Iblis tidak berdiam di neraka. Ia hidup dalam dalam berbagai wujud, mengenakan topeng seorang teman, kekasih, rekan kerja, bahkan orangtua. Mereka hidup selayaknya manusia biasa.
IBLIS DI PEKARANGAN adalah sekumpulan cerita pendek yang menyoroti kegelapan hati manusia. Empat belas ceritanya akan mengajakmu berkarnaval mengintip teror lintah darat, kekasih yang manipulatif, perselingkuhan, pembunuhan, sampai tikus-tikus di gudang.
Bersiaplah untuk terlibat dengan empat belas iblis dari berbagai pekarangan rumah. Semoga barisan iblis ini bisa membantumu mengenali kejahatan di sekitarmu—bahkan, di dalam dirimu….
Ayu Welirang is the author of Go Kory, Go!, Not for IT Folks, Opera Terakhir (short story in Antologi Kasus Sherlock Holmes Fans Indonesia), Double Life, Mata Pena series, Lelaki Bernama Sidik (short story in Antologi Detectives ID 2: Histerical Mystery), Rumah Kremasi, Halo Tifa, 7 Divisi, and Februari: Ecstasy. She is also the Indonesian translator of the first inverted detective story by R. Austin Freeman, entitled The Singing Bone. Her latest thriller book, Jejak Balak was chosen as the 2nd Winner of #LombaThrillerGPU held by Gramedia Pustaka Utama (GPU) and Gramedia Writing Project (GWP). In 2023, Ayu won the Author of the Year award from the Scarlet Pen Awards organized by Detectives ID.
In addition to fiction, she also wrote some light essays about politics, media, music, books, and movie reviews. These essays are published in Harian Pikiran Rakyat, Bandung Music web portal, Serunai.co, Omong-omong.com, and Jakartabeat.Net.
Learn more at www.ayuwelirang.com and connect with Ayu on Twitter or Instagram @ayuwelirang.
Judul: Iblis di Pekarangan Penulis: 14 Iblis Penyunting: Andry Setiawan, Adisti Desain Sampul: Polamelia Penyelaras Aksara: Selsa Chintya Penata Sampul & Isi: Propanardilla Penerbit: Haru Cetakan: I, September 2024
~Bagaimana jadinya jika ada 14 Iblis berkomplot menciptakan golak kengerian sarat debar, denyar suram, hingga genang darah?~
Rasanya kurang afdol kalau nggak mengulas katalog Iya-misu yang satu ini. Baru terbit langsung berhasil menyita perhatian. Menuntaskan dahaga para penggemar cerita misteri–thriller, baik yang hadir sukarela ke FBA (Festival Buku Asia) atau ngelirik kepo di sosial media lalu memutuskan meminangnya di kejauhan. Cuap-cuap ala kadarnya ini juga dilakukan semata-mata sebagai bentuk rasa kagum, luapan sukacita, pelampiasan rasa penasaran sejak awal teaser disebar, serta terima kasih untuk kerja keras ke-14 iblis, Mas Andry, Kak Disti (a.k.a. manajer iblis), dan tim Penerbit Haru yg berhasil memuaskan dahaga para penikmat Iya-misu. Tanpa kalian, antologi ini mungkin masih di angan-angan.
Inilah kesanku, cusss 👇
😈 NAN — Lia Nurida [Simbol: handphone] ⭐ = 3.5/5
Stimulus yang mantap. Cocok banget sebagai sajian pembuka antologi. Ibarat film pendek, tanpa blablabla kita langsung disuguhi adegan yang bikin tegang sekaligus mengerutkan kening: apa motif tokoh utama sampai memicu tindakan seganas itu? Meski sebagian besar dibumbui oleh plot flowing seputar kisah cinta malu-malu kucing khas remaja yang membuatku serasa baca teenlit, cerpen ini tetap nggak kehilangan tajinya. Terus membuatku penasaran hingga tuntas. Nyatanya bener, dong, ending-nya makin parah dan mindblowing😳 Udah jadi hal umum, sih, obsesi dan rasa cinta memang sebuta itu. Orang lain seketika dianggap seperti nyamuk DBD yang mengancam. (NB: satu-satunya iblis yg nyantumin namaku saat sesi ttd, thank you🙏🥰)
Tensi kengerian + kesadisan naik 5 step di sini. Aku ikut mengamini komentar Kak Kanaya 'Aya' Sophia, memang selama membaca cerpen satu ini berasa lagi diajak tour ke rumah keluarga Pengabdi Setan jilid pertama; dingin, senyap, mencekam. Ditambah lagi, perspektif pikiran (prasangka) yang dinarasikan Lilis dan Ajeng–dua cewek hasil urbanisasi dan obsesi karier–sukses bikin terhanyut, tersesat, terjebak, sebelum dijeblosin ke sebuah konklusi penuh darah. Ngenes banget tokoh utamanya–udah jatuh, ketiban ekskavator pula🤧 Impresi setelah baca cerpen ini mengingatkanku dengan Memory of Glass-nya Akiyoshi Rikako.
😈 THE LADY OUT OF PRISON — Yoseph Setiawan [Simbol: peti mati] ⭐ = 3/5
Untuk cerpen ini, aku cuma bisa bilang: Hah?!🙄 Wuiiihhh😲 Lho?🤔 "Hah?!": timeline yang berlompatan secara random antara masa lalu dan kini, yang bikin aku berakhir sulit bersimpati dan connected ke tokoh utama. "Wuiiihh": adegan kebut-kebutan antara tokoh utama dengan anggota kepolisian yang digambarkan ceroboh nan bodoh (kalau ini realitanya emang begitu, sih). "Lho?": soal keterhubungan antara peti mati berisi jasad ayah si tokoh utama, wasiat, warisan, kemunculan bocah misterius bernama Ganis, dan ending yang tiba2 absurd. Penulis sempat bilang kalo sebenarnya cerita ini diniatkan sebagai skrip serial, dan menurutku, memang lebih cocok digarap lebih panjang.
