Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perempuan Kembang Jepun

Rate this book
Walau menurut banyak orang 98% kepala laki-laki berisi uang dan seks, dan 2% sisanya---cinta dan kebersamaan---ada di kepala perempuan, novel ini bukan sekadar bercerita tentang uang dan seks. Uang memang dibutuhkan dan seks memang dinikmati, tapi dalam cinta dan kebersamaan itulah Sang Hidup meletakkan sebuah arti.

Dengan latar belakang kawasan Kembang Jepun di Surabaya pada tahun 1940-an, novel ini bercerita tentang:

Tjoa Kim Hwa, yang selalu berkedok untuk uang dan seks.

Sulis, yang selalu menuntut uang dan seks.

Lestari, yang tidak butuh uang dan seks.

Kaguya, yang lahir karena uang dan seks.



Tapi...



Matsumi masih mencari kehakikian cinta. Ternyata ada cinta yang layak dipertahankan, ada cinta yang harus diperjuangkan, ada cinta yang harus dilupakan.

Matsumi merindukan kebersamaan. Ternyata ada kebersamaan yang gelisah, ada kebersamaan yang hampa, ada kebersamaan yang tanpa apa-apa---tanpa uang dan seks.

Ada laki-laki dan perempuan.

Ada tua dan muda.

Ada anak dan orangtua.

Dalam novel ini, ada uang, seks, sekaligus cinta dan kebersamaan.

ADA WARNA HIDUP!

Karakter-karakter dalam Perempuan Kembang Jepun adalah kuat dan hidup dengan gaya penceritaan seperti tokoh yang bertutur.
Tema "pencarian cinta" sangat kuat dalam novel ini. Dengan latar belakang kota Surabaya di tahun 1940-an dan tahun 2000-an, simak kisah anak yang mencari cinta ibu, ibu mencari cinta anak, suami mencari cinta istri, dan seorang geisha yang mencari cinta sejati.

288 pages, Paperback

First published January 1, 2006

12 people are currently reading
165 people want to read

About the author

Lan Fang

23 books28 followers
Lan Fang adalah seorang penulis kelahiran Banjarmasin. Alumni Fakultas Hukum Univ. Surabaya ini menulis sejak 1986. Karya-karyanya menjuarai lomba di tabloid Nyata dan novelette Femina 1998, 1999, 2003 dan 2005.

Lan Fang telah menerbitkan: Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), Lelakon, Ciuman di Bawah Hujan (2010). Di tahun 2009 ia juga menerbitkan buku cerita anak: Kisah-kisah si Kembar Tiga (2009). Dan akan menerbitkan kumpulan puisi Ghirah Gatha.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (19%)
4 stars
48 (28%)
3 stars
60 (35%)
2 stars
22 (12%)
1 star
7 (4%)
Displaying 1 - 30 of 37 reviews
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
January 21, 2010
Kembang Jepun adalah nama sebuah kawasan di kota Surabaya. Entah didapat dari mana asal muasal istilah Kembang Jepun. Konon, di jaman Jepang kawasan ini adalah tempat berkumpulnya para serdadu Jepang untuk mencari hiburan lengkap dengan kembang-kembang ('gadis-gadis') yang setia menghibur serdadu-serdadu dan penguasa Jepang yang saat itu lazim disebut 'Jepun' sehingga kemudian daerah itu dinamakan "Kembang Jepun" yang berarti "kembangnya jepang"

Selain itu Kembang Jepun sejak jaman Belanda dan Jepang juga dikenal sebagai kawasan perdagangan yang banyak didiami oleh orang-orang China. Mereka membuka toko-toko dan restoran lengkap dengan tempat hiburan malamnya, bahkan hingga kini Kembang Jepun merupakan daerah sentra perdagangan terbesar di Surabaya dan juga dikenal sebagai China Town-nya Surabaya.

Ketenaran dan legenda kawasan ini pula setidaknya telah mengilhami para sastrawan untuk berkreasi berdasarkan legenda yang menyelimutinya. Sebut saja sastrawan senior Remy Sylado yang pada tahun 2003 menerbitkan novel berjudul "Kembang Jepun", Kini di tahun 2006 ini penulis asal Surabaya Lan Fang melahirkan sebuah novel yang memiliki judul yang hampir sama dengan novel Remy Sylado. Novel keempat Lan Fang yang kabarnya dikerjakan selama 3 tahun ini diberinya judul "Perempuan Kembang Jepun".

Dengan latar belakang kawasan Kembang Jepun di Surabaya pada tahun 1940-an, novel ini bercerita tentang tokoh Matsumi, seorang perempuan Jepang yang berprofesi sebagai geisha. Matsumi adalah wanita cantik yang lahir dari sebuah keluarga miskin di Jepang, kemiskinannya membuat dirinya dijual oleh keluarganya sebagai geisha di distrik Gion di Kyoto

Matsumi tumbuh menjadi geisha yang berbakat. Berkat kecantikan dan kemahirannya dalam memainkan shamisen, bernyanyi, membaca puisi, menemani tamu, memijat, hingga memuaskan hasrat seks para tamunya, lambat laun ia menjadi seorang geisha yang terkenal di Kyoto. Pada saat puncak ketenarannya itulah Matsumi ditawari untuk mengikuti Shosho Kobayashi ke Indonesia. Baginya ini adalah kesempatan emas karena Shosho Kobayashi akan memegang peranan posisi penting di Indonesia selaku panglima perang tentara Jepang. Hal ini berarti Matsumi akan menjadi perempuan penting.

Karena geisha hanya ada di Jepang sedangkan jika ada perempuan Jepang yang menjadi penghibur di luar Jepang dianggap merendahkan martabat bangsanya, maka Matsumi masuk ke Indonesia dengan menyamar sebagai wanita China dengan nama Tjoa Kim Hwa.

Sesampai di Surabaya Matsumi menjadi wanita penghibur di klub hiburan milik Hanada-San yang melayani Sosoho Kobayasi dan tamu-tamu penting lainnya di kawasan Kembang Jepun

Di klub hiburan Hanada-san Matsumi beremu dengan Sujono, seorang kuli angkut kain yang bekerja di Toko Babah Oen yang kerap menantar kain di tempat Matsumi bekerja. Sujono memang sangat lihai memikat hati wanita, lambat laun Matsumi jatuh ke pelukan Sujono. Matsumi sadar bahwa Sujono telah beristri dan memiliki anak, namun ia tak kuasa menahan bujuk rayu Sujono yang piawai meluluhkan hatinya. Belum lagi Matsumi berkeyakinan jika ia tinggal bersama Sujono maka ia akan membentuk sebuah keluarga yang indah dan membuat dirinya menjadi seorang perempuan yang utuh dan melayani suami

Dari hubungan tersebut kemudian lahirkan seorang anak perempuan bernama Lestari. Namun apa yang diidam-idamkan Matsumi untuk membentuk keluarga yang indah dengan Sujono sangat jauh dari kenyataan. Lambat laun sifat buruk Sujono terungkap. Sujono yang gila sex lebih menikmati keindahan tubuh Matsumi dibanding bertanggung jawab terhap pemenuhan kebutuhan pokok keluarga yang telah dibentuknya. Walau Sujono mencintai Matsumi namun baginya Matsumi hanyalah pemuas nafsu sex-nya dan pelarian dari kehidupan rumah tangganya dengan istirnya (Sulis) yang kerap diwarnai pertengkaran.

