SIAPKAH KAU MENUKAR HASRAT TERBESARMU DENGAN NYAWA?
Datanglah pada pukul 11 .11 malam ke restoran kusam dan kosong yang hanya diterangi lilin itu. Di dalamnya ada sosok misterius yang mirip seorang pemuda, tapi kau tahu dia bukan manusia.
Duduklah di depan sosok itu. Ucapkan permintaanmu: jadi artis terkenal, menyingkirkan mantan yang terobsesi, atau balasan atas orang yang melecehkan adikmu. Semua itu pasti terkabul. Setelahnya, kau harus siap membayar dengan apa saja, bahkan nyawa....
Jika pernah baca Zenitendo, maka Restoran Terkutuk ini premisenya mirip - mirip Zenitendo. Hanya lebih horor, lebih gore, dan jelas-jelas bukan buat anak kecil. Menceritakan sebuah restoran bernama Restoran Bisa, kalau kamu ada sesuatu yang ingin dikabulkan, maka datanglah ke restoran ini tepat pada pukul 11.11 dan ucapkan permintaanmu pada sang penunggu restoran bernama Ro. Permintaanmu dikabulkan, tapi di dunia ini ga ada yang namanya makan siang gratis kecuali di negeri +62 . Semua ada konsekuensinya.
Restoran Terkutuk terdiri atas 13 cerita pendek dengan beberapa intermezzo dimana intermezzo ini menceritakan tentang masa lalu Ro, ibunya dan makluk gaib bernama Karkata yang nantinya nasib ketiga orang ini saling berkaitan sampai akhirnya Ro menjadi pegawai penunggu tetap di Restoran Bisa. Tiap cerpen punya struktur yang hampir sama. Si X datang menyampaikan permintaan, Ro mendengarkan sambil sesekali mengingatkan jika permintaan yang bisa dikabulkan hanya satu saja, dan permintaan si X pun terkabul. Tapi akibatnya pun juga beragam. Ada yang balasannya datang langsung, ada juga yang setelah sekian lama. Entah kenapa kok bisa beragam.
Dari kumcer yang ada -karena cerpen - cerpen awalnya seragam semua premisenya sehingga hampir memantik rasa bosan-, ada juga beberapa cerpen yang gue suka. Seperti kisah "Lukisan" yang menurut gue paling seram dan "Konten" yang termasuk cerpen yang unik karena penceritaannya yang cukup lain. Hampir semua cerpen diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, kecuali cerpen berjudul "Gadis Populer" yang diceritakan dari sudut pandang orang pertama dan cerpen terakhir berjudul "Ro" yaitu cerpen ketiga belas. Tiga belas cerpen (tidak menghitung intermezzo) seakan ingin menambah vibes creepy di kumcer ini. Cerpen "Ro" sendiri menceritakan kenapa Ro mau jadi penunggu di Restoran Bisa meski ga menjelaskan banyak hal yang jadi pertanyaan gue. Menurut gue pun, beberapa cerpen ini endingnya agak ngambang, terutama setelah "kesialan" terjadi ke orang yang pergi ke Restoran Bisa. Padahal gue kan cukup penasaran juga ya, apa bakal ada kelanjutannya kayak misal di cerpen "Lukisan" atau "Tuduhan". Walau ada juga cerita dengan vibes yang cukup hangat, tapi ya cuma sedikit. Ga peduli permintaan ke Restoran Bisa awalnya dari keadaan yang terhimpit atau bukan untuk kepentingan pribadi, seperti misal ingin lepas dari mantan pacar yang posesif atau mengadili ayah tiri yang melecehkan sang adik, balasan selalu datang pada orang yang meminta.
Menurut gue ide Eve Shi untuk Restoran Terkutuk ini bukan ide yang baru karena toh ide tentang bangunan atau sihir pengabul permintaan itu udah sering banget dipake apalagi kalau kamu suka baca manga Jepang kayak XXX Holics, Tales from the Dark Side atau Petshop of Horror. Tapi eksekusinya sendiri patut diapresiasi meski juga meninggalkan banyak pernyataan. Gue acungkan jempol buat horrornya karena ga cuma membuat perasaan jadi kurang nyaman, tapi ada juga beberapa adegan jumpscare yang bikin gue merinding dan jadi takut pergi ke kamar mandi XD. Kumcer yang menurut gue potensinya besar hanya perlu beberapa hal yang butuh penjelasan lebih lanjut.
Kumpulan cerita dengan tema sebuah restoran yang mampu mengabulkan permintaan apapun. Tentu saja ada "harga" yang harus dibayar oleh si peminta.
