Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bogor Mengaduk Waktu

Rate this book
Catur mendapati ayah kandungnya yang menghilang adalah kunci dari terpelintirnya dua garis waktu. Sesuatu telah mengaduk waktu di Kota Bogor, hingga kepingan Bogor satu abad lalu hadir dan berjalan beriringan dengan Bogor masa kini layaknya foto lentikular.

Catur harus menemukan sang ayah dan mencari cara untuk mengembalikan Bogor seperti sedia kala, sebelum waktu memperbaiki dirinya sendiri dengan cara memusnahkan mereka semua.

200 pages, Paperback

Published August 1, 2024

3 people are currently reading
47 people want to read

About the author

Avia Maulidina brings together her passion for writing and her background in Family and Consumer Sciences to focus on storytelling that bridges growth and self-discovery for young audiences.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (19%)
4 stars
25 (43%)
3 stars
15 (26%)
2 stars
6 (10%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Rererey .
28 reviews
August 27, 2024
Buat kalian yang suka sama buku middle grade dengan genre fantasi yang dipadu dengan sejarah, terutama sejarah kota di Indonesia kalian harus baca buku ini! Buku ini berfokus pada kejadian aneh yang terjadi di Bogor. Timeline Bogor 1923 dan Bogor 2023 teraduk dan menjadi satu. Catur bersama kawannya Nada dan dua orang dari masa lalu yaitu Han dan Margana harus mengembalikan kondisi waktu seperti semula sebelum semuanya hancur.
.
Sebagai orang Sunda aku merasa tergambarkan oleh Catur dan Nada, terutama Catur, sih wkwkwk. Meskipun sifatku gak semirip Catur, aku merasa terwakilkan dengan kesundaan dia di buku terutama pengalaman-pengalaman masa kecilnya itu kayaknya hampir semua anak Sunda ngalamin deh. Kayak diceritain cerita sakadang kuya sakadang monyet atau kabayan, nyanyi pupuh di depan kelas, ngeluarin jokes-jokes khas bahasa Sunda yang gak bisa diartiin ke bahasa Indonesia tuh bener-bener tergambarkan dan terwakilkan wkwkwk.
.
Pokoknya buat kalian yang pengen tahu soal sejarah kota Bogor, belajar Sunda dikit-dikit, dan menikmati cerita fantasi menyelamatkan sebuah kota dari sebuah kehancuran kalian harus harus harus baca buku ini.
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
February 23, 2025
"Teungteuingeun anak intjoe aing. Euweuh pisan kaingetanana. Kana titinggal ti kolot. Teu neuleukeun batoer-batoer. Ting kedewek pada saringkil. Migaw warisanana. Ngarah senang hiroep. :: Sampai hati anak cucuku. Tak sedikit pun menghiraukan. Peninggalan orangtua. Tak melihat banyak orang lain. Sibuk menyingsingkan lengan. Mengerjakan warisannya. Supaya senang hidupnya."


Dari segi plot, untuk saya, ide cerita yang disuguhkan segar. Cerita tentang perjalanan waktu memang sudah banyak diolah, tetapi kehidupan paralel dua lini waktu, dalam hal ini 2023 dan 1923, serta eksekusi latar yang ditampilkan menarik. Saya juga menyukai 'Catatan Nada' yang berperan ganda--ia bisa jadi pelengkap karakter Nada yang suka menjernihkan suatu masalah lewat catatan visual, sekaligus panduan mudah bagi pembaca memahami konsep ataupun perkembangan alur yang ingin disampaikan penulis.

Dari segi karakter, saya juga menyukai semua karakter yang ada di dalam cerita ini. Catur yang terkesan tidak pernah serius dan agak egois, menawarkan karakter protagonis yang memang tidak perlu selalu sempurna. Fangirling Catur terhadap Iqbal juga, menurut saya, justru mendukung karakter anak SMP yang baru memulai perasaan 'suka-sukaan.'

"Mood akan mengikuti penampilan."