Pekerjaan Sujono sebagai seorang kuli tentu saja tak bisa memenuhi kebutuhan dua istrinya. Matsumi terpaksa menggunakan uang tabungannya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Di sinilah konflik mulai meruncing. Ketika tabungan Matsumi habis, sedangkan Sujono tetap tak berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, akhirnya setelah Jepang kalah Matsumi lari meninggalkan Sujono. Matsumi kembali ke negaranya dengan meninggalkan anak dan suaminya.

Tema pencarian cinta sangat kuat dalam novel ini. Ibu mencari anak, anak mencari ibu, suami mencari cinta istri, dan seorang geisha mencari cinta sejati. Lan Fang menyuguhkan novel ini dengan menarik. Selain tokoh Matsumi dan Sujono, novel ini mengupas juga kehidupan tokoh-tokoh lain yang masing-masing diceritakan dalam bab-bab tersendiri.

Pada tiap bab, penutur ceritanya adalah tokoh yang menjadi kupasan pada bab tersebut. Jadi novel ini memiliki bab-bab tersendiri yang mengisahkan dan mengungkap karakter-karakter Sulis, Matsumi, Tjoa Kim Hwa, Sujono, dan Lestari . Hampir seluruh tokoh digambarkan secara kelam dan memiliki pilihan-pilihan hidup yang salah dan sulit untuk dijalani..

Dengan adanya bab-bab tersendiri dari masing-masing tokoh dalam novel ini, maka semua karakter tokoh yang muncul tereksplorasi dengan baik, dan masing-masing peristiwa dilihat dari sudut pandang tokohnya masing-masing. Membacanya seperti menyusun sebuah rangkaian puzzle yang lambat laun akan memberikan gambaran utuh dari kisah dalam novel ini.

Dibalik kisah cinta yang pedih, novel ini juga mengungkap bagaimana kejinya para tentara-tentara Jepang dalam memuaskan nagsu berahi mereka. Seorang wanita penghibur bisa digilir sepuluh hingga lima belas tentara Jepang karena jumlah mereka lebih banyak dibanding wanita penghibur. Selain itu merekapun tidak dibayar, alih-alih membayar para perempuan itu diberi tempelengan dan siksaan yang diluar peri kemanusiaan.

Selain itu novel ini juga menyajikan sekilas kehidupan dan filosofis kehidupan seorang geisha. Bagi mereka yang pernah membaca Memoir of Geisha - Arthur Golden mungkin bukan hal yang asing, namun bagi yang belum pernah membacanya novel ini setidaknya bisa memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai perbedaan seorang geisha dengan wanita penghibur biasa.

Untuk memudahkan pembacanya dalam menyelami jalan cerita novel ini secara lebih mendalam, buku ini juga menyajikan beberapa buah foto hitam putih yang menampilkan seorang wanita berpakaian kimono yang tak lain adalah Lan Fang, penulis novel ini.

Novel ini memang sarat dengan konflik yang pedih, pembaca akan disuguhkan berbagai rentetan peristiwa yang menyesakkan dada, semua dirangkai dengan kalimat-kalimat yang menyentuh dan indah, pilihan kalimat-kalimatnya yang puitis sangat pas dalam menggambarkan kepedihan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Karakter-karakter tokohnya juga begitu kuat dan hidup sehingga membuat pembacanya seolah masuk dalam cerita yang ditulisnya. Pembaca akan dibuat bergelora dalam birahi, menangis, kesal, dan marah melalui karakter dan pengalaman para tokoh-tokohnya

Namun tentunya novel ini tidak dimaksudkan untuk membuat pembacanya tercekat dalam kepedihan para tokoh-tokohnya, ada berbagai makna yang bisa diambil dari novel yang menguras air mata ini. Setidaknya novel ini menyadarkan pembacanya bahwa uang dan seks bukanlah segala-galanya. Masih ada yang harus dicari dan dipertahankan yaitu cinta. Bukan sekedar cinta yang dirangkai dengan kalimat-kalimat manis dan sekedar diwujudkan dalam hubungan seks yang menggelora, melainkan cinta yang dilandasi kasih sejati yang kelak akan membangun rasa kebersamaan dan tanggung jawab dari orang yang dicintainya.

salam,
h_tanzil
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
January 11, 2009
Membaca judul novel ini, yang pertama kali saya ingat adalah novel karya Remy Sylado : Kembang Jepun (2000). Judul yang sangat mirip. Entah kenapa Lan Fang memilih judul tersebut untuk novel teranyarnya ini. Padahal, kemiripan seperti itu kerap menuai "tuduhan" atau "kecurigaan" peniruan dan risiko untuk diperbandingkan.

Ternyata bukan hanya judul yang nyaris sama, ceritanyapun hampir mirip juga. Yakni, riwayat seorang perempuan penghibur di kawasan Jalan Kembang Jepun,tak jauh dari Jembatan Merah, Surabaya. Kembang Jepun adalah sebutan bagi para gadis di kelab-kelab hiburan milik orang - orang Jepang. Gadis-gadis itu dilatih dan dipekerjakan tak ubahnya geisha di Jepang. Mereka bukan saja berasal dari Jepang, tetapi juga Cina, Manado, dan Jawa.

Mengambil latar belakang Surabaya tahun 1940-an, novel ini menggelar kisah cinta segitiga antara Sujono, Sulis, dan Matsumi. Dituturkan secara flash back dengan masing-masing tokoh dibiarkan bercerita sendiri. Gaya penulisan seperti ini bisa kita temui pada Para Priyayi (Umar Kayam).

Segi tiga cinta itu berpusat pada lelaki Jawa bernama Sujono, seorang buruh angkat kain di sebuah toko milik seorang saudagar Cina, Babah Oen. Bekerja sebagai buruh kasar bukanlah cita-cita Sujono. Ia sebetulnya kepingin betul jadi tentara, memerangi Belanda, membela tanah air. Namun, karena hambatan pendidikan -ia tak menamatkan sekolah menengahnya - maka cita-cita tersebut harus dikubur dalam-dalam. Agak sedikit mengherankan dan mengundang pertanyaan : apakah pada masa itu, di saat tanah air membutuhkan banyak sukarelawan, untuk bergabung menjadi tentara seseorang harus lulus sekolah menengah dulu?

Tapi baiklah, kita lanjutkan saja. Berikutnya, Sujono berjumpa Sulis, gadis belia penjual jamu gendong yang sering mampir menawarkan jualannya di toko Babah Oen. Lantaran sering bertemu, api asamarapun memercik di antara kedua anak muda itu sampai Sulis hamil dan memaksa Sujono untuk mengawininya. Kehidupan perkawinan mereka tak semulus yang dibayangkan Sulis. Di mata Sulis, Sujono berubah drastis menjelma lelaki kasar, suami tak bertanggungjawab.

Disebutkan bahwa Sulis berasal dari Blitar. Kedua orang tuanya bekerja sebagai kuli sawah (petani penggarap) milik seorang tuan tanah Belanda. Disebutkan pula, bahwa Sulis tak tamat sekolah menengah sehingga hanya bisa jadi penjual jamu gendong di Surabaya.

Kalimat "tak tamat sekolah menengah" mengandung dua pengertian. Pertama, bisa berarti bahwa Sulis pernah sekolah menengah tapi tak sampai tamat. Kedua, Sulis hanya tamatan sekolah dasar saja.

Sekali lagi, ihwal sekolah ini terasa sedikit mengganjal. Pada zaman itu, amat jarang anak perempuan bisa sekolah. Jikapun ada, biasanya mereka adalah anak-anak priyayi di kota. Sedangkan Sulis hanyalah anak seorang petani miskin di desa dengan lima orang adik yang masih kecil-kecil. Aalangkah beruntungnya ia masih sempat menikmati kemewahan bangku sekolah. Meskipun sekadar sekolah rakyat misalnya.

