Aceh semasa perlawanan Gerakan Aceh Merdeka. Empat orang perempuan sedang turun ke rawa bernama Paya Nie untuk mengumpulkan purun danau buat dijadikan tikar. Kilas balik-kilas balik dalam obrolan mereka membawa kita ke masa lalu paya, masa lalu kampung-kampung sekitarnya, masa lalu militerisme, serta masa lalu diri mereka masing-masing. Desas-desus, legenda lokal, laporan saksi mata, dan mungkin juga bualan-bualan bercampur aduk dengan memukau. Tanpa mereka sadari, seregu marinir Indonesia sedang menyiapkan serangan skala besar ke rawa yang diduga menjadi tempat persembunyian gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka itu.
Juara III Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023
Puja untuk karakter Mail. Sungguh aku menyukai Mail, seperti karakter yang komplet: dia setidaknya punya dua trauma besar dalam hidup (menyaksikan persetubuhan ayah dan ibunya yang menjadi selang-seling pertengkaran keduanya, juga seorang gadis yang diperkosa empat orang tentara). Mail menjadi punya obsesi pada tubuh perempuan, seks, dan mengintip.
Aku suka jenis karakter seperti ini. Ida punya penggambaran yang dahsyat untuk para perempuan yang merogoh mayat. Seruuuuu. Cerita Paya Nie ini berkelindan dengan legenda, mitos, keyakinan agama, dan tentu kekerasan.
Kisah 4 perempuan yang terjebak diantara konflik gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan TNI dibawah perintah Ibu Presiden yg merupakan putri dari seorang Bapak Presiden negara induk, memberikan aku banyak gambaran di PAYA NIE, sebuah rawa. Ya! Rawa bukan sembarang rawa, ternyata dibalik konflik ini, banyak kepentingan2 yang mau di kuasai oleh banyak pihak2 tertentu. 🍃
Aku juga baru tau juga mengenai KTP dikala perang itu, berbeda dg negara induk. Masyarakat di Kampung Salamanga dan kampung lainnya WAJIB membuat KTP berwarna merah putih sbg mana warna bendera negara induk. Merah putih adalah simbol kesetiaan dan kepatuhan. Nasionalisme diterjemahkan dlm warna-warni. 👏🏻😯
Dibalik semua konflik yg kompleks dibuku maupun sejarah asli itu sendiri, SELALU DAN SELALU RAKYAT SIPIL YANG PALING MENDERITA!😔 Buku ini begitu nyata daripada novel itu sendiri🙂 if you know what I mean🙃
Sebuah Novel, dua kata itu seolah tak ingin tertinggal di cover depan buku ini. Mungkin mencoba menegaskan bahwa isinya hanyalah fiksi belaka, tapi pembaca mana yang mau percaya begitu saja?.
Paya Nie sejatinya memanglah nama sebuah rawa yang sarat dengan legenda, sebagiannya menjadi diorama dalam kisah empat perempuan pencari binyeut ciptaan Kak Ida Fitri ini.
Tapi bukan Paya Nie di Biereun yang tercatat memiliki kisah penyerbuan tentara terhadap GAM, melainkan Paya Cot Trieng di Aceh Utara. Dua minggu lebih lamanya 5000 tentara mengepung tempat itu. Ida Fitri melempar kartunya, "Sebuah Novel".
196 halaman kata yang terangkai tak pernah keluar dari latar Paya Nie yang diserbu tentara, terasa padat dan nyaring. Menarasikan kehidupan polos orang kampung Salamanga, yang miskin, terjebak perang, menjadi korban kekerasan militer dan terbelenggu budaya patriarki namun tetap cinta terhadap "bangsanya".
Gambaran itu tak dapat disangkal dengan hanya melontar label "Sebuah Novel". Aceh tak dapat dilihat dari sepotong kisah pemberontakan yang mungkin lebih berkonotasi negatif ketimbang kisah heroik sebuah bangsa.
Ya, Aceh adalah sebuah bangsa, negeri yang merdeka. Setidaknya demikian yang pernah tercatat di dalam Traktat London 1824 yang diakui oleh Inggris juga Belanda.
Kisah heroik mempertahankan negeri dari bangsa pendatang yang ingin menjajah sudah hadir jauh sebelum itu, bahkan sebelum Cornelis de Houtman menginjakkan kakinya di Aceh.
Kisah heroik selalu bersanding dengan kisah penjajahan, dan kemiskinan ada di tengahnya, seperti Kartini di buku ini. Inong balee itu hanya ingin keluar dari kemelaratan yang menjebaknya, tak ada penyesalan pada wajahnya walau nyawa sudah lepas pergi entah ke mana.
Kesetiaanpun bukan kata asing bagi rakyat Aceh, kata-kata Kak Limah bahwa "Almarhum ibuku selalu mengatakan, letak surga seorang istri ada pada kebahagiaan suaminya. Aku tak mau membuat arwah ibuku tak tenang,” itu lebih saya tangkap sebagai sebuah sarkasme dari sikap dan perlakuan negara induk kepada rakyat Aceh ketimbang kultur patriarki yang menderanya.
Jika kalimat Kak Limah itu tak ada di buku ini, saya yakin buku ini akan lebih fiksi dari kisah Hitler mati di Garut. Sarkas ataupun tidak, patriarki lekat dengan kehidupan orang kampung (baca: kita).
Ida Fitri dalam Paya Nie bukan hanya lihai memindahkan dimensi realitas ke dalam dunia fiksi, namun juga mahir menjaga ritme emosi pembaca untuk tidak buru-buru meninggalkan bukunya.
Pembaca yang tak hanya membaca teks, pasti menangkap kegelisahan penulis yang tersekam, nyala terbakar, merah dan biru. Tapi itu hanya tangkapan pembaca, benar tidaknya tak jadi soal.
Buku ini menemani sederet buku tentang kekerasan militer di Aceh yang kita jumpai sebelumnya, di antaranya karya-karya Arafat Nur. Sebuah buku yang bukan hanya layak dibaca, tapi juga diselami lebih lanjut.
Novel ini mengambil waktu sekitar tahun 2004, masa dimana perang antara Tentara Nasional Indonesia dengan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih berlangsung. Sebuah rawa bernama Paya Nie, adalah tempat berlangsungnya baku tembak. Empat orang perempuan yakni Mawa Aisyah, Cuda Aminah, Kak Limah dan Ubiet sedang mencari purun danau (binyeut) ketika baku tembak berlangsung.
