Jump to ratings and reviews
Rate this book

Aksara Amananunna

Rate this book
Dengan seranting kayu Amananunna mengukir suatu aksara baru pada tanah basah: ↭ . Ketika itulah dia menemukan kata yang maknanya kurang lebih “cinta”.

12 cerita dalam kumpulan cerita ini berkisah tentang 12 manusia dari zaman bangsa Sumeria sampai zaman tahun 8475 di sebuah kota bernama Ginekopolis. Semua berusaha menghadapi sesuatu yang lebih besar dari diri mereka.

Amananunna di zaman Sumeria harus merasakan pahitnya karma. Tokoh ‘aku’ di zaman modern berusaha lari dari sistem komunitas sadomasokis yang bagai apel terlarang. Kevalier d’Orange di Prancis abad pertengahan mencoba berkompromi pada sistem masyarakat dan keadaan dirinya. Seorang pemuda di Ginekopolis, suatu negeri di tahun 8475, diculik dan dipaksa melawan takdir. Ada juga kisah seorang gadis remaja yang terpaksa menyamar jadi laki-laki karena keadaan, mengikuti lika-liku nasib, dan akhirnya terempas dalam situasi tak terduga.

Buku Sastra Pilihan Majalah Tempo 2014
Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2014

240 pages, Paperback

First published April 28, 2014

17 people are currently reading
261 people want to read

About the author

Rio Johan

25 books123 followers
Rio Johan was born in Baturaja, South Sumatra, 1990. Rio has been invited to speak at The Ubud Reader's & Writer's festival (2015), was on a sponsored residency in Berlin, Germany (2016) and has been the recipient of the 2014 Prose Book of Choice by Tempo for his short story collection, "Aksara Amananunna", and the 2018 Khatulistiwa Literary Award for his novel, "Ibu Susu".

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
45 (20%)
4 stars
95 (42%)
3 stars
69 (30%)
2 stars
11 (4%)
1 star
4 (1%)
Displaying 1 - 30 of 52 reviews
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
April 24, 2014
http://reinvandiritto.blogspot.com/20...

Amanuensis Satiris

Beberapa waktu lalu, saya menyimak perdebatan di grup Sastra Minggu mengenai keberadaan Licentia Poetica di dalam karya sastra. Sejujurnya, saya tak menyukai perdebatan itu—hal mengenai penulisan “lamat” yang seharusnya “lamat-lamat”, atau “tuhan” yang seharusnya “Tuhan”, juga beberapa kata lain yang diperdebatkan.

Hal di atas masih membekas di kepala saya karena tepat setelah itu saya membaca entah di mana, kalimat berikut, “Salah satu tugas sastrawan adalah merawat bahasa.” Ini mengingatkan saya pada Kurnia Effendi karena pernah berhasil menyumbangkan kata baru ke dalam KBBI. Menarik garis dari situ, ketimbang mengartikan Licentia Poetica sebagai kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki—seperti kata Shaw, saya lebih sepakat jika keberadaan Licentia Poetica adalah untuk menggugat kekonvensionalan Pusat Bahasa yang bisa saja keliru dalam menyerap atau membakukan sebuah kata, bukan justru sebagai dalih atas keegoisan penulis yang ingin bertahan pada pendiriannya.

Pun saya lebih suka memandang Licentia Poetica a.k.a Artistic License di dalam karya sastra non-puisi sebagai cara untuk menginterpretasikan kembali suatu kisah atau mencari sudut pandang lain dari sesuatu atau mendistorsikan kejadian yang sudah dianggap lumrah. Hal ini bisa berarti kita menghilangkan atau menambah detil ataupun menyederhanakan atau merumitkan bentuk dari objek yang sudah ada tersebut. Maka, lahirlah film Mirror Mirror, Hansel Gretel, dan banyak judul film lain dengan sudut pandang yang berbeda. Hal seperti ini akan lebih produktif dan bermanfaat ketimbang berkonsentrasi pada aturan kebahasaan.

Ada 12 cerita di Aksara Amananunna. Rio Johan (selanjutnya akan saya sebut Rijon) melakukan hal itu di buku kumpulan ceritanya. Cerita yang menjadi judul ini sangat menarik. Amananunna terdengar karib di telinga saya. Saya menduga, Amananunna ini ada hubungannya dengan Amanuensis, yakni seseorang yang dibayar untuk menulis hal-hal yang orang diktekan. Istilah Amanuensis ini banyak digunakan di bidang akademik (baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Amanuensis). Saya jadi membayangkan bila saya berada di posisi amanuensis. Saya hanya bisa menulis yang orang-orang katakan, saya tidak berhak menulis apa pun. Di sini, Rijon seolah ingin mengatakan bahwa setiap orang, setiap penulis pun harus memiliki bahasanya sendiri. Bahasa dengan gaya tutur berbeda akan memiliki daya ungkap yang berbeda. Demikian adanya dengan diri Rijon, gaya tutur Rijon berbeda dari kebanyakan penulis lain di Indonesia, meski bisa kita rasakan ada pengaruh dari beberapa penulis luar di cara berceritanya.

Bahasa lisan saja tidak cukup. Yang selanjutnya dibutuhkan adalah aksara. Bisa kita ingat di film 13th Warrior, Ahmad Ibn Fadlan yang diperankan Antonio Banderas menggambar bahasa di tanah salju. Ia mengenalkan aksara kepada bangsa Viking dan itu disambut kekaguman luar biasa. Pentingnya aksara juga tersirat dalam cerita Riwayat Benjamin. Orang yang mengenal aksara menunjukkan status mereka. Orang miskin tidak berpunya tidak punya kesempatan untuk bisa membaca, apalagi menulis. Di negeri kita, di luar segala kontroversinya, RA Kartini adalah perempuan penulis. Dia menulis surat-surat. Surat-suratnya abadi. Kamu ingin abadi? Menulislah.