Kemudian, Sujono bertemu Matsumi, seorang geisha, di kelab hiburan kepunyaan Hanada-san yang merupakan kelab hiburan termahal di Jl. Kembang Jepun. Kedua insan berlainan bangsa itu tanpa mampu dicegah saling jatuh cinta. Matsumi hamil dan Sujono dengan senang hati menikahinya.

Ketika situasi keamanan di Surabaya morat-marit menyusul kekalahan Jepang dari Sekutu yang mengharuskan tentara Jepang meninggalkan Indonesia, Matsumi pun turut melarikan diri kembali ke kampung halamannya. Ia tinggalkan suaminya, Sujono, beserta anak perempuan mereka, Kaguya.

Gaya penulisan yang membiarkan masing-masing tokoh bercerita sendiri sebagai "aku" jika digarap dengan baik akan jadi sangat menarik karena pembaca mendapatkan beragam versi melalui sudut pandang para tokoh tersebut. Namun, akan jadi menjemukan apa bila yang tertuang hanya merupakan pengulangan-pengulangan tanpa greget. Pada Perempuan Kembang Jepun ini, celakanya justru hal kedua yang terjadi.

Lan Fang menggempur pembaca dengan penderitaan bertubi-tubi para tokoh perempuannya - Sulis, Matsumi, Lestari - akibat ulah seorang lelaki bajingan : Sujono. Alhasil, alih-alih tersentuh, malah terasa melelahkan menamatkan novel ini. Seperti menonton tayangan telenovela.

Pun upaya menampilkan ilustrasi melalui foto-foto hitam putih akan lebih pas apabila yang dipajang adalah foto-foto bernilai sejarah (Surabaya 1940-an), bukan foto-foto diri Lan Fang dalam balutan kimono dan tata rias ala geisha. Selain kurang perlu, juga telah merenggut kebebasan berimajinasi; satu kenikmatan yang diperoleh dari membaca.
Profile Image for Bagus.
477 reviews93 followers
December 3, 2022
Perempuan Kembang Jepun adalah karya pertama Lan Fang yang kubaca. Alur dan latar tempatnya cukup ambisius, Kota Surabaya di masa pendudukan Jepang (1942-1945), diiringi dengan kehidupan para tokohnya sekitar 50-60 tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Ada keunikan khas dari penggunaan istilah “Jepun” dibandingkan dengan kata “Jepang” yang saat ini merupakan kata baku di bahasa Indonesia. Kata “Jepun” ditaksir merupakan transliterasi awal untuk menyebut Jepang di Nusantara (saat ini, bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia masih menyebut Jepang dengan istilah “Jepun”). Namun Kembang Jepun yang ada di Surabaya merupakan kawasan Pecinan, pusat kota yang memberikan warna kehidupan bagi Surabaya.

Kembang Jepun seperti yang dikisahkan oleh Lan Fang dalam cerita ini mengambil banyak latar waktunya di masa pendudukan Jepang. Kisahnya bermula ketika Sujono, seorang kuli angkut di toko Babah Oen kesengsem oleh Matsumi, seorang geisha yang sengaja didatangkan dari Jepang untuk bekerja di sebuah klub. Sejak kecil, Matsumi telah dididik menjadi geisha. Ia bisa bersyair, memainkan shamisen, menari, juga memuaskan hasrat lelaki. Namun ia tak pernah jatuh cinta. Pertemuannya dengan Sujono memutarbalikkan dunianya, membuat Matsumi menggadaikan privilese yang dimilikinya, hingga berbuah pada kelahiran putri mereka, Kaguya yang kelak berganti nama menjadi Lestari setelah kemerdekaan Indonesia dari Jepang. Matsumi kembali ke Jepang setelah negaranya kalah perang, sementara Sujono harus hidup dengan kehampaan tiadanya Matsumi dan tekanan dari Sulis, istri pertamanya yang tak henti-henti menagih tanggung jawabnya sebagai seorang suami.

Novel ini menarik dari segi alur, dengan permasalahan antargenerasi yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Lestari besar tanpa kasih sayang seorang ibu, hingga ia hanya mengenal kasih sayang ayahnya seorang, Sujono. Sementara itu, Matsumi ketika kelak bertemu kembali dengan sosok Lestari yang telah dewasa, tak mampu melakukan rekonsiliasi dengan sosok baik Sujono yang diceritakan oleh Lestari. Ia hanya mengingat tekanan dan penghinaan yang Sujono berikan setelah dirinya meninggalkan Kembang Jepun demi mengejar cinta. Selain plot, novel ini juga kaya akan sudut pandang. Di lima bagiannya, cerita selama tahun 1940-1945 diceritakan dari lima sudut pandang karakter yang berbeda dengan sudut pandang orang pertama. Masing-masing karakter mendapat hak bersuara, dan mungkin juga, hak untuk membela perilakunya masing-masing yang dianggap “berengsek” oleh karakter-karakter lainnya.

Walaupun ambisius dari segi plot, menurutku novel ini masih kekurangan detil informasi sejarah yang biasanya hadir di karya fiksi sejarah. Ada beberapa informasi sejarah yang disajikan keliru atau kurang pas dengan konteks yang sedang dibicarakan, atau disampaikan dengan kesan seperti menceritakan trivia singkat, namun gagal membangun latar belakang cerita. Misalnya ketika menceritakan alasan kenapa terjadi banyak migrasi orang Tionghoa ke Indonesia, Lan Fang menyebut perebutan kekuasaan dari Partai Nasionalis Kuomintang oleh Partai Komunis (yang terjadi di tahun 1949, setelah perang saudara selama kurang lebih empat tahun), walaupun konteks yang sedang dibicarakan adalah masa pendudukan Jepang (yang mana argumennya akan lebih masuk akal jika dikaitkan dengan Perang Tiongkok-Jepang di tahun 1937-1945, atau tragedi Nanking). Namun, penggambaran latar tempat Kota Surabaya di era penjajahan Jepang yang dibangun Lan Fang dalam cerita ini menurutku sangat mendetail.
Profile Image for Nizu.
18 reviews1 follower
April 14, 2022
Jalan ceritanya berat, mengisahkan tentang pencarian cinta oleh masing--masing tokoh dengan latar tahun 1940-2000an di Surabaya. Kejadiannya diceritakan oleh tokoh yang berbeda jadi kita bisa tau perasaan yang sebenarnya dialami tokoh. Bahasanya bener-bener indah dan gak bikin bosen meskipun kadang bikin gak nyaman karena terlalu vulgar (bagi saya). Dengan baca ini, otomatis kamu udah bersedia untuk dikuras emosinya dari awal hingga akhir cerita.
Profile Image for Natsume Natsuki.
110 reviews22 followers
January 9, 2022
Buku pembuka awal tahun 2022 ini berhasil membuat emosi saya memuncak ke tingkat tertinggi. Selain itu, saya juga berhasil menemukan pria paling brengsek di dunia perbukuan, Sujono namanya. Catat itu. Astaga, rasanya kalau saya disuruh menumpahkan kekesalan saya terhadap Sujono akan membuat mulut saya berbusa saking panjangnya saya berbicara. Sujono juga adalah akar utama penderitaan di buku ini. Ia adalah tokoh inti, tapi buruk sekali perangainya.

Dalam buku ini ada 4 tokoh sentral yang memiliki kehidupan tragisnya masing-masing, yaitu Lestari, Matsumi (Tjoa Kim Hwa), Sulis, dan Sujono.
Lestari lahir karena uang dan seks;
Matsumi ada karena uang dan seks;
Sulis celaka karena uang dan seks;
dan Sujono menikmati uang dan seks.

