Sst! Jangan keras-keras, nanti yang lain tahu! Hara memang diam-diam suka nulis diari, dan ini ceritanya...
Punya orangtua tajir dan sekolah di SMA elite nggak menjamin kamu bakal dianggap keren. Nggak percaya? Tanya Hara! Kalau mobil kamu cuma sedan bekas, kamu nggak atletis, atau kemampuan akademik kamu biasa banget, jelas kamu dianggap cupu!
Tetapi Hara langsung mati-matian les matematika demi merebut hati Sissy, anak baru di kelasnya. Apalagi Sissy cantik dan pintar, dan cuma tertarik sama cowok yang otaknya encer juga. Meski bersaing dengan Ramon si ketua klub matematika yang juga jagoan basket, Hara bertekad menghapus label cupu dan jadi cowok idaman Sissy!
Nana Sitompul dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, dan sudah menulis sejak duduk di bangku SD. Tulisan pertama yang mendapatkan penghargaan adalah cerpen "Ayah dan anak gadisnya" yang memenangkan Juara II Lomba Menulis Cerpen Femina tahun 1999.
Selain menulis Nana Sitompul juga menulis skrip film. Salah satu skrip film pendeknya yang mendapatkan penghargaan adalah "Pernikahan Maya" yang memenangkan penghargaan dari Kedutaan Amerika Serikat.
Selain hobi membaca, Nana Sitompul juga suka nonton film dan fotografi. Salah satu fotonya memenangkan Daily Winner di situs burufly.com
Buku ini adalah diari seorang cowok cupu - Hara, yang selama setahun mengalami banyak hal demi seorang Sissy sang pujaan. Kisah manis masa SMA, perjuangan mencari cinta, gaya hidup remaja dan Nana Sitompul menghantarkan cerita tersebut dengan bahasa sederhana serta mudah untuk dicerna khas remaja. Positifnya, Nana mengangkat banyak sisi baik remaja bahwa untuk mencapai sesuatu haruslah dengan meningkatkan potensi diri sendiri, bukan dengan sikap anti kemapanan dan lainnya. Saya pikir ini juga tujuan yang ingin disampaikan Nana dalam buku pertamanya ini.
Awalnya kita diajak untuk mengenal lingkungan tokoh utama, konflik akan terlihat pada hampir di akhir-akhir cerita, hal ini membuat seru dan mengarahkan kemana cerita ini akan dibawa. Liku-liku cerita memang terasa kurang dan rasanya satu tahun terasa begitu cepat untuk seorang cupu berubah dengan cepatnya dalam setahun, walau ada sedikit kesalahan di tahun pada akhir cerita (harusnya Juli 2012). Nilai-nilai positif dalam buku ini lebih jadi poin yang diangkat.
Secara keseluruhan bacaan ini asyik dan enak untuk dibaca, mengalir dan tidak tertutup kemungkinan bisa jadi diangkat ke layar televisi. Sebagaimana Penulis memiliki latar belakang yang bagus dalam pembuatan skrip.
Judul : Diari Hara “Catatan Harian Cowok Cupu” Penulis : Nana Sitompul Terbit : Jakarta, 2014 Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Tebal : 20 cm, 232 hlm Kategori : Teenlit
“Mimpi Yang Berawal dari Catatan Harian”
Menulis diari atau catatan harian adalah kegiatan personal yang sangat mudah dikerjakan, sekaligus mengasyikkan bagi sebagian orang. Saat menulis diari, kita tidak perlu taat pada aturan kebahasaan, kita bebas mengekspresikan apa yang terlintas di benak kita tanpa khawatir orang lain akan suka atau tidak dengan apa yang kita tulis. Satu hal yang menjadi prinsip diari, yakni sifatnya yang sangat personal. Menulis diari, seperti halnya mengabadikan rasa dan peristiwa. Tidak jarang, ketika seseorang menulis diarinya seluruh emosi dan pikirannya ikut tumpah dalam kata-kata. Walhasil, diari bermakna sebagai otobigrafi sederhana yang menunjukkan perjalanan hidup penulisnya. Namun siapa sangka, sebuah diari bahkan bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk menunjukkan masa depannya. Hal inilah yang terjadi pada Hara Farhan Panggabean, atau yang dipanggil Hara. Lelaki remaja yang merasa tidak beken karena tidak jago matematika ini ternyata punya hobi unik, menulis catatan harian. Hobi yang oleh banyak orang dianggap kuno, lebay, dan feminim untuk disukai seorang remaja bergender laki-laki. Tentu saja bagi Hara, diarinya adalah rahasia besar. Sesuatu