Keunikan Rijon yang lain adalah slogan 12 manusia, 12 zaman, 12 cerita benar-benar mengejewantah di dalam buku ini. Tidak mudah mengonstruksi sebuah zaman yang belum pernah ada, apalagi membawa pembaca untuk masuk ke zaman tersebut. Ada beberapa yang kurang mengena, seperti cerita Tidak Ada Air untuk Mikhail, yang menurut saya belum membawa saya untuk bisa mendefinisikan zaman di dalamnya. Nama Boris, Brutus, Benjo, dan Mikhail tidak representatif untuk cerita yang disajikan.

Konstruksi zaman yang begitu mengena adalah di dalam cerita Undang-Undang Anti Bunuh Diri dan Komunitas. Di sini saya mengingat urutan ramalan Vanga. Ia meramalkan di tahun sekian ribu sekian, sebelum zaman berakhir untuk selama-lamanya, manusia akan menemukan jawaban atas realitas dirinya. Saya menyepakati itu. Hidup ini selesai jika terjadi dua hal. Pertama, kamu menyerah dengan hidupmu. Kedua, kamu telah mendapatkan jawaban atas realitas hidupmu.

Bunuh diri menjadi isu nomor satu di tahun 21xx. Banyak satir yang disajikan Rijon di dalam cerita ini tentang kondisi kekinian masyarakat Indonesia. Misalnya mengenai HAM yang selalu jadi tameng pembenaran, pemerintahan yang hipokrit, dan ketakutan terdasar manusia untuk tidak dapat mempertahankan hidup yang berlebihan. Ketakutan terdasar, yang menjadi antithesis dari hasrat inti, juga pernah menjadi sebab kasus seorang perempuan terpelajar dengan 3 orang anak membunuh ketiga anaknya tersebut karena ia tidak yakin ia dapat menghidupi dan membesarkan anaknya dengan sempurna. Tuntutan menjadi sempurna juga yang dialami si perempuan selama hidupnya, yang ternyata memengaruhi keadaan psikologisnya. Konstruksi itu akan sempurna bila saja Rijon sedikit menambahkan refleksi keadaan parlemen Indonesia yang lambat dalam menghasilkan produk perundang-undangan yang bermutu sehingga dengan penghasilan nomor 4 terbesar di dunia, namun hanya mendapatkan nilai 4 dari skala 10 oleh penilaian beberapa tokoh bangsa. Saya tidak tahu, apakah dengan menggunakan “Perdana Menteri” sebenarnya Rijon sedang menggugat sistem Indonesia yang presidensial, namun kenyataannya bersikap parlementer. Terbukti dengan akrobatik koalisi bakda pemilu legislatif lalu. Partai politik sibuk mencari kemungkinan koalisi padahal koalisi hanya ada di sistem parlementer.

Di Komunitas, ada pertanyaan lain yang diajukan Rijon, “Jika manusia ditugaskan untuk berharap, lalu ia menyadari harapannya jauh panggang dari api, akan menjadi seperti apakah dia?” Saya tanpa ragu akan menjawab, hidupnya sama saja sudah selesai. Maka itu, Ibnu Taimiyah pernah bilang, manusia hidup perlu adanya keseimbangan anara khauf dan raja’, antara ketakutan dan pengharapan. Keduanya ibarat sayap burung yang mengepak di udara bebas. Bila saja salah satunya hilang, kemanusiaanmu akan limbung, Kawan. Namun itu saja tidak cukup, cinta adalah kepala burung. Hidup dengan cinta akan membuat kamu tahu harus kemana kamu akan pergi dan ingat ke mana kamu harus kembali. Kecintaan buta, tanpa sayap khauf dan raja’, akan menjadikanmu seperti Kavalier D’Orange yang mengamini setiap perkataan rajanya. “Bila raja mengkehendaki aku jadi perempuan, aku akan jadi perempuan. Bila raja mengkehendaki aku jadi lelaki, aku akan jadi lelaki.” Seram membayangkan bila Rijon di sini sedang menyindir keberadaan sifat taqlid buta yang kerap dimiliki manusia. Tapi lebih seram lagi, bila Rijon sedang menyindir sebuah hadits qudsi, “Aku adalah apa yang hambaku sangkakan terhadapKu.”

Semoga semua tulisan ini keliru.

Tabik.
Profile Image for Luz Balthasaar.
87 reviews69 followers
July 15, 2015
Kecuali Susanna, Susanna! cerita-cerita di buku ini terasa nanggung. Secara teknis nggak jelek, tapi secara emosi kurang menggugah dan secara intelektual belum begitu menggelitik.

Pola tiap cerita pun sama--90% sekadar bercerita dan di 10% terakhir ada twist lalu selesai. Bukannya pola begitu nggak oke. Masalahnya, ini kumcer. Yang berarti ini buku berisi deretan cerpen. Bayangin ada 7-8 cerpen berderet dan polanya kurang lebih gitu semua. Padahal, bukannya kejutan itu salah satu elemen penting untuk naikin tingkat keseruan cerita?

Tapi oke, saia telen aja. Secara alur cerita rata-rata cerpen di buku ini belum cukup seru bagi saia. Tapi ternyata banyak yang saru. Dan seperti kata Orang-orang Mamarika, SEX SELLS. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, SARU ITU SERU.

Yah, kenyataannya gitu. Bagi beberapa orang, pencantuman kata "penis" dan "farji" dan "dildo" aja udah cukup untuk membuat suatu karya dianggap avant-garde. Tapi saia termasuk orang yang rada apatis sama seseruan yang bersumber dari sesaruan. Bukan karena sok suci, tapi karena saia--dan saia tahu ada banyak orang-orang macam saia--udah kebanyakan baca sesaruan sampai kami mati rasa.

Saia berharap cerita yang nyastra itu menawarkan plot yang wah. Mungkin karakter yang oke. Mungkin--seperti yang saia sebutkan tadi--pesan yang menggugah, atau eksplorasi yang tidak konvensional terhadap tema-tema tabu. Sayang, pada kebanyakan cerita di buku ini, apa yang saia harapkan itu muncul secara kabur--kalau ada.

