Parasit dan Cerita-Cerita Lain dari Kampung Bantaran Kenangan karya Aris Rahman P. Putra menyuguhkan pengalaman membaca yang cukup menarik buatku.
Berisi kumpulan cerpen soal orang-orang yang tinggal di sebuah kampung di Surabaya. Diambil dari sudut pandang anak-anak, nyatanya kisah mereka memiliki benang merah satu sama lain hingga membentuk sebuah cerita utuh tentang masyarakat terpinggirkan, masyarakat yang dianggap sebagai “parasit”.
Ya, layaknya menyusun puzzle, pembaca akan diajak untuk menyadari bahwa … oh, ternyata bocah ini tuh orangtuanya si ini, oh ini kan bocah yang muncul di cerita sebelumnya, dan seterusnya. Bisa dibilang, cerita satu mampu memberi clue, alias menjabarkan konteks yang lebih detail untuk cerita lain. Momen-momen penyadaran inilah yang cukup penting buatku.
Pembaca pun juga diundang untuk menyelami kegetiran lewat kisah-kisah soal kemiskinan, ketimpangan kelas sosial, keenggaktahuan, kekuasaan, pengaruh buruk lingkungan, pengetahuan orangtua yang terbatas, salah pergaulan, bahkan kekerasan seksual.
Isu yang sangat lekat dengan kita, ya? Saking terasa dekatnya, aku ngerasa seperti nggak ada jarak antara pembaca dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Seolah kita sudah kenal siapa saja kelompok marjinal yang tinggal di Kampung Bantaran Kenangan.
Kalau dibayangkan lebih jauh, kita pun malah dijadikan saksi bisu akan betapa nggak adilnya hidup mereka ini. Sama halnya seperti sedang menonton kesedihan orang lain di TV, dari jauh kita bisa apa, nih?
Omong-omong, salah satu cerita yang lumayan bikin kepikiran (juga bikin mata melotot) adalah Gembelengan. Coba baca, deh. Sebenernya ketebak banget alur ceritanya ke mana, tapi … what??? Bisa-bisanya tetap bikin hati mencelos. 💔
Buku Parasit tipis saja, ceritanya sederhana, namun siapa sangka bisa bikin muram dan gelisah. 😢