Beberapa jam sebelum kejadian, keempat wanita ini masih asyik mengumpulkan purun danau. Selang-seling mereka saling berkisah tentang apa yang terjadi di kampung mereka. Ubiet dengan kisah bapaknya yang mengalami gangguan penglihatan, Kak Limah dengan kisah Mail yang sering meresahkan perempuan di kampung mereka, Cuda Aminah dengan kisah perjodohannya dan suami kesayangannya, dan Mawa Aisyah dengan kisahnya yang pernah memberi makan pimpinan GAM. Dari kisah keempat wanita ini, pembaca mendapatkan gambaran akan kehidupan masyarakat di sekitar Paya Nie kala itu.
Tidak banyak novel yang mengangkat tema terkait GAM, seakan kisah pemberontak negara memang tabu untuk dibicarakan. Lewat sudut pandang keempat wanita ini, saya jadi tahu kalau KTP penduduk di wilayah saat itu berbeda dengan KTP penduduk Indonesia. Mereka diberi kartu dengan warna merah putih yang melambangkan nasionalisme. Barangsiapa yang tidak membawa serta KTPnya akan dicurigai sebagai gerilyawan. Namun tidak selamanya tentara Indonesia berkelakuan baik. Dikisahkan ada juga sekelompok tentara yang mengambil perempuan di bawah umur dan disetubuhi dengan paksa sampai mati. Kejadian yang memicu beberapa orang beralih keberpihakan kepada GAM.
Frasa "Sebuah Novel" di halaman sampul buku ini mengingatkan bahwa semua kisah dalam buku ini adalah fiksi. Pembaca diberi kebebasan merasakan, memahami dan mendalami apakah yang tertulis hanyalah fiksi atau sebuah sejarah yang tak pernah dikisahkan sebelumnya.
Paya Nie merupakan novel karya Ida Fitri yang memiliki latar belakang konflik panjang di Aceh, novel ini mengangkat tema perjuangan, ketahanan, dan hubungan antarmanusia di tengah situasi sulit. Cerita berpusat pada empat perempuan yang turun ke rawa bernama Paya Nie untuk mengumpulkan purun danau yang akan dijadikan tikar. Paya Nie sendiri adalah nama sebuah rawa yang sarat dengan legenda, yang menjadi latar peristiwa dalam kisah empat perempuan pencari binyeut.
Novel ini menggambarkan bagaimana nilai patriarki begitu membelenggu perempuan Aceh, terutama selama masa konflik. Selain itu, novel ini juga menyoroti pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan stigma buruk di masyarakat yang mengharuskan seorang istri untuk patuh pada suaminya.
Paya Nie tidak hanya menawarkan cerita yang menarik, tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan perempuan Aceh di masa konflik, serta berbagai isu sosial yang masih relevan hingga saat ini. Melalui narasi fiksi, penulis berhasil memberikan suara kepada mereka yang suaranya tidak didengar, membuatnya lebih mudah dipahami oleh pembaca.
Tidak ada buku fiksi sejarah yang bisa dibaca tanpa rasa ngilu. Karena sejatinya, negara ini berdiri dan bersatu dengan segala bentuk kekerasan yang bisa dipaksakan. Pun ketika harga yang harus dibayar adalah nyawa orang-orang kampung. Bacaan yang sangat menggugah, unik karena menceritakan sejarah sebuah kampung di Aceh yang terjebak antara konflik tentara republik vs GAM. Penuh detail-detail dan intrik manis yang membuat pengalaman membaca sangat berkesan.
"Almarhum ibuku selalu mengatakan, letak surga seorang istri ada pada kebahagiaan suaminya. Aku tak mau membuat arwah ibuku tak tenang." —Hal. 8
Mengapa kalimat di atas seperti representasi orang-orang di Paya Nie terhadap negara induknya di dalam novel ini?
Sebuah novel. Begitu yang tertulis di sampul novel ini. Seakan menguatkan bahwa ini adalah fiksi. Namun, terasa sangat begitu nyata.
-----
Empat wanita yang sedang mencari rupun danau: Ubiet, Mawa Aisyah, Kak Limah, dan Cuda Aminah, harus terjebak di Paya Nie, rawa bersayap sembilan, saat bentrokan antara tentara negara induk dengan orang-orang gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Paya Nie adalah sebuah novel yang sangat ku rekomendasikan untuk dibaca. Banyak informasi baru yang ku ketahui. Novel ini berlatar belakang tahun 2004. Di mana Aceh sedang masa darurat militer karena pemberontakan GAM. Dan ternyata Aceh pada masa itu memiliki KTP berbeda. Yaitu KTP berwarna merah putih dengan ukuran yang lebih besar dari KTP pada umumnya. Merah putih adalah simbol kepatuhan dan nasionalisme (Hal. 102).
Tindakan represif dan bentrokan antara gerilyawan dan militer tidak hanya memakan korban satu sama lain, tetapi yang paling parah adalah warga sipil yang hanya sekadar bertahan hidup di tengah kemiskinan. Serta, trauma yang dirasakan para wanita dan anak-anak yang terjebak dalam konflik.
Sebuah novel yang padat dan memilukan. Karakterisasi setiap tokohnya pun kompleks. Tidak hanya bercerita tentang peristiwa konflik militer dan GAM, tetapi juga cerita-cerita masa lalu, legenda lokal, kisah-kisah para empat wanita, dan perjuangan hidupnya.
Ketika membaca di halaman terakhir saya langsung setuju kalau novel ini menjadi salah satu pemenang Sayembara Novel DKJ 2023.
Cerita utamanya bertumpu pada konflik GAM dengan negara induk (Indonesia), tetapi di samping itu ada banyak tema menarik yang juga terkandung di dalamnya. Mulai dari kedudukan perempuan Aceh di dalam rumah tangga, mitos-mitos yang berkembang, kebiasaan laku di kampung di Aceh, dan kehidupan warga desa (Khususnya Salamanga & Kampung Ine), sampai pada kehidupan seks dan pelecehan seksual.
Novel ini memberikan cerita lain ketika terjadi konflik. Bukan cuma menyoal perlawanan di medan pertempuran, tetapi juga mengenai dampaknya pada golongan yang tidak memiliki kepentingan terhadap konflik.
