Jump to ratings and reviews
Rate this book

Merantau ke Deli

Rate this book
Cinta adalah penyatuan dua hati, sehinggalah takdir berkata sebaliknya. Untuk novel ini, HAMKA memilih untuk bercerita tentang cinta lelaki yang merantau, dan setianya seorang perempuan yang tidak dipandang darjat keturunannnya. Pada ketika perempuan setia itu sudah Bahagia, lelaki yang dikasihinya perlu memilih antara dia dan darjat keturunan. Apa akhirnya perempuan setia itu? Apa jadinya kepada lelaki yang terpaksa memilih?

240 pages, Paperback

First published January 1, 1939

98 people are currently reading
1251 people want to read

About the author

Hamka

111 books1,087 followers
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.

(source : wikipedia)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
805 (54%)
4 stars
480 (32%)
3 stars
144 (9%)
2 stars
21 (1%)
1 star
17 (1%)
Displaying 1 - 30 of 272 reviews
Profile Image for farahxreads.
715 reviews263 followers
February 12, 2017
"Cinta adalah penyatuan dua hati, sehinggalah takdir berkata sebaliknya."

Rasa bahagia bercampur dengan rasa benci sepanjang membaca buku ini. Tak semua buku boleh buat kau rasa begini, tak semua buku. Rasa bahagia kerana penulisan ini rasanya lebih dekat dengan aku, malah lebih dekat daripada Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Rasa benci kerana apa yang ditulis Hamka ini ternyata belaku di alam realiti - bahawa kehidupan ini tidak akan terlepas dari kepahitan.

Dan benarlah, berlebih-lebihan itu selalunya akan memusnahkan. Seperti cinta manusia dan tunduk kepada adat.

Oh ya, buku ini sangat sesuai untuk mereka yang sudah berkahwin ataupun nak berkahwin ataupun mereka yang mahu tahu pahit manis perkahwinan itu bagaimana.

Rating sebenar: 4.5/5 bintang
Profile Image for hans.
1,158 reviews152 followers
June 20, 2021
Merantau Ke Deli masih kekal dalam tema kekeluargaan sama seperti naskhah-naskhah HAMKA yang aku baca sebelum ini, berlatar drama harian keluarga dan perhubungan namun lebih fokus tentang isu dan kesan poligami yang terhasil akibat campur tangan keluarga kerana jurang keturunan.

Aku tertarik bila penulis masih utamakan kritik sosial dalam penulisan beliau, naratif sinis yang tunjukkan bagaimana indah dan bebannya ikutan budaya, adat dan keturunan boleh menghancur satu ikatan yang dibina berteras kepercayaan dan hormat. Leman yang berjanji akan menjaga Poniem akhirnya tewas dengan desakan keluarga dan kemahuan dirinya, dan darjat keturunan dituding sebagai dalang, lantas bimbang dengan masa hadapan sendiri.

Walaupun agak terkilan dengan karakter Leman namun agak menarik bila difikirkan betapa kasihannya seorang lelaki yang menjadi pewaris keluarga yang mendahulukan budaya dan keturunan. Masih terbuka dengan pilihan Leman tapi tetap mencucuk dengan mantra; "dia bukan orang kita." Poniem yang berjiwa besar sehingga akhirnya juga tetap bersangka baik dan melayan Leman sebagus boleh walau pernah dihalau keluar dan diceraikan.

Boleh lihat beza karakter Poniem dan Mariatun; antara memilih pasangan yang matang dan berswadaya dengan yang kurang pengetahuan dalam toleransi hidup berkeluarga. Dinamik Poniem paling memikat bagi aku walaupun akhirnya aku gemar sekali dengan watak Suyono. Satu naratif realis, kaya emosi dengan moral yang bagus. Suka sekali dengan pengakhirannya. 4.2 bintang!
Profile Image for Zaghol .
1,115 reviews
December 13, 2019
"Mereka tidak insaf bahawa hanya mata yang bebas di dunia ini, tetapi peraturan hidup, pangkat dan darjat, bangsa dan keturunan, agama dan kesopanan semuanya itu menghalangi kemerdekaan mata bermain" - Petikan novel Merantau ke Deli, Hamka.

Mata kita bebas melihat, kita boleh melihat puteri raja, anak orang kaya, mira filzah dan neelofa. Kita cita-citakan mereka sebagai teman hidup kita. Tetapi jika kita marhaen, lupakan sahaja. Puteri raja bernikah dengan pencuri? Hanya dalam Disney.

"Merantau ke Deli" tidaklah sepopular "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk", tetapi bagi aku "Merantau Ke Deli" jauh lebih hebat mengatasi TKVDW yang aku rasakan hanyalah kisah orang obses.

"Merantau ke Deli"..... tidak dapat digambarkan dengan kata. Memang kau kena baca. Dah lama dah aku tak rasa sedih bila baca novel. "Merantau ke Deli" berjaya buatkan aku rasa macam nak menangis. Aku tak boleh lepaskan buku ni bila mula baca, walaupun bergenre drama kau tetap rasa tak sabar untuk tahu apa yang akan berlaku seterusnya, macam baca novel misteri thriller. Walaupun kau macam boleh agak apa yang akan berlaku, kau tetap rasa teruja. Kalau boleh nak dipanjangkan lagi, tak bosan menghayati bait-bait indah Allahyarham Hamka. Patut dibaca oleh orang yang dah berkahwin, rasanya mereka akan lagi faham. Orang bujang macam aku pun "faham".

"Akan ditunggunyalah uban bertabur, gigi gugur, pipi kendur, mata kabur, dan pintu kubur" - Hamka

p/s: untuk hilangkan murung pasca "Merantau Ke Deli", kena baca komik pulak.
Profile Image for winda.
357 reviews14 followers
July 27, 2014
Dari dulu sampai sekarang,orang merantau berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada hidup di kampung halamannya. Tetapi tak semua beruntung. Jika sekarang Jakarta menjadi tujuan orang merantau, maka dahulu Deli pernah menjadi tujuan karena majunya perkebunan disana. Tentunya, jaman telah berubah, namun semangat merantau untuk perubahan nasib menjadi lebih baik tak pudar dimakan jaman.

Dari Jawa atau dari Minangkabau ke tanah Deli, sekarang tidaklah “merantau” lagi. Bahkan dari Sabang sampai Merauke pun kita tidak merantau lagi. Tetapi dengan membaca “Merantau ke Deli” anak keturunan yang datang di belakang akan dapatlah merenung, betapa telah jauhnya jalan yanng telah kita tempuh. Maka berusahalah mereka memeliharanya dan membuatnya lebih besar dan besar lagi ...

