Saat siuman, Mangkutak ingat bahwa ia pingsan pada Ahad ketiga bulan terakhir di tahun kelima puluh setelah usai Perang Paderi—perang yang pecah akibat pertentangan antara Kaum Padri yang ingin memurnikan ajaran Islam dan Kaum Adat yang mempertahankan tradisi nenek moyang di Minangkabau.
Tepatnya, Mangkutak pingsan ketika sedang mengikuti kompetisi berburu babi yang dihelat oleh Meneer Van Teuk pada 1863. Namun, suatu keganjilan terjadi, ia justru terbangun di hadapan Pak Ketua dan rombongan laskar PDRI—Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (1948), peristiwa saat Belanda melancarkan Agresi Militer II yang menyebabkan Yogyakarta jatuh, sehingga pemerintahan RI dipindahkan ke Bukittinggi, Sumbar.
Serupa sosok yang baru saja diculik dan dilemparkan Orang Bunian ke masa lain, kehidupan Mangkutak pun berubah. Seketika ia pun tergabung bersama tentara militer sebagai asisten peneroka jalan, sebab ia fasih menerka arah setapak dan mafhum pada percakapan binatang. Kekuatan itu ia peroleh setelah bermimpi bertemu harimau putih yang dinamai "Inyik Balang".
Pengalaman ketentaraannya di PDRI, di bawah kepemimpinan Paduka-Yang-Mulia-Presiden Republik Indonesia, pada akhirnya mengantarkannya ke masa PRRI—Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (1958), yakni gerakan yang muncul di Sumbar karena kekecewaan terhadap pemerintah pusat yang dianggap tidak adil dalam pembangunan dan pembagian hasil daerah.
Kira-kira seperti itulah rentang sejarah yang digambarkan oleh Andre Septiawan dalam novel perdananya ini. Plot non-linearnya secara garis besar menghadirkan riwayat sejarah dan gejolak sosial masyarakat Minangkabau di era pra Orde Baru. Melalui pendekatan historis-fantasi, ia mencoba menulis ulang perspektif sejarah berdasarkan ingatan kolektif secara khusus masyarakat Minang dan secara umum masyarakat Indonesia—sebab ada pula potongan cerita tatkala Mangkutak melakukan perantauan ke Batavia dan Yogyakarta.
“Haruskah semua lelaki Minang pergi merantau? Hina-dinakah mereka yang memilih tinggal di kampung halaman? Hilangkah marwahmu sebagai laki-laki kalau tidak pernah kau jejakkan kakimu di pulau seberang?”
Meskipun banyak yang bilang kalau diksi dan gaya penceritaan yang dipakai penulis cukup sulit untuk dicerna, menurutku itulah letak keseruan novel ini. Narasinya memang terasa sangat arkais nan akrobatis—sangat khas gaya penulisan novel sastra angkatan Balai Pustaka, akan tetapi justru itulah yang memberi legitimasi bahwa penulisnya benar-benar menyatu dengan latar belakang penceritaan yang ia bangun. Atau mungkin juga saya bias, sebab lahir dan besar di tanah Sumatera, meski tak pandai cakap bahasa Minang.
Walau begitu, saya agak setuju kalau lompatan plot dan pembagian bab novel ini cukup membuat fokus goyah. Alur kisahnya memang tak kronologis, sekilas mirip gaya bercerita Ayu Utami dalam Saman atau Okky Madasari dalam Entrok. Tapi, lagi-lagi, kerumitan itu juga yang membuat novel ini menarik untuk diulas.
Saya paling suka waktu Mangkutak dipertemukan dengan tokoh bernama Hosen. Menurut saya, itu bentuk penghargaan paling tepat untuk salah satu penulis legendaris—yang juga berdarah Minang—yang namanya nyaris dihapuskan dari buku-buku sejarah resmi versi pemerintah Orde Baru. Terutama saat kedua tokoh mulai beradu dialog, kontan mengingatkan saya pada obrolan yang terjadi antara karakter Hasan dan Rusli dalam novel Atheis (1949).
“Banyak ketimpangan sosial dan ketidakadilan masih merajalela di sekitar kita, dan Saudara menghendaki hidup yang lurus-lurus saja? Saudara kira kita sudah sepenuhnya merdeka? Belum! Belanda pergi, musuh selanjutnya adalah dari orang sebangsa kita sendiri. Zaman sekarang menjadi guru tidak lagi semata mengajarkan alifbata seperti dahulu, Saudara harus lebih daripada itu. [...]”
Mangkutak, yang sebelumnya hanya berkutat dengan buku-buku agama dan sastra saja, seketika ciut saat diajak Hosen berdebat tentang revolusi. Meski kemudian ia lekas sadar, daripada bersahabat dengan orang bebal, lebih baik berseteru dengan orang berakal. Begitu pun yang dialami Hasan, yang merasa ilmu agamanya matang, tetapi menjadi kerdil ketika dihadapkan dengan Rusli yang punya wawasan keilmuan begitu luasnya.
Saya yang membaca novel ini? Tiba-tiba pula merasa kerdil dan miskin ilmu. Maka saya akan mencoba mengamini petuah dari Hosen, “Berpolitiklah, belajar berpikir kritis, wahai Tuan Senang!” Pada akhirnya kita membaca bukan hanya untuk bersenang-senang.