Padat dan pekat. Walau belum terbiasa dengan tulisan Sensei secerkas dan serba sat-set begini, tapi sensasinya tetap berhasil membuat dada berdegup ganjil, ngeri, tepok jidat, dan punya efek teror sekaligus kepuasan yang menggerayangi hingga plot ditutup. Cerita selugas ini patut diacungi 7 jempol (sisanya minjem dong). Kalau karya ini dijadikan ke dalam bentuk novela, mungkin bisa lebih jos. Nggak sia-sia deh, effort Mas Andry dan Kak Disti ngundang salah satu Ratu Iyamisu buat ngegenapin jumlah naskah & penulis. Sugoi🙌🤩 (NB: sampe ogah nyinggung royalti pas launching, padahal sempet kepleset😌)
Pengalaman yang kurasakan selama menyelami cerpen ini, jujur kayak baca kasus-kasus Sherlock Holmes atau misteri ala Edgar Allan Poe. Pelan, teliti, sabar, tapi tetap memenuhi kepala dengan teka-teki. Dipenuhi deduksi yang kelam serta sarat nuansa kesenyapan. Aku menyukai gaya narasi khas penulis, premisnya, karakterisasi, hingga topik permasalahan yang diangkat. Ada dua scene yang menurutku jadi daya tarik cerita ini. Pertama, pembukaan yang menegangkan sekaligus suram, seketika mengingatkan pada fenomena petrus yang menggeliat di kegelapan. Kedua, ketika salah satu tokoh preman bernama Martin si Codet tetiba ngibrit menerobos jendela. Epic🙌
😈 PEMBERSIH TIDAK MEMBUNUH — Ayu Welirang [Simbol: botol cairan pembersih] ⭐ = 4.5/5
Tiga 'E' buat cerpen ini: Edan. Eneg. Ekspresif. Karakterisasi Bin–si tokoh utama–sukses menciptakan laju roller-coaster dalam kepala. Memadukan sensasi mual, deg-degan, tahan napas, sekaligus takjub sampe melongo. Percakapan yang menjadi konklusi di akhir cerpen berhasil mematahkan dugaanku terhadap Bin–bikin langsung kebayang Charlie Angels yang fully-energetic dan doyan menantang maut. Bedanya mereka bertiga, sedangkan Bin beraksi sendirian. Menyerang telak dalam kegelapan pula😌 Flow plot-nya juga nggak banyak cingcong, tapi tetap berhasil men-delivered poin-poin penting dalam diri tokoh; kelebihan, kelemahan, mindset, golak batin, hingga aksi-reaksi. Kalau cerita ini dialihwahanakan menjadi film, aku dukung 5000%🔥 (NB: cerpen segila ini berbanding terbalik dengan sang iblis yg kayaknya lucu. Masih inget saat ia bercerita soal warteg 😂)
😈 AMBUSH — Finn R. [Simbol: pistol] ⭐ = 3/5
Perpaduan crime–thriller–action yang menceritakan seorang polwan, Gabriela, menumpas seorang penjahat yang menjadi dalang di balik kematian adiknya, Ali, melalui lingkaran setan berupa narkoba, terorisme, dan human trafficking. Jujur, aku menyukai pemilihan 3 topik tersebut, tetapi karena aliran plot dieksekusi begitu cerkas, aku tidak bisa menaruh simpati dan koneksi emosional lebih mendalam terhadap tokoh. Terlalu kompleks, tricky, beragam topik berat berjejalan dalam satu ruang bercerita yang minimalis, dan terlalu banyak istilah teknis yang nggak awam. Belum lagi masing-masing ada tiga poin tidak terjelaskan (sosok Mira yang dimaksud Johann di hal. 136, alasan orang sipil begitu mudah terlibat dalam heavy combat, dan taktik Gabriela menyusup dengan mudah sementara ada dua penjaga di depan rumah), serta satu adegan menyebalkan (kecerobohan Gabriela saat dibekap). Jika cerpen ini dikembangkan menjadi novel, aku yakin, eksekusinya akan jauh lebih baik. (NB: iblis pertama yg pertama kutodong buat ttd😎 Baru tahu kalo draf awal cerita ini–Dry Wall–sebelum dioprek habis2an justru lebih bikin penasaran)
😈 KETIKA KEMATIAN TIBA, BIARKAN PINTU BALKON TERBUKA — Teguh Affandi [Simbol: stoples] ⭐ = 4.5/5
Nyastra, taktis, gory: tiga keyword tersebut cukup mewakili kegilaan yang diguratkan oleh penulis. Nggak nyangka penulis satu ini bisa-bisanya dilibatkan untuk berkomplot ngeramein antologi, dan parahnya, hasilnya begitu mencengangkan. Kengerian yang memicu mual sudah meneror sejak awal. Seiring dikupasnya latar belakang karakterisasi, permasalahan, dan pergerakan tokoh menghadapi sekelumit nasib, secara halus aku digiring perlahan untuk menyambut serta menikmati fragmen konflik yg jauh lebih sadis, nggak masuk akal, dan tensi setinggi Gunung Rinjani terasa hingga plot ditutup. Cerpen ini sukses jadi tandem mematikan jika disandingkan dengan Pembersih Tidak Membunuh. Pokoknya wadidaw😳 dan... hueeekk🤮
Karya debut mengesankan dari satu pendatang baru yang turut memberi efek kejut selain keterlibatan Akiyoshi-sensei dalam project ini. Aku menyukai topik patriarki, balas dendam, dan kekuasaan super-power yang menjadi motif dasar terciptanya cerpen ini. Penulis berhasil mengupas latar belakang, theatre-of-mind, sampai misi yang diperam Sarah. Plotnya bergerak secara pasti, nggak terlalu buru-buru atau pun kelamaan. Sajian plot twist cukup bikin aku puas, mengingat jajaran tokoh, eksplorasi konflik, hingga ruang bercerita yang terbatas. Konklusi atas nasib Sarah sejenak mengingatkanku pada bapak2 penuh dendam di Tragedi Pedang Keadilan. Effort penulis mengganti judul patut diacungi jempol: mengenyahkan motif diskriminasi kaum perempuan. Sayangnya, satu hal membuat kening berkerut: kemunculan Dokter Diana di akhir cerita. Gimana caranya? Oh ya, standing ovation dulu buat iblis newcomer ini, ah👏🙌 (NB: iblis satu ini rajin nge-like setiap komentarku di postingan seputar Iblis di Pekarangan)
😈 ZUGZWANG: THE ENDGAME — Vie Asano [Simbol: pion catur (kuda)] ⭐ = 4/5
Setelah menamatkan cerpen unik ini, aku langsung takjub dengan dua hal: 1) teknik kepenulisan + penggunaan PoV secara lugas, sistematis, dan nggak ada yang sia-sia; 2) premis dan konflik sederhana diramu secara complicated nan kreatif. Thriller-nya kerasa tajam, romance tipis-tipis, nuansa horor terjalin dari aksi dan pemikiran para tokoh, unsur Iya-misu-nya dibangun apik penuh teka-teki dari banyak 'mata', suguhan plot twist dan open ending-nya juga sedap. Sama seperti Nan, pengalaman membaca yang kudapat dari cerpen ini menghasilkan proyeksi film pendek dalam kepala; seperti sedang memutar kompleksitas Confessions (Minato Kanae) versi ringkas. Soal penggunaan aneka PoV dalam ruang seminimalis ini, aku jadi pengin berguru sama penulis.