-Hamka-

Buku ini menceritakan kehidupan perantau di Deli, kisah Poniem yang berasal dari Jawa, yang dijanjikan untuk dinikahi namun ternyata dijual untuk menjadi buruh di perkebunan Deli kemudian menjadi gundik mandor perkebunan. Poniem pada akhirnya dinikahi oleh Leman seorang pedagang kelontong yang berasal dari Padang. Awal kehidupan rumah tangga mereka terdapat perbedaan budaya Padang dan Jawa. Namun pada akhirnya mereka dapat mengatasi perbedaan itu dan dengan modal dari istrinya mereka dapat membuka toko sampai perniagaannya semakin berkembang. Setelah empat tahun pernikahan, mereka pulang ke kampung halaman, pada saat pulang itulah orang-orang di kampung kagum akan perangai dari Poniem namun tetap disayangkan bahwa Poniem bukanlah orang awak. Sanak kerabat dari Leman berusaha untuk menjodohkannya dengan orang sekampungnya, dan Lemanpun tertarik kepada Mariatun dan akhirnya menikahinya. Poniem meskipun merasa sakit hatinya berusaha menguatkan diri untuk menerima istri muda suaminya. Namun semakin berjalannya waktu Poniem tidak bisa bersabar atas kelakuan istri mudanya Leman. Sampai pada suatu waktu Leman menceraikan Poniem, meskipun dia pernah berjanji tidak akan menceraikannya ketika meminta izin untuk menikah kembali. Kehidupan Leman bahagia sepeninggal Poniem apalagi ketika dikaruniai anak, perniagaannya juga semakin maju, hanya saja bukan barang-barangnya bukan kepunyaan sendiri, tetapi meminjam. Peniagaan Leman lama-lama menurun dikarenakan modalnya sedikit demi sedikit diambil untuk membuat rumah dan membeli sawah di kampung. Sampai akhirnya kepemilikan toko beralih ke orang lain, leman dan keluarga hidup di rumah petak dan berjualan keliling dengan sepeda. Meskipun istrinya memiliki banyak perhiasan emas namun tak dipakai untuk membantu suaminya, seperti yang pernah dilakukan oleh Poniem. Sementara, Poniem pergi ke Medan bersama dengan Suyono (seorang buruh yang membantu pernigaaan mereka selama ini). Mereka akhirnya menikah dan tetap bekerja keras seraya menabung, kemudian mengangkat anak bernama Maryam yang merupakan anak tetangganya. Atas usaha mereka, mereka bisa membeli sebuah rumah di Deli, dan bertemu kembali dengan Leman. Roda telah berputar. Dan meskipun Leman telah sangat menyakiti hati Poniem, Poniem berbesar hati untuk memaafkannya.

Buku ini menceritakan kondisi buruh perkebunan, yang tentunya meskipun ditulis sebelum perang dunia kedua, masih relevan dengan zaman sekarang. Kesengsaraan para buruh, cerita buruh wanita di perkebunan. Buku ini juga menggambarkan ketidaksetujuan Hamka terhadap adat Minangkabau yang cenderung merugikan kaum lelaki. Mereka bersusah payah di rantau, membangun rumah dan membeli sawah namun tak punya hak tinggal disitu, masa tua dihabiskan di surau.
Dari buku ini saya belajar bahwa tidak baik menggugu nafsu, kisah Leman untuk menikah lagi dikarenakan nafsu pada dirinya, membuang masa-masa yang indah bersama Poniem, istri yang selama ini sangat setia juga tidak tercela perilakunya. Dan penyesalan selalulah datang terlambat.

Juga jangan gampang untuk berjanji, akan berat sekali akibatnya ketika tidak ditepati. Leman yang berjanji demi Allah akan setia pada Poniem, juga janjinya untuk tidak menceraikannya. Ternyata semua janjinya itu tak bisa dipenuhi.


Tiga kali kita menyebrangi hidup, apabila ketiga kalinya telah tersebrangi dengan selamat, bahagialah kita. Pertama hari kelahiran, hari suci. Kedua hari pernikahan, hari bakti. Ketiga hari kematian, hari yang sejati. (hal.17)

Majulah ke muka, tempuhlah lautan Bahrullah yang luas itu, beranikan hati mennghadapi gelombang yang bergulung-gulung. Karena dengan bermain ombak dan membiasakan menempuh gelora itu makanya penyakit mabuk laut akan hilang. Pada tiap-tiap bertemu dengan suatu kesusahan dan suatu halangan di dalam bahtera rumah tangga, itu adalah ujian; bila sampai ke sebaliknya tertegak pulalah sebuah tiang yang teguh dan sendi yang kuat, untuk membina rumah kecintaan itu. Dimana letak keberuntungan kalau bukan dalam hati? (hal.32)

Adapun sebab-sebab yanng menimbulkan rasa beruntung di dalam hati, adalah rasa percaya mempercayai di dalam rumah tangga, di antara suami dengan istrinya, demikian juga kaum kerabat sekalian. Keberuntungan yang demikian itu tidak dapat dihargai dengan uang, dan tidak dapat dinilai dengan barang.(hal.34)

Kesulitan yang engkau rasakan itu, hanyalah sebelum ditempuh. Kalau sudah ditempuh hal itu, sudah mudah (hal.57)

Kerapkali kita tertipu dengan orang-orang tua yang membawa rambutan beberapa jerat pagi-pagi dari kampungnya yang jauh, menngayuh kereta angin berpayah-payah. Janganlah kita sangka bahwa mereka itu golongan miskin. Kadang-kadang karena hematnya, dan karena cita-citanya itu, bergulung-gulung uang kertas yang asalnya dari ketip, ketip menjadi uang tengahan, tengahan menjadi rupiah, dan bila cukup uang rupiah itu sepuluh buah, ditukarkan kepada uang kertas. Bertahun-tahun kemudian, barulah uang itu keluar dari penaruhan, kadang-kadang untuk belanja ke Mekkah, dan kadang-kadang untuk belanja kenduri kematiannya. (hal.129)

Meskipun mereka menderita payah, tetapi mata mereka hidup. Tidak ada debar dan goncang jantung, melainkan berjalan terus menuju maksud. (hal.129)

“Makan sirih ujung-ujungan
kurang kapur tambahi ludah
Tanah Deli untung-untungan,
hidup syukur mati pun sudah....”
(Hal.157)
169 reviews12 followers
June 22, 2022
What an aesthetic and thoughtful piece of literature.

For a classic Indonesian book, surprisingly the language style feels modern and easy to be understood. It's the only one among his fictions that is still retaining verbatim et literatim since its first publication more than 8 decades ago. Even Malay language proficient readers could read this without much trouble.

The author used a fictional medium to illustrate his thoughts and disagreements about certain practices of Minangkabau ethnic; which he belonged to.
*Minangkabau is the largest matriarchal society in the world, originally from the West Sumatran, Indonesia.

He highlighted customs that he found oppressing to the menfolk prior to 1940s.
1. Man do not own any property. Nor do he inherited any from his family. Only woman do. It passed matrilineally. If the deceased mother had no daughter, properties will be passed to her sisters, nieces or aunts.

2. Man has to build a house and prepared a farm for his wife. It will be build on his wife familial land.

3.That said properties will fully belong to the wife. It will not being considered matrimonial assets. Husband is considered a free lodger of the house for the duration his wife's life.

4. Once properties for the wife had been provided for; he has to provide property to his nieces if he could afford it. The principle is, one cannot enrich the spousal side only. But also your own maternal families as well.

5. Once his wife passed away, the property will belong to his daughter. By custom, he could no longer stays there. His daughter and her spouse will live there. Also, any nieces and their respective spouses.

