Jump to ratings and reviews
Rate this book

Museum Teman Baik

Rate this book
Bagi banyak dari kita, hubungan pertemanan terasa begitu penting di masa kanak-kanak hingga remaja. Bersama waktu, hidup menghadang kita dengan kerumitan-kerumitan baru, juga ragam hubungan pribadi yang dirasa lebih penting untuk dirawat - dengan keluarga, pasangan, atau anak-anak. Saat itu teman terdekat perlahan mundur, menjauh, menjadi orang yang sama sekali asing.
Namun, bagi banyak yang lain, pertemanan justru meniadi tempatnya bersandar, yang menyelamatkan di saat-saat terapuhnya. Seperti hidup, pertemanan di usia dewasa pun memapar kita pada ragam dinamikanya. Ada yang brutal, ada yang menjaga dan melindungi. Ada yang keos bergejolak, ada yang tenang. Ada yang bertahan, ada yang berakhir terlalu cepat.

Melalui cerita, sepuluh penulis menjelajahi kompleksitas pertemanan usia dewasa ini - bagaimana ia bertahan atau terhempas saat diuji oleh ketegangan yang timbul karena perbedaan kelas, pilihan-pilihan, dan jalan hidup?
Kami menjalinnya untuk teman-teman sekalian, dalam sebuah museum kecil yang menyimpan hal-hal yang pada sebuah masa begitu berharga, atau yang terus tumbuh hingga kini dan nanti.

249 pages, Paperback

Published July 27, 2024

70 people are currently reading
1237 people want to read

About the author

Ruhaeni Intan

6 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
272 (23%)
4 stars
649 (56%)
3 stars
207 (18%)
2 stars
20 (1%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 302 reviews
Profile Image for Khansaa.
171 reviews215 followers
August 2, 2024
Selesai membaca Museum Teman Baik, rasanya ingin memeluk teman-temanku satu per satu dan berbisik, “jangan kemana-mana, ya…”

Museum Teman Baik adalah antologi yang hangat, pedih, tapi juga realistis. You can tell that the authors put their heart into their stories.

“Wasiat” karya utiuts mengingatkanku pada cita-cita tinggal serumah bersama para sahabat jika kami tidak kunjung menikah. Tapi apa jadinya jika ada anak muda yang menumpang? Nunggak bayar lagi.

“Kau Beruntung Menikahi Sahabatku” karya Bageur Al-Ikhsan membuatku sadar kembali bahwa cinta itu tidak hanya romansa. Pas sekali jika teman-temanmu mulai pada menikah dan kamu mulai bertanya-tanya apakah hubungan kalian akan tetap sama.

“Ulang Tahun” karya Cyntha Hariadi, memberikanku validasi kalau beberapa teman memang singgah untuk beberapa waktu. Mungkin bagiannya di hidup kita sampai situ saja, dan itu tidak apa-apa.

“Makan Malam Perpisahan” karya Awi Chin… Bagaimana ya, menjelaskannya? Menurutku ini menarik karena bercerita tentang rasa iri pada teman sendiri. Emang boleh? Katanya teman, tapi kok dengki?

Pertemanan dewasa memang kompleks. Bukan hanya rutinitas yang bikin lelah duluan, tapi beragam momen yang terjadi begitu cepat rasanya kejar-kejaran dengan jadwal meet up. Memang, pertemanan dewasa butuh lebih banyak usaha. Sepadan atau tidak, kamu sendiri yang tahu.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
September 22, 2024
Saya mengamini prakata editor bahwa teman adalah penyokong kehidupan yang pada saat yang sama ditempatkan pada lapisan kedua kehidupan. Sewaktu SMA teman adalah segalanya. Seakan-akan hidup kita tak berarti tanpa orang-orang tersebut. Kita merasa selama-lamanya akan berelasi seperti itu. Tetapi hidup berputar pada poros yang tidak kita duga sebelumnya. Kata 'teman' terdengar kian asing seiring bertambahnya usia. Kita lebih mementingkan karier, pasangan, keluarga, ketimbang teman-teman masa lalu kita. Kumcer ini adalah potret kenangan akan teman bagai artefak yang layak dimuseumkan.

Saya ingin menyorot cerpen karya Teguh Affandi "Perjumpaan Singkat untuk Mlaam yang Pnajnag". Pertemanan yang dikisahkan dalam cerpen ini terasa rada berbeda. Pertemanan antara dua lelaki dewasa yang mendefinisikan kata 'teman' dalam kalimatnya masing-masing. Demarkasi kata 'teman' yang samar malah membuat keduanya tak bisa lagi berteman.
Apa yang terbesit dalam benak Anda ketika mendengar dua lelaki dewasa yang memiliki kedekatan intim? Pertemanan macam apa yang terjalin?

Dunia memang penuh prasangka. Meski tak tertuliskan, dua lelaki yang terlalu dekat dimasukkan ke dalam kotak abnormal. Laki-laki dan perempuan dewasa yang terlampau akrab tanpa ikatan pernikahan pun masuk kategori serupa. Beban nilai yang harus ditanggung kata 'teman' paling tidak dapat mengendurkan tali pertemanan yang sebelumnya terikat kuat.

