Chairil Anwar - Sebuah Pertemuan, adalah skripsi sarjana [Arief Budiman] tatkala ia menyelesaikan pelajarannya pada Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, yang mencoba mendekati Chairil Anwar secara filosofis. Bagian pertama merupakan konsep filsafat eksistensialisme dan lain-lain; bagian kedua merupakan pertemuan dengan sajak-sajak Chairil Anwar. Buku ini merupakan usaha yang pertama-tama dalam mendekati Chairil Anwar secara demikian dan yang paling sistematis, pendekatan dan tafsiran dengan argumentasi-argumentasi yang dapat difahami.
[Diambil dari sampul belakang buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan]
Arief Budiman dilahirkan di Jakarta tanggal 3 Januari 1941. Ia telah menamatkan pelajaran pada Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. Tahin 1971 ia memperoleh kesempatan untuk memperdalam pengetahuannya di Perancis dan kemudian melanjutkan pelajarannya di Amerika Syarikat.
Sejak duduk di bangku SMA ia telah mulai banyak menulis terutama tentang sastra, seni lukis, dan seni drama. Kemudian tulisan-tulisannya mengenai psikologi, sosial, politik, dan kebudayaan umumnya, banyak dimuat dalam harman Kompas, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Kami dll. Ketika di Jakarta ia menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta. Sebagai seorang sarjana psikologi ia sangat menaruh perhatian pada filsafat, terutama filsafat eksistensialisme.
Dah mati pun menyusahkan orang, kata Arief Budiman bila dia gatal-gatal tangan nak tulis buku Sebuah Pertemuan ini.
Dari awal sajak Chairil hingga Chairil mati, semuanya dikupas satu-persatu. Keluarlah nama-nama hantu philosopher yang menghantui Chairil seperti Sartre, Nietzsche, Heidegger dan ramai lagi disepanjang ulasan sajak-sajak yang dikupas oleh Arief Budiman.
Memang Arief Budiman seorang penulis yang baik bila dilihat daripada cara dia mengulas satu persatu sajak Chairil. Sajak-sajak Chairil, dikaitkan dengan pandangan Chairil tentang hidup, pegangan Chairil tentang agama, masyarakat, diri sendiri dan perempuan-perempuan yang Chairil rasa lebih berbaloi didamping berbanding dewi-dewi syurga.
Sebetulnya sajak-sajak Chairil ialah fasa hidupnya yang pendek.Konflik dirinya sendiri yang berakar dari satu tanda tanya -Kenapa?
Boleh beli di Jargonbooks. Rasanya dah takada stok. Kalau nak boleh order.Kbye.
Judul : Chairil Anwar, Sebuah Pertemuan Penulis : Arief Budiman Tahun Terbit, Cetakan : 2007, Cetakan I Penerbit : Wacana Bangsa Tebal : 128 halaman ISBN : 979-23-9918-6
Menurut Crow and Crow dalam Djmarah (2011), psichology is the study of behavior and human relationship. Dari teori tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dipelajari oleh psikologi adalah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik yang berupa manusia lain maupun yang bukan manusia. Secara sederhana, ilmu psikologi dimaknai sebagai ilmu jiwa. Di mana perilaku yang muncul di luar diri seorang manusia adalah hasil dari kondisi jiwa. Tak berbeda jauh dengan sajak. Sajak yang tercipta diyakini sebagai sebuah cerminan kondisi psikologis sang penyair. Sementara itu, membaca sajak bisa juga diartikan sebagai upaya untuk melihat dan merasakan kegelisahan penyair terhadap suatu hal. Arief Budiman dalam buku Chairil Anwar Sebuah Pertemuan mencoba mendedah karya-karya Chairil—Sang Penyair Legendaris itu -- dalam sudut pandang psikologis. Buku ini awalnya adalah sebuah tugas akhir milik Arief Budiman yang menjadi syarat untuk meraih gelar strata satu pada Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. Buku setebal 127 halaman ini membahas secara detail karya-karya Chairil sesuai urutan munculnya. Dari permulaan hingga menjelang hari kematiannya. Atau bisa disebut sebagai metode “sequence analis”. Dengan bahasa dan analisinya yang mengalir, Arief Budiman menelanjangi satu demi satu karya Chairil. Pada bab awal ia menjabarkan sajak yang ditulis Chairil pada awal usia dua puluhan yang sedang bergejolak menenggak arti kehidupan. Arief, mencapture sajak berjudul Nisan yang ditulis Chairil tatkla menghadapi kematian neneknya. Berikut kita simak sajak berjudul Nisan, untuk nenekanda// Bukan kematian benar menusuk kalbu// Keridlaanmu menerima segala tiba// Tak kutahu setinggi itu atas debu// dan duka maha tuan