Na Willa is a bright, adventurous girl living in Surabaya's suburbs, her home in the middle of an alley surrounded by cypress trees. She spends her days running after trains, going down to the market, and thinking about how people can sing through radios. Indonesian author Reda Gaudiamo has created a collection of stories of curious adventures and musings of a multicultural girl growing up in Indonesia with an East Indonesian mother and a Chinese-Indonesian father. Set in a time when children spent the day outside, listening to Lilis Suryani's songs on the radio, and when race and gender would still go undiscussed, this is Na Willa's story as she grows up unafraid to ask the big questions.
Kinda book that tells us about parenting, but not in explicit way! Terpesona dengan tingkah gemas, jahil, pemberani, dan penuh rasa ingin tahunya Na Wila. Ga kerasa jadi terhanyut dalam tulisannya, dan dibikin penasaran sama bagaimana ia tumbuh. Apa lagi yang Wila temukan hari ini? Perabotan rumah apa yang ia jelajahi hingga membuatnya di-jewer gemas oleh Mak! Bagaimana harinya dengan Mbok, Ida, Dul, Bu Guru, dan teman-teman.
Thanks for this book, hangatnya membuat diriku tertawa ringan sepanjang cerita~ dan it reminds me a lot with my childhood <3
Na Willa #1 Awalnya aku pikir buku ini akan seperti novel pada umumnya tapi aku salah buku ini layaknya buku diary anak kecil berumur 3 sam 6 tahun mungkin, ya diary, isinya hanya kehidupan Na Willa sehari hari.
Buku ini membawa kita bernostalgia ke masa kecil dengan tokoh Na Willa ia adalah gambaran anak-anak sesungguhnya denga rasa penasaran lebih, ingin terus bermain, rasa ingin tau lebih.
Buku ini juga mengajak kita melihat dunia dengan sudut pandang anak kecil, jadu pas baca buku ini dalam hati juga ngomong "dulu aku gitu juga kaliya?".
Buku ini ringan mungkin sekali duduk juga selesai sangat bernostalgia dan ingin balik ke masa kanak kanak lagi setelah selesai baca
... Aku tak mengerti apa yang diterangkan oleh Mak. Tapi aku tahu Mak betul. Kalau tidak, bagaimana bisa radio sekecil itu berisi penyanyi dan orang yang suka omong-omong itu? (Hal.46) . Si kecil Na Willa, Yang tinggal di sebuah gang di Surabaya. Keseharian yang nampaknya sederhana, bersama teman, Mak, dan memikirkan hal-hal yang nampaknya pernah kita pikirkan juga semasa kecil. Namun, seperti apa keseharian seorang anak kecil dengan nama yang unik ini?
🧒 Saya tak punya angan berlebih selain bahwa novel ini sepenuhnya berkisah tentang kisah imajinatif dari seorang anak kecil (meskipun di blurb buku telah menuliskan ini buku yang berisi catatan-catatan Na Willa) namun rupanya kacamata seorang anak bernama Na Willa di novel ini, terekam beberapa kejadian yg mungkin cukup jenaka hingga terasa relate dalam pandangan orang dewasa.
🧒 Setiap pengalaman Na Willa yg disajikan dalam novel ini terasa menarik krn pengalaman yg seolah punya daya tarik tuk membuat pembaca mengenang masa kecilnya, beberapa pengalaman lainnya memberi pandangan bagaimana kita sebagai orang dewasa ketika menghadapi anak-anak dan keingintahuannya sampai pertanyaan, misalnya, "Mak, kalau orang mau jadi pengantin musti nangis?" Apakah ada diantara yg baca review ini kemudian mau ajak ngobrol Na Willa?🤣 Kehadiran tokoh dewasa seperti Mak, Bu Tini, bahkan si Mbok menambah warna cerita sekaligus membuat kita relate dgn pengalaman saat menghadapi anak kecil.
🧒 Kepolosan Na Willa yg juga tercermin dari rasa ingin tahunya tentang apakah penyanyi bisa masuk didalam radio, itu berhasil memecah tawa saya. Namun, selain tawa, pada salah satu keseharian Willa, saya merasa ada bagian yg seperti 'dark jokes' 🥹 Pada bagian yg lain, saya juga merasa relate dgn pengalaman Willa yg menghadapi argumen gurunya, yg mungkin bisa jadi sentilan juga bagi pengajar atau kita sebagai orang dewasa.
🧒 Saya pikir, buku Na Willa ini menghadirkan keseruan dan perasaan relate lewat kisah yg cukup sederhana. Selain itu, saya pribadi berharap orangtua, guru dan banyak orang dewasa bisa mencoba baca buku Na Willa ini.
Buku ini, sependek yang saya tahu, telah terbit sebanyak empat buku, namun saya pribadi terbatas sehingga baru membaca buku pertamanya.
Alangkah indahnya bisa melihat dunia kembali dari sudut pandang seorang anak kecil. Selain deskripsi Willa terhadap benda benda sekitarnya yang sangat polos, yang membuat buku ini menarik adalah adanya 'kepahitan' dunia nyata yang disisipkan di cerita - ceritanya, seperti tragedi kaki Dul, pernikahan kakaknya Ida, dan pengalaman Willa di sekolah pertamanya. Sehingga walaupun buku ini cocok untuk anak kecil, bisa juga dinikmati oleh orang dewasa karena tidak terlalu 'manis'. Buku ini juga bisa membuat kita bernostalgia akan masa kecil kita (bagi yang masih relate dengan setting cerita Na Willa): bergantung kepada orang tua dan bermain dengan tetangga.
Kalau sedang mencari buku ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat, bahkan dalam sekali bacaan, inilah buku yang kamu cari :)
Memutuskan baca ini karena sebentar lagi filmnya rilis dan ngeliat trailernya yang super cakeup!. Membaca buku dari POV Na Willa, seorang anak yang selalu penasaran dengan banyak hal sampai ngoprek radio (aren't we all?) HAHAHAHA.
Sepanjang baca jadi mimbik-mimbik karena recall memori waktu kecil. Part Na Willa dimarahin mak dengan berhitung "SATU" "DUA" itu generasiku sekali huhu :") juga istilah Tas Kempit.
"Aku paling senang tidur sama Mak. Karena pasti dapat cerita. Dapat Nyanyian. Dan bisa memeluk lengan Mak yang halus"
Penasaran buku ini setting tahun berapa ya karena masih pakai radio dan Lilis Suryani.
Saya membaca versi Indonesianya, tapi tidak menemukan di Goodreads ini. Komentar saya untuk semua serial Na Willa: bagussssssssss banget!!! Heartwarming dan saya paling suka cara penulisannya Bu Reda Gaudiamo di semua bukunya. Terima kasih, Bu Reda <3