Kata transisi menyiratkan perubahan yang kalem, perlahan, dan disepakati bersama. Sementara itu, dengan masifnya perubahan yang disyaratkan, transisi dalam konteks energi kerap berujung dengan pergolakan, kerugian, dan kekalahan menyesakkan bagi beberapa pihak. Menjamin keadilan dalam transisi energi lantas menjadi hal yang penting, sekalipun menantang. Transisi energi, bila berjalan tanpa pengawalan, sangat mungkin hanya akan menjadi siasat baru untuk memproduksi ketimpangan yang sudah banyak terjadi di sektor energi.
Wajar belaka, bila kini narasi transisi energi menjadi sarana para elite menciptakan peluang-peluang eksploitasi baru. Elite dapat mempersiapkan bisnis sekaligus menyetir kebijakan dan skema nasional untuk merespons tekanan transisi energi global. Dengan demikian menyulapnya—tak jarang secara vulgar—dari ancaman menjadi kesempatan.
Keadilan, karenanya, harus selalu dipertimbangkan, diangkat, dan disuarakan di hadapan praktik transisi energi. Toh konsep keadilan dalam transisi energi sudah dielaborasi ke dalam beragam pengertian. Percakapan tentang transisi energi berkeadilan, karenanya, harus dimulai.
Buku Pergulatan Transisi Energi Berkeadilan mencoba menyuguhkan beragam masalah yang dihadapi dalam satu isu: transisi energi. Buku ini diharapkan dapat berkontribusi memantik percakapan yang bergulir, baik tentang tantangan, solusi, dan kerangka kerja utuh dalam mewujudkan transisi energi berkeadilan.
Buku ini berisi 16 esai tentang transisi energi di Indonesia yang dibagi ke dalam 4 bab: 1. Lika-liku Mendesain Transisi Energi Berkeadilan 2. Ekses-ekses Transisi Energi 3. Membajak Transisi Energi 4. Masyarakat Sipil dan Perjuangan Energi Berkeadilan
Kebanyakan penulisnya berlatar belakang peneliti dan semua tulisan dilengkapi dengan referensi yang dikutip dengan kaidah tulisan ilmiah. Hal ini membuat buku dengan topik serius ini menjadi semakin serius. Kenyataannya transisi energi adalah isu yang kompleks, bukan sebatas masalah teknologi mobil listrik ataupun panel surya. Ada perkara berkeadilan yang artinya lekat dengan masalah sosial, ekonomi dan HAM, berkelindan dengan perihal kebijakan, politik, dan kekuasaan.
Jika kamu tertarik pada isu transisi energi dan mungkin sudah familiar dengan 'energy transition 1.O.1', buku ini bagus banget! Ada teori-teori yang bantu untuk memahami gambaran besar dan status transisi energi di Indonesia saat ini, lengkap dengan contoh-contoh kasusnya. 👍🏻
Namun sebagai catatan, karena menyoroti isu yang sama, ada beberapa informasi yang sama muncul di tulisan yang berbeda, seperti soal oligarki, hilirisasi nikel, solusi palsu seperti co-firing, atau pendanaan JETP.
Sebagai seseorang yang baru mencoba menyelam ke dalam dunia transisi energi di Indonesia, buku ini sangat menarik dan membuka mataku pada fakta-fakta dan perspektif yang belum pernah kuketahui atau kupikirkan sebelumnya.
Berisi 16 esai yang mencakup berbagai macam topik, buku ini membawa fakta, kritik dan rekomendasi solusi untuk beragam kendala program transisi energi di Indonesia yang masih belum diterapkan secara adil dan merata untuk segala lapisan masyarakat.
Ditulis oleh berbagai peneliti dan jurnalis, esai-esai yang dimuat dalam buku ini benar-benar ditulis dengan pendekatan ilmiah yang terkadang tergolong kaku tapi jelas kredibel. Entah apakah karena aturan penulisan ilmiah di Indonesia memang terbilang kaku, tapi kalau aku bandingkan dengan buku-buku serupa yang ditulis dalam Bahasa Inggris, jelas struktur penulisan dan juga gaya bahasa yang dipilih cenderung tidak mengajak orang untuk menikmati karya yang ditulis. Benar-benar sebuah laporan yang formal.