Keempat tokoh tersebut saling berkaitan dengan penderitaan masing-masing. Tokoh yang satu adalah alasan kesengsaraan tokoh lainnya. Penderitaan mereka ditambah lengkap dengan latar kondisi Indonesia tahun 1941-1945 di mana keadaan sangat tidak stabil baik bagi pribumi, orang Cina, maupun orang Jepang.

Penulis membagi buku ini ke dalam beberapa bagian. Di setiap bagiannya, ada satu tokoh yang bercerita mengenai kehidupannya, sehingga para pembaca akan tahu penuturan dari masing-masing tokoh.

Diksi yang digunakan penulis sangat indah, benar-benar menggambarkan kegairahan yang dirasakan oleh para tokoh. Itulah alasan mengapa buku ini dapat saya lahap dengan singkat.

Bagian yang paling menyakitkan hati adalah penggambaran perbedaan Geisha dan Jugun Ianfu. Pekerjaan mereka hampir mirip, yaitu melayani laki-laki. Namun, perbedaan justru dirasakan dari perlakuan yang didapat Geisha dan Jugun Ianfu. Bisa dibilang pekerjaan Geisha masih lebih 'bermartabat' dibanding Jugun Ianfu. Seorang Jugun Ianfu sudah tidak lagi dianggap manusia oleh para tentara Jepang.
Profile Image for Farah.
174 reviews36 followers
September 6, 2010
Baru aja bukunya selesai dibaca kemarin.
Kesan setelah membaca buku ini, "Pengen gua gampar yah itu yang namanya Sujono!!!" *emosi jiwa* *kaki naek ke meja* *dipelototin bos* *ehem*

Jadi, spoilernya seperti ini, "Perempuan Kembang Jepun" itu adalah nama lukisan.
Terinspirasi dari buku "Kembang Jepun" Remy Sylado dan "Memoirs of a geisha".

Ceritanya sih sebenernya so sinetron. Menunjukkan bahwa dunia memang selebar daun kelor. Tapi sinetronnya, lebih ke sinetron budget murah di TPI. Entah mengapa..

Tapi untuk penuturan berdasarkan sudut pandang tokohnya, gue akui memang bisa diacungi jempol.
Pembaca bisa tahu bagaimana sudut pandang Sulis, Matsumi, dan Sujono, cerita tentang Lestari di masa kecil, dan masa tua. Walaupun, tetep aja, sensenya masih kurang kuat.
Jadi ada penuturan berdasarkan sudut pandang beberapa tokoh, tapi tetap terasa kalau cara penuturannya berasal dari satu kepala yang sama.

Kalau lagi sakit hati sama laki-laki, boleh aja baca buku ini. Makin memupuk dendam membara, dan akhirnya membuat kita, perempuan mengatakan, "Brengsek! Emang laki-laki dimana-mana itu sama aja!" dengan nada yang begitu geram.

Silakan dibaca :)
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
April 30, 2013
Buku ini lumayan sering dikaitkan dengan buku Remy Silado Kembang Jepun yang telah terbit sebelumnya, sama-sama bercerita tentang perempuan sebagai seorang geisha dengan versi berbeda selain sedikit perbedaan pada judul nya kalau Remy judulnya Kembang Jepun maka Lan Fang judulnya Perempuan Kembang Jepun...(informasi ngga penting..)

Sekali lagi, sebagai seorang penggemar fiksi histori saya tertarik ingin membaca buku ini. Dengan latar belakang tahun 1940-an,inti cerita adalah percintaan Matsumi seorang geisha asal Jepang dengan Sujono lelaki Jawa begundal tengik yang tergila-gila pada Matsumi. Dibilang tentang cinta, seperti nya bukan jenis cinta suci nan abadi yang dimaksudkan mungkin cerita cinta yang pedih, salah dan cukup kejam. Namun pada akhirnya semua tokoh-tokoh dalam buku ini mendambakan cinta yang sesungguhnya. Jalan cerita mampu menguras esmosi terutama perasaan ingin menabok Sujono. Lan Fang cukup banyak menulis kalimat-kalimat yang indah dan puitis.