6. So where will he stays? At the surau. Surau is equivalent to the mosque but in smaller size. That's where their menfolk will stay for the duration of their remaining lives once their wives passed away.

All above were delivered though the main character, Leman. He migrated to Deli in search of better living. He earned his living by peddling fabrics on his bicycle, riding through various plantation estates.

* Deli was a prosperous Sultanate state during the period prior to 1940s. It attracted migrants from all Dutch East Indies islands. Its located on the Sumatran Island.

* Indonesia was known as Dutch East Indies during the Dutch colonization.

He fell in love with Poniem, one of many mistresses of the estate supervisor. Poniem, being convinced by love and sincerity of Leman, eloped and built their new lives as a legally married couple.

So, what will happen when there's a cultural clash?

* Old Minangkabau custom hold that man is 100% responsible to make a living for his marital life. Wife only waited to provided for. Whatever or however it takes, it's not her concerns. Her family has the right to take her back if her marital life deemed uncomfortable materially or unsatisfactory.

Poniem being a Javanese descent believed in shared responsibility in marriage. She pawned all her gold jewelleries to raise capital in order to open a textile shop. It was a success and they became wealthy. Their marital lives was blissfully happy as well. In spite of their childlessness.

One day, Leman decided to visit his hometown in Padang, and brought along his wife.

That's where the seed of conflict began.

All I could say about the ending is, karma had been served to whom that commited injustice. Also to those unappreciative of a bountiful life made possible by sacrifices, devotions and loyalties of others.
Profile Image for Zawani.
82 reviews22 followers
December 4, 2016
Batasku sedari raut kudratku,
Asaku menari terbalut sorbanmu,
Lembutnya jiwa sambut nestapa,
Terngiang syahdu iman di dada.

Bila cerita tak lagi ceria,
Mahligai cinta merona terlena,
Senada iman kusimpan derita,
Kuatkan hati bersimpuh pada-Nya.

Apabila selesai membaca novel ini, saya teringat bait lirik lagu Siti Nurhaliza; Batasku Asaku, seakan menzahirkan perjalanan hidup watak Poniem. 4 jam tanpa henti masa yang diambil untuk menghabiskan novel ini. Jujurnya, saya bukanlah peminat tulisan Hamka apatah lagi novel dan tulisan yang berunsur romantis dan cinta. Tetapi ada kelainan tentang Merantau ke Deli.

Sekali lagi seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka cuba mengangkat persoalan budaya dan adat kuno yang menjadi dogma masyarakat Indonesia. Leman yang menuruti adat Lembaga (orang Minangkabau) terikat kewajipan kepada keluarganya; perlu berkahwin dengan perempuan yang dari sukunya walaupun dia telah mempunyai isteri yang dicintai agar hartanya tidak jatuh ke tangan suku lain. Bagi orang Minangkabau, mencari harta benda adalah untuk memperkaya suku sendiri dan terutama untuk isteri dan anak perempuan. Adat yang 'kuno' ini akhirnya memakan diri si penurut.

Melalui novel ini juga, Hamka memberi mesej jelas tentang rumah tangga yang didasari cinta yang berlandaskan hawa nafsu dan kata manis semata-mata, tidak akan berkekal lama. Seringkali kesenangan adalah ujian terberat berbanding kesusahan. Dan setia itu selalu dimungkiri oleh janji manis.
Profile Image for Nor.
Author 9 books105 followers
March 19, 2017
Kisah para perantau dari pelbagai tempat yang datang ke Deli bagi memperbaiki taraf kehidupan mereka.
Dibawakan kisah sepasang suami isteri, seorang dari Padang dan seorang dari Jawa. Memulakan rumahtangga mereka dari bawah, bersusah-susah dari awal bersama.
Namun setelah berjaya, mereka pulang ke kampung suami di Padang. Ternyata ramai yang kurang senang dan ingin mengambil kesempatan daripada kekayaan mereka. Bermulalah asal keturunan si isteri dari Jawa dipertikaikan. Isteri baharu dari Padang dicadangkan dan diterima, lantas mengubah kehidupan sejahtera pasangan ini.
Ditonjolkan bagaimana adat Minangkabau itu seakan-akan menindas kaum lelaki mereka. Benarkah begitu atau hanya kerana si lelaki kurang bijak menguruskan kekayaannya dan gagal mengawal diri serta nafsunya.
Profile Image for Sarah Yasmin.
86 reviews31 followers
October 12, 2015
Sementara tengah sibuk handle bisnes, sempat jugak habis baca buku ni dalam masa sehari. Curi masa jugak nak baca buku. Fuhh! Aku semakin tertarik untuk baca semua karya-karya Hamka. Inshaallah semoga dipermudahkan!

Buku Merantau Ke Deli ini ada aura dia yang tersendiri. Mengisahkan tentang kehidupan seorang lelaki bernama Leman yang merantau mencari rezeki sehingga bertemu dengan seorang wanita bernama Poniem. Cara penceritaan Hamka memang best. Macam kita dapat bayangkan watak dan latar tempat yang digunakan. Mengetahui mereka berbeza darjat keturunan dan budaya, itu tidak menghalang Leman untuk jatuh cinta kepada Poniem. Walaupun berkali-kali Poniem enggan kerana dapat menjangka ke mana akhirnya hubungan mereka, akhirnya mereka berdua menjalin ikatan perkahwinan setelah Leman bersumpah untuk setia kepadanya. Sikap Poniem begitu matang sekali dalam menguruskan hidup mereka. Mereka meraih keuntungan disebabkan perniagaan yang mereka jalankan. Kekayaan Leman telah membawanya untuk pulang ke kampung, tanah airnya bersama Poniem. Kesetiaan Poniem kepada Leman memang tidak berbelah bagi. Serius aku fikir, hidup dia akan bahagia. Namun, ikrar setia Leman semakin rapuh. Sampai part ni aku dah mula bergenang.

Walaupun bersungguhnya Leman berjanji kepada Poniem untuk setia, tetapi setianya tidak lama. Lelaki dan janji. Semuanya kosong. Dan bila Poniem 'dilepaskan', aku dah tersedu-sedu. Huhuhuhu. Kenapa sampai begitu kejam?!! Aku memang puji watak Poniem yang tetap sabar dan redha dengan nasibnya. Berkat kesabarannya, dia memperoleh kebahagiaan yang diayakininya sendiri setelah membawa diri. Dan Leman pula menyesali tindakannya namun semuanya sudah terlambat. Cinta adalah penyatuan dua hati, sehinggalah takdir berkata sebaliknya. Buku ni banyak part dia deep sangat sampai menusuk kot. Puas hati baca. Karya ni buat kita jadi lebih matang dalam mengatur jalan hidup yang kita pilih. Semoga dua hati cepatlah bertemu agar bahagia hingga ke akhir hayat! Hihi

*Recommended to be read guys..
Profile Image for Fatini Zulkifli.
433 reviews40 followers
November 28, 2015
Another great piece by Hamka. I learned a lot about the customs of 'Minangkabau' and 'Jawa', the abuse of polygamy, and entrepreneurship.

