Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mualaf

Rate this book
Kenapa kau memutuskan menjadi Muslim?

Pertanyaan ini sering ditanyakan kepadaku. Setiap kali aku ke masjid atau musholla, setiap kali aku menolak makan dan minum karena berpuasa, setiap kali aku mengucapkan Assalamualaikum kepada sesama Muslim.

Aku tak pernah bisa menjawab mereka dengan jawaban yang cukup baik. Karena untuk menjawab pertanyaan itu aku harus mengenang kembali segala penderitaan dan sakit hati, keluarga dan persahabatan, tawa dan kerinduan. Hingga akhirnya aku bisa menemukan cinta dan penerimaan di Indonesia.

Untuk menjawab pertanyaan itu berarti aku harus memulai kisah ini dari awal...

352 pages, Paperback

First published April 1, 2014

18 people are currently reading
149 people want to read

About the author

John Michaelson

3 books7 followers
Librarian Note: There is more than one author in the Goodreads database with this name. If adding books to this author, please use John^^^Michaelson.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (16%)
4 stars
23 (24%)
3 stars
36 (38%)
2 stars
12 (12%)
1 star
7 (7%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for ULa.
296 reviews13 followers
February 6, 2017
Ijak #2

Tidak suka dengan gaya bahasanya.

Bagian masa lalu sebagian besar kubaca cepat intinya saja agar tahu karakter heronya. Ternyata separuh bagian lebih buku ini menceritakan masa lalunya (yang sedikit membuatku bertanya kenapa diberi judul mualaf). Dan setelah jadi mualaf hanya sekitar 30%, itupun perjalanan menjadi mualafnya lumayan tidak menarik.


Dari yang kubaca cepat kisah hidupnya lumayan menarik, cocok untuk dijadikan film atau sinetron.


Karim Abdullah, "Mungkin bisa membantu jika kau memandangnya seperti ini". Dia menepukkan tangan ke lutut. "Kami diajarkan bahwa beberapa bagian dari Kitab Suci Al-Quran bisa menimbulkan intepretasi yang berbeda-beda, jadi itu bukan hal yang baru bagi Muslim yang taat. Tapi bagian-bagian terpenting sangat jelas dan bagian-bagian yang tidak begitu jelas bukanlah yang terpenting". (Hal. 236)
Profile Image for fauzanfadli.
21 reviews4 followers
May 16, 2014
this book is blessed with such an interesting title. Mualaf is a magical word, especially for Indonesian moslem. most of us (Indonesian) are born as a moslem. to know a person who choose to be a moslem after worshiping other religion feels like an honor, a pleasure, a pride, a winning moment for us.

i do put particular expectation when picking Mualaf from Gramedia week ago. i wished i'd find an interesting turning point, a blunt and bold reason of why, and a spiritual journey of some bule until he found Islam is the way. that ideas have already exploding on mind. let alone, Prof. Azyumardi Azra shouted a tempting endorsement upon this book!

the very first part of Mualaf telling us how a mid-age guy rolling his un-arranged life. being an A.C.O.D (adult children of divorce) seems hard. he is struggling with drugs, juvenile delinquency, bullying, early-loving story, young pregnancy, and stuffs. it divided into three chapters, and i like the third one. i think the first and the second one has the same plot, the same story. they meant to describe how he was such a sinful-untamed-faithless-adventurous-yet-so-loving guy.

this book is like short stories chained into one. not the type of book that made me get up from bed either. i read it casually, but when i came to the third chapter, i let myself awake until midnite. the way he tells us about how he sees Indonesian, how he understands Islam, and how he falls in love is mesmerizing. i love how he sum everything up, telling himself about how Islam is the way, how he translated all of the virtues and linking it into Islam. somehow, as a born-moslem, i feel like poked. how we are, with the blessing we all got, to born as a Moslem have ignoring those virtues. i feel poked when he quoted certain verse of Quran.

the point is, if he aimed to put this book as the medium of Dakwah. he does really a good job.

i feel ashamed. and you -- whether you're a Moslem or not, would surely feel so.

