Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lembaga Hidup

Rate this book
Tatkala masa dahulu, jatuhlah zat air kejadian kita, bercampur dari sulbi ayah dengan taraib bonda. Bermula dengan segumpal air, sehinggalah menjadi segumpal daging.

Telah cukup sejak dalam rahim bonda, garis tulisan hidup yang akan dilalui. Rezeki telah tersedia. Ajal telah tertentu. Amal usaha telah terbentang. Celaka ataupun bahagia telah mesti bertemu. Naik ataupun turun telah ada di hadapan pintu hidup.

Maka dalam kandungan ibu itulah tercipta ‘Lembaga Hidup’ itu. Lembaga yang akan dituangkan seketika kita telah lahir ke dunia kelak.

Janganlah lembaga tinggal lembaga, dan kita tidak berusaha menuangnya.

368 pages, Paperback

First published January 1, 1941

47 people are currently reading
335 people want to read

About the author

Hamka

112 books1,089 followers
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.

(source : wikipedia)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
51 (40%)
4 stars
58 (46%)
3 stars
16 (12%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Syahiran Ramli.
221 reviews14 followers
July 11, 2021
'Lembaga' yang dimaksudkan Hamka di dalam buku Lembaga Hidup ini ialah 'acuan' yang berbentuk sepertimana dalam masakan. Barang (hasil) yang kita mahu akan tercipta setelah kita menuangkan bahannya daripada lembaga tersebut. Lembaga itulah disebut sebagai jalan kehidupan seseorang yang berupa rezeki, pekerjaan, perkahwinan, nasib bagus, malang, dan sebagainya. Tugas kita adalah menuangkan lembaga tersebut setelah kita lahir ke dunia.

Namun begitu, adakah cukup dengan hanya menuangkan lembaga tersebut tanpa ada rujukan atau peraturan yang perlu dipatuhi? Sudah tentu tidak. Sebab itulah agama datang menuntun manusia supaya tidak terbabas ketika menuangkan lembaga tersebut dan tidak membiarkan manusia tanpa arah tuju, tanpa berfikir bahawa kehidupan ini adalah hanya bersifat sementara.
Profile Image for Roffi Ardinata.
30 reviews2 followers
May 29, 2018
Buya Hamka menyampaikan tulisan dengan kata-kata yang mengalir seperti mendengarkan beliau sedang menuturkan langsung, sungguh cara penulisan yang khas. Walau dalam bebrapa kata saya pribadi perlu waktu untuk memahami, namun pembahasan yang disuguhkan itu ditemui langsung dalam hidup keseharian. Buku yang membuat saya banyak berfikir dan merenung kembali terhadap keinginan dan sikap terhadap hidup selama ini. Walau ditulis sudah lebih dari 75 tahun lalu, sebagian besar isinya masih sangat relevan untuk mendidik cara bersikap dan berfikir di era sekarang. Bagi saya Buya Hamka adalah salah seorang pemikir yang saya kagumi, keikhlasannya dan sabarnya dalam bertindak selama beliau hidup tergambar dari tulisan beliau.

Buya mengajarkan kita untuk terus berfikir positif dan penuh rasa syukur terhadap apapun, terutama terhadap takdir kita.
Profile Image for aimi.
103 reviews5 followers
February 1, 2021
Buku Hamka yang memerlukan saya untuk menumpukan sepenuh perhatian. Setiap ayatnya berhikmah menyentuh hati dan jiwa yang gersang. Hamka dan ayat puitisnya yang kadang kala kita perlu baca 2, 3 kali untuk memahami maksudnya.
Setiap satu bab buku ini tersusun dari hak kepada diri sendiri hinggalah kepada negara.

