Seorang siswi mati. Bunuh diri. Siaran live Instagram-nya saat gantung diri di ruang kelas menjadi viral. Benarkah sesederhana itu? Benarkah kejadiannya seperti yang terlihat? Karen tidak percaya. Anne tidak bunuh diri. Anne tidak mungkin bunuh diri. Namun, punya kuasa apa dia? Satu orang melawan ribuan orang yang mengatakan sebaliknya?
Sewaktu menghadiri acara diskusi karya Stephen King sebelum era virus (*rasanya seperti berabad-abad lalu :v), saya sempat direkomendasikan novel-novel anyar berlabel 'Urban Thriller' untuk bacaan gelap-gelap-sedap dengan kearifan lokal. Setelah sekian lama, akhirnya saya pun menjajal salah satu judul dari label tersebut.
Kelar baca, pikiran pertama saya begini sih: seperti banyak novel-novel thriller modern di Indonesia (paling tidak yang pernah saya baca), judul ini punya konsep potensial, tapi masih kesulitan membangun latar yang kuat, karakter yang realistis, dan/atau tema sosial yang menarik .
Sekitar 50 halaman pertamanya masih seru dan cukup bisa membangun rasa penasaran. Tata bahasanya rapi, ada kutipan-kutipan luar yang efektif di tiap awal bab, dan saya suka analogi 'menguraikan simpul tali gantung diri' dalam upaya tokoh utama mengungkap kebenaran di balik kematian misterius sahabatnya. Lalu... tokoh-tokoh kuncinya mulai muncul, dan novelnya pun jadi berpola macam drama sekolahan klise yang sering kita lihat di novel/sinetron/FTV lokal. Ada tokoh cewek ala Ratu Lebah superkaya ultrajahat meganyinyir dengan geng sosialita lokalnya. Ada cowok keren, baik, kaya, dan blasteran dengan warna mata hazelnut, di tengah-tengah para protagonis kita yang tidak berdaya dan geng cewek jahat ini. Ada tema perisakan dengan adegan-adegan dan tingkah karakter yang terlalu lebay dan kurang logis, sehingga jadi susah saya bawa serius.
Jujur, karena penokohan dan gaya dialognya semakin lama semakin menjauh dari selera saya, susah untuk tetap peduli dengan misterinya. Narasi tokoh utamanya juga semakin melelahkan dan menyebalkan, walau ada satu bab menarik saat dia mulai melancarkan serangan balik via medsos. Bagian ini mengangkat soal pembuatan akun palsu di Instagram dan psikologi penggunanya yang penuh kepalsuan; kelihatan sekali kalau penulisnya lebih fasih menjabarkan hal ini, sehingga saya jadi sempat berpikir alangkah baiknya kalau ini saja yang jadi tema sentral plotnya.
Seperti kata penulisnya sendiri di catatan akhir, novel ini masih jauh dari kata sempurna dan ada kesulitan menggarap detail eksekusinya (*saya jadi respek karena kejujurannya tersebut). Kalau kita ambil referensi dari karyanya Akiyoshi Rikako, sebagai novel bergaya sejenis yang naik daun dalam beberapa tahun terakhir di sini, sebenarnya yang patut dicontoh itu bukan hanya soal "wow twist-nya nggak ketebak dan bisa ngagetin pembaca!!", tapi lebih ke soal pembawaan... bagaimana bisa menuturkan cerita dengan cita rasa sedap.
Karena percayalah, kalau sudah banyak baca cerita misteri/thriller, ujungnya tidak ada lagi twist yang benar-benar baru. Yang akan lebih terkenang adalah dunianya, karakternya, dan apakah ada sesuatu yang jadi bahan pikiran lagi setelah misteri terpecahkan dan halaman buku ditutup...
Suicide Knot semacam novel remaja bergenre thriller. Seperti biasa, tulisan Vie enak dibaca dan mengalir.
Ada beberapa bagian yang terasa jauh dengan dunia ABG, tapi ya udah ketutupan sama gaya bercerita yang lincah. Total halamannya emang 300-an, tapi layout-nya bikin cepet balik halaman.
Untuk thriller, oke karena penulis bikin pembaca "baca terus" pengin segera tuntas. Eksekusi akhirnya masih kurang gereget dikiiiit padahal sangat potensial dengan lapisan plot yang udah disiapkan.
