Jump to ratings and reviews
Rate this book

Parasit dan Cerita-Cerita Lain dari Kampung Bantaran Kenangan

Rate this book
Parasit dan Cerita-Cerita Lain dari Kampung Bantaran Kenangan berisi kisah-kisah dari orang-orang yang tinggal di sebuah kampung kota di Surabaya. Kisah-kisah mereka memiliki singgungan maupun benang merah satu sama lain, dan kebanyakan dibingkai dengan perspektif tokoh yang merupakan anak-anak. Anak-anak yang mencuri gembok kuningan, anak yang bekerja sebagai pemulung, anak sopir angkot, anak yang dikucilkan oleh lingkungannya...

Semua cerita saling terhubung membentuk sebuah kisah utuh tentang kampung beserta orang-orangnya yang sama-sama terpinggirkan.

89 pages, Paperback

Published August 1, 2024

1 person is currently reading
39 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (10%)
4 stars
32 (42%)
3 stars
29 (38%)
2 stars
5 (6%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Gilang Bina.
32 reviews7 followers
September 25, 2024
Sebenarnya cerita-ceritanya cukup sederhana, bahkan beberapa terasa cepat selesai sebelum sampai di puncaknya, tetapi yang luar biasa adalah bagaimana Aris mengemas cerita-cerita itu menjadi satu konsep yang utuh tentang ingatan sebuah kampung, dan memasukkan referensi film dan musik dalam plot cerita.
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books50 followers
October 2, 2024
Ada satu cerita di buku ini yang waktu membacanya aku diliputi kegelisahan yang cukup intens. Cerita itu berjudul “Gembelengan”. Sebuah cerita kegetiran yang gagal kutanggulangi. Asem tenan kok. Heuheu

Aku mungkin cukup siap dengan cerita ‘ganjaran’ yang diterima anak-anak di “Pengutil”, kesedihan istri Mursid di “Parasit”, atau bahkan cerita gadis kupu-kupu di kereta di “Metamorlisa”. Tapi tidak siap dengan getir dan gelapnya cerita di “Gembelengan” itu—yang sialnya masih terngiang-ngiang bahkan ketika membaca cerita dalam cerita yang diselundupkan begitu saja dalam cerita “Nay”!

Cerita yang lain sama getirnya. Termasuk kenangan yang disusupkan Aris ke dalam “Epilog”-nya. Heuheu coba baca deh!
Profile Image for Haefa Azhar.
79 reviews
December 22, 2025
Kumpulan cerpen yang saling berkaitan satu sama lain dikemas seperti omnibus, namun terasa singkat, padat, jelas, dan meninggalkan kesan yang mendalam setelah membacanya. Jenaka, namun juga sarat akan makna. Uniknya di setiap cerita tertulis —buat (nama sutradara internasional hingga nasional, dan juga band musik) yang konteksnya penuh interpretasi.

⭐️ 77/100
Profile Image for Egy Imaldi.
30 reviews
May 12, 2025
Kumpulan cerpen yang ringan tapi berkelindan antara cerita satu dengan cerita lainnya.

Gemblengan dan Nay adalah dua cerpen favorit saya di buku ini. Pendek dan hangat.
Profile Image for Wanderbook.
126 reviews40 followers
June 30, 2025
Bukunya tipis sekali, hanya 82 halaman. Isinya beberapa cerita pendek yang saling berhubungan. Dua cerita yang membekas buat saya: Gembelengan dan Nay. Meskipun bahasanya ringan tapi gak ringan-ringan banget juga kehidupan yang diangkat di buku ini.

Menariknya beberapa diambil pakai PoV anak-anak, ada juga yang dewasa. PoV anak-anaknya lumayan seru, macam cerita petualangan (tapi saya punya catatan buat ini).

Menarik cara penulis mencoba menggabungkan semuanya dalam satu buku tipis ini. Secara keseluruhan ceritanya menarik. Tetap asik buat dibaca sekali dua kali duduk bisa langsung selesai.