Salah satu hal menarik yang membuat saya betah menyelesaikan novel ini adalah cara bercerita Ida Fitri yang membuat cerita semakin terang dan beralasan dengan menyuguhkan cerita dari beragam sudut pandang. Karakter pada cerita diberikan sudut pandangnya sendiri atau ceritanya sendiri atau latarbelakangnya sendiri yang kemudian ditarik menjadi relevan dengan cerita alur utama. Meski beberapa perpindahan cerita karakter ada yang terasa kurang mulus, tetapi saya sendiri begitu menikmati ketika cerita bergeser ke latarbelakang karakter Mail. Pembangunan karakter yang kuat dan menarik.
Dengan porsi yang pas untuk latarbelakang setiap karakter yang kemudian menjadi pelengkap cerita alur utama, novel ini menyajikan satu cerita lengkap yang semakin bertambah halaman, semakin sulit untuk berhenti membaca. Unik, menarik, dan pilu. Iya, pilu: kekerasan seksual, konflik, kekerasan fisik, intimidasi, tersaji di cerita utama dan latarbelakang karakternya.
Setiap babnya begitu kompleks, kaya, indah, imajinatif dan penuh dogeng sehingga bisa berdiri sebagai cerpen, terkadang sampai tidak ada lagi korelasi cerita antar bab.
Karakter yang diceritakan juga terlalu banyak, sehingga pembaca kekurangan simpati dan menjadi tidak peduli lagi tentang apa yang akan terjadi kepada karakternya.
Dorongan saya membaca Paya Nie bermula dari kegelisahan diri, yakni bahasa Indonesia yang saya sangka telah saya kuasai—sebab ini bahasa ibu, dan saya penutur jati—ternyata masih saya kenal dalam bentuknya yang dangkal. Kosakata yang kerap saya gunakan, bila ditilik, hanyalah ragam cepat saji: ringkas, praktis, dan miskin rupa. Dalam pusaran diskusi mengenai karya-karya sastra tanah air yang tetap setia memelihara kekayaan bahasa, saya memilih ikut menyelam. Negeri ini terlalu kaya untuk dibiarkan kehilangan daya ucapnya sendiri. Dan saya, yang sadar akan ketidaktahuan sendiri, tidak punya jalan lain selain belajar dari sumber paling sahih: sastra. Di antara judul-judul yang disebut, muncullah Paya Nie: Sebuah Novel karya Ida Safitri. Tanpa banyak basa-basi, saya memutuskan untuk membacanya.
Ketika mulai membaca, saya dikejutkan oleh latar yang diangkat yaitu konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ini bukan perkara kecil, dan jelas bukan tema yang bisa diangkat secara gegabah. Namun yang lebih mencolok, kisah ini tidak berpijak pada para pemegang senjata, melainkan pada empat perempuan perkasa: Ubiet, Mawa Aisyah, Cuda Aminah, dan Kak Limah. Cerita bergerak dari mata dan tubuh mereka—dari rawa yang mengandung bisik sejarah, dari tanah yang tidak pernah kering oleh air atau darah, dan dari pelipis yang menegang saat angin membawa firasat gelisah.
Dengan menempatkan perempuan sebagai poros cerita, pembaca diajak melihat langsung apa yang hendak disampaikan penulis. Ida Safitri tidak bertutur dari kejauhan tetapi ia turun langsung ke lapisan paling rapat yaitu masyarakat sipil yang terjepit di antara peluru negara dan pelarian bersenjata. Konflik yang selama ini kita kenal lewat berita dan catatan sejarah, dalam novel ini menjelma jadi potret yang lebih kecil, lebih dekat, dan lebih nyata yang hidup dalam tubuh dan ingatan perempuan yang tidak punya ruang untuk bersuara. Meski judulnya menegaskan bahwa Paya Nie adalah “sebuah novel”—fiksi, dengan sendirinya—kita tahu luka dan latar yang dijadikan bingkai tidak tumbuh dari tanah dongeng semata.
Melalui susunan alur yang maju-mundur, salah satu kekuatan Paya Nie terletak pada caranya mengangkat persoalan patriarki yang bukan hanya sebagai tudingan kosong, melainkan sebagai gambaran keseharian yang terlalu sering diwajarkan. Penindasan terhadap perempuan memang tidak selalu datang dalam bentuk larangan yang keras atau bentakan lantang, melainkan diwariskan: disusupkan atas nama adat, dilembutkan oleh tutur keluarga, dan dibenarkan oleh keyakinan yang diterima tanpa tanya. Dalam novel ini kita menyaksikan bagaimana posisi perempuan sejak dini telah ditentukan sebagai anak yang harus pasrah, sebagai istri yang harus menyerah, dan sebagai ibu yang harus mengalah. Patriarki tidak hadir sebagai teori sosial, melainkan sebagai kenyataan yang menyelusup dari dapur hingga liang tidur. Dalam struktur seperti ini, kekuasaan hanya bergerak satu arah, dan perempuan dipaksa membungkam dirinya sendiri demi menjaga keseimbangan. Patriarki bukan sesuatu yang patut diwariskan, bahkan tidak layak dikenang sebagai warisan.
Lebih jauh, Paya Nie menghadirkan penghayatan masyarakat yang mencakup kepercayaan pada dunia gaib dan kekuatan-kekuatan yang tidak kasatmata, sebagaimana lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ida Safitri tidak mempersoalkan benar atau tidaknya keyakinan tersebut; ia hanya mencatat bahwa dalam masyarakat yang ia hadirkan, hal-hal demikian adalah bagian dari cara menafsir peristiwa dan merespons derita. Keyakinan ini bukan sekadar sisa masa silam, melainkan sesuatu yang hidup dan membentuk cara bertindak. Orang yang sakit, misalnya, tidak selalu dibawa ke pusat kesehatan, melainkan ke dukun atau tokoh adat, sebab diyakini ada pelanggaran tidak terlihat yang mengundang derita. Novel ini tidak berpihak pada salah satunya, tetapi membuka ruang bagi pembaca untuk menyadari bahwa rasionalitas dan kepercayaan lokal terus beradu pelan, tanpa sorak, di kepala masyarakat.
Selain menampakkan luka-luka perempuan, Paya Nie menyibak celah naratif yang kerap dijauhi arus utama, yakni pandangan dari mereka yang berada di sisi Gerakan Aceh Merdeka. Ida Safitri tidak memihak, tidak pula menghakimi. Ia hanya menghadirkan suara yang selama ini jarang diberi tempat untuk bicara. Saat menyusuri bagian ini, saya bertanya dalam hati bagaimana tanggapan pembaca lain terhadap pilihan naratif semacam ini? Sebab sejauh pengamatan saya, diskusi yang membahasnya secara jernih masih jarang terdengar.