Kesan pertama yang muncul setelah baca novel ini cukup mencengangkan ya, mungkin kalau kalian type pengamat bisa dengan mudah menebak apa yang terjadi dengan Anne. Tapi disini Kak @vieasano jago membuat kita memiliki spekulasi2 untuk semua tokoh yang ada disini. Ide menggunakan kode SOS ketika salah satunya dalam bahaya sangat menarik, dan clue yang dibuat Anne agar Karen bisa menemukan penyebab kematiannya pun sangat unik. Kita seolah diajak ikut menyelidiki kasus tersebut, jadilah makin penasaran.
Alurnya dibuat maju mundur, jadi kita tau kenapa Anne membuat kode SOS dan mengajari Karen kode² petunjuk apabila salah satu dari mereka membutuhkan bantuan. Sekedar saran ada beberapa bagian yang menurutku kurang klik ya, jadi terkesan agak dipaksakan. Ada juga pengulangan kalimat sebagai penegasan tokoh yang aku rasa cukup dibagian awal saja. Aku rasa perlu dikembangkan sedikit lagi di beberapa bagian agar eksekusi akhir ceritanya agar semakin mantab. Tapi overall cerita ini keren👍
So far untuk karya thriller perdana aku suka dengan novel ini, karena menyuguhkan plot twist yang gak aku duga sama sekali. Oiya dari sini pun kita diingatkan ya, dampak buruk dari sebuah kasus bullying, itu benar² sangat merugikan semua pihak terutama korban, karena dampak psikis yang bisa membuat seseorang bisa berbuat nekat. Sepertinya novel ini cocok buat kalian yang suka dengan cerita misteri yang dibumbui dengan unsur detektif, kalian akan menikmati bagaimana ikut memecahkan misteri yang ada di dalam cerita ini.
Alhamdulillah. Dengan ini, seri Urban Thriller sudah kubaca semua 👏
Temanya oke, bullying anak sekolahan. Sungguh dunia zaman sekarang emang makin gila aja.
Penulis tipe yang menggantung-gantung fakta... kayak... tahan, kasih dikit, tahan, tahan, kasih dikit, tahan, tahan, eits bukaaan, kasih dikit, tahan lagi, kasih dikit... terus aja gitu di tiap bab 😂
Potensinya bisa ada dua : - Pertama, pembaca jadi kepo banget dan keterusan buka halaman buat baca. - Kedua, pembaca lelah karena merasa bertele-tele.
Aku tipe kedua.
Apalagi ketika tau ending bukunya. Semacam ada yang kurang(?)
Terlepas dari itu semua, buat yang cari cerita misteri tebak-tebakan, main-detektif-detektif-an-anak-sekolah-yang-bukan-detektif..., buku ini bisa jadi pilihan 😁
Kenapa gue kasih rating 3 alias di tengah-tengah? Karena: 1. Dari segi alur maju mundurnya ga bikin pusing, ga perlu dijelasin kapan kejadiannya, cukup dengan lo ganti bentuk font aja udah ngejelasin itu kejadiannya di masa lampau atau di masa kini. 2. Menurut gue pembentukan karakter tokoh-tokohnya ok, yaa lo bisa bandingin tokoh yang dominan dan yang cuma sekedar pemeran pembantu. Menurut gue penulisnya cukup fair ya ngasih kisah di masing-masing tokoh yang dia ciptakan. 3. Cara penulis untuk ngeset pikiran kita terhadap pembentukan karakter itu cukup ngejebak sih, walaupun sebetulnya lo emang ga boleh percaya sama siapapun kecuali Tuhan kalo lagi baca novel thriller kek begini. Tapi, untuk pertanyaan-pertanyaan yang agak liar setelah baca ini ngebuat rating penulisan ini menurut gue jadi agak gimana gitu: 1. Dengan plot twist yang diciptain penulis, sebenernya gue jadi bingung ‘siapa’ pelaku atau orang yang betul-betul bikin Anne jadi bunuh diri? 2. Trus, apa ya tujuan Anne bikin kode-kode itu kalo semisal emang Karen yang bikin dia suicide? 3. Dan disini ga diceritain apa aja perlakuan buruk Karen as her friend yang ngebikin Anne jadi kasih kode soal hukuman untuk Karen.
See? Gue kelar baca ini masih mikir sih, ini kenapa dan itu kenapa. Jujurly agak setengah puas dan ga puas, karena ga terjawab dengan akal sehat. Ada beberapa scene di novel ini yang menurut gue ga terbentuk dengan sempurna, justru ngebuatnya jadi agak cacat di sana sini. Ibarat lo lagi bikin telor ceplok, warna putih telornya matang dengan sempurna tapi kuning telornya cacat ada bulir putih dan ngebuat telornya jadi ga cantik aja gitu (?)