Apa yang terjadi berikutnya? Manusia yang terlalu lelah dengan beban prasangka menjadikan mesin sebagai temannya. Kecerdasan buatan sepertinya dibuat untuk merangkul sosok-sosok tak berteman. Ia dingin, tetapi pintar. Ia mampu memberikan nasihat-nasihat meski tak ada wujudnya. Ia mau mendengar meski tanpa telinga. Dan yang terpenting, ia bebas dari nilai dan prasangka khalayak. Bukan berarti ini sesuatu yang nahas karena manusia tak lagi butuh teman dari ras sesamanya. Jika memang benar manusia adalah serigala bagi sesamanya, homo homini lupus, kecerdasan buatan adalah entitas yang layak disebut teman. Hanya yang disayangkan prasangka-prasangka nirmakna terlalu digdaya untuk menurunkan kepercayaan antar manusia untuk dijadikan seorang teman, yang seharusnya dapat diabaikan. Saya rasa pesan itulah yang ingin dihadirkan Teguh dalam cerpennya.

Saya jadi teringat kata-kata Husserl "zuruck zu den Sachen selbst!". Kembalilah kepada benda-benda itu sendiri! Lihatlah fenomena sebagaimana adanya, tanpa interpretasi makna, dogma, dan prasangka. Teman adalah teman; seseorang yang kepadanya kita titipkan rasa percaya kita meski tak terikat hubungan darah.
1 review
August 3, 2024
Museum Teman Baik adalah buku pertama yang saya review di goodreads.

Cerita pertama yang saya baca adalah Soak 33, karya penulis yang tulisannya sudah menemani saya sejak kecil, kemudian saya membaca cerita secara berurutan dari awal.

Pengalaman membaca buku ini menyenangkan sampai cerita ke-8.
Cerita ke-9 membuat saya merasa tidak nyaman, bahkan membuat saya marah. Saya tidak mengetahui akan ada cerita seperti ini, dan saat memutuskan membeli buku ini saya tidak memilih untuk membaca cerita yg eksplisit mengenai teman dalam huruf italic, teman dengan tanda petik tunggal (' ') dalam catatan editor. Cerita eksplisit dengan tema yang dibawakan membuat saya membaca kembali catatan editor untuk mengetahui apa tujuan cerita ini masuk ke dalam antologi Museum Teman Baik, karena menjadi beda sendiri dan merusak pengalaman membaca 9 cerita lain yang amat berkesan. Jawaban yang saya dapat dari catatan editor cukup menjelaskan masuknya cerita ini, tapi tidak membuat cerita ini bisa saya terima sebagai pembaca untuk menjadi satu kesatuan dengan cerita yang lain.
Cerita ke-9 bisa tetap mengangkat isu dan tema yang sama tanpa menjadi eksplisit secara seksual, tanpa keluar dari cerita tentang teman dan pertemanan.

Untungnya cerita ke-10 sekaligus penutup sama indahnya seperti 8 cerita pertama, cukup mengobati rasa marah dari membaca cerita ke-9.

Ada 5 cerita yang berkesan buat saya. Wasiat, Soak 33, Makan Malam Perpisahan, Pada Suatu Senin, dan Ulang Tahun. Empat cerita lainnya juga tidak sulit untuk disukai, hanya ada yang memerlukan interpretasi lebih untuk memahami akhir ceritanya.

Secara khusus saya mencatat berbagai perasaan dan pikiran yang timbul setiap selesai membaca satu cerita; ada yang memberikan validasi mengenai pertemanan, ada yang menghangatkan, melegakan, membuat haru dan meneteskan air mata ketika sampai di akhir cerita. Ada yg buat merenung, buat bingung, buat terkejut. Sempat pula merasa sesak, kemudian merasa bangga, dan yang pasti sebagian besar cerita terasa dekat dan mewakili.

Tanpa cerita ke-9, buku ini 5 bintang buat saya. Buku fiksi pertama setelah bertahun-tahun yang saya selesaikan membacanya dalam 3 hari. Saya membuka bulan Agustus, hari pertama bulan baru dengan membaca buku ini. Sayang kesan baik cerita-ceritanya tertutup oleh rasa tidak nyaman dan rasa marah karena satu cerita. Cerita ke-9.
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,404 followers
Read
August 16, 2024
Kumpulan cerita pendek tentang hubungan pertemanan yang telah lampau namun begitu berharga. Sebagaimana layaknya konsep museum. Terdiri dari 10 cerita, buku ini cukup mewakili kerumitan mempertahankan atau memulai kembali pertemanan di usia dewasa. Ada berbagai rasa yang hadir; canggung, kekhawatiran soal perasaan yang sama, iri, minder, sayang, rindu, bahkan dendam.

Secara bahasa, favorit saya adalah 'Noel' karya Kennial Laia. Soal rasa, yang rasanya begitu dekat dengan saya adalah 'Soak 33' karya Sri Izzati yang menceritakan tentang dinamika kelompok pertemanan yang berusaha dipertahankan walaupun begitu rapuh, juga 'Ulang Tahun' karya Cyntha Hariadi tentang ketidakbisaan kita memaksakan pertemanan di usia dewasa.

Terdapat pula dua cerita queer, karya Awi Chin tentang rasa iri yang relatable dan Teguh Affandi, tentang rindu yang terasa pahit sekaligus manis.

Bicara pahit dan manis, tentu tidak lengkap jika tidak menyebutkan karya Mba Reda Gaudiamo, 'Pada Suatu Senin' yang memberi rasa-rasa tersebut juga, dilengkapi dengan kehangatan yang meluap dari hati hingga ke pelupuk mata 🤍
Profile Image for Nona Ana.
122 reviews12 followers
July 31, 2024
Review Buku Museum Teman Baik

Ada semacam nostalgia ketika membaca Museum Teman Baik. Sedikit cerita dalam 5 Tahun terakhir, saya banyak mengalami friendship break up. Atau pertemanan yang saling melupa lebih tepatnya. Teman yang dulu begitu akrab, kemana-mana berdua entah bagaimana kabarnya kini. Pahit, tapi yasudah. Namun, setelah membaca Museum Teman Baik, saya kembali mengingat kehangatan pertemanan yang pernah saya alami.

