Noor H. Dee lahir di Depok, Maret 1982. Selama tujuh tahun ia pernah bekerja sebagai pemasak di hotel dan restoran. Selain hobi menulis, ia juga hobi tidur dan bermain musik.
Ia aktif di komunitas Brigade Lawan Arus, pernah mendirikan Perpustakaan Jalanan di pinggir jalan Margonda Depok, redaktur media gratisan Jurnal Omong Kosong, dan ia juga pernah menjabat sebagai ketua FLP Depok, tetapi mengundurkan diri lantaran selalu merasa tidak percaya diri setiap kali berbicara di depan banyak Orang.
Buku pertamanya berjudul Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (terbitan Lingkar Pena Publishing House). Cerita pendeknya yang berjudul Mengejar Kupu-Kupu dimuat di dalam buku antologi cerpen yang berjudul Kupu-Kupu dan Tambuli (terbitan Dewan Kesenian Jakarta), dan cerpennya yang berjudul Orang-Orang Terowongan juga dimuat di dalam buku antologi kasih untuk Palestina, judul bukunya Gadis Kota Jerash (terbitan Lingkar Pena Publishing House). Selain bekerja sebagai editor picisan di sebuah penerbitan, ia juga mengurus situs www.sipenulis.com (media sosial untuk pencinta literasi) . Igauannya dapat dibaca di www.noorhdee.tumblr.com. Kini ia tinggal di Depok.
Meskipun hanya butuh waktu 3 menit untuk membaca (nyaring) buku bergambar ini, tapi cukup berhasil membuatku tertawa sepanjang halaman. HA HA HA. Mungkin akan jauh lebih menghibur kalau dibaca di tengah anak-anak atau di tengah orang dewasa yang di dalam dirinya masih tersimpan jiwa kanak-kanak.
Hahahaha, buku anak yang sangat lucu, ringan dan sukses mengundang tawa. Kebetulan aku menikmati versi read aloud di buku ini melalui sebuah akun YouTube karena ingin menjawab rasa penasaranku mengenai sebagus apa sih buku anak yang satu ini. Tentunya, akan sangat menyenangkan bila buku ini punya versi soundbook yang pasti membuat ceritanya pasti bakalan jauh lebih pecah dan dari read aloud di YouTube itu kesenangan yang kurasakan ini setara dengan membaca buku fisiknya.
Nah, mungkin karena usiaku yang bukan anak-anak lagi entah mengapa buku ini memang sangat mengesalkan dan kesan lucu yang aku dapatkan dari buku ini bukan lucu karena komedinya tapi karena lelucon sarkas yang penuh ironi. Ironisnya ironi itu tertutup dan tersembunyi di dalam kelucuan nan menggelitik di dalam bukunya.
Aku merasa bahwa singa ini adalah simbol dari orang yang menyalahgunakan kuasanya untuk kepentingan tertentu begitu pula dengan semua tokoh hewan yang diceritakan di sini merupakan simbol dari rakyat yang cuma bisa manut menerima perintah atasan kecuali rubah si rubah kecil yang merupakan simbol dari rakyat kecil yang tertindas. Rubah kecil yang tak ingin tunduk di bawah kuasa singa yang sedari sudah menunjukkan tanda-tanda gelisah sepanjang perjalanan ini nampaknya harus menerima perintah singa untuk mengeluarkan bunyi kentutnya yang berbeda sekali bunyinya bahkan dari gerak-geriknya saja sudah menunjukkan bahwa bunyinya akan sangat memalukan. Namun, bunyi itu yang akhirnya membuat sebuah kejutan yang menjadi plot twist menjelang akhir ceritanya.
Mungkin makin pembaca anak-anak maupun orang tua pasti akan menganggap ini lucu namun jika kita melihat kejadian ini dari sudut pandang yang lain maka kita akan menemukan sebuah makna baru yang cukup mengejutkan. Ya, tampaknya semua kejadian di dalam cerita ini tidaklah jauh-jauh dari kehidupan kita sehari-hari hanya saja. Lagipula hal-hal kecil maupun yang remeh sekalipun dalam hidup ini perlu untuk ditertawakan.
Tapi aku masih belum bisa menyangka dengan ide sederhana ini. Di kemas dalam bentuk fabel, kentut yang dianggap sebagai sebuah aktivitas memalukan justru menjadi topik yang sangat menarik di bawah kendali Noor H. Dee
This entire review has been hidden because of spoilers.
The first time I saw this book at Gramedia Jalma, I had two thoughts: "Is it an imported book?" and "Whom is this book for? Children or adults? If children, are the parents okay with something like this?" Because, you know, some parents might take a story about farting... improper. But children love toilet jokes, the writer Noor H. Dee said during a talk show on children's books in 2025 Indonesian International Book Fair. It's easier to make them smile for a picture when you say something 'gross' like 'fart'. And children love books that can make them laugh. Those were some of the reasons why Noor H. Dee made this book (he also illustrated it).
It's a delightful, funny, colourful pictorial book, with repetition (which children also love) in the quest to answer a mystery concerning who farted in a party. And you know what's great about children's books? Adults are allowed to love them too. Even if you have no children at home, this book can still delight you as an adult.
By the way, true to form, Mas Noor H. Dee signed my copy of the book with, "Happy farting!"
Saya membaca buku ini secara "read aloud" atau membaca nyaring melalui akun YouTube 'Fun and Learn With Dabski'. Berikut saya sertakan linknya: https://youtu.be/6It7S7tu_bA?feature=...
Ceritanya sangat ringan dan menyenangkan. Tidak lupa, sangat lucu. Anak saya, yang masih minim dalam berbahasa Indonesia, cukup paham dengan alur cerita. Namun, agar anak saya mendapatkan full experience dari buku ini, saya terjemahkan ceritanya ke dalam bahasa Inggris dengan tetap memutar video (tanpa audio) dari akun YouTube tersebut. Betul saja, anak saya semakin terhibur dan terbahak-bahak. Mungkin karena dia akhirnya paham sepenuhnya dengan alur cerita dan kelucuan dari buku ini.
Kemungkinan besar saya akan belikan buku fisiknya agar saya bisa ceritakan ulang untuk anak saya.
Buku read aloud pertama yang pernah kubaca, dan ternyata selucu itu!! Banyak orang tua yang membacakan buku ini ke anak-anaknya, dan anak-anaknya pun tidak bosan minta dibacakan berulang kali. Dan saat kubaca, emang semenghibur itu bukunya hahahaha. Ceritanya sederhana, hanya mencari siapa yang kentut di pesta. Pemerannya hewan-hewan, ini cerita fabel siih. Menurutku, buku ini cocok dibaca untuk semua umur wkwk