebut Tiong-Cia yang artinya pelapar, maksudnya doyan makan.
Buku ini juga menggambarkan beberapa tempat di kawasan Pecinan Jakarta. Salah satunya adalah Gang Pengukiran V, tempat Frisca tinggal, yang digambarkan sebagai gang yang sangat sempit—hanya cukup untuk satu motor. Meski begitu, gang kecil ini menjadi tempat lahirnya banyak cerita, mulai dari kehidupan berteman dan bertetangga, toleransi yang terjalin di antara warga yang beragam, hingga berbagai jajanan yang ada disana. Selain itu, Frisca juga bercerita tentang Mall Gloria, pusat perbelanjaan terbesar dan paling hype di kawasan Pecinan kala itu. Kini, gedung tersebut masih berdiri dan direnovasi menjadi Pancoran Chinatown Point, yang menurut Frisca sudah jauh berbeda dari bangunan aslinya. Jika kamu sudah membaca buku ini, kamu pasti setuju bahwa membaca Gongka akan membuatmu ingin menyusuri kawasan Pecinan Jakarta, sembari bernostalgia dengan cerita-cerita yang ditawarkan dalam buku ini.
------------------------------------------------
The stories of the Chinese-Indonesian community often come into focus, especially during the Lunar New Year celebrations. Their traditions, culture, and colorful historical journey are fascinating topics to explore. But what if these stories were presented in a more personal, lighthearted, yet touching way?
The book "Gongka: Cerita-cerita dari Pecinan Jakarta" by Frisca Saputra, published by Penerbit Banana, offers a fresh perspective on the lives of the Chinese-Indonesian community in Jakarta’s Chinatown. This book feels like the author’s personal diary, reflecting her childhood experiences as a Chinese-Indonesian growing up in Jakarta’s Chinatown. Presented as a collection of short stories complemented by illustrations, the book is an easy and enjoyable read, vividly bringing to life the world of the author’s youth.
In one of her book discussions, Frisca revealed that Gongka was written over four years, starting from her 50th birthday. At that time, she joined a writing class led by Reda Gaudiamo, which inspired several short stories. A common thread in her writings is her childhood memories in Jakarta’s Chinatown—memories that left a deep impression and stayed with her into adulthood. From that point, Frisca began piecing together stories from her past. Reading Gongka allows us to understand why these memories hold such significance: her childhood, though marked by simplicity, was filled with the warmth and sincerity of her family.
About half of the book revolves around food. It features stories about dishes such as duck vermicelli, onde-onde, tea noodles, sekba (a Chinese-style stew with thin broth containing pork meat and offal), Koh Aseng’s siomay, sweet potato porridge, o-cien (fried oyster omelet), sour vegetable soup with salted jambal roti fish, Madura chicken satay, and many others. Some of these food stories even include family recipes passed down from her father. The narratives about the kitchen and the bustling activities within it convey how food served as the centerpiece of family interactions. According to Frisca, her family, who are of Hokkien Chinese descent, traditionally placed great importance on food, as the Hokkien are known for their love of eating. In fact, Frisca’s father often called her "Tiong-Cia", meaning “big eater,” referring to her love for food.
The book also depicts several iconic locations in Jakarta’s Chinatown. One of them is Gang Pengukiran V, where Frisca lived, described as an extremely narrow alley—barely wide enough for a single motorbike. Despite its size, this little alley became the backdrop for many stories, from friendships and neighborly relations to the tolerance fostered among its diverse residents, as well as the array of street snacks found there. Frisca also reminisces about Mall Gloria, once the largest and most vibrant shopping center in Chinatown. Today, the building still stands but has been renovated into Pancoran Chinatown Point, which Frisca notes is vastly different from its original form.
If you’ve read this book, you’ll likely agree that Gongka inspires a desire to explore Jakarta’s Chinatown while reminiscing about the heartfelt stories it brings to life.
Apa kenangan masa kecil yang terpanggil ketika membaca Gongka?
🏮 Saat Imlek, Papa di rumah akan menggemakan “Gong Xi Nian” keras-keras sebagai bentuk perayaan. Oh, juga sebagai upaya untuk membangunkan anak-anaknya yang malas bangun pagi. “Pada nggak mau angpao emangnya?” tanyanya jahil.