But overall, ini cerita sebetulnya ga ringan-ringan banget, cuma kecover sama gaya penulisannya aja yang friendly. Sisanya ngingetin gue sama vibenya Sad Girls by Lang Leav aja gitu, gatau kenapa.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Baca ini cukup satu hari. Teka-tekinya rapi, cukup sulit ditebak biarpun sedikit ketebak. Tapi, masih ada surprise ternyata! Aku suka banget karena cara penulis menyajikan kasus dan pemecahannya sangat kekinian, gampang buat ngerasa relate.
Aku rekomendasikan buku ini buat kalian yang kangen novel thriller lokal.
Sudut pandang orang pertama penceritaannya lewat POV Karen bikin saya terlibat secara emosional dan ikut menerka misteri yang berusaha dipecahkan lewat 'clues' yang ditinggalkan Anne pada Karen. Dan sesudah lembar terakhir, saya benar-benar bersimpati pada Karen. I think she's done a great job as a best friend, meski sbg manusia dia nggak sempurna • Tokoh-tokoh remaja lain yang memang menjadi fokus cerita memiliki problematika masing-masing, terutama dari segi pola pengasuhan dan nilai moral yang salah. Benci iya, tapi menurut saya mereka juga korban. Tokoh dewasa terutama orangtua minim di dalam cerita, seolah menunjukkan bahwa memang beginilah fenomena generasi milenial sekarang. Mereka lebih 'dibesarkan' lingkungan pertemanan, lebih dekat dengan media sosial, ketimbang dengan dunia keluarga yang nyata. Bahkan berlomba-lomba melakukan hal ekstrem demi mendapat sorotan karena kurangnya perhatian ortu • Cara Kak Vie membangun ketegangan lewat kode-kode dan ide menyisipkan buku-buku bacaan misteri favorit Anne di dalamnya itu kece. Jika seorang penulis menyatakan bahwa membaca ini serasa membaca karya Dan Brown dalam kearifan lokal, maka saya justru merasakan aura novel misteri ala Jepang di sini. Pendekatan psikologisnya mengingatkan saya akan novel False Beat yg jadi semacam ciri khas Kak Vie menurut saya • Dan meski terlihat sepele, saya suka nama-nama tokoh di sini. Cantik dan unik semua. Cocok gitu buat nama-nama siswa/i sekolah elit, sesuai seting cerita. Susah nggak, sih, Kak Vie cari ide buat menentukan nama gitu? Bisa banget bikin namanya^^ • Novel ini klop banget dibaca adik-adik remaja, sarat hikmah. Tapi juga pantas dibaca para orangtua atau calon orangtua, biar melek fenomena pergaulan anak milenial a.k.a anak zaman now. Jangan sampai kasus seperti Anne terulang kembali apa lagi sampai 'menular'.
Buku ke-4 seri Urban Thriller Noura yang aku baca. Bercerita tentang Anne, siswi SMA yang bunuh diri, dan dia melakukan siaran kematiannya live di instagram. Karena merasa ada yang ganjil dengan video tersebut, Karen (sahabat Anne) memutuskan untuk menyelidiki kasus tersebut.
Kalau kata aku ini buku teenlit yang di bumbui thriller, mungkin kalau aku bacanya dulu pas aku masih SMA aku bakal suka banget, tapi sekarang selama aku baca (apalagi separuh halaman awal) aku sering ngomong dalam hati "wew...teenlit bgt😫/hehe...wattpad banget🙈" (faktor U sih😅)
Aku suka pemilihan temanya yaitu tentang bullying, khas Urban Thriller banget, yang mana sangat relate dengan kehidupan sehari². Aku juga suka bab² yang pendek-pendek, jadi semangat baca, tulisannya juga ngalir. Untuk twistnya hmbbb...🤔 Aku lumayan suka sih, tapi yah seperti khas thriller lainnya, ga usah nebak² deh, pasti dijebak author. Sayangnya dibalik plot twist yang lumayan mengejutkan, banyak plot hole dimana-mana, kayak la trus petunjuk² selama ini ga guna bet setelah petunjuk akhir ditemukan😪. Juga kurang dijelasin sebabnya, maksudnya hey...itu nyawa loh, enteng banget buat ngelakuin itu😑
Ini novel ketiga seri urban thriller yg kubaca. Tema yg diangkat pun bisa dibilang sempat viral beberapa tahun belakangan ini. Perisakan a.k.a perundungan a.k.a pem-bully-an. Bener-bener bikin penasaran dan jujur novel urban thriller yg kubaca tercepat sampai saat ini. Cara mbak Vie merangkai masalah dengan penyelesaian serasa kayak baca novel-novel Agatha Christie dicampur misteri dari Rikako Akiyoshi.. It's so much fun. Kalo di Playing Victim kita disuguhkan bagaimana sosmed bisa berdampak begitu buruk bila disalah gunakan, disini justru sosmed bisa dibilang digunakan untuk hal baik. Merangkai clue, menebak siapa sih sebenernya. Walaupun sampai akhir pun masih tetep aja ada yg mengganjal dan bikin penasaran klo baca seri urban thriller. Bener-bener twist. Dibuat nebak-nebak siapa dan bagaimana. Berasa jadi detektif klo baca. But it's really worth it to read. Terima kasih sudah bikin penasaran sampai akhir.
