Tidak ada yang baik-baik saja dengan kehilangan. Tidak Aku ingat betapa senewennya diriku ketika kompas pramukaku hilang. Perasaan yang mengiring adalah cemas, marah, dan keinginan untuk menuduh siapa biang keladi atas hilangnya kompas itu. Kompas itu hadiah ulang tahun dari Ibu. Aku sampai menuduh adikku yang masih kelas satu SD sebagai tersangkanya. Meski akhirnya Ibu membelikan kompas baru yang lebih bagus, kesan istimewa kompas yang lama tak akan pernah tergantikan.
Namaku Dhuha. Sudah enam bulan ini aku kehilangan kompas yang paling berarti dalam hidupku, yaitu Ibu.
"Kita tak bisa menghalangi apa pun yang akan pergi, walau dengan alasan sangat mencintai." Begitu nasihat Ibu ketika aku kehilangan kompas pramuka dulu.
Rasanya, nasihat itu tidak bisa menenangkanku saat mengetahui Ibu sudah tidak ada di rumah. Ibu pergi tanpa pamit di suatu pagi buta, meninggalkan hanya secarik kertas berpesan, "Jangan cari Ibu.” Tanpa ada janji untuk kembali dan petunjuk ke mana ia pergi.
Aku marah dan menuduh Bapak sebagai tersangka penyebab Ibu pergi. Ibu, telah menjadi kompas bagi Bapak, aku, dan Saba, dengan cara kami masing-masing. Bila kau jatuhkan kompas hingga rusak, panahnya akan mengarah tak tentu, membuatmu bingung menentukan pilihan ke depan. Itulah yang terjadi kepada kami bertiga.
Tidak ada yang baik-baik saja dengan kehilangan. Ibu pernah berkata kepadaku, "Kita tak bisa menghalangi apapun yang akan pergi, walau dengan alasan sangat mencintai." Namun, nasihat itu tidak bisa menenangkanku saat mengetahui Ibu tidak lagi ada di rumah. Ia pergi tanpa pamit di sebuah pagi buta, meninggalkan secarik kertas berpesankan untuk jangan mencarinya. Sepi. Tanpa janji untuk kembali dan atau petunjuk ke mana ia pergi.
Sebagai anak sulung, saya boleh benar-benar relate dengan perjalanan Dhuha dalam Sunyi Paling Riuh.
Perasaan kehilangan, tanggungjawab yang terasa berat di bahu, dan keinginan untuk memahami sesuatu yang tidak selalu ada jawapannya—semuanya terasa dekat.
Kisah ini bermula dengan kehilangan seorang ibu, bukan kerana kematian, tetapi kerana pemergian yang tidak dijangka.
Tiada selamat tinggal, hanya sepucuk surat yang meminta agar dia tidak dicari.
Dhuha yang hilang arah cuba mencari makna dalam hidupnya yang kini penuh dengan kesepian, sehinggalah kehadiran Zoya membawa harapan.
Namun, takdir yang suka bermain-main—Zoya juga akhirnya menghilang, meninggalkan Dhuha dalam kesunyian yang lebih mendalam.
Fajar Sulaiman menulis dengan gaya yang begitu puitis, begitu mengalir
Ada banyak perenungan tentang kehilangan, kesunyian, dan bagaimana kita memproses kesedihan dengan cara masing-masing.
Saya suka bagaimana novel ini tidak memberi jawapan yang mudah—sebab dalam realiti, kita juga tidak selalu mendapat penjelasan mengapa sesuatu terjadi.
Novel ini mengingatkan saya bahawa kesunyian bukan bermaksud kita benar-benar sendiri.
Kadang-kadang, dalam riuhnya dunia, kita tetap boleh merasa sunyi. Tapi mungkin, seperti yang Zoya katakan, hidup akan baik-baik saja—jika kita terus mencuba.