#MuseumTemanBaik adalah sebuah antologi yang semuanya bertema teman. Semua cerita mengajak untuk merenung tentang makna persahabatan, perubahan, dan perjalanan hidup.
Museum Teman Baik dengan indah menggambarkan suka duka dalam pertemanan, serta pentingnya menghargai setiap momen yang kita lalui bersama teman yang kita sayangi.

Salah satu hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah kemampuannya untuk membangkitkan nostalgia. Setiap cerpennya seolah membawa saya kembali ke masa lalu, padahal belum tentu saya merasakan pengalaman dari tiap-tiap cerita. Selain itu, Museum Teman Baik juga mengajarkan kita tentang pentingnya menerima perubahan. Pertemanan, seperti halnya kehidupan, tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya kita harus berpisah dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidup kita.

Cerpen yang berkesan buatku

🎡 Semalam Lagi di Bianglala, terkadang memang sulit mengakui kepada orang lain jika manusia sudah tidak saling berteman lagi. Aku menyimpan nama seorang teman dalam cerpen ini tentu saja.
🎂 Ulang Tahun, ada orang yang cuma mampir sebentar dalam hidup kita dan disebut teman
🌝 Soak 33, kadang gak semua teman layak disebut teman.

Museum Teman Baik adalah buku yang wajib dibaca bagi siapa saja yang pernah mengalami pasang surut dalam pertemanan. Setelah membaca buku ini, saya yakin kamu akan merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan: ingin segera menghubungi teman-teman lama dan berbagi cerita tentang buku ini.
Profile Image for Callista Marsyah.
36 reviews
October 23, 2024
finished it in one sitting!! my thoughts: setiap pertemanan ada masanya masing-masing. yang paling penting, kita masih sempat mengingat mereka yang sudah jauh dan berjarak. pertemanan juga BUTUH usaha dari kedua belah pihak.

friendship is a complex thing... everything changes as we grow up. one thing that i treasure the most in friendship is the bond, the connection of which we could feel even though we were not born from the same womb.

cerita-cerita di sini juga banyak—kebanyakan—tentang perpisahan. ADULT FRIENDSHIPS: it takes a lot of energy. some friendships end because it just naturally happen, some of them end because there's a problem.

baca ini juga bikin inget sama beberapa pertemanan aku yang enggak tahu kenapa tiba-tiba selesai begitu aja, entah aku yang menjauhkan diri atau mereka yang hilang. it made me kinda regret the bridges that i've burned, tapi sekali lagi, mungkin emang sudah bukan masanya bersama mereka.

[Kedekatan itu menyenangkan—tapi berjauhan juga bukan masalah.]
Profile Image for Irma Setiani.
82 reviews10 followers
November 20, 2025
Karena tahun ini merasakan banyak kehilangan, aku putuskan baca kumcer ini untuk merasakan secukupnya kehilangan itu, lalu bergerak lagi. Dan betul, cerpen - cerpen di dalam buku ini mengingatkanku lagi hal-hal esensial dari pertemanan yang selama ini ada dalam pikiranku, melihat ulang konflik-konflik pertemanan yang pernah terjadi, lalu benar-benar siap bergerak lagi.

Jadi teringat sedikit lirik lagu Biru Baru yang kalimatnya : Untuk kalian yang bertahan, terima kasih. Untuk kalian yang pergi, tak apa, kami mengerti.
Profile Image for ☆ chu ☆.
99 reviews17 followers
December 30, 2024
antologi cerita pendek yang hangaat! temanya pertemanan di usia dewasa dengan berbagai situasi dan kondisi yang berbeda-beda. tertarik buat baca karena beberapa kali reviewnya lewat di fyp dan hmmm tahun ini banyak dapet pelajaran dari 'pertemanan'😅

my top 3:
— wasiat
— kau beruntung menikahi sahabatku
— ulang tahun
(bonus 1 lg yg agak biased krn author favoritku sewaktu aku kecil^—^)
— soak 33

definitely worth to read! bisa dihabiskan dalam 1-2x duduk😸 huhu jadi kangen teman-temanku:(
Profile Image for Grace.
36 reviews
January 29, 2025
APAKAH AKU SANGAT CEPAT MENYELESAIKANNYA??? KWKWWK (((capslocknya jebol maaf)))
.
Walau ada beberapa part yg aku gasuka banget, kok ihh kenapa sih, gimana sih atau malah kepoo looo ini gimana lanjutannya? Kwkw!!
Kumcer yg mungkin adalah kisah kita, dekat dengan kita, atau mungkin kita lakukan lol..
.
Masih di bab awal, baca part ini: "Kebersamaan terkadang menyisakan luka dan aku tidak bisa mengingat kapan dan bagaimana kemelut ini bermula. Aku tidak ingin menyakitinya lagi ataupun membiarkan diriku terluka lagi!!"
Jleeebbbb banget aku bacanya, teringat perkataan ini pernah keluar dari mulut ini utk seseorang!!!
Jadi real banget emang people come and go dan juga pertemanan itu berat banget kalau ngusahain cuman sepihak dan juga kalau terlalu banyak perbedaan seperti kisah terakhir di kumcer ini..
.
Hmm beklaaa, silahkan kawan2 baca dan semoga menyukainya
Profile Image for Hëb.
172 reviews7 followers
August 25, 2024
Membaca buku ini berhasil meninggalkan kontemplasi setiap kali menamatkan satu cerita. Ada yang bisa langsung aku simpulkan maknanya, ada juga yang perlu kubaca dua kali untuk benar-benar sampai pada pemahaman soal apa yang diceritakan. Beberapa cerita terasa nyata sekali tergambar dalam realita pertemanan di usia yang kian dewasa -mulai dari teman yang tidak terasa seperti teman (lagi), atau tentang teman yang dulu pernah sedekat nadi, tapi sekarang terasa seperti sejauh mentari. Pada akhirnya, membaca buku ini membuat aku mengerti bahwa sebagian pertemanan memang baiknya disimpan sebagai kenangan tersendiri di suatu episode hidup, dan sebagian (kecil) lainnya patut untuk senantiasa direngkuh dan dijaga hingga akhir. Membaca buku ini juga kembali menyadarkanku bahwa setiap masa ada temannya, dan setiap teman ada masanya. Tinggal bagaimana kita memilah dan menyortir siapa saja yang baiknya perlu kita jaga agar tidak lekang, atau siapa saja yang lebih afdal disimpan sebagai memori di belakang.