⚠️ TRIGGER WARNING: perisakan, kekerasan, bunuh diri ⚠️
Suicide Knot (SK) nyeritain kasus Anne―siswi SMA―yang bunuh diri dan nyiarin video kematiannya secara live di Instagram. Masalahnya, ada yang ganjil dari video tsb. Karen (sahabat Anne) memutuskan untuk nggak percaya dan menyelidiki ulang.
Buku ini bikin saya melongo sejadi-jadinya di akhir cerita. Seriusan, plot twist akhirnya.... 🙃 bener-bener nggak kepikiran plot twist 'itu' ya ampuuun!
Sebenernya beberapa hal AGAK bisa ketebak karena penulis menebarkan petunjuk di bagian awal menuju akhir cerita. Yah, walaupun tetep aja saya ketipu abis-abisan sama plot twist akhirnya.
SK pake sudut pandang orang pertama (Karen). Karena di sini ceritanya si Karen menyelidiki ulang kasus bunuh diri Anne, jadi lebih kerasa tegang dan frustrasinya dia.
Dan tokoh antagonis di cerita ini (Bianca dkk) bener-bener tipe antagonis yang kebangetan antagonisnya. Bikin saya tepok jidat plus ngelus dada saking gregetannya. Menguras emosi banget kalo udah baca bagian dia merisak Karen & Anne. Nggak pernah ngerti sama orang yang tega ngebully orang lain sampe segitunya.
Yang paling saya suka tentu aja bagian ketika Karen berusaha mengungkap petunjuk-petunjuk yang dikasih Anne (sebelum dia bunuh diri). Rapi banget! Ditambah lagi gaya penulisannya yang ngalir banget. Nggak terasa tau-tau udah mau kelar aja.
Sayangnya, menurut saya endingnya agak... tanggung dan kecepetan? Saya jadi baca ulang beberapa halaman sebelumnya untuk memastikan endingnya emang kayak gitu. Tapi ini menurut saya lho yaaa. Dan sampai ulasan ini ditulis, masih ada beberapa hal yang bikin saya agak bingung.
Secara keseluruhan, saya menikmati Suicide Knot. Saya suka sama plot twist dan berbagai petunjuk untuk menguak kasus bunuh diri Anne. Kalo kalian penyuka cerita misteri-thriller, boleh coba buku ini! 😆
Pertama kali aku mengenal penulisnya yaitu saat secara random membaca salah satu cerpen di Iblis di Pekarangan. Dan setelah membaca cerpen-cerpen lain di buku itu (nggak semua sih), aku memutuskan bahwa cerpen beliau lah yang paling mendekati makna "Iblis Pekarangan". Tetapi, aku kok merasa kayak nggak asing sama nama penulisnya. Pas melihar track record-nya, oh iya ada karya beliau juga di Urban Thriller Noura, dan akhirnya kesampaian menyelesaikan buku ini.
Buku ini adalah buku keempat dari seri urban thriller yang telah aku baca dan menurutku ini yang paling seru sih. Saking serunya sampai dibaca dalam satu kali duduk dan tahu-tahu udah selesai aja.
Peringatan untuk pembaca: Sangat digambarkan sekali untuk tindakan perisakan dan kejadian bunuh diri. Be wise and be careful kalau memiliki trigger terhadap hal tersebut.
3.5⭐️
Jujur buku ini baik dari segi premis dan plot sangat amat potensial. Tetapi, ada beberapa poin yang agak dipaksakan, salah satunya mengapa [redacted] ikut terseret? Apa karena dia menjadi bystander? But, after all this time?
Memang kalau baca novel thriller-mystery tuh jangan pernah percaya pada siapa pun. Curigalah pada semua orang. Termasuk pada penulisnya sendiri. Karena manuver kadang-kadang suka tiba-tiba bermanuver. Sama dengan kata-kata di buku ini, kalau rahasia pun punya rahasia.