😈 ROSMALIA DAN PARA BAJINGAN — Denkus [Simbol: topeng] ⭐ = 3.5/5
"Keluar dari kandang buaya, malah kejebak di sarang macan", begitulah idiom yang tepat menggambarkan rangkaian tragedi dalam cerpen ini. Rosmalia, remaja 16 tahun, terpaksa harus menebalkan nyali guna menyelamatkan harga diri yg telah hancur serta benih di kandungan. Dinamika plot bergerak serupa aliran sungai. Perkembangan karakterisasi Rosmalia mampu menimbulkan simpati tanpa terlihat terlalu dramatis. Premis dan topiknya pun sangat relatable, mengingat sampai hari ini kita masih diresahkan oleh suguhan kasus kekerasan seksual, human trafficking, bahkan narkoba. Hanya saja ketika sampai di adegan aksi pembunuhan yg didalangi Rosmalia, semuanya terasa terlalu mudah, ganjil, dan terburu-buru (walau unsur ketegangannya tetap kental). Aku sulit ngebayangin seorang remaja berbadan dua bisa segitu cepat nan mahir menumbangkan lebih dari satu bodyguard yg kita tahu nggak mungkin berperawakan cungkring, pendek, dan letoy. Aksinya terlalu sempurna, kecuali Rosmalia memang terlahir dan berjiwa sebagai 'mesin pembunuh'.
😈 NYANYIAN LINTAH — Eva Sri Rahayu [Simbol: lintah] ⭐ = 4/5
Ini bukan fabel tentang hewan berkulit licin yang bisa berdendang, melainkan lintah darat era digital yang punya jobdesk beririsan dengan vampir. Problem khas milenial. Sefrekuensi dengan Kak Heng, kenikmatan selama membaca berbuah kejutan nggak terduga. Trik halus nan samar lewat formula penceritaannya berhasil menipuku, seolah ada dua konflik berlainan. Nggak tahunya? Weleh! Mulus banget transisi timeline-nya, flow plot terjahit rapi, belum lagi plot twist jelang akhir cerita juga berasa nampol. Tiga tokoh sentral yg ditonjolkan, terutama Dhira, langsung ngingetin aku pada karakterisasi Laura Basuki di film Sleep Call: diam-diam menghanyutkan! Konfliknya ya nggak plek-ketiplek, tapi nuansa kesuraman tetap berdenyar. Oh ya, masih ada yang berasa ngeganjel di cerita ini: apakah kemunculan cuitan akun RepublikPinjol didalangi orang yang sama ya? 🤔
Menyala. Nampol. Filmis. Tiga sandi yang menurutku sangat pas merepresentasikan kedahsyatan cerpen ini. Walau beberapa topik campur aduk (perang politik terselubung, mafia, spionase, pembunuhan, hingga keruwetan sistem korporasi agen ekspedisi), tapi teknik pengolahan plot yang dilakukan penulis begitu enjoyable. Flow thrilling dan misterinya sangat kental, membuat isi kepala terus menerka hingga konklusi tersaji di muka. Hasil eksekusi secara keseluruhan smooth; nggak terburu-buru (alih-alih tampil secara fast-paced); kesuraman dan kengerian yang dibangun bukan hanya lewat aksi atau pikiran para tokoh, bahkan pergerakan tokoh, dialog, sampai narasi ikut andil. Nggak ada celah sama sekali buat cooling down, terornya terus memburu sampai cerita ditutup. Nggak ada bagian plot yang menyisakan ngang-ngong. Takarannya serba pas, deh👌👏 Terakhir, aku juga setuju dengan beberapa poin dari perspektif Kak Heng soal: 1. Tidak adanya tokoh yang berperan sia2–kehadiran mereka turut diperhitungkan; dan 2. Hint yang tersebar layaknya kepingan puzzle.
😈 60 MENIT BERSAMA AUDI — Dina Pandan [Simbol: jam pasir] ⭐ = 4.5/5
Pernah ngebayangin ada ibu-ibu nekat binti panik tetiba ngerampas mobil jemputan, kebut-kebutan, ngancam nyawa bocah nggak dikenal, buat memeluk kembali buah hatinya? Mau dapet pengalaman membaca secepat pertarungan di Fast & Furious? Cerpen ini dijamin bakal bikin melek, tergugah, simpatik, menantang, puyeng, sekaligus dag-dig-dug-jreng! Cocok dijadikan sebagai dessert antologi ini. Keganasan Audi di kepalaku berwujud sosok Tao Tsuchiya di serial Alice in Borderland. Opening tanpa basa-basi memberi efek kejut, karakterisasi tokoh dan aliran plot bergerak dinamis (sesekali dilatari pergantian konflik lampau–kini), ramuan action–thriller–misterinya memikat. Setiap pergerakan adegan terasa filmis. Cerita ditutup dengan plot twist + open ending penuh tipuan yang bikin jleb! (NB: inilah iblis yg mendorongku buat bikin review. Nih, Kak, udah disajikan😆)
Buku ini berisi 14 cerita tentang iblis dalam diri manusia. Penampakannya begitu beragam. Menyerupai sosok remaja tanggung, seorang ibu, seorang ayah, kekasih, maupun sahabat. Mengerikan! Ada yang bertuhan pada uang, terkungkung dalam cinta buta, ambisi untuk terlihat sempurna, dendam, iri hati bahkan trauma masa lalu!
Sisi gelap manusia disoroti dalam beragam sudut pandang. Mengangkat issue penyalahgunaan narkoba, terorisme, human trafficking, patriarki, KDRT, pinjol, pandemi hingga gerakan separatisme! Kadang membuat kita bertanya-tanya, di saat yang lain membuat kita paham. Kadang membuat ngeri, bulu kuduk berdiri, kadang juga membuat tersenyum miris 😏
👹☠️🔥 Baca review buku lainnya di IG @tika_nia
Cerpen favoritku adalah "Zugzwang: The Endgame" @vieasano yang berhasil menampilkan 4 POV dalam 1 cerpen. Plot twist-nya juga tak terduga. Berikutnya ada "Backyard" karya Akiyoshi Rikako yang begitu ringan, mengalir namun terasa sangat dekat dan berkesan.
"Impian Sarah" @wantja , "60 Menit Bersama Audi" @dinaredlovers dan "The Lady Out of Prison" @setiawanyoseph juga begitu menawan. Tentang kejahatan di balik kejahatan. Tentang perempuan dan upaya keluar dari belenggu trauma ☠️ Lantas "Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka" @teguhafandi menjadi cerpen paling menyeramkan bagiku karena terlalu detail menggambarkan tukang potong bukan hewan (tapi manusia) dan muncratan saos 🤢
Salah satu insight yang ku dapat dari buku ini: 🔥 Suatu kejahatan dapat menjadi benih bagi kejahatan lainnya 🔥
Cerita-cerita di dalamnya sungguh memualkan dalam arti harfiah--namanya juga iyamisu, jadi pasti bikin mual. Penuh dengan gore dan eksplorasi sisi gelap manusia yang, sesuai prakata, bisa membuat iblis jadi minder, karena manusia ternyata bisa sekeji itu.