Untuk tema cerita seperti ini biasanya bergantung bukan hanya pada tiap cerita pendeknya, tapi juga bagaimana si penulis membangun misteri tentang restoran tersebut serta si pemilik restoran yang mengabulkan setiap permintaan.
Untuk latar belakang Ro, si pemilik restoran, menurutku sudah cukup memuaskan. Alasan kenapa dia bekerja mengabulkan permintaan orang-orang sepertinya bisa lebih dipertegas lagi.
Beberapa cerita favorit di sini: "Lukisan", "Konten", dan "Gadis Populer".
Restoran Bisa terletak di salah satu ruas jalan di Bogor, berseberangan dengan warung makan. Bangunannya sempit, kumuh, suram, dan nggak pernah ada pembeli, tapi juga terus bertahan sampai puluhan tahun. Ternyata yang dijual emang bukan makanan, melainkan kemampuan untuk mengabulkan permintaan tamu yang diucapkan pukul 11.11 malam, dengan tumbal yang setimpal pastinya.
Aku berpikir untuk memberi rating 2 bintang, kalau aja bab terakhir itu nggak ada. Bab terakhir itu semacam kesimpulan dari semua cerita dan tumpahan informasi-informasi penting, walaupun sebenarnya masih banyak info yang luput dan kalau digali mungkin bisa bikin lebih menarik. Misalnya, kenapa harus jam 11.11? Kenapa setiap orang hanya boleh memberi info kepada 1 orang? Apa selama puluhan tahun nggak ada yang melanggar ketentuan? Dan kalau ada, dampaknya apa? Lalu hanya Winny yang tertarik buat mengulik restoran mistis ini, mengingat di Indo yang mistis dikit pasti langsung viral, dan semua orang lomba-lomba ngevlog di sana.
Menurutku, buku ini seharusnya dilabeli "kumcer" sih, karena beneran nggak ada keterkaitan cerita masing-masingb bab, kecuali mereka semua "minta ke restoran bisa". Karena aku bukan penggemar kumcer, jadinya ya aku kurang happy waktu baca ini.
Meski begitu, ada beberapa judul yang menurutku terbaik, yaitu: Lukisan dan Tuduhan, dua-duanya karena plot twist yang lumayan menggocek. Oh yang Popular Girl juga bagus sih, karena beda dari yang lain.
Kelebihan cerita ini adalah di cara bercerita Kak Eve Shi yang menurutku nyaman banget kubaca. Serius. Bacanya tuh semacam effortless gitu. Nggak ada halangan-halangan yang bikin mengernyit gitu.
Tapi ya itu tadi, karena ini semacam kumcer (atau mungkin ada nama khusus untuk konsep tulisan semacam ini? Aku nggak tahu), jadi aku nggak menemukan konflik ataupun klimaks yang benar-benar puncak gitu karena masing-masing cerita ada konflik dan klimaksnya sendiri. Mungkin karena aku bukan penggemar kumcer, cerita-cerita yang sudah kubaca juga nggak terlalu membekas, malah aku udah banyak lupanya ketika menutup buku ini.
Overall, buku ini cocok untuk kalian yang suka kumcer yaa. Dan seperti biasa gaya bercerita penulis nggak mengecewakan, meski harus kuakui kalau aku mengharapkan plot yang lebih menarik dari ini.
Buku ini merupakan kumpulan sejumlah cerita yang semuanya berkaitan dengan sebuah restoran misterius di Bogor bernama Restoran Bisa. Restoran ini konon bisa mengabulkan permintaan apa pun yang diajukan di situ pada pukul 11.11 malam, namun sang pemohon harus memberikan bayaran. Bisa saja jadi ia yang tertimpa sial, atau keluarga terdekatnya mengalami musibah. Ini premis yang menarik, mengingatkan pada karya-karya seperti Tales from the Darkside oleh Matsumoto Yoko. Namun setelah saya membaca buku ini, ada sejumlah perasaan mengganjal.