Namun tidak urung saya merasa ada sekat yang tidak kunjung patah di antara saya dan dunia yang hendak dihadirkan novel ini. Bukan lantaran alurnya yang berpindah-pindah, saya tidak mempersoalkan teknik, melainkan karena simpul emosi antara tokoh dan pembaca tidak pernah benar-benar dijalin. Hubungan itu dibuka, tapi tidak bisa saya genggam. Keterikatan itu tumbuh sebentar, lalu patah saat cerita bergeser, dan ketika harus dimulai kembali, daya ikatnya sudah berkurang. Padahal tokoh-tokohnya, baik yang utama maupun yang sekilas lalu, menyimpan lapisan yang layak disigi. Tapi cerita hanya berdiri di permukaan, lalu berganti arah sebelum sempat merapatkan makna.
Lalu ada Mail, tokoh yang pada akhirnya diberi ruang untuk ditelusuri. Latar dan luka-lukanya dibuka perlahan, seolah hendak mengajukan alasan atas laku nista yang ia lakukan. Saya paham, penulis ingin memperlihatkan bahwa watak tidak lahir dari ruang hampa, bahwa semuanya punya asal-usul. Namun simpati saya telah lebih dulu runtuh. Tindakannya, bagi saya, melampaui batas yang bisa dimaklumi. Tentu ini pandangan pribadi, sebuah jarak yang tidak semua pembaca mungkin rasakan sama.
Secara keseluruhan, Paya Nie patut dikenang karena ia berani menempatkan masyarakat sipil tepat di jantung tembak konflik. Ida Safitri masuk ke tubuh-tubuh yang hidup di antara aba-aba senjata dan bayang pembantaian yang tidak kunjung reda. Ia memperlihatkan bagaimana orang-orang tetap harus menyambung hidup di tengah ketakutan, bagaimana ruang tumbuh bagi anak-anak perlahan kehilangan keamanan, dan bagaimana perempuan dipaksa tegar meski dunia di sekelilingnya tidak henti memberi tekanan. Pertikaian tidak selalu datang dalam bentuk dentang yang gamblang, melainkan menyusup seperti rembesan yang membatasi, menghimpit, dan mematahkan hidup dari dalam.
Sebagai pembaca yang datang dengan niat sederhana, yaitu menimba kekayaan bahasa dari karya yang tidak segan menyelam ke lorong-lorong diksi yang jarang disapa, saya merasa tidak pulang dengan tangan kosong. Ada kosakata yang asing namun akrab setelah diucap, ada irama kalimat yang membuka cakrawala baru dalam berbahasa. Paya Nie: Sebuah Novel memang bukan bacaan yang ringan, tetapi justru karena itu ia patut dibaca. Bagi siapa pun yang ingin menyigi semesta Ida Safitri lebih jauh, buku ini layak dijadikan pijakan pertama.
Kisah ini bercerita tentang kisah di balik kisah yang diceritakan 4 perempuan Aceh semasa perlawanan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang sedang mencari binyeut (purun) di rawa yang bernama Paya Nie, untuk dijadikan tikar, sebelum penyerangan luar biasa tentara Indonesia terhadap GAM, beberapa bulan sebelum ditandatanganinya kesepakatan di Helsinki.
Dalam proses mencari binyeut, obrolan mereka membawa kita ke kilas balik ke masa lalu paya, kisah kehidupan ke-empat orang perempuan tersebut dan para lelaki yang berkelindan dalam kehidupan mereka.
Kisah yang mereka bagikan menceritakan kerasnya kehidupan yang mereka lalui sebagai warga negara kelas dua dari negara induk, sebutan bagi Indonesia. Pemerkosaan yang dilakukan para aparat tentara Indonesia, represi yang dialami penduduk, maupun kisah tentang KTP yang menjadi nyawa kedua mereka bila terkena razia. KTP yang ukurannya lebih besar dari ukuran KTP yang dimiliki di propinsi lain di Indonesia, berwarna merah putih.
Tidak ada kisah yang berakhir bahagia dari ke-empat perempuan yang terjebak di Paya Nie saat marinir menyerang tempat persembunyian Gerakan Aceh Merdeka.
Membaca Paya Nie, kisah tentang perempuan yang diwakili oleh Kak Limah, Mawa, Cuda Aminah, perempuan yang berjuang untuk hidup mereka dan keluarga; Ubiet yang mampu membalaskan harga dirinya yang diinjak-injak; Kartini, penembak jitu Inong Balee, yang berjuang untuk bangkit dari 'penjajahan' negara Induk, membuat saya menarik nafas panjang.
Kisah tentang mereka, dalam kisah yang berbeda ataupun serupa, masih terjadi pada warga negara kelas dua di negara induk.
Catatan kecil dari kisah Paya Nie yang saya sayangkan adalah ketika Ida Fitri membandingkan perempuan Aceh yang berbeda dengan perempuan Jawa yang lebih senang menjadi Nyai Belanda. Perbandingan yang terasa seperti penghakiman, atau mungkin sinisme terhadap pahlawan perempuan Jawa yang tidak mampu mendobrak tradisi?
Membaca Paya Nie di tengah polemik perebutan empat pulau di Aceh begitu terasa surreal. Saya suka sekali dengan cara Ida Fitri membawa gaya bertutur yang naratif. Ia menumbuhkan para karakter di dalamnya seperti saya membayangkan orang Aceh asli, begitu kharismatik. Dan tidak ada tokoh yang tertinggal. Saya bahkan begitu tertarik dengan kisah Mail kembar dan penasaran betul bagaimana kelanjutannya haha. Bagian itu justru merupakan salah satu bagian terbaik dalam Novel ini. Saya berharap betul novel ini lebih panjang. Kisah romansa Biet dan Joel, Mawa di tengah markas GAM, nasib Limah, bahkan si tantara Eka Kurnia sepertinya bisa dikembangkan lebih jauh. Tetapi mungkin Ida sengaja tidak melakukan hal tersebut. Membiarkan mereka beristirahat setelah perang panjang, semua ingin pulang. Dan tentu dalam kisah yang tragis ini, keberanian dan harapan selalu menemukan jalannya.