Untungnya, dan ini saya garis bawahi, saya baca ini pas lagi luar biasa sibuk, jadi cerita-cerita gelap nan memualkan itu nggak terlalu mengendap ke otak. Memang buku ini cocok buat bacaan selingan tatkala sibuk biar nggak terlampau jijik dan kehilangan nafsu makan.
Walaupun bergenre iyamisu alias bikin perasaan nggak nyaman (yang tentu saja berhasil), sebenarnya nggak semua cerita seperti itu. Ada yang lebih menitikberatkan ke bungkus besar iyamisu yaitu thriller, bahkan didominasi oleh mystery/detective. Tapi yaa hanya sedikit cerpen yang seperti itu, sisanya tetap ber-gory ria.
Dari 14 cerpen di sini, favorit saya adalah cerpen Akiyoshi-sensei, "Backyard" yang bagi saya sangat efektif untuk sebuah cerpen iyamisu. Cerpennya sangat to the point, padat dan nggak buang-buang kalimat, no info dump, rasa creepy-nya dapet, diawali dan diakhiri dengan sempurna. Memang role model deh, Sensei ini. Pengemasannya bagus banget untuk sebuah ide yang nggak istimewa-istimewa amat. Bisa dibayangkan kalau ini jadi manga pendek....
Sementara di antara 13 cerpen karya penulis lokal, yang paling berkesan buat saya adalah "Zugzwang: The Endgame" karya Vie Asano. Cerpen itu menunjukkan bahwa di balik suatu kejadian ada banyak layer, dan cara penceritaannya yang mengupas satu demi satu niat asli di balik topeng-topeng karakter itu mengena sekali. Pembaca awalnya digiring dari PoV karakter A, lalu kenyataannya berbeda dari PoV karakter B, beda lagi dari karakter C, dan klimaksnya di karakter D. Permainan "unreliable narrator" ini dieksekusi dengan baik sekali dalam suatu cerita pendek yang hanya sekian ribu kata. Sukses!
Cerpen "The Worst Roommate" karya Daras Resviandira juga menggunakan formula di atas, dan saya lumayan menyukainya juga. Kasihan sih, tragis banget.
Kalau dari segi narasi, tentu saja sulit untuk mengalahkan master sastra Teguh Affandi "Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka". Cerpen iyamisu yang super-gore tapi narasinya rasa cerpen Kompas, bayangin aja sendiri sensasi membacanya. :)))
***
Anyway saya mengapresiasi buku ini, meskipun jelas sekali buku ini bakal menjadi salah satu buku yang tidak akan pernah masuk daftar baca ulang. :)))
1. Nan - Lia Nurida | 4 🌟 Mungkin emang dasarnya manusia itu punya sisi jahat, ya. Karena apa yg menimpa ke Tara, aku nggak prihatin sama sekali. 😭😭
2. The Worst Roommate - Daras Reviandira | 3 🌟 Twist-nya Indonesia banget, sih, wkwkwk.
3. The Lady Out of Prison - Yoseph Setiawan | 2 🌟 Ini ... kayaknya nggak sedisturbing yang aku bayangkan tentang iyamisu. Arc tokohnya juga lebih ke positif ketimbang negatif.
4. Backyard - Akiyoshi Rikako | 4,5 🌟 Sekali lagi, aku nggak bisa benci tokoh utamanya, wkwkwk. Gimana, ya, aku malah ikutan puas. Aku SENYUM PUAS dong. Kurang dikit tinggak si suami nggak gunanya itu juga harusnya nasibnya sama aja 😭😭
5. Galojo - M. Fadli | 3 🌟 Ini asyik, sih. Karena mantan polisi trus brubah jadi jahat, wkwk
6. Pembersih Tak Membunuh - Ayu WWelirang | 4 🌟 Ini build up-nya bagus, sih. Nggak ada twist apa-apa, tapi rapi aja plotnya.
7. Ambush - Finn R No comment
8. Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka - Teguh Affandi | 4,5 🌟 Ini ngeri banget, sih. Padahal narasinga bisa dibilang flowery, tapi gore-nya detail, wkwkwk.
9. Impian Sarah - Irwan Tja | 4 🌟 Twist-nya gong, sih. Aku nggak nyangka bakalan dibawa ke arah sana, wkwk
10. Zugzwang: The Endgame - Vie Asano | 4 🌟 Flaw-nya oke padahal diambil dari 4 sudut pandang berbeda tapi tone dan mood-nya bisa kerasa bedanya. Pendek tapi efektif ceritanya.
11. Rosmalia dan Para Bajingan - Denkus | 3 🌟 Ini super duper disturbing karena selain pedo, ada gang r juga. Ngeri wak, tapi aku puas dengan endingnya 😂
12. Nyanyian Lintah - Eva Sri Rahayu | 3,5 🌟 Ini jadinya bisa liat dri dua sisi, sih. Peminjam dan yg pinjamin tuh gak bisa disalahin atau dibenarin juga. Yg slah siapa? Pemerintah.
13. Metode Gelap - Yudo Nugroho | 2 🌟 Flow-nya menurutku tumpang tindih jadinya nggak begitu enak dibaca. Tpi Rio deserves worse than that, sih, harusnya. Wkwk.
14. 60 Menit Bersama Audi - Dina Pandan | 3 🌟 I hate when the cheaters win. Dan ya aku nggak yakin si Edwin sama Ines itu jujur. Dih.
Aku cuma bisa bilang ini ada gila-gilanya, bahkan udah ditahap gila yang kebangetan. Buku ini adalah kumpulan cerita pendek yang berisikan 13 cerita dari penulis yang berbeda (aku sebut 13 cerita karena, iykwim, hehe). Dari mulai cerita pertama, jujur aku sudah dibuat mual. Buku ini seolah bukan lagi sekadar buku dengan genre mystery-thriller, tapi buku yang bisa dibilang sadis.
Bukan cuma figur-figur yang dengan mudah menghabisi nyawa seseorang, tapi sisi kemanusiaannya yang terkesan telah habis digerogoti sebab keadaan. Betul, buku ini seolah memperlihatkan sebuah sebab-akibat akan sebuah tindakan yang dilakukan manusia itu sendiri.
Cerita-cerita di buku ini memang menurutku cukup banyak menyinggung keadaan sosial yang cukup marak akhir-akhir ini; seperti keadaan akibat Covid-19, perselingkuhan, ketidak percayaan terhadap badan pemerintah, bahkan sampai dengan pinjaman online.
Walaupun sadis, dan bisa buat mual (saranku jangan baca sambil makan), tapi buku ini sebetulnya bisa dibaca sekali duduk karena ceritanya buat penasaran (dan bikin bengong banyak-banyak).
Ada beberapa judul yang aku suka dari buku ini; Pembersih Tidak Membunuh, Ketika Kematian Tiba Biarkan Pintu Balkon Terbuka, Zugzwang: The Endgame, Rosmalia dan Para Bajingan dan tetu saja karya penulis favoritku Akiyoshi-sensei yang berjudul Backyard.