Nada yang terkesan dingin dan oportunis, tetapi latar belakang kehidupannya membuat karakternya jadi masuk akal. Pertemanannya dengan Catur yang dimulai sengit juga menawarkan realitas yang cukup dekat, rasanya malah membuat pertemanan keduanya tidak artifisial. Belum lagi respons spontan keduanya yang mudah membuat tertawa ("Beungeut sia!" | "Istighfar, Nad, istighfar.")

Han, buat saya, tidak masalah. Bisa dimengerti. Keputusannya untuk diam saja dan mengabaikan temannya ketika ditindas pun masuk akal, bisa dimengerti. Yang agak mengganjal justru karakter Margana. Saya masih kurang yakin ada anak berusia 5 tahun yang dapat sedewasa dirinya.

"Soalnya kami mati muda. ... Waktu berjalan lebih cepat di masa-masa sengsara."


Karakter Ayah? Ah, saya tidak tega. Karakter Mama dan Papa juga agak serbasalah. Beruntung semuanya mendapat akhir yang bisa diterima. Untuk Asosiasi Gedung Lama pun, meski tidak didetailkan, akhirnya pun dapat saya terima. Perlawanan sudah secara natural memang harus terus berlanjut.

Dari segi latar cerita, menurut saya, penulis menguasai latar dengan baik--suasana, tempat-tempat, juga sejarah masing-masing tempat yang diangkat disisipkan dengan sangat halus hingga tak terasa membosankan atau terkesan text book. Saya sendiri baru beberapa kali berkunjung ke Bogor, tetapi beberapa tempat yang disebutkan dalam cerita, seperti Surya Kencana, baru saja saya kunjungi, jadi rasanya menyenangkan untuk menemukan titik-titik yang familiar. Penggambaran Kota Bogor di dalam buku membuat saya ingin kembali mengunjunginya.

Dari segi gaya penulisan, meski buku ini mengambil sudut pandang remaja SMP, gaya bercanda dan dialog antartokohnya masih bisa saya nikmati, bahkan ikut tertawa. Saya suka beberapa celetukan atau ungkapan dalam bahasa Sunda yang dimasukkan di dalamnya. Pergantian sudut pandang, dari sudut pandang ketiga, lalu pertama lewat Sri Sura, kemudian kembali ke sudut pandang ketiga, memang terkesan tidak konsisten, tetapi tidak mengganggu untuk saya karena tidak terasa transisinya.

"Hujan sudah sangat tua. Hujan sudah banyak melihat. Lautan air hujan membawakan Catur memori dari waktu yang telah lampau, yang tak diingat otak Catur, tapi diingat oleh hujan."


Dari sisi efek personal buku ini bagi saya, dapat dikatakan ceritanya menghibur dan seru untuk diikuti. Saya hanya butuh dua hari untuk menamatkannya. Konflik tidak berbelit, penyelesaian dapat diterima, dan mengikuti cerita ini dan interaksi para tokohnya terasa ringan dan menghangatkan. Saya juga ingin punya teman berpetualang seperti Catur jadinya :))

Jadi, baca atau tidak? Kalau boleh merekomendasikan, bacalah. Nah, sebagai penutup, boleh juga kutipan moto Kota Bogor ini menjadi bahan renungan.

"Dinu kiwari ngancik nu bihari, seja ayeuna sampeureun jaga. :: Apa yang kita nikmati sekarang merupakan jerih payah para pendahulu dan apa yang kita kerjakan saat ini akan diwariskan untuk masa depan."
Profile Image for Luv.
107 reviews
December 24, 2025
Rasanya kek mimpi pas demam. Campur aduk banget isi ceritanya.

Waktu di Bogor tiba tiba tercampur. Bukan pergi ke masa lalu atau masa depan, tapi waktu di 2023 dan 1923 berjalan beriringan. Awalnya, ga ada yang terganggu dengan tumpukan waktu ini, sampai diketahui fakta bahwa Bogor akan menghilang, Catur dengan bantuan Nada, Han, Margana dan Boknio mencoba mengembalikan waktu seperti semula.