-----------------------------

ada banyak hal yang bikin kita melek. salah satunya adalah dengan bertemu orang baru. mendengarkan ceritanya, lalu secara spontan menbandingkan ceritanya dengan apa yang kita tahu. apa yang kita alami. saya sebisa mungkin tidak membicarakan tentang agama di sini (di dunia maya secara umum). apalagi tentang Islam. karena soal keyakinan adalah soal keyakinan. saya menjunjung tinggi lakum diinukkum waliya diin.

saya baru saja selesai membaca buku ini. seperti judulnya, sebagai seorang Muslim sejak lahir, ini adalah judul yang sangat menarik. membaca lembar demi lembar kisah seorang berkebangsaan Inggris dengan harapan menemukan titik balik soal keyakinannya tentang Islam.

sayangnya, saya tidak begitu tertarik dengan titik itu. paling tidak setelah membaca keseluruhan bukunya. buku ini tidak menceritakan tentang bagaiaman kontemplasi seseorang yang akhirnbya memeluk Islam. bukan perjalanan spritual penuh misteri yang magis. buku ini merangkai bab demi bab dengan satu tujuan yang tebal dan jelas. memberikan pembacanya serpihan-serpihan puzzle dan membiarkan kita semua punya terjemahan sendiri.

membuat temuan akan Islam yang dialami sendiri oleh penulisnya menjadi semakin indah.

yang justru membuat saya tertarik adalah cara si penulis membuat saya bangun. membuat saya lebih tertarik untuk bercermin. betapa beruntungnya saya. betapa saya telah terlambat mengenal Islam lebih dalam.

semoga ini bukan hanya sentilan kecil buat saya. insyaallah.
Profile Image for Eve.
106 reviews39 followers
December 28, 2016
First of all i asked where is the point or the story line that tells me about John on being a Muallaf. I thought like the other reader perhaps, but i'm not make it a really big deal, i enjoy the story line though, and super touched when i read the story John began himself as a Muallaf. These chapters drive me nuts and melancholic and insipired! I was crying like, ok stop Eveline.

This book actually tells the reader about John's past when he was young, how his background is, about his family, his mother, his grandmom-dad, his aunty and absolutely his love-life. Back and forth after reading this book i can summarize from the story that John is a family-guy kinda like. And i respect him because of it. He doesn't feel ashamed when he talks about how his family like, and the beautiful thing i found on a guy like him is he likes to cite about what his family members like to say. I’m a words lover FYI (ok stop Eveline you’re trying again).

I was in a badmood into John when he chose to live with Amy, his girlfriend, actually (girl)friend in high-school. I thought that Amy would be a perfect mother with a rock-style mother kinda like, but she's not. She's a terrible character in this book. I feel sad for her. I hope she's doing okay somewhere out there!

The weakness in this book that i feel so much are, John doesn't explain fully about his feelings, and suddenly just drop in and there about one scene to another, like it lack of explanation about how is he feeling to Amy, or to Kathryn or even to his Dad, or how this event can happen because I don’t know, I don’t read there are a decent explanation about it. And that's so much confusing me. Like i don't know anything about the whole plot and suddenly the writer just drop me out somewhere i feel strange about. If this book explains more about the main character feelings, for sure i would give it five :)

No matter how light the story about John become a Muallaf, i do touched about it. I do. And I’m feeling utterly better while reading the story inside John's point of view. I feel that Islam is beautiful, is lam is peace islam is right. What i can learn is, we don't know what God plans for us in the future, and the main point is be a kind-hearted person, then you will meet the one who deserves you.

I know that John has a bad past about his life, and i appreciate how much effort he did for make it better, for guarantte about his son when he's in debt or whatsoever. I believe that he has a kind heart, and he deserves Nurul as his wife. Ah, i'm crying! This one is beautiful. I love their conversation. It's simple, but deep.

One thing i'd like to say that, i'm proud as a Muslim and i believe that Islam is the right realigion on this universe.

I give it four because I enjoy it reading in English vers. So yeah rock you John, I’m your fans!
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,027 reviews64 followers
February 14, 2016
Mualaf, sebutan yang selalu menerbitkan rasa ingin tahu. Penasaran dengan alasan mereka memutuskan berpindah/menemukan keyakinan dan memilih Islam. Rasa penasaran yang juga menjadi alasan memilih membaca buku berjudul Mualaf ini.

Selengkapnya di Jendelaku Menatap Dunia

Terlepas dari kecewa karena isi buku di luar ekspektasi, bahasa yang digunakan membuat betah. Tidak kaku, malah seperti membaca novel. Pada bagian tiga, ketika John di Indonesia agak bikin empati. Bagaimana perlakuan orang-orang jalanan kepadanya, sebagai orang asing. Saya baru tahu kalau arti sebenarnya dari kata bule adalah albino, jadi ketika kita mengatakan bule sebenarnya bisa diartikan ejekan bagi mereka.
Profile Image for An-Nisa Nur'aini.
152 reviews36 followers
June 12, 2018
'Why did you decide to become a Muslim?'

