Semua tokoh di dalam buku ini bertualang dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan berbagai makhluk, dan belajar dari petualangan itu.
Ada pangeran yang bertualang bersama tiga orang kawan dengan kemampuan istimewa. Ada seorang anak lelaki yang berjalan ke bukit seberang untuk mencari tahu jendela emas yang selalu ia lihat kala senja. Ada putri bintang, pemburu, raja, berbagai macam peri, bahkan raksasa dan naga.
Mulailah buka halaman pertama buku ini dan selamat bertualang!
Kalau teman-teman suka baca dongeng dan mau bertualang ke dunia baru yang mengasyikkan, aku sangat-sangat merekomendasikan buku berisikan kumpulan cerpen ini! 🐣
Selama membaca buku ini, bagian dari diriku yang masih anak-anak senangnya bukan main! Apalagi buku ini disertai dengan ilustrasi-ilustrasi menarik, dijamin nggak akan bikin bosan.
Cerita-cerita di buku ini menurutku begitu beragam, yang makin bikin seru karena semuanya bertema petualangan. Di sini, kita akan bertemu makhluk dan hal-hal ajaib. Ada raksasa, peri kecil, tikus bersepatu, kuda yang bisa bicara, burung emas, bahkan ada juga putri bintang! 💫
Sepertinya buku ini juga akan cocok bagi teman-teman yang sedang mencari bacaan sekali duduk. Meski begitu, makna dari tiap-tiap cerita yang ada begitu penuh akan makna. Ini beberapa pelajaran hidup yang kudapat:
🌾 waktu itu berharga, jadi manfaatkanlah dengan baik 🌾 sering kali, kita terlalu sibuk dengan kepunyaan orang lain hingga kita lupa bahwa apa yang kita miliki nyatanya sudah lebih dari cukup 🌾 jadikanlah kekurangan kita sebagai kekuatan 🌾 bila memang sudah takdirnya, apa yang menjadi milik kita akan datang dan akan tetap menjadi milik kita 🌾 kejujuran, kebaikan hati, dan kesetiaan adalah kunci 🌾 bahagia nggak melulu tentang bergelimang harta, sebab dengan kesederhanaan pun juga bisa bahagia 🌾 ketika ada masalah, fokuslah pada solusi 🌾 orang yang berhasil adalah orang yang berani mencoba, gigih, berpendirian, dan sigap, serta terpercaya 🌾 segala peristiwa terjadi karena suatu alasan dan pasti ada hikmahnya, jadi jalani saja dengan tabah 🌾 tiada gunanya menyesali apa yang telah terjadi, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjalani sisa hidup dengan dipenuhi kebaikan 🌾 hidup jadi lebih bermakna dengan kebersamaan
Ayo, ikut bertualang denganku dengan membaca buku Lonceng di Danau dan Cerita-Cerita Petualangan Lainnya! Mungkin cukup dari aku. Semoga membantu. Sampai jumpa di ulasan buku lainnya ya. 💛
Dari semua buku yang diterbitkan oleh Penerbit Mai, ini yang paling tidak terasa Jepangnya, hehehe. Buku ini adalah kumpulan cerita fantasi / dongeng yang dibawa oleh Suzuki Miekichi sebagai sastra anak terjemahan ke Jepang yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Terdiri dari 6 cerita pendek, buku ini membawa orang dewasa bernostalgia dan mengajak anak berimajinasi lepas tentang dunia tanpa batas. Ada cerita tentang kastil di dasar danau, kuda yang bisa berbicara dan memberi petunjuk kepada seorang pemuda untuk pergi ke ujung dunia mencari putri tercantik di dunia, hingga raja Laba-laba yang membentangkan benangnya untuk para putri turun dari langit.