Profile Image for Mohammad Sadam Husaen.
23 reviews
July 29, 2012
“Kaguya, semua sudah berlalu. Hidup bukan selau menoleh kebelakang, tapi justru selalu berjalan ke depan. Tidak ada yang perlu disalahkan. Tidak ada yang perlu dikenag. Semua ini hanya karena permainan Sang Hidup”
Lan Fangadalah salah satu penulis wanita yang produktif, tapi sayangnya pada tanggal 25 desember 2011 kemarin, dia membekaskan luka di ranah sastra Indonesia. Dia meninggal karena penyakit yang di deritanya.
Perempuan kembang jepun, adalah salah satu novel karya Lan Fang yang berbackgroud daerah pecinan di surabaya yang dulunya di pakai sebagai tempat hiburan bagi para tentara Jepang. Novel yang bercerita mengenai cinta yang bermacam-macam ini dibagi menjadi lima bagian serta lengkap dengan prolog dan epilog. Lima bagian dari novel kembang jepun ini dibagi menurut kehidupan tokoh-tokohnya, Lestari atau Kaguya, Tjoa Kim Hua atau Matsumi, Sulis, dan Sujono.
Cerita dalam novel Perempuan Kembang Jepun ini dimulai dengan kehidupan Sulis, seorang penjual jamu gendong di daerah Tanjung Perak. Sulis sering kali menjajakan jamunya untuk perempuan-perempuan yang ada di rumah bordir daerah Tanjung Perak, tapi lama kelamaan langganan Sulis bukan hanya para perempuan rumah bordir, dia juga menjajakan jamunya kepada para tukang becak yang mangkal di sepanjang daerah Kalimas Timur dan Kalimas Barat.
Akhirnya Sulis bertemu dengan Wandi, salah seorang tukang becak yang sering mangkal di daeranya berjualan jamu. Wandi yang selalu memberikan uang lebih ketika membeli jamu Sulis selalu mencuri-curi untuk memegang tubuh Sulis, akhirnya Wandi dan Sulis pun tenggelam dalam lautan birahi. Ketika wandi mengantar Sulis pulang dengan becaknya, Wandi berhenti ditengah jalan. Mereka akhirnya melakukan hubungan badan dan Wandi berhasil merenggut keperawanan Sulis.
Kegenitan dan kecentilan Sulis ketika berjualan jamu mempertemukannya dengan Sujono seorang kuli angkut kain di toko orang cina yang bernama Babah Oen. Sulis merasakan kenikmatan yang berbeda ketika berhubungan badan dengan Sujono di banding berhubungan badan dengan Wandi. Sulis pun hamil, dan dia lebih memilih Sujono sebagai ayah dari anak yang dikandungnya. Tapi Sujono tidak mau bertanggungjawab atas kehamilan Sulis, dia mengganggap anak yang dikandung Sulis adalah anak Wandi. Sulis tetap memaksa dan akhirnya Sujono dipaksa warga kampun menikahi Sulis, karena Sujono dianggap oleh warga kampung telah meniduri Sulis.
Pernikahan Sujono dan Sulis tidak berjalan harmonis, Sujono tidak mencintai Sulis dan dia hanya ingin menikmati tubuh Sulis, sampai akhirnya Sulis melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Joko. Sujono tetap bersikukuh bahwa Joko bukan anaknya melainkan anak Wandi. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dalam rumah tangga Sulis dan Sujono. Sulis selau mengganggap Sujono tidak bertanggung jawab karena Sujono tidak mau mencari kerja lagi setelah dia keluar dari tokoh Babah Oen. Tapi Sujono tidak mau kalah, pukulan dan tendangan sering Sujono layangkan ke tubuh Sulis.
Sujono dengan rasa kesal dan marah karena desakan dari Sulis, memutuskan untuk kembali bekerja di toko Babah Oen. Ketika sudah mulai bekerja Sujono tidak sengaja bertemu dengan Matsumi karena Sujono selalu disuruh oleh Babah Oen untuk mengantarkan kain untuk wanita-wanita penghibur yang ada di tempat-tempah hiburan di sekitar daerah Kembang Jepun. Matsumi adalah seorang geisha asal Jepang yang dibawa ke Indonesia atas keinginan Shosho Kobayashi, seorang jendral Jepang yang bertugas di Indonesia. Matsumi diberangkatkan ke Indonesia dengan identitas Cina bernama Tjoa Kim Hwa, karena jika Matsumi berangkat ke Indonesia sebagai geisha dengan identitas Jepang itu sama halnya dengan menjelekkan nama Jepang.
Pertemuan yang tidak sengaja antara Matsumi dan Sujono membawa getar-getar asmara antara mereka berdua. Sujono yang tidak tahan lagi untuk bertemu dan mengobrol langsung dengan Matsumi akhirnya mencuri uang di toko Babah Oen, yang akibatnya dia dipecat dari toko itu. Sujono sengaja mencuri uang karena jika ingin bertemu dan berbicara langsung dengan Matsumi dia harus membayar mahal, dan akhirnya keinginanya terkabul. Matsumi dan Sujono pun akhirnya terlibat cinta, Matsumi selalu memberi uang kepada Sujono agar mereka berdua bisa bertemu.
Matsumi yang merasakan gairah yang sama seperti yang dirasakan Sulis ke Sujono, membuat Matsumi semakin mencintai Sujono. Sampai akhirnya Matsumi hamil dam memutuskan untuk keluar dari tempat hiburan milik Hanada San yang telah menampungnya sejak Matsumi datang ke Indonesia. Hanada San juga seorang warga Jepang yang dipercaya menjaga Matsumi oleh Shosho Kobayashi. Hanada San marah mendengan berita kehamilan Matsumi, Hanada San tidak memperbolehkan Matsumi hamil karena seorang geisha tidak boleh hamil dan merasakan cinta. Tapi Matsumi tetap besikukuh untuk keluar dari tempat hiburan Hanadan San dan ingin menikah dengan Sujono.
Hanada San marah besar terhadap Matsumi, pukulan dan tamparan diterima oleh Matsumi dari Hanada San, tapi Matsumi tidak melawan karena dia memang merasa bersalah, dia rela dipukul asal dia bisa hidup dengan Sujono. Akhirnya Matsumi dibiarkan pergi oleh Hanada San.
Sujono yang tahu bahwa Matsumi berhasil keluar dari tempat hiburan Hanada San sangat senang, karena dia bisa memiliki Matsumi seutuhnya. Matsumi pun membeli sebuah rumah dari hasil uang tabungannya selama menjadi geisha, dia melakukan segala aktifitasnya di dalam rumah dan hanya boleh keluar jika ditemani Sujono, karena Sujono tidak mau Matsumi digoda oleh orang lain. Sujono yang masih menghidupi Sulis dan Joko selalu mondar mandir, pagi sampai sore dia habiskan bersama Matsumi, sedangkan malamnya dia pulang ke rumah Sulis.
Semenjak bersama Matsumi, Sujono sudah tidak memikirkan pekerjaan, seharian dia bercinta dengan Matsumi dan selalu meminta uang kepada Matsumi untuk membiayai hidupnya dengan Sulis. Keseharian Sujono hanya mencumbu dan menemani Matsumi membuat orisuru (origami burung khas Jepang) sampai Matsumi melahirkan seorang putri cantik yang mereka beri nama Kaguya. Kaguya mempunya wajah yang cantik seperti ibunya, Sujono dan Matsumi sangat sayang kepada Kaguya.
Tapi Matsumi merasa Sujono semakin menjadi, karena Sujono tetap tidak bekerja dan selalu meminta uang kepada Matsumi. Tanpa disadari uang tabungan Matsumi menipis, dan Matsumi memutuskan untuk kembali bekerja ke tempat hiburan milik Hanada San. Tapi Sujono tidak mengizinkannya. Matsumi merasa kehidupannya semakin berubah, apalagi terdengar bahwa Jepang sudah dikalahkan oleh sekutu. Kehidupan Matsumi berubah, akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan Sujono karena dia mengganggap Sujono tak bisa memberikan kebahagiaan lagi kepadanaya.
Matsumi sebagai orang Jepang selalu merasa was-was, karena setelah Hiroshima dan Nagasaki terkena bom dari sekutu, Jepang merasa kalah. Dan semua orang Jepang yang ada di Indonesia dipulangkan kembali ke negaranya. Tapi Matsumi di Indonesia tidak memakai identitas Jepang, dia adalah orang Cina bernama Tjoa Kim Hwa. Matsumi yang merasa putus asa akhirnya datang ke kelenteng Boen Bio bersama Kaguya, tempat yang dianggap paling aman bagi penggungsi. Di sana Matsumi bertemu dengan Tuan Tan, salah seorang pengurus kelenteng. Tuan Tan akhirnya tahu bahwa Matsumi adalah orang Jepang dengan identitas samaran Tjoa Kim Hwa.
Kaguya yang tidak mempunyai identitas yang jelas akhirnya dititipkan oleh Matsumi di kelenteng Hok An Kiong, sebuah kelenteng yang mengurus anak-anak yang terlantar. Sedangkan Matsumi harus kembali ke Jepang. Sujono yang merasa kehilangan Matsumi dan Kaguya akhirnya mencari kemana-mana, dan akhirnya dia menemukan Kaguya di kelenteng Hok An Kiong. Sujono membawa Kaguya pulang kerumah Sulis, walaupun dia tahu pasti Sulis tidak akan menerimanya.
Di rumah Sulis Kaguya selalu menangis mencari Matsumi, Sulis yang tidak mau direpotkan oleh anak hasil selingkuh suaminya itu membentak-mentak Kaguya. Sedangkan Sujono kembali bekerja, karena dia harus menghidupi Kaguya yang sudah diganti namanya menjadi Lestari agar identits Jepang hilang dari Kaguya. Pagi sampai sore Sujono bekerja. Sedangkan di rumah, Lestari disiksa oleh Sulis. Sampai Lestari beranjak dewasa, suatu kejadian yang mengerikan terjadi padanya. Lestari diperkosa oleh kaka tirinya, Joko karena Lestari memang tumbuh sebagai seorang bidadari cantik. Sulis yang melihatnya kembali meyiksa Lestari. Lestari dianggap menggoda Joko.
Pukulan, jambakan, Cakaran didapatkan Lestari dari Sulis, sampai sebuah garpu berkarat menggerus muka Lestari. Sulis menggeruskan berkali-kali garpu berkarat itu ke muka Lestari. Lestari terkapar tak berdaya dengan wajah yang tak karuan. Sujono pulang dan disambut dengan melihat anaknya terkapar tak berdaya langsung menghajar Joko, tak lupa juga dengan istrinya Sulis.
Akhirnya Sujono memutuskan meninggalkan Sulis dan membawa Lestari ke rumah Matsumi. Sujono dan Matsumi hidup bahagia berdua, selama lima puluh tahun ingatan Lestari kepada Matsumi sedikit demi sedikit hilang. Karena Lestari sibuk mengurus bayi-bayi yang ada di rumahnya. Lestari mejadikan rumahnya panti asuhan yang mengasuh anak-anak terlantar. Bersama Sujono yang sudah tidak bisa bekerja lagi karena serangan struk laestari mengurus panti asuhannya.
Setiap hari Sujono hanya memandang matahari, membuat orisuru dan mengucap nama Matsumi. Lestari penasaran siapakah Matsumi. Sampai akhirnya Lestari bertemu lagi dengan Matsumi, karena anak angkat Lestari, Maya ingin menikah dengan Higashi seorang laki-laki asal Kyoto yang juga nak angkat Matsumi. Pertemuan itu pun membuka segala rasa penasaran Lestari terhadap Matsumi. Matsumi adalah ibu kandung yang telah meninggalkan dia di Indonesia.
Lestari sebagai ibu angkat Maya memutuskan untuk ikut mengantarkan anaknya ke Kyoto, tempat suami Maya tinggal. Dan di sana Lestari menghabiskan waktunya bersama Matsumi, mereka saling bercerita kehidupan mereka dan yang mengejutkan Lestari adalah pernikahan Matsumi dengan Takeda, seorang laki-laki Jepang yang ditinggal oleh istrinya setelah perang dunia ke II. Matsumi merasa rasa rindu dan cinta Sujono, ayahnya hanya bertepuk sebelah tangan.
Cerita dalam novel perempuan kembang jepun ini ditutup dengan kepulangan Lestari ke Indonesia, dan sebelum pulang ke Indonesia Takeda memberikan hadiah lukisan kepada Lestari. Didalam lukisan itu tergambar wanita Jepang lengkap dengan kimononya, dan Lestari memberi judul lukisan itu “Perempuan Kembang Jepun”.
Novel yang sangat mengharukan jika kita membacanya sampai selesai, karena dengan background penjajahan di Indonesia, Lan Fang mencoba menguak percintaan yang begitu mengenaskan. Bukan hanya cinta yang diceritakan Lan Fang dalam novelnya ini, kehidupan seks, uang, semangat, dan rasa nasionalisme bercampur dalam novel ini serta di ceritakan juga bagaimana kehidupan geisa di Jepang. Selain itu dalam novel ini pembaca juga di masukkan kedalam konflik cinta yang begitu pedih tapi novel ini juga bisa menyadarkan para pembacanya bahwa cinta yang hanya di dasari oleh seks dan uang tidak akan membawa kebahagiaan, melainkan cinta dengan kesederhanaan, tanggung jawab dan rasa kasih sayanglah yang akan bertahan dan berakhir bahagia.
Walaupun novel ini tidak diakhiri dengan happy ending, karena Lestari malah akan hidup sendiri di Indonesia setelah ditinggal Maya pergi ikut Higashi ke Kyoto. Lepas dari semua itu novel Perempuan Kembang Jepun ini begitu memikat dan pantas untuk dibaca oleh khalayak.

Novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang ini tidak berbeda jauh dengan novel karya Remy Sylado yang berjudul Kembang Jepun, keduanya mengangkat etnis yang sama yaitu etnis cina atau tionghoa. Tapi cerita dalam kedua novel itu tentunya berbeda karena saya hanya membaca beberapa halaman saja novel Kembang Jepun milik Remy Sylado.
Novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang ini memakai latar pecinaan di daerah surabaya dan novel itupun di perkuat dengan tikoh utamanya yang juga dari daerah yang masyarakatnya bermata sipit tapi bukan cina, melainkan jepang.
Profile Image for Launa.
239 reviews51 followers
March 12, 2024
Rating: ★★★✩ (3.5/5)

"Hidup bagiku bukanlah suatu keyakinan, karena apa yang kuyakini kerap kali berbeda dengan yang kualami. Hidup bukan hitungan ilmu pasti. Aku hanya pelaku yang ikut mengalir ke mana hidup membawaku pergi." (Halaman 111)

"Seorang geisha, sebagaimana layaknya seorang perempuan, hanya mampu mempertahankan ketenaran sampai usia dua puluh tahunan. Ia akan tergeser oleh geisha-geisha muda lain yang lebih segar. Karena itu, seorang geisha harus memiliki danna yang akan menjamin hidupnya." (Halaman 151)

Novel sarat kekerasan; kekerasan verbal, kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan terhadap anak, kekerasan dalam rumah tangga. Kisah Matsumi betul-betul suram, getir, menyakitkan, dan menyesakkan. Separuh hidupnya dipenuhi kegetiran. Belum lagi kehidupan Kaguya yang dari kecil gak kalah suram. Membaca novel ini bikin misuh-misuh, emosi, dan hati tercabik, apalagi waktu bertemu dengan Sujono dan Sulis. Dua karakter menyerupai iblis; Sujono dengan ego yang besar dan obsesinya pada Matsumi serta Sulis yang berperangai buruk dan kerap menuntut. Lewat kisah Matsumi kita jadi tahu gambaran kehidupan seorang geisha yang ternyata berbeda bila dibandingkan dengan pelacur atau pekerja seks komersial meski pekerjaan keduanya sama-sama melacur.

Novel ini juga menggambarkan cinta pada orang dan di waktu yang salah, kemiskinan dan kemelaratan, uang dan seks, hubungan suami istri, hubungan orang tua dan anak, serta perang yang menyisakan luka dan duka. Seperti kata Lan Fang, "Perang di mana-mana selalu menyisakan dukacita yang mendalam. Luka yang tidak terobati. Walau akan mengering karena waktu, tetap akan membekas. Dalam perang tidak ada yang salah dan benar. Yang ada hanya dibunuh atau membunuh. Perang tidak memberikan pilihan lain kecuali rasa sakit." (Halaman 156)
Profile Image for Ariani15d.
81 reviews
Read
January 2, 2022
Ini kisah tentang cinta, pengorbanan, luka, dan duka. Berlatar masa kolonial di Indonesia, khususnya daerah Kembang Jepun, Surabaya.
Kisah dalam novel ini terbagi menjadi 5 bagian, dengan sudut pandang masing-masing tokoh.

Bagian 1: Sulis, Surabaya1941-1942.
Bagian 2: Tjoa Kim Hwa, Surabaya 1942.
Bagian 3: Matsumi, Surabaya 1942-1945.
Bagian 4: Sujono, Surabaya 1943-1945.
Bagian 5: Lestari, Kyoto, Desember 2003.

"Perempuan Kembang Jepun" merupakan nama yang melekat pada sosok Matsumi, seorang Geisha yang dikirim ke Surabaya untuk menemani salah satu pemimpin perang dari Jepang bernama Shoso Kobayasi. Untuk itu ia dipaksa mengubah identitasnya menjadi Tjoa Kim Hwa, perempuan Cina.
Alasannya
"Geisha hanya ada di Jepang. Jika ada perempuan Jepang yang menjadi penghibur di luar Jepang, itu akan merendahkan martabat bangsa Jepang. Padahal kamu tahu, sekarang Jepang menjadi salah satu negara penting di dunia. Negara yang akan memimpin Asia!" (Itsuka, 94).

Kehidupan Matsumi yang dianggapnya baik-baik saja berubah menjadi petaka manakala ia bertemu dengan Sujono, pria beristri yang memberikannya harapan palsu tentang cinta dan kenyamanan.