Personal favorites: Kau Beruntung Menikahi Sahabatku, Soak 33, Makan Malam Perpisahan, and Perjumpaan yang Singkat untuk Malam yang Panjang :)
Profile Image for Irvan Ary Maulana Nugroho.
16 reviews1 follower
December 8, 2024
Museum Teman Baik benar-benar menjadi teman ketika ku membacanya di setiap pagi dan malam, saat menaiki kereta di sela-sela persiapan dan rehat dari pekerjaan. Ia layaknya seorang teman yang silih berganti menceritakan pengalamannya, baik atau buruk mengenai kisah pertemanannya. Ku sangat tersentuh dengan cerita "Kau Beruntung Menikahi Sahabatku" karya Bageur Al Ikhsan, "Makan Malam Perpisahan" karya Awi Chin, dan "Pada Suatu Senin" karya Reda Gaudiamo. Ku juga dapat memahami lapisan dan babak pertemanan yang diceritakan oleh penulis lain, tentang bagaimana memutus hubungan pertemanan, bagaimana konflik terjadi pada teman sekamar, atau seorang ibu yang kehilangan teman karena ada orang lain yang perlu ia prioritaskan. Sayangnya, karya Teguh Affandi di antologi ini terlalu dipaksakan keberadaannya, seolah seseorang yang kuharap tak kutemui malah tak sengaja berjumpa dan bercerita hal aneh nan vulgar, mengacaukan suasana hati setelah menemui teman-teman yang lain.
Profile Image for Pandji Putranda.
24 reviews
August 3, 2024
Disebut 'museum' barangkali karena 'teman baik' sesungguhnya tidak lebih dari kenang-kenangan (yang juga baik.) Artefak. Disimpan di memoar rapuh yang diberi sekat dan perlu dilihat cukup berjarak. Terlalu jauh malah abstrak, terlalu dekat risikonya rusak~

Dan, bisa punya 'teman baik' itu mahal betul ongkosnya. Persis artefak, "memecahkan berarti membeli." Alih-alih merekomendasikan untuk punya teman baik, saya lebih merekomendasikan untuk beli dan baca buku ini saja hehe.
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
February 22, 2025
13 - 2025

Beli buku ini karena review banyak yg bilang bagus, dan bener sih kumcer ini ceritanya bagus dengan semua sedih senang juga drama pertemanan.

Suka banget cerita Awi Chin, Ruhaeni Intan dan juga Teguh Afandi.
Profile Image for Ms.TDA.
248 reviews5 followers
January 23, 2025
“Seperti hidup, pertemanan di usia dewasa memapar kita pada ragam bentuk dan dinamikanya.” 🎭🖼️
Suka skali dengan buku ini, bener2 aku dibawa masuk ke sebuah museum dan disetiap gambaran cerpen nya dibawa masuk ke cerita yg lika likunya dekat dengan kehidupan sekitar dan bahkan aku pun pernah mengalami beberapa cerita yg disuguhkan. Well worth the hype, good job, 4,2/5 🌟
Profile Image for Siti Bariroh Maulidyawati.
106 reviews6 followers
September 7, 2024
Dinamika hubungan pertemanan diusia dewasa, memang ada-ada saja. Mungkin dalam fase hidup sebelumnya terminologi friendship breakups nyaris tak terdengar suaranya, yang ternyata, ketika dijalani, bisa terasa lebih perih dibandingkan dengan jenis breakups lainnya (setidaknya, berdasar pengalamanku sendiri).

Museum Teman Baik hadir bak udara segar yang sulit ditemui di Jakarta. . Rasanya lekat, dekat, dan hangat, membangkitkan memori-memori indah dengan teman-teman yang mungkin kini sudah berada di luar jangkauan. Buku ini menawarkan berbagai cita rasa dan sudut pandang, menunjukkan bahwa benar atau salah dalam sebuah cerita tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Dari sepuluh, ada empat cerita yang rasanya dekat sekali untuk aku.
🎡 Semalam Lagi di Bianglala, mendorongku untuk jujur pada diri sendiri, menyadari bahwa rasa nyaman dalam ketidaknyamanan bisa menjadi jebakan. Dan aku, menyimpan nama seorang teman.
💍 Kau Beruntung Menikahi Sahabatku, membuatku termenung sekaligus lega, mengingatkan bahwa tak ada yang salah dengan mengirimkan surat cinta untuk seorang sahabat. Mungkin kalau aku putri duyung, saat ini aku udah jadi milyarder.
🌚 Soak 33, bagian ini rasanya begitu nyata diberbagai lingkaran pertemananku saat ini. Dinamika kelompok pertemanan yang berusaha dipertahankan dibalik segala kerapuhan dan ketidakcocokannya.
🎁 Ulang Tahun, sebagai pengingat bahwa penghargaan terhadap pertemanan, seperti kadar karat pada perhiasan, berbeda-beda untuk setiap orang, dan memang, cinta yang bertepuk sebelah tangan selalu terasa menyakitkan.