Menurut saya 'Lonceng di Danau dan Cerita-Cerita Petualangan Lainnya' ini menyenangkan sekali untuk dibaca dan dikoleksi. Seru untuk dibaca sendirian maupun bersama anak. Terjemahannya cukup straight forward dan bisa menggambarkan ceritanya dengan baik, namun saya perlu meng-highlight betapa kerennya ilustrasi Wulang Sunu yang menghiasi buku ini! Absurd tapi indah! Rasanya tiap ilustrasi ingin saya pajang atau jadikan merchandise, haha!
Must-have untuk pecinta dongeng, dan bisa jadi salah satu buku yang saya sarankan untuk menyudahi reading-slump!
Sebagai orang dewasa, kadang aku merasa kemampuanku berimajinasi semakin tumpul. Mungkin karena sudah terlanjur lebih realistis, kali ya? Rasanya sudah lamaaa sekali aku tidak berlarian di antara mimpi-mimpiku yang tidak masuk akal. Seperti ada tembok yang membatasiku dan aku hanya bisa mengintip dari jendela.
Membaca Lonceng di Danau banyak mengingatkanku pada kebebasan itu. Sebuah kumpulan cerita yang apik, indah, namun juga menyenangkan. Walaupun ceritanya bergenre fantasi, kamu tidak perlu banyak berpikir untuk memahaminya (apalagi membandingkannya dengan realita). Lonceng di Danau akan mengajakmu berjalan pelan di tepi danau, mencari kastil cahaya, sampai bermain dengan para peri.
Buku ini terdiri dari 6 cerita pendek yang tidak berhubungan. Cerita-ceritanya ditulis di tahun 1917-1921 pada awal periode Meiji. Pada masa itu, minat baca masyarakat Jepang meningkat, namun masih terbatas pada topik hukum, ekonomi, pendidikan, dan topik lainnya. Lewat tulisannya, Suzuki Miekichi ingin memperkenalkan sastra dan terjemahan, khususnya untuk anak-anak.
Meskipun awalnya ditujukan untuk anak-anak, menurutku Lonceng di Danau cocok dibaca untuk siapa pun. Apalagi untuk orang dewasa yang rutinitasnya terasa monoton, jangan lupa bahwa ada negeri dongeng selalu menunggu dikunjungi 🏰👑
“Mengapa kisah petualangan dalam buku ini terasa hampa saat dibaca orang dewasa? Apa karena perspektif dan pandangan hidupnya sudah berbeda?”
Untuk siapapun yang membutuhkan bacaan yang mampu membuka pandangan lebih luas maka saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Ceritanya memang berbentuk petualangan anak-anak namun makna yang disampaikan cukup implisit mengenai kehidupan orang dewasa. Bagaimana cara kita memandang hidup tidak hanya dari satu sisi saja dan juga membuka hati nurasi untuk lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar kita dan juga apa imbas yang didapatkan dari tindakan kita. Semakin dewasa seseorang akan sulit untuk berpikir jernih sangat jauh berbeda dengan anak-anak yang masih murni belum banyak mengenal kehidupan yang nano-nano ini. Itulah mengapa perspektif anak-anak yang membaca cerita ini dan orang dewasa jelas akan berbeda. Buku yang berisikan cerpen berjumlah 5 judul di dalamnya dengan pesan menohok yang mampu menampar saya saat membacanya. Tokoh-tokoh yang dibawa cukup familiar seolah sangat dekat, atau sebenarnya memang kitalah sendiri tokoh di dalam cerita ini? Anda akan berpetualang serta bertemu dengan beberapa kasus ringan dengan sifat warna-warni dari masing-masing manusia di dalam buku ini. Bagaimana mereka mampu memutuskan sesuatu, bagaimana mereka akhirnya tenggelam dalam pilihan serakahnya dan juga bagaimana akhirnya mereka hilang bersama nafsu yang membelenggu. Buku ini hanya memiliki 136 halaman saja untuk dibaca namun mampu membuat saya merasa hampa seharian. Cerita yang paling saya suka adalah cerita 1 yakni “Rumah di Puncak Bukit.” Cerpen ini berisikan seorang tokoh anak yang melihat keindahan jendela di rumah puncak bukit namun ketika sampai di sana dia tak menemukannya. Dari atas bukit akhirnya dia melihat rumahnya sendiri yang dari kejauhan nyatanya juga mampu memancarkan kilauan emas. Pesan yang menarik untuk siapa saja termasuk saya yang masih suka memandang kehidupan orang lain lebih indah dibandingkan kita. Padahal semua manusia memiliki batasan dan kecukupannya masing-masing tentang bagaimana mereka memaknai kehidupan dengan lebih banyak bersyukur. Tak ada yang lebih bahagia semuanya seimbang antara sedih dan senangnya. Mungkin dengan begitu kita semua tak akan pernah risau lagi dalam menjalani kehidupan sangat panjang dan melelahkan ini.