bertakhta// Oktober 1942. – halaman 93. Barangkali tiba-tiba, Chairil melihat kembali wajah sang nasib yang kadang-kadang bernama maut seperti dia lihat ketika dia menuliskan sajaknya yang pertama Nisan. Wajah yang sama, dingin dan angkuh, melaksanakan segala rencana-rencana tanpa perasaan sedikitpun. – halaman 22. Sajak-sajak yang dibahas pada bab awal ini meliputi, (I)Nisan, Penghidupan, Diponegoro, Tak Sepadan,dan Sia-sia. (II) Ajakan, Sendiri, Pelarian, Suara Malam, Semangat, Hukum, dan Taman. Seluruh sajak ini dihubungkan satu sama lain. Dari pengamatan saya, bab pertama ini seluruhnya mengungkapkan tentang cara Chairil memandang kematian. Seakan-akan Chairil telah terseret dalam prinsip hidup sekali yang berarti. Seperti pangeran Diponegoro. Bab dua membahas sajak-sajak Chairil yang muncul di hari-hari menjelang kematiannya. Wilson Nadeak dalam buku Tentang Sastra (2010) mengungkapkan ketika Chairil masih muda, dia sudah “dewasa” karena pengalaman batinnya yang jauh menukik ke dasar kehidupsn yang sesungguhnya. Vitalitasnya berkobar-kobar, hendak mereguk nilai-nilai kehidupan ini dengan caranya sendiri.Sehingga karya yang dihasilkannya terbilang matang. Arief Budiman memotret itu. Pada awal kemunculan hingga akhir kemunculan sajaknya. Chairil bersajak tentang kematian. Membukanya dengan kematian dan menutupnya dengan kematian pula. Arief mengambil referensi HB. Jassin dan Zaini, salah satu sahabat Chairil. Zaini menyatakan bahwa Chairil bukanlah orang yang terlalu peduli dengan orang lain, begitu pula ia tak mengaharapkan orang lain peduli padanya. Uniknya, pada tahun jelang kematiannya Chairil menulis sajak tentang cinta berjudul “Mirat muda, Chairil muda”. Selain sajak tersebut ada pula sajak berjudul Buat Nyonya N, Aku berkisar antara mereka, Yang terempas dan yang putus serta menerjemahkan sajak milik W.H Auden berjudul Lagu Orang Usiran. Bab tiga Arief Budiman menganalisis sajak Chairil yang membahas agama; reliji. Melalui sudut pandang filosofis Arief Budiman mengutip pernyataan-pernyataan fisuf besar seperti Paul Tiliich, reliji mempunyai pengertian yang lebih luas dari agama. Seseorang yang relijius tidak selalu menganut agama tertentu. Seseorang yang relijius adalah mereka yang mencoba mengerti hidup ini secara lebih jauh batas-batas lahiriah saja. – halaman 50. Bab empat adalah bahasan tentang kehidupan dan persoalannya. Chairil sama seperti kita, manusia biasa yang mempunyai persoalannya sendiri. Arief Budiman mula-mula mengutip uraian Jean Paul Sartre tentang eksistensi kemudian dilanjutkan tentang kesadaran manusia. Ia menyatakan bahwa ketika binatang dilahirkan, ia sudah dilengkapi dengan kepandaian. Selain Sartre, muncul pula nama filsuf seperti Nietzsche. Nietzsche menamakan manusia sebagai “das nicht festgestellest Tier” atau binatang yang belum sempurna buatannya. – halaman 59. Oleh karena itu manusia musti belajar agar bisa melakukan tugas-tugas kehidupan. Akan tetapi, manusia juga mempunyai kemerdekaannya. Kierkegaard berkata: “Setiap saat, manusia ada dalam keadaan memilih, atau tetap mempertahankan kemerdekaannya atau menjadi budak.” – halaman 61. Di akhir bab, Arief Budiman kembali mengutip peryataan Sartre: Manusia dihukum untuk merdeka. – halaman 66. Manusia tak bisa kembali sepenuhnya ke “dunia binatang”. Kendati ia sudah mendapatkan kemerdekaan dan kesadarannya sejak lahir. Bab lima masih membahas tentang kesadaran manusia. Ada kutipan menarik; kesadaran yang adalah juga kemerdekaan, membuat manusia selalu harus membentuk dirinya yang adalah dunianya. Karena itulah Heidegger selalu menekankan, bahwa manusia tidak saja sekedar ada di dalam dunia, melainkan mendunia terus menerus. – halaman 79. Bab selanjutnya ada penutup yang berisi kesimpulan-kesimpulan Arief Budiman. Halaman selanjutnya berisi lampiran-lampiran puisi serta sekelumit kisah Chairil Anwar. Lampiran puisi ini menurut saya agak mengganggu. Alangkah baiknya kalau puisi yang hendak dibahas Arief Budiman diletakkan di halaman sebelum pembahasan puisi-puisi tersebut. Hal tersebut tentu mempermudah pembaca untuk memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam puisi sebelum melangkah ke dalam pembahasan Arief Budiman. Akan tetapi, saya senang membaca buku ini. Amat mencerahkan dan menginspirasi.
