Jump to ratings and reviews
Rate this book

시한부

Rate this book
죽을 날이 정해진 시한부, 자신의 마지막 날을 스스로 정한 삶도 시한부일까. 중2 작가의 시선에서 본 우울과 방황의 경계에 선 사춘기 청소년들의 이야기.

312 pages, Paperback

First published January 23, 2024

Loading...
Loading...

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (12%)
4 stars
13 (54%)
3 stars
6 (25%)
2 stars
2 (8%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for aynsrtn.
587 reviews23 followers
January 27, 2026
Apakah hidup yang kita tentukan sendiri juga memiliki batas waktu?
Sebuah kisah tentang “depresi remaja” dan “mengakhiri hidup” dari sudut pandang seorang penulis kelas 2 SMP.


Sebuah kalimat pembuka sebelum lembar cerita di buku ini. Ya, buku ini ditulis oleh penulisnya ketika duduk di kelas 2 SMP, saat usianya 14 tahun. Whoahhh … this book broke me into pieces.

Lika-liku pemikiran dan perasaan anak usia 14 tahun yang melihat temannya sendiri memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di hari natal. Soo-ah melihat Yun-seo, temannya, menjatuhkan diri dari atap sekolah. Setelah itu, hidup Soo-ah tak lagi sama. Ternyata tak hanya Yun-seo yang menghitung mundur hidupnya, tetapi Soo-ah juga. Semua sudah Soo-ah tuliskan di jurnalnya bahwa natal tahun depan, ia pun akan mati. Tetapi, seorang anak baru bernama Sung Min, memaksa ingin berteman dengannya. Yun-seo pun mempertanyakan kembali makna hidupnya, apakah ia benar-benar ingin mati?

Peringatan bagi pembaca: mengandung tindakan bunuh diri, keinginan bunuh diri, serangan panik, dan melukai diri sendiri.

Membaca buku ini sangat depresif sekali. Menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Yun-seo, Soo-ah, dan Sung Min, aku diperlihatkan bagaimana pemikiran orang yang sudah bertekad ingin mengakhiri hidupnya, orang yang merasa bersalah dan ingin menyudahi semuanya, dan orang yang ingin menyerah, tetapi ia butuh alasan untuk tetap hidup. Bagaimana mereka di masa menuju remaja yang seharusnya asyik bermain bersama teman, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, belajar di sekolah, mulai menyukai seseorang secara romantis, atau mengeksplor diri dengan mencari hobi yang menyenangkan, tetapi malah berpikir untuk mati di usia semuda itu?

Perasaan yang Kontradiktif.
Buku ini memang sedih dan depresif, tapi bagiku justru buku ini hadir bukan untuk membuat sedih dan sendu, namun untuk menguatkan dan memelukmu yang mengalami perasaan yang sama. Ada orang yang bilang, ini bukan keinginan untuk mati, tapi aku hanya tidak ingin hidup seperti ini. Soo-ah hanya tak ingin hidupnya diliputi rasa bersalah dan kehilangan sahabat yang paling dicintai. Sung Min butuh alasan untuk hidup, meskipun hidup membuatnya merasa terkekang, hingga ia memutuskan untuk menjadi penyelamat. Kedua anak ini adalah representatif perasaan kontradiktif dari mereka yang ingin mati, tetapi ingin hidup juga.

Alasan hidup harus berasal dari dirimu sendiri.
Ada satu dialog yang aku suka di buku ini antara Soo-ah dan Sung Min.
“Jadi, aku akan membuatmu ingin tetap hidup tanpa kau sadari.”
“Kau mau aku bertahan hidup karena kau?”
“Bukan karena aku. Kalau kau hidup karena aku, bagaimana jika nanti kau memutuskan untuk mengakhiri hidup karena aku tidak ada?”
“Terus bagaimana caranya?”
“Kau akan tahu nanti. Kau akan hidup tanpa ada yang memaksamu.”
(p.127)

Jadikan dirimu sendiri sebagai alasan untuk hidup. Benar apa yang dikatakan Sung Min. Bahwa manusia itu bisa saja pergi, yang selalu bersama kita adalah diri kita sendiri. Jadikan diri kita adalah semangat untuk kita agar tetap hidup.

Filosofi kehidupan dari remaja usia 14 tahun.
Aku suka bagaimana Soo-ah membayangkan hidupnya ingin seperti laut. Dulu kayaknya aku pas 14 tahun nggak pernah terpikir hal sedalam itu. Insight kehidupan yang sangat menyentuh. Ya, ingin hidup lebih mudah. Sesederhana itu.