Tokoh Karen menurutku yang paling realistis sih. Sebagai anak SMA, dia tuh kerasa banget trial and error-nya. Kayak pas aja sesuai umurnya. Sementara tokoh lain, berasa udah pro player semua. Secanggih itu. Udah dibuat terharu dengan persahabatan "mereka" yang begitu dalam. Tapi, air mata naik lain di manuver terakhir.
Yang mau aku apresiasi adalah bagaimana mengalunnya teka-teki yang dibangun. Misteri pemecahan kode-kode, tanda SOS, rangkaian petunjuk melalui buku—ps. buku-bukunta fav aku juga—semuanya aku yakin dipikirkan dengan matang. Ya, cuma lagi dan lagi menurutku penyelesaian ending-nya yang nggak smooth. Tapi, kayaknya series ini hampir semua begitu di ending (Playing Victim belum tahu, soon akan dibaca).
Meskipun ada ina inu, tetapi buku ini tetap seru buatku. Sebagai buku thriller pertama yang ditulis oleh sang penulis, buku ini cukup bisa aku nikmati.
Akhir-akhir ini berita mengenai perundungan marak terjadi. Alasannya macam-macam, yang pasti, pelaku merasa melakukan itu hanya untuk kepuasan pribadi. Miris. Apalagi pelakunya masih SMA.
Hal serupa dialami oleh Anne. Setelah kematiannya, Karen mulai merunut lagi masa lalu sahabatnya. Kejadian ganjil dari video siaran langsung gantung diri Anne memicu terbukanya satu per satu petunjuk yang dia tinggalkan untuk Karen.
Semua petunjuk mengarah pada satu orang; Bianca. Cewek berwajah malaikat bersama para bodyguard-nya itu punya sejarah panjang bersama Anne. Persaingan tidak sehat membuat motif Bianca semakin jelas di mata Karen. Belum lagi beberapa fakta yang Anne sebar memperlihatkan betapa hidupnya penuh dengan kegelisahan.
What I like, kehidupan Anne yang terkuak lewat kode yang dipecahkan Karen nggak hanya berasal dari lingkungan sekolah, tapi keluarganya juga. Jadi, ada tekanan lain yang akhirnya membuat sosok Anne makin terpojok.
Jika Playing Victim memperlihatkan dampak sosial yang terjadi dari suatu peristiwa, buku ini mengajak pembaca menebak siapa dalang di balik kematian Anne.
Perundungan di buku ini cukup graphic, ya. So, be wise. Sebelum baca siapkan amunisi mental yang banyak. Gila juga kelakuan Silver Girls ke Anne. Sama sekali nggak ngotak dan bikin greget, akh!
Banyak yang mau kubahas, tapi nanti malah kepanjangan. Intinya, aku suka buku ini. Feel thrilling dan misterinya dapet. Mau nggak mau harus mengulik lagi soal bullying karena topik ini mesti banget dibahas kapan pun. Penting karena dampak ke korban bisa seumur hidup.
Dari awal sudah diingatkan kalau kita jangan fokus nebak siapa dalangnya. Jadi dibikin mikir keras kan, Nggi!
Okey ini buku urban thriller yang ciamik karena banyak membuat penasaran sampai akhir. Anne... Oo Anne.. gimana rasanya jadi kamu? Atau gimana rasanya jadi sahabatmu Karen.
Banyak orang yang mengenal kalian, it means banyak kebaikan yang kalian perbuat(?) Seharusnya seperti itu.
Aku baca ulang novel ini setelah nonton adaptasi film YouTube series-nya: Rahasia Punya Rahasia di https://youtu.be/KQkOofZZENE
Adegan bullying di YouTube-nya beneran intens. Sayangnya aku ngerasa kurang dapet keseruan utak-atik kode seperti dalam bukunya, akhirnya kuputuskanlah untuk baca ulang. Asyik juga sih mencocokkan dan membandingkan beberapa adegan dari versi buku maupun filmnya. Bisa kubilang versi series cukup setia dengan sumber aslinya. Kecuali bagian epilog yang kuharap nggak akan pernah dibuat.
Kenapa? Karena plot twist di epilognya itu sangat menyebalkan. Rasanya seperti ditipu mentah-mentah kayak kalau baca novelnya Akiyoshi Rikako. Bedanya novel Akiyoshi Rikako bikin kita merasa rela-rela aja kena plot twist. Sedangkan di novel ini malah bikin mengganjal. Sangat mengganjal.
Si pelaku plot twist itu rasanya nggak adil deh. Kenapa dia justru menghukum orang yang paling dekat dengannya dan mau berjuang mati-matian untuknya? Tapi kenapa satu orang yang berperan sehingga dia dirisak itu nggak dihukum juga? Dia kan juga berperan lebih parah dalam pengabaian.