Membaca Paya Nie, membaca kisah-kisah perempuan semasa konflik. Kita akan mendengar setiap bagian cerita hidup tokoh ke tokoh; ada Biet, Mawa Aisyah, Cuda Aminah, dan Kak Limah. Ke empat tokoh inilah yang mengawal cerita dengan latar rawa saat mereka mencari binyeut untuk menganyam tikar. Sepanjang pencarian binyeut, mereka berkisah tentang asal muasal, orang-orang terdekat, kehidupan keseharian, dan kisah lampau yang sangat memukau. Di antara bab favorit saya adalah ikan-ikan menyebrangi bukit, legenda sang petunjuk jalan, dan wabah.
Barangkali sudah ada beberapa penulis yang menulis tentang Aceh dan konflik, tapi Ida menulis suatu hal yang sangat dekat dengannya, perempuan di masa itu.
Ketika terjadi "pemberontakan" di sebuah daerah, sebenarnya siapa yang paling terdampak? Pihak pemerintah? Pemberontak? atau... warga desa yang tidak ada kaitannya sama sekali? Ini menjadi amat menyesakan ketika ternyata hal ini benar-benar terjadi dan dialami oleh banyak orang yang tak junjung mendapat hak dan keadilan yang sebenarnya layak mereka dapatkan, mereka harus bertahan diantara situasi mencekam yang sebenarnya bukan salah mereka dan keinginan mereka berada si sana. 22 tahun yang lalu, di aceh, peristiwa itu terjadi.
Bisa merangkum plot GAM, Aceh, dan perempuan yang ciamik sekali! Pengalaman membaca yang menyenangkan dengan alur mundur dan ‘menegangkan’ kecil untuk menantikan apa yang ada di ujung buku.
Lebih oke banget kalau pembacanya gak banyak jeda, karena akan dapet banget tensionnya. Sayang aku banyak jeda-jeda (salah sendiri)😔
Yang kurang bagiku adalah psikologi para tokoh yang terasa agak kurang dieksplor. Waktu ada teman yang mau meneliti novel ini dan bertanya padaku apa bisa dikaji psikologi sastranya, kubilang sepertinya ga bisa, datanya ga cukup banyak. Setelah dia baca ulang, dia pun memutuskan untuk mengganti teori yang digunakan. Teori baru inilah yang menurutku cocok sekali: feminisme.
Selain masalah psikologi tokoh itu, buku ini beres. Aku menikmatinya.
Sejujurnya bab-bab awal dari buku ini tidak ada yang menarik buatku, bukan berarti membosankan, tapi memang belum ada konflik yang membuatku tertarik saja. Pada bab awal ini kebanyakan hanya menceritakan empat perempuan yang sedang mencari ke binyeut, dan bercerita tentang latar belakang setiap tokoh.
Setelah menghabiskan setengah buku ini, aku mulai tertarik pada buku ini karena konflik-konflik mulai bermunculan, yang membuatku tidak bisa berhenti membaca sampai akhir.
⭐️5/5 Dalam Paya Nie, Ida fitri sukses menggambarkan kesengsaraan mutlak bagi warga sipil yang terjebak di tengah situasi konflik dan perang yang tak kunjung usai.
Perempuan menjadi kelompok yang menerima penderitaan terberat. Selalu diposisikan tak berdaya, dan dibuat selalu tunduk. Terpaksa patuh kala disudutkan untuk membantu dan menyuplai salah satu pihak, juga terpaksa bungkam kala kekerasan seksual terlihat depan mata bahkan dialami diri sendiri. Bahkan peluru terus menyasar jiwa perempuan-perempuan yang terkurung dalam wilayah konflik. Menjauh dari bahaya tak pernah menjadi opsi yang dapat mereka pilih.
Sejarah kekerasan di Aceh merentang panjang dari jaman Kesultanan, Perang Aceh di era kolonial (1871-1910), pemberontakan DI/TII pasca kemerdekaan, pembantaian massal PKI 1965-1966, hingga pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka yg dimulai tahun 1976 hingga 2004.
Kekerasan2 itu menjadi memori trauma kolektif bagi warga Aceh. Ida Fitri menggambarkan kekerasan dan ketakutan itu dalam novel yang menjadi juara 3 Sayembara Novel DKJ 2023. Khususnya kekerasan yg dilakukan tentara Indonesia terhadap anggota GAM dan warga Aceh.
Cerita dimulai dari sekelompok 4 orang wanita Kampung Salamanga yang mencari binyeut (tanaman seperti rumput panjang yg digunakan untuk membuat tikar). Tanpa mereka sadari, empat orang ini terjebak dalam baku tembak antara tentara dan anggota GAM.
Paya Nie sebuah rawa besar yg selama ini menjadi tempat mereka mencari binyeut ternyata adalah markas tersembunyi anggota GAM yg dicari-cari oleh tentara. Detik2 baku tembak di setiap akhir bab membuat pembaca merasakan situasi mencekam, kapan tembakan pertama akan meletus?
Kilas balik dalam obrolan 4 wanita yg sedang mengumpulkan purun membawa kita pada masa lalu Kampung Salamanga dan sekitarnya. Legenda lokal, bualan2, adat istiadat, kritik terhadap patriarki dan kisah2 kekerasan tentara bercampur aduk dengan memukau.
Ida Fitri menggambarkan kekerasan tentara dan negara secara eksplisit dalam novel ini. Sebagai contoh bagaimana gadis remaja sehabis pulang mengaji menjadi korban kebiadaban tentara dengan memperkosanya beramai-ramai dan ditinggalkan begitu saja untuk mati.
Tidak hanya itu, tentara jg bisa mengambil apa saja, menangkap dan menuduh warga sebagai anggota GAM. Bahkan tentara tidak segan untuk membunuhnya, ditengah situasi Darurat Operasi Militer yg menjadi alasannya.
Dengan teknik foreshadow, menceritakan adegan yg akan terjadi nanti di awal cerita, Ida Fitri memainkan alur cerita maju mundur dgn apik yg membuat kita menjadi terserap ke dalam cerita. Namun pergeseran cerita masa lalu tokoh agak kasar, sehingga kadang membuat bingung.