“Aku ingin hidup seperti laut. Menerima apa yang datang dan melepaskan apa yang harus pergi. Tidak semua momen bisa disinari matahari dan terlihat indah. Meski begitu, saat aku disinari, aku akan berkilauan semampuku. Ketika badai datang, aku akan membiarkannya meluap tanpa tertahan. Mungkin akan lebih mudah … jika bisa hidup seperti ini.” (p.145)

Kisah daun semanggi pun memberikan aku perspektif lain tentang pencarian keberuntungan dan kebahagiaan dalam hidup.

“Kata orang, makna semanggi berdaun tiga adalah kebahagiaan. Aku harap kau juga bisa melihat kebahagiaan ini dengan lebih bermakna.”
Kisah tentang orang-orang yang menginjak semanggi berdaun tiga demi mencari berdaun empat, atau mengabaikan kebahagiaan demi mengejar keberuntungan.”
(p.150)

Peran orang tua dan masyarakat.
Seperti yang penulisnya tuliskan di akhir buku ini, aku berharap novel ini bisa menjadi secercah harapan bagi mereka yang sedang putus asa, dan bisa membuat masyarakat berpikir lebih jauh tentang masalah yang kita hadapi bersama, menjadikan renungan buat aku juga. Bagaimana orang dewasa seharusnya bersikap kepada anak remaja yang tengah dirundung kesedihan dan depresi? Bagaimana orang tua bersikap pada anaknya yang sedang demikian? Bagaimana pihak sekolah dan masyarakat menyikapinya? Sebab persoalan ini sangat kompleks.

Ada satu dialog yang ngena banget ketika Soo-ah tidak mau minum obat yang diresepkan untuknya. Padahal ibu Soo-ah sudah gerak cepat untuk membawa Soo-ah ke konselor, berobat, dan apa pun itu demi anaknya pulih. Namun, ada satu yang belum dilakukan ibunya Soo-ah yaitu memvalidasi perasaan Soo-ah.

“Setiap terjadi sesuatu, Ibu selalu menyuruhku bersabar, bahkan ketika aku ditindas dan dihina.”
“Itu karena pengalaman hidup Ibu sudah lebih banyak, Soo-ah. Kalau kau marah dan membalas dendam, situasinya akan jadi makin sulit dan berat.”
“Meskipun itu benar, meskipun Ibu tidak bisa bilang, ‘kau tidak perlu bersabar,’ Ibu bisa bilang ‘pasti berat untukkmu,’... Ibu hanya menyuruhku untuk bertahan.”
(p.152)

Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya anak saja yang mesti pergi ke konselor dan psikiater, tetapi orang tuanya juga. Karena mereka yang paling banyak menemani sang anak di rumah. Sebab ada gap antara orang tua dan anak. Beda pola asuh, beda zaman, beda lingkungan, beda pemahaman, beda situasi yang mungkin kurang tepat jika menerapkan masa dulu orang tuanya kepada anaknya di masa sekarang. Gap itu menjadi barrier yang mungkin membuat Ibu Soo-ah belum bisa memahami sepenuhnya apa yang dirasakan oleh Soo-ah.

Rekomendasi.
Saranku baca ini ketika kamu dalam keadaan siap dan baik-baik saja. Karena bisa jadi membuat draining dan triggering. Meskipun demikian, buku ini sangat bagus. Memperlihatkan bagaimana sudut pandang remaja usia 14 tahun dalam menghadapi keinginan untuk mengakhiri hidup. Persahabatan dan perjuangan Soo-ah dan Sung Min pun begitu hangat (agak romantically, but still mereka tuh saling “membantu” satu sama lain).