Semuanya berhasil buat aku merinding sambil (tetap) mual dengan segala kengerian, kesadisan, dan ada juga kesedihan dari cerita-cerita yang disuguhkan di buku ini.
Sebenarnya aku masih bingung hubungan antara 'Iblis di Pekarangan' dengan sekumpulan cerita di dalam buku ini.
Untuk sebuah genre iyamisu, hampir sebagian besar judul di buku ini memenuhi syarat tersebut, beberapa bahkan mudah tertebak endingnya (mungkin karena aku sudah sering membaca jenis cerita serupa).
Namun, hampir semua cerita mengangkat kisah pembunuhan (atau semuanya ya?) yang tidak jauh dari kata tragis dan mengenaskan. Memang sih, membunuh manusia mungkin hanya bisa dilakukan oleh iblis (atau ketika sedang dirasuki iblis), tapi ketika kamu membaca kisah pembunuhan yang berbeda beda yang ternyata memiliki satu akar yang sama, kesannya jadi apa ya? Jadi tumpul akan kekejamannya. Bukan berarti larut menjadi psikopat tanpa rasa dan haus darah ya, tapi kamu menjadi tidak terkesima atas segala intrik dan kekejian itu. Padahal seharusnya... Ah sudahlah!
Sedari awal mungkin aku yang salah menduga, kukira buku ini akan lebih mengedepankan tentang mitos seven deadly sins (dan pastinya tak akan befokus pada kisah penghabisan nyawa semata) tapi ternyata perkiraannku melenceng dan aku sudah di kecewakan oleh ekspektasiku sendiri, hingga membaca paruh akhir cerita membuatku tidak terlalu berselera.
Gairah itu mulai meningkat, karena adanya kejutan cerita pendek karangan Akiyoshi Rikako - yang sangat pantas - dijuluki Ratu Thriller Jepang, karena karya beliau yang meski pendek, tapi menghasilkan cita rasa yang benar benar gurih.
Tapi, ada beberapa karya pendek di akhir, yang aku suka, sehingga membuatku menyelesaikan kumpulan kisah ini dengan bersuka cita.
Semoga, nantinya, genre iyamisu Indonesia semakin berkembang ✨
This entire review has been hidden because of spoilers.
Di dunia ini manusia seringkali jauh lebih mengerikan daripada setan. Mungkin karena manusia-manusia ini udah kerasukan dan menjelma jadi iblis, setannya setan. Dan manusia-manusia iblis di dalam buku ini sungguh membuat tercengang, muak dan mual. Sepanjang membaca rasanya entah berapa kali saya mengernyit dan berjengit, melongo sampai tertawa-tawa sendiri padahal sama sekali ga ada yang lucu. Yah...baca buku seperti ini kayaknya ga boleh sering-sering, biar gak kena mental 🤣🤣🤣
Di buku ini hanya Akiyoshi Rikako penulis yang pernah saya baca karyanya. Jadi tentunya saya sangat senang karena ternyata cerpen-cerpen favorit saya justru ditulis oleh penulis lainnya. Saya jadi menemukan penulis favorit baru dan mungkin akan tertarik membaca karya-karya mereka yang lain. Ini cerpen-cerpen favorit saya dalam Iblis di Pekarangan.
1. Nan karya Lia Nurida Sungguh sakit si Nan ini, tapi idenya tidak bisa dipungkiri memang brilian, dan tentunya menjijikkan 🤮
2. The Worst Roommate karya Daras Resviandira Metode penyajian cerita dalam cerpen ini sangat menarik, tapi juga cukup bikin saya kesal. Ketika sedang serius menebak-nebak siapa unrealiable narratornya, ternyata cerita diakhiri dengan kejutan seperti itu. Rasanya ingin mengeluarkan sumpah serapah..karena sampai akhir rasa penasaran saya tidak terjawab juga
3. Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka karya Teguh Afandi Antara cerpen ini dan Nan rasanya saya sulit memilih mana yang lebih saya sukai. Tapi kalau bicara mana yang paling sadis, paling sakit, dan paling bikin mual saya pilih karya kak Teguh ini. Dari awal sampai akhir penuh dengan darah. Kalau perut kamu ga kuat lebih baik jangan baca cerpen ini kalau ga mau muntah 🤣
4. Zugzwang: The Endgame karya Vie Asano Misteri yang diungkap dibalik pembunuhan si cowok narsis idola ternyata cukup berlapis dan sangat menarik 😄
5. Nyanyian Lintah karya Eva Sri Rahayu Pembunuhan dengan latar belakang kasus pinjol ini sedikit banyak menambah pengetahuan saya akan kebejatan di balik sistem perusahaan pinjol. Dan plot twistnya cukup bikin tercengang juga karena ga saya duga dari awal.
Selain cerpen-cerpen di ataspun cerpen lainnya juga dieksekusi dengan sangat bagus!
8. Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka: 2 ⭐
9. Impian Sarah: 3 ⭐
10. Zugzwang: The Endgame: 5 ⭐
11. Rosmalia & Para Bajingan: 3 ⭐
12. Nyanyian Lintah: 4 ⭐
13. Metode Gelap: 4 ⭐
14. 60 Menit Bersama Audi: 1 ⭐
Iblis di Pekarangan: 41 ⭐ / 14: 2,9 ⭐
Tema yg diambil di kumcer ini adalah bahwa kejahatan bisa ada dimana2 termasuk di dalam rumah & bahkan lebih dekat lagi yaitu dari dalam diri sendiri makanya judul buku ini tuh Iblis di Pekarangan. Brilian, kudos untuk yg ngasih judul.
Jujur pembunuhan & adegan menjijikkan tidak lagi membuatku kaget & well....jijik, jd secara umum aku tidak menjadikan kekerasan di buku ini faktor saat aku memberikan review lol karena menurutku semuanya b aja. Tikus bumbu kuning? Mutilasi? Jatuh dari gedung tinggi sampe tubuh tercerai berai? Biasa aja buatku.
Empat cerpen favoritku, Dua diantaranya punya rasa crime fiction, Dua yg lain bermain di POV. Zugzwang mengeksplor 4 pov dalam satu cerpen & keempat karakter punya karakterisasi yg kuat; Nyanyian Lintah menunjukkan pov Salah satu tukang tagih pinjol & fakta bahwa mereka jg manusia & hanya bekerja menyambung hidup. The Worst Roommate bisa jd sangat baguss di perkara POV, sayang endingnya nggak pas.
Sementara Galojo aku suka banget plus judulnya bisa jd anagram. Metode Gelap juga bagus, ala2 Mr & Mrs Smith dengan cita rasa suroboyoan.
Overall, yg kucari adalah sesuatu yg tajam, kuat & tak tertebak dalam 3ribu kata & secara umum, cerpen2 disini deliver.
Ada dua cerita favoritku di sini yaitu Pembersih Tidak Membunuh (Ayu Welirang) dan Metode Gelap (Yudho Nugroho).