Pernah gak sih kamu ngerasa “kayanya aku pernah baca cerita ini deh?”, itulah yang aku rasain pas baca Lonceng di Danau.
Lonceng di Danau adalah kumpulan 6 cerita pendek yang kesemuanya bertema petualangan. Diawali Rumah di Puncak Bukit yang bercerita tentang seorang anak laki-laki yang melihat rumah berjendela emas dari puncak bukit sebrang rumahnya. Tentara berkaki satu yang mirip kisah The Steadfast Tin Soldier, dan ditutup dengan kisah Putri Bintang yang mengingatkanku dengan folklore lokal Indonesia (apa hayo?)
Salah satu keunggulan Lonceng di Danau adalah terjemahannya yang sangat halus dan mengalir. Pembaca seolah diajak menikmati cerita asli tanpa merasa terbebani oleh kesan "terjemahan." Setiap kalimat terasa mengalir lancar, menjaga keindahan bahasa sekaligus menyampaikan pesan cerita dengan jelas.
Tak hanya itu, ilustrasi-ilustrasi yang menghiasi setiap cerita juga menjadi daya tarik tersendiri. Gambar-gambar ini mampu menghidupkan cerita, membuat pengalaman membaca semakin menyenangkan dan imersif.
Nah, pertanyaanku diawal tadi ternyata terjawab di esai pada halam akhir buku Lonceng di Danau. Disini penulis menggunakan teknik penerjemahan yang disebut Saiwa atau penceritaan ulang. Penulis tidak hanya menerjemahkan dari bahasa asal ke Jepang, tetapi juga mempertimbangkan target pembacanya, yaitu anak-anak. Unik juga ya.
Meskpiun Lonceng di Danau termasuk buku anak, buku ini tetap cocok dibaca orang dewasa. Apalagi ada feel nostalgic ketika baca bukunya. Jadi kalo kamu butuh bacaan ringan sekali duduk yang membangkitkan imajinasi kamu bisa coba buku ini.
Secara keseluruhan Lonceng di Danau adalah pilihan tepat bagi siapa saja yang ingin menikmati cerita khas Anderson dalam kemasan yang berbeda. Terjemahan yang halus, ilustrasi yang indah, dan pesan moral yang mendalam menjadikan buku ini layak untuk dibaca dan dikoleksi.
Lonceng di Danau dan Cerita-Cerita Petualangan Lainnya merupakan buku anak terjemahan dari bahasa Jepang karya Suzuki Miekichi. Berisi sekumpulan cerita yang konon sudah begitu populer di Jepang sana. Membaca buku ini mengingatkan saya pada cerita rakyat/dongeng Indonesia. Bahkan pada beberapa cerita saya menemukan beberapa kemiripan.
Karena buku ini merupakan buku anak, dikemas dengan terjemahan bahasa yang cukup mudah dimengerti dan ilustrasi yang ada sangat imajinatif dan menyenangkan untuk dinikmati.
Gambar tentara di sampul depan mengingatkan kalian dengan apa hayo?
Awalnya, kupikir ada kaitannya dengan The Nutcracker. Tapi ternyata salah besar 🤣 Tentara Berkaki Satu adalah cerita yang diterjemahkan oleh Suzuki Miekichi dari cerita anak The Tin Soldier karya H.C. Andersen.