About Leman divorcing his first wife Poniem, to be with the young and beautiful Mariatun. Poniem is a Javanese lady who does not have "asal-usul", means she has no family. But, she is innocent and is willing to sacrifice to see her husband excels in his business. After Leman gets rich and all, he marries Mariatun because of Mariatun's villagers saying "Poniem tiada asal usul. Kamu mesti kahwin dengan orang yang ada asal-usul dan lebih baik jika kahwin saja dengan gadis dari kampung kami".

Mariatun's family has another intention to marry her with Leman, which is to get his wealth. It is because in Minangkabau custom, the wealth of the husband will be passed down to the wife. If they get divorced, the house, the money and gold will be entitled for Mariatun. Leman will be left with nothing.

In this piece Hamka highlighted the man's fault who fails to see the good side of his former wife. Biasanya bab perkahwinan, asyik cakap pasal perempuan. Perempuan wajib taat suami lah.. apa lah. Kurang penekanan terhadap kaum lelaki yang menyebabkan sesetengah bilangan daripada kaum ini bebas berbuat apa-apa sahaja.

Bila ditegur sedikit mulalah cakap "Isteri wajib patuh suami". Itu sahaja hujah dia padahal terang lagi bersuluh bahawa dia dayus. Namun, Hamka lebih menitikberatkan kegagalan lelaki (Leman) sebagai seorang suami. Leman kahwin dengan isteri yang lebih muda dan cantik tanpa alasan kukuh. Dikatanya Poniem (isteri pertama) tak mampu beri anak, tapi kenapa tak cakap "mungkin aku yang mandul bukan Poniem". Asyik meletakkan kesalahan pada perempuan sahaja.

Poniem in other hand, is chased away by Leman. She married Leman's intelligent and an honest worker whose name is Suyono. Poniem and Suyono works hard and they attain wealth. But Leman with the young beautiful wife Mariatun become poor because the main backbone of his company has gone (Poniem and Suyono).

80 reviews1 follower
September 15, 2024
4.5✨

🌟Gaya bahasa Hamka yang puitis dan menikam perasaan memang tak perlu disangkal lagi. Tamat saja saya baca MKD, apa yang terlintas dalam kepala saya adalah kata-kata yang pernah saya dengar suatu ketika ;

'Kesetiaan wanita diuji saat lelaki tidak punya apa-apa dan kesetiaan lelaki diuji saat dia memiliki segalanya.'

Mungkin ayat itulah yang menggambarkan secara ringkas apa yang terjadi antara Poniem dan Leman dalam buku ini.

🌟Poniem pada asalnya ragu-ragu terhadap Leman yang mahu mengambilnya sebagai isteri, cair juga dengan janji-janji manis Leman. Di sini saya tersenyum sendiri mengingatkan betapa orang banyak menaburkan kata-kata manis demi mendapatkan apa yang diingini. Bila sudah tergenggam dalam tangan, teruji sedikit, mulalah tertunjuk belang yang sebenar, seakan telah lupa janji-janji manis yang pernah dikatakan dahulu.

🌟Itulah yang terjadi pada Leman. Segala pengorbanan isteri pertama, bagai terkambus begitu sahaja apabila orang-orang kampungnya mencadangkan untuk berkahwin lagi satu daripada kalangan mereka yang sama sukunya agar peroleh anak yang bertahun-tahun Poniem serta Leman juga tak sabar menunggu.
Yang tua akan kalah dengan yang muda. Yang sama sukunya akan kalah dengan yang lain sukunya. Nasib Poniem dalam MKD sangat menyedihkan hati saya yang juga seorang perempuan.

🌟Ceritanya ringkas sahaja, tetapi dalam ringkas-ringkas itulah banyak pengajaran yang boleh kita ambil sebagai peringatan, tambah-tambah lagi tentang kehidupan hal rumah tangga. Hamka juga seakan menegur ketaksuban masyarakat ketika itu yang terlalu berpaksikan adat sehingga membelakangkan apa yang diutamakan dalam agama. Geram juga saya dengan sikap Leman yang terlalu mengikut kata orang dan mengikut nafsu sendiri. Daripada kisah ini juga kita dapat mengambil iktibar, jika tidak mampu berkahwin lebih dari satu, cukuplah setia pada yang seorang.

🌟Betul kata Chauntelle dalam Novel Gunung Cha yang pernah saya baca tempoh hari;
"Jangan kita menjadi Leman."
Leman, mulutmu memang manis menjanjikan bulan dan bintang, tetapi apabila tergoncang sedikit kesetiaanmu, mulalah kau lari lintang-pukang. Leman, Leman...🤦
Profile Image for Muhammad Zulhilmi.
41 reviews5 followers
July 16, 2017
5 bintang untuk buku ni! Walaupun ia hanya sekadar novel, banyak nasihat dan pengajaran yang boleh kita ambil. Penulisan HAMKA memang awesome! Beliaulah ulama pertama yang aku kenal tulis novel. Aku percaya ada lagi ilmuan yang sama macam dia.

Seperti novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, HAMKA mengkritik adat-adat Minangkabau yang menyebabkan ramai orang lelaki kaum tersebut terpaksa merantau mencari rezeki di luar kawasan mereka. Hal ini kerena orang-orang lelaki bukanlah keutamaan bagi orang-orang Minangkabau. Baru aku yang HAMKA sendiri pun adalah orang Minang. Patutlah...

Aku cadangkan buku ini untuk orang yang hendak memulakan kehidupan sebagai seorang suami lagi-lagi mereka yang tinggal jauh dari tempat asal. Bacalah, review aku ni tak cukup untuk menceritakan betapa mantapnya novel ni. Huhu!
Profile Image for Sharulnizam Yusof.
Author 1 book95 followers
November 28, 2016
Antara buku Buya Hamka yang saya baca, rasanya Merantau Ke Deli lebih jelas dan lantang "menghentam" adat Minangkabau. Keras, mungkin. Bagai meluap-luap geram (dan mungkin marah) Buya Hamka terhadap adat yang lebih mendatangkan mudarat.

Serba sedikit, saya setuju.

Mungkin juga, atas alasan-alasan ini nenek moyang saya merantau ke Gombak. Mahu "lari" dari adat ini. Ya. Saya anak Minangkabau.

MKD turun mendedahkan sikap "perkauman" sesama sendiri. Jawa, Minang. Ada rasa kaum sendiri lebih hebat dari kaum yang lain. Aduh. Hal ini terbawa jauh sehingga hari ini. Hakikat yang nyata.

Saya suka dengan kecekalan Poniem sepanjang pembacaan. Perempuan yang kuat, dan Buya Hamka menjadikan watak perempuan ini berwarna-warni. Tenang dan tabahnya, tetap tewas dengan naluri seorang isteri dan wanita.

Dan seperti kebiasaan buku Buya Hamka yang lain, tidak pernah lagi saya jumpa pengakhiran yang "happily ever after". Mungkin ini sudah menjadi trademark beliau.

Terbaik!
Profile Image for Khairussyifa' Shukri.
16 reviews8 followers
February 12, 2017
Saya bersyukur dilahirkan dengan darah campur Minangkabau dan Jawa. Dan bertambah syukur, saya tak dibesarkan dengan cara fikir Minangkabau - mengikis harta dll. Seakan mengorek catatan pada susur galur keturunan sendiri.