Sebagai orang Aceh, Ida Fitri paham betul sejarah dan adat daerahnya. Membuat novel ini tidak klise namun menjadi hidup seperti keadaan sebenarnya di Aceh. Salah satu novel yang membahas suatu daerah/tempat dengan baik, bisa disandingkan dengan Orang2 Oetimu atau Kura-Kura Berjanggut.
nambah wawasan tentang GAM, pertama kali juga baca fiksi hitoris yang latarnya di Aceh. bagus, tapi gk begitu berkesan. mungkin karena alurnya lompat-lompat.
Sebuah gagasan yang sangat menarik : bagaimana situasi para perempuan ketika masa konflik GAM di Aceh. Seringkali yang disorot dalam cerita konflik bersenjata adalah para prajurit, kehancuran infrastruktur, atau tokoh-tokoh pemegang kekuasaan. Sementara perempuan dan anak-anak, dibingkai dalam narasi sebagai yang terdampak tanpa dikuak lebih dalam bagaimana bentuk pertahanan hidup dan perasaan mereka.
Novel Juara 3 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023 ini tampaknya menjanjikan itu di awal. Empat perempuan Aceh : Ubiet, Mawa Aisyah, Cuda Aminah, dan Kak Limah yang sedang mencari binyeut (bahan tikar) di rawa Paya Nie.
Dalam situasi konflik, seringkali ada kepentingan lain yang seringkali ikut campur dan justru memperburuk situasi. Pelanggaran HAM seperti orang hilang, salah tangkap, kekerasan seksual perempuan, penyiksaan, pasti terjadi. Menariknya, situasi ini terjadi di antara sesama warga dalam satu negara yang sempat melalui masa pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM).
Keempat tokoh perempuan ini bercerita pengalaman hidup mereka, yang tidak pernah keluar dari jaring-jaring pelemahan dan kekerasan. Sebelum akhirnya mendengar suara tembakan. Dari situlah konflik dua kubu ‘bermusuhan’ mulai lebih intens.
Gaya menulisnya naratif, menceritakan dengan gaya orang bertutur lisan tapi tidak banyak ekspresi emosi. Dipisahkan antar bab yang tidak panjang, dengan isian yang alurnya maju-mundur, dan kisah berputar-putar. Kadang ada menyinggung legenda, mitos, kadang juga mistis. Ini yang juga membuat plot cerita seolah jalan di tempat, padahal setengah bagian buku sudah dilewati. Akhirnya tidak cukup kuat mengembalikan pembaca ke jalinan benang merah cerita.
Misal di setengah bagian, di akhir bab selalu menyebutkan “(berapa jam) sebelum terdengar suara tembakan pertama”. Ini menarik, membuat pembaca menunggu. Tapi lambatnya tempo, di sisi lain memunculkan kejenuhan. Premis yang digadang-gadang di awal, tampaknya perlu lebih didukung oleh gaya penceritaan yang menghanyutkan untuk mengantisipasi hilangnya antusiasme dan atensi pembaca.
Bagian paling sayat dari "Paya Nie" adalah lembar-lembar terakhir. Saya ditarik untuk membaca berulang. Memahami kebusukan konstitusi 'negara induk', satu terma yang merujuk kepada bangsa-negara Indonesia. Ketertundukan yang feodalis membuat demokrasi jalan di tempat. Lagi-lagi, militerisme yang korup selalu menanggalkan humanisme. Yang menjadi korban atas ketimpangan relasi kuasa ini, tentu saja, perempuan dan anak-anak. Saya dibawa tarik ulur dalam memahami ketakutan di sekitar Paya Nie kala pendudukan Aceh. Sekali lagi, Dewan Kesenian Jakarta berhasil memberikan sorotan kepada perempuan pengarang tepian negeri.
Di antara konflik yang kerap mengakibatkan pertumpahan darah, tentu ada masyarakat sipil yang tak peduli dengan kepentingan masing-masing kubu tersebut, tetapi mengalami dampak kengeriannya.
Ida Fitri memanfaatkan masyarakat sipil tersebut. Melalui beragam suara tokohnya, Ida merentangkan satu benang merah, bahwa kengerian akibat peperangan itu adalah kesedihan kolektif yang nyata.
Aku punya buku ini dengan sampul terbaru. Di sampul itu tergambar jelas sebuah moncong senjata yang bersembunyi di balik binyuet yang sedang diambil oleh 4 orang perempuan. Dari sampul itu, sudah sangat tergambar apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis—perempuan dalam konflik bersenjata. Itu yang membuat aku terpikat untuk membawa pulang buku ini.
Cerita di mulai dari 4 orang perempuan (Ubiet, Mawa Aisyah, Limah, dan Cuda Aminah) yang sedang mencari binyuet (sejenis alang-alang yang tumbuh di rawa) untuk diolah menjadi tikar. Pada saat itu di kampung mereka dan kampung sekitarnya sudah mulai memanas dengan konflik antara kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Negara Induk (sebutan untuk Indonesia). Masyarakat Aceh hidup dalam ketakutan karena Tentara Negara Induk sangat represif dan bertindak seenaknya kepada mereka. Salah sedikit, mereka akan dituduh simpatisan GAM dan dibunuh di tempat. Riwayat kekerasan oleh tentara akan senantiasa dijumpai di buku ini (TW: Pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, kekerasan seksual, kematian, perang).
Dalam Paya Nie, cerita perempuan adalah poros utama. Kehidupan mereka yang sudah lama berdampingan dengan patriarki menjadi pengingat bahwa dalam situasi apapun perempuan akan selalu menjadi kelompok yang tidak diuntungkan. Walaupun cerita ini berlatar di Aceh, cerita mereka terasa dekat karena patriarki selalu hidup di setiap sudut kota maupun desa, di setiap ruang publik bahkan ruang kamar sekalipun. Penulis juga menunjukkan bagaimana perempuan selalu memiliki pilihan terbatas, bahkan atas tubuhnya sendiri. Dan kerap kali perempuan disengaja tidak memiliki pilihan atas nama agama, adat, dan norma.
Cerita-cerita tersebut kemudian dibagi ke dalam 23 bab. Beberapa bab memiliki kisah berbeda yang ingin diceritakan, tapi mereka masih satu kesatuan yang menjadikan buku ini utuh. Beberapa bab memiliki alur mundur karena penulis ingin menjelaskan suatu hal yang berkenaan dengan karakter, peristiwa, atau tempat yang ada dalam cerita ini. Setiap bab terasa terlalu singkat, belum selesai mendalami cerita tapi dipaksa untuk pindah ke cerita lain. Jalinan emosi terhadap satu bab terasa dipotong tanpa belum dituntaskan dahulu.
