Teori Pernikahan Bahagia🥲
Ini buku ke-10 yang ku baca pada tahun 2025
Ini novel walau judulnya seperti buku non-fiksi. Sebab itu lah aku juga tertarik.
Novel karya @aliurridha ini bisa dibilang mengkritik kondisi patriarki. Dalam beberapa bagian amat terasa bagaimana praktik patriarki diceritakan di sini. Salah satunya, bagaimana Zainal dalam dialog-dialognya yang “otoriter” dalam keluarga.
Bukan hanya itu, novel ini juga membahas bagaimana pernikahan di kalangan para keturunan nabi atau yang dikenal dengan istilah “sayid” untuk laki-laki dan “syarifah” untuk perempuan. Novel ini menampakkan jika mereka memiliki status sosial yang lebih tinggi dibanding di luar komunitasnya. Hal itu memunculkan konflik jika mereka menikah di luar komunitasnya.
Terlepas dari persoalan sosial, novel ini juga menyinggung hal personal. Pertama, perihal trauma yang “diwariskan”. Rania di masa kecilnya diperlakukan kurang baik. Tetapi ia ingin menjadi orang yang lebih baik bukan seperti ibunya. Ini juga menjadi ketakutan ayahnya untuk menikahkannya. Di akhir cerita karena berbagai persoalan dalam pernikahannya, Raina mengalami depresi.
Namun, itu juga berkaitan dengan yang kedua, mengobrol dan mendengarkan dalam keluarga terutama dengan pasangan dan juga orang tua. Awal-awal cerita novel ini saja sudah terasa mengingatkan akan berbincang dengan pasangan dan orang tua. Misalnya saja, soal ibunya Raina, izin orang tua Zefki untuk menikah, dan hal yang membuat Raina marah sebelum mengetahui penyebabnya.
Jadi teori pernikahan bahagia dari novel ini yang aku dapatkan ialah kebahagian dalam hubungan ialah mengobrol dengan kepala dingin dan saling mendengarkan. Termasuk terbuka soal masa lalu dan memastikan itu benar-benar selesai.