First things first, this is my first read of 2025. I bought this book in December last year after spotting it in a bookstore. The cover caught my eye, and the synopsis seemed intriguing. From the summary on the back, themes of loss, grief, self-discovery, and overcoming life’s struggles stood out. These are the topics that resonate with me at the moment. I didn’t look up any reviews beforehand and only later realized that my copy is a translation from the original Indonesian version.
When I started reading, I noticed that the book tends to "tell rather than show." Events unfold through narration rather than being vividly described with emotional depth, which would have helped convey the characters' feelings more effectively. However, I acknowledge that coming out of a long reading slump may have influenced how I engaged with the story.
Before reading, I had certain expectations. I thought the book would be more family-centered, and it was for the first half. But as the story progressed, the focus shifted more toward Dhuha (the main character) and his relationship with Zoya. I also noticed that the book begins with some familiar, even cliché, scenes such as the classic “father’s business goes bankrupt, debt collectors storm the house looking for him” scenario, which I’ve seen play out countless times in movies and dramas.
One aspect I wasn’t a fan of was the ending. As the final chapters unfolded, it became clear that the mystery surrounding the mother’s disappearance would remain a mystery, as the focus shifted to new conflicts related to Zoya’s past relationship, which ultimately led to her own disappearance. While I could accept Zoya’s storyline, the rushed conclusion to Dhuha’s family dynamics felt unsatisfying. His father, who had been running away from his children, was suddenly found by the police and reunited with his family without much explanation. Meanwhile, his mother’s unexplained disappearance and equally mysterious return felt underdeveloped. These elements could have been explored more deeply instead of being crammed into a single chapter.
Despite these critiques, one aspect of the book stood out to me in a positive way. I appreciated its emphasis on the importance of surrounding oneself with good company during difficult times. The story highlights how having the right support system can make a significant difference in emotional and mental struggles. I also liked that Dhuha acknowledged his limitations, particularly in providing a safe space for his sibling, Saba. This led Saba to befriend Vero, reinforcing the idea that we can’t expect one person to fulfill all our emotional needs.
Review: Buku ini tuh bagus sebenarnya. Gaya penulisannya rapih dan terstruktur. Banyak kata-kata pada setiap bab nya. Meskipun begitu, alur buku ini bisa dikatakan berantakan. Awalnya buku ini berfokus pada masalah Dhuha dengan keluarganya. Baik Ibunya yang kabur, ayahnya yang bangkrut, dan dia harus bertanggung jawab atas adeknya. Cerita berlanjut dengan Dhuha dan konflik batinnya dalam menghadapi masalah dan bangkit. Lalu, datanglah si Zoya, teman SMP-SMA nya which is crush nya si Dhuha. Sebenarnya gak masalah menyelipkan romansa. Si Zoya ini bantu si Dhuha bangkit. Dhuha berharap bisa bersatu sama Zoya. Klise sih. Nah, disini mulai alurnya ngeselin. Karena cerita jadi makin terfokus ke romansa Dhuha-Zoya. Makin ngeselin lagi malah fokus ke masalah pribadi Zoya. Cerita berubah jadi cerita superhero dimana Dhuha mau ngebantu Zoya😭😭 AKU KESEL BANGET. Like??? KOK BEGINI BUNG😭😭
Akhir ceritanya? Si Bapak balik setelah Dhuha lapor ke polisi. DAAAAN IBU NYA JUGA BALIK. Ibunya jarang di mention tapi tiba-tiba muncul di akhir. Alangkah baiknya cerita berpusat di perjuangan Dhuha untuk bangkit, mencari Bapaknya, dan mencari tahu alasan Ibunya kabur. Karena dari awal yang bikin Dhuha down tuh kalau Ibunya kabur. Tapi malah kayak ya udah gitu aja. Harusnya romansa Dhuha-Zoya cukup jadi bumbu aja😭
Mau ngasih rating 2,75/5 tapi aku suka quotes disini. Jadi ya 3/5 udh oke banget. Huhuhu
This entire review has been hidden because of spoilers.