Memahami friendship breakups ini semacam proses iterasi untuk bisa meyakinkan diri, bahwa setiap orang ada masanya, pun setiap masa ada orangnya. Di tengah arus teman yang datang dan pergi di usia dewasa, semoga kita semua ngga lupa untuk terus menjadi teman terbaik bagi diri sendiri.

Terima kasih telah menjadi (pun menghadirkan teman-) teman yang baik, Museum Teman Baik 💕
Profile Image for Maudy.
141 reviews4 followers
December 30, 2024
it’s so pink it reminded me of convenience store chocolate on valentine's day, or any other valentine's decorations we see everywhere around that time. something a lot like love. the black and white illustrations added sentiment to it. the book title itself is already so beautiful, the first time i heard it, i instantly felt like i needed it. sorry Museum Teman Baik—it took me too long to get you.

the book is crafted similarly to CCJ: short stories from different writers about their own Teman Baik. i expected it to be predictable since it's focused solely on friendship, and i initially thought i could see it all clear on how far it would take me. i was wrong (of course).

to be very honest the fourth story was the one i chose to read first. Kau Beruntung Menikahi Sahabatku—the title conflicted my mind, filling it with assumptions. word by word slowly answered my questions and tame down the wild assumptions. i’m absolutely satisfied with what’s inside. for me, it’s a love letter with a big load of love. decorated with words that are not complicated nor pretentious, but powerfully carry giant emotions.

the rest of the story takes me to places, Semalam Lagi di Bianglala ached my heart; i frowned for a little bit too long. Noel made me laugh in my office during my lunch break—my friend asked me, "what’s so funny?"—and other stories entertain me with different levels in most different ways.

i tried so hard to read the book as slowly as possible, i even read other books in between to make it last longer. but it was too hard to do so, im curious about how upcoming words would fill my heart.

feeling a bit too sentimental after this one, also have an overwhelming urge to write for my friends. my Teman Baik lent me this book, and i saw her reflected in its pages. she is a mix of some. i really think i should thank her again later. ahh i guess some words are too powerful they drive me to do things—kudos to the writers!
Profile Image for Szasza.
246 reviews22 followers
August 6, 2024
Buku yang sukses bikin aku ketawa, sedih, dan merenung secara bersamaan. At some point i just look back and thinking all of the bridges ive been burn and makes me thinking ".... why we end up like this yaaa"

Fokus cerpen-cerpen di sini fokus ke tema pertemanan, and i love the way the authors telling the stories about the complexity of friendship.

Pertemanan buat aku sendiri sesuatu hubungan yang kompleks karena ya pada dasarnya manusia sendiri mahluk yang kompleks dengan sifat dan keadaannya masing-masing. Ada pertemanan yang memang butuh high maintenance ada pertemanan yang low maintenance atau gak berkabar bertahun-tahun pun pas masih ketemu lagi rasanya masih sama dan buat aku sendiri yang gak suka bersusah-susah untuk ber-chat ria maintaining friendship kadang susah sekalii dan gak jarang i end up with burning the bridge or staying away from me karena "kamu susah dihubungin" and sometimes i just let it happen bcs i thing ya memang begitu adanya konsep petemanan, kadang ada yang datang kadang ada yang pergi (tidak untuk dicontoh, maaf jadi curhat)

Banyak cerpen-cerpen yang buat aku "ohh iya yaa aku sama A juga begitu" "eh aku oernah gini juga sama C" "Kalo bisa putar waktu aku mau jadi teman yang lebih baik"

My personal favorite:

Wasiat by Utiuts; its funny, chaotic and heartwarming dan Kau Beruntung Menikahi Sahabatku by Bageur Al Ikhsan: this one makes me kinda tear up a bit
21 reviews
October 11, 2024
Aku membacanya tidak urut. Cerpen pertama yang kubaca adalah "Kau Beruntung Menikahi Sahabatku" dan yang terakhir adalah "Layar Terkenang". Entah bagaimana, cerpen-cerpen pertama yang kubaca menurutku lemah dan tidak berkesan sama sekali, tapi cerpen-cerpen terakhir yang kubaca lumayan (meskipun tetap saja tidak berkesan). Tidak satupun pengarang dalam kumpulan ini yang punya gaya yang menurutku tajam dan memorabel, tapi setidaknya narasi mereka rapi dan konsisten, dan tidak amatiran. Seandainya aku hanya membaca tiap-tiap cerpen secara tunggal dan terpisah-pisah, kukira aku hanya akan merasa biasa saja. Tapi membaca mereka secara beruntunan selama satu-dua jam dalam sekali waktu, membikinku masuk ke dalam suasana introspektif dan sentimentil. Aku mendapati diriku merenungkan orang-orang yang pernah kukenal atau yang saat ini sedang kukenal atau yang mungkin suatu saat nanti akan kukenal. Di tambah lagi saat ini aku sedang berada dalam situasi sedemikian rupa yang membikin permasalahan "pertemanan di usia dewasa" ini menjadi begitu dekat dan relatable. Aku tidak hanya merenungkannya sebagai sebuah cerita semata, tapi sungguh-sungguh mengalaminya. Sayang sekali akan tetapi cerpen-cerpen di buku ini semuanya terlalu sentimentil dan menye-menye untuk seleraku. Mereka membuat segala masalah dan penderitaan yang terjadi dalam cerita2 ini sebagai sesuatu yang indah dan tragis, sebagai sesuatu yang halus dan mengharukan, yang hanya membuatku muak dan memutar bola mata. Tidak buruk. Hanya medioker saja. Setidaknya telah memicuku untuk merenung. Cerita yang menurutku paling bagus adalah "Soak 33"
Profile Image for A.
20 reviews1 follower
November 1, 2024
Pertama-tama, saya ingin mengapresiasi Post Press karena telah memilih kualitas kertas dan sampul yang sangat bagus. Saya lupa kapan terakhir kali membaca buku dengan kualitas kertas seperti ini.

