Kisah Kasih dari Dapur adalah kumpulan esai yang menjadikan dapur sebagai pintu masuk untuk mengenal hal lain di luar makanan. Di buku ini, makanan tidak hanya dilihat sekadar bahan untuk disantap, tetapi cerminan dari kompleksitas sosial dan politik di sekitar kita.
Melalui kisah-kisah hidangan yang beragam, kita menyaksikan bagaimana makanan tidak hanya memuaskan rasa lapar, tetapi juga mencerminkan hubungan kekuasaan, ekonomi, dan budaya yang sering kali terabaikan.
*
Nasi dalam wujud utamanya beras, adalah tanaman yang sejak dulu mengakar pada kebudayaan orang Bugis. Dalam mitologi Bugis pra-islam yang banyak bersumber dari naskah La Galigo, diceritakan bahwa Batara Guru, manusia pertama yang diturunkan dari Botting langi’ (dunia atas) ke dunia tengah (bumi) punya anak, namanya We Oddang Riuq, yang baru seminggu dilahirkan meninggal dunia. Tiga hari setelah dikuburkan, Batara Guru mengunjungi kuburan anaknya dan di sana Ia melihat tumbuhan berwarna kuning, merah, putih, hitam dan biru yang tumbuh bukan hanya di atas kuburan anaknya tapi di seluruh bukit di wilayah itu.
Batara Guru yang tidak tahu apa gerangan yang tumbuh itu pun bertanya kepada Datu Patoto’E (Sang Raja Penentu Nasib). Datu Patoto’E menyatakan bahwa itulah Sangiang Serri, anakmu yang menjelma menjadi padi. Inilah cikal bakal padi yang kita kenal sampai sekarang. Menariknya, kata serri’ dalam nama dewi padi ini berarti rumput liar, di mana memang kala itu beragam varietas padi itu belum dibudidayakan. Padi masih dalam kategori rerumputan liar.
politics are very prevalent in our day-to-day life, dare i say, gastronomic needs are one of the main reasons why colonialism took place. agricultural oppression did happen because there was food demands. this book explores that in a light manner, among other things. the author also talks about tourism, gentrification, and food as a medium to connect with the spirits of the dead (offerings) in multiple cultures. and, of course, bugis and luwu meals that sound very tasty!
Buku ini terasa personal, sarat wawasan, dan ditulis dengan penuh gairah. Kita diajak belajar banyak tentang ragam makanan, terutama dari tanah Sulawesi Selatan. Hanya saja, gaya penulisannya masih terasa tercecer dan kurang polesan, sehingga sesekali membuat saya mengernyitkan dahi.
Satu hal lagi: saya sempat berharap menemukan ulasan tentang jeruk nipis yang begitu khas dalam kuliner Sulawesi Selatan. Sayangnya, belum ada. Mungkin bisa menjadi bahan untuk kumpulan tulisan berikutnya.
Terlepas dari itu, penulis menunjukkan potensi yang besar. Saya dibuat ngiler dengan kapurung, bakso, dan pallu kaloa. Semoga terus istikamah mendalami dunia kepenulisan, khususnya di ranah kuliner.
Satu hidangan makanan yang kita santap ternyata bukan hanya dapat memuaskan rasa lapar kita tetapi juga bisa dijadikan pelajaran cerminan hidup mulai dari hubungan ekonomi, kekuasaan sosial dan budaya. Begitulah pengalaman yg didapat selama membaca Kisah Kasih dari Dapur🥰
Buku Kisah Kasih dari Dapur karya Wilda Yanti Salam merupakan kumpulan esai dari pengalaman personal beliau terhadap makanan dan juga budaya adat tradisi dari tempat dia lahir dan tumbuh di Sulawesi Selatan. Menurutku buku ini menarik sekali karena sejauh buku yg sudah ku baca yg bertema makanan pasti selalu dikaitkan dengan pengalaman hubungan personal dengan keluarga atau orang terkasih tapi buku ini berbeda.