Berikut ini kesan-kesan saia per cerita:

***

Undang-undang Antibunuh Diri

Ini cerita ingin menyampaikan apa, saia merasa kabur.


***

Komunitas

Begitu saia baca, saia langsung ngerut kening.


***

Aksara Amananunna

Kembali saia ga nangkep signifikansinya di bagian mana.


***

Chevalier D' Orange

Wew. Ini . . .




***

Ginekopolis

Sekali lagi otak bebal saia susah nerima.




***

Ketika Mubi Bermimpi menjadi Tuhan Yang Melayang di Angkasa.

Cerita ini terasa seperti extended version dari sebuah kutipan terkenal, tanpa menawarkan perspektif atau sedikitnya twist baru.




***

Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju

Ini polanya mirip Aksara Amananunna.


***

Riwayat Benjamin

Dua halaman dan saia udah nebak arah ceritanya.


***

Tidak Ada Air untuk Mikhail

Lucu sih, tapi kayaknya kepanjangan dan kelamaan untuk sampai di klimaksnya.


***

Robbie Jobbie

Setipe sama Riwayat Benjamin.


***

Apa Iya Hitler Kongkalikong dengan Alien?

Saia yakin nggak.


***

Susanna, Susanna!

Ah, ini dia! Cerita ini adalah yang paling saia suka dari semuanya. Kayaknya di sini semua pretensi, semua beban, semua drama yang menghambat di cerita-cerita sebelumnya jadi lepas. Kalimat-kalimatnya terasa fokus untuk menceritakan kehidupan Susanna dan tokoh utama tanpa menghabiskan porsi kata di penggambaran yang melantur, atau menyampaikan pesan yang nanggung. Karenanya cerita ini terasa lebih riil dan simpatik. Mungkin juga karena dia lebih panjang, dan memang premisnya cocok kalau diceritakan panjang. Saia jadi bisa membayangkan dan lebih mudah percaya sama apa yang diceritakan. Satu bintang sendiri untuk cerita ini deh.


***


Intinya, saia suka cerita terakhir. Tapi cerita-cerita lainnya terasa tanggung, atau bahkan bikin saia bertanya: Benernya patokan "sastra" itu apa sih? Good story? Good style? Good message? Or simply SEX SELLS?


Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
April 24, 2014
Sungguh saya suka sampul buku ini. Sepertinya KPG selalu memeliki high-taste dalam sampul. Sangat sesuai untuk cerita-cerita di dalamnya.

Membaca ini saya teringat esai AS Laksana di Ruang Putih Jawa Pos kemarin "Adios, Gabo!": Gabo pernah mengatakan bahwa penulis harus membangun cerita fiksi yang kuat sehingga pembaca meyakini ini adalah fakta. (kurang lebih demikian). Dan cerpen-cerpen di buku ini hampir saya yakini sebagai fakta yang diracik oleh Rio Johan.

Cerpen pertama, Undang-undang Antibunuh Diri (dulu pernah baca di online setelah seorang kawan ngeshare link), berkisah tentang sebuah negara yang diributkan dengan tren bunuh diri di negaranya. Hingga perlu dibuatkan undang2 antibunuh diri. Lucu. Terlebih ketika ada kalimat begini: Pelaku percobaan bunuh diri, yang tentu saja gagal bunuh diri, bisa saja diseret ke meja hijau, tapi bagaimana mau menghukum orang yang sudah mati? (h.2). Mereka bingung. Tapi sepertinya usahanya gagal, karena hukuman bgai yang gagal bunuh diri pun adalah hukuman seumur hidup. Laah? Ini sama saja bukan. Pelaku percobaan bunuh diri yang artinya gagal melakukan bunuh diri, akan langsung dijebloskan ke dalam penjara seumur hidup(h.2). Ini refleksi hukum dan undang-undang di Indonesia yang muspro tanpa guna, beberapanya.

Seorang terjebak sebagai pelayan orang-orang kaya dalam Komunitaspenggemar sadomasokis. Memang banyak adegan-adegan vulgar yang mendukug cerita digamplangkan, tetapi secara pribadi saya kurang sreg. (bukan berarti jelek, takut diomeli orang). Saya jadi ingat film Pintu Terlarang, tentang komunitas yang suka dengan menyaksikan kekerasan dan bacok-bacokan. Ingatan akan film Pintu Terlarang kembali terngiang, 11-12 dengan cerpen Robbie Jobbie yang harus merelakan dirinya menjadi pegulat sensual, yang tujuannya bukan olahraga gulat secara harfiah tetapi memamerkan tubuh dan adegan-adegan kekerasan. (Kembali aroma kenikmatan menyaksikan penyiksaan). Yang lucu adalah seharusnya si Robbie Jobbie (kenapa aku keingat Rio Johan) sadar bahwa orang yang menyadari ke-gay-an orang adalah gay, gay radar kalau tidak salah namanya. Meski di akhiri sedikit 'jorok': tahu-tahu saja Jay sudah menodongkan zakarnya padaku. Semburan maninya sudah menjejaki pipiku, nyaris mengenai mulutku..

Dan kelihaianya Rio Johan membuat fiksi seolah menjadi fakta saya rasakan di cerpen Aksara Amananunna. Mungkin akan teringat dongeng Rudyard Kipling tentang awal mula penciptaan huruf. Sedang ini adalah tentang seorang tanpa bahasa lalu menciptakan bahasa untuk trahnya sendiri. Tetapi justru keturunannya tidak mau melanjutkan. Sepertinya yang di suara merdeka dan lakonhidup melewatkan sebuah tanda yang berarti 'cinta'. Ending yang serupa ada di cerpen Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju. Bedanya adalah di cerpen Pisang keenganan anak turun untuk melanjutkan usaha penanaman pisang dan rumah kaca.