🥪 Martabak manis yang dipesan Papa Gongka, bertabur kacang dan meses, persis dengan apa yang suka dibeli Papa dan Mama. Makanan yang bikin gembira seisi rumah!
👪 Betapa bingungnya memanggil om dan tante dengan sebutan thaiji, jipho, jichong, kuku, kuchong, dsb. Kalau mau nyapa kayaknya mending senyumin aja daripada malu salah nyebut, hiks.
Membaca Gongka bukan cuma bikin ingatan pembaca melayang-layang ke masa lampau, tapi juga bikin laper! Deskripsi soal makanan di dalam buku ini lhoooo, beneran bikin cobain langsung resep Bihun Bebek, bahkan main ke Pancoran buat kulineran!
Gongka juga berhasil bikin ketawa ngikik. Gayanya bercerita, polos dan gemas betul!
Memang, ingatan pembaca mungkin akan langsung tertuju pada Na Willa ketika menelusuri halaman demi halamannya. Namun percayalah, Gongka juga punya dunianya sendiri. Hati-hati terbawa ke Pecinan Jakarta bersamanya!
Buatku, membaca ulang Gongka nanti akan jadi upayaku merawat nostalgia.
Gongka: Cerita-cerita dari Pecinan Jakarta karya Frisca Saputra merupakan sebuah cerita tentang kenangan seorang gadis kecil bernama Gongka. Kenangan yang diceritakan tidak melulu tentang kisah-kisah bahagia, namun selalu hangat.
Gongka mengajak pembacanya bertualang rasa di rumah masa kecilnya yang terletak di sebuah gang sempit, berhimpit dan riuh ditengah padatnya kota Jakarta. Cerita didalam buku ini memberikan visualisasi yang sungguh menggugah tentang gambaran rasa dari makanan yang dibuat oleh keluarga Gongka.
Gongka kecil yang lucuuu, terima kasih sudah mengobati rinduku dengan Na Willa. Cerita-cerita kamu kocak dan menghibur sekali. Senang bisa berkenalan dengan kamu ♡
Cerita-cerita Gongka singkat, paling panjang sekitar 4 halaman. Kata-katanya sederhana, sesuai persona Gongka yang masih kecil. Meski ceritanya sederhana, tapi benar-benar penuh kehangatan.
When I discovered a new book from an Indonesian author exploring childhood experiences in Jakarta’s Chinatown, I bought it immediately. It has been a topic of interest for me for years, especially considering I am also a Chinese-Indonesian. So much so that my bachelor’s thesis is even about Chinese Values on Chinese-Indonesians. I enjoyed Grace Tioso’s Perkumpulan Anak Luar Nikah, so I had high hopes for another window into this community.
However, this is a slightly different book from Grace Tioso’s novel. It’s more of a slice-of-life recollection that feels like we are flipping through someone’s childhood scrapbook. It’s pleasant, yes, but it lacks narrative cohesion or depth. Some people might find charm in this book, but as for me, I got left wanting for more substance. If I were to rate this book, I’d put it at 2 out of 5 stars.
This book contains (very) short stories about the author’s personal experience growing up in Glodok/Pecinan (Jakarta’s Chinatown), focusing quite heavily on food, daily routines, and small childhood moments. There’s a cute illustration here and there to drive home the message this was mostly childhood stories. The publisher has positioned this under their “Seri Cerita Istimewa” (Special Stories Series), and the book does feel “istimewa” (special) to its author. The problem is that it hasn’t been shaped into something that feels equally special to readers.
I’d say that the main (and somehow, only) attraction of the book is nostalgia. The stories leans so much on “ingatkah kamu saat kamu masih kecil ada begini dan begitu…?” without actually going anywhere bigger with the stories. I understand that personal memories don’t naturally form coherent plots, but that’s precisely where editorial shaping is essential. Some stories are even functionally identical… the author simply swaps out the name of the food being eaten. Which could be true, you know, considering the culinary variety in Glodok. However, what could have been a “curated collection” becomes a… catalog?
For readers who grew up in similar circumstances or have specific interest in Chinese-Indonesian culture, this nostalgic trip might be enough. For everyone else, it’s like looking at someone else’s childhood photos: innocent, mildly interesting, but emotionally distant. The author succeeds at capturing individual moments from her childhood but does not arrange them into something more meaningful universally.