Ok jadi, pertama premis nya menarik. Kek time traveler, but we don't go anywhere, it comes to us. Awalnya tuh aku mikir, kalo waktu gabung begini, kenapa orang dari 2023 ga bikin konten aja? Tapi langsung kejawab kalo ini kek 2 sisi mainan kartu hologram itu loh konsepnya, yang kita bisa liat sisi lain dari sudut tertentu. Jadi mungkin kesannya kita kek liat penampakan aja. Ga bisa disentuh, ga bisa difoto. Tapi bisa dilihat dan didengar.

Promising banget kan konsepnya?

Tapi, eksekusi nya menurut aku kurang mateng. Well yeah rasanya kek fever dream. Kek ngegabungin semua hal di satu piring.

Dari normal, tiba tiba waktu bercampur, tiba tiba dapet surat dari gedung, tiba tiba manusia kesurupan gedung, tiba tiba gedungnya jadi powerfull itu, tiba tiba ayah nya Catur yang hilang ketemu, tiba tiba dapet clue buat mengembalikan waktu, tiba tiba kelar.

Ya, tiba tiba.

Apa ya, kek rada grasak grusuk aja gitu. Mungkin faktor halaman dikit jadi semua aspek dijejelin gitu aja.

Tapi, justru poin dari hilangnya Ayah dan ketemunya dan hubungannya dengan kejadian ini tuh jadi ngambang. Hambar. Padahal ini jadi salah satu kunci nya.

Terus ya, sebetulnya mention Iqbaal tuh dikit sih, cuma entah kenapa buat aku info ini tidak penting sama sekali.

Dan aku juga merasa kurang dijelaskan sebab dan akibat dari tercampurnya waktu ini. Karena kalo dipikir secara nalar, sejarah tuh pasti bakal kacau karena orang di masa depan bisa lihat apa yang ada di masa lalu, dan orang di masa lalu tau apa yang akan terjadi di masa depan.

Omong omong sejarah, di novel ini juga ditunjukkin tempat tempat bersejarah yang ada di Bogor. Ini poin plus nya, aplagi untuk warga luar Bogor macam aku yang ga tau tentang daerah ini.

Sayangnya, aku baca ini kan format epub nih. Meski ada terjemahan untuk Bahasa Sunda yang dipakai, aku ga bisa langsung cek catatan kaki nya karena jauh banget gesernya. Jadi hal ini bikin experience membaca ku agak berkurang, dan bacanya maju terus tanpa ngerti lagi bahas apa.

Untuk karakternya aku suka. Khas anak SMP yang ngeselin, gengsi nya lagi gede dan susah diatur. Nakal nakalnya pun ga over. Yah, Nada emang jatohnya cukup dewasa, tapi dilihat dari latar belakangnya, itu cukup dimengerti.

Ya, selebihnya novel ini cukup oke. Ceritanya masuk yang gampang dibaca dan ga bosenin si, walaupun pergantian pov yang tiba tiba itu awalnya bikin bingung, tapi setelahnya langsung bisa diikutin lagi.

Recomended lah buat yang mau bacaan ringan tema lokal dengan konflik yang ga berat.
Profile Image for Baiti Rahma Asy-Syifa.
84 reviews1 follower
January 2, 2026
Reaksiku pas baca buku ini adalah: kapan selesainya?

Jadi, aku agak kurang menikmati. Padahal, sejujurnya, bahasa yang digunakan sangat lincah. Aku bahkan menganggap bahwa tema yang diangkat unik, bahasa yang digunakan sangat menyenangkan, tapi apaya... kurang matang?

Berkisah mengenai Catur, anak angkat walikota Bogor, yang tiba-tiba kehilangan ayah kandungnya pada saat waktu Bogor tahun 1923 dan 2023 teraduk. Ia yang tiba-tiba 'disuruh' untuk mengembalikan waktu, bertemu dengan orang di masa lalu (Han dan Margana), dapat berbicara dengan gedung tua, dan lainnya. Tapi hm... apaya. Menarik tapi kurang seru?