Mungkin cerpen Kevalier D'Orange terinspirasi atas berita orang-orang dengan kelamin yang ambigu atau orang dengan perubahan kelamin ketika dewasa. Tetapi twist endingnya bikin ketawa. Sepertinya Rio Johan juga terinspirasi dari kalimat Syahrini "terpampang nyata" : Terpampanglah nyata....(h.51). Endignya yang mengejutkan juga ada di cerpen Tidak ada Air Untuk Mikhail, krisi air di kos bisa jadi cerpen imajinatif. Kalau di pesantren ada namanya polisi syariah, di Gontor ada juga yang ngawasi kalau lena tidak pakai bahasa arab. Ini mirip, tetapi tiga pembully itu bukan menegkan autran tetapi benar-benar membully Mikhail.

Tetapi saya tidak menikmati Ginekopolis. Mungkin saya harus membacanya lagi....

Di Riwayat Benjaminadalah kisah tentang Ben yang dijadikan budak seks, mungkin senada dengan kasus gemblak dan warok. Laki-laki besar butuh seorang anak buah, yang bisa dijadikan budak seks. Adegan sodomi yang diceritakan meski halus bikin begidik, terbayang kasus sodomi di JIS yang bikin anus si anak bengkak dan bernanah. Ben dalam keadaan telanjang dan sedang dimasuki dari belakang oleh seorang kerabat Tuan Huddon.(h.102). Juga ada adegan tuan Huddon threesome dengan Ben dan istrinya. Ada yang ingin saya tanyakan di halaman 93. Si "aku" dihalaman itu dikisahkan buta huruf. Kuupah tetanggaku yang bisa baca-tulis untuk menuliskan surat. . Tetapi ini pada surat yang kesekian. Lalu bagaimana dia membaca surat pertama hingga kesekian kalau dia buta huruf? Seharusnya dia juga mengupah tetangganya untuk membacakan surat Ben pertama hingga surat ben kesekian. Terus ada kalimat yang sepertinya aneh sebagai seorang buta huruf, Segera kubalas suratnya, si aku lupa kalau dia buta huruf. CMIIW

Saya menyukai buku ini karena gaya bahasa yang mirip dengan terjemahan. Meski sangat disayangkan kalau buku selevel KPG masih ada beberapa typo, atau kurang huruf.

Sekali lagi mohon maaf kepada penulis, saya menulis komentar bukan review yang keren. Mohon maaf saya tetap pembaca, bukan kritikus. (^^)
Profile Image for Febyan Kafka .
478 reviews15 followers
August 14, 2015
Saya suka premisnya.Tapi mengapa penulis banyak mengangkat tema sadomasokisme dan percintaan sesama jenis.lebih baik bila 12 cerita dg 12 tema berbeda.Sepertinya penulis berusaha mengritik masyarakat atas dikotomi laki-laki dan perempuan.Entah kenapa,saya pribadi menangkap kecenderungan penulis yg pro LGBT.Secara tersirat.Adegan sadomasokis yg dipertontonkan membuat tidak nyaman.Semestinya penulis mencoba belajar dari Coelho dalam novelnya Sebelas Menit.Disitu Coelho melukiskan adegan sadomasokis tanpa membuat pembaca terganggu.Tapi kisah tentang Amananunna yg mencari pewaris bahasa ciptaanya sangat menyentuh.Pisang yg tidak tumbuh di atas salju,menggambarkan semangat pencarian yg semestinya dimiliki setiap insan.Kumcer ini bagus dg beberapa catatan.
Profile Image for Nandiito.
28 reviews10 followers
June 18, 2025
Aksara Amananunna ini bisa dibilang kumcer yang cukup berani dengan satu tema dan dihadirkan dengan prima walau beberapa diantaranya punya closing sangat menyebalkan dan tidak bisa kuprediksi. Namun, karena ceritanya sangat out of the box aku aku sendiri sampai kaget karena genrenya yang beragam.

Aku paling suka dengan cerpen Mubi soalnya hanya karya ini yang membuatku terpikat karena tema eksperimental dan eksistensialisme yang saat ini lagi digandrungi. Ditambah, tema-tema seperti itulah yang cocok dengan gaya tulisan Rio sekarang.

Seperti biasa bakalan ku ulas lebih lengkap di Instagramku
Profile Image for Heru Prasetio.
210 reviews2 followers
March 19, 2021
Buku Aksara Amananunna masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2014 dan kemudian Rio Johan dimantapkan oleh Tempo sebagai Tokoh Seni Tempo 2014 untuk Sastra Prosa

"Buku ini berisi 12 cerpen dengan tema yang tak biasa. Mulai dari futuristik, klasik, kelainan fantasi, surealis, erotisme dan banyak hal aneh lainnya. Paling menonjol cerita dengan racikan kontroversial dicampur adegan vulgar nan sensual. Rio seakan mau mendobrak kelaziman karya sastra Indonesia kontemporer dengan tema yang berputar di situ saja—bisa dibilang tampil beda meski satire tetap menu utama. Banyak cerita yang buat dahi mengernyit, jijik tapi nagih, liar bukan kepalang, hingga diam jadi beban.  Nikmat atau tidak biar pembaca nilai sendiri. Kalau ditanya mana cerpen terbaik aku pilih yang berjudul Susanna, Susanna!"
Profile Image for Wahyu Awaludin.
358 reviews10 followers
September 21, 2018
Saya sudah lama kapan terakhir kali baca novel yang ringan. Maka, ketika saya menemukan buku ini di meja seorang rekan kerja di kantor, dengan penasaran saya mengambilnya. Saya membuka satu per satu halamannya dan bergumam "Hei, ini menarik!"
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
December 28, 2016
Ramuan kontroversial nan sensual dibungkus sempurna dengan plot tak terduga.
Profile Image for Rian Widagdo.
Author 1 book20 followers
May 21, 2018
Judul : 5/5
Sampul : 5/5
Pembuka : 4/5
Cerita (-cerita) : 4/5
Penceritaan : 3/5
Bahasa : 3/5
Penutup : 4/5
Layout : 3/5
Blurb : 3/5

Jumlah : 4/5

*Rekomendasi : 4/5
Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
October 11, 2014
Agaknya penulis muda Indonesia yang menghasilkan tulisan (yang suka saya sebut dengan) sastra mulai banyak bermunculan belakangan ini. Sedikit melegakan hati ternyata penulis muda tidak melulu terjebak dalam koridor novel teenlit yang cenderung galau dan menye-menye. Hanya saja memang saya lebih sering menjumpai penulis pemuda ketimbang pemudi.