Because the stories do not build on each other and have no momentum towards a bigger plot, each piece exists in isolation. You can shuffle the chapters and lose no information (except the introduction, I guess). There’s no character development, no narrative thread, and no progression. It’s a series of recollection/observation in the form of “diary” style, which seems to be deliberately chosen to give it an authentic personal feel. But authentic writing and engaging read are not the same thing; these stories are raw and still felt unpolished.
Glodok and Chinese-Indonesian have a complex history when you put it into the backdrop of Indonesian history. Anti-Chinese sentiments, riots, cultural conflicts between generations, are some examples of topics that is not mentioned at all in this book. Maybe it is not part of the author’s childhood. Or it could be intentional so the book could focus more on recapturing the joy of childhood. However it does made the book feel a bit shallow for me. There is no emotional stake for me as the reader, because there’s no conflict, tension, or growth. It is all pleasant recollection, which is nice, but after a while it felt very monotonous.
The Chinese-Indonesian theme is great as it offers a window to peek into minority groups. But the execution is very internally focused, thus it struggles to resonate with people outside of its internal group. Combined with all the points I described above, I do wonder who is the target market of this book? What made the publisher think this could be marketed broadly? Is there enough curiosity in the market for this kind of specific childhood experience? I think it should be something that the publisher (baNANA) should’ve considered carefully.
Perhaps future volumes in the “Seri Cerita Istimewa” will strike a better balance between being specific and being relatable. Or maybe this is exactly the publisher’s aim: to share a love letter to a particular time and place that doesn’t particularly care whether you’re invited to read it or not. For me, this book is a pleasant read, but easily forgettable.
Aku sangat menyukai Gongka. Aku berhasil menamatkan buku ini selama dua hari saja. Selama dua hari yang menyenangkan itu, Gongka membawaku jalan-jalan ke Gang Pengukiran, gang tempat rumah masa kecilnya berada dan daerah Pecinan, Jakarta Barat. Meski aku tumbuh besar di Jakarta Barat, aku hampir tidak pernah ke sana selama aku tumbuh. Mungkin sekali ke daerah Glodok dengan teman-temanku dan kami berakhir makan bakmie babi di Gang Kelinci Pasar Baru. Lucu karena waktu itu, aku yang masih SMA tidak mau makan babi karena alasan agama. Sekarang? aku suka makan babi! Beberapa waktu lalu, aku diajak pacarku ke Cibadak-satu jalan hidup dan berlampu-lampu keemasan dan ada pohon natal raksasa, yang dipenuhi masakan Cina, dan aku makan sate babi di sana yang enak di sana.
Kembali ke Gongka, aku menyukai cerita Gongka karena Gongka seperti mengajakku jalan-jalan ke Pecinan di tahun 80-an. Dia bercerita tentang Gloria, bangunan seperti mal yang belum ada mal pada jamannya, dipenuhi dengan toko-toko, di daerah Pancoran. Lalu dia juga menceritakan tentang permen hopjes, bioskop lama, treabor, white rabbit, buah tho, kiamboy, koper Echolac, dan makan sekba kuah semur Cina yang encer berisi daging dan jeroan babi saat dia diajak Mama dan Papa ke Gloria. Sambil membayangkan tahun 80-an.
Dia juga membuatku lapar dengan masakan-masakan buatan Papa seperti bihun kecap, mi teh, lomie, babi kecap, kue-kue, hee piaw, gohiong. Bahkan Gongka juga menuliskan resep-resepnya di buku ini! Buku ini terasa hangat, bukan hanya karena rumah Gongka yang panas dan ada musim panas di lantai dua, tapi karena tradisi-tradisi memasak dan membuat kue-kue Cina dan juga Gongka dan koko-kokonya membantu Papa dan Mama membuat kue.
Aku juga suka cerita Gongka dan teman-temannya, tetangga-tetangganya yang sangat campur itu dari mulai Madura, Jawa, Cina, Arab, dan lain-lain membuat buku ini sangat hidup dan istimewa. Ada cerita tentang Encim Eng, tetangganya yang orang pintar atau semacam dukun yang akan mengocok kartu ceki dan membukanya. Sangat istimewa!