Sejujurnya, saya tidak terlalu menikmati cerita-cerita di daamnya. Hanya bagian “Soak 33” oleh Sri Izzati dan “Pada Suatu Senin” oleh Reda Gaudianmo. Mungkin saya juga menyukai cerita “Wasiat”. Ya kiranya tiga cerita itu yang nempel di kepala saya, dan rasanya tiga cerita itu terasa sangat pendek (?)

Oh ya, dan saya suka sekali dengan catatan editor di buku ini, rasanya itu bagian yang paling saya suka dalam buku ini.

Sementara itu, saya hampir melewati bagian “Kau Beruntung Menikahi Sahabatku”, saya membaca beberapa halaman, lalu saya lewati karena rasanya sangat melelahkan. Sederhananya, gaya penulisannya bukan selera saya. Terlalu berbelit dan mendayu-dayu. Selain itu saya rasa bagian itu juga terasa sangat panjang (?)

Sesuai dengan sepenggal kalimat yang ada di bagian sampul belakang buku ini, yaitu “..untuk pembaca yang tepat”. Betul, memang rasanya saya bukan pembaca yang tepat untuk buku ini. Saya tidak terlalu menyukai tulisan yang terlalu terlalu manis maupun terlalu getir. Entah, mungkin soal selera saja. Saya memang tidak terlalu menyukai tulisan yang terlalu berlebihan.

Puncaknya, di beberapa bagian, saya mendapati diri saya tidak nyaman membaca buku ini.

Satu catatan saya bagi buku ini, rasanya risih sekali ketika membaca kalimat obrolan antar tokoh tanpa tanda petik yang mengiringi; sehingga harus teliti mana kalimat narasi dan mana percakapan antar tokoh. Pada istilah-istilah asing juga begitu, kenapa tidak dicetak miring?
Profile Image for Dekisugi.
39 reviews1 follower
December 28, 2024
Hal pertama kali ketika aku membaca buku ini adalah NOSTALGIA. Relateable, mungkin karena sudah dimasanya. Bicara soal pertemanan kala dewasa tuh bukan manis kadang yg di dapat tapi makna yg kadang lebih sakral . Merelakan satu per satu pergi dengan mengerti. Oh, Hidup ternyata seperti ini. Paling suka dengan Pada Suatu Pagi (tertarik baca ini karena bu Reda juga). Kalo ditanya buku yang mrmbangkitkan kenangan adalah apa aku bakal menjawab "Museum Teman Baik :) "
Profile Image for Khansa Allya.
11 reviews1 follower
September 28, 2024
rasanya seperti dibawa berkunjung ke beberapa jenis pertemanan yang ku punya. cuman, memang kisah kisah di buku ini nggak semuanya plek ketiplek sama yang ku punya, tapi irisan kejadiannya cukup bisa dibilang 98% pernah terjadi di aku.

merasa berteman tapi ternyata kami nggak benar benar tau satu sama lain. merasa berteman tapi nggak saling berbagi kisah senyata nyatanya. merasa berteman tapi ternyata nggak saling percaya.

atau, merasa punya urgensi untuk menghubungi teman lama tapi enggan entah karena apa. merasa seseorang itu baik secara individu, tapi entah karena apa memang tidak bisa berteman saja (paling sering terjadi).

dan banyak irisan lain yang rasanya mirip dengan kisah kisah pertemananku.

mungkin aku bisa bilang buku ini 8/10, nyaman sih bacanya, seperti berkunjung ke kisah orang yang ternyata bisa di-IH-KOK-RELATE-in.

anyway, worth to read! boleh dicoba untuk dibaca kalau sedang cari bacaan ringan yang mengerti kisah pertemanan usia 20an.
Profile Image for Jihan Aulia Zahra.
27 reviews2 followers
January 6, 2026
Bukunya diberi oleh teman baik yang tinggal di Cimahi, sudah satu dekade lebih berteman, dari dia single sampai punya seorang anak lelaki, dari aku SMA sampai sudah ada gelar pendidikan baru. Rasanya melalui berbagai tahun bersama, mengetahui masing-masing kabar meskipun hanya hitungan jari bertemu, kami mengalami rintangan hidup bersama, dan itulah fungsi teman baik, bukan?

Kumpulan cerita pendek di Museum Teman Baik kemudian menyadarkanku dengan jelas sekali bahwa semakin kita bertambah usia, jumlah orang-orang dalam ring 1 selain keluarga semakin sedikit. Semakin kita tahu juga jalan kehidupan satu atau dua orang spesial dalam hidup. Tetapi, ada pula yang semakin menunjukkan bahwasanya berteman bertahun-tahun tidak otomatis membuat kita mengenal satu sama lain.

Semakin dewasa, semakin sering kita mengganti prioritas.

