Mimpiku untuk jadi dokter harus kandas setelah dua kali tidak lulus ujian masuk fakultas kedokteran. Mimpi hidup enak di Jakarta, kenyataannya harus rela kerja serabutan dan hidup menumpang orang. Mimpi tentang gadis itu, harus puas dengan bertepuk sebelah tangan. Jalan impian di depanku sepertinya memang tidak lurus. Selalu ada saja tikungan. Dan, melenceng dari apa yang kita impikan mungkin tidak terlalu buruk? Di tengah kesulitanku, tikungan jalan itu mulai terlihat. Sosok itu menggiringku pada apa yang kuraih hari ini. Mengenalkanku pada dunia baru. Pertemuan itu, senyum anak-anak itu mengubah jalan hidupku ….
(buku ini saya pinjam dari Lapak Baca BLK) Kisah perjalanan Ka Seto di dunia pendidikan. Ada satu kalimat yang selalu saya ingat, intinya begini “murid kamu harus lebih pintar dari kamu (gurunya)”.
Berawal dari merantaunya Ka Seto ke Jakarta dan perjuangannya untuk hidup di Jakarta dengan bekerja sebagai tukang parkir, penulis, kuli bangungan, dan pengajar. Di buku ini juga menceritakan perjuangan untuk masuk di jurusan yang diimpikannya. Walaupun pada akhirnya tidak sesuai dengan yang diimpikannya dulu, tapi jurusan yang diambilnya ini ternyata memberikan pembelajaran untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia.
Buku ini menginspirasi dan memberikan semangat pantang menyerah. Cerita perjalanan mengajar Ka Seto di buku ini juga menarik, bagaimana belajar bukan hanya mendengarkan guru di kelas tapi bisa dimana saja dan menggunakan metode yang beragam. Tapi kurang suka karena lumayan banyak cerita romance nya (padahal dibukunya ditulis kalau romance nya hasil imajinasi).
Kakak Batik adalah nama lain dari Adi Witjaksono, atau yang biasa disebut Kak Adi. Cita-citanya yang ingin menjadi Dokter harus kandas karena dua kali gagal dalam SIPENMARU Fakultas Kedokteran. Hal tersebut membuatnya patah hati. Kepergiannya ke Jakarta, mempertemukan Adi dengan Bapak dan Ibu Dibyo Mangunkusumo. Tokoh bersahaja yang sangat ia kagumi sejak kecil yang juga sangat mencintai dunia anak-anak.
Membaca novel semi-autobiografi Kak Seto ini sekaligus ajang nostalgia generasi '90-an dengan Si Komo (Komodo), Si Ulil (Ulat Kecil), Si Dompu (Domba Putih), Si Belu (Bebek Lucu), dan Si Piko (Sapi Kokoh) dan lagu-lagu karya Kak Seto. Ditambah romansa (yang katanya) fiksi, juga penggunaan diksi yang sesuai, membawa gue seakan ikut hanyut dalam cerita tersebut, dan tak ingin berhenti membaca. Seru!
Banyak pesan yang disisipkan Kak Seto dalam novel ini.
"Anak-anak adalah penerus bangsa dan bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai anak-anak."
Sederhana. Sebuah buku dengan gaya tutur yang sangat sederhana dan memang bercerita tentang seseorang yang sangat sederhana. Tapi, jujur karena terlalu sederhana jadinya kurang tertarik... baru baca sekitar 50-an halaman tapi ngerasa agak membosankan. Sayang sekali, padahal pengen tahu banget kisah hidup Kak Seto, tapi ya pengemasannya ini kurang wahhh
Sebuah novel yang terinspirasi dari 44 tahun pengabdian Kak Seto dalam dunia anak-anak. Sebuah novel yang menggugah rasa empati dan simpati. Dengan penceritaan yang khas dari Kak Seto, pembaca seakan terbawa dalam haru biru kisahnya. Selamat membaca ;)