Objektif utama dari buku ini adalah bagaimana waktu Bogor dapat kembali seperti semula. Ya, itu intinya. Cuma... apaya, kurang deep? Tiba-tiba banget. Tiba-tiba ayah ketemu, tapi tidak dijelaskan lebih jelas kenapa ayahnya kembali di masa lalu (apakah hartanya ketemu), terus hubungan Nada dan ayah kandungnya kok tidak dijelaskan lebih detail pasca kejadian itu ya. Oke lah, mereka jadi lebih sering ketemu, tapi kayak kurang greget aja, padahal itu inti juga dari novel ini.

Klimaksnya adalah cara untuk mengembalikan waktu adalah mengisi batu dalkon dengan air di masa lalu dan masa kini. Tapi, kenapa? Lalu harus berpegangan dengan orang di masanya, padahal disebutkan bahwa mereka hampir tenggelam. Kenapa dan bagaimana?

Terus, kenapa juga harus Catur yang harus mengembalikan waktu Bogor yang sempat teraduk. Dan selepas Bogor kembali seperti semula, kenapa sejarah tidak berubah? Apakah mungkin Catur dan Nada (teman Catur) hanya berhalusinasi? Hm.
Profile Image for wulan.
246 reviews7 followers
October 9, 2025
buku ini menurut aku ... unik banget sih 🤔 oke, kita mulai dari judulnya, bogor mengaduk waktu. tahun 2023 dan 1923 tiba tiba tergabung. bingung? sama aku juga. ibarat foto lenticular, seperti itulah keadaan kota bogor.

semuanya terjadi begitu cepat. orang dari tahun 2023 tidak bisa menyentuh orang dari tahun 1923, begitupun sebaliknya. bangunan bangunan yang ada di bogor juga terlihat tumpang tindih.

cerita diawali dengan catur yang mencari ayahnya yang hilang. catur sadar ayahnya hilang karena beberapa hari belakangan dia tidak melihat ayahnya yang biasanya berjualan es putar.

hilangnya ayah catur ternyata berhubungan dengan teraduknya waktu. oh ya, catur tidak tinggal dengan ayahnya, dia diangkat anak oleh bapak wali kota.

catur punya teman namanya nada. mereka sebenarnya tidak bisa dibilang berteman, lebih ke simbiosis mutualisme. aku jujur gak bisa relate, tapi aku suka gimana mereka akhirnya mengungkapkan isi hati masing masing.

tiba tiba sebuah surat sampai kepada catur. isinya adalah perintah untuk catur mengembalikan waktu seperti sedia kala.

aku kagum sama penulis karena bisa kepikiran ide cerita seperti ini. tapi di sisi lain menurtku eksekusinya agak kurang, jadi aku susah "terikat" sama ceritanya. terkadang juga ada kalimat dalam bahasa sunda tanpa terjemahan.

tetep nggak bisa dimungkiri bahwa aku menikmati membaca buku ini. aku penasaran apakah catur berhasil menemukan sang ayah? apakah catur berhasil mengembalikan kota bogor seperti sedia kala?

pas plot twist nya dibeberkan, aku tuh kayak ... HAH? OH? ooh wow menarik. lumayan bikin bingung sih, tapi setelah dibaca lama kelamaan terasa masuk akal.

buku ini kaya akan penggambaran situs situs dan gedung gedungnya. mungkin akan terasa lebih bermakna jika aku mengetahui dan dapat membayangkan latar tempatnya.
Profile Image for Abigail Leandra.
7 reviews
December 22, 2024
sebenarnya 2 utk nyusun ceritanya. 3 untuk karakternya.