yang hanya boleh diketahui oleh dirinya sendiri dan tidak seorang pun bisa menyentuhnya. Berawal dari sifat pemalu dan karakternya yang susah bicara banyak, Hara diarahkan dokter keluarganya untuk menuliskan apa yang dia rasakan ke dalam sebuah buku catatan. Buku itu nantinya yang menjadi teman imajinasi Hara untuk meluapkan perasaannya. Hara beranggapan bahwa buku diari adalah jurnal pribadinya yang biasa saja. Tak pernah terpikir olehnya bahwa sebuah catatan harian, ternyata bisa menunjukkan takdir dan impiannya di masa mendatang. Kejadiannya berawal dari upacara kenaikan kelas. Hara, si siswa cupu (culun punya) yang nyaris tanpa reputasi di sekolahnya, harus duduk semeja dengan jagoan matematika, Nana. Sama seperti Hara, ternyata Nana juga dikucilkan teman-temannya karena tingkahnya yang pendiam dan dicap tidak gaul oleh teman-temannya di sekolah. Perbedaannya adalah Nana berasal dari keluarga miskin, sedangkan Hara anak salah satu donatur terbanyak di sekolahnya yang memang didominasi oleh golongan “the haves”. Pertemanan Hara dengan Nana malah jadi semakin rumit, sebab Mami Hara tanpa sengaja menjadikan Nana guru privat bagi Hara. Di satu sisi, Hara tidak tahu bagaimana caranya berteman dengan gadis secerdas Nana. Di sisi lain, Hara butuh Nana untuk belajar dengan kemampuan otaknya yang pas-pasan. Matematika dan segala macam pelajaran yang berkaitan dengan angka, membuat Hara frustasi. Ditambah lagi, yang sering dijadikan standar kecerdasan seseorang adalah kemampuannya di bidang hitung-menghitung. Di level ini, Hara menyerah dan lebih memilih untuk curhat ke diarinya. Kemunculan tokoh Sissy, gadis pindahan asal Kanada yang cantiknya mirip Scarlett Johansson mengubah ekspektasi Hara. Hara benar-benar jatuh cinta pada Sissy dan berjuang setengah mati untuk terlihat keren di hadapannya. Masalahnya, Hara bukan satu-satunya lelaki yang jatuh cinta pada Sissy. Ada Ramon, si Mr. Perfect yang juga mengincar Sissy. Akhirnya, Hara pun meminta bantuan Nana agar makin bersemangat mengajarinya. Tanpa disadari, kedekatan Hara dan Nana menimbulkan sesuatu yang lain. Nana telah membantu Hara menemukan kekuatannya, menjadi penulis. Bukan memaksakan sisi lemahnya yang tidak jago matematika. Diari Hara, menyajikan lika-liku kehidupan remaja dari sudut tentang status sosial yang berbeda. Di dalamnya terdapat nilai-nilai persahabatan yang kental dan keteguhan hati untuk menggapai tujuan. Novel teenlit ini mengajak pembaca untuk merenungi hal-hal yang selama ini tampak sederhana, namun ternyata punya arti penting dalam hidup. Sebuah catatan harian adalah catatan kehidupan seseorang. Saat seseorang menuliskan masalahnya ke dalam diari, secara tidak sadar saat itu pulalah dia menuliskan solusinya. Bukankah suatu jawaban kadang tergeletak begitu saja di dalam sebuah pertanyaan? Yang membikin sulit adalah sejauh mana mata batin kita membacanya. Nana Sitompul (dara penulis asal Medan ini), kiranya berhasil menuliskan pesan-pesan tersirat ini dalam novelnya. Diari Hara asyik untuk dibaca sebagai teenlit. Gaya bertuturnya yang simpel dan ceriwis membawa kita merasa seperti mengintip sebuah diari remaja yang seru dan lucu. Kalimat-kalimatnya pendek dan tegas. Kalau pun si penulis Nana Sitompul memakai beberapa metafor untuk memperindah gaya bahasanya, metafor itu tidak terlalu kentara sebab pembaca terlalu tidak sabar untuk segera menuntaskan bacaannya. Konfliknya berjalan maju dan mengalir, membuat pembaca ikut merasakan perasaan si tokoh aku, Hara sebagai tokoh utama. Bagi yang hobi menulis diari, seperti Hara, tidak ada salahnya mengoleksi Teenlit ini. Selain mengajak kita masuk ke dalam cerita indahnya masa-masa SMA, buku ini juga menginspirasi siapa saja untuk mendokumentasikan peristiwa hidup dengan menulis catatan harian. Untuk yang pernah bermimpi menjadi penulis, mungkin bisa memulainya dengan mengisi catatan harian, seperti yang dilakukan Hara.