Hanya melalui satu cerita ttg hidangan makanan, kita diajak untuk menyelami sisi sejarah mulai dari asal makanan tersebut yg bersumber dari mitologi yang dipercayai orang-orang disana lalu kemudian merambat ke aspek sosial, ekonomi dan juga politik.
Tulisan dalam buku kumpulan esai ini terasa hangat, personal dan juga sedikit puitis. Penyampaiannya juga ringan, jenaka, & tidak bertele-tele, mudah dipahami buat aku yg awam ttg sejarah & kebudayaan makanan dari Sulawesi Selatan. Buku yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk! 👌
kebetulan sekali saya baca buku ini di Jogja karena kangen rumah (Makassar), ternyata ada juga esai tentang pengalaman penulisnya di Jogja!
makanan dan segala cerita yang dia alami selama perjalanan menuju mulut kita memang sudah penuh dengan rasanya sendiri. walau ada beberapa esai yang terasa terlalu pendek atau tergesa-gesa disimpulkan, buku ini sesuai dengan judulnya, mengingatkan saya akan tiga hal yang begitu penting dalam hidup: cerita, cinta, dan cita rasa.
/
what a coincidence it was to read this in Jogja while feeling homesick (of Makassar), and apparently there is a piece on the writer's experience in Jogja!
food and the stories it lives through during its journey to our plates already have many flavors. although there are a few essays that i felt were too short or rushed into conclusions, this book fits its title, reminding me of three things i should never take for granted: stories, love, and taste.
Membaca buku ini dalam perjalanan pesawat Solo-Jakarta. Menyenangkan karena soal makanan, dan spesifik makanan Sulawesi Selatan yang mana hampir semua yang disebutkan aku udah pernah makan dan banyak yang kusuka. Gak cuma soal makanan, tulisan Wilda di sini juga soal sejarah, soal cerita yang sangat personal juga.
Gastronomi Perancis mengenalkan istilah “terroir” yang menggambarkan bagaimana lingkungan fisik secara total membentuk karakter makanan dan minuman. Terroir berasal dari kata Latin "territorium” yang artinya wilayah. Terroir menjadi dasar mengapa wine Bordeaux tidak bisa dibuat di California dengan hasil identik meski menggunakan varietas anggur dan teknik yang sama. Perbedaan elevasi 50 meter saja bisa menghasilkan wine dengan karakter berbeda. Pinot Noir dari Gevrey-Chambertin memiliki profil berbeda dari Chambolle-Musigny meski hanya berjarak beberapa kilometer. Gastronomi Barat yang memiliki pendekatan saintifik dan material, terasa terbatas dibanding Indonesia dengan pemaknaan lebih luas.
Sebagai satu contoh di Indonesia: tumpeng. Dari dimensi simbolismenya, bentuknya yang kerucut melambangkan Gunung Mahameru yaitu pusat alam semesta dalam kosmologi Hindu-Jawa. Lauknya yang tujuh macam adalah simbol pitulungan (pertolongan) dari 7 arah mata angin. Pembuatan tumpeng pun harus sesuai perhitungan Jawa (hari baik/weton).
Buku “Kisah Kasih dari Dapur” adalah potret gastronomi Sulawesi Selatan. Cerita-ceritanya terasa personal. Gastronomi memang menawarkan lensa yang kaya untuk memahami kompleksitas sejarah. Wilda juga menceritakan bagaimana kelas sosial tercermin dalam akses bahan baku makanan. Tak sedikit Wilda memaparkan bagaimana sejarah dapurnya berkembang. Ada dinamika gender dan keluarga yang bergerak merefleksikan transformasi sosial. Tak terkecuali dengan perubahan teknologi memasak yang turut memengaruhi struktur kehidupan personalnya dan hubungan komunal.
Sama seperti suku-suku di Indonesia lainnya, ada dilema eksistensial dengan tiga sistem norma yang kerap bertabrakan: anjuran agama, regulasi pemerintah, dan warisan leluhur. Makanan ritual dijelaskan sebagai "warisan nenek moyang" ketimbang "persembahan roh". Sesajen untuk leluhur diberikan dengan dalih "sedekah untuk fakir miskin". Kedua hal ini bisa jadi adalah contoh ‘negosiasi’ dalam praktik menghadapi dilema eksistensial tersebut. Apa yang Wilda alami, saya meyakini hal ini juga dirasakan oleh orang-orang Indonesia lainnya.