Novel ini adalah novel pertama yang saya baca dengan latar masa kolonial di Indonesia menggunakan tokoh utama perempuan Jepang. Bagi saya yang tertarik dengan kebudayaan Jepang, novel ini menjadi salah satu bacaan yang menarik. Karena terdapat beberapa pengetahuan baru, di antaranya adalah: budaya patriarki masyarakatnya, prinsip hidup "Lebih baik mati daripada kalah" (alasan adanya "harakiri"), serta tentang kehidupan, proses dan aturan bagi para Geisha.

Yang lebih menarik, seringkali penulis menggunakan diksi yang memiliki rima, seperti pada halaman 277 (tidak saya sertakan karena kutipannya terlalu panjang).
Profile Image for Meg ✿.
110 reviews
December 2, 2021
jalan ceritanya cukup pelik, tapi karena pemakaian kata-kata yang sederhana bikin keseluruhan ceritanya gampang diikuti. pembaca juga dibawa masuk ke sudut pandang masing-masing tokoh sehingga kita bisa tahu dan diajak ngerasain konflik mereka masing-masing *walaupun tokoh sujono tetep bikin emosi wk. over all, buat aku ini bagus dan masuk ke tipe bacaan yang ga bosenin
Profile Image for Elsa.
31 reviews2 followers
June 15, 2023
Buat yang yang suka cinta itu luka pasti suka buku ini!!!

Settingnya di jaman jepang dan belanda ✅
Pemilihan kata yang vulgar ✅
Cowo fiksi terbrengsek ✅

Cerita yang sangat amat menguras emosiiiii
Benci banget sama sujiono sialan
Dari awal sampe akhir ga ada bagus bagusnya lu jadi manusia

Sebagai perempuan sedih bangeeet, sakit hati dari jaman dulu sampe sekarang cuma di jadiin objek doang
Profile Image for Nastiti.
Author 5 books5 followers
October 1, 2018
Saya menyukai puisi-puisi yang ditulis Lan Fang. Karenanya saya membeli buku ini. Kalimat-kalimat puitis dalam buku ini indah, tetapi ceritanya terlampau mudah ditebak. Karakternya kurang 'hidup' dan adegan-adegannya mainstream.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
May 28, 2020
Cerita dengan latar Surabaya tempo dulu sama sekali nggak pernah gagal bikin terkesan.

Berimajinasi soal kawasan Kembang Jepun, Kapasan, Slompretan, dan Coklat di zaman dulu, selalu punya kenikmatan tersendiri. Apalagi beberapa bangunan di kawasan-kawasan itu masih lekat dengan bangunan kuno.
Profile Image for Emmanuella.
7 reviews
March 17, 2021
Awal cerita bisa bikin emosi naik turun tapi sayangnya ending cerita nya kurang bikin greget. Jadi kayak agak gantung kalau menurut saya.
1 review
June 17, 2021
controversial book for children but has more filosofis
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Bookatdawn.
3 reviews2 followers
July 26, 2021
A whole story yang menyentuh, mengalir, selayaknya tayangan tanpa jeda
Profile Image for Wiwinndut.
75 reviews1 follower
May 6, 2022
Saat membacanya, terasa begitu memilukan. Pengen tak tabok si Sujono kurang ajar.
Profile Image for bille.
5 reviews
August 18, 2023
sujono bajingan!!!!!!! kesel banget 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Profile Image for Indah Julianti.
Author 7 books34 followers
November 14, 2008
Desain cover : Eduard Iwan Mangopang
Ilustrasi dalam : Bambang AW
Foto cover : Peter Wang
Model cover : Lan Fang
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Oktober 2006
288 hal; 20 cm.

Cinta, tidak meminta karena sudah memiliki cukup, tidak bisa memberi karena tak berlebihan, tak pernah sakit karena selalu tulus. Dan cintalah yang menjadi tema utama dalam buku Perempuan Kembang Jepun karya penulis wanita yang menetap di Surabaya, Lan Fang.

Matsumi, wanita yang selalu mengikuti jalan Sang Hidup, tak pernah mengira bahwa kedatangannya ke Surabaya dari Jepang, merubah perjalanan hidupnya bahkan namanya. Matsumi datang ke Surabaya untuk menemani Shosho Kobayashi, karena ia adalah geisha kesayangan saat sang mayor jenderal itu berada di Jepang.

Karena geisha hanya ada di Jepang, perempuan Jepang yang menjadi penghibur diluar Jepang, sangat merendahkan martabat bangsa Jepang. Demi untuk menutupi jati dirinya sebagai seorang geisha, Matsumi terpaksa merubah namanya menjadi Tjoa Kim Hwa (Ular Bunga Emas). Meski tidak menyukainya karena ia tidak ingin menjadi perempuan Cina, Matsumi menerimanya dengan pasrah agar segera dapat bertemu Shosho Kobayashi.

Di Surabaya, Matsumi atau Tjoa Kim Hwa, tinggal di klub hiburan milik Hanada-san. Klub hiburan paling mahal, terbagus dan terbesar di wilayah Kembang Jepun. Kembang Jepun adalah nama salah satu kawasan yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan ini bernama Handelstraat. Pada jaman Belanda dan Jepang, Kembang Jepun juga dikenal sebagai kawasan perdagangan yang banyak didiami oleh orang-orang China. Mereka membuka toko-toko dan restoran lengkap dengan tempat hiburan malamnya, bahkan hingga kini Kembang Jepun merupakan daerah sentra perdagangan terbesar di Surabaya dan juga dikenal sebagai China Town-nya Surabaya.

Di klub itu, Matsumi mendapat julukan si Bunga Emas dan menjadi primadona dengan tarif yang paling mahal. Matsumi juga berkenalan dan jatuh cinta kepada Sujono, seorang kuli angkut kain di toko kain terbesar milik Babah Oen. Ternyata hubungannya dengan Sujono membawa banyak perubahan pada diri Matsumi. Dari seorang geisha yang paling populer menjadi seorang wanita yang tersakiti oleh cinta.

Matsumi rela melepaskan pekerjaannya untuk hidup bersama Sujono, meski ia tahu Sujono telah beristri dan memiliki anak. Bagi Matsumi, keinginannya adalah bersama Sujono. Melayaninya sepenuh hati dan cinta, apalagi telah tertanam benih didalam rahimnya, buah cinta Matsumi dan Sujono.

Namun, cinta hanya sepenggal dusta. Meski telah lahir seorang anak perempuan yang diberi nama Kaguya, kehidupan penuh cinta, damai, tentram dan nyaman yang diidamkan Matsumi, jauh dari kenyataan. Sujono malah menjadi benalu dalam kehidupan Matsumi. Ia tidak mau bekerja dengan alasan agar selalu bisa bersama dengan Matsumi. Akibatnya tabungan Matsumi pun habis, demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahkan juga kebutuhan hidup anak istri Sujono, yaitu Sulis dan Joko. Tak tahan dengan segala penderitaan yang dibuat oleh Sujono dan berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia, Matsumi pun bertekad kembali ke Jepang. Namun itu bukan hal yang mudah, apalagi ia harus meninggalkan anaknya tercinta, Kaguya, karena tidak mempunyai dokumen apapun.