This is a question often asked of me. Whenever I visit a mosque or musholla, whenever I avoid food and drink due to fasting, whenever I say 'Peace be upon you' to a fellow brother or sister. And you know what? I have never been able to offer a good enough answer. For I would need to talk of pain and heartache, of family and friendship, of laughter and longing. And ultimately, of finding love and acceptance in the heart of Indonesia. Which of course would mean traveling back to the beginning.


...Hence the first two parts of this book. Though I couldn't agree more with some of the reviewers here about just how long the supposedly character identification on part one and two, not to mention the plentiful conversations within those parts. But I guess, it's our task - readers - to work on putting two and two together before coming up with an even number and a whole comprehensive conclusion.

There were parts of the Holy Quran which were extremely clear in meaning and that these were the main foundations of the faith. And that there were other parts which were allegorical and open to interpretation. To my mind, these parts were like mirrors, reflecting the heart and soul of the reader, and a perverted heart would find a perverted meaning, and a decent heart would find a decent one.


So there we go again,

'So, why do you want to enter Islam?'

I paused for a moment, since my Indonesian was still quite limited. Not that it would have been easy to explain in any language, for on the one hand there were many reasons, and on the other hand there was only one. What on earth was I supposed to say to him? That everything in the Holy Quran was sensible and logical and in accordance with my own views on morality? That most of the Muslims living aroung me led such clean and peaceful lives that I often felt unworthy in their presence? Or should I simply declare the shahadah? The truthful and heartfelt assertion that there was no other god but God and that the Prophet Muhammad was His messenger.

'Ash hadu allaa ilaaha illallaahu, wa ash hadu anna Muhammadar-rasulallah.'
'The shahadah?'
'Yes, that's right.'
'Wait for a moment,' A frown creased his broad brown forehead, and he stroked his mustache and consulted with the others. 'There is nothing more?'
'Is it not enough?'
'This is from your heart?'
'Of course.'


Yes, there was no other god but God and that the Prophet Muhammad was His messenger. I should say it's quite a shame that some of us - who have accepted this faith since long ago, who have had the privilege to be introduced to this beautiful concept of Islam perhaps since we were kids - have taken that very truthful and heartfelt assertion that we recite in every prayer every day for granted, and do not really pay attention to its substance. I really hope that all of us keep being showered by His hidayah and may we all stay in this truly beautiful path of Islam.

I'm grateful I picked up the book from a bookshop sale late in 2014. And I'm grateful even more that I've finished reading it today, not to mention started reading it around five or six days ago.
1 review
November 14, 2018
huehuehue benar-benar mengubah impian saya dari yang tadinya menginginkan pasangan hidup dari Orang luar negri sekarang mikir-mikir lagi deh.
3 reviews
October 22, 2020
Alur ceritanya menarik dan relatable walaupun agak lambat dan vulgar.
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
February 14, 2016
Untuk pengalaman membaca yang lebih berkesan, saya sarankan membaca kedua versinya--Indonesia dan Inggris. Pertama, kisah ini dituturkan secara 'Inggris' sekali. Hampir tidak ada drama, mengalir seperti kita sedang diceritakan oleh orangtua tentang hidup mereka dahulu (bukan berarti Pak John di sini sudah tua juga, ya). Pasti ekspektasi awal pembaca Indonesia terutama yang muslim adalah bagaimana Mr. Michaelson menemukan titik baliknya sehingga bisa masuk Islam dan berubah 180 derajat. Tapi kenyataannya hanya fakta perjalanan hidupnya yang digambarkan filmis.

Kedua, banyak padanan Inggris-Indonesia dan sebaliknya yang menurut saya jadi daya tarik. Saat membaca versi Indonesianya, kita seolah membaca gaya bahasa terjemahan terutama bagian 1 dan 2. Di versi Inggris, kita akan menemukan catatan kaki mulai dari rujak buah (roughly chopped fruit with sweet and spicy sauce) sampai ojek (motorcycle taxi). Dan cara bertutur Mr. Michaelson di bagian 3 mulai terdengar Indonesianya, contohnya ketika berkata 'Sudah' beliau bilang 'Already'. Begitu literal, padahal sebelumnya beliau protes ketika ada yang berkata sweet tongue (lidah manis) alih-alih padanan aslinya, sweet tooth.