Sedikit kata-kata dari buku ini yang saya sukai:

"Cinta kepada harta benda adalah tabiat manusia. Walau bagaimana peraturan di negeri kapitalis atau di negara kmunis, namun segala manusia tetap cinta pada harta." m/s 25

"Kata orang budiman: 'Munafik itu adalah tanda hormat daripada perangai buruk kepada perangai baik.' Artinya dia memang mengaku bahawa kejujuran itu memang baik tetapi dia tidak sanggup mengerjakannya, lalu dibungkuskan kebaikan itu dengan kejahatan yang tersembunyi" m/s 46


"Dengan segala daya upaya ikhtiarkanlah supaya tanganmu tidak mengganggu hak milik orang lain; tahan seleramu, selipkan lidahmu ke lantai, daripada mengambil harta orang lain dengan tidak halal" m/s 116

p/s: Buku dibeli dari Perniagaan fazhas, G41, PKNS Shah Alam
Profile Image for Ahmad Khubaib.
9 reviews
March 5, 2024
Apa arti kewajiban? Kewajiban adalah segala sesuatu yang datangnya dari jiwa, menekan untuk dilakukan dan tertuntut untuk di laksanakan walau terasa berat, kewajiban ini datangnya dari hati kecil manusia yang mampu membedakan mana kebaikan dan mana keburukan, dan kewajiban ini menjadi undang-undang dasar bagi setiap tubuh yang menjaga serta menumbuhkan prilaku serta sikap kita.
.
Buku ini ditulis dengan gaya penulisan lama, bercampur bahasa Melayu di dalamnya karena memang Buya Hamka masih erat kaitannya dengan bangsa Melayu di tanah Sumatra dan Malaysia, buku ini tidak hanya sekedar bacaan, tetapi jg bisa di jadikan acuan dan tuntutan tentang memahami apa peran dan tugas kita hidup di dunia ini, didalamnya penuh dengan ilmu yg bertumpah-tumpah dan makna yang berlapis-lapis, rasanya tak mau selesai segera dalam membacanya karena takut terlewat pada apa intisari didalam nya
.
Semoga amal yang dilakukan setelah membaca buku ini mengalir deras kepada Buya Hamka, sosok luar biasa yang mencontohkan pengorbanan, keikhlasan serta kekuatan tekad bagi bangsa yang sedang bertumbuh ini
Profile Image for Aardbewoners.
49 reviews
May 9, 2023
Through this book, Buya Hamka invites us to make an effort to organize our own life institutions with various obligations according to Islamic guidelines and not let them become mere institutions. The life journey line of every human being has been determined since in the womb.

Fortune is available. Death is certain. Charity business has been stretched. This is the "Living Institute". A casting shaped according to the desired object will be created after the ingredients are poured into it. "Let's try, hopefully our efforts will be in accordance with the conditions that God has prepared for us," Buya advised. In this book various obligations are described, starting from obligations to oneself, family, society, science, homeland, politics, to property. And, above all, the most important obligation is described; obligation to Allah Ta'ala.
63 reviews
March 1, 2019
Cakap je pasal HAMKA, siapa je yang tak kenal beliau! Karya yang sangat bagus daripada beliau buat pembacaan yang penuh permaknaan! Kalau aku buku-buku begini susah sangat nak habis dalam masa seminggu bukan sebab bosan tapi sibuk! So nasib baik aku jumpa versi eBook buku ini di https://www.e-sentral.com/book/info/7... jadi memang senang nak habis baca satu hari pun boleh :)
Profile Image for Zaki Ulfauzi.
55 reviews
February 21, 2020
Sebuah buku yang luar biasa, berisikan buah pikir Alm. Buya Hamka akan Hak dan Kewajiban setiap individu dalm setiap perannya di muka bumi. Mulai dari individu-individu, individu-masyarakat, individu-bangsa, dan berbagai macam peran lainnnya. Sebuah karya jenius luar biasa dengan perspektif Islam. BAB IX adalah bagian terbaik dari buku ini (menurut saya)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rahadian Kafi.
15 reviews2 followers
February 28, 2020
Buka yang sangat menginspirasi, bagaimana hidup yang bijak menjadi muslim yg sejati
Profile Image for Amran.
4 reviews
February 2, 2022
Bahasa yg digunakan masih asli bahasa melayu dahulu, makanya masih terdapat beberapa kalimat yg belum terlalu saya pahami maksudnya seperti apa
147 reviews14 followers
September 11, 2025
Brace yourself. This is going to be a bit long.