Pembersih Tidak Membunuh karena plotnya rapi dan emosinya dapet. Membayangkan hidupnya Bin itu sedih, sulit, dan lapar. Menurutku, ini adalah gambaran yang paling tepat untuk wujud iblis di pekarangan dalam bentuk naluri manusia untuk tetap bisa makan dan bertahan hidup (dengan melakukan segala cara).
Metode Gelap karena ini ceritanya rumit banget, dan aku membayangkan akan sangat seru kalau ini dijadikan novel atau film. Build up dunianya cukup apik walau hanya beberapa lembar cerpen saja. Tapi memang style penulisannya agak "asyik sendiri". Dan mungkin karena keterbatasan media serta cerita yang terlalu rumit, jadinya agak ngang-ngeng-ngong juga aku pas baca hahahah
Secara keseluruhan, kumcer ini cukup seru. Tapi aku sendiri nggak bisa membaca sekali langsung habis. Karena ini iyamishu ya, dan cerita-cerita seperti ini buatku butuh waktu jeda sejenak setelah selesai satu cerita. Tapi aku sangat menikmati kok, padahal selama ini aku menghindari kumcer karena kupikir aku nggak bakalan suka.
Sebab ada cerpenku. Aku menyenangi ketika mendapat tantangan menulis cerpen genre ini. Meski agak kikuk, takut terlalu sok-iye. Ternyata bisa jugaaaa....
Semoga kalian menyukai hasil tantangan yang diberikan kepadaku ini.
Sebetulnya aku suka genre dari buku ini, tapi karena aku kurang suka dalam hal cerpen jadi ini bukan masuk kategori buku yang "waw" menurutku. Buku ini bagus, namun tidak secara keseluruhan. Untuk yang suka cerita pendek mengenai thriller ini cocok, tapi jangan terlalu banyak berharap sih akan seapik itu karena ceritanya yg pendek jadi terkesan agak "maksa" imo. Sukses terus untuk penulis-penulis lokal yang berkontribusi dalam buku ini.
Sebuah kumpulan cerpen yang dipenuhi hal-hal favorit saya, mulai dari genre iyamisu terbitan penerbit yang suka saya ikuti, penulis yang selalu saya beli bukunya, sampai desainer sampul yang saya gemari artstyle nya.
Sayangnya, saya merasa beberapa cerpen di sini memiliki konsep yang lebih cocok untuk novel. Gore yang ada pun terkadang tidak menambah pendalaman bagi tokoh atau plot, tetapi sebatas shock value.
Kumpulan cerpen yang menggambarkan bagaimana manusia memiliki sisi gelap yang kadang mengerikan, kadang tidak dapat dipahami awam, namun sisi tersebut selalu ada dalam diri masing-masing individu.
Buku yang menarik. Dengan kumpulan dari beberapa penulis berbakat, tiap cerita memiliki sisi kelam yang menarik untuk dijadikan sudut pandang.
Ada 14 cerpen di dalam buku kumpulan cerpen ini Iyamisu ini. Bisa ditebak dari judulnya, semua cerpen bertemakan horor-thriller-misteri. Sisi gelap manusia diangkat menjadi cerita-cerita yang menurutku menarik untuk dibaca (kecuali 1 cerita, yang jujur saja ga ngerti isinya karena penulisnya ). Sebagian besar mengangkat latar belakang COVID-19, pinjol, dan juga dendam karena persaingan.
Susunan ceritanya membuat pembaca ingin segera menghabiskan cerita berikutnya setelah satu cerita selesai. Kekejaman dalam tiap ceritanya terasa, tapi membuat penasaran juga.
Iya, banyak2 istigfar baca buku ini wkwk. Tapi rarasanya aku beli buku ini karena Fomo semata. Cuma tetep keren dan patut diapresiasi karena para penulis Indonesia ini namanya bisa bareng dgn Akiyoshi Rikako sensei di sampul buku.
Secara keseluruhan cerpen, cukup oke sih meski buat bbrp cerpen ada yg iyamisu-nya terkesan dipaksakan. Terutama buat cerpen2 yg dibumbui action.
Kisahnya juga relate dgn isu sosial yg terjadi di masa skrg. Ya, mulai dari cemburu, pengkhiatan, dampak covid, sampe maraknya pinjol.
Rating-nya diambil dari rata-rata rating per cerita. Hasil akhir 3,57, dibulatkan menjadi 3,5.
- Nan by Lia Nurida (4) Kayaknya reviuku lebih ke personal. Penulis terkenal dengan cerita Teenlit dan lekat dengan genre misteri. Pas baca ini rasanya kayak lihat sisi lain penulis. Cerita tentang dua orang sahabat yang salah satunya punya cinta bertepuk sebelah tangan. Dendam ala anak remaja yang kelewat "stres" sampai nekat melakukan hal yang sadis. Menurutku gaya ceritanya mendongkrak alurnya, sih. Kayak bumbu rahasia yang ditambahin ke masakan. Tambah mantap. Ending-nya yang nggak mantap. Ngeri gitu wkwk.
- The Worst Roommate by Daras Resviandira (3,5) Meskipun ini cerpen, alurnya super sat-set. Pembaca nggak dikasih napas karena yang terjadi ke Lilis dan Ajeng memang membingungkan, tapi juga bisa jadi mematikan. Dua orang asing yang jadi roomate. Kelakuan Lilis lama-lama bikin Ajeng ngeri. Sepanjang baca ini kayak gilaaa, meleng dikit udah ganti kengerian aja. Ending-nya edan, sih. Edan pokoknya. Sakit itu orang :(((
- The Lady Out of Prison by Yoseph Setiawan (2,75) Ini perjalanan Irma membawa mayat ayahnya melintasi berbagai kota demi melarungnya ke tempat yang dia rasa tepat. Tapi, di jalan ada razia kendaraan. Membawa mayat jelas dengan mobil pribadi bukan hal yang pas. Akhirnya Irma malah ditangkap. Cerita ini alih-alih thrilling atau misteri, malah terkesan mengharukan ketika mengetahui alasan Irma nekat membawa jasad ayahnya jauh dari kota mereka tinggal.
- Backyard by Akiyoshi Rikako (4,5) Yeoksi yak, ratunya thriller, iyamisu, you name it. Alurnya sederhana banget (nggak akan aku spill karena selain bakal spoiler juga biar penasaran mau baca), tapi eksekusinya sampai bikin melongo. Bahkan kalo ingat aja masih kerasa banget merinding. Kayak something ordinary yet make you freeze.
- Galojo by M. Fadli (3,5) Kisahnya agak rumit, dalam artian terlalu kompleks kalo dijadikan cerpen. Alurnya masih bisa dipanjangkan. Kayaknya lebih cakep kalo beneran dipanjangin. Dunia mafia memang rumit dan justru membuat cerita pendek dari hal ini bikin pembaca jadi tambah penasaran.
