“Menemukan klitoris bukan hanya soal anatomi, tapi juga soal kuasa—tentang siapa yang berhak mendefinisikan kenikmatan, dan siapa yang tidak.”]
Bab ini mengangkat pertanyaan mendasar:
Bagaimana jika bagian tubuh yang mampu memberi perempuan kenikmatan terbesar justru yang paling lama disangkal keberadaannya?
Bab ini menantang cara berpikir kita tentang tubuh dan seksualitas, sekaligus mengajak kita melihat bahwa apa yang tidak dibicarakan sering kali mencerminkan apa yang ingin dikendalikan.
mengontrol tubuh perempuan, sering kali mengabaikan fakta biologis demi menjaga kehormatan keluarga atau struktur sosial.
Ironisnya, dalam beberapa teks medis, selaput dara justru tidak disebut sama sekali. Di titik inilah King menggunakan istilah “disappearing”—karena baik secara medis maupun sosial, ia muncul dan menghilang sesuai dengan kebutuhan naratif zaman.
Politisasi tubuh perempuan terjadi ketika tubuh mereka:
Dijadikan simbol moral dan sosial
Didefinisikan melalui kacamata laki-laki
Dikelola demi menjaga tatanan patriarki
Dihilangkan atau dipelintir dari narasi ilmiah dan historis yang sebenarnya
Berikut adalah rangkuman **Chapter 4: *Existing for the Sake of the Womb*** dari buku *Immaculate Forms* karya Helen King, diterjemahkan ke dalam **bahasa Indonesia**, dengan tetap menjaga kedalaman dan nada analitis dari penulis:
---
### **Chapter 4 – *Ada Demi Rahim***
Bab ini membongkar bagaimana **identitas perempuan secara historis telah direduksi hanya menjadi “wadah” bagi rahim**, dan bagaimana rahim dijadikan pusat dari segala definisi medis, sosial, dan moral tentang perempuan.
Helen King menyoroti bahwa dalam banyak teks medis kuno—termasuk dari Hippocrates, Galen, dan dokter-dokter Eropa abad pertengahan—**perempuan dilihat sebagai makhluk yang tubuhnya “dirancang” hanya untuk reproduksi.** Segala aspek dari tubuh, pikiran, bahkan penyakit perempuan sering kali ditelusuri kembali ke rahim.
> “Perempuan tidak memiliki tubuh. Mereka memiliki rahim, dan tubuh mereka adalah pelengkapnya.”
Konsep **"wandering womb"** (rahim yang mengembara)—yang dipercaya menyebabkan berbagai penyakit mental dan fisik pada perempuan—adalah salah satu contoh bagaimana rahim bukan hanya dilihat sebagai organ biologis, tapi juga **sumber ketidakstabilan dan kelemahan perempuan**.
King juga menunjukkan bahwa pemahaman semacam ini memperkuat ide bahwa **fungsi utama perempuan dalam masyarakat adalah menjadi ibu**, dan jika ia tidak menikah, tidak hamil, atau tidak menyusui, maka keberadaannya dianggap “gagal” atau “tidak lengkap.”
Selain itu, ia mengkritik bagaimana **modernitas pun tidak sepenuhnya lepas dari narasi ini**, dengan praktik medis, sosial, bahkan hukum yang masih menjadikan rahim sebagai titik tolak dalam menilai perempuan.
---
### 🔎 Inti dari bab ini:
- **Tubuh perempuan didefinisikan dari fungsinya untuk orang lain**, bukan untuk dirinya sendiri.
- Rahim dijadikan simbol kuasa dan kendali atas perempuan.
- Perempuan yang tidak “menggunakan” rahimnya (tidak menikah, tidak hamil) dianggap menyimpang atau tidak normal.
---
Bab ini memperkuat pesan buku: bahwa **pengetahuan tentang tubuh perempuan telah lama dibentuk bukan untuk memberdayakan, tapi untuk mengontrol.**
Kalau kamu ingin dilanjutkan ke **Conclusion: Our Bodies, Our Selves, Our History**, tinggal bilang aja ya!
Berikut adalah rangkuman bagian **Conclusion: *Our Bodies, Our Selves, Our History*** dari buku *Immaculate Forms* karya Helen King, diterjemahkan ke dalam **bahasa Indonesia**, dengan tetap menjaga gaya reflektif dan kritis penulis:
---
### **Kesimpulan – Tubuh Kita, Diri Kita, Sejarah Kita**
Dalam penutup ini, Helen King mengajak pembaca untuk melihat kembali bagaimana **sejarah tubuh perempuan telah dibentuk, disusun, dan sering kali disalahartikan**—bukan oleh perempuan itu sendiri, melainkan oleh struktur kuasa yang melingkupinya: medis, agama, budaya, dan hukum.
Ia menegaskan bahwa:
> “Tubuh perempuan selalu menjadi lokasi perdebatan—bukan karena tubuh itu misterius, tetapi karena tubuh itu penting secara politis dan ideologis.”
King menyoroti bagaimana narasi tentang **payudara, klitoris, selaput dara, dan rahim** bukan sekadar wacana biologis. Mereka adalah titik-titik di mana **kontrol, stigma, dan penghapusan perempuan terjadi**—baik dalam buku teks medis maupun dalam praktik sosial sehari-hari.
Namun, King juga memberi ruang harapan. Ia mengajak pembaca untuk **merebut kembali narasi tubuh perempuan**, bukan dengan menolak sejarah, tapi dengan **membaca ulang, mengkritisi, dan menulis ulang dari sudut pandang perempuan sendiri.**
Ia mengakui bahwa banyak hal telah berubah, tapi juga menekankan:
**“Jika kita tidak sadar akan bagaimana sejarah dibentuk, kita berisiko mengulangnya.”**
---
### 🔚 Penutup reflektif:
Kesimpulan ini bukan hanya mengakhiri argumen akademis, tapi juga menyuarakan pesan yang personal dan politis:
> Bahwa **tubuh perempuan bukan milik sejarah, bukan milik sistem, bukan milik laki-laki—melainkan milik perempuan itu sendiri.**
---
Kalau kamu ingin aku bantu membuat **kesimpulan visual** untuk konten edukatif atau versi *quote carousel*, tinggal bilang aja ya!