🌹 4.5 bintang untuk dialog ini:
“aku tidak akan menghilangkannya,”
“hilang juga tidak apa-apa. aku akan membuatkan yang baru.”
“semangginya?”
“kebahagiaannya.”
Profile Image for Readingwithhirai.
248 reviews7 followers
November 21, 2025
“Apa yang bisa dilakukan oleh anak kelas 2 SMP untuk menghadapi trauma dan ganasnya dunia yang merenggut keinginan melanjutkan hidupnya?”
Menyelesaikan buku ini dengan perasaan sangat lelah, lelah sekali dan kepikiran macam-macam. Sebelum memutuskan membaca bukunya, sebenarnya aku sudah tahu ada semacam peringatan konten yang berisi bunuh diri, putus asa dan keinginan mengakhiri hidup dari sudut pandang anak SMP. Namun tetap saja ada semacam rasa sakit, tidak nyaman dan lelah setelah menyelesaikan bukunya meskipun ending dari buku ini cukup membuat pembaca tenang.
Pernahkah terpikirkan bagaimana kehidupan seorang anak yang besar tanpa orang tua? Kedua orang tuanya sudah tiada dengan cara bunuh diri, rumornya mereka sebenarnya juga membunuh si anak namun ternyata gagal dan membuatnya hidup sendirian di dunia ini. Apa yang diharapkan dari kehidupan yang terasa begitu melelahkan itu? Bahkan dia hidup tanpa pendampingan apapun hanya bercerita pada anak seusianya. Apa yang bisa dilakukan oleh anak kecil, labil, minim pengetahuan tentang kesehatan mental dan juga belum banyak membentuk empati dalam dirinya?
Bukan hanya anak kecil, terkadang orang dewasapun mengabaikan atau tidak peka terhadap orang-orang di sekitar kita yang ternyata menginginkan kematian. Bayangkan dulu kita saja yang sudah dewasa ketika ada seseorang mengatakan “aku ingin mati” pasti sudah bingung dan takut salah langkah. Lalu bagaimana anak sekecil itu harus menghadapi beban seberat curahan hati temannya yang ingin bunuh diri?
Tak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan menyaksikan teman baik kita bunuh diri di depan kita. Ada rasa bersalah, gagal menyelamatkan dan hidup yang tak berguna. Dalam pikiran selalu bergulat dengan “seandainya aku menyelamatkannya lebih cepat..” namun kita juga lupa kalau yang terjadi memang sudah terjadi. Dibandingkan terus merasa bersalah dengan masa lalu, lebih baik kita memperbaiki diri agar masa depan jadi lebih baik dan kejadian itu tak terulang kembali. Apakah jika kita lebih cepat bisa membalikkan keadaan? Apakah jika tak terlambat menyelamatkan semuanya akan baik-baik saja? Tak ada yang tahu!
Buku ini mengambil sudut pandang trauma anak SMP yang kehilangan semangat hidup bahkan berniat menyusul temannya ketika natal. Orang tuanya tentu khawatir sehingga membawanya untuk berobat, namun apalah arti pengobatan jika tak ada keinginan sembuh dari diri sendjri? Dia seperti menghukum diri sendiri untuk tak berteman dengan siapapun dan tak boleh sukses karena merasa tak pantas. Tak pernah ada yang memusuhinya, semua itu hanyalah bisikan dan ketakutan dalam dirinya.
Pembaca akan dibawa masuk mengikuti kehidupan sang tokoh yang harus berperang dengan trauma dan ketakutan dalam dirinya. Banyak faktor yang mempengaruhi kondisinya baik semakin baik maupun justru semakin buruk. Naik turunnya emosional dan juga putus asanya yang kuat membuat seseorang semakin membenci diri sendiri. Buku ini berhasil mendeskripsikan dan mengungkapnya semuanya dengan baik. Bukan hanya sekedar narasi berjalan yang melekat namun seolah mengajak kita masuk ke dalam cerita dan ikut merasakan suka dukanya menjadi sang tokoh.
Buku ini mengajarkan banyak hal perihal pentingnya pengetahuan kesehatan mental, membangun empati sesama teman sejak kecil. Ketika menemukan teman yang kesulitan dan kita tak mampu berbuat apa-apa limpahkan pada orang dewasa. Mintalah bantuan pada orang dewasa, paling tidak ceritakan pada gurumu tentang apa yang sudah kau lihat dan dengar dari temanmu. Cara itu akan sangat menolong keberlangsungan hidup temanmu dibandingkan memaksakan dirimu sebagai sandaran seseorang yang rapuh padahal dirimu tak kalah rapuhnya. Kesehatan mental seseorang tak bisa dianggap sepele, salah menangani bisa merugikan diri sendiri bahkan orang terdekatnya. Bahkan seseorang yang merawat orang dengan gangguan jiwa juga beresiko mengalami kelelahan tanpa batas. Jadi tetap libatkan orang yang lebih mengerti pada ranahnya agar mendapatkan pertolongan secepatnya.
Orang dengan tekanan mental sama sekali tak membutuhkan nasihat, kebanyakan dari mereka hanya ingin didengarkan dan dimengerti. Jangan pernah menghakimi mereka, tak perlu menambah luka dan beban untuk mereka.