I attempted this book but just somehow couldn't finish it before. Picked it up again and found out that this is the third book after Falsafah Hidup and Tasawwuf Moden and that I actually read these three in correct order of publication. Well.. still kind of regret it that I took too long.

Disclaimer. Walaupun beliau penulis kegemaranku, tidaklah bermakna semua 100% pandangannya aku bersetuju.

Entahlah... untuk buku ni ada beberapa tempat yang macam whyy...? kenapa dia tulis begini, dan ada yang macam, ehhh ni saya perlu lebih pencerahan ni.

Which is good because they'll drive me to find more references and clarity for them.

But I have quite a few confusion. Let me list some that bugs me.
1. He suggests to learn music. Yep. I mean we can't really run from it now do we? I am a huge fan too, always making work playlist and all before... but somehow telling us to learn music till we know "ukuran dan timbangan suara" because it is "salah satu ilmu keindahan" is insufficient IMO. We all know how it is a powerful tool when used correctly (nasheed, national anthem, jogging tracklist, etc) but knowing many other ulama mentioned it as non permissible/haram and yet him not giving enough of reasons for why he suggesting it bugs me so much. Does he meant to use it the way Raihan did? For humanity, or uplifing spirit? For silaturrahim? To apply them in tarannum? Probably. But I might never know why for sure. Vocal range stuff is already intricate and all. Figuring how to properly/correctly use music and soundwaves is already hard as it is for me. Idk. I feel like there's so much contradictions of opinions in this topic maybe listening to less music is all I would do for now. [update 11 Sep 2025: The word is maqam (plural: maqamat), in context of Arabic music/sound, the art of melodic modes in music/sounds to evoke/invoke different feelings or states of emotion that are usually used in healing/tarannum/prayers/nasheed etc. ]

2. Berkenaan memasuki medan menuntut ilmu—dan kesucian ilmu,
"Kerana ilmu itu suci, tidak dapat didekati oleh orang yang kotor. Demikian juga kerana ilmu itu suci, tidaklah sanggup mempertahankan kesuciannya, jika masuk ke dalam najis, walaupun najis tersebut cuma sebutir kecil". This... I love metaphors and allegories but this... I get it to an extent, but how can this sentence happen? I need more clarity for this. The word ilmu he uses here I believe referring to knowledge that acts as 'light'/guidance in Islam. But to have it just, what, dissolves in basically faeces just like that and poof gone. I think there's always a use in both chaos and order for checks and balance. And they sometimes in the different end of the spectrum and I believe like energy, it can't just dissapear. Forgotten for a while, maybe, but not completely dissapear. So I think I might not completely agree for now. Idk. (Update 13 feb: Then again Allah is The Almighty so anything can happen)

3. "Jangan suka pergi ke tempat ramai misalnya pasar kalau tidak ada keperluan.... Kerana pasar itu adalah kumpulan sampah kota. Di tempat kotoran itu tidaklah manusia akan bertemu barang bagus dan bersih. Jangan dipedulikan kata-kata orang awam. Khususnya gelandangan, kerana mereka adalah orang-orang yang tidak dapat menyatakan fikiran jernih dan tidak mempunyai pendapat yang dipegang, tidak tahu akan hakikat."
I get where you are coming from (update 13 feb: for I am an introvert trying to be more ambivert). I'm sorry but sir, that sentence is a bit... condescending to us marhaen IMO and I have to disagree to an extent. Those people are human too. You can always see Allah's creation and be reminded to Him every where you go. People watching is a thing for a reason. I'm sure you know that the world is Quran in action if only you see how it unfold. I really believe there's always lessons in everybody you meet. Idk. (Update 13feb: Really depends on the person probably)

I have more but I'll keep them to myself as I have a lot of respect for the author.

There's also a bit of typos and editing errors (understandable tho, 1st edition PTS for Malaysian language edition).

Still, there are A LOT more gems in this book. I'll still say its worth your time reading it.

Love how he stresses so much towards the end of the book that even the big, influential ulama, the likes of Imam Hanifah, Hambali, Syafie all have a disclaimer that Quran Sunnah is The Source and that even their fatwas or opinions or words, should not be taken without considerations. Just shows how much they want us to think.