Minusnya satu: PoV anak di buku ini ada beberapa yang gak masuk di logika saya.

Di Cerpen berjudul Planetarium misalnya. Kalimat “Aku juga bakal suka baca buku selain buku pelajaran kalau punya buku kaya gitu, Ndra. Sayangnya di rumah cuma ada koran lampu merah” terasa agak aneh keluar dari mulut anak SD kelas besar sekalipun. Ucapannya terlalu dewasa, terutama karena ada kesadaran soal jenis bacaan dan kondisi rumah yang biasanya belum terlalu dipikirkan anak-anak seusia itu.

Kalau dilihat dari teori perkembangan, anak usia segitu masih lebih fokus pada hal-hal yang langsung mereka alami, bukan menyimpulkan hal-hal abstrak seperti kritik terhadap akses literasi. Karena itu, ucapan ini terasa lebih seperti suara orang dewasa yang sedang berbicara lewat karakter anak, bukan suara anak itu sendiri. Cerpen ini memang seperti ingin menyampaikan pesan sosial, tapi sayangnya jadi kurang masuk di bagian PoV anak ini.

Hal serupa juga saya temukan di cerpen Nay yang di salah satu cerita dalam ceritanya, ada tokoh Ris, yang digambarkan sebagai anak yang sedang ‘bertualang’ dengan Ben dan Jep mengintip rumah Bik Meriam. Namun alih-alih petualangan seru, keluar dari pengintaian, Ris justru keluar dengan bersikap lebih dewasa dari anak seusianya, yg karena melihat sesuatu yang tak boleh ia lihat, malah keluar mengajak semua pergi, dan meminta Ben untuk tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakan ayahnya. 🫠

Sayang banget, padahal selain poin anak-anak yang terlalu dewasa cara bicara dan berpikirnya ini, sisanya saya suka. Kan anak-anak di kampung yang hidup dalam kemiskinan juga tetap anak-anak hehe gak ujug ujug semua jadi 10 tahun lebih tua usia mentalnya.
Profile Image for Day Nella.
256 reviews5 followers
April 10, 2025

"Dua bocah dengan tekun mengamati pagar tiap rumah. Sebuah gembok Kuningan besar bisa dihargai dua ribu lima ratus rupiah. Sedang yang berukuran besar bisa dihargai lima ribu rupiah." Hal 5
-
Parasit Dan Cerita-Cerita Lain Dari Kampung Bantaran Kenangan
Aris Rahman P. Putra
Penerbit Marjinkiri
Cetakan pertama, Agustus 2024
Tebal 89 Halaman
-
Sejak awal penasaran dengan cover dan judulnya yang membuatku akhirnya pilih buku ini.
Karena semua berisi kumpulan cerpen tentang kehidupan kelas bawah, isu sosial ekonominya terlalu pekat, membuatku gelisah dan ketar ketir saat baca.
-
Beberapa cerita meninggalkan kesan seperti jeruk nipis membuatku meringis, sampai ke bagian yang seolah-olah aku melihatnya sendiri jadi bikin ngeri dan emosi. Campur aduk.
Setiap cerita meski berbeda, tapi ada benang merah antara satu dengan yang lain. Terpisah akan masa atau tahun kejadian.
Tentang anak-anak yang tinggal di sebuah kampung di Surabaya. Mengharapkan kebahagiaan dari secuil perbuatan yang mereka pikir benar, tapi tetap jadi salah dan jadi bulan-bulanan mereka yang berkuasa.
Hidup yang serba pas-pasan. Seolah-olah meski hanya satu dua lembar rupiah saja sudah membuat mereka riang gembira. Hingga kekerasan yang kerap terjadi sampai tak lagi merasakan sakit, melainkan berubah jadi kesenangan dari rasa sakit yang tak lagi bisa dihitung.
Lalu ditutup epilog yang makin menyayat hati. Bahwa mereka yang terpinggirkan akan tetap berada di sana. Tak akan pernah berubah seperti namanya yang menjadi kenangan.
-
Aku suka banget dengan buku ini. Setiap cerita memiliki kegetiran. Namun, hanya beberapa yang meninggalkan kesan mendalam. Gaya bercerita sang penulis begitu apik dan ringan.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
May 25, 2025
Menemukan buku ini secara tak sengaja pada acara 20 Tahun Marjin Kiri.
Dibeli bukan karena harganya, tapi karena butuh bacaan yang mampu menyembuhkan kebosanan membaca belakangan. Sepertinya, beberapa kali menemukan buku bacaan yang "bukan saya" membuat rasa malas membaca muncul. berhatrap buku tipis ini mam[u menjadi obat.