- Pembersih Tidak Membunuh by Ayu Welirang (4) Dari awal udah disuguhkan kehidupan serbasusah ala Bin. Jenis kemiskinan ekstrem yang bakal bikin kamu nekat melakukan apa pun. Literally apa pun supaya perut terisi. Menurutku karena terbiasa makan apa adanya dan perlahan punya skill bertahan hidup, Bin menjadi pribadi yang kompleks. Agak kontradiktif jika dilihat sekilas antara sifat suka bersih-bersih dengan keadaannya, tapi karena "apa pun" tadi yang dimakannya membutuhkan keahlian membersihkan sampai detail terkecil jelas skilnya di tempat kerja baru sangat dibutuhkan. Padahal panjang cerpennya sama kayak yang lain, tapi kesan yang kutangkap: pendek tapi mindblowing.
- Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka by Teguh Affandi (3) Mau kasih warning dulu, cerita di cerpen ini mengandung unsur LGBT yang kental, jadi kalau kamu queerphobic, bisa skip baca. Adegan pembuka ceritanya agak bikin ketar-ketir. Meskipun sekilas latar si "aku" ini traumatis dan berhasil mencuri rasa ibaku, tapi ending-nya yang "begitu" malah bikin merinding. Kasihan yang berhasil mengeluarkan keringat dingin.
- Impian Sarah by Irwan Tja (3,5) Cerita masa lalunya nggak mudah. Again, menunjukkan gambaran anak yang dilahirkan tanpa pikiran waras orang tuanya, sampai jadi korban. Plot twist-nya di akhir nggak spektakuler, tapi cukup memukul. Kayak selimut di dalam selimut.
- Zugzwang: The Endgame by Vie Asano (4,5) Karakternya nggak ada yang waras semua. Si halu, si sok, dan si manipulator. Mereka digabung jadi kejatuhan teratur macam efek domino. Beruntun dan tepat sasaran. Well, dari ketiga karakter, pemenangnya jelas, sih. Eh, tapi mengingat tatapan si itu di kantorpol malah ragu ada pemenang. Ah, bisa nggak yang ini dipanjangin juga? Jadi novela minimal wkwk.
- Rosmalia dan Para Bajingan by DENKUS (3) Kehidupan Rosmalia nggak seindah namanya. Well, indah di awal, tapi menjelang akhir miris. Yang dia alami itu mengerikan. Banget. Secara keseluruhan okelah, tapi ada bagian yang bikin aku bingung. Karena spoiler, aku tandai aja. Jangan dibuka kalo nggak mau "kecipratan".
- Nyanyian Lintah by Eva Sri Rahayu (3,75) Cerita ini real gambaran nyata korban pinjol. Aku suka alurnya sebenarnya, tapi soal pekerjaan si itu jarak waktunya dengan insiden keluarganya agak dekat, jadi auto menghitung-hitung. Tapi okelah, meski nggak bombastis, cukup memberikan efek "puas", walaupun sebenarnya ya bukan salah si target, tapi intinya bukan itu. Pinjol leads you to destruction.
- Metode Gelap by Yudo Nugroho (3,5) Ini tipikal cerita yang "hah, ternyata". Macam twist-nya Silent Patient yang hah-hoh. Sayangnya cuma satu, intronya kepanjangan, jadi bingung. Kurang pas kalo dijadikan cerita pendek. Ini bolehlah dijadikan novel juga. Soalnya kompleks baik latar dan karakterisasinya.
- 60 Menit Bersama Audy by Dina Pandan (3) Baca ini jadi keringat cerita Frida Liu di buku The School for Good Mothers karya Jessamine Chan. Agak menyedihkan melihat bagaimana seorang ibu, seorang wanita, desperate merebut anaknya dari orang-orang dicurigai bakal menghancurkan hubungan mereka. Di sini Audy ngejar anaknya yang pergi dengan "simpanan" (atau istri kedua, entah lupa) dengan mobil antar-jemput sekolah yang nggak cocok buat ngebut. Sayang, ending-nya meski mengejutkan, tapi kayak loyo gitu feel-nya. Terus itu si Pita gimana, weh. Kasihan :(((
Catatan dariku: Aku nggak tahu apakah cerpen-cerpen di buku ini sesuai dengan label iyamisunya karena bisa jadi pengertian iyamisu yang kutangkap bisa berbeda dengan redaksi. Kalau mencari di mesin pencarian, yang kusimpulkan iyamisu adalah sub-genre thriller yang memberikan kesan jijik dan disturbing ke pembaca, tapi tetap memantik rasa penasaran sampai akhir karena terdapat pula unsur misteri.
Jadi, meskipun beberapa cerpen nggak menimbulkan efek serupa pengertianku di atas, jika menimbulkan sensasi jijik serta mengganggu, maka kusimpulkan sudah masuk ke ranah iyamisu. But, overall, tulisan di cerpen ini bagus-bagus. Kayaknya perlu dikoleksi bagi yang suka dengan genre thriller, terkhusus sub-genre iyamisu.
Dari semua cerita didalamnya, mungkin hanya 2 atau 3 yang aku kurang suka . Tapi overall thrill dan suspensenya ngena. Ada yang lumayan bisa ketebak tapi ada juga yang plot twistnya gak main-main 😲 My favorites, Zugzwang: The End Game - Vie Asano dan Nyanyian Lintah - Eva Sri Rahayu 🙌👏
Final Rating: ★2.75 / 5 (*Review contains trigger & content warning list that may act as minor spoilers)
This one was a bit of a letdown for me. I expected more, but personally, most of the stories lack depth and rely on gore as their "mind-blowing" element. Not even Akiyoshi-sensei's (literally my favorite author) story could save this book for me. Mungkin ternyata cerpen thriller isn't my cup of tea. I do have a favorite, though.
I really wish there were trigger warnings at the beginning of each story, as one of them was particularly triggering for me. So here's a list of TW & CW for those who might need it, along with my personal rating for each story:
(*Note: Most of the stories involve murder, so I don't specifically listed that as a warning. Any story marked as 'gore' means it contains graphic descriptions. I might have missed some TW/CW, apologies in advance.)
- Nan (Gore): ★3 - The Worst Roommate (Kinda horror-ish?): ★3.7 - The Lady Out of Prison (Prostitution, Sexual Harassment): ★2.5 - Backyard (Infidelity): ★3 - Galojo: ★3 - Pembersih Tidak Membunuh (Gorey?): ★2 - Ambush (Terrorism, Human Trafficking): ★2.5 - Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka (Infidelity, Gore): ★4 (*I really like the writing style) - Impian Sarah (Domestic Violence, Abuse, Sexual Topics?): ★2.7 (*Would’ve been ★3 if not for the ending) - Zugzwang: The Endgame: ★3 - Rosmalia dan Para Bajingan (Sexual Harassment, Sexual Assault): ★2 (*This one triggered the hell out of me) - Nyanyian Lintah (Suicide): ★4.5 (*My favorite, it was a bit emotional for me) - Metode Gelap: ★2 - 60 Menit Bersama Audi (Substances / Alcohol): ★3
I only read the part written by Akiyoshi Rikako—because I missed her voice. And as always, in just five short chapters, she gave me something haunting, fresh, and quietly unsettling.