Ketiga, kita bisa lebih memahami budaya luar tanpa menghakiminya, meski Mr. Michaelson pun mengakui gaya hidupnya dulu tidak sehat. Membacanya dalam versi Inggris membuat semua itu terasa normal--tapi salah--sementara dalam Bahasa Indonesia culture shock-nya Pak John terasa sekali. Pokoknya seru. Patut dicoba--dan jangan khawatir, bahasa Pak John mudah dicerna juga sedikit yang menggunakan kata 'tinggi'. Saya suka sekali perdebatan tentang noun dan adjective. Dan menurut saya, banyak mualaf yang lebih muslim adjective daripada born muslim itu sendiri yang di sini digambarkan oleh tokoh Jaya dan Wening.

Sayangnya, bagi saya bagian 1 dan 2 terlalu panjang dan bertele-tele. Porsi dialog juga lebih banyak dan seringkali tak memakai dialogue tag sehingga saya bingung siapa yang berbicara. Rasanya itu yang jadi kendala saya sehingga saya merasa 'agak gimanaaa gitu'. Tapi tetap saya suka konsepnya, yang menceritakan bagaimana perjalanan panjang hidup seseorang memengaruhi keputusannya, bukan semata dan ujug-ujug mengagungi Islam tanpa alasan.
Profile Image for Anisa.
84 reviews7 followers
August 26, 2015
Gak sesuai ekspetasi aku. Awalnya ku kira kisah tentang mualaf dan islam menjadi hal yang mayor disini, tapi ternyata tidak. Setengah buku lebih menceritakan tentang kehidupan John sebelum memeluk islam. Kehidupannya di Inggris, budaya barat, dan lain - lain.

Padahal aku berharap buku ini lebih banyak bercerita tentang kehidupan John setelah memeluk islam, bagaimana pandangannya tentang islam. Hal yang dirasakan John sebelum dan sesudah memeluk islam diceritakan lebih rinci. Aku menginginkan hal itu.

Pada bagian pertama dan kedua (cerita tentang John sebelum memeluk islam) aku agak merasa bosan. Karena, hal - hal yang dilalui John adalah hal - hal yang biasa terjadi pada orang barat. Perceraian orang tua, narkoba, alkohol, rokok, seks bebas semua itu adalah hal yang sangat biasa di sana.

Melihat sinopsisnya, ku kira John mengalami hidup yang jauh lebih sulit daripada itu sehingga ia merasakan penderitaan.

Namun, ketika ia ke Indonesia ia mulai meninggalkan kebiasaannya selama ini. Dan pada bagian ketiga inilah aku mulai menyukai buku ini. Kisah tentang John yang mulai tertarik dengan kitab suci Al Quran lalu mulai membacanya dan pada akhirnya memeluk islam.

Sebenarnya membaca buku ini membuat aku malu dengan diri sendiri. Sebagai mualaf, John jauh lebih taat dibanding orang yang memang dari lahir sudah memeluk islam termasuk aku.
Banyak islam KTP.

Aku akhirnya senang melihat kehidupan John yang sekarang. Ia jauh lebih tenang dan damai sejak menjadi seorang muslim.

Buku ini lumayan haha :)
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
March 13, 2015
** Books 73 - 2015 **

Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015 dan Yuk Baca Buku Non Fiksi 2015

3 dari 5 bintang!


Saya berekspektasi lebih ketika pertama membaca buku ini dan isinya adalah biografi kehidupan John Michaelson ketika remaja di Inggris, tertangkap menjual narkoba kepada teman sekolah, menikah dalam usia muda dan mendapati bisa-bisanya istrinya sedang mengandung tapi menggunakan heroine, berasal dari keluarga yang broken home dan petualangannya menjadi tekniksi di kapal dengan melanglang buana ke berbagai negara hingga akhirnya ia memutuskan mengambil sertifikasi untuk mendapatkan gelar sarjana.. Tanpa ia sadari takdir membawanya ke Indonesia untuk mengajar di salah satu lembaga bahasa inggris dan menemukan pencarian kepada agama islam..

Porsi John melakukan pencarian di agama islam tergolong sangat cepat di cerita ini. gak tahu kenapa saya merasakannya seperti itu. tiba-tiba gara2 ketemu Al-quran terjemahan bahasa inggris lalu beberapa saat kemudian ingin masuk memeluk agama islam.. nuansa pencarian ke dalam agama islam baru terasa sejak halaman 277 yang mulai dari syahadat sampai tamat...