Dalam 8 cerita plus Prolog dan Epilog, penulis mengajak pembaca untuk mengikuti berbagai hal yang terjadi di Kampung Bantaran Kenangan. Umumnya kisah yang disajikan tidak terlalu panjang. Beberapa kali saya harus merasa kecewa karena kisahnya berakhir. Namun, ternyata akhir kisah justru membuat saya berimajinasi sendiri.

Bagaimana jika Nay pindah rumah, apakah "aku" merasa kehilangan seorang sahabat atau kesempataan menikmati makan dan minum enak? Bagaimana jika polisi yang kehilangan pistol pada kisah Parasit mendatangi rumah Mursid dan mengamuk? Seharusnya tak ada yang tahu ia kehilangan pistol hingga ditemukan di TKP. Bagaimana... berbagai bagaimana menghantarkans aya pada kepuasan membaca.

Kenapa tidak ada ilustrasinya ya? Saya jadi berimajinasi kira-kira ilustrasi apa yang cocok untuk setiap kisah. Apakah gambar Rhoma Irama yang memegang gitar pada kisah Rhoma, atau gambar gitar dan kaset?

Untunglah, kali ini saya membeli buku yang tepat.
Kekurangannya hanya hurufnya yang sedikit kurang besar bagi mata tua saya.
Profile Image for A.
19 reviews1 follower
October 28, 2024
Aku pikir, buku ini akan seperti Tempat Terbaik di Dunia milik Roanne van Voorst (yg jg diterbitkan oleh Marjinkiri). Tapu waktu baca buku ini, nyatanya ya beda. Ini bukan tulisan etnografi, meskipun nama latar tempatnya mirip-mirip. Yang satu Kampung Bantaran Kali dan yang satu Kampung Bantaran Kenangan.

Ketika membaca buku ini, saya dihampiri perasaan tidak nyaman. Entah bagaimana menjelaskannya, rasanya seperti ada kegetiran yang menusuk di dada. Di bagian Metamorlisa, sebetulnya saya sudah berniat untuk tidak melanjuan buku ini. Tapi pikir saya, sayang ah karena bukunya tipis sekali, jadi ya sudah dilanjut saja.

Pada bagian Nay, di cerita-cerita tambahan itu saya lewati karena membosankan.

Sebetulnya saya suka dengan ide besar dalam tulisan ini. Isu politik perkotaan dan ketimpangan sosial-ekonomi menjadi ide besar dalam tulisan ini, akan tetapi, seperti yang telah saya tulis tadi: di beberapa bagian membuat saya tidak nyaman. Ya memang sepertinya not my cup of tea.

Oh ya, meskipun buku ini sebagian besar bercerita tentang kehidupan anak-anak, tapi saya gak yakin buku ini bisa untuk dibaca semua kalangan usia.
Profile Image for Juinita Senduk.
120 reviews3 followers
July 24, 2025
"Aku juga bakal suka baca buku selain pelajaran kalau punya buku kayak gitu, Ndra. Sayangnya di rumah cuma ada koran lampu merah!"

Saya pun tertawa getir saat membaca petikan pembicaan antara Ndra dan Har dalam kisah Platenarium.

Fakta pahit yang disampaikan lewat celoteh anak-anak atau tentang tugas menulis resensi dari buku cerita dari Guru Bahasa Indonesia.