It felt like opening an old letter you’ve read a hundred times, and still finding something new. The mystery was less about "who" and more about "why"—and that’s what I love about her. She never tries to shock, but always manages to disturb, gently.
I’m truly looking forward to her next work. どうか、またすぐに書いてください。 Douka, mata sugu ni kaite kudasai. Please, write again soon.
Iblis di Pekarangan merupakan antologi cerita pendek bergenre misteri-thriller yang merupakan kolaborasi antara penulis Jepang Akiyoshi Rikako dan beberapa penulis Indonesia. Buku ini berisi cerita-cerita yang mengeksplorasi sisi gelap manusia dan penggambaran iblis yang dapat berwujud sebagai teman, kekasih, rekan kerja, atau bahkan anggota keluarga. Cerita-cerita ini mengangkat tema seperti lintah darat, kekasih manipulatif, perselingkuhan, pembunuhan, dan teror lainnya yang dalam kesehariannya seringkali muncul di "pekarangan" kehidupan.
Buku ini mengangkat tema-tema seperti manipulasi, kejahatan tersembunyi, dan sisi gelap manusia yang sering tidak disadari. Nuansa cerita berkisar dari misteri yang menggugah rasa penasaran hingga thriller yang menegangkan, memberikan pengalaman membaca yang beragam namun tetap konsisten dalam mengeksplorasi tema utama.
📚 Nan • Tentang remaja bernama Nan, yang naksir temannya, Miko. Tapi Miko malah naksir gadis lain. 💔 • Pembuka buku yang solid 👍 Build up ceritanya oke banget dan plot rapi. • Twist bisa ditebak tapi eksekusinya memuaskan.
📚 Backyard • Openingnya BAGUS! (Slide 5) • Tentang dua sahabat yang mengobrol di pekarangan vila. • Alur sat set banget tapi bikin perasaan pembaca bergejolak. Twist-nya pun berlapis! Hormat sama Akiyoshi-sensei 🫡
📚 Pembersih Tidak Membunuh • Tentang Bin, seorang pembersih di gudang. Yep, sesuai judulnya. • Pembuka ceritanya sejujurnya membosankan. Terus pas cerita bergulir agak bingung mau dibawa ke mana. Tapi makin akhir tuh makin tegang 🔥
📚 Zugzwang: The Endgame • Tengang pasangan kekasih yang saling mencintai, tapi apakah benar? • Unreliable narrator dan plotnya rapi! • Twist-nya gak yang wah banget, tapi penulis pintar bikin karakternya beda dan naratornya bakal bikin pembaca terjerumus.
📚 60 Menit Bersama Audi • Tentang seorang ibu yang mengejar anaknya yang diculik. • Alurnya sat set banget. Cerita terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Jadi tengangnya terasa. • Oke banget jadi cerita penutup buku 🔥
Selain 5 cerpen ini, aku juga menikmati judul lain. Kayak Galojo yang punya nuansa aksi dan ending twist oke, Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka yang bikin super gak nyaman tapi juga bakal memaklumi pilihan karakter utama, serta Rosmalia dan Para Bajingan (side 2) yang dibuka dengan gong dan ceritanya nyesek 😔
Setelah aku lihat, cerpen-cerpen yg berkesan buatku ya yang mendalami perasaan dan diri karakter sehingga bikin aku simpati tapi juga gak nyaman. Yep, iyamisu 😀
Tiap cerita menawarkan kisah dan karakter beda. Tiap penulis juga punya cita rasa sendiri. Meski menurutku beberapa kurang terasa "iyuh" gitu meskipun gore dan thriller. Terus karena cerpen, jadi beberapa cerita terasa kurang jelas.
Tapi overall, Iblis di Pekarangan ini kumcer yg solid dan recommended 👍
"Seandainya aku bisa lebih peka, harusnya aku sadar ada yang aneh dari teman sekamarku itu." Hal 49 - Iblis Di Pekarangan Akiyoshi Rikako, dan 13 penulis thriller Penerbit Haru Cetakan pertama, September 2024 📑 308 Halaman Pinjam di Perpusberjalan - Buku yang sejak awal menarik perhatianku. Genre iyamisu, thriller psikologi dan cukup gore. Dibuka dengan cerita pertama yang bikin was-was sendiri. Nan, membuatku jatuh cinta. Bisa-bisanya aku suka dengan cara si tokoh eksekusi. Kebalik, penulisnya yang keren banget. Pas kasih makan anjing liar, belum kepikiran bakalan itu yang dia kasih. Woah, Amazed. Ternyata dia bikin stokan dong. - The Worst Roomate juga mind blowing. Ini beneran mempermainkan pikiran pembaca. Nggak bisa membedakan yang mana yang jahat. Eh, endingnya bikin speechless. - Beberapa cerita menarik buatku. Seakan punya tingkat level Thriller dan misteri yang beda dan dengan gaya bercerita mereka yang terasa khas. Paling suka karya Akiyoshi sensei, bikin aku melongo. Kayak lagi nonton trailer pendek mecekam, mengejutkan sepanjang durasinya yang gokil. - Tukang bersih-bersih, tapi bukan pembunuh, nah, dia mainnya rapi banget. Kalah sama algojo yang keliatannya nggak ada kelas. Ini beneran pembersih yang memiliki insting kuat, nalurinya lebih alami. Kayaknya aku udah punya list kumcer siapa aja yang membuatku bakalan ketagihan buat baca karyanya yang lain. - Semua Karakter tokohnya memiliki motif kuat untuk melakukan hal mengerikan di luar nalar, baik tugasnya atau pun pilihannya. - Aku pasti rekomendasikan buku ini buat teman baca yang sama-sama penyuka iyamisu. Membingungkan pembaca dan selalu menarik untuk dikulik tiap motivasi tokohnya. Terutama semua yang berhubungan dengan balas dendam.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kumpulan cerpen bertema crime/thriller karya penulis-penulis Indonesia + Akiyoshi Rikako. Personal preference sih lebih suka yang menyorot segi psikologis tokoh-tokohnya ketimbang pure crime/thriller stories karena (menurutku) cerita detektif lebih maknyus kalau dalam bentuk novel, jadi segi proseduralnya lengkap dan gak grusu-grusu pengembangan plot kasusnya.
Cerpen favorit: - Ketika Kematian Tiba, Biarkan Pintu Balkon Terbuka (Teguh Affandi) - Backyard (Akiyoshi Rikako) - Zugzwang: The Endgame (Vie Asano)
Honorable mention: The Worst Roomate (Daras Resviandira) Mood mencekamnya dapet banget, tapi konklusi ceritanya (plot twist?) nggak banget.