Sayang sekali, padahal ini kalau disusun dengan rapi dan rewrite lagi bisa jadi novel yang seru.
Bahan bakunya bagus banget. Ide dan premisnya oke. Karakternya oke.
Namun, novel ini seperti soto, sate, rawon, es campur, kopi latte dicampur jadi satu.
Ketidakkonsistenan pov bikin malah makin pening. Tiba-tiba aja ada si aku ( pov 1 ) yang cuma hidup satu bab, trus ada muncul lagi di belakang. Pemakaian pov3 author pun seolah menempatkan karakter sebagai wayang. Padahal karakter utamanya udah oke.

Poin utama pelestarian cagar budaya jadi kabur, enggak kuat, karena enggak disebutkan pula usaha-usaha bagaimana untuk melindungi cagar budaya itu. Lalu, merk yang bertaburan menjadikan hanya pembaca tertentu saja yang bisa paham dengan jokes-nya. Belum lagi, sepertinya penulis adalah fans garis keras Iqbal, yang malah membuat hanya pembaca yang tahu dan ngefans paham.

Sayang sekali, padahal kalimatnya lincah.
Andai saja rewrite dan dibenerin dengan rapi, bakal jadi bagus.
Semoga next novel, lebih bagus lagi.
Profile Image for Juzeuswoo.
3 reviews
January 6, 2025
Pertama kali lihat buku ini langsung tertarik karena premisnya yang sangat lokal dan bagus, tentang tumpang tindih waktu secara bersamaan yang memiliki jarak kurang lebih 100 tahun, dari bacaan ini kita bisa memvisualisasikan kehidupan yang sangat berbeda antara tahun 1923 dan 2023 dan dari sudut pandang tahun tersebut penulis menjelaskan beberapa perubahan signifikan tentang suatu kota pada rentang waktu yang lama. Kritik-kritik halus dan on point tentang tata letak kota yang dirasa failed juga jadi hal baru dalam buku ini, namun mungkin penulis harus memberi spotlight lebih dan alasan yang reasonable tentang kepergian Ayah dan bagaimana caranya dia kembali, dan lompatan scene antar bab yang membahas suatu kejadian dirasa memiliki hubungan yang sedikit dipaksakan untuk bercampur, sehingga eksekusinya masih perlu bantuan point timeline untuk mencari hubungan cerita antar tokoh utama bagi pembaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for dipipup.
12 reviews
July 4, 2025
tertarik buat baca buku ini karena cover-nya yang gemas dan colorful with zero expectation about the story itself. bisa dibilang aku cukup terhibur dengan baca buku ini karena bisa dihabiskan dengan sekali duduk. bacanya diikutin aja flow yang dikasih sama author walaupun rada bingung juga ya tentang campur aduk waktu ini yang kesannya terlalu dipaksakan..? tapi balik lagi :D aku gak berharap apa-apa, jadi ya masih tetep enjoy. so far so good.

aku baca ebook ini dan cukup banyak typo & penulisan yang mengganggu, itu salah satu minusnya. aku pribadi suka novel yang world building-nya bagus, tapi sayangnya disini gak seperti itu. kesannya terburu-buru & bikin pembaca jadi rada bingung untuk bisa ikutin alurnya. dari pengalaman aku baca ini rasanya seperti hidup di pikiran anak umur lima tahun: aneh, menarik, dan bingung dijadiin satu.
62 reviews2 followers
November 10, 2024
idenya unik. tahun 1923 dan 2023 tercampur jadi satu. ternyata program BOGOR MENGADUK WAKTU diusung oleh wali kota, bapak angkatnya catur.
narasi, dialog, adegan per adegan tumpang tindih. sehingga gue ngebatin sepanjang halaman. "lu nulis apa sih? nggak jelas. nggak fokus tentang ilangnya bapak kandung catur."
kujuk2 bapak kandung catur tau2 nongol dengan sendirian. yang tentang surat itu nggak jelas asal usulnya. keliatan banget kayak tulisan dedek gemes yang asal tulis tanpa outline.
penulisnya iqbaal garis keras keknya. nyebut2 iqbaal mulu padahal nggak guna. situs makam raden saleh pun berasa tempelan. endingnya full telling wkwkwkw