Kehidupan (sebagai WNI) penuh gonjang-ganjing dunia tentu saja membuat kita kerap ada di survival mode. Tak jarang juga ditemukan orang-orang usia belia sudah menetapkan mode bertahan hingga dewasa sehingga cara paling waras untuk bertahan hidup adalah mengganti prioritas setiap saat hidup berjalan tidak sesuai keinginan yang ada di kepala.

Museum Teman Baik menjelaskan hal-hal yang bisa memicu perubahan dalam dinamika pertemanan dewasa. Manusia betul makhluk sosial, mau se-introvert apapun label dirinya. Memiliki satu dua kenalan, tetangga bahkan, tetap terhitung sosialisasi, kan? Selama kamu tidak hidup di gua gelap di tepi gunung atau lembah bertahun-tahun dari lahir, kamu akan tak sengaja mengenal sesama manusia lainnya.

Kita pindah ke masalah-masalah modern yang dialami para tokoh dalam kumpulan cerita pendek di Museum Teman Baik. Selesai membaca buku ini, kita akan dibuat menyadari sesuatu: mempertahankan hubungan platonis tepat setelah menyelesaikan babak dalam hidup (entah sekolah, pekerjaan, menikah, atau apapun) jauh lebih sulit dari yang dibayangkan saat kecil. Tidak perlu khawatir, itu wajar dan merupakan kejadian kolektif. Kamu tidak akan bisa berteman sampai tua dengan seluruh anak satu angkanan di sekolahmu. Jadi, tidak perlu berkecil hati.

Dengan membaca Museum Teman Baik, ada makna yang tersembunyi bahwa yang saat ini bisa dilakukan adalah berbuat sebaik-baiknya dengan apa yang ada di sekeliling kita. Penyesalan selalu datang belakangan, yang datang duluan namanya pendaftaran. Toh, kita juga tidak tahu kapan sebuah pertemanan bisa dimulai dan selesai. Hargai yang kini paling bisa kamu raih tangannya terlebih dahulu.

Semoga kebaikan terus bersama kita.
Profile Image for ୨୧.
15 reviews6 followers
November 23, 2024
Aku nobatkan sebagai novel antalogi terbaik tahun ini (versiku). Isinya ada sepuluh cerpen dengan bentuk pertemanan yang beda-beda. Masing-masing disajikan dengan gaya menulis yang berbeda, tapi berhasil buat aku tenggelam dalam tiap dinamika pertemanan yang ada.

Pertemanan itu memang melekat banget sama kehidupan. Gak heran, selama baca novel ini, aku gak hanya merasa relate sama bentuk pertemanannya, tapi juga sama banyaknya isu lain yang dibawa. Mixed feeling juga sebenarnya waktu baca tuh :’)

Selama membaca, ada waktu-waktu tertentu aku berhenti dan merenungkan pertemananku. Kadang sampe sedih dan nangis banget karena aku merasa dipeluk sama cerpen-cerpennya. Aku jadi mikir kayak, “Oh, ternyata secara gak sadar aku pernah mengalami ini, ya, dalam pertemananku. Waktu itu aku gak sadar makanya gak paham dan bingung cara menghadapinya. Setelah baca cerpen ini, aku jadi tau aku harus apa.”

Aku juga belajar, walaupun aku punya definisi tersendiri soal “teman” itu apa, tapi dari cerpen-cerpen ini, aku jadi punya pandangan yang lebih luas mengenai arti “teman” itu kayak gimana.

Kata museum di judulnya, aku maknai sebagai sarana untukku mengingat lagi kenangan-kenangan lama bareng teman-temanku, yang setelah ini bakal aku tempatkan dan simpan baik-baik di museum teman baik versiku.

Cerpen yang paling aku suka tuh judulnya “Kau Beruntung Menikahi Sahabatku”. Aku beneran nangis sejadi-jadinya setelah kelar baca. Dan yang paling relate buatku tuh cerpen yang judulnya “Soak 33”. Saking sukanya, aku gak sadar kalau udah kelar aja bacanya hahaha.

Dari sisi penulisan, aku cukup menyayangkan formatnya yang gak konsisten. Kadang aku jadi bingung sendiri, ini dialognya siapa atau ini lagi ngobrolin masa sekarang atau masa lalu, lagi monolog atau dialog. Ini gak di semua cerpen kok. Beberapa aja. Terus, ada satu kata yang sepertinya kelewat dari proses menyunting, jadi berulang.

Pada akhirnya, aku mau berterima kasih buat semua penulis yang berkontribusi membuat novel antologi ini. Kakak-kakak editor yang menyertakan catatan di bagian awal yang sangat membantu aku memaknai arti-arti tersembunyi dari cerpennya. Terima kasih karena membantuku lebih memaknai“pertemanan” yang aku punya sampai sekarang!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Riska (lovunakim).
230 reviews36 followers
October 8, 2024
Buku ini merupakan kumpulan cerita yg terdiri dari 10 cerita berbeda yg mengusung tema hubungan pertemanan.
Aku tertarik baca buku ini karena berseliweran di timeline dan diracuni oleh teman-temanku.

Dari keseluruhan cerita yg ada dibuku ini aku paling suka dengan cerita “Kau Beruntung Menikahi Sahabatku”, dimana ceritanya berisi tentang surat yg ditulis oleh seorang sahabat untuk suami sahabatnya. Isi suratnya begitu manis dan tulus, seakan aku lagi baca surat dari temanku.