Pertama, aku tak pernah punya buku dongeng. Di rumah hanya ada tumpukan koran lampu merah dan cuma bacaan itu yang sering kubaca. Kedua, di sekolah ini tak ada perpustakaan. Kalau mau baca buku harus pergi ke perpustakaan daerah atau perpustakaan kota yang jaraknya cukup jauh dari rumahku.

Hanya 83 halaman dengan 8 judul, Aris Rahman Putra, menyajikan kehidupan anak-anak yang terpinggirkan dari sebuah kampung di bantaran kali sebuah kota di Surabaya.

Ke-delapan cerita yang di awali dengan prolog dan di akhiri dengan epilog, menyajikan kegetiran demi kegetiran.

Rasanya saat membaca kisah-kisah itu, saya seperti diingatkan kembali saat masuk ke labirin rumah di pinggiran rel kereta. Bedanya kali ini, saya menjadi bayangan yang mengikuti mereka, duduk, sekolah bermain, makan, ruang tidur dan bak sampah.

Dari kedelapan kisah ini, selain Nay, Platenarium dan Epilog, ada satu kisah yang membuat saya merasa tak berdaya, Gemblengan.
Profile Image for Dinda Mahadewi.
69 reviews1 follower
December 6, 2024
Waktu di Jakarta kemarin, mampir ke @patjarmerah_id dan membawa pulang beberapa buku, salah satunya buku bertandatangan ini! 😆

Buku ini berisi kumpulan-kumpulan cerita pendek yang di dalamnya terdapat makna yang sangaaaat dekat dengan kehidupan kita.

Dua cerita yang paling aku ingat adalah Metamorlisa dan Rhoma (...aku selalu kepikiran untuk membubuhi kata Arema, gatau kenapa).

Metamorlisa bercerita tentang keputusasaan. Seseorang bisa saja pergi meninggalkan dunia ini, namun namanya hidup bukankah harus tetap berjalan?

Rhoma... bercerita tentang bara api masa muda yang menghanguskan kehidupan seorang perempuan, dan hal itu terulang kembali.



Buku ini kutamatkan saat di Solaria, menunggu penerbanganku (yang terlambat itu!) Sebenarnya senang-senang saja bisa menamatkan satu buku.. tapi waktu nunggunya itu agak menguras emosi dan tenaga. Ah sudahlah! 😂
Profile Image for naabilaputri.
26 reviews52 followers
March 14, 2025
Sama seperti judul film pemenang Academy Award 2019 lalu, bacaan ini punya ide cerita yang bisa dibilang terinspirasi oleh film tersebut sesaat kamu membaca bagian prolog. ketimpangan kelas sosial yang tersirat dan tersurat dalam kumcer ini diwakili oleh sudut pandang kepolosan sekelompok anak SD yang mencari sorot utama buku ini, membuat aku sebagai pembaca menjadi termenung bahwa sebetulnya memang sedari kecil kita sudah tahu siapa si Kaya dan siapa si Miskin.

Meski berlatar di Surabaya, sayang latar Surabaya dan penggunaan beberapa kata Suroboyo minim sekali ditemukan. Jadi, buat kamu yang ingin bernostalgia dengan suasana Surabaya aku pikir bacaan ini tak menyuguhkannya, melainkan menyuguhkan cerita renungan ketimpangan sosial bak film parasit dengan kemasan yang lebih ringan.
Profile Image for Jessica Syafaq M.
3 reviews
January 9, 2025
Aku yakin, anak-anak yang diceritakan di buku ini tidak mengenal apa itu kesadaran kelas, tapi mereka menjalani kehidupan yang dimarjinalkan. Perspektif mereka yang polos terasa lebih menyesakkan.

