Judul: Not Mine
Penulis: Delia Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 224 hal
Terbit: 17 April 2014
Harga. : Rp.55.000,00
Sinopsis:
Jantungku berdebar kencang tatkala menatap sepasang mata jernih pria itu.
Entah siapa yang harus kusalahkan ketika hati ini memilih adik kandung Papa sebagai pria pertama yang mengguncang pertahananku. Aku berusaha mengenyahkan perasaan ini. Namun, aku malah semakin terjerumus.
Hanya satu kalimat yang ingin kuutarakan padanya: Aku cinta Om Rafael.
***
Butuh 2 setengah jam untuk saya menyelesaikan novel ini. Awalnya berharap sekali akan menutup buku ini dengan ukiran senyum di bibir. Dan harapan saya buyar. Berat hati saya mengatakan novel ini tidak meninggalkan kesan istimewa di hati saya.
Ada beberapa bagian cerita yang dirasa tidak masuk akal. Nessa yang merupakan tokoh utama cerita dalam novel ini dijelaskan sebagai cewek kelas XII SMA yang akan menghadapi ujian nasional. Sebelumnya sudah diceritakan Om Rafael yang merupakan omnya Nessa ini adalah seorang wakil direktur di WJ Hotel. Pertanyaan saya, apa bisa seorang pria dengan jabatan wakil direktur hotel merangkap sebagai guru pengganti sementara di sekolah? Bukankah kualifikasi untuk menjadi seorang guru itu harus benar-benar punya basic pendidikan? Dan yang membuat saya mengerutkan kening, apa pihak sekolah menerima begitu saja tenaga bantuan dari orang yang tidak punya basic pendidikan untuk mengajar anak kelas XII? Kalaupun untuk mencari guru pengganti sementara, setidaknya masih ada guru Kimia yang mengajar di kelas X ataupun di kelas XI. Karena kelas XII selalu mendapatkan prioritas yang lebih. Kesannya kok agak dipaksakan.
Ya, bagaimanapun juga ini terserah penulisnya sih ingin membuat ceritanya seperti apa. Tapi, mungkin alangkah lebih baiknya jika penulis bisa memolesnya dengan lebih baik lagi.
Jujur, dari segi cerita menurutku agak sedikit mengarah ke 'sinetron'. Endingnya kurang memuaskan. Nessa sangat kekanak-kanakan. Dan karakternya kurang kuat menurut saya, walaupun ceritanya digambarkan melalui sudut pandang orang pertama. Ada adegan yang membuat saya berjengit di bagian ending dan sangat sinetron sekali. Patah hati lalu berniat bunuh diri. Ini sudah sering kali diperankan oleh artis-artis kita di televisi.
Lalu di beberapa bagian terdapat bagian yang bolong. Maksud bolong di sini adalah penulis menggambarkan sesuatu yang tidak penting sama sekali. Memang sih Nessa dijelaskan sangat mengidolakan Super Junior dan penulis beberapa kali menyebut-nyebut nama Super Junior di saat-saat yang menurut saya kurang tepat dan salah posisi.
Mungkin karena penulis sangat mengidolakan Super Junior, maka dari itu nama Super Junior sering disebut-sebut. Dan menurut saya sih, ini tidak ada hubungannya dengan alur cerita yang difokuskan ke Nessa dan Rafael. Memangnya apa peran Super Junior dalam cerita? Apa hanya untuk menambah lembar halaman saja? Entahlah. Saya pun tidak tahu.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, cerita ini termasuk dalam kategori bacaan ringan dan cocok untuk Anda yang membutuhkan bacaan di kala waktu senggang. Dan satu lagi, saya rasa Rp.55.000,00 terlalu mahal untuk harga sebuah novel yang masuk dalam kategori Teenlit. Saya tidak membicarakan nilai yang tidak sebanding dengan kualitas.
Rate untuk buku ini, mungkin 2 bintang saja.