Ahh, saya tidak expect akan cocok dengan cerita ini. Biasanya saya kurang menyukai time travel dan fantasi, tapi di Mada ini, saya bisa suka dan cocok. Menurut saya, novel ini diperuntukkan yang ingin tahu tentang sejarah, tapi dengan kemasan yang berbeda dan pastinya lebih menarik. Memang, saya cukup menyukai sejarah dan cukup penasaran kehidupan jaman kerajaan di Indonesia. Mungkin hal itu juga yang membuat saya cocok dengan novel ini, meskipun ada sedikit modifikasi di dalamnya.
Di awali dengan pertemuan Gendhis, seorang jurnalis dengan Armada Biru, yang masih memiliki keturunan dengan Mahapatih Gajah Mada. Lalu membawa Gendhis ke era kerajaan majapahit. Tentang Mada, Gendhis, Hayam Wuruk. Beberapa kali sambil googling tentang nama-nama yang terasa asing (saat mendapatkan pelajaran sejarah). Tapi memang semuanya ada. Mulai dari Raden Wijaya, Dyah Gitarja, Bhre Tumapel, anggota dharmaputra, dan lain-lain. Ohh, nama Gendhis yang tidak ada pada saat saya search di masa majapahit. Menjelang ending akhirnya diceritakan bahwa memang nama Gendhis dihilangkan dari sejarah karena terkait dengan tragedi Perang Bubat yang membawa kesalahpahaman. Dan, entah mana yang benar, karena memang sejarah ditulis oleh pemenang.
Membaca ini benar-benar bisa menarik kita di era masa lalu. Tanpa adanya teknologi, surat yang ditulis menggunakan tinta di atas perkamen dengan huruf yang bukan alfabet, harus berkuda, serta membayangkan kostum yang mereka pakai mengingatkan kita pada serial kolosal di tv. Peperangan untuk menguasai kerajaan lain, perebutan kekuasaan, bahkan politik benar-benar ada dari zaman kerajaan itu.
Yang menarik adalah di sini banyak diceritakan hal-hal yang selama ini tidak ada dalam pelajaran sejarah. Mengangkat menjadi anak, menjadi adik, bahkan menjadi raja adalah hal biasa di masa itu. Seperti Arya dan Nertaja dalam cerita ini. Kematian Gajah Mada yang kalo di google masih simpang siur. Juga diceritakan tentang Perang Bubat, yaitu Perang antara Majapahit dengan Pasundan, yang beberapa orang masih mempercayai bahwa tidak boleh menikahkan laki-laki jawa dengan perempuan sunda, meskipun juga sudah banyak yang mematahkan mitos itu. Tapi di sini diceritakan awal mula penyebabnya.
Ahh, intinya novel ini bagus. Untungnya Mada kembali, menjadi Armada Biru. Armada Biru dan Gendhis 😍
Untuk yang menyukai sejarah khususnya jaman kerajaan, novel ini akan cocok.