Novel Perempuan Kembang Jepun, tidak hanya menceritakan kisah hidup Matsumi, tetapi tokoh-tokoh lainnya seperti Sujono, Sulis, Lestari, dan Takeda, dalam bab-bab terpisah, sehingga memudahkan para pembacanya untuk mengetahui dan memahami karakter para tokoh cerita. Dengan kalimat-kalimat indah dan menyentuh, novel ini mampu mengkoyak-koyak perasaan pembacanya, terutama di bagian saat perpisahan antara Matsumi dan Kaguya. Novel ini juga memberikan arti bahwa atas nama cinta, orang bisa melakukan apa saja. Namun tetap dengan berlandaskan pehamanan arti cinta itu sendiri.
Profile Image for Tomy Akhsan.
2 reviews
Read
April 23, 2013
judul :Perempuan Kembang Jepun
penulis : Lan Fang
penerbit :Gramedia Pustaka Utama
tebal : 288 halaman

PEREMPUAN KEMBANG JEPUN
Novel ini menceritakan tentang kisah seorang gadis yang ketika berumur 9 tahun dijual oleh keluarganya ke Jepang sebagai Geisha.
Suatu saat dia dikirim ke Indonesia bersama komandan pasukan dari Jepang,pada saat itu keadaan Indonesia masih dijajah oleh Jepang.
Ketika di Indonesia tepatnya di Surabaya dia bertemu dengan laki-laki yang menjadi kuli angkut di toko kain. Karena keduanya memiliki rasa yang sama,akhirnya dia berhenti menjadi Geisha. Tetapi dia tidak bahagia karena suaminya malas bekerja,akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Jepang meninggalkan anak kesayangannya bersama suaminya.
di akhir cerita wanita tersebut bertemu dengan anaknya yang saat itu anaknya sudah dewasa.

kelemahan:cerita dalam novel tersebut mengandung hal yang berbau syara . seperti menjadi geisha , bahasanya terlalu vulgsr.
kelebihan:bahasanya mudah di fahami oleh pembaca,
Profile Image for Joan Exlibris.
44 reviews
September 24, 2015
Bersetting pada masa penjajahan Jepang di Indonesia,Matsumi terlahir di sebuah keluarga miskin di Jepang dan akhirnya berhasil menjadi seorang Geisha yag terkenal dan mengikuti seorang pelanggannya yang merupakan jenderal perang penting untuk bertugas di Surabaya,Indonesia.Di Surabaya Matsumi yang menyamar sebagai seorang wanita Cina bernama Tjoa Kim Hua bekerja di kelab hiburan Hanada San di Jalan Kembang Jepun.Di tengah punjak kejayaan karirnya sebagai wanita penghibur,Matsumi jatuh cinta pada pemuda pribumi,Sujono,yang telah terjebak dalam perkawinan yang tidak diinginkannya dengan Sulis seorang penjual jamu gendong.Sujono mencintai Matsumi dengan caranya sendiri yang sulit diterima Matsumi.Matsumi merasa terjebak dan menderita dalam pernikahan itu sehingga akhirnya memutuskan untuk pergi kembali ke negara asalnya ketika Jepang menyerah kalah kepada sekutu dan meninggalkan Sujono dan Kaguya anaknya yang masih kecil.Kaguya tumbuh dalam penderitaan oleh Ibu dan kakak tirinya dan mengalami berbagai luka batin,hingga pada suatu titik ia bersua dengan Ibu kandungnya kembali.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews12 followers
June 22, 2010
Baru kali ini saya menemukan sebuah novel di hal 30-an seluruh rangkaian peristiwa sudah terbaca dengan jelas. Bayangkan hal 30 sekian dari 200-an halaman yang ada.

Entah disengaja atau tidak tapi begitulah adanya. Namun karena saya berprinsip jika sebuah buka mulai dibaca maka tak perduli berapa lama harus dibaca sampai tamat.

Mungkin (namanya juga nebak-nebak) Lan Fang justru ingin bercerita tentang hubungan masa lalu para tokoh yang ada sehingga berada dalam kondisi sekarang.

Walau mengakui kepiawian Lan Fang mengaduk-ngaduk emosi pembaca, namun buat saya cerita yang ada terkesan biasa saja.

Nyaris memberikan bintang 2, tapi mengingta kecanggihan meramu emosi para tokoh, penggemaran lokasi serta foto-foto diri sebagai ilustrasi, maka diberi bintang 3 sajalah....
Profile Image for Rachel Yuska.
Author 9 books246 followers
January 16, 2011
Beli buku ini dgn harga murah, hsl hunting buku diskonan di gramedia.

Baca krn sekalian cari tahu ttg akhir pendudukan Jepang di Indonesia.


Ceritanya sih OK, bikin saya juga berkaca-kaca. Apalagi kelakuan Sujono, juga Sulis terhadap Lestari. Ibu tiri yg biadab!

Yang agak ganjil adalah percakapan antara Matsumi dengan Lestari dewasa. Apa ada seorg ibu yg menceritakan pengalaman ranjangnya dgn anaknya? Aneh sih menurut saya.

Ceritanya dituturkan sesuai point of view para tokohnya, tetapi di bbrp bagian ada pengulangan jadi terkesan memperlambat alur cerita.

Tapi overall, saya cukup enjoy membaca buku ini krn saya mendapat gambaran ttg pendudukan Jepang dr awal sampai akhir.
Profile Image for Christina Winata.
12 reviews16 followers
March 6, 2009
Buah karya Lan Fang yg pertama dibaca dan seketika itu juga gw jatuh cinta! (makan baca, minum baca, nyetir baca,...duh ga bisa lepas nih buku!)

"Ia berbisa.
Ia pahit
Ia tuba.
Ia racun
Ia rendah.
Kemanisan Sujono berubah menjadi tuba ketika perut melilit kelaparan.
Keromantisan Sujono berubah menjadi bisa ketika mulut menganga kehausan.
Cinta Sujono berubah menjadi belenggu tanpa ujung pangkal."

Indah banget..pinter sekali memilih kata2 penghantar perasaan..
Profile Image for Octharina Nur.
120 reviews16 followers
April 1, 2017
Novel ini diceritakan dengan berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya. Pada intinya menceritakan kisah cinta antara seorang geisha dari Jepang dan laki-laki pribumi. Cinta terlarang, karena si pria telah beristri dan memiliki anak. Setting tempatnya berada di Surabaya dan pada saat zaman penjajahan baik Belanda maupun Jepang. Kata-kata dalam novel ini cukup banyak yang puitis dan lumayan bagus.
Profile Image for Suci.
8 reviews
January 6, 2011
buku dengan 3 sudut pandang, aku belajar bahwa banyak hal yang ketika kita liat dari sudut pandang 1, hal itu salah, tapi ketika liat dari sudut pandang 2, kesalahan itu beralasan, disudut pandang ketiga, lumrah klo ada kesalahan sepeti itu. semua hal itu ada sebab dan akibat. minimal aku belajar bahwa apa yang kuanggap benar bila di kondisi yang berbeda bisa salah.
Profile Image for puty  geny.
28 reviews1 follower
September 13, 2010
sedih jg membaca buku ini. sadisz ... tapi tetap saja akhirnya bahagia. Paling suka dengan kutipan kalimat Takeda san, "Ia begitu cantik di dalam wajah murungnya,ia jelita di dalam kerapuhannya, ia memukau dengan kesedihannya".
Profile Image for Nella Nailul.
22 reviews6 followers
Read
May 4, 2010
Yang menarik dari buku ini bukan aja topiknya yang ngangkat tentang jugun ianfu dan efeknya di kemudian hari, tapi juga cerita yang diambil dari 4 sudut pandang, 4 tokoh.
Yang pada akhirnya saling berkesinambungan.
Profile Image for Hany Andayani.
38 reviews1 follower
October 3, 2018
Novel ini ceritanya tentang seorang Geisha yang tinggal di Surabaya pada masa penjajahan Jepang. Secara umum novel ini dengan baik menceritakan situasi pada masa itu dan beratnya kehidupan masyarakat ekonomi bawah.
Displaying 1 - 30 of 37 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.