Nggak adil, sumpah. Epilog itulah yang membuatku menurunkan rating bintang untuk novel ini.
Sebenarnya siapa yang lebih psycho di sini? Bianca atau si pelaku twist???
Karena itu, meski plot twist-nya sukses menjebak, rasanya jadi gamang sama buku ini. Meski tak dipungkiri cara penulisannya yang cantik bisa bikin aku terus membaca buku ini sampai selesai dalam waktu singkat. Teka-teki dan main kode-kodeannya ciamik. Kode ala huruf Jepang di epilog itu adalah kode paling favoritku. Sayang epilognya malah begitu.
Aku juga ikut ngerasa tertekan dengan adegan-adegan penindasannya Karen dan Anne. Cuma aneh nggak sih, kenapa Bianca sampai segitu marahnya cuma karena Karen ketahuan stalking akun Instagramnya? Bianca kan nggak tahu kalau Karen lagi nyelidikin Anne. Aneh. Adegan penindasan yang diterima Karen gara-gara ga sengaja nge-love postingan akun IG Bianca itu nggak main-main loh. Sampai dikurung di kelas tempat Anne bunuh diri setelah sebelumnya diguyur air.
Satu lagi dialog yang bikin aku tepok jidat. Yaitu ketika perawat sekolah dilaporin Karen kalau dia kemungkinan besar habis didorong sama Bianca sampai jatuh dari tangga. Setelah itu Bianca datang ke UKS dan sok-sokan mau jemput Karen. Dengan gobloknya tokoh perawat ini bilang, "Kamu baik banget, Bianca. Padahal tadi Karen bilang kamu yang dorong dia sampai jatuh. Nggak mungkin, kan."
What the fu...
Masak ngebocorin pengaduan korban ke tersangka pelaku, sih? Unbelievable. Aku kira dialog yang nggak masuk akal itu hanyalah keanehan versi sinetron Indonesia yang hanya ada di versi adaptasinya. Lah ternyata sumber asli novelnya pun udah mencantumkan dialog itu. Gak rela, sungguh.
I really hope Mbak Vie ke depannya bisa bikin cerita thriller yang rangkaian adegan dan dialognya lebih masuk akal. Soalnya aku cukup menyukai karya dia yang False Beat.
Synopsis One day, a high school student hanged herself at school while livestreaming on Instagram. That girl was Anne, a lover of books and mystery stories. Before her death, Anne left behind clues for her only friend, Karen, urging her to uncover the truth behind what really happened.
But can Karen fulfill her best friend’s request—even when her own safety is at risk?
Impression When I bought this book, I was warned that it contained more high school drama than mystery. And they were right. The first few pages managed to pull me in with curiosity. I mean, someone commits suicide while leaving behind a trail of clues for their only friend? What (or who) could have driven her to this point? How will her friend piece together the hints left behind?
However, as soon as one of the main suspects, Bianca, was introduced, I could feel the story’s primary focus shifting. It turned into pure teenage drama—bullying, cliques, and romantic entanglements between the characters. I found this somewhat disappointing because the novel had the potential to be something more gripping and memorable.
In the story, Anne and Bianca are both mystery writers competing in a writing contest. I thought this was a fascinating premise that could have been developed into an intense rivalry that ends in tragedy. But instead, the author chose to lean heavily into the drama. Alright then.
That being said, I do understand the author’s choice. The drama ties into the mystery’s central theme—bullying and suicide. I read this book a few months after the real-life case of a [soon to be] specialist doctor who died by suicide due to bullying from senior colleagues. So, in a way, this story feels very relatable for those trapped in similar situations.
Overall, I am okay reading this novel. However, there were certain aspects that stood out—especially one particular issue that ultimately forced me to give it such a low rating.
Twist
Codes and Clues
Personally, I think the author did a good job portraying Karen as she gathered the pieces of the puzzle one by one. As a reader following Karen’s perspective, I felt somewhat involved in the process. However, there are a few issues with the clues that I want to highlight.
Novel Suicide Knot merupakan novel kedua Mba Vie yang kubaca. Setelah sebelumnya, aku kenalan dengan novel Walk On Memories, aku kembali mencicipi tulisannya melalui Suicide Knot.
Sejak awal membaca, aku benar-benar dibawa ke dalam kisah Karen menguak kasus kematian Anne, sahabatnya. Anne yang ditemukan bunuh diri dan ditayangkan secara live di instagram. Pertanyaannya, apakah ini bener bunuh diri atau dibunuh? .