Buku yang menyokong perempuan pada setia dan semangat yang tidak mudah mengalah. Dan penyesalan lelaki yang tak pernah hargai pengorbanan dan kesetiaan seorang perempuan. Elok sangat dibaca oleh lelaki, yang bercita-cita poligami, yang hanya fikir soal keseronokan, bukan pada tanggungjawab dan komitmen.
Profile Image for Muhaimin Safaruddin.
Author 14 books21 followers
February 5, 2017
Berikut ialah beberapa pengajaran penting hasil daripada pembacaan saya terhadap novel ini:

1. Tidak semestinya manusia yang mempunyai masa lalu yang kelam bakal menghadapi masa depan yang suram juga. Begitu jua, tidak semestinya manusia yang mempunyai masa lalu yang gagah akan terus berkekalan menikmati masa depan yang cerah jua. Apa yang penting adalah bagaimana usaha dan ikhtiar kita pada masa ini untuk memastikan keberuntungan kita pada masa akan datang sentiasa subur dan terjamin.

2. Adat resam sesuatu masyarakat itu adakalanya masih sesuai untuk diikuti dan adakalanya merugikan pula untuk dituruti. Terpulang ke atas kita bagi membuat penilaian yang bijak berdasarkan pertimbangan akal yang waras dan bukan menjadikan hawa nafsu sebagai penasihat.

3. Alam perkahwinan itu bukan semuanya indah dan lazat seperti yang selalu dikisahkan oleh cerita-cerita fantasi. Ada bukit yang perlu didaki. Ada lurah yang perlu dituruni. Ada lautan yang perlu diredahi. Apabila kesemua itu sama-sama dapat ditempuhi oleh pasangan suami isteri dengan penuh cekal dan tabah, sebetulnya hal itu yang menjadi erti kemanisan perkahwinan yang sebenarnya, bukan hanya tertakluk pada kemanisan ketika berbulan madu atau fasa-fasa awal pernikahan dan percintaan semata-mata.

4. Pada saat kita sering menyangka bahawa kesusahan itu ialah ujian dalam kehidupan, kita sering terlupa bahawa kesenangan itu adalah satu bentuk ujian kehidupan juga. Sedihnya, banyak manusia yang tertewas atau karam dalam melayari gelombang kesenangan berbanding menongkah arus kesusahan.

5. Tiada guna bagi kita untuk terus menyimpan perasaan dendam terhadap orang yang telah melakukan kesalahan kepada kita. Walau seberat mana pun kesalahan yang telah ditimpakan ke atas diri kita, namun sikap pemaaf itulah yang akan terus menjadi kayu ukur dan bahan bukti akan ketinggian budi, keluhuran pekerti, dan kesucian peribadi seseorang.

Lima bintang untuk “Merantau ke Deli”!
Profile Image for M. Azhaari Shah Sulaiman.
357 reviews20 followers
July 19, 2016
Secara mikronya, seputar kisah Poniem, gadis Jawa yang menikahi Leman, lelaki dari Padang ( orang Minang) . poniem bergadai semua harta untuk tolong bisnes suaminya. Bila dah stabil, suaminya terpaksa akur dengan kehendak famili untuk berkahwin dengan orang Padang juga. memang sudah Adatnya begitu. poniem redha saja kerana takut suaminya nanti dibuang oleh keluarga kalau tak menurut. akhirnya bermadulah Poniem dengan Mariatun, gadis dari Kg Leman sendiri. mula Mula aman, lama lama pecah perang. akhirnya Poniem yang diceraikan.

Secara makronya, kritikan atas adat Minang yang tak menerima kehadiran orang luar. mesti kahwin dengan orang sekampung juga. baru direstui keluarga. 2. adat harta pusaka melebihkan perempuan. harta semua dapat kat isteri. sedang suaminya punya lah terpaksa berkorban segala dan Merantau jauh. contohnya sawah, rumah, barang kemas etc.
Profile Image for Nur Aimuni.
31 reviews
September 20, 2016
Kasihan. Begitulah kalau bersumpah janji untuk setia, tetap tidak akan dapat memberi apa-apa jaminan untuk kesetiaan itu kekal hingga ke akhirnya. Kisah isteri berketurunan Jawa berkahwin dengan lelaki Minang lalu dimadukan dengan perempuan berketurunan Minang. Penceritaan Buya Hamka sangat kemas dan terperinci tentang kehidupan berpoligami dilatari oleh perbezaan adat sehinggakan saya berasa "teramat sakit hati" membaca tentang budaya dan adat Minangkabau ini, menafikan hak cinta pada orang yang berlainan keturunan. Tetapi ending cerita tidak menghampakan. "What you give, you'll get back!"
Profile Image for Azlinah Awang.
25 reviews4 followers
June 2, 2014
Karya Buya HAMKA yang membuatkan saya teruja menghabiskannya sehingga muka surat akhir. Kritik sosial kepada budaya masyarakat Minangkabau. Karekter Poniem yang mengugah rasa. Tapi takdir ALLAH itu begitu indah susunannya.

Beberapa petikan ayat yang menjadi kegemaran dibaca berulang kali.

"Meskipun mereka menderita payah, tetapi mata mereka hidup. Tidak ada debar dan goncang jantung, melainkan berjalan terus menuju maksud"

"Orang bukan merancang hidupnya sendiri tetapi menjalani rancangan yang telah lebih dahulu di dalam azali"

"Majulah ke muka, tempuhlah lautan Bahrullah yang luas itu, beranikan hati menghadapi gelombang yang bergulung-gulung. Kerana dengan bermain ombak dan membiasakan menempuh gelora itu makanya penyakit mabuk laut akan hilang. Pada tiap-tiap bertemu dengan suatu kesusahan dan suatu halangan di dalam bahtera rumah tangga, itu adalah ujian; bila sampai ke sebaliknya tertegak pulalah sebuah tiang yang teguh dan sendi yang kuat, untuk membina rumah kecintaan itu. Dimana letak keberuntungan kalau bukan dalam hati?"
Profile Image for Nadia.
110 reviews53 followers
August 19, 2020
Buku ini mengisahkan perjalanan hidup pasangan suami isteri Leman dan Poniem yang berlainan bangsa dan adat. Kerana terlalu ikutkan bangsanya dan adat orang kampung, Leman mengambil keputusan beristeri dua iaitu Mariatun orang kampungnya yang akhirnya memakan diri sendiri.

Jujurnya, saya memang geram dengan Si Leman yang seperti orang bodoh mengikut saja kata orang kampungnya. Adat mereka juga tidak adil dan merendah-rendahkan bangsa lain. Di sini Buya memberi pengajaran bahawa tingginya darjat wanita tanpa mengira adat, dan haruslah kita berfikir panjang untuk tidak terlalu taksub dengan adat yang merepek.

Hebat sekali susunan kata Buya, sehingga saya dapat menjiwai perasaan Poniem sehingga menangis juga membacanya.

Saya suka babak bermaaf-maafan di pengakhiran cerita, kalau ikutkan plot di kepala sendiri, sepatutnya Leman itu menderita terus dan tak perlu dimaafkan. Apapon buku yang sarat dengan pengajaran tentang wanita, hidup berumah tangga, dan adat kepercayaan.