bisa juga ini faktor bukan tipe gue aja. susah dicerna akal sehat tak seberapa.
Profile Image for Difa Aulia.
28 reviews
March 28, 2025
3.5/5.0
not as hard science i expected karena ini kan targetnya buat remaja jadi cocok banget buat yang pengen baca fantasi yang ada unsur time slip nya. di beberapa bagian dibikin takjub sama hal-hal penting di sejarah yang dikulik dan somehow ngasih tahu kalau benda mati like, bangunan itu punya esensi tersendiri tergantung riwayat yang tercoreh di setiap dekadenya. tapi, ada beberapa hal yang perlu dirapihin lagi sih biar kesannya gak jadi males baca. oh iya, makasih juga sama penulisnya yang udah nyisipin ilustrasi waktunya bertabrakan di linimasa yang sama, meskipun gue masih rada bingung. karena kalo tabrakan dan transparan kayak susah juga hidup nya, berasa ketemu hantu beneran kalo kata gue, jadi kesannya kurang magical. tapi overall worth it lah.
Profile Image for Nadhira.
196 reviews8 followers
August 27, 2025
📚 Bogor Mengaduk Waktu
✒️ Avia Maulidina
🎡 PCY Digilib
🥨 Bhuana Sastra
🎖️ 3,25/5

Review:
Sebenarnya, aku suka tema buku ini. Bagaimana masa lalu dan masa sekarang saling bertemu dan bercampur. Bagaimana ternyata, hal yang menyebabkan itu para gedung-gedung lama. Tapi, sayang sekali ekseskusi tema nya berantakan. Penyelesaian konfliknya juga sekadarnya saja. Padahal, buku ini berpotensi besar untuk menjadi buku petualangan yang seru. Mungkin karena buku ini cuma 200 halaman saja ya yang menyebabkan alurnya terasa cepat dan tergesa-gesa. Meskipun begitu, tata cara penulisannya rapi dan enak sekali dibaca. Penggunaan Bahasa Sunda disini juga pas dan ada terjemahannya. Overall, untuk buku yang sekali duduk ini bisa jadi pilihan.
Profile Image for ahra.
8 reviews
December 31, 2025
This is the book I ended 2025 with!

Awalnya aku pikir dengan halaman yang cukup singkat, cerita di buku ini mungkin akan berjalan sangat santai yang mana itu berbanding terbalik sama sinopsis nya. Menurutku cerita ini sangat menjanjikan banget sih, sinopsisnya cukup membuat aku tertarik untuk baca buku ini.

Tapi selama baca aku merasa agak janggal sama alur yang pov yang tiba-tiba berubah. However, I couldn’t help but feel amazed when that building’s perspective appeared.

Untuk sinopsis yang se-bagus ini, menurut ku kalau diceritain lebih detail mengenai semua asal-usulnya, pasti bakalan lebih masuk lagi. But this is still a good book to read!

Anyway, I feel so emotional pas Catur ke Sri Sura untuk beli sepatu sama ayahnya. Hiks...
Profile Image for P.
36 reviews2 followers
April 23, 2025
hohohoo selesai juga nih buku

baca ini on-off, pertama emg krn gw cabut keluar kota buat kerja, kedua krn genrenya yg fantasi dan adventure, yg mana genre ini tuh gw jarang baca, tp krn ini backgroundnya "Bogor" gw jd kebayang dimana2nya wkwk

overall seru aja tp pembawaannya SMP bgt/?malah ada bbrp scene si Catur yg bikin gw kesel dan pengen ngatain, "woy anak esempeh!" HAHA, truss emg agak bertele2 sih penjelasan scenenya, dan kadang bahasa si Catur tuh bikin gw agak cringe dikit gak tau knp, tp gw cukup "locked in" pas scene terakhir Catur lari2 itu, kebayang aja di otak gw betapa serunya wkwkwk
Profile Image for Fitri.
205 reviews
December 14, 2024
Such a wonderful reading experience!