Apalagi Karen menemukan kejanggalan di video live instagram tersebut, belum lagi petunjuk kode-kode yang ditinggalkan oleh Anna.
Satu kata "PENASARAN". Mba Vie benar-benar rapi sekali mengeksekusi ceritanya. Novel ini benar-benar membuatku ketagihan saat membacanya. Aku jadi ikut-ikutan deg-degan membaca kode-kode yang coba dipecahkan oleh Karen. Walaupun Anne disini sudah meninggal, sosoknya benar-benar terasa nyata dari cerita Karen maupun petunjuk-petunjuk yang dia tinggalkan. .
Aku pun dibuat menebak-nebak seperti apa kisahnya, entah kenapa sejak awal aku memang curiga tentang "sesuatu", masalahnya aku belum tahu motifnya apa 😂 semakin lama membaca, semakin banyak hal yang mungkin akan membuatmu berpikir kembali, apalagi baru 2/3 cerita kok sudah ketahuan, ternyata oh ternyata ... endingnya itu keren banget, tidak ketebak, aku cukup kaget dengan plot twistnya. .
Tidak hanya kisah kematian Anne saja, ternyata ada isu perisakan disini yang juga dibahas. Perisakan yang sering terjadi di dunia nyata dan Mba Vie mengemasnya dengan sangat baik.
Dibanding Walk On Memories, aku lebih suka novel ini 😍 unsur misteri dan thrillernya dapat banget, aku SUKA ...
Pokoknya, kamu yang pengen menguji jiwa detektifmu, yuk baca kisah #urbanthriller dari @nourapublishing ini ❤
Novel yang simpel tapi pas bagian akhir mau ngomong "apa apaan ni?are you kidding me?" 🙂. Bagus banget sih😍
Aku suka sama Karen yang kelihatan sayang banget sama Anne dan berusaha banget buat cari 'keadilan' buat si Anne. Aku suka diajak mecahin kode-kode di buku ini. Intinya kalau ngeliat flashback kebersamaan Karen sama Anne aku ngerasin heart warming aja gituuu:). Beberapa bagian masih gak menyangka aja kalau tokoh tokohnya tu masih berusia kisaran 15-17 tahun.
Intinya sukaaaa bangettttt💜💜💜💜Harus banget bacaa!!!
Baru beres baca Suicide Knot-nya Kak Vie. Novel ini bercerita tentang Karen yang nggak percaya kalau Anne bunuh diri. Karen merasa pasti ada campur tangan orang lain, apalagi setelah dia menemukan petunjuk-petunjuk dari Anne dan menjadi sasaran bullying berikutnya dari geng Silver Girl. Yap, novel ini ngangkat tema bullying juga—yang kental. Jadi mungkin ada yang nggak nyaman baca novel ini
Di bagian awal, unsur misterinya udah kental. Langsung ada teka-teki perihal kasus Anne dan bikin aku ikut mikir. Aku suka sama teka-tekinya ini, seru diikutin. Cara penyampaian Kak Vie juga asyik dan mengalir. Pas Karen mulai ikut di-bully, aku jadi ikutan kesel plus geregetan juga. Soalnya bully-nya udah termasuk parah. Apalagi sampai Karen harus terjebak gitu. Aku jadi paham kenapa Karen nggak melapor ke sana sini, terutama ke orang tuanya. Yah, karena orang tuanya aja kurang peduli sama dia. Kalau dia ngasih tahu pun, kemungkinan nggak akan langsung percaya. Dan aku suka sama keputusan Karen buat nyelidikin masalah Anne ini
Plotnya juga seru diikutin. Kompleks, tapi tetep kerasa ringan gitu. Gimana ya? Intinya nggak njelimet dan mudah dibayangin di kepala. Sesekali ada flashback yang bikin ceritanya jadi lebih kuat juga dan ada pengecoh. Trus aku paling suka pas bagian menjelang akhir. Ini bakal spoiler sih kalau kujelasin agak panjang. Yang jelas, bagian ini tuh jadi titik balik Karen buat memberantas semuanya, dan aku sangat menikmati itu. Mungkin (mungkin yaaa), kalau ada sesuatu yang butuh anu, kayaknya aku bakal pake cara ini hahahaha
Karakter Karen ini emang kelihatan "berisik", tapi aku tetep nyaman bacanya. Cuma, aku merasa ada satu hal yang perlu diperjelas lagi dari karakter Karen. Soalnya ini berhubungan sama twist cerita. Dan untuk twist, tebakanku hampir bener. Aku dah curiga sejak awal soal itu, tapi aku cukup nggak nyangka kalau pada akhirnya begitu. Tapi, twist-nya ini nggak bisa kubaca gitu aja. Aku sempet baca dua kali buat mahamin twist-nya, karena awalnya aku kurang paham sama maksud twist tsb. Dan ini juga yang bikin timbul pertanyaan baru di kepalaku. Kalau twist-nya begitu, terus semua teka-teki yang udah ada sejak awal cerita tuh maksudnya apa?