Lepas dari persoalan gender tersebut, saya bertanya-tanya dalam hati. Kiranya apa yang membuat buku ini bisa masuk ke dalam list 10 besar KLA 2014, disandingkan dengan karya penulis-penulis senior semisal Remy Silado, Ayu Utami, dan Eka Kurniawan. Benar saja, rupanya buku ini memang punya sesuatu. Kendatipun nama Rio Johan terasa asing bagi saya.

Terdiri dari 12 cerita pendek yang dibuka dengan Undang-undang Antibunuhdiri, sukses mengikat saya untuk terus membaca halaman demi halaman berikutnya padahal sebelumnya saya sempat su’udzon buku ini punya kemungkinan besar akan membosankan. Dalam cerpen pertama ini terlihat bagaimana pemerintah kerepotan menghadapi suatu permasalahan sehingga undang-undang dibuat namun pada akhirnya undang-undang itu sejatinya tidak mengatur apa-apa.

Kemudian seperti banyak penulis sastra lainnya yang gemar mengangkat tema seks, Rio pun melakukannya juga pada beberapa cerpennya dalam buku ini. Antara lain potret BDSM dalam Komunitas, gulat syahwat dalam Robbie Jobbie, dan jalan hidup Ben yang jadi budak seks oleh Tuan Cuddon dalam Riwayat Benjamin. Isu gender nampaknya juga ingin diangkat oleh Rio. Tengok saja cerpen Ginekopolis, sebuah kota yang dipimpin oleh Nona Agung dan para wanita lainnya, juga cerita tentang Kevalier D’Orange yang mempertahankan harga dirinya mati-matian, dan benar saja, sampai dia mati.

Dalam Aksara Amananunna yang menjadi judul kumcer ini, ada tema yang sama dengan cerpen Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju dan “Apa Iya Hitler Kongkalingkong dengan Alien?”, yaitu warisan. Yang pertama mewariskan bahasa, yang kedua mewariskan ilmu, sedangkan yang ketiga mewariskan cerita. Saya sendiri masih penasaran kenapa Aksara Amananunna dijadikan judul utama kumcer ini padahal menurut saya ceritanya tidak sedemikian wow. Memang sih mengingatkan saya pada kisah Ada, dan Hawa sebagai awal mula peradaban manusia di muka bumi yang akhirnya terkhianati oleh buah hatinya sendiri.

Sedangkan pada cerpen Ketika Mubi Bermimpi Menjadi Tuhan yang Melayang di Angkasa tak lebih seperti cerita dongeng anak-anak yang memiliki twist-end. Seolah ingin memberi pelajaran pada mereka yang gemar berandai-andai jadi tuhan. Cerpen Tidak Ada Air untuk Mikhail sebenarnya cerita yang paling mudah dinikmati karena dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Di cerpen ini saya baru tahu ada kata “buli” yang seolah resmi menjadi kata serapan bully. Jujur saja saya belum mengecek KBBI terbaru untuk membuktikannya. Di satu sisi, cerpen ini seperti paradoks “bagaimana mungkin Mikhail tidak kebagian air padahal ia adalah malaikat penurun rejeki berupa hujan?”.

Kumcer ini ditutup dengan Susanna! Susanna! yang merupakan cerita paling panjang dalam buku ini. Wajar mengingat nampaknya banyak hal yang ingin dituangkan penulis melalui cerpen ini.

Catatan penting bagi penerbit; buku ini terlalu banyak typo sampai tingkat yang tak termaafkan. Siapa pun yang membaca buku ini pasti merasa gerah dengan typo di dalamnya dan gatal ingin mencoretnya (atau saya saja?). Saya tidak paham apakah juri KLA hanya fokus ke cerita (isi) sehingga melupakan kenyamanan pembaca atau bagaimana. Walau memang, terlepas dari typo itu, ceritanya nikmat dan menarik.

Gaya penulisan Rio Johan juga asyik. Tidak terasa kaku sama sekali meski kebanyakan menggunakan bahasa yang baik dan baku. Saya sangat yakin buku ini ditulis dengan riset yang serius dan mendalam. Wajarlah kalau buku mampu mejeng di list 10 besar KLA 2014. Harapan saya, penulis segera menetaskan sebuah novel.
Profile Image for Yosafat Prasetya.
42 reviews
September 11, 2024
Dari segi alur penceritaan, ada banyak cerpen yang kurang memuaskan dan tidak begitu spesial. Namun, yang menarik dari kumcer ini adalah bahwa setelah 10 tahun sejak pertama kali terbit, semua isu yang diangkat masi relevan sampai sekarang. Tengok saja cerita Kevalier D'Orange dan bandingkan dengan kisah Imane Khelif, atlet boxing perempuan di Olimpiade Paris 2024-- Bagaimana masyarakat lebih mementingkan urusan privat daripada hal yang lebih penting.

Selesai membaca buku ini dan menengok keadaan dunia luar ternyata tidak se-berbeda itu. Nyatanya, kita tidak kemana-mana.

Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
February 25, 2016
hal baiknya dari kumpulan cerpen ini adalah:
1. penulisnya memiliki gaya penulisan yang baik dan mumpuni. tak jarang penulis juga menggunakan diksi yang beragam sekaligus berani, contohnya kata dari bahasa Inggris seperti: buli, kraker, kukis; dan kata dari bahasa Indonesia seperti: merancap, farji, dll.
2. tema-tema cerpennya beragam dan cenderung mengarah pada sisi gelap ataupun sisi lain dari manusia baik dari masa lalu maupun di masa-masa mendatang. hal ini acapkali menimbulkan kesan yang berbeda-beda pada setiap cerpen. penulis mampu menceritakan peristiwa yang masygul dan tragis dan keji dalam satu cerpen tanpa ragu pembacanya akan membayangkan kejadian-kejadian secara suka ataupun tidak suka. peran penulis pada buku ini hanya menyuguhkan cerita dan tak ingin banyak berdebat dengan para pembaca.
3. cerpen-cerpennya punya suara yang hampir berbeda ketika disuarakan kala membacanya. bisa dibuktikan dengan membaca cerpen 'Aksara Amananunna' dan 'Robbie Jobbie'.
Profile Image for Steven S.
697 reviews67 followers
January 14, 2015
Begitu mendengar kumcer ini terpilih sebagai prosa terbaik 2014 versi majalah Tempo timbul rasa penasaran. Bagaimana isi dari kumcer ini? Apa yang membuat karya ini diganjar penghargaan itu?


Di buku ini terdapat 12 cerita dengan masing-masing ide yang dikembangkan dengan baik olen Rijon panggilan penulis. Kita disajikan imajinasi tingkat tinggi (maksud hati ingin menulis dewa, namun ini bukan review game) yang tidak umum ditulis oleh cerpenis lokal. Sejak cerita pertama kita mengikuti jejak langkah seorang Perdana Menteri yang kebingungan ancaman pandemi bunuh diri. Serasa berada di mesin waktu penulis mengajak pembaca berkelana di zaman purba kala menara Babel diruntuhkan, mengintip masa depan di cerita Ginekopolis (bayangkan Hunger Games & Terminator) dimana terjadi perang antara laki-laki & perempuan (bukan cyborg vs human).

Review selengkapnya di http://www.h23bc.com/2015/01/aksara-a...
Profile Image for Christian Pramudia.
Author 1 book7 followers
June 27, 2014
Sunguh saya menikmati pilihan kata Rio Johan dan gaya bertuturnya. Kita akan dibawa dalam cerita-cerita yang seolah jauh dari kehidupan nyata namun sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu yang dekat sekali di hati kita. Hanya saja saya kurang suka eksekusi dan pilihan ceritanya. Mengapa akhir cerita seperti itu dan banyak keputusasaan meliputi. Semoga karya selanjutnya lebih punya pengharapan. Saya tetap memberi apresiasi kepada penulis yang sudah membawa saya ke cerita-cerita dan pengalaman yang asyik di Aksara Amananunna.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
June 9, 2025
Aksara Amananunna karya Rio Johan merupakan KumCer yang mengangkat tema yang cukup majemuk namun satu sama lainnya masih bisa saling terkait, karena hampir pada setiap cerpen terdapat isu sosial yang kompleks. Saya menggemari karya-karya Rio Johan yang selalu dengan lantang menyuarakan ketimpangan dengan cara "liyan" yang berkelas.

Membaca kumcer ini, saya merasa sedang membaca kritik sosial yang disampaikan melalui medium fiksi. Sebuah cerita yang tidak nyata, namun begitu dekat dengan fakta.
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
January 16, 2016
Cuma dua bintang saja. Satu bintang untuk setting, plot, dan lompatan-lompatan yang berbeda di setiap ceritanya; satu bintang lagi untuk akumulasi dari Komunitas, Aksara Amananunna, Kevalier D'Orange (yang mengingatkan saya pada cowok-cowok cantik Korea), dan Riwayat Benjamin.

Tidak bisa bilang tidak suka sepenuhnya, hanya saja tema LGBT bukan berada dalam jalur saya. Sukses bergidik saat membacanya. Tulisan ini kurang lengkap, nanti review dll-nya saya buat. Sudah terlampau malam :D
Profile Image for Sylvia.
86 reviews3 followers
October 19, 2017
Cerita pertama dibuka dengan Undang-undang Anti Bunuh Diri yang membuat aku sedikit mengernyitkan dahi saat baca. Lalu cerpen kedua dilanjut dengan Komunitas yang mengangkat tema tuntutan pekerjaan yang membebani. Dan cerita-cerita selanjutnya yang selalu membuat aku terkejut.

Twist menarik memang selalu dihadirkan oleh penulis. Cerita satir, surealis dan erotis dihadirkan di dalamnya. Walau beberapa jika tidak ditelaah dengan baik akan terasa sangat absurd ceritanya. Untuk setting sendiri, jelas sekali jika penulis tidak mencantumkan negara kita di dalamnya dan ada beberapa cerita yang membuat aku bingung settingnya di mana. Seperti pada cerpen Aksara Amananunna itu sendiri.

Gaya bahasa yang dihadirkan sangat ringan dan tidak membuat bosan saat membaca. Namun, hanya saja aku sedikit terganggu dengan tema LGBT yang diangkat di beberapa cerita dan kemudian diutarakan secara vulgar. Yang tentunya tulisan seperti ini bukan genreku. Aku kerap kali dibuat geli dan jijik. Tapi aku melihat rating kumcer ini di goodreads cukup bagus dan Rio Johan sendiri sebagai penulis sastra modern ini ternyata masuk dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award. Keren.

Jadi semua kembali pada selera masing-masing terhadap jenis bacaan yang disuka seperti apa.
Profile Image for Rosul Jaya.
27 reviews2 followers
June 19, 2025
Kumpulan Cerpen yang berisi 12 cerita soal 12 manusia dari 12 zaman, memberikan pengalaman baca yang menarik, karena cerpen2 dalam buku ini tak seperti cerpen2 pakem media massa/koran seperti kebanyakan karangan penulis Indonesia lain baik dari tema yang diangkat atau panjang cerita atau konstektual.

Beberapa tema yang diangkat cukup berani dan bervariasi, soal gender, penyimpangan seksual, sadomasokisme, homoseksual, futuristik, dongeng aksara, sufisme, feminisme, bahkan hal remeh seperti anak kost yang selalu kehabisan air.