Aku juga menyukai segala hal tentang budaya Cina yang diceritakan Gongka di sini dari mulai asal namanya dari bahasa Hokkian, dongeng Shi Shi Shi Shi Shi dari penyair Yuan Ren, juga nasihat-nasihat Papa (yang paling aku suka di bab Musafir yang Papa bilang, "Asal ada makanan dan pakaian, cukup. Melewati hari satu demi satu. Kesusahan hari ini cukup buat hari ini."), lalu juga lagu Hokkian Ai Pia Cia E Yia, dapur rumah Gongka yang selalu hidup dan ramai, kue maco, kue angku kue kura-kura.
Hangat dan menyenangkan adalah dua kata yang menggambarkan buku ini. Aku hanya berharap bisa membacanya lagi. Aku bisa melihat diriku mengunjungi Gongka lagi dan memintanya mengajakku jalan-jalan ke Pecinan dan berkunjung ke dapur rumahnya yang ramai dan rumit itu.
Ketika tahu Frisca Saputra akan menerbitkan buku seputar kehidupan di Pecinan, aku langsung tidak sabar untuk membacanya. “Gongka” cerita-cerita dari Pecinan Jakarta dibuat saat penulis mengikuti kelas penulisan yang diampu oleh Reda Gaudiamo. Buku ini akan dirilis saat Patjarmerah Kecil di Jakarta. Saat ada pengumuman buku ini bisa dipesan terbatas. Aku tidak pakai lama untuk segera pergi ke lokapasar dan membelinya bersama buku ide cerita mbak Reda. Seperti apa keseruan buku ini? Mari ikuti tulisan ini.
Mari kita lihat sampulnya lebih dulu. Terbitan baNANA ini covernya lucu dan menggemaskan. Ada anak kecil yang ceria (Si Gongka, nih!) yang sedang berada di sebuah jalan dengan tiang listrik berkabel kusut. Judul Gongka – Cerita-cerita dari Pecinan Jakarta berada di tengah kanan dengan warna hitam berbentuk gemas. Ada nama penulis Frisca Saputra dan diikuti nama ilustrator isi buku ini Lina Kusuma Dewi. Ilustrasi di dalamnya jempolan!
Secara umum isi buku ini apa sih? Di Gongka, kita diajak sama Cik Frisca untuk menengok masa kecilnya di daerah Pecinan. Berisi kumpulan tulisan pendek yang bisa kamu baca sekali duduk. Aku cuplik beberapa judul tulisannya supaya bikin penasaran: Senio, Imlek, Pengukiran Lima, Gloria dan Kenangan Tiada Dua. Dimulai dari perkenalan anggota keluarganya, lalu ada Pak Udin yang ngebantu usaha kue di rumah, berlanjut keseharian dan pengalaman penulis berinteraksi dengan tetangga sekitar. Seru deh pokoknya! Ternyata ini adalah bagian dari Cerita Istimewa dari penerbit baNANA. Cerita personal mengenalkan pengalaman seseorang di tempat ia tinggal.
Apa yang aku sukai dari buku ini? Semuanya. Dari ceritanya sampai ilustrasi di dalamnya yang lucu. Aku suka dengan pengalaman yang dibagikan penulis akan kesehariannya. Aku jadi tahu bagaimana rasanya tinggal di Pecinan. Aku jadi ngerti dikit suasana di keluarga Cina Jakarta. Mama yang selalu sibuk. Rame-rame bikin kue. Rumah yang dihuni banyaaak orang dan segala perlengkapan masaknya. Mengunjungi pusat perbelanjaan. Naik becak. Makanan-makanannya yang bikin penasaran (Ada resepnya juga loh!). Papa yang dengan rasa sayangnya, memanggil “Gongka”.. Duh, rasanya kurang tebel cerita bukunya.. Tapi tidak apa lah. Gongka sudah berbagi ceritanya, aku udah bahagia.
Gongka, aku rekomendasikan untuk pembaca yang menyenangi nonfiksi naratif. Penyuka cerita personal pasti suka dengan buku ini. Semua orang yang membaca review ini.
Buku yang ringan dan sangat menyenangkan buat dibaca. Tentang masa kecil Penulis (mungkin di era 70-80an?) dengan nama kecil Gongka yang dulu tinggal di daerah Pengukiran, Jakarta Barat. Ayah dan Ibunya lahir di Fujian, Cina, dan sejak kecil sudah pindah ke Indonesia. Gongka tinggal dengan Papa dan Mamanya serta 5 saudara kandungnya.