beli buku ini karena reviu singkat kakak penulis kece.
oke, mulai dari bagian yang gue suka dulu deh -penuturannya ngalir dan enak banget dibaca -di saat penulis lain menjago-jagokan tokoh cowok yang ganteng, pintar, kaya dan digilai para cewek, nana sitompul malah kebalikannya. yah, kecuali di bagian kayanya ya. -pesan moralnya pas banget buat para remaja yang memang sedang mencari jati diri, yaitu "jangan fokus pada kekuranganmu. tapi fokuslah pada apa yang bisa dijadikan kelebihanmu"
kekurangannya -dari awal udah mengernyitkan dahi, apa sih alasan hara nggak masuk sekolah? kok ya ndak dijelaskan -mengenai sistem tempat duduk yang diberi nama. nggak tau sih kalo emang ada sekolah yang seperti ini karena gue baru tau pas baca buku ini. tapi seharusnya dijelaskan alasannya karena buat gue ini bukan hal yang umum. -sama nggak umumnya memilih kegiatan ekskul padahal udah kelas 3. padahal setau gue kalo ekskul itu dipilih saat kelas 1 dan ditekuni selama menjadi siswa di sekolah tersebut. -dan bagian rahasia Nana. gue pikir di scene hara dan maminya ke rumah nana rahasia itu terbongkar. tapi setelah dilanjutkan ternyata bukan di bagian scene itu terbongkarnya. terus gue bingung sendiri aja gitu. -scene kepsek turun tangan atas "kasus" hara dan nana. buat gue itu nggak masuk akan banget. sebagai guru, buat gue scene berlebihan banget. nggak masuk di logika. untuk hal sepele sperti ini kalau dalam kehidupan nyata nggak akan kejadian. masa iya langsung kepsek yang turun tangan, melangkahi wali kelas dan BK. yah walaupun dijelaskan kenapa kepsek yang turun tangan, tapi tetep aja buat gue nggak masuk akal.
kapok nggak baca buku ini? nggak sih. nggak suka sama ceritanya? nggak juga sih. yah seperti rating yang gue kasih, the story was okaaaayyy.
Ternyata udah cukup lama saya nggak baca Teenlit GPU. Kalo menurut Goodreads sih, Teenlit GPU yang terakhir saya baca adalah 7 Detik - Primadonna Angela (17 Dec 13). Nah, entah karena faktor lama-nggak-baca-teenlit-GPU itu atau karena memang faktor Diari Hara ini sendiri, tapi saya kok ngerasanya gaya bercerita Mbak Nana Sitompul ini agak kekanak-kanakan. Mungkin karena pake media diari itu sih, nuansa kekanak-kanakannya jadi kental sekali. Beberapa konflik juga menurut saya konflik yang sederhana tapi dirumit2kan (masalah nyontek itu misalnya).
Saya kurang bisa menikmati 2/3 bagian awal novel ini. Karakter Sissy rasanya kurang konsisten. Awalnya Sissy diperkenalkan ala2 Cinta Laura yg suka ngomong keminggris, tapi ya sudah ... pas perkenalan itu saja. Selanjutnya pengarang seolah lupa kalau tadinya Sissy dikarakterkan seperti itu.
Sayang aja padahal menurut saya endingnya cukup oke. Kecuali bagian Hara yang sok2 ngambek & jual mahal nggak jelas, saya cukup suka bagaimana
Btw, melihat kalimat penutupnya kok saya curiga bakalan ada sekuelnya ya?
P.S. Ada typo yang jelas sekali karena ada di bagian Tentang Penulis: di lahirkan :|
tau buku ini karna di ulas sama salah satu penulis, Ika Natassa,, dan jadi penasaran, krn menurutnya buku ini bagus dan akhirnya beli juga,,
Diari Hara nyeritain tentang cowo cupu tapi anak orang kaya yg suka nulis diary, meski berkali2 disinggung ama dia, hari gini koq nulis buku diary tapi alasan dibalik nulis diary itu keren. meski dia anak orang berada tapi ortunya ngedidik dia utk ga bersikap berlebihan, keren nih pesannya. trus disekolah dia duduk sebangku sama cewe jenius tapi aneh, ga suka bergaul ama temen2nya yg lain. di kelas Hara kedatangan anak baru, seorang cewe pindahan dr luar negri, dan Hara langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. bisa ditebak lah selanjutnya gimana cerita tentang cowo cupu yg jatuh cinta sama cewe keren nan langsung populer. tapi ternyata cerita selanjutnya itu bener2 ga ketebak, gimana perjuangan Hara sampe akhirnya ngedapetin Sissy, si anak baru, gimana cerita ttg keluarganya Nana, ttg fitnah terhadap Hara dan Nana krn ada yg ga suka sampe lika liku hubungan Hara dan Sissy.