Membaca buku ini membuat kepalaku cukup gaduh dengan pikiran-pikiran soal konsep kelas. Juga mulut ku tak henti memisuh karna membayangkan kehidupan anak-anak di Bantaran Kenangan, rasanya terlalu nyata. Karna aku yakin ini bukan cuman kumpulan cerita, tapi kejadian nyata, di Surabaya.
65 reviews
December 11, 2024
Salah satu buku yang membuat saya merasa ingin misuh misuh pada dunia karena kebobrokan yang sistematis dalam struktur kehidupan menengah ke bawah. Ironisnya, orang orang di dalamnya merasa kejadian itu hal normal dan hidup masih harus terus berlanjut.
Profile Image for Ms.TDA.
241 reviews4 followers
September 29, 2025
Karena dari awal sudah di claim ini adalah kumpulan cerpen tapi memiliki keterkaitan satu sama lain, penulis cukup membawaku keliling dan menyelam tentang kehidupan struktural sosial warga di Kampung Bantaran Kenangan. 🏙️

Nice for one sit read though. 👍🏻
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
December 10, 2025
92 - 2025

Biarpun ini bukunya tipis, tapi enak banget dibaca dalam perjalanan. Aku baca dalam perjalanan udara YIA-PLM karena ga tau kenapa gak bisa tidur, dan dah kelar aja buku ini.

Kisah-kisah pendek dari KBK ini sederhana tapi rasanya bagus dan menarik aja buat dibaca.
Profile Image for moonyphase.
50 reviews3 followers
October 11, 2024
Getir & funny in a very good wayy!
Sebagai penggemar cerpen & penikmat film rasanya kumcer ini terasa begitu personal buatku, huhu
Profile Image for Citra.
73 reviews1 follower
January 8, 2025
Sebagai pembuka tahun yang lumayan muram karena kumpulan cerpen ini cukup bikin gelisah, terlebih lagi banyak diceritakan menggunakan sudut pandang anak-anak.

Bagian Nay, ada selipan cerpen yang membuat saya lumayan berpikir, apa maksudnya diselipkan cerita ini? Sekali lagi, jika dilihat menggunakan sudut pandang anak-anak, ada semacam perasaan "Kok tidak wajar cerita ini dibaca oleh anak-anak ya?" Apa hubungannya dengan Nay yg cuma memandangi dengan tatapan kosong saat para pengutil dipukuli?

Cukup menantang dalam menyusun puzzle setiap cerita. Tetapi, bagian Gembelengan sangat menyayat hati.
Profile Image for Mikael.
Author 8 books87 followers
April 27, 2025
tldr: silam pukau versi prosa? 😀 menarik jg melihat buku ini, spt CICO bardjan, atau trivia kampung sawah irzi, jg mencoba membangun intertekstualitas bukan dengan karya sastra lain tapi dengan film dan musik. kenapa? apakah sastra (indo) udh sebegitu gak inspiringnya-kah? tiap cerpen di sini didedikasikan utk sutradara dan karya mrk: "pengutil" buat shoplifters kore-eda; "parasit" buat (obvi) bong joon-ho; "nonfiksi" buat science of fictions cecep anggi noen; plus satu yg dedikasinya non-film buat jirapah, "planetarium", salah satu judul lagu mrk.

dlm sastra indonesia eksperimen spt ini jg pernah dibikin oleh misalnya wendoko dalam puisi, yg suka bikin basically sinopsis puitis dr sutradara² indie macam victor erice; dan danarto yg suka masukin notasi balok dan adegan² film action hollywood (eg, rambo) ke dlm cerpen²nya.

mirip dgn kedua nama di atas dan akhir2 ini bardjan yg mencoba mengeksploitasi filmmaking sbg strategi kepenulisan (selain memakai warna pink loveless mbv utk menyugestikan lovelessness dalam CICO), intertekstualitas @humansnob dlm kumcer juga ia karyakan untuk memperkaya tulisannya, terutama dalam caranya menciptakan alegori suroboyo (kampung bantaran kenangan di judul) lewat pastiche dari karya² yg dia jadikan referensi.