Layak dibaca bagi pembaca yang ingin membaca suara lain dari sastra Indonesia pada umumnya, dan buku ini ramah dibaca oleh pembaca pemula/pop sekalipun karena narasinya mudah dimengerti—sebagian besar memakai alur maju, tidak maju-mundur seperti para cerpenis Indonesia lain.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
October 25, 2017
Menurut saya, Rio Johan adalah salah satu dari sedikit penulis muda Indonesia yang sangat menjanjikan dan karya-karyanya patut dibaca. Saya suka cara dia menyampaikan cerita, premis cerita yang tak biasa dan kontruksi cerita serta alur plot yang tidak monoton. Beberapa cerita, seperti Aksara Amananunna dan Susana, terkesan eksperimental dan berani keluar dari pakem 'sastra koran' yang biasa kita baca. Tidak mudah dipahami namun sekali kau paham, kau akan bilang, "Anjing, keren banget!"
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
July 25, 2024
Cerita favoritku:
- Kevalier d'Orange
- Undang-undang Antibunuhdiri
- Riwayat Benjamin
- Aksara Amananunna
- Tidak Ada Air untuk Mikhail
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
June 11, 2025
Kumpulan cerpen ajaib dengan timeline ajaib dan plot yg pecah bgt. Paling suka ya cerita terakhir: Susana, Susana
Profile Image for Nike Andaru.
1,637 reviews111 followers
September 29, 2024
78 - 2024

Ini adalah buku pertama Rio Johan. Baru baca sih aku setelah Ibu Susu, dan baru tau kalo ini tuh kumpulan cerpen.

Dari awal sudah suka dengan cerita pertama yaitu Undang-undang Antibunuhdiri. Menurutku Rio termasuk penulis yang punya imajinasi cukup seru dan cara dia menuliskan ceritanya juga menarik.

Cerita favorit:
- Undang-undang Antibunuhdini
- Komunitas
- Aksara Amananunna
- Tidak Ada Air untuk Mikhail
- Susanna, Susanna!
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
September 26, 2014
Unik. Erotik. Penuh intrik, begitulah tiga kata dari saya untuk "Aksara Amananunna". Sebuah judul yang unik, sekaligus sebuah cover yang bisu tapi berbicara banyak tentang keunikan di dalamnya. Saya membaca buku ini atas pinjaman teman belaka, setelah sebelumnya saya mengomel tentang bacaan erotika luar negeri yang tidak berbobot. Lantas, dia menyuguhkan buku yang katanya pelik ini. Rasa penasaran saya tidak meluap begitu saja sih, bahkan saya sempat tidak mengacuhkan buku ini selama berhari-hari.

Awalnya di cerpen pertama, saya merasa buku ini sedikit membosankan. Tajuknya bicara soal "Undang-Undang Anti Bunuh Diri", idenya unik sih, hanya saja penggarapannya nyaris mirip tulisan di kolom surat kabar. Tapi, beranjak ke cerita kedua, "Komunitas", itulah turning point bagi saya, kala buku ini saya anggap sangat menarik dari segala segi. Cerita di dalamnya ada dua belas dan nyaris semuanya saya sukai, mulai dari: Komunitas, Aksara Amananunna, Kevalier D'Orange, Ginekopolis, Riwayat Benjamin, Robbie Jobbie, dan Susana, Susanna yang paling fenomenal.

Sesuai dengan blurb di sampul belakangnya, ceritanya memang mengambil latar belakang dari zaman yang berbeda-beda. Ada yang bercerita tentang masa lampau, seperti "Aksara Amananunna" yang beridekan tentang perpecahan bahasa kala pembangunan Menara Babel dulu. Lalu, ada juga yang mengambil tema masa depan, seperti Ginekopolis di mana dunia sudah diduduki oleh kaum perempuan yang tinggal di kota bernama Ginekopolis.

Mulai dari pembawaan latar sampai penokohan, tulisan-tulisan Rio Johan lebih didominasi dengan narasi yang panjang lebar, dengan begitu saat membaca, saya merasa seperti didongengi. Begitu juga dengan latar yang jauh dari kesan Indonesia, Rio Johan mengambil tema-tema yang kerap dianggap tabu, yang sendeng ke arah BDSM atau seks. Dari cerpen kedua hingga ke belakang, tidak jarang ia menceritakan detail dan ironi setiap tokohnya yang terlibat dengan kasus-kasus sadomasokis dan seks.

Akan tetapi, mungkin hal itulah yang membedakan dan menjadi daya tarik bagi saya dalam membaca "Aksara Amananunna". Kendati penuh dengan adegan dan genre erotika, tulisan Rio Johan punya ciri khas dari sisi intrik dan plot bersifat mengejutkan. Ia menjelaskan segalanya dengan baik, runut, tidak bertele-tele (walau sedikit dialog yang digunakan antar tokohnya). Adengan erotika yang ia ciptakan tidak semata-mata sebagai kesan utama ya ingin ia tonjolkan, tetapi sebagai sebuah bumbu yang sama sekali tidak terpikirkan oleh pembaca dan malah menjadikan ceritanya semakin asyik untuk disimak.

Diksi yang digunakan oleh Rio Johan juga baik. "Aksara Amananunna" punya cita rasa yang sarat hibrida, dari tema dan latar yang sangat barat, bercampur dengan diksi yang sangat Indonesia. Penuh dengan makna dan metafora yang tidak menyulitkan untuk dibaca.

Dari lima, empat bintang untuk "Aksara Amananunna". Saya akan menunggu kumpulan cerita Rio Johan berikutnya :)
Profile Image for Dhia Citrahayi.
Author 3 books21 followers
October 16, 2014
3.5 bintang.

Aksara Amananunna sangat menarik, berisi kumpulan cerpen yang unik. Dari berbagai cerpen itu, yang paling saya sukai adalah Ginekopolis dan riwayat Benjamin. Cerpen pertama mengenai Undang-Undang Antibunuhdiri amat menarik untuk dibahas. Saya jadi iseng kepikiran, apa yang membuat penduduk Negeri R ramai mati bunuh diri ya? Apa alasan mereka bunuh diri?