Cerita-cerita dalam buku ini bermacam-macam masalah dan penyelesaiannya. Buku ini seakan seperti seseorang yg sedang menceritakan pengalaman hidupnya dengan seseorang yg tak terlupakan. Ga cuma rasa senang, ada rasa sedih, iri, marah, lucu dan relate dalam kehidupan kita. Salah satu ceritanya jg ada yg menggunakan ilustrasi (seperti graphic novel).
Profile Image for ❦.
89 reviews8 followers
December 13, 2025
bukunya cantik. tapi yaudah aja. cuma visually pleasing. selain copy paste chatgpt yang bikin ilfeel, cerita-ceritanya sangat mundane dan gak ada yang nyangkut di hati maupun kepala. pun tidak memberikanku kesan rindu atau nostalgia terhadap kawan-kawan kecil, seperti yang (menurutku) ingin disampaikan dalam kumcer ini.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
January 25, 2025
semakin besar, kalian akan mendapatkan teman yang cocok, tidak hanya baik
Profile Image for Fre.
61 reviews
October 3, 2024
Untuk pertama kalinya saya baca antologi yang semua ceritanya punya penulisan yang kuat. Menarik banget untuk memilih menceritakan dinamika pertemanan di masa dewasa, hangat dan heartbreaking most of the time.
Profile Image for shalv.
39 reviews4 followers
September 18, 2024
"Selamat datang di Museum Teman Baik." adalah kalimat yang akan dibaca ketika membuka buku untuk pertama kali. Seperti namanya, buku ini layaknya museum dari sepuluh cerita tentang pertemanan di usia dewasa. Kisah pertemanan yang tidak semuanya manis, bahkan ada yang sedih, ada yang hilang sama sekali. Membacanya membuatku campur aduk dengan perasaan, hangat, haru, sedikit nostalgia.

Dewasa ini, pertemanan menjadi sesuatu yang berharga di tengah kesibukan yang tiada hentinya. Ada yang bilang, pertemanan di usia dewasa sulit karena harus dijaga dengan betul-betul baik. Harus mengusahakan merawat komunikasi ditengah kehidupan yang kadang terlalu cepat, minimal menanyakan kabar once in a while. Seseorang lain bilang kalau mendapatkan teman di usia dewasa sulit, karena lingkungan yang semakin menyempit. Buku ini mewakili kisah asam manis pertemanan itu dengan hangat.

Aku terutama menyukai “Soak 33” karya Sri Izzati. Ceritanya mengisahkan pertemanan yang tidak lagi sesuai, padahal dulunya pernah sedekat nadi. Ketika masa dengan seseorang itu sudah habis, pertemanannya bubar, dan tidak apa-apa, mungkin waktunya memang dicukupkan sampai situ. Lalu aku juga suka "Kau Beruntung Menikahi Sahabatku" karya Bageur Al Ikhsan. Membacanya membuatku teringat teman-temanku yang sudah membangun keluarganya sendiri. Cergam "Layar Terkenang" dari Rassi Narika juga membawa nuansa yang segar dalam buku ini.

Buku ini membuatku merenungkan ulang makna pertemanan di usia dewasa ini: kompleks. Making a friend in adult is hard, keeping them is harder. With so many things occurred, friend comes in layers, within our problems and everyday things. Menamatkan “Museum Teman Baik” membuatku merasa sangat berterimakasih terhadap apapun bentuk pertemanan yang hadir di hidupku.

(Ada cerita yang tidak cocok denganku karena bertentangan dengan prinsip pribadi, tapi secara keseluruhan, buku ini kunikmati dengan baik.)
Profile Image for Sadam Faisal.
126 reviews19 followers
August 11, 2024
Diajak masuk ke museum untuk melihat koleksi cerita tentang pertemanan dengan beragam perasaan. Nostalgia, sedih, senang, kecewa dipamerkan semua di museum ini.
August 2, 2024
Museum Teman Baik is surprisingly easy to read.

you'd think it would only be talking about dynamics between friends - the typical imagery of it (usually the same age, same college, or platonic) - but one or two stories made me sure that this anthology is talking about companionship, and not strictly friends.

these two are my personal favorites;

Ulang Tahun by Cyntha Hariadi

Apakah aku kurang berusaha menyediakan diri dan waktu untuk Tara? Iya, tentu aku bisa berbuat lebih untuknya. [...] Apakah Tara telah melakukan yang terbaik untuk menjadi temanku? Hanya dia yang bisa menjawab.

it needs maturity and grace to come up with a simple passage that rings true. the story covers not only the friendship between Tara and Sandra, it gives a glimpse on children's friendship and the communal meeting of ibu-ibu yang berujung pada ketidaksamaan selain perannya yang sama-sama ibu-ibu. i've yet to see many authors whose writing flows as smoothly as hers. (i am very biased)

Bageur's story, Kau Beruntung Menikahi Sahabatku is the only one that covers the theme of forgiveness, which is a slippery slope when you're trying to insert it in a narrative. in literary fiction, forgiveness never appears because our favorite award-winning authors love to make things open-ended and gritty. in popular media, it's written like hot bull crap, one stop solution guaranteed to cure your depression. this story managed to dodge all the bad outcome. in fact, my eyes welled up with tears and i could feel genuine warmth thru the end (thank you). really, extra ++ points from me because i have a soft spot for epistolary stories.

sad to say i disliked 2 stories in particular, the one written too much like an unfunny TV sitcom (picture tetangga masa gitu), and the other that is an explicit story on queer urban loneliness (nothing interesting about the character's dynamics). visual story didn't leave any impression, the rest of the stories are good. like many other anthologies, especially the ones featuring various authors, Museum Teman Baik is not perfect. but it is a good company for you to read on the train, or when you're sitting in a cafe, waiting for the rush hour to pass.
Displaying 1 - 30 of 302 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.