Buku ini masih terasa Sulawesi Selatan-sentris seperti latar belakang Wilda, tapi ia juga menghubungkannya dengan narasi sejarah yang lebih luas, seperti keterkaitan rempah-rempah dengan kolonialisme. Saya mengapresiasi narasi yang dibangun Wilda terasa intim dan personal, tapi tetap mempertahankan analisis yang kritis.
Kendati demikian, saya merasa beberapa bagian terasa seperti fragmen yang belum sepenuhnya terhubung. Masih tidak tahu konsistensi benang merahnya apa. Mungkin bisa dilakukan dengan cara menghubungkan fragmen-fragmen ceritanya dengan tema sentral yang lebih spesifik.
Dua kesan utama saat membaca buku tipis dengan sampul cantik ini: terasa indie dan penuh panggilan memori. Kisah Kasih dari Dapur (terbit 2024) bercerita tentang kuliner Sulawesi Selatan—tapi bukan yang umum dikenal seperti coto, pallubasa, atau konro. Wilda Yanti Salam, penulisnya, mengajak kita mencicipi cerita yang jarang tersentuh, dibumbui fenomena sosial dan kenangan pribadinya.
Esai pembuka misalnya, tentang kapurung, kuliner berbahan sagu dari Luwu. Banyak penikmatnya, tapi kurang populer di mata wisata kuliner. Atau kisah bale jujju’ lepe—saya yang orang Bugis saja baru kali ini mendengarnya. Membacanya membuat liur mencair, imajinasi berlari, dan tekad muncul: jika suatu hari kaki kembali menjejak tanah Sulawesi, bale jujju’ lepe harus mampir ke mulut saya.
Tulisan Wilda terasa seperti obrolan santai dengan teman lama yang baru pulang dari pelosok, penuh cerita yang memanggil memori masa kecil. Dalam “Melacak Rupa-rupa Beppa dalam Irama Kecapi”, ia menghidupkan kembali lagu tradisi yang menyebut nama kue dan bahan-bahannya. Lirik “onde-onde labbu topa” melekat di kepala, persis seperti saat kecil dulu lagu ini kerap diputar.
Kemarin kami membahas buku ini langsung dengan penulisnya lewat IG Live. Dari situ saya tahu, buku ini lahir bukan hanya dari pengalaman mencicipi, tapi juga riset serius. Hasilnya bukan sekadar petunjuk membuat makanan, melainkan juga menghadirkan latar sejarah, politik, hingga proses terbentuknya kultur kuliner. Membacanya bukan hanya bikin ngiler, tapi juga menambah wawasan.
Buku ini tipis bukan semata karena ini karya perdana Wilda, tapi juga strategi. Ia ingin mendekatkan narasi kuliner tradisi Sulawesi Selatan kepada Gen Z yang terbiasa short-form reading—membaca ringkas dan cepat. Sebuah langkah yang patut diapresiasi, karena memperluas jalan bagi ragam kuliner Sulawesi Selatan untuk lebih dikenal dan dicintai.
Gara-gara baca buku ini, saya jadi pengen banget (sampe kepikiran) untuk cobain Kapurung dan Papeda. Salah satu genre buku unik yang masuk dalam radar bacaan saya. Kak Wilda membahas pengalaman, penelitiannya, dan perjalanannya dengan makanan, terutama makanan-makanan khas nusantara. Dari ulasan kak Wilda, saya gak expect dari makanan saja, bisa banyak sekali yang bisa dikulik, bahkan bisa merambah ke aspek sosial, ekonomi, ataupun politik. Hal yang menarik juga yang saya pelajari dari buku ini adalah bahwa kebiasaan makan nasi kita ternyata bukan kebiasaan yang memang benar dari masyarakatnya langsung. Dari buku ini juga saya mengenal bahwa masyarakat Indonesia memiliki makanan pokok yang berbeda-beda dan sangat beragam (saya sampai lupa namanya), dan sekali lagi, makanan pokoknya bukan hanya nasi. Terima kasih kak Wilda, ditunggu buku-buku lainnya dan penelusuran makanan nusantaranya dari sabang sampai merauke.