Di bagian terakhir dari buku ini, tersingkap sebuah cerita dari mantan pemimpin tentara negara induk. Saya tidak bisa menangkap maksud dari penulis dengan menampilkan testimoni sang pemimpin tersebut. Dari awal cerita ini dimulai, tentara negara induk secara konsisten digambarkan sebagai orang-orang bengis yang tidak segan menyiksa masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai GAM. Namun, bagian ini justru memperlihatkan sisi manusiawi seorang tentara yang menyayangkan adanya pertempuran tersebut. Betul, seorang tentara juga manusia, yang tentu memiliki sisi manusiawi dengan kadar yang berbeda-beda. Tapi entah apa urgensi penulis menuliskan sifat kemanusiaannya seorang tentara sebagai bagian akhir dari buku ini.
"Kami tidak menemukan sesuatu yang sangat penting di pulau itu kecuali kematian-kematian yang tidak perlu."
Kalimat tersebut dituturkan dalam tulisan mantan pimpinan tentara di halaman terkahir buku ini. Saya membaca ini sebagai sarkasme terhadap negara induk dan terhadap perjuangan yang dilakukan oleh GAM. Mungkin sang mantan pimpinan tahu bahwa tidak ada sesuatu yang besar yang akan mereka dapatkan saat penyerangan itu, mungkin hanya deretan mayat. Namun, kematian-kematian kelompok GAM tidak bisa dipandang sesempit 'hal yang tidak perlu'. Bahwa apa yang dilakukan GAM adalah perjuangan merebut kembali aceh dari negara induk yang terus menindas masyarakat aceh, perjuangan itu mungkin lebih mulia dan setara nyawa mereka. Walaupun penulis tidak menjelaskan alasan GAM melawan negara induk, kita bisa mencarinya di arsip-arsip sejarah. Kalimat ini, bagiku, kembali menegaskan bahwa semanusiawi apapun seorang tentara, mereka tidak bisa berempati terhadap perjuangan pembebasan masyarakat yang sudah lama ditindas.
Berlatar belakang sebelum Perjanjian Helsinki 2025, Paya Nie menceritakan tentang konflik GAM dan TNI. Diceritakan melalui empat tokoh utama yaitu Ubiet, Cuda Aminah, Mawa Aisyah dan Kak Limah yang terperangkap dalam rawa untuk mencari binyeut saat konflik senjata terjadi. Ga cuma konflik GAM dan TNI, tapi tentang budaya patriarki, takhayul, mistis dan trauma selama konflik. Alur campuran di novel ini akan ngebantu kita buat memahami keempat tokoh utama di novel ini.
Ubiet atau Biet. Paling muda diantara pencari binyeut di Paya Nie. Ia yang pertama kali menemukan mayat Brahim sudah kaku di rawa saat konflik senjata terjadi. Biet adalah tulang punggung di keluarganya, ia harus mencari uang untuk pengobatan bapaknya yang hampir buta. Namun, nahas. Dia harus terjebak di konflik itu. Biet terus berjalan diam-diam agar terhindar dari peluru semata-mata untuk bisa pulang dan melindungi ayahnya. Akan bahaya jika tentara menemukannya di sana karena pasti akan dianggap sebagai mata-mata GAM. Ditengah perjalanannya, ia dibantu hantu untuk sembunyi. Dan di pulau Ine, tempat ia menemukan surga dan nerakanya. Mawa Aisyah. Adalah saudara Ubiet. Dari cerita Mawa, kita akan tau budaya patriarki di Aceh pada waktu itu. Ia harus tunduk bahwa perempuan harus bisa mengurus dapur dan mencari nafkah. Fakta mengejutkan bahwa, Mawa pernah menyembunyikan ketua GAM di rumahnya selama seminggu di rumahnya. Cuda Aminah. Punya suami namanya Abdullah. Mereka menikah karena keluarga mereka beranggapan bahwa Aminah ya pasangannya Abdullah, sama seperti orang tua Nabi. Aminah mau dinikahi Abdullah saat itu karena memang tidak ada pilihan lain. Ia sudah ditinggal meninggal oleh keluarganya sedari kecil. Jadi, ketika Abdullah dan keluarganya datang, seperti gayung bersambut, mereka menikah, hidup bahagia walau tercukupi. Kisah mereka berdua beneran menyentuh. Bener-bener sehidup semati. Kak Limah. Bisa dibilang Kak Limah termasuk ibu-ibu yang suka nge-yapping. Apa aja diceritain semua ke Ubiet, Mawa dan Aminah. Termasuk tentang tetangganya, Mail yang punya kelainan seksual. Diantara Ubiet dan Mawa, dia yang mengalami penyiksaan berat karena dianggap sebagai mata-mata oleh tentara. Ditahan selama seminggu di markas, mengalami kekerasan fisik. Kuku-kuku jarinya dicopot, tentara kalah berarti penyiksaannya di hari itu bertambah.
Keempat tokoh utama hidup dalam bayangan patriarki dan militerisme. Seperti dikutip di halaman 128, “Di sini perempuan seperti tidak punya ruang untuk memiliki rasa takut. Itu harus dilakukan untuk melindungi keselamatan para suami, ayah, anak-anak mereka.” Mereka dipaksa jadi tameng, menafkahi keluarga, sekaligus terjebak di antara konflik yang nggak pernah mereka minta. Novel ini juga dengan jelas nunjukin bahwa dalam perang, rakyatlah yang selalu jadi korban. Mereka kehilangan harta, kehilangan orang tercinta, bahkan harus hidup dengan trauma panjang. Ida Fitri juga berani menggambarkan kalau kedua pihak baik GAM maupun TNI sama-sama punya sisi kelam dan sisi manusiawi. Itu tergambar lewat tokoh Kapten Eka dan Joel. Walaupun alasan Joel bergabung ke GAM agak bikin jengkel, sisi kemanusiaannya tetap muncul dan bikin kita mikir ulang tentang hitam-putih dalam konflik. Dan akhirnya, novel ini ditutup dengan kalimat yang nyesek banget di halaman 181: “Mungkin luka badan bisa disembuhkan cukup dengan menggosok daun bandotan, tapi luka jiwa di mana obat hendak dicari.”