Sejak awal, editor buku ini menegaskan bahwa masih ada sejumlah isu-isu yang belum sempat tersentuh oleh tulisan-tulisan yang disajikan. Begitupun, ada banyak sekali pengulangan informasi yang selalu dibawakan dalam setiap esainya. Menurutku, hal ini bisa dihindari jika editor memberikan arahan kepada penulis untuk tidak perlu menjelaskan hal-hal mendasar tentang program transisi energi di Indonesia—yang mana sebaiknya diperkenalkan saja oleh editor terlebih dahulu—agar mereka bisa langsung menyasar poin yang ingin disampaikan.
Antara lain adalah tentang JETP, Perjanjian Paris, dan gerakan-gerakan diplomatis lainnya yang sudah dilakukan Indonesia demi menjadi negara (yang dianggap) menjagokan energi baru dan terbarukan (EBT). Karena informasi di atas pasti akan selalu bersinggungan dengan isu-isu yang dibahas, ada baiknya diperkenalkan secara menyeluruh oleh editor di awal buku, sehingga tidak terjadi pengulangan terus menerus.
Nah, salah satu aspek yang menurutku tidak pernah dibahas di buku ini adalah: pemakaian listrik itu sendiri. Ketidakadilan energi (selain dari segi distribusi) juga berakar dari pemakaian listrik di kota-kota besar, khususnya ibukota Jakarta. Jika kita berjalan-jalan di Jakarta, terutama di jalan arteri Sudirman, kita bisa melihat betapa banyak videotron dan LED screen raksasa yang pastinya memerlukan energi yang sangat besar untuk dipakai. Belum lagi Kantor POLRI dan Kejaksaan yang dihiasi lampu-lampu terang bahkan di malam hari—yang bahkan bisa dilihat dengan jelas dari 1 km sebelumnya.
Ini adalah pemakaian listrik yang berlebihan dan sejujurnya tidak diperlukan, sementara berbagai daerah di Indonesia masih belum punya akses ke listrik dan bahkan kini lingkungannya rusak karena dijadikan tempat pembangkit listrik dari EBT—yang mana tidak mereka rasakan juga manfaatnya.
Entah bagaimana cara mengkajinya, tapi jelas pemakaian listrik (yang lantas menentukan energi yang dibutuhkan oleh suatu wilayah) menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan juga. Karena, pun PLTU sudah dipensiunkan dan energi yang dipakai oleh bangsa Indonesia mayoritas adalah EBT, jika pemakaian listrik (dan bahan bakar) itu sendiri tidak bertanggung jawab dan cenderung berlebihan, maka pembangkit listrik tersebut pun tidak akan pernah cukup untuk memenuhi 'kebutuhan' energi suatu wilayah.
This book came at the perfect timing for me to step into the world of renewable energy! It was a good introduction, personally. I'm looking forward to reading more and getting an in-depth understanding about green energy.
Apakah Indonesia bisa benar-benar mewujudkan transisi energi yang ambisius ini? Apakah teknologi dan kebijakan yang diterapkan sudah sejalan dengan target besar tersebut? Menurut Geger Riyanto, transisi energi di Indonesia melibatkan begitu banyak aktor, institusi, dan kepentingan yang beragam, yang justru menciptakan keruwetan dan dilema yang sulit diurai. Lalu, seperti apa sebenarnya masalah dan dilema yang sedang dihadapi dalam upaya transisi energi di Indonesia?
Buku Pergulatan Transisi Energi Berkeadilan, Satu Isu Beragam Dilema hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan kumpulan 16 esai dari jurnalis lingkungan, advokat, aktivis, dan akademisi, antologi ini menawarkan pandangan yang jernih dan beragam tentang transisi energi yang berkeadilan di Indonesia. Setiap esai menyajikan sudut pandang yang segar dan mendalam, memberikan pembaca wawasan penting yang sangat layak untuk direnungkan. Buku ini bukan hanya menginformasikan, tapi juga mengajak pembaca memahami tantangan besar dalam perjalanan menuju transisi energi yang adil.