Pertanyaan itulah yang bikin aku sempet mikir ulang soal ceritanya. Soalnya kalau karena Anna terlalu suka baca novel misteri/thriller, menurutku alasannya kurang kuat. Trus setelah kupikir-pikir lagi dan baca reviu-reviu di Goodreads, jawabannya memang udah ada. Cuma memang perlu ada penjelasan lebih lanjut soal itu biar lebih jelas
Tapi secara keseluruhan, aku suka sama novel ini. Thriller lokal yang asyikkk. Aku merekomendasikan novel ini untuk kalian baca~
Wuaahh mantaapp! Penyelesaiannya oke. It was a good story. Suka sama cara penulisannya. Ringan, jadi ngalir aja pas baca. Cerita urban thriller mystery yg bikin enjoy bacanya. Tiap halaman tuh bener² dibuat greget dan penasaran. Menurutku ini a must read sihh. Walaupun dibuat kesel aku sama Bianca and the geng yg kebangetan ngebully Karen, udah gitu Karen terima aja lagi, gak ada perlawanannya. Greget kali aku dibuatnya! Tp plot twist-nya WOW
Novel ini ditulis dari sudut pandang orang pertama yaitu Karen. Kita sebagai pembaca jadi bisa lebih memahami perasaan sedih Karen setelah ditinggalkan Anne, maupun ketakutannya saat berurusan dengan Bianca.
Alurnya maju mundur, seputar kehidupan Karen dan Anne saat Anne masih hidup dulu. Dengan adanya flashback ini, karakter dan sifat Anne yang sering menyimpan segala sesuatu sendiri atau terkadang nekat jadi bisa tergambar dengan baik.
Salah satu hal menarik dari novel ini adalah kode-kode yang ditinggalkan Anne untuk Karen. Anne sendirilah yang membuat kode itu. Sistemnya sendiri tidak begitu rumit, jadi mudah dipahami pembaca.
Buku ini dipenuhi tokoh yg gemar menulis. Ada juga beberapa judul buku yg mungkin familiar bagi booklovers. Berhubung sekolah mereka lebih berfokus pada dunia literasi ya. Jadi pingin pindah sekolah😅😅
Plot twistnya cukup mengejutkan, tapi masih dalam perkiraan karena pernah baca buku yang mirip-mirip. Jadi udah antisipasi gitu😅
Novel ini mengangkat tema perisakan yg cukup nyesek. Aku yang cuma baca jadi ikutan geregetan dan sedih sih. Tapi kurasa lebih baik kalau alasan Bianca sering berbuat begitu dijelaskan lebih rinci, supaya karakternya terasa lebih manusiawi. Karena nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api kan?
Tapi novel ini terhitung sangat bagus, mengingat Suicide Knot adalah novel thriller pertama penulis. Ditunggu novel-novel thriller selanjutnya ya kak @vieasano^^
3,6⭐️ Ini kayanya Anne yang bunuh diri ada dendam pribadi gara gara masalah cowo :) tapi satu hal yang bikin aku bingung, kan Anne bunuh diri lalu di sekolah itu ada pembully si Anne. Nah Karen yang mau mengkuak kematian si Anne pun dibully juga sama geng pembully sekolahnya yang membully si Almarhumah Anne.
Tapi di Ending katanya mereka ga ada di TKP waktu Anne bunuh diri, kok si pembully berlagak bahwa mereka pembunuhnya ya?
Si cowo juga aneh banget paraah kaya labil gituu jadi kaya mainin perasaan si Anne ga sih ? aku paling kasihan sama Karen yang “try hard”mencari keadilan buat si Anne, tapi malah dia yang berakhir menyedihkan juga.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aduh aku keseeeeeeel, aku kesel banget baca cerita ini pas tahu endingnya begitu. Aku yang tadinya simpati sama Anne jadi benci ama dia, ya ampun. Aku tuh gak paham gitu, aku belom bisa paham ama apa yang dia lakuin. Aku kasih 4
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jadi.... Motif pelakunya hanya itu terus kronologinya gimana??? Ya allah aku lemot ini malah gak tuntas rasanyaaaa
Tapi buku ini jadi rekor buku tercepat yang kubaca, baca sabtu malem senin siang selesai, tulisannya emang bikin pengen baca terus sih ya itu kelebihannya