5/5⭐
Profile Image for Lina Khairunisa.
82 reviews15 followers
January 5, 2017
Pinjam buku kawan. Buku ni fokus kepada adat orang minang yang mementingkan status ke'minang'an terutama dalam perkahwinan. Paling benci Leman dalam buku ni sebab dia jantan yang tak reti nak hargai pengorbanan isteri pertama dia tapi bukan salah dia seratus peratus. Kaum kerabat sekeliling pulak mendesak dia untuk kahwin dengan 'orang' diaorang. Kecewa dengan Leman, walaupun bukan seratus peratus salah dia, tapi ada akal, sekurang-kurangnya fikirlah balik pengorbanan bini kau tu. Emosi betul aku!
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books62 followers
October 17, 2020
Merantau ke Deli by Hamka [2017]

*Ada banyak hal yang mau aku bahas jadi celotehanku terhadap buku ini mengandung bocoran lebih dari 50%. Silakan baca beberapa paragraf awal celotehan ini saja jika tak mau terkena spoiler lebih banyak.

Aku sudah lama mendengar nama besar Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal Hamka. Karyanya Di Bawah Lindungan Ka'bah sering didengungkan. Bahkan, novelnya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sudah difilmkan.

Walau begitu, aku baru berkesempatan berkenalan dengan (tulisan) Hamka melalui novel setebal 189 halaman berjudul Merantau ke Deli ini yang menceritakan kehidupan Poniem, seorang perempuan Jawa yang oleh karena nasip menghantarkannya ke tanah Sumatra menjadi simpanan tauke perkebunan.

Bukan kehendaknya menjadi (katakanlah) gundik atau istri tak sah/simpanan. Tapi, dia tertipu. Berharap penghidupan yang baik di tanah rantau, yang ada, dia dijadikan simpanan yang nasipnya bergantung penuh terhadap kontrak perkebunan. Jika kontrak habis, bisa jadi dia akan dicampakkan dan sang tauke akan mencari wanita lain untuk menggantikannya.

Leman, seorang pemuda asal Minangkabau yang merupakan salah satu pekerja di perkebunan menaruh hati pada Poniem.

Bukan hal mudah bagi Leman untuk mendapatkan hati perempuan manis ini. Berbagai macam cara dilakukannya.

"....Aku mau menikah. Aku berjanji sepenuh bumi dan langit akan memeliharamu dan membelamu."

"Demi Allah, aku akan melindungimu, Poniem! Dan biarlah Allah akan memberikan hukuman yang setimpal kepadaku, jika aku mangkir dan berkhianat." Hal.16.

Poniem luluh. Dengan harapan akan memperoleh status yang jelas sebagai seorang istri, dia menerima ajakan Leman untuk pergi dari perkebunan dan memulai hidup baru. Bagaimanapun, sebagai seorang perempuan besar pengharapannya ada laki-laki yang bertanggung jawab penuh dan melindungi dirinya. Dan, laki-laki itu adalah Leman.

Mereka "kabur" ke Deli. Tauke pun seolah tak peduli. Baginya, Poniem tak ubahnya alat yang saat usang, ya tinggal dibuang. Walau begitu, dia agak sebal karena Poniem membawa sedikit hartanya saat pergi.

Di Deli, Leman dan Poniem memulai hidup baru dengan berniaga. Dengan menggunakan sedikit perhiasan pemberian tauke, mereka memulai usaha dari 0. Sedikit demi sedikit usaha berkembang dan dapat dikatakan berhasil. Hidup keduanya pun bahagia.

Banyak orang yang mendatangi mereka dan mengharap kemurahan hati, salah satunya Suyono, pekerja kebun yang kemudian tampung dan diminta membantu berniaga. Dengan keramahannya, kedai makin berkembang pesat dan Leman jadi semakin kaya.

Satu hari, terbersit harapannya untuk pulang kampung menjenguk famili. Bukan main senangnya Poniem saat Leman mengutarakan hal itu.

"...aku ingin mengenal kaum sanak famili pula, hendak memperhubungkan kasih sayang dengan mereka sekalian." Hal.49.

Di hari yang ditentukan mereka berangkat. Urusan perniagaan diserahkan sementara kepada Suyono.

Setelah menempuh perjalanan 2 hari lamanya, tibalah mereka ke kampung. Kabar akan kembalinya Leman memang sudah terdengar. Setibanya, ia dan Poniem disambut dengan baik.

Pembawaan Poniem yang ramah dan tulus dengan cepat menarik hati famili. Tak henti-henti orang memujinya.

"Memang amat baik budinya dan pandai bergaul, tahu seluk-beluk adat kita."

"Orang kita sendiri tidaklah akan serendah hati itu. Biasanya orang kita apabila sudah dibawa oleh suaminya merantau lalu pulang kampung, subangnya bertatah intan, dia telah sombong.... Tetapi Mbak Ayu Poniem itu tidak begitu, harta bendanya seakan-akan tidak diacuhkannya, mulutnya manis, tegur sapanya terpuji."

"Hanya satu itu saja salahnya," ujar perempuan tua.

"Apa?"

"Dia bukan orang kita." Hal.54.

Ya, mau sebaik apapun prilaku Poniem, maka tak jadi berlaku karena dia bukan Urang Awak. Dia orang Jawa yang selamanya tidak akan bisa menjadi bagian dari lingkungan Minangkabau.

Di sisi lain, Leman ternyata juga mendapatkan "nasihat" dari para sesepuh tentang itu.

"Suku tidak dapat dialih, malu tidak dapat dibagi." Hal.57.

Orang kampung menawarkan beberapa gadis untuk dijadikan istri oleh Leman. Disodorkan beberapa nama. Dipaparkan juga betapa molek dan indah paras mereka. Leman pun goyah.

"Bagaimana nasip istriku yang sekarang, kalau aku beristri lagi?"

"Itu perkara gampang, perkara mudah."

"Dia jangan diceraikan. Perempuan sebagus itu, seelok itu perangainya, mesti dipegang terus. Asalkan dia sabar. Namun, kalau tak sabar, tentu pulang penilaiannya kepada dirinya sendiri. Karena orang laki-laki tidak boleh diperintah oleh orang perempuan. Perlu diceraikan, tentu diceraikan." Hal.60.

Teringat Leman dengan janjinya saat meminta Poniem untuk dinikahi. Saat itu, Poniem sudah mewanti-wanti tentang kesetiaan. Namun, bayang-bayang dapat memerawani seorang gadis molek meruntuhkan akal pikiran dan melalaikan janjinya sendiri.

Nasihat Mak Tuo (sesama urang awak namun ia kenal diperkebunan) berupa, "kalau engkau beristri lagi, Leman, percayalah perkataanku, engkau akan menyesal kelak... Kalau memang kamu cinta kepada perempuan melarat itu, yang hanya engkau ibarat seutas tali tempatnya bergantung, hanya engkau orang tuanya, hanya engkau familinya, tentu dia tidak akan engkau duakan dengan yang lain. Tentu hatinya tidak akan engkau tikam."

"Namun bagaimana dengan famili? tentu kita tidak dapat memutuskan hubungan dengan sanak famili?" tanya Leman Pula.