I will always have soft spot for books that talk about food, apalagi kepada penulis-penulis yang bersedia berbagi kenangan pribadinya tentang makanan. Mbak Wilda yang memiliki latar belakang dari suku Bugis membahas makanan dan minuman khas Sulawesi. Segar, karena banyak makanan yang baru aku dengar dan bikin pengen coba. Padat, siapa sangka aku bakal tergelak sesering itu saat membaca buku setipis ini, yang harganya sama seperti satu cangkir kopi di area Senopati? Kaya, karena mbak Wilda membahas makanan dari berbagai angle di buku ini. Terima kasih mbak Wilda sudah menulis buku ini.
Oiya, aku beli buku ini di POST Santa, dimana setelah browsing halaman-halaman di bab awal buku ini tentang kapurung eh ternyata di depan toko bukunya persis ada kedai makanan Makassar yang jualan kapurung. Kalau kamu beli buku ini disitu juga, coba baca bab pertama sambil cobain kapurung di depannya!
Membaca buku ini membuat aku semakin yakin kalau aku nggak peduli-peduli amat sama makanan. Yang penting makan tepat waktu, dan makanannya halal. Di rumah pun aku bukan yang bisa diandalkan untuk urusan cicip mencicip karena makanan, untukku, terbagi jadi dua; makanan yang bisa aku makan, dan makanan yang nggak bisa aku makan 😂🥲🙏
Dalam buku ini, penulis justru mengupas sisi lain dari makanan yang nggak pernah kepikiran olehku sebelumnya. Mulai dari bahannya, cara memasaknya, posisinya dalam interaksi sosial, hingga pergeserannya akibat kebijakan pemerintah maupun perubahan zaman. Makanan menjadi sebuah objek yang menarik untuk melihat lebih dalam pada suatu kelompok masyarakat (dalam hal ini orang-orang yang tinggal di Sulawesi, tempat penulis berasal).
Sebuah bacaan yang menarik dan selingan yang oke dari buku-buku fiksi ku! 😍✨️
beli buku ini karena 'jajan' di warungnya mas Agus dan mba Kalis waktu main ke sana.
kalo kata mba Kalis, buku ini lumayan laris, dugaannya karena covernya. tapi, sejujurnya aku beli karena sinopsis di belakangnya. tentang We Oddang Riuq, Sangiang Serri, dan La Galigo. melemparku pada kenangan di 2022, pasca belajar di Sastra Daerah, Unhas, Makassar.
aku kangen sama Makassar dan sekitarnya. perilaku orang-orangnya, kejadian-kejadian #MakassarbeLike, dan yang jelas, makanannya. aku pernah makan makanan daerah di ujung utara sampai ujung selatan. dan meski asing di lidahku yang Jawa ini, aku tetep kangen. dan... baca buku ini rasanya cukup mengobati kangen meski belum hilang sepenuhnya.
pengen ke Makassar lagi. main ke Kajang, Maros, sampai Enrekang dan Toraja. bismillah, ke sana lagi, segera. aamiin!
salah satu kumpulan esai yang sangat aku suka di tahun ini!
melalui kumpulan esai ini, aku diajak belajar makin dalam bagaimana makanan, dapur, sejarah, dan politik selalu dan akan terus berkelindan. it's beautiful and sometimes ironic, terutama bagaimana beras membentuk kehidupan dan sistem masyarakat yang nggak sustainable ini.