Yang pertama, format kumpulan cerita memang memungkinkan disertakannya beraneka ragam kisah dengan bukan hanya karakter yang berbeda-beda, namun juga cara penulisan yang tidak selalu sama. Sebagian cerita, misalnya 'Gundukan Tanah', berhasil hadir dengan menarik dan memanfaatkan format cerita pendek dengan baik. Namun banyak cerita lain yang bagi saya kurang bisa menggali karakternya dan masalah mereka dan mengapa saya harus 'peduli' dengan cerita mereka itu. Cerita-cerita itu - seingat saya, kebanyakan atau mungkin semua terletak di paruh pertama buku - cenderung seragam. Daripada 'cerita', kita lebih seperti disodori 'berita': ini karakter bernama si X, si X datang meminta sesuatu ke pemuda bernama Ro yang ada di Restoran Bisa, X menceritakan hal yang membuatnya terdorong datang ke situ, dan Ro(?) lantas mengabulkan permintaannya, lalu ada bayaran sebagai pertukaran bagi terkabulnya permintaan itu. Apa ya, kalau kata orang, mungkin terlalu 'telling' alih-alih 'showing'. Apalagi Ro pasif sekali, nyaris tidak berkomentar ataupun melakukan apa-apa. Keberadaannya hampir tidak terasa. Bahkan bisa saja cerita diubah jadi pemohon hanya perlu datang ke restoran itu, mengucapkan keinginannya di ruang kosong tanpa ada siapa-siapa, ya ceritanya tetap bisa jalan.
Nah, yang lebih mengganjal bagi saya adalah 'cara kerja' restoran yang dijelaskan sambil lalu saja bahwa itu berkat jimat-jimat milik sebuah keluarga yang terkubur di bawah restoran. Untuk apa jimat-jimat itu mengabulkan permintaan sambil tetap meminta bayaran? 'Hukum' apa yang melandasinya? Mengapa bayarannya terkesan random, tidak selalu terasa setimpal dengan beratnya permintaan? Mengapa ada yang balasannya kontan, ada yang lama? Memangnya kalau Ro dan rekannya yang bernama Karkata tidak meneruskan 'usaha' restoran pengabul permintaan itu kenapa? Mengapa jimat-jimatnya tidak didiamkan saja? Mengapa harus pukul 11.11 malam? Akhirnya malah penggambaran tentang cara kerja restoran itu yang justru membuat saya tidak puas. Kekurangan penjelasan besar itu jadi membuat cerita-cerita terasa tercerai-berai, tipis benang penghubungnya, meskipun cerita-cerita itu tetap bisa dinikmati secara individual. Mungkinkah perlu satu buku lagi untuk membangun dunia Restoran Terkutuk yang lebih solid?
Akhir kata: Catatan untuk penerbitnya (Elex). Tolong dibetulkan dong format digital di Google Play Store. Kalau mode baca diubah menjadi flowing text, teks buku langsung berantakan. Hal yang sama berlaku juga untuk buku Eve lain yang saya beli lewat aplikasi tersebut. Sungguh mengganggu kenikmatan membaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
After putting it off for a while, I finally finished reading this and practically skimmed the last 50% credits to my determination to finish this book. the first chapters are intriguing, but it gets boring after a few chapters ahead. I wonder if the short stories in between the main story could be patched up by intertwining them and connected to the main story so it may or may not can be a little bang for the ending. I feel like, the author doesn't have to put so many short stories for the intermezzo and focus more on the main story, furthermore, the main story was put as an intermezzo, which is very confusing for me (the reader). at the end of the story, the author fails to convey all of the answers I (as a reader) have, such as, who is Karkata? what kind of creature he is? how did the restaurant work? and what about Ro's journey before the restaurant? these questions could be answered if the author more focus to elaborating on the main story and adding the short stories in between as an intermezzo, not the other way around. I gave it 3 stars because I like how the author described the gore scene, the eeriness, and the creepy vibe in the story.
jujur idenya lebih unik dari BIOSKOP ARWAH, tapi sayang eksekusinya membosankan. gue ngantuk. dominan tentang klien2 restoran bisa tuh berasa baca antologi cerpen. nyaris DNF gue. tapi bertahan karena penasaran si Ro ini siapa? asal usul restoran gimana? nyatanya yang gue tungguin malah seuprit. nanggung. masih banyak pertanyaan di kepala gue. terus pas jelasin masa lalu Ro ada bocor pov.
Cerita ini meski disuguhkan horor namun unsur manusiawinya lebih kuat. Ada permintaan tolong, ada bantuan, ada sokongan ada ganjaran. Aura keseramannya diperoleh justru saat permintaan ini telah dikabulkan dan ada harga yang harus dibayar berupa kecelakaan atau kemalangan. Kesan misterius dari Restoran Bisa dan orang yang meminta bantuan menjadi salah satu daya tarik di awalnya.
Semua cerita terasa sangat personal dengan permasalahan yang kompleks. Paling suka dengan kisah Tuduhan, karena berbohong pada setan pun ada ganjarannya. Menghibur dan eksekusinya mantap.