"Ah. Jawabanmu hanya meninggikan tempat jatuh saja Leman. Sekarang orang merasa berfamili dengan engkau, yakni setelah engkau berada, punya uang. Dahulu orang tidak ingat engkau. Dahulu familimu hanya Poniem saja. Engau jatuh, dia yang menyambutmu, engkau karam dia yang menyelami." Hal.73.

Pernikahan kedua dilangsungkan. Bukan main betapa sakitnya Poniem. Namun, dia mampu menerima kehadiran madunya dengan senyuman.... untuk beberapa saat. Selanjutnya, perangai si madu kian menjadi-jadi dan Poniem tak tahan lagi. Mereka kerap bertengkar karena sikap semena-mena dari si madu yang kerap menganggapnya babu.

Dan, oleh karena itu, hidupnya kini dipertaruhkan antara tetap dipertahankan oleh suaminya, atau dilepaskan begitu saja? kalian harus baca sendiri novel ini.

* * *

Novel ini mulanya ditampilkan sebagai cerita bersambung di majalah Pedoman Masyarakat di tahun 1939 hingga 1940. Ya, cerita ini ditulis jauh sebelum Indonesia merdeka.

Salut dengan Buya Hamkah yang berani mengkritik (katakanlah) adat kampungnya dengan seberani ini. Dan jujur, walaupun kisah ini ditulis 80 tahun lalu, di beberapa bagian masih relevan sampai sekarang.

Misalnya saja, keinginan para orang tua yang menginginkan anaknya HANYA menikah dengan orang yang sesuku dan satu daerah saja. Coba lihat kesekeliling, orang seperti ini masih mudah ditemui. Atau, kalian adalah pelaku/korbannya? 🙂

Aku sangat menikmati buku ini. Walaupun bahasanya mendayu-dayu dan (dengan bahasa gamblang) agak lebay, tapi tetap enak disimak karena sesuai dengan waktu dan tempat kejadiaan saat cerita bergulir.

Misalnya, "Kalau abang benar-benar hendak pulang, tidaklah teringat di hati abang untuk membawa aku serta?" Hal.49.

I mean, udah sedikit orang yang berdialog kayak gini sekarang kan? bukan nggak ada ya aku bilang, tapi aku pribadi jika nemu percakapan kayak gitu, artinya dilakukan (setengah) bercanda.

Nano-nano rasanya saat baca buku ini. Aku ikutan merasakan kegelisahan, kesedihan dan kemarahan Poniem. Untungnya, ending cerita ini berjalan sesuai dengan yang aku harapkan. SPOILER: Intinya hati-hati dengan janji yang diucapkan, karena Tuhan punya banyak cara untuk menghukum pribadi yang ingar janji.

Mudah-mudahan bisa baca buku Buya Hamka yang lain selepas ini.

Skor 9,5/10
Profile Image for Sherry Abdullah.
9 reviews4 followers
February 4, 2017
Masa baca buku ni, aku letak diri aku sebagai Poniem, iaitu seorang gadis muda yang hidupnya cuma bergantung harap disuap orang ketika beliau diladang. Tinggal dalam senang menjadi perempuannya tuan tanah, tanpa dinikahi pun. Baginya, apalah sangat arti bernikah, andai segala senang, makan pakai cukup boleh didapati tanpa bernikah. Hinggalah datang seorang pemuda bernama Leman, mahu bernikah dengannya lalu mengubah nasib mereka berdua di sebuah negeri bernama Deli.

Ehhh kenapa jadi sinopsis? Tak jadik review lah kalau mcm ni kan.

Reviewnya ; novel ni best sebab kritikan terbesar Hamka adalah bertuju kepada adat Minang tu sendiri. Dan Merantau Ke Deli sebenarnya adalah tulisan Hamka yang agak kontroversi sebab banyak mendapat kritikan balas daripada tokoh-tokoh Minang. Tapi sekadar diawanan, sebab HAMKA pun orang Minang.

Alah, sama macam aku kutuk PAS dekat Kelantan. Apalah sangat PAS nak amik kisah, tup tup, aku akan berumah tangga, beranak dan menikmati apa yang ada di negeri tersebut jugak. Angin lalu~

Profile Image for Nurin Insyirah.
33 reviews
December 12, 2020
BOOK REVIEW #16
Merantau ke Deli • HAMKA
.
Buku kedua yang Nurin baca daripada HAMKA selepas karya 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck'. Personally, buku ni memberikan impak dan emosi yang lebih hebat berbanding ketika Nurin membaca TKVDW.
.
'Merantau ke Deli' berkisar mengenai Leman (berasal daripada Padang) yang telah merantau ke Deli (sebuah pekan yang baru saja dibuka dan dibangunkan). Di sini, Leman telah bertemu dengan seorang nyai bernama Poniem (sila search ya apa maksud nyai😂) lalu mereka pun berkahwin. Konflik kisah ini bermula apabila Leman didesak oleh orang kampungnya (famili) untuk berkahwin baru dengan Mariatun yang juga sekampung dengannya (atau sesuku).
.
Sekali lagi, HAMKA menekankan tema tentang perbezaan darjat antara suku dan keturunan manusia. Buku ini menggambarkan bagaimana masyarakat pada ketika itu suka memandang hina dan rendah kepada mereka yang tidak bersuku (dan mungkin masih dapat dikaitkan dengan masyarakat zaman sekarang tapi alhamdulillah pemikiran masyarakat yang moden sekarang ini lebih bersifat terbuka).
.
Nurin saaangaaat geram dengan watak Leman ini. Bermula dari saat Leman mengambil keputusan untuk berkahwin dua, sikap dan personaliti dia dah mula macam 'lalang'. Tapi nasib baik HAMKA bagi ending yang memang sangat sesuai. Haha puas hati Nurin baca ending buku ni😆✨ Satu perkara yang Nurin perasan, TKVDW dan MKD ini kedua-duanya tak ada happy ending (dan sedikit tragik) tapi sebaliknya, HAMKA berikan pengakhiran yang sangat sesuai dan relatable sebagai pengajaran kepada pembaca. Kita tak boleh undur masa untuk perbaiki kesilapan kita tapi kita boleh teruskan kehidupan dengan sentiasa jadikan kesilapan pada masa lalu sebagai pengajaran dan panduan agar kita tak ulangi lagi😇 (ni ayat cipta sendiri tauu haha tiba² boleh elaborate pulak)
.
Watak Poniem, Suyono dan Bagindo Kayo adalah watak yang Nurin suka daripada buku ini. Poniem, seorang wanita yang sangat tabah dan cekal. Bagindo Kayo, seorang lelaki pertengahan umur (rasanya) yang berfikiran jauh dan matang. Nurin suka baca dialog nasihat oleh Bagindo Kayo ni. Kalau laa Leman dengar nasihat Bagindo Kayo ni, mesti dia takkan menyesal pada kemudian hari😌
.
5/5 stars⭐⭐⭐⭐⭐
Profile Image for Tamara Fahira.
130 reviews8 followers
December 11, 2021
Belakangan lagi senang banget sama cerita-cerita bertema kehidupan Indonesia zaman dulu, terutama pernikahan beda suku. Semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika” diterapkan sama mereka yang mengalaminya sendiri mengingat di zaman se-modern ini aja masih banyak yang mengharuskan anaknya menikah dengan orang sesuku. Padahal, menurut pandangan sekarang prinsip kayak gitu udah jadul banget, ya.