menurutku, penulis menyusun karyanya dengan ciamik, persona, penuh humor, tapi juga kritis dan politis. aku setuju bagaimana sistem membuat kita terasing dari makanan, tercerabut saat kita mengutamakan convenience di atas segalanya; esai tentang makkapurung semakin membuatku percaya bahwa memasak adalah kegiatan komunal, dan menyantap makanan paling nikmat jika kita lakukan bersama-sama. terima kasih untuk bacaan yang sangat menyenangkan ini :)
Menggugah kembali ingatan lama akan nenek saya yang berasal dari Makassar. Kapurung, barongko, dan lawa yang disebutkan dalam buku ini cukup membuat saya kembali ke masa lalu ketika nenek masih hidup dan serinh membuat beberapa makanan ini di rumah. I miss home being home with her. Banyak hal baru yang baru saya ketahui dari buku ini seperti program-program pemerintah tentang seruan makan beras, kepemelukkan agama, dan transmigrasi orang Jawa ke Sulawesi sehingga terjadinya campur budaya dan selera cita rasa. Selalu menyenangkan untuk mengetahui hal-hal baru tentang panganan nusantara. Lewat buku ini, rasanya seperti berkunjung ke pulau Sulawesi yang selalu saya dambakan dari dulu ketika nenek hendak pulang kampung yang belum juga kesampaian.
Kumpulan esai tentang makanan baik di tanah Sulawesi Selatan tempat tinggal penulis atau saat residensi di Yogyakarta. Buku ini ada salah satunya karena kebanyakan buku sejarah dan budaya Sulsel bercerita tentang penaklukan, pemberontakan, perbudakan, kekuasaan raja-raja dan kehidupan para elit.
Untung sebelumnya udah baca La Galigo, jadi lebih kurang ngerti sejarah yang dimaksud. Tapi ada beberapa yang aku baru tau seperti Kapurung, juga Bale Jujju’ Lepe, Pallu Kaloa, Bakso Toraja, minuman alkohol Ballo.
Kalau kamu liat buku ini di toko, beli! Jangan skeptis isinya tipis, padat banget informasinya.
Buku ini cukup menarik meskipun tulisannya hanya 10, buku tentang makanan dan kegiatan disekitarnya tidak pernah mengecewakan saya. Buku ini mirip-mirip dengan kumpulan tulisan Buku "Selama Ada Sambal, Hidup Akan Baik-Baik Saja" bedanya, kalau di buku itu, penulisnya punya lebih banyak referensi daerah, kalau yang ini lebih mengulik tentang makanan Sulawesi dan sedikit Jawa. Risetnya pasti lama, dan saya rasa penulis pasti masih punya banyak arsip tentang penelitiannya tentang makanan yang belum diterbitkan. I'd love to read another book of gastronomy from this writer :)
Salah satu kumpulan esai yang aku sukai karena walaupun isinya "daging" semua, ia sangat mudah dicerna. Racikan rupa-rupa rasa tentang makanan dan dapur tempat ia tercipta, disajikan dengan apik, ringan, dan segar. Wilda dengan seimbang mengisahkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya tentang pangan lokal Sulawesi Selatan (dan hal-hal di sekelilingnya), sekaligus kritis dalam refleksi terhadapnya. Aku ingin menulis seperti dia, mungkin sambil menenggak beberapa gelas ballo, setelah menyesap bale jujju' lepe di ujung telunjukku. Kumpulan esai ini membuatku belajar dan lapar sekaligus!
Sesungguhnya, saya hanya seorang yang suka menguyah. Jangan tanya resep masakan, pasti saya hanya menggelengkan kepala. Membaca buku ini membuat saya merasa semakin tidak tahu apa-apa tentang segala hal yang masuk dalam perut saya, hik.
Terdapat 10 kisah kasih (saya lebih suka menyebutnya demikian dibandingkan kumpulan esai), ditambah semacam pengantar dan Kepustakaan. Mulai dari Kapurung, Ballo, hingga Meramu Rasa Merantau. Hem..., entah kenapa tidak dicantumkan nama editor buku ini oleh penerbi
Kurangnya kumpulan essai Kisah Kasih dari Dapur karya Wilda Yanti Salam ini buatku cuma 1, yaitu kurang panjang. Meskipun buku ini merupakan kumpulan essai, bahasa yang digunakan oleh penulis sangat mudah dipahami, beberapa diantaranya saya malah merasa sedang diajak bercengkrama. Sy seolah sedang diceritakan tentang pengalaman penulis perihal makanan dan segala bentuk korelasinya dengan hal-hal lain disekelilingnya. Sebuah essai yang sangat menyenangkan, ringan dan memberikan wawasan, utamanya tentang makanan di Makassar.