Saya tak sengaja menemu buku ini di perpus daerah, kesan pertamaku sepertinya buku ini menarik karena membahas sajak-sajak chairil dalam pandangan filosofis apalagi ditulis oleh seorang Arief Budiman yang mana adalah kakak dari Soe Hok Gie.
Penulis mencoba mendekatai chairil secara filosofis dan menganalisis sajak-sajak chairil dengan konsep filsafat eksistensialis. Dibuat secara sistematis berdasarkan tahun terbit sajak yang chairil tulis dan tafsiran yang disuguhkan dapat mudah dipahami.
Membaca buku ini membaca Chairil dengan cara yang tak saya bayangkan sebelumnya. Puisi-puisi cinta dan perjuangan, semua dikaitkan pada obsesi akan kematian dan kebebasan individu. Tapi Chairil seolah hanya pengantar, pembahasan utama Arief Budiman adalah pilihan seorang pribadi untuk merdeka tapi menyepi, atau mengikuti arus tapi membaur. Dari Nietzche, Kierkegard, Heideger, sampai Sartre dan Camus, dihubungkan dengan narasi yang mengalir. Sartre dan Camus paling banyak dibahas untuk disangkutpautkan dengan Chairil.
Mendefinisikan sang pujangga yang maha puitis dengan pendekatan filosofis, sepertinya cocok disematkan untuk buku ini.
Arief Budiman dalam buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, mencoba menjelaskan arti dari puisi Sang Pujangga dengan pendekatan yang mudah dipahami, walaupun sarat akan makna filosofi.
Tafsiran dan Argumentasi dari Arief terhadap puisi-puisi Chairil terekam jelas di buku tipis ini, walaupun sekitar 70 halaman, tapi rasanya bisa membuat betah duduk berlama-lama, karena penafsiran puisi dari Chairil yang begitu dalam.
Yang paling berkesan di buku ini (versi gw) adalah tafsiran Arief Budiman atas puisi Nisan dari Chairil Anwar. Yang menyebut bahwa kematian adalah suatu kejadian yang harus dihadapi oleh seorang individu, yang merupakan urusan pribadi individu dengan maut.
Kematian tidak perlu dijadikan hal abstrak, sebab Sang Maut pasti datang, tidak perlu dijemput, sebab ia adalah maha penjemput.
"Di hadapannya, manusia tidak berdaya, sebab Sang Maut menampilkan peran angkuhnya, kiranya manusia mengerti bahwa Sang Maut memang sungguh adidaya" —Rafli.
Dalam pidato Chairil Anwar yang dibacakan oleh Usmar Ismail di depan Angkatan Baru Pusat Kebudayaan tanggal 7 Juli 1943, ada bagian yang bicara begini: "Segala Ida mau terus tahu, bertubi-tubi tanya datang. Sehingga aku tak bisa bilang apa-apa jadinya. Segan malu tak menentu barangkali. Entah karena belum mendarah daging kepastian. Tapi terlepas juga tarian-coretan kasar dari kandungan, conteng-moreng dari maksud. Pujangga muda akan datang musti, pemeriksa yang cermat, pengupas-pengikis sampai ke saripati sesuatu. Segalanya, segalanya sampai ke tanggannya dan merasai gores-bedahan pisaunya yang berkilat-kilat. Segalanya! Juga pohon-pohon beringin keramat yang hingga kini tidak boleh didekati!!!
Tapi pujangga di masa akan datang - pujangga sejati! - memanjatnya, dan memotong cabang-cabang yang merindang-merimbun tak perlu........."