Papa Gongka adalah seorang tukang kue dan jago memasak. Penulis banyak menceritakan bermacam masakan yang pernah dibuat Papanya yang sangat berkesan untuknya. Tulisannya mampu menerbitkan air liur pembaca karena amat menggiurkan penggambarannya. Sepanjang empat puluh lebih cerita pendek di dalamnya, Penulis banyak menceritakan tentang sosok Papa yang membuat hati terharu. Rasanya ingin bisa bertemu Papa langsung dan belajar memasak dari Beliau. Sosok Papa yang menjadi sosok paling dikagumi anak perempuannya, bukan karena ia sempurna, tapi karena kesederhanaan dan pengorbanannnya yang begitu bernilai pada keluarganya. Cerita-cerita Gongka mengingatkan saya pada buku Na Willa karya Reda Gaudiamo. Cerita Gongka mungkin terasa dekat untuk pembaca yang merasakan masa kecil di ekonomi keluarga menengah-menengah ke bawah era 80-90an, apalagi yang memang warga keturunan Cina.
Ada dua bagian menarik di dalam buku ini:
“Aku pernah tanya soal seragam kesayangannya itu. Papa bilang, dia itu seperti musafir. Asal ada makanan dan pakaian, cukup. Melewati hari satu demi satu. Kesusahan hari ini cukup buat hari ini.” - Hal. 92
“Aku paling suka aksara ren, yang artinya "tahan atau sabar". Terdiri atas dua huruf, yaitu bagian atas berarti "pisau" dan bagian bawah berarti "jantung".
Waktu mendengar penjelasan Papa, aku spontan bertanya, "Jadi harus tetap sabar walau ada pisau tajam di depan jantung kita, Pa?" Papa cuma mengangguk sambil tertawa kecil, "Dasar Gongka."
Penjelasan Papa tentang aksara ren sangat membekas. Sejak itu, kalau sedang sedih, aku akan mengingat-ingat cerita itu lantas bertanya-tanya sendiri. Apakah rasa susahmi terasa seperti pisau yang mengancam di depan jantung?
Kalau belum separah itu, tahan dan bersabarlah.” - Hal. 133-134.
Gongka offers a deep exploration of Chinese culture, especially for the Peranakan community in Indonesia. In a discussion led by me and Ayi Frisca aka Yung-yung @friscasaputra at @chindosbookclub , participants gained new insights into Chinese-Indonesian identity. This informative and detailed discussion helped many people see the richness of this culture, which they may not have fully understood before.
One of the highlights of Gongka is its light and flowing writing style. The author shares childhood stories in an enjoyable way, accompanied by cute illustrations that make reading fun. However, some explicit word choices make this book more suitable for readers aged 18 and above.
The book also provides detailed documentation of daily life in the Hokkien Chinese community. Readers will find Hokkien vocabulary, traditional recipes, and family traditions. One of the most memorable quotes from the discussion was: "Kesulitan hari ini biar buat hari ini saja (Today's troubles are only for today)," a simple yet meaningful message.
Additionally, Gongka shares Frisca's personal experiences in facing challenges as part of the Chinese-Indonesian community, especially during the New Order eras. These stories offer a deeper perspective on the struggle to maintain identity in a changing Indonesia.
Overall, Gongka is both an informative and heartwarming read. From funny childhood moments to touching memories, this book evokes nostalgia and brings back the warmth of Peranakan family life. For anyone interested in learning more about Chinese-Indonesian culture, this book is highly recommended.
Salah satu buku non-fiksi yang menurutku bagus banget. Baca buku ini rasa-rasanya sepeti sedang bernostalgia ke masa kanak-kanak. Walaupun tidak sepenuhnya aku merasa relate terutama dengan kehidupan etnis Cina dan kehidupan di Jakarta, tapi ada beberapa hal yang cukup bisa mengundang tawa dan perasaan hangat sewaktu baca buku ini.
Misalnya, bagaimana anak-anak kecil yang bermain di lingkungan rumah, berjalan-jalan diantara gang-gang kecil yang mengharuskan kita memiringkan badan kita sewaktu ada kendaraan lain yang hendak lewat, sebab kita akan kelelahan kalau berusaha berjalan mendahului kendaraan tersebut.