Keliling dari satu dapur ke dapur lainnya di Sulawesi Selatan melalui tulisan mba Wilda. Dari dapur yang meracik Kapurung di rumahnya sebagai perayaan pulang sampai dapur yang bertransformasi menjadi bar Lapong tempat minum Bollo. Tentang rekomendasi makanan hidden gem hingga pemaparan makanan ritus. Ditambahkan bumbu sejarah, seikat politik, dan segenggam cerita personal, tersajilah kumpulan esai-esai sedap untuk bahan belajar tulisan gue selanjutnya.
Kisah kenangan dan makanan. Kasihnya keluarga menghantar makanan kepada anak-anak yang berhijrah untuk belajar dan bekerja.
The comfort food.
Cerita keluar dari kepompong keselesaan hidup. Belajar budaya dan makanan orang lain. Pembangunan menyebabkan gerai-gerai yang pernah menghidangkan makanan dan camilan enak hilang entah ke mana.
Makanan yang membuatkan kita terkenang kepada saat-saat bahagia.
Buku yang manis
This entire review has been hidden because of spoilers.
berisi kumpulan esai tentang kuliner Sulawesi Selatan dan bagaimana keterkaitannya dengan sosial budaya masyarakat setempat. tulisan-tulisannya personal tapi tetap puitis. penyampaiannya ringan dan jenaka tapi tetap serius. dan yg paling aku suka adalah pendekatan etnografis yg dipakai dalam meriset tema2 di buku ini menarik sekali untuk diikuti!
Sebagai orang Bugis yang lahir dan tumbuh di tanah bugis, beberapa esai dalam buku ini terasa begitu dekat dan familiar. Menyenangkan sekali membaca pengalaman penulis dengan berbagai makanan yang juga saya santap hampir setiap hari. Pada akhirnya makanan bukan hanya tentang apa yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Ia selalu lebih daripada itu. Mungkin memang benar You are what you eat.
Akhirnya selesai baca buku ini. Lama banget rasanya, padahal bukunya sangat tipis sekali. Saya suka membaca tulisan-tulisan esai, tapi buku ini rasanya, apa ya, semacam diary/jurnal pribadi yang dipublikasikan. Idenya mungkin bagus, tapi eksekusinya kurang. Gaya penulisannya masih belum konstruktif. Membosankan dan membingungkan jadinya.
Gaya penulisan yang sangat ‘humble’ membuat buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Untuk seseorang yang lama tinggal di Jawa dan hanya pernah sesekali pergi ke Sulawesi, buku ini seperti membukakan mata terhadap bagaimana cita rasa tersebut terbentuk, bagaimana keputusan-keputusan ‘pusat’ bertampak pada tradisi dan kekayaan kuliner di pulau-pulau lain.
Fotonya udah dari bulan april tapi baru ngepost review sekarang 😅
Buku ini jujur buat aku bikin pengen cobain satu-satu makanan yang diceritain tiap babnya 😝 Kapurung tuh aku pengen coba banget karena dideskripsiinnya menggugah selera~ tapi sayang di Denpasar sepertinya belum ada yang jual deh 😕
Membaca ini membuatku flashback ke memori jalan-jalan dan kulineran ke Makassar. Aku masih ingat enaknya Kapurung. Tapi, lebih dari sekedar makanan, Wilda Yanti Salam juga mengajak para pembaca untuk menyelami sejarah, budaya, bahkan politik di balik makanan-makanan yang ia tuliskan.
Buku ini adalah yang terbaik yang saya baca di tahun 2025. Dikemas secara personal, buku ini kaya akan pengetahuan tentang budaya Bugis & Makassar, gastronomi, serta politik pangan.