memanfaatkan recurring ensemble cast (mat, risman, nay, ndra) ala film² marvel/karakter² serupa tapi tak sama di film² kore-eda/bong joon-ho/wong kar wai, aris membuat "cerita² lain" aka basically fan fiction dr versi yg telah ada sebelumnya dari para sutradara tersebut, dan kebanyakan tema fan fictionnya senada: pengutil jg ttg pengutil; parasit jg ttg org misqueen yg (hampir) menggunakan violence utk "memberantas kemiskinan di keluargaku"; dan di metamorlisa ia menggunakan karakter yg spt kombo ophelia di pan's labyrinth + pinocchio del toro: karakter nonhuman yg mati/bundir ketabrak peradaban yg diwakili oleh kendaraan.

hanya cerita buat jirapah yg judulnya tdk diplesetkan dari inspirasinya, sama² "planetarium", yg justru spt merevisi kegenitan lirik jirapah yg sekedar ttg sebuah bumble date di planetarium menjadi sebuah cerita ttg absennya eskapisme (eg, sebuah planetarium) dalam kehidupan marjinal masyarakat urban yg hidup bukan cuma di bantaran tapi juga di bawah garis kemiskinan dan sebentar lagi akan digusur jadi tinggal kenangan.

btw, ini adalah buku ketiga yg terbit di paruh kedua 2024 sejauh yg aku tahu yg memakai kata "kampung" di judulnya selain buku irzi yang disebutkan di atas, dan MONGREL KAMPUNG oleh yours truly. mongrel kampung sdh direncanakan sejak 2018, bbrp puisi dr situ sdh sempat diterbitkan di asymptote di tahun yang sama. doesn't really matter who got there first, tapi ada apa dengan kampung dalam sastra indonesia sih?
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
February 8, 2025
Parasit dan Cerita-Cerita Lain dari Kampung Bantaran Kenangan karya Aris Rahman P. Putra menyuguhkan pengalaman membaca yang cukup menarik buatku.

Berisi kumpulan cerpen soal orang-orang yang tinggal di sebuah kampung di Surabaya. Diambil dari sudut pandang anak-anak, nyatanya kisah mereka memiliki benang merah satu sama lain hingga membentuk sebuah cerita utuh tentang masyarakat terpinggirkan, masyarakat yang dianggap sebagai “parasit”.

Ya, layaknya menyusun puzzle, pembaca akan diajak untuk menyadari bahwa … oh, ternyata bocah ini tuh orangtuanya si ini, oh ini kan bocah yang muncul di cerita sebelumnya, dan seterusnya. Bisa dibilang, cerita satu mampu memberi clue, alias menjabarkan konteks yang lebih detail untuk cerita lain. Momen-momen penyadaran inilah yang cukup penting buatku.

Pembaca pun juga diundang untuk menyelami kegetiran lewat kisah-kisah soal kemiskinan, ketimpangan kelas sosial, keenggaktahuan, kekuasaan, pengaruh buruk lingkungan, pengetahuan orangtua yang terbatas, salah pergaulan, bahkan kekerasan seksual.

Isu yang sangat lekat dengan kita, ya? Saking terasa dekatnya, aku ngerasa seperti nggak ada jarak antara pembaca dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Seolah kita sudah kenal siapa saja kelompok marjinal yang tinggal di Kampung Bantaran Kenangan.

Kalau dibayangkan lebih jauh, kita pun malah dijadikan saksi bisu akan betapa nggak adilnya hidup mereka ini. Sama halnya seperti sedang menonton kesedihan orang lain di TV, dari jauh kita bisa apa, nih?

Omong-omong, salah satu cerita yang lumayan bikin kepikiran (juga bikin mata melotot) adalah Gembelengan. Coba baca, deh. Sebenernya ketebak banget alur ceritanya ke mana, tapi … what??? Bisa-bisanya tetap bikin hati mencelos. 💔

Buku Parasit tipis saja, ceritanya sederhana, namun siapa sangka bisa bikin muram dan gelisah. 😢
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.