Jika hidup kamu pernah dijadikan panutan buruk, itu bukan salah kamu. jika pernah ditangguhkan dalam keputusasaan dan diusir dari rumah yang kamu cintai, itu bukan salah kamu. jika pernah dikhianati teman-temanmu di tengah perjalanan, itu bukan salah kamu. jika pernah dijadikan alasan atas kesialan yang berulang, itu bukan salah kamu. jika pernah digunakan sebagai alat balas dendam seseorang kepada mantan kekasihnya, itu bukan salah kamu. jika pendapat kamu pernah ditertawai orang-orang, itu bukan salah kamu. jika pernah diremehkan orang tua sendiri, itu bukan salah kamu. jika pernah terbangun tengah malam dan menyalakan lampu di dalam kamar karena segala sesuatu di luar terasa gelap, itu bukan salah kamu. jika pernah terjebak di tengah cinta segitiga, itu bukan salah kamu. jika pernah menangis hingga tertidur, itu bukan salah kamu. – sobek halaman ini lalu luangkan waktu membakarnya.
Setelah lebih banyak menulis berbagai macam keresahan mengenai ruang hidup serta ingatan kolektif. Kali ini Ibe menulis sesuatu yang menurutku sangat tidak biasa lewat kumpulan puisinya ini. Ibe mencoba menelanjangi salah satu kebutuhan manusia yang sangat personal yaitu kecemasan finansial yang merupakan momok paling menakutkan bagi para pencari cuan. Sadar atau tidak sadar buku puisi ini menjadi media bagi Ibe untuk mengajak pembacanya sejenak menertawakan beban kehidupan yang membelenggu manusia serta mengajak kita untuk lebih peduli lagi memahami segala kegelisahan kita sebagai manusia di tengah ketidakpastian.
Udah lama gak baca puisinya Ibe. Sebenarnya menggelitik juga beberapa puisi dalam buku ini, mungkin terasa banyak kegelisahan dalam beberapa tema, utamanya tentang banyak istilah ekonomi, macam ekonomi fiskal, menyunting mutasi rekening, belajar ekonomi di kelas menulis kreatif, dllnya.
Yang paling disuka itu: - bahasa yang binasa - sobek halaman ini lalu luangkan waktu membakarnya
hidup tetap berjalan dan kita telah lupa alasannya. ada empat puluh puisi yang termuat dalam buku ini. nyaris semuanya kaya akan metafora. kamu akan menjumpai metafora apik tentang hidup di puisi “ke belantara”. ibe menggambarkan hidup sebagai kelahiran di kasino raksasa yang bermain dengan kesempatan dan dipermainkan kepastian. temanya memang cukup kompleks, yakni membicarakan pergulatan hidup kita sehari-hari. baik dalam bentuk relasi dengan di luar diri kita, maupun dengan yang semayam dalam diri kita sendiri. nanun yang paling terasa dominan memang tema ekonomi. bagaimana sikap kita terhadap uang, cara mengelolanya, mengapa begitu mendambakannya, bagaimana mencapai kebebasan finansial, kapan ujung kecemasan finansial, dan sebagainya-dan sebagainya.
sejumlah puisinya membicarakan tentang kebutuhan manusia atas validasi—yang juga mengalami perundungan emosional. ada juga tentang bagaimana kita pelan-pelan kehilangan kemerdekaan seorang anak dan kepolosan seorang remaja lalu mulai membangun dua kehidupan: yang sedang dijalani dan selamanya dipertanyakan, puisi-puisi yang lain membicarakan tentang kompleksitas manusia yang indah, rapuh, dan apa adanya.
Ibe S. Palogai telah mengangkat jangkar kapalnya lalu berlayar menjauhi lambaian orang-orang “yang kalah” dalam peristiwa-peristiwa perang (baca: sejarah). Setelah buku pertamanya yang ia terbitkan pada 2018 lalu yang berjudul "Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi", ia tak lagi menggarap wilayah tematik yang ketat seperti buku pertamanya tersebut. Buku keduanya, "Struktur Cinta yang Pudar", dan yang ketiga "Menjala Kunang-Kunang" bersoal dengan identitas subjek. Keempat, buku yang terbaru, "hidup tetap berjalan dan kita telah lupa alasannya" lebih kurang sama seperti kedua buku terakhirnya, menjauhi wilayah tematik yang ketat. Namun, yang membedakan buku keempat tersebut dengan kedua buku terakhirnya adalah Ibe mulai melabuhkan pandangannya pada beberapa persoalan yang sebelumnya belum pernah (atau jarang) ia respons, yaitu ekonomi.
Merekam kecemasan dalam hidup tentu bukanlah persoalan baru dalam wilayah teks perpuisian Indonesia. Banyak penyair di Indonesia telah banyak mempersoalkan hal tersebut. Namun, dalam puisi Ibe—khususnya puisi-puisi yang mempersoalkan masalah ekonomi—kita bisa melihat bahwa ia tak sekadar memberdayakan diksi kebendaan sebagai citraan untuk gaya ungkapnya, tetapi menggunakan beberapa peristiwa atau teori-istilah ekonomi sebagai permainan intertekstualitas dalam gaya ungkapnya.
List buku puisi favorit saya tertambah setelah baca buku ini. “Hidup tetap berjalan dan kita telah lupa alasannya” adalah karya Kak Ibe yang paling saya suka, penulisannya jauh berubah, saya merasa Kak Ibe sedang banyak bergaul dengan gen z😭. Baru puisi pertama saja saya sudah cengar cengir baca judulnya yang melampau jauh tidak seperti Kak Ibe yang biasanya. Dibuka dengan puisi kritik “berapa harga outfit kamu?”, buku ini sudah sangat menyenangkan . Perumpamaan-perumpamaan yang digunakan lugas dan ringan tapi tetap dengan makna yang dalam.
Saya juga menyukai seluruh puisi-puisi tentang ekonomi dalam buku ini, kalau bisa memilih yang paling saya sukai, saya akan pilih: “studi tentang efek krisis pisang”. Saya meng-highlight bagian ini: “kita memahami cara kerja dana darurat tetapi agaknya sulit menyiapkannya karena setiap hari kita berusaha selamat dari situasi darurat”.
Juga ada satu puisi yang amat dalam & sangat vulnerable yang berhasil membuat saya sesenggukan (it’s feels good cause it’s been a long time since I cried that hard after reading a poem) judulnya “terowongan rumah sakit”.
Buku ini memberikan perasaan penasaran untuk segera menuntaskan sekaligus perasaan menahan diri untuk tidak terlalu terburu-buru agar bisa lebih dinikmati pokoknya seperti sedang makan menu favorit kamu yang langka. Terima kasih atas karyanya Kak Ibe, kita memang harus terus kembali merefresh ingatan, pikiran & keimanan tentang alasan kita tetap hidup.