Tidak seperti proses penerjemahan yang biasanya, Miekichi melakukan apa yg disebut dg “Intralingual Translation.” Alias, menerjemahkan dan menyesuaikan terjemahannya dengan pembaca sasaran: anak-anak Jepang di zaman Meiji.
Meski begitu, aku sbg orang dewasa Indonesia yg hidup di era modern ini masih bisa membiarkan imajinasiku dibawa oleh enam cerita yang ada di buku Lonceng di Danau dan Cerita-Cerita Petualangan Lainnya. Hanya 100+ halaman, aku bisa menyelesaikannya dalam sekali rebahan santai melepas penat setelah 2 hari 2 malam penuh meeting (loh jadi curhat 🙏😭).
Nggak cuma itu, aku sengaja memotrer dua ilustrasi dari enam yang digambar oleh mas Wulang Sunu untuk buku ini. Meski terkesan “aneh” tapi itulah keunikan dari “menerjemahkan” cerita anak: you can let your imagination lead the way.
Ceritanya dalam buku ini ada yang simpel. Ada juga yang bikin deg-degan (& akhir yg tak terduga). Ada yang melibatkan raksasa. Ada juga yang mengajak para peri bermain.
Meski Suzuki Miekichi menerjemahkan cerita tersebut dari Barat, tapi ada juga yang menurutku mirip dg cerita rakyat kita: Putri Bintang yang kurasa seperti pengembangan cerita Jaka Tarub 😂
Ohya, favoritku adalah Burung Emas. Penuh sihir & keajaiban juga aksi penyelamatan tuan putri.
Keenam cerita dalam buku ini bisa dinikmati oleh semua kalangan. Sembari kita berkenalan dg bagaimana “intralingual translation” yg dilakukan oleh Miekichi.
Dari segi terjemahan, buku ini cukup enak dibaca, kalimat-kalimatnya mengalir, memancing daya khayal untuk terlarut dalam kisah-kisah yang fantastis. Tapi, please, penerjemah dan penyunting bahasa Indonesia, kata bantu bilangan kita itu banyak, bukan hanya "sebuah". Lagipula masa pakaian disebut "sebuah pakaian"?
Dari segi ilustrasi, luar biasa! Saya suka sekali sampul dan ilustrasi yang dikerjakan Wulang Sunu.
Dari segi isi, jujur bagi saya bagian paling menarik dari buku ini justru adalah esai yang menurut saya seharusnya ditempatkan di bagian depan sebagai pengantar, mengingat sang penulis (Suzuki) dan posisinya dalam kancah kesusaatraan Jepang belum dikenal luas di Indonesia. Saya jadi tidak perlu sempat terheran-heran kebingungan, "Lho, ini bukannya karya Andersen? Kenapa diatribusikan ke Suzuki? Apa buku ini terjemahan dari terjemahan?"
Lonceng di Danau karya Suzuki Miekichi (pelopor sastra anak Jepang) ini berisi 6 cerita yg terbit sekitar tahun 1917-1921. Ia menghadirkan karakter2 fiktif yg sebelumnya tak ditemukan di cerita anak tradisional Jepang, seperti putri, pangeran, berbagai macam peri, raksasa dan naga. Kisah2nya dilengkapi dgn petualangan yg sarat akan nilai2 moral dan membawa perspektif baru bagi anak2.
meski bagi orang dewasa membaca dongeng/cerita anak seperti ini kadang rasanya utopis sekali (yg baik diberi akhir bahagia, sedang yg jahat mengalami derita), namun sastra anak adalah alat yg tepat utk membentuk pola pikir dan karakter anak2, jg mengenalkan nilai2 pendidikan, budaya dan kemanusiaan.
+ ilustrasinya bagussss, setiap cerita dilengkapi dengan banyak gambar2 ilustrasi yg menarik 🩵
Tipe buku cerpen anak tapi ditulis oleh penulis Jepang.