Selain itu terjemahan di buku ini membuat kurang nyaman dibacanya.. entahlah soal selera mungkin ya tapi ini membuat perasaan saya kurang lepas dalam membacanya dan tidak bisa membuat saya memberikan lebih dari 3 bintang..
Profile Image for Bai Ruindra.
42 reviews1 follower
September 10, 2014
Buku yang sangat menyentuh, tentang pencarian jati diri, sebuah keputusan besar, pembangkangan, pengkhianatan dan keyakinan baru. Tidak mudah menulis true story saat banyak kalangan masih memperdebatkan tentang pemindahan kepercayaan. Sayangnya pergulatan batin saat ingin bertukar keyakinan tidak dihadirkan dalam kisah ini. Sejak awal hanya mengisahkan tentang perjalanan kenakalan masa remaja. Lantas tidak ada perdebatan dalam diri tokoh sehingga memeluk Islam. Lebih tepatnya buku ini sebuah perjalanan hidup tokoh, kisah tentang berpindah keyakinan tidak diulas lebih mendalam sehingga pembaca dapat terlibat dalam segi emosi. Kita seperti sedang membaca kisah hidup seseorang yang mengalami perubahan ke arah positif.
Profile Image for Venessa.
165 reviews7 followers
March 27, 2016
This was a very enjoyable read about a mans journey to equanimity from a really rough ride. That was so warming, and so good to feel. There is of course no happy ending, because this isn't the end of the story, only a sense of learning and evolving, and breaking free from previous detrimental cycles. I of course love the family ties that are emphasized throughout. The journey makes its path through various vices and landscapes, and the description of both is such that you feel immersed in that situation be it drinking, smoking or the beautiful food.

Because it feels as though the writer has taken a flashlight and is shining it on various memories and moments in time, it keeps the reader engaged throughout.

I would recommend this to all my friends and family, including my own children.
1 review
April 28, 2015
Ceritanya menyentuh, jujur, tidak lebay atau bertele-tele, emosi yang ditampilkan apa adanya. Percakapan dan debat mengenai islam sangat cerdas, logis bisa dijadikan renungan. Pandangan Islam dari sisi luar sangat menarik. Saya pun jadi mengerti kurang lebihnya tentang dunia barat. Pemahaman Islam yang dimiliki karakter utama sebagai Mualaf terbilang bagus, dan penerapannya natural, nyata, netral, tidak menggurui dan diharapkan bisa membantu orang asing yang ingin tahu apa dan bagaimana sih Islam itu, yang sesungguhnya memiliki sisi intelek serta relevan di dunia modern. Dan adalah Agama yang damai bukan penuh dengan kekerasan seperti yang terlihat di mata dunia barat saat ini.
Profile Image for Berghie Monami.
27 reviews10 followers
August 22, 2016
Ceritanya bagus , tapi sayang banget bukunya gak sesuai dengan ekspektasi saya.
Waktu liat judulnya, saya langsung meyimpulkan kalau buku ini akan menceritakan tahap demi tahap bagaimana dia tertarik dengan agama islam. (Dan mungkin lebih spesifik surat dan ayat mana di Al-Quran yang membuat dia yakin?) ...
(Padahal alasan saya membeli buku ini karena ingin tahu bagaimana proses si tokoh utama tertarik masuk islam)
Sayangnya itu hanya diceritakan dalam beberapa halaman saja.
Tapi di luar itu ceritanya bagus, menarik, menyentuh .
Saya suka karakter tokoh utamanya karena dia sayang pada keluarga, realistis dan sabar.
1 review
May 5, 2014
Bahwa nilai-nilai yang diajarkan Islam sesungguhnya universal, datang dari nilai-nilai luhur kemanusiaan, sehingga dimiliki oleh hampir semua budaya, dibuktikan gamblang oleh buku ini. Cerita nyata yang dalam tetapi tidak dilebih-lebihkan, radikal tetapi tidak ekstem, manusiawi dan tidak kasar.
Profile Image for Nyonyakunyit.
17 reviews
June 16, 2014
This book is straightforward and very interesting. Read the book is like looking at the experience of the author in person, and made me realise how lucky I am born as a Muslim with indo culture (except for super high curiosity part.)
Profile Image for Nur Khamdah.
52 reviews
May 9, 2015
A very interesting book, very well written. I like the flow and the chosen words. Tho it's a biography but it's written differently with other books I've read. Enjoy reading it very much.
Profile Image for Prisca Aditya.
7 reviews
August 12, 2017
quickest english book I've read. Easy reading book, easy to understanding, with a romance touch in the end. worth to read :)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.