Sebetulnya saya terombang-ambing, hendak memberi buku ini bintang empat atau lima. Awalnya, saya ingin memberinya bintang empat saja. Karena, jujur saja, beberapa bab awal terasa sangat mengusik bagi saya. Bukan karena isinya, bukan juga terjemahannya, sebenarnya, melainkan... catatan kakinya!
Entah penerjemah atau editor merasa perlu menambahkan catatan-catatan kaki yang sangat tidak perlu dan malah mengganggu flow membaca. Hal ini saya perhatikan terjadi di sejumlah light novel yang terbit di Indonesia. Tidak perlunya kenapa? Beberapa alasan.
Satu, catatan kaki ternyata menjelaskan hal yang nantinya dijelaskan juga di dalam bukunya. Terkadang catatan kaki malah terasa 'merendahkan' pembaca, seolah mereka tidak mengetahui suatu hal atau tidak cukup bisa memahami atau mencari tahu sendiri hal yang dijelaskan tersebut.
Kedua, catatan kaki malah sibuk menjustifikasi alasan pilihan kata oleh penerjemah, sesuatu hal yang seharusnya merupakan bahan rundingan antara penerjemah dan editor saja, atau paling banter dituliskan saja nanti di kata penutup dari penerjemah atau glosarium di ujung buku. Itu juga kalau rasanya benar-benar diperlukan. Kalau pilihan kata tidak mengganggu kenyamanan ataupun pemahaman pembaca, ya urusan dapur itu tidak perlu diberitahukan ke pembaca.
Ketiga, yang masih ada hubungannya dengan nomor dua, penjelasan atau justifikasi yang diberikan juga sering kali malah terasa aneh dan kontradiktif dengan satu sama lain. Misalnya, awalnya catatan kaki (saya sebut catatan kaki saja ya, karena saya tidak tahu yang menambahkan adalah penerjemah atau editor) mengatakan, istilah miko yang digunakan dalam bahasa Jepang di novelnya (ya, tentu saja, namanya novel yang aslinya ditulis dalam bahasa Jepang) tidak digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia karena latar belakang cerita (lebih mendekati) Eropa zaman dulu, bukan Asia. Sebagai gantinya, digunakan istilah berbahasa Inggris, shrine maiden ...ya? Kalau begitu kenapa tidak mencari atau membuat padanan dalam bahasa Indonesia saja? Kreatiflah berbahasa Indonesia. Sebagai penerjemah dan editor, ada kebebasan besar berbahasa di tangan kalian, lho.
Nah, lucunya, berikutnya ternyata teks berbahasa Indonesia mempertahankan sejumlah istilah berbahasa Jepang seperti majin dan seigan. Dilengkapi dengan catatan kaki yang menjelaskan artinya apa. Lho? Lho? Tadi katanya latar belakangnya bukan Jepang jadi tidak mau pakai istilah Jepang? Bagaimana? Serius deh, cari saja padanannya dalam bahasa Indonesia, atau terjemahkan kalimat dengan luwes sehingga maknanya sampai ke pembaca tanpa perlu menggunakan istilah asing tersebut. Misalnya (ini misalnya saja karena saya tidak ingat persis kalimatnya), daripada 'ia memasang kuda-kuda seigan', buat saja langsung kalimat bahasa Indonesianya menjadi 'ia memasang kuda-kuda dengan pedang terarah ke mata lawan'. Selesai. Maknanya sampai, kan? Toh istilah seigan itu hanya digunakan sekali, bukan istilah khusus yang penting dan digunakan berkali-kali.
Gara-gara membaca berulang kali terganggu oleh catatan kaki, saya mulai membatin: nilainya di Goodreads gua sunat juga nih ntar? UNTUNGNYA, lama-kelamaan catatan-catatan kaki itu menghilang. Dan, benar saja, flow membaca jadi enak sekali! Kesalahan penggunaan imbuhan semacam ‘mengajarkan’ padahal seharusnya ‘mengajari’ juga hilang… rasa-rasanya sejak bagian berisikan wawancara dengan Solon. Selain itu, ya memang pada dasarnya bukunya menarik, dan terjemahannya bagus dan enak dibaca. Kecepatan membaca saya naik dan buku pun saya tuntaskan hari itu juga. Balik deh, jadi bintang lima.
Di antara banjir light novel bertemakan fantasi dengan latar belakang ala Eropa, Who Killed the Brave? ini unik karena ceritanya dimulai justru setelah para pejuang menang melawan Raja Iblis—keberhasilan yang sayangnya dinodai kematian sang Pahlawan. Siapa yang sebenarnya membunuh sang Pahlawan? Kita pun diajak ‘memecahkan misteri’ tersebut melalui serangkaian transkrip wawancara dengan sejumlah orang yang mengenal sang Pahlawan, juga tuturan yang bergonta-ganti sudut pandang orang pertama. Info yang kita dapatkan simpang siur, karena apa yang diucapkan seseorang saat wawancara, ternyata berbeda dengan apa yang sebenarnya ia alami atau pikirkan dalam hati. Di mata orang lain pun, kejadian yang sama pun bisa dipandang berbeda. Pun setelah misteri itu terjawab, masih ada pengungkapan lain yang mengagetkan di sepertiga akhir cerita.
Misteri yang menjadi judul novel ini selesai di volume pertama ini. Katanya sih volume kedua dan ketiga berisi cerita-cerita tambahan yang dibuat setelah novel ini selesai dan ternyata laris. Ini berbeda dengan Ishura—yang sama-sama dimulai setelah sang pahlawan menang melawan raja iblis tetapi malah hilang tak tentu rimbanya, dan orang-orang berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Misteri hilangnya sang pahlawan di Ishura mewarnai keseluruhan serial dan memang dijadikan bagian dari plot jangka panjang, sementara Who Killed the Brave? sepertinya aslinya direncanakan untuk pendek saja, dan kesuksesannya tidak disangka-sangka.
Volume pertama diakhiri kata penutup yang sungguh sangat menginspirasi dari si penulis, yang menceritakan bahwa ia mulai menjadi penulis novel pada usia 44 tahun. Who Killed the Brave? sendiri adalah novel (serial?) keduanya yang mulai diterbitkan saat ia berusia 45 tahun. Jadi kalau Anda sudah berkepala empat dan masih beraspirasi menjadi penulis yang karyanya diterbitkan… ayo, kita sama-sama terus berusaha!
Oh, yang terakhir: Saya lebih suka judul berbahasa Inggris terbitan Indonesia ini daripada judul berbahasa Inggris terbitan Amerika Serikat, haha.