Klo dilihat dari covernya ya, bakal ngira cerpen2 yg ada di dalamnya akan thriller ni (ak juga berpikir demikian dan malah jadi salah satu alasan buat aku beli buku ini). Tpi, ternyata pas di baca, ini beneran cerpen anak2.
Di setiap awal cerita, aku udh mikir wah ini kayaknya akan sad ending ni, eh tapii ternyata endingnya tipikal cerpen anak.
Buku yg bisa diselesein dalam 1x duduk dan bisa jadi selingan klo kmu abis baca buku2 yg berat.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Berisi 6 dongeng yang diceritakan dengan sangat apik. Setiap ceritanya mengandung value yang sangat membantu dalam pembentukan karakter anak. Mengajarkan rasa syukur atas apa yang telah dipunya, mencintai sesama dan kerja keras yang akan selalu membawa hasil baik. Selain itu cerita di dalamnya juga mengajarkan bahwa sesuatu yang dipaksakan akan berakhir menyedihkan dan bahwa keserakahan akan membuatmu celaka.
Benar juga, seorang pedagang buku menyebutkan bahwa tidak sedikit buku anak dibeli oleh mereka yang sudah dewasa, sebagai nostalgia masa kecil. Entah dulu pernah punya lalu raib, pernah membaca namun hanya meminjam karena harganya mahal, atau dulu tertarik membaca namun tidak bisa meminjam apalagi membeli.
kumpulan cerpen lainnya dari @penerbitmai yang sama sekali tidak terasa unsur Jepangnya, karena memang disadur dari dongeng-dongeng klasik Eropa oleh Seichi.
membaca buku ini mengingatkanku tentang dongeng yang kerap aku baca waktu kecil, dipenuhi dengan raja, ratu, peri, monster, kutukan, mantra, dll.
enam cerita di sini punya petualangannya seru semua, favoritku adalah cerpen pertama “Rumah di Puncak Bukit”, ceritanya sangat sederhana dan paling singkat, namun mengingatkanku akan pentingnya melihat apa yang kita punya dibanding fokus pada kepunyaan orang lain.
“Tentara Berkaki Satu” mengingatkanku pada The Nutracker dan Toy Story, sayangnya berakhir tragis. :(
“Putri Bintang” mengingatkanku dengan cerita Jaka Tarub 😂 tapi karakter putri ini paling tidak kusuka dibanding yang lain, karena plin plan dan agak selfish.
Tiga cerita lainnya “Lonceng di Danau”, “Bukubuku, Naganaga, dan Bocah Bermata Api”, dan “Burung Emas” punya jalan cerita yang mirip, ada mantra, kutukan dan tantangan yang harus dipenuhi agar berakhir bahagia.
Aku suka dengan smua crita2 disini.. Terutama cerita pertama ^^ Kumcer ini juga memiliki tema yang sama yaitu pergi bertualang dari satu tempat ke tempat lainnya
Aku juga suka dengan bagian Ruang Teh, dimana kita diajak mengenal lebih dekat dengan penulis dan era yang sedang terjadi di saat itu
Di antara sastra anak Jepang, kayaknya kumcer Suzuki Miekichi ini adalah yang paling favorit! Ditambah lagi ilustrasinya juga sangat bagus. Senang sekali dapat 3 pin sebagai bonus ehe.
Walaupun bisa dibilang ini bukan tipe cerita yang bisa aku nikmati, tapi buku ini bikin aku nostalgia sama dongeng-dongeng yang biasa aku denger saat kecil dulu.
Selesai baca dalam sekali duduk dan ikutan hanyut dalam dunia yang imajinya dibangun dengan bantuan ilustrasi Mas Wulang Sunu. Rasanya bener-bener balik lagi jadi anak kecil yang dulu sering dibeliin buku dongeng yang magis, imajinatif, dan penuh pesan moral.