Kemudian soal Komunitas, sedikit aneh bagi saya, di mana orang-orang kaya dan berkuasa justru membayar seorang instruktur untuk jadi "tuannya", sedikit menggelikan bagi saya. Namun, di sini juga saya mendapat penjalas sedikit menarik mengenai BDSM. Errr, topik ini sebenarnya pernah saya baca di buku eleven minutes dan... saya setuju bahwa pada Paulo Coelho, kalau kenikmatan pada bdsm itu merupakan ehm... apa ya, ilusi kali ya.

Lalu ada Aksara Amananunna, di mana seorang manusia membuat bahasa dan aksaranya sendiri. Cerita ini dan satu cerita lagi Robbie Jobbie bagi saya lumayan membosankan. Lebih membosankan lagi adalah tidak ada air untuk mikhail dan Apa iya Hitler kongkalikong dengan Alien. Kevalier D'Orange sangat menarik, di mana seseorang berperan sesuai dengan keinginan orang-orang yang menginginkannya. Saya jadi berpikir, apa ini maksudnya... agar tidak terlalu memedulikan apa kata orang? Karena di cerita ini, Kevalier benar-benar terombang-ambing di tengah gunjingan masyarakat, sampai akhirnya dia *piiip* dan bahkan sampai *piiiip* dia tetap saja kena gunjingan orang --"

Ketika Mubi bermimpi menjadi Tuhan, nah... ini salah satu cerita yang biking ngawang-ngawang. Saya nggak bisa nangkep esensinya dan cenderung bingung. Lalu cerpen Pisang Tidak tumbuh di atas Salju membuat saya belajar mengenai keselarasan antara perjalanan, mimpi, usaha, dan realisasi. Saya cukup menyukai cerpen ini, karena cerpen ini mengajarkan untuk tidak diam saja, tetapi bergerak dan terus belajar untuk meraih apa yang dimimpikan, apalagi melampauinya. :D

Riwayat Benjamin. Agak gelo baca cerpen ini, tapi menarik-lah untuk dibaca dari awal sampai akhir, apalagi sudut pandang yang dipakai adalah sepupu si benjamin, bukan benjaminnya sendiri. Robbie Jobbie saya kira cukup menyebalkan. Tokoh utamanya punya sifat yang lumayan nyebelin --" Ceritanya sendiri agak datar.

Yang Hitler kongkalikong dengan Alien, nah... ini agak membuat bingung juga. Saya juga kurang suka dengan cerpen ini. Cerpen terakhir, Susanna, bagus, menarik, runtut, tapi nggak tahu kenapa bikin saya illfeel, terutama pada tokoh susanna.

saya kurang nyaman membaca cerpen-cerpen terakhir buku ini, di mana cerpen-cerpen tersebut mengulas mengenai homoseksualitas. Ada kalanya dalam cerpen tersebut mempertanyakan kemunafikan orang-orang pada moral, di mana di satu sisi mereka menegakkan, tapi ternyata di sisi lain mereka juga merusak moral itu sendiri. Euh..., hanya itu saja.
Profile Image for Marissa SF.
172 reviews4 followers
February 13, 2017
12 kumpulan cerpen, 3 diantaranya yang berjudul "Komunitas, Riwayat Benjamin, Robbie Jobbie" berkisah tentang Sadomasokhisme yaitu tindakan memberi atau menerima kenikmatan umumnya bersifat seksual dengan cara menyebabkan atau menderita rasa sakit dan/atau rasa malu. ada juga tentang Gender laki2 seperti perempuan atau perempuan seperti laki2 baik itu secara fisik maupun perilaku "Kavalier D'orange, Susanna, Susanna!" and and and the rest "Undang-undang anti bunuh diri(gagal paham), Aksara Amananunna, Ginekopolis(mungkin ini tentang perempuan yang pengen lebih dominan dari laki2), Ketika Mubi bermimpi menjadi Tuhan yang melayang di angkasa(gagal paham), Pisang tidak tumbuh di atas salju (gagal paham), Tidak ada air untuk Mikhail(semacam joke I guess), Apa iya Hitler kongkalikong dengan alien(gagal paham). nah yang the rest itu saya hanya menerka kearah mana cerpen tersebut membawa saya...yah yang saya paham saya nikmati yang gak paham toh tetep saya baca sampe kelar meskipun at the end sayanya yaaa...ya gituu..
Profile Image for Mardian Sagian.
90 reviews18 followers
January 8, 2015
tiga koma lima bintang.
pertama, saya suka kavernya. sarat dongeng. ketika saya baca blurbnya, ternyata pilihan kavernya sangat tepat.
kedua, saya suka cerita yang dialusi pakai dongeng-dongeng, sebagaimana dunia di kepala alice karya ucu agustin, dan tadinya saya berekspektasi buku ini bakal lebih bagus dari buku tersebut, mengingat buku ini masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi indonesia, kusala sastra. (tapi, setelah selesai baca [lama sekali menyelesaikannya, karena banyak kerjaan, juga bagi jatah baca sama buku lain, dan buku ini "tidak lihai menggoda" padalah saya kurang beriman kalau soal baca buku, haha] saya tetap setia menyukai dunia di kepala alice yang sangat berkesan itu).
Yang patut diapresasi tinggi dari karya ini adalah keliaran imajinasi rio johan. setelah dilihat bio penulis yang kutu buku dan gamer, pantas saja; berlabirin. kedua belas cerita ini adalah hal-hal baru dari apa yang pernah saya baca, sangat tipikal dan tematik. Dari klasik, sampai futuristik. cerpen yang saya suka: undang-undang antibunuhdiri, aksara amananunna, dan kaliver d'orange. cerpen-cerpen di awal buku cukup menarik, tapi di bagian terakhir, membosankan, dan, ya, hanya pengulangan dari yang di awal sebelumnya. cerpen yang paling tidak saya suka: tidak ada air untuk mikhail, yang menurut saya konyol dan terlalu mengada-ada. satu lagi, teknik bercerita rio johan sangat asik dan mengalir, seperti membaca karya terjemahan.
Displaying 1 - 30 of 52 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.