Dalam buku ini, Arief Budiman (selanjutnya AB) tak dapat disangkal memang telah melakukan "pertemuan" dengan Chairil melalui sajak-sajaknya. Pembabaran AB yang padat dan jelas mengingatkan saya akan sajak-sajak Chairil yang padat, yang tidak membiarkan angin masuk, yang tiap katanya dipilih dan kata "cabang" tak diberi tempat.
Metode yang AB gunakan dalam usaha menghayati karya Chairil adalah menggunakan sequence analysis, di mana keutuhan urutan munculnya sajak jadi faktor penting. Seperti hendak meniru pembagian antara "Kerikil Tajam" dan "Yang Terampas dan Yang Putus", AB mula-mula membagi sajak-sajak Chairil dalam dua kurun waktu besar: sajak-sajak di tahun periode kepenyairan Chairil dan sajak-sajak di tahun akhir hidup Chairil. Kurun pertama AB jabarkan pada bab satu, kurun kedua pada bab dua. Bab tiga membahas sajak-sajak Chairil yang mempersoalkan agama: Di mesjid, Isa, Doa, sajak Putih, dan Dua Sajak Buat Basuki Resobowo. Bab empat sampai enam membahas pemikiran-pemikiran yang turut "membuka" pengamatan AB dalam "pertemuan"nya, mulai dari Sartre, Nietzsche, Heidegger, Fromm, Rank, sampai Camus.
Sayang sekali di sini tidak dibahas semua karya Chairil, hanya sajak, itupun tidak semua (tapi sebagian besar dibahas). Namun , musti diakui pendekatan yang menggunakan dasar psikologi dan filsafat yang telah dilakukan AB sangat berani. Bagi saya terang sangat berani karena dengan menggunakan pendekatan semacam itu penulis musti sangat hati-hati dalam memisahkan antara dia sebagai pengamat dan karya Chairil sebagai yang diamati. Karena ada perang, ada keadaan tarik-menarik, ada situasi berebut tempat antara subyek dan obyek. Ab sendiri mengakui hal ini tidak sederhana, ada pembauran dinamis antara dia dengan karya Chairil. Dan menurut saya, dengan kesadarannya, Ab berhasil membagi hasil pengamatannya secara sistematis.
Saya tidak begitu suka dengan puisi, karena saya tidak banyak mengerti puisi-puisi yang ditulis orang yang dikenal sebagai penyair atau pujangga. Tetapi setelah orang menginterpretasikan puisi dengan sangat keren, saya berpikir ulang soal puisi. Ternyata di balik kata-kata yang membuat kening berkerut, ada makna yang menyamudra. begitu dalam.
Puisi ternyata bukan makna siap saji. Perlu penelusuran. Perlu dibaca berulang-ulang. Perlu dikunyah 33 kali untuk mengerti . Puisi seperti hutan belantara, seperti samudra. hanya menarik jika kita berminat untuk menjelajahinya.
Membaca buku karya Arif Budiman ini membuka mata saya soal puisi. Dalam membaca puisi kita perlu membawa segala pemahaman dan ilmu kita untuk membongkar ide-ide yang berada di balik puisi.
Buku yang aneh. Aslinya adalah skripsi Arief Budiman di Fakultas Psikologi UI. Membahas Chairil Anwar secara psikologis melalui karya-karyanya. Diibaratkan sebagai pertemuan antara karya yang dihasilkan oleh Chairil Anwar sebagai pribadi yang unik dan Arief Budiman dengan segala pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya.
Sangat menyenangkan juga ternyata membaca teori psikologi dan kemudian dihubungkan dengan pribadi Chairil Anwar dan kemudian dengan karya-karyanya.
Saya beri bintang 5 untuk idenya yang unik dan eksekusinya yang mengagumkan.
mengupas sajak-sajak chairil anwar secara medley sambil melakukan autopsi terhadap pemikiran dan falsafah sang penyajak raksasa ini menggunakan pekakas eksistensialis.
terasa setiap sajak-sajak tersebut naik ke darjat metafizik dan menerawang ke serata angkasaraya meskipun semua sajak-sajak itu sudah pernah dibaca berkali-kali sebelumnya, namun pembacaan sajak yang sama dalam buku ini menerbitkan perasaan yang sama sekali berbeza .
Buku dari skripsi Arief Budiman (kakaknya Soe Hok Gie) yang membahas puisi Chairil Anwar dengan sudut pandang eksistensialisme. Banyak kutipan Camus dan Sartre di buku ini.