Weyhh awat asyik ter-rant book review dalam english nii??😪🥲😭
Profile Image for dausshassan.
51 reviews9 followers
March 29, 2021
Lembaga hidup ertinya acuan kehidupan yang dicita-citakan agar luhur kehidupan insan menuruti setiap garis ketetapan agamanya. Agar selama dunia masih tetap dunia dan selama insan masih tetap insan.

Manusia itu dituntuti segala macam hak kepada diri sendiri, keluarga, tanah air dan agamanya. HAMKA seakan-akan berdiskusi dan berpesan di setiap hak insan dengan terperinci. Penerapan sejarah dan juga kata-kata hukama mahupun falsafah yang membantu huraian isinya.

Nafsi-nafsi di dalam bermasyarakat mengikut pendidikan agama Islam sebenar adalah tidak wujud. Kerna tidaklah kemanusiaan itu bersifat berseorangan kecuali menggauli masyarakat untuk membetuli tingkahnya. Terlebihlah dahulu, selidik diri kita sebelum tilik orang lain. Moga tidak diperturutkan nafsu dan sentiasa bermujahadah melawannya.

Semakin pesat dunia mesin kini, semakin hilang jugalah sifat kemanusiaan di dalam diri setiap insan. Demikianlah pertempuran fikiran pada zaman perkisaran ini. Mengejar dunia melebihi segala yang mampu sehinggakan dunia yang mengawal kita. Badan penuh dengan kemewahan, jiwa miskin dari cahaya.
“Supaya dunia ini sentiasa menuju kepada yang lebih sempurna, hendaklah kebendaan itu disertai hidup kejiwaan. Bantinglah otak mencari ilmu” Al-Ghazali

Kalau hendak melihat tuhan, tidaklah ada alat yang lebih baik kecuali akal dan fikiran. Tuhan tidaklah sudi menyuruh manusia melakukan sesuatu kebaikan melainkan tuhan terlebih dahulu berbuat itu. Wasilah sifat-Nya lah akan menjadi penuntun lembaga hidup insani.
Profile Image for Hana.
136 reviews3 followers
June 30, 2022
Hidup yang hanya sebentar. Hidup yang hanya sekejap mata, singgah sejenak, kita pun pergi. Pergi dan tidak kembali lagi.

Kadar rezeki, amal, dan ajal, disertai untung baik dan untung buruk, dimulai malaikat menuliskannya untuk yang masing-masing kita sejak ibu mengandung, telah dimulai sejak air ayah dan air ibu diguligakan menjadi satu. Ke mana akan pergi, ke surga atau neraka telah dapat ditilitik sejak masa itu. Sebab itu, supaya seorang anak mendapat guliga yang murni, hendaklah perkawinan itu diciptakan di antara dua bibit yang baik. Laki-laki dan istri yang mempunyai pendidikan baik, berbudi pekerti, dan iman yang teguh.
3 reviews
September 12, 2014
Buku yang penuh dengan kata-kata nasihat yang sangat diperlukan buat manusia untuk menempuh liku-liku kehidupan yang penuh dengan cabaran yang teramat besar.
Profile Image for Syandrez Prima Putra.
39 reviews5 followers
June 24, 2016
Buku yang sesuai judulnya, lembaga hidup, berusaha mengingatkan kita untuk hidup sebagai hamba Allah dan juga hidup bersama dengan manusia lain sesuai tuntunan Al Quran. Pencerahan yang mendalam.
Profile Image for Gama Ramadhan.
157 reviews5 followers
April 23, 2017
Saya, kurang lebih, menjadi paham mengapa Buya Hamka menjadi ulama besar di zamannya. Sangat kaya ilmunya yang dia peroleh, tidak hanya mengenail ilmu-ilmu agama, tetapi juga filsafat barat. Dari tulisan beliau, saya membayangkan Buya adalah sosok yang tegas namun rendah hati dan lembut. Adalah suatu karunia, Bumi Indonesia mendapatkan sesosok Buya Hamka.
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.