menarik krna disajikan dalam bentuk buku harian, top lah nih buku, bisa ngabisin ga sampe sehari semalem bacanya hihihi
Kesan pertama waktu baca novel ini benar-benar “remaja” banget. Tema yang diangkat mengenai remaja yang selalu berusaha untuk menemukan jati dirinya , ingin dihargai dan ‘dianggap” oleh komunitas seusianya Membaca novel ini, pembaca seperti dibawa pada masa-masa SMA yang penuh warna, lucu, penuh kebimbangan, persaingan, komikal, dan hasrat untuk menjadi yang terbaik.
Penulis menuturkan cerita ini ringan, mengalir lancar, jujur dan apa adanya. Sayangnya jalan ceritanya datar dan konflik kurang tajam. Endingnya bisa ditebak dengan mudah : perubahan Hara, dan semua berakhir happy ending. Meskipun begitu, novel ini sarat pesan moral dan sosial , bagaimana kita harus bersyukur terhadap apa yang kita miliki, tidak memilih-milih teman dalam pergaulan, berani menjadi diri sendiri, belajar berempati dengan kesulitan orang lain , tidak sekedar hura-hura semata. Novel ini juga mengajarkan kita untuk percaya bahwa setiap orang punya talenta dalam dirinya dan ia harus mengembangkannya agar menjadi orang yang sukses. Good job Kak Nana ! Moga makin sukses dengan karya-karyanya .
Hari gini masih ada ya cowok SMA menulis diary? Twitter atau Facebook jadi ajang curhat sih pasti masih ada dan sepertinya akan terus ada, terlepas apa medianya. Tapi ... diary? Masa sih? Nah, justru itulah yang membuat penasaran bakalan seaneh apa ceritanya. Yap, namanya juga tidak biasa, Hara Farhan Panggabean. Lahir di New York, 24 Mei 1994. Pertama kali membacanya sudah terbayang kisah cinta tak jelas yang mempertentangkan kelas antara si kaya dan si tidak kaya, si cantik dan si buruk rupa. Gaya sinetron basi gitu deh. Meskipun sudah bisa ditebak bahwa ceritanya akan happy ending, tapi setidaknya diakhiri dengan gaya manis yang membuat pembacanya - yaitu saya sendiri, tersenyum lebar. Lumayan bagus lah buat dibaca saat santai, dan bisa satu hari selesai.
Mba Nana ini teman kantor dan saya hapal betul cara dia menulis. Saya kaget banget pas baca buku ini. Karena setahu saya tulisan Nana itu pahit, getir dan yahh kalo bukan cerita pembunuhan, misteri ya protes terhadap negeri ini. Buku ini beda, so sweet hehehehe
Tapi tipikal karakter Mba Nana terlihat sama saja di semua tulisannya, pasti ada wanita (cewek) yang tidak mudah menyerah, pintar dan mandiri
gue pikir ini cerita mainstream. ternyata diputer-puter dan tetep aja mainstream. meski awalnya dugaan gue salah (jangan sok nebak cerita dalam novel deh sebelum baca) Sayang gue bacanya pas udah ga jamannya main twitteran, jadi ketawanya telat karena lupa caranya main twitteran. mungkin kalo baca awal-awal cetak, buku ini bakal interested
Lucu banget baca diari anak cowok. Jadi tau POV cowok pas ngecrushin cewek gimana. Btw I love Nana!! Dimana bisa cari teman kayak Nana ya??? Diajarin belajar, disupport pula, i will be the happiest person if i have a bestie like her, tapi bisa ga ya aku jadi temen baik dia juga?? Also Hara is the best boy!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awalnya sih emang merasa agak aneh dengan tata bahasanya, tapi inget ini tentang diari harian, bahasanya memang gak baku. Bukunya bagus sih, nyeritain tentang Nana yang bukan dari keluarga berada tetapi bersekolah di sekolahan elite. Moral ceritanya bagus. Gue suka bacanya kok