Novel ini punya pengajaran agar kita berpegang teguh pada pendirian, tidak plin plan seperti Leman yang orang ngomong ini diikutin, orang ngomong itu diikutin gak punya prinsip banget. Jadilah perempuan seperti Poniem yang meskipun merasa cemas akan kehidupannya jika tanpa pendamping akhirnya berhasil membuktikan bahwa dia sebenarnya ‘sangat berdaya’ sebagai perempuan. Dia memang bersuami, tapi, dialah yang ‘menolong’ suaminya. Dengan suami kedua pun dia tidak mau berpangku tangan saja, tetap bekerja keras bersama demi hari tua. Satu lagi, untuk tidak rasis (ini Leman and the gang dikit-dikit bawa nama Jawa Jawa Jawa). Yaahhh jangankan zaman dulu, zaman sekarang aja masih banyak orang rasis, kok.

Tapi, bahasanya agak sukar dimengerti, sih, karena terbitan pertama aja dari zaman baheula, bahasanya rada Melayu gitu lagi. Plus menurut gue ada sebuah kejanggalan. Di suatu bab dimana Suyono mengajak Poniem menikah setelah menjanda dari Leman, dia mengaku sudah menikah sebanyak tujuh kali, namun, semuanya gagal. Tertulis dia jauh lebih muda dari Poniem, woowww mantap kali si mamas satu ini *tepuk tangan*.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Abdul Hakim Abdul Basir.
30 reviews5 followers
November 16, 2013
Tidak syak lagi Buya Hamka tidak pernah gentar untuk mengkritik kepincangan yang dilihatnya wujud dalam pengamalan adat masyarakatnya. Karyanya, Merantau ke Deli (MKD) sarat dengan kritikan sosial terhadap budaya Minang yang pada pandangan Hamka amat materialistik dan menekan kepada pihak lelaki.

Adat orang Minang ketika itu, kalau merantau harus tidak lupa untuk kembali membawa harta pulang ke negeri sendiri untuk menambahkan harta suku masing-masing. Di negeri asalnya, juga perlu dibuatkan rumah untuk anak perempuannya dan dibelikan petak sawah untuk isteri, agar pergaulan sesama suami isteri menjadi tegap dan teguh.

Novel ini turut merakamkan suasana zaman ketika mana daerah Deli sedang berkembang akibat dari pembukaan onderneming kebun tembakau oleh Belanda. Ramai rakyat dari luar pulau Sumatera terjebak dengan janji pekerjaan yang senang akhirnya terperangkap dengan sistem poenale sanctie, akhirnya mendapati mereka dipaksa bekerja berat dan upah yang sedikit. Malang sekali Hamka melalui novel ini tidak menjelaskan sistem ini dengan terperinci.

Karya ini pertama kali diterbitkan dalam majalah Pedoman Masjarakat (1939-1940) dan dibukukan pada tahun 1941 oleh penerbit Cerdas Medan.

http://ulasbuku.blogspot.com/2013/11/...
Profile Image for Najwa in her debut era.
166 reviews17 followers
March 11, 2022
Buku ini akan aku hadiahkan untuk mereka yang bercita-cita untuk berkahwin lagi mahupun buat suamiku kelak.

Hamka sekali lagi berjaya bermain dengan emosi seorang Nurul Najwa.

Jika Di Bawah Lindungan Ka'bah aku suka watak Hamid tetapi tidak untuk Merantau Ke Deli dengan watak Leman.

Betapa lemahnya seorang lelaki apabila dikaburi dengan nafsu, dihasut kata-kata orang yang dianggap famili sehingga pendirian serta janji pada isteri terus dilupakan. Sekali lagi Hamka mengetengahkan isu adat Minangkabau yang akhirnya memberi kemudaratan kepada anak laki-laki kerana ingin menjaga nama suku.

Poniem, aku suka keteguhan seorang anak Jawa yang asalnya seorang kuli, tetapi berhati mulia baik budi pekertinya. Jika semua isteri bersifat seperti Poniem, aman damailah rumah tangga. Apa sahaja sanggup dilakukan.

Watak Suyono yang matang pula menyejukkan hati aku. Emosi bercampur baur dengan kebaikan Suyono. Hatinya telus.

Emosi aku seperti roller coaster, perkahwinan itu jika dikaburi dengan nafsu akan hancur jua sebaliknya jika kedua pasangan punyai cita-cita kelak bahagialah yang mereka kecapi.
Profile Image for Qayiem Razali.
886 reviews85 followers
March 27, 2020
[33-2020]

#MerantauKeDeli #HAMKA #StayAtHome

Selepas Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, ini novel kedua daripada penulis HAMKA saya baca. Sungguh, kisahnya ringkas. Tentang cinta yang dimungkiri, tentang adat yang wajib diikuti. Namun, gerak cerita ciptaan HAMKA menjadikan novel ini meninggalkan kesan mendalam pada pembaca.

Melalui pembacaan novel ini, sedikit sebanyak dapat memperoleh ilmu baru berkaitan adat budaya Padang dan Jawa. Buat peminat novel legend, novel Merantau Ke Deli ini antara naskhah yang patut anda miliki!
Profile Image for Fuad Syazwan Ramli.
52 reviews5 followers
May 27, 2015
Perbuatan kita hari ini, mungkin tak berbekas pada hari ini, namun boleh jadi ia menghantui kita, pada kemudian hari. Apakah kita yakin, apa yang kita lakukan, apa yang kita perkatakan, akan menjadi rahmat, atau menjadi kecelakaan? Hari ini kita bisa mengatur kata, mengatur langkah, tapi esok hari, bila pembalasan itu datang, kita sudah tua, sudah hilang daya kita, maka yang timbul hanya sesalan... Masih adakah peluang untuk membetul segala kecurangan???
Profile Image for Sooraya Evans.
939 reviews64 followers
August 28, 2016
Coretan yang sangat 'depressing' berjaya diselamatkan oleh kesudahan yang indah.
Saya ternanti-nanti nasib Poniem dengan penuh debaran (sesekali, air mata sendiri menitis juga).
Kurang pendedahan terhadap budaya Minangkabau, impresi yang saya perolehi daripada Hamka ialah budaya kelompok ini banyak 'menjahanamkan' perkahwinan. Entahlah. Pelik sungguh pantang larang. Barangkali, apa yang digambarkan dalam buku tidak lagi dipraktikkan dalam dunia moden masa kini.
Profile Image for SORA.
183 reviews6 followers
September 17, 2023
Suka dengan watak Poniem--berfikiran jauh, cekal dan pemaaf. Walaupun dihina, hati yang baik tetaplah baik, tiada dendam disimpan di dalam hati.

Puas hati baca buku ini sebab sarat dengan pengajaran. Ibarat menonton drama 16 episod 🤭
6 reviews2 followers
May 18, 2011
terbaik. Kritikan budaya dan agama terhadap masyarakat minang dan jawa. walaupun sudah lama tetapi masih segar.
Displaying 1 - 30 of 272 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.