Kalimat itu jadi pengingat, bahwa perang bisa selesai, tapi bekasnya di hati manusia nggak akan pernah hilang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Konsekuensi menceritakan orang-orang yang bercerita (lisan) adalah tulisan mesti bisa bolak-balik luwes antara masa lalu dan masa kini, antara satu subjek bahasan ke lainnya, menggunakan perangkat sastra yang tidak adu canggih tapi efektif dalam menjelaskan maksud en nuansa---itu konsekuensi, semuanya, digenapi oleh Ida Fitri dalam novel "Paya Ni".
Kilas-balik para tokoh perempuan peramban purun danau di Paya Nie (nama rawa/paya di Aceh sana)---Biet, Mawa Aisyah, Cuda Minah, dan Kak Limah---dieksekusi mulus belaka. Tanpa perlu tanda pemisah paragraf, antara seting masa kini dengan kilas balik, cerita---setidaknya bagi saya---tidak njelimet mbulet sampai pembaca kebingungan sedang berada di titik lini masa kapan; tetap memikat, singkatnya.
Subjek bahasan yang pindah dari satu celetukan tokoh, ke kilas balik masa lalu satu tokoh, kemudian kilas balik satu tokoh ditingkahi tokoh lainnya, lalu dar-der-dor---semua dijalin tanpa terasa lompat-lompat yang bikin bacanya jadi, "Eh, gimana, gimana?". Memang, ada 1-2 kalimat bertingkat yang macam kurang sinambung, kayak butuh kata hubung. Tapi bukan yang ganggu-ganggu amat, lah.
Terakhir, soal teknik penulisan. Salah satu yang kucatat menonjol itu soal metafora yang efektif. Di halaman pertama, misal, Ida mengumpamakan suara tembakan yang berentet macam batu-batu tumpah dari bak truk. Efektif karena: 1) Konkret; 2) Lebih mungkin menjangkau imajinasi banyak orang---orang lebih mungkin dengan batu tumpah dari bak truk ketimbang salakan senapan di dunia asli.
Cakep lah, pokoknya. Satu hal lagi: novel ini meneruskan semacam tradisi kritis dalam menuliskan cerita perang yang berpihak pada korban dengan mengedepankan ketakutan dan kepengecutan di satu waktu sebagai kenyataan psikis yang tidak tertolak atau berusaha ditekan, sekaligus menyuguhkan usaha bertahan terus menerus dari tokoh-tokoh orang biasanya yang---sial beribu sial---terjebak perang tak ada hasil kecuali, meminjam kata-kata tokoh Kapten Eka Kurnia di akhir novel, "kematian-kematian yang tidak perlu".
Setelah Azhari Aiyub dan Arafat Nur dan Raisa Kamila, Aceh terus melahirkan jagoan sastranya!
"...yang mati itu juga anak seseorang, ayah seseorang, kemenakan seseorang, anak negeri ini....tidak menemukan sesuatu yang sangat penting di pulau itu kecuali kematian-kematian yang tidak perlu" - Kapten Eka Kurnia.
Dalam novel ini Ida Fitri mengenalkan beberapa perempuan seperti Ubiet, Cuda Aminah, Mawa Aisyah, Limah, Kartini, dan perempuan-perempuan kampung Ine dan Salamanga. Mereka mempunyai cerita masing-masing yang diceritakan baik dalam novel ini. Novel ini mempunyai alur yang bagus dan Ida Fitri menceritakan masing-masing tokoh utamanya di tiap bab dengan baik dan ada satu tokoh yang menurut saya memilki perkembangan bagus yaitu Mail. Seseorang yang jadi tukang intip kemudian jadi intel. Itu menarik!!! Ketika membaca Paya Nie saya penasaran dengan judul ini, apakah daerah Paya Nie benar-benar ada? Ketika mencari di peta dan itu ternyata benar-benar ada. Wah, beneran ini! Kemudian saat membacanya saya teringat pengalaman membaca Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis karena ada sedikit ketegangan ketika pada beberapa bab awal ada tulisan seperti ini : Empat jam tiga puluh menit sebelum terdengar tembakan pertama.
Kemudian dalam buku ini, banyak istilah yang di cetak miring : ada yang beberapa dijelaskan dalam glosarium dan ada juga yang tidak ada. Yang tidak ada ini membuat saya kebingungan dengan istilah tersebut walaupun tidak merusak alurnya.
Ada beberapa tokoh yang masih menarik untuk dikembangkan mengenai Pangeran Sagoe dan Ayyubi dari Lamuri yang mana sering disebut dalam novel ini.
Dari itu semua, menurut saya novel ini pantas mendapatkan juara di sayembara.
Saya tertarik baca novel Paya Nie terbitan Marjin Kiri ini karena latar ceritanya tentang Aceh saat masa konflik Gerakan Aceh Merdeka dengan tentara Negara Induk (di novel ini tak disebut Indonesia). Sebagai yang pernah tinggal di Aceh selama 5 tahun 8 bulan hampir 20 tahun lalu, membaca novel ini terasa sangat dekat di hati. Banyak kearifan lokal Aceh di novel ini yang membuat saya kangen sama Aceh. Misalnya tentang Dododaidi, lagu pengantar tidur anak-anak Aceh. Dan tentang Rimueng Aulia, yaitu Harimau penjaga hutan Aceh. Dan karena pernah lama di Aceh itulah, saya jadi bisa melihat konflik GAM bukan hitam putih serta merta GAM sebagai antagonis.
Konflik di novel ini dibangun dengan perlahan, walau di awal terasa loncat-loncat, tapi semakin dalam ternyata mengungkap banyak luka dari masing-masing karakter utama. Dari perjalanan Biet, Mawa Aisyah, Kak Limah, dan Cuda Aminah yang sedang meramban purun danau untuk dijadikan tikar di sebuah rawa bernama Paya Nie, saya sebagai pembaca merasa diajak perlahan untuk mengenal luka dan duka semasa perang perlawanan GAM. Apalagi, novel ini menjelang akhir diwarnai dengan kontak senjata GAM dan tentara Negara Induk. Seru dan menegangkan sekali.
Walau nuansa novel ini tragedi dan sedih, namun ada beberapa bagian yang menurut saya komedi. Jadi tak membosankan. Tetapi, ada satu yang mengganjal di hati saya usai membaca novel ini. Apakah markas GAM yang digambarkan di novel ini benar seperti itu? Tersembunyi, banyak ruangan yang menurut saya cukup canggih lengkap dengan Barak VIP, dapur, Kamar Mandi Putroe Phang?