Point Menarik dan Unggul:
• Narasi mengalir yang deskriptif dan emosional berhasil membawa pembaca masuk ke dalam cerita.
• Penggambaran karakter dan kedekatan antar tokoh terasa sangat nyata sehingga pembaca juga ikut merasa kehilangan.
• Pemuatan konflik dan penyelesaian juga sangat jelas begitupun dengan faktor pemicu yang mudah dipahami.
• Buku tragis yang mampu membangun empati dan rasa takut sebagai bentuk antisipasi agar kejadian itu tidak terulang kembali dalam kehidupan nyata saat ini maupun masa depan setelahnya.
• Buku ini bukan hanya berisi drama dan konflik tentang kesehatan mental namun juga sebagai gambaran bagaimana seseorang yang mengalmai depresi harus tersiksa setiap hari.
• Kita akan diajak mengenal dampak dari kejadian yang menyisakan traumatis dan berimbas pada kehidupan setelahnya.
• Buku ini juga berisi pesan bahwa tak pernah ada orang yang mau mengalami depresi jadi jangan semakin salahkan hidupnya justru bantulah dia untuk keluar dari lingkaran ketakutan tak berujung itu.

Pelajaran yang Didapatkan:
Buku ini mengajarkan kita bahwa bukan hanya orang dewasa melainkan anak-anak juga berpotensi mengalami tekanan mental. Sebagai orang dewasa harap lebih bijak dalam bertingkah laku karena diam-diam anak selalu berpikir karena mencontoh perilaku kita semua. Lebih peka terhadap sekitar dan beri pertolongan kalau memang bisa. Kalau tidak bisa cepat ceritakan dan cari orang yang memang berkompeten dalam bidangnya. Orang-orang yang sempat melakukan kesalahan bukan berarti selamanya akan salah. Mereka tetap punya kesempatan untuk menjadi orang lebih baik dari sebelumnya di kesempatan yang lain. Kamu tetap berhak untuk bahagia dan melanjutkan hidup meskipun memang tak pernah mudah menghadapi kehilangan.

Untuk Siapa Buku Ini?
Buku ini wajib dibaca oleh orang dewasa sebagai bahan diskusi dan refleksi diri tentang sekitarnya. Kita memiliki pemikiran yang lebih stabil dibandingkan anak-anak sehingga baiknya juga membantu mereka yang mengalami kesulitan terlebih jika sudah mendapatkan beban mental sejak kecil. Kenali tanda orang-orang atau anak-anak yang memang ingin mengakhiri hidupnya. Jadi bisa cepat mendapatkan pertolongan terbaik.
Profile Image for Hayyu.
15 reviews
February 3, 2026
Limited Time (시한부) by Baek Eun Byeol // Elex Media, 2025 // Teenlit - Mental Illness // 234 hal. // Alih bahasa oleh Dian Susanti

"Namun, sesuatu yang menyangkut hidup seseorang tidak bisa dianggap sebagai insiden belaka."—hal. 36

Yoo Soo berteman baik dengan Yun-Seo sejak kelas 1 SD hingga saat ini, kelas 2 SMP. Hari pertama di tahun kedua masa SMP, Yoo Soo memutuskan untuk mulai bergaul dengann orang lain. Yun Seo menjauh dan persahabatan merela merenggang. Yoo Soo bisa memutuskan untuk tidak melanjutkan persahaban mereka.

Semua berlajan lancar, sampai suatu ketika Yun Seo mengajak Yoo Soo ke kamar mandi dan menangis di sana. Yoo Soo menghibur Yun Seo. Yoo Soo kira, hal itu akan berakhir di situ. Yoo Soo bahkan mengajak Yun Seo bersepeda saat hari natal. Namun, saat natal tiba, Yun Seo meninggalkan dunia ini.

Kisah Yoo Soo dan Yun Seo memberikan gambaran tentang kompleksitas pikiran anak remaja. Perbedaan latar belakang sangat memberi dampak bagaimana pikiran mencerna sebuah takdir.

Yun Seo sebagai anak-yang-selamat-dari-percobaan-bunuh-diri menjadi snagat tertutup, bahkan merasa dia seharusnya menyusul kedua orang tuanya. Ia sengaja menutup diri agar terhindar dari hubungan sosial, sehingga ketika tiba waktunya meninggal, ia tidak meninggalkan banyak orang.

Yoo Soo—anak ceria dengan keluarga harmonis— merasa kehilangan dirinya ketika diterpa sebuah rumor. Ia bahkan merasa tidak dicintai. Bahkan ketika kehilangan sahabatnya, keadaan itu bertambah parah. Ia merasa tidak pantas untuk hidup ketika sahabatnya mati di depan matanya.

Dari buku ini, kita akan diajak melihat bagaimana hal kecil bisa memicu sebuah keputusan besar. Sebuah rumor tak berdasar, sekecil apa pun rumor tersebut, akan sangat mampu merenggut kehidupan seseorang. Dari Yun Seo, kita akan melihat bahwa yang tegar dan seolah acuh tak acuh justru menyimpan duka dan kesedihan yang menggerogotinya dari dalam.