Lalu permainan-permainan tradisional dimulai dari lompat tali yang terbuat dari susunan karet sampai dengan lompat petak jungkit (yang kalau di tempatku disebut dengan sondah) yang membutuhkan potongan genteng, keramik atau benda pipih lain dalam permainannya.
Kisah tentang Papi yang juga menjadi hal menarik dari buku ini juga buatku merasa hangat. Beragam wejangan dan juga pembelajaran lain yang diajarkan Papi buatku mau gak mau tersenyum. Pembelajaran hidup yang bisa banget kita terapkan meskipun telah beranjak dewasa.
Buku ini bisa dibilang cukup banyak memberikan insight baru, dan sangat aku rekomendasikan buat dibaca. Apalagi dengan jumlah halaman yang terbilang cukup tipis, buku ini bisa banget dibaca dalam sekali duduk, ilustrasinya juga lucu dan menggemaskan.
apakah susahmu terasa seperti pisau yang mengancam di depan jantung? kalau belum separah itu, tahan dan bersabarlah.
cerita-cerita gongka yang tinggal di sebuah gang kecil di pecinan jakarta terasa begitu dekat. sebagai anak yang tumbuh besar dalam multicultural family, aku seperti hidup bersama gongka—meskipun hanya beberapa cerita yang cukup dekat. misalnya saja cerita tentang imlek, aku malah tidak pernah menerima salam tempel selayaknya anak-anak kampung melayu saat perayaan hari raya. namun aku turut menghitung angpao yang kuterima pada malam hari sebelum tidur dan merasa jadi orang paling kaya raya! jika gongka punya celengan babi-babian, aku punya celengan rumah yang selalu kuisi dengan uang yang kuperoleh dari angpao. ada sejumlah daftar nama keluarga yang akan aku datangi, mulai dari opa, kukong, hingga kakak (tante kecil) yang akan kami datangi dari awal imlek hingga selesai. ada juga kata senio atau gampang naik darah. kalo di sini kami menyebutnya seno atau senyo. begitu membaca kata ini, aku tak bisa berhenti senyum. tanteku selalu bilang, "bikin seno sekali ini anak-anak." yang paling aku suka adalah kehadiran kue angku. kue favoritku sepanjang masa! kalo kami menyebutnya kue kura karena bentuknya mirip cangkang kura-kura. berkat deskripsi dalam buku ini, aku jadi tahu namanya!
buku ini membawa angin segar dalam eksplorasiku pada cerita anak. well recommended!
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Penjelasan Papa tentang aksara ren sangat membekas. Sejak itu, kalau sedang sedih, aku akan mengingat-ingat cerita itu lantas bertanya-tanya sendiri. Apakah rasa susahmu terasa seperti pisau yang mengancam di depan jantung?
Kalau belum separah itu, tahan dan bersabarlah."
Saat membaca buku ini rasanya benar-benar hangat seperti dipeluk orang tua. Walaupun aku berasal dari generasi yang berbeda dari Gongka, tapi membaca kisahnya seperti merasakan nostalgia yang pernah aku rasakan di masa kecil (walaupun hampir sebagian besar pengalaman Gongka tidak pernah aku rasakan).
Tipikal buku yang bisa dibaca dalam sekali duduk, tapi rasanya mau berlarut terus dalam keseharian Gongka. Cerita yang dipaparkan juga mudah dimengerti dan sederhana. Ilustrasinya pun menggemaskan dan membawa ceritanya lebih hidup. Aku mau membaca cerita Gongka lebih banyak lagi!
Membaca Gongka, seperti halnya membaca Na Willa. Gadis kecil berkuncir dua, keturunan Tionghoa, yang tinggal di gang. Cerita masa kecil Gongka mengingatkanku pada masa kanak-kanakku dulu.
Apakah aku punya kisah seistimewa Gongka dan Na Willa?
Rasanya Gongka dan Na Willa bisa berteman. Dan, ya, memang saat dewasa mereka bertemu dan berteman.
Permainan Gongka dan teman-temannya di gang sama dengan yang aku mainkan semasa kecil dulu. Jika Gongka menyebutnya taplak gunung, aku menyebutnya 'engklek'. Seru sekali!
Di masa dewasa kini, rasa-rasanya membaca kisah masa kecil adalah obat di tengah keriuhan dan keruwetan yang sedang dijalani. Bacalah Gongka saat senggang. Niscaya kamu akan bernostalgia.