Menurutku penulis berhasil mengemas hal-hal ajaib di luar nalar dengan penulisan yang mudah dipahami dan dinikmati. Ceritanya terjalin dengan baik dari awal sampai akhir, tentang Ayah, tentang Han, Bok Nio dan Margana, dan tentang bangunan-bangunan lama di seantero kota Bogor.

Diselingi dengan celetukan khas sunda yang lucu, obrolan yang sering kali melebar ke mana-mana, emosi remaja yang meledak-ledak, sampai fangirling iqbaale (sempet banget memang Catur dan mamanya 😂).

Highly recommended ♡
Profile Image for Cindy Pricilla.
Author 4 books13 followers
November 15, 2024
Saya pernah tinggal di Bogor sebagai mahasiswa IPB, jadi baca buku ini serasa main ke Bogor lagi.

Premisnya unik, cara menulisnya lincah, tebakan saya penulisnya sering baca novel fantasy luar negeri, namun endingnya kurang memuaskan bagi saya. Alasan logikanya kurang kuat.

Sebenarnya novel ini bukan tipe bacaan yang saya sukai, tapi baca bab awal, membuat saya terpukau.

Untuk karya pertama, risetnya cukup mendalam. Good job Avia!
Profile Image for Nia potterr.
174 reviews3 followers
June 10, 2025
bingung alur jalan ceritanya, tbtb banget bangunan bisa ngomong? kayak baca kkpk gt tapi its okayy disini juga banyak pelajaran seperti diceritakan sejarah bogor. mungkin bisa dibilang ini novel fantasy kali ya? tapi susah dicerna di pikiran aku
Profile Image for Agnes Bemoe.
19 reviews2 followers
December 15, 2024
Nyaris memberikan 4/5 karena ceritanya bagus (biarpun tidak flawless). Sayang, saya kecewa dengan penggunaan Sinterklas untuk tokoh jahat. Offensive dan tidak sensitif, menurut saya. Sayang sekali.
Profile Image for dairdevoe.
28 reviews2 followers
January 9, 2025
Lucu, karakter utamanya masih SMP jadi pembawaannya ringan. Aku jadi lebih "melek" sama bangunan2 bersejarah di Bogor, apalagi kalau lagi ngelewatin Surken 😆
Profile Image for Hanyiezd.
138 reviews
April 1, 2025
Yang mau jalan-jalan ke Bogor, mengetahui sejarahnya, segala sesuatu tentangnya, hayulah dibaca. Ceritanya keren, bahkan didampingi oleh latar Belanda tahun 1923. Bercampur aduk menjadi satu.
Profile Image for Dina Meiladya.
38 reviews
October 1, 2025
Petualangan seru bocah-bocah nekat ini ditulis dengan alur maju yang sat set dan lumayan bikin dag dig dug buat buibu kayak aku. Sudut pandang yang digunakan di novel ini juga cukup unik, yaitu sudut pandang orang ketiga yang selain jadi pengamat dan penutur ternyata juga punya andil cukup besar di jalannya cerita. Penasaran gak tuh?

Dari perjalanan menemukan Ayah Catur, novel ini ngajak pembaca untuk melihat Bogor di dua waktu yang berbeda. Secara gak langsung, aku jadi tahu beberapa sejarah kota Bogor lengkap dengan bangunan, peninggalan sejarah, kehidupan masyarakat sampai tokoh-tokoh yang berpengaruh di kota ini.

Aku excited banget selama baca novel ini. Bukan cuma petualangan Catur dkk yang super seru, tapi unsur sejarah yang kuat dan elemen fantasi yang gak terduga juga buat aku betah baca novel ini. Dan bisa tebak apa bagian favoritku? Yap endingnyaaaa~ aku dibuat deg-degan sekaligus terharu di bagian ini, asli bikin merinding. Aku gak nyangka kalo endingnya bakalan ada atraksi dari ‘mereka’ yang sukses buat panik orang-orang satu kota.

Review lebih lengkap ada di sini yaa guys~ https://www.dinameiladya.my.id/2025/0...
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.