Limited time, tentang batas waktu yang ditentukan seseorang. Apakah batas waktunya untuk tetap melanjutkan hidup, atau mengakhiri segala urusan di dunia yang tidak seindah keinginan mereka.

Saat membaca novel ini, aku merasa diajak menjelejahi ruwetnya pikiran Yoon Seo dan Yoo Soo. Menyelami bagaimana mereka mengelola emosi mereka, bagaimana mereka bertahan dengan perasaan tertekan mereka, dan bagaimana keberadaan seseorang bisa memengaruhi keinginan mereka. Mereka memang masih muda, tapi tekanan sosial yang mereka rasakan benar-benar menguras energi dan pikiran mereka. Seperti yang kita tahu, negara tersebut memang memiliki standar yang sangat tinggi dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan pribadi dan sosial. Suatu hal yang yang baik, sekaligus memberi tekanan.

Selain itu, banyak pelajaran dari kisah Yoo Soo dan Yoon Seo yang bisa kita renungkan. Orang mungkin akan berpikir bahwa mereka termasuk manusia yang kufur nikmat. Tapi, seperti yang kita tahu, otak kita tidak akan mampu memproses rasa bersyukur ketika perasaan tertekan sedang mendominasi pikiran mereka.

╰┈➤ Jangan lupa untuk selalu memperhatikan orang terdekat kita. Satu penghiburan kecil, bisa saja menjadi pertimbangan besar bagi mereka.
Profile Image for Zeynep Yüce.
69 reviews1 follower
December 30, 2025
Bu kitap beni düşündüğümden daha çok etkiledi . Özellikle ilk yarıda gözyaşlarım durmadı . Genç çocukların hangi psikolojide intihar ettiği ve intihar etmek istemesini okumak düşündüğümden daha ağırdı . Sonlarına doğru çok korktum acaba birine daha bir şey olacak mı diye ama neyseki olmadı. Hayat denen şey gerçekten çok kompleksli bir yapıda mutluluk ve üzüntü dediğimiz şeyler o kadar göreceli ki . Ve şunu anladım ki çevreden ne kadar destek geliyor gibi görünse de günün sonunda hayatta kalıp kalmayacağı o kişiye bağlı eğer biri mutluluğu görmek istemiyorsa ne yaparsanız yapın o kişi istediği şekilde görmeye devam edecek. kurtulmak için farkında olmasanız da kabullenmek istemeseniz de içinizde hayatta kalmak için çok az da olsa istek bulunmalı.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for loundraw.
208 reviews7 followers
February 13, 2026
Gatau kenapa kasih rating tinggi tapi cukup seru memang ada beberapa bagian yg relate walau agak berat dan depresif apalagi ini dari sudut pandang anak SMP yg merasa bersalah, di beberapa bagian agak kesal dengan karakter Soo-ah tapi untungnya dia sadar. Sung Min dan Soo-ah ini bisa dibilang mereka saling menyelamatkan satu sama lain. Sung Min yg butuh ruang baru, Soo-ah yg mencari jawaban atas hidupnya dan akhirnya dia menemukan jawaban yg juga sebenarnya Yun-seo inginkan, love Sung Min.

Ternyata sangat berat hidup di dunia yang hari-harinya kulalui dengan rasa sedih, tertekan, dan keinginan untuk mati. Langit bagi orang-orang berwarna biru, bagiku selalu berwarna abu-abu
15 reviews
April 19, 2026
성인이 되서 다시 리메이크로 내주면 좋겠는 책😻
Profile Image for 류 시후(Sihu Ryu).
4 reviews
September 7, 2025
우울증 걸릴 것 같다고 읽지 말라고 했는데, 결국 읽었어요.
왜 베스트셀러인지 알 것 같아요. 심리를 정말 잘 다뤘네요.
그리고 책으로 울리는 거 쉽지 않다고 개인적으로 생각하는데, 울었어요.
많은 생각이 들게 하는 책이에요.
좀 아쉬운 점이라면, 책 분위기에 우울이 기본으로 깔려 있어서요. 그것 말곤 정말 좋은 것 같습니다.
특이 수아가 윤서와 같은 길을 걷지 않고, 살기로 결심한 데에서 마음이 울렸어요.
모든 인물의 서사가 탄탄하고, 청소년 자살에 대한 메세지도 잘 전달되었어요.
다음 책도 기대되네요. ㅎㅎ
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews