Saat orang tuanya meninggal secara mendadak lima tahun silam, Dea nyaris kehilangan arah . Untunglah ada sosok misterius bernama Om Pandji yang membantunya secara moril dan materiil, hingga Dea berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.
Berkat pertolongan Om Pandji, Dea bisa terus menjalani hidup normal layaknya remaja seusianya. Om Pandji bahkan bersedia membiayai kuliah Dea di kampus almamater almarhum orang tuanya. Saat utang budi itu semakin menumpuk, saat Dea merasa bisa melakukan apa pun untuk membuat Paman Kaki Panjangnya itu bangga, saat itulah Om Pandji menampakkan sosok aslinya pada Dea.
Juga motif sebenarnya.
Akankah kisah Paman Kaki Panjang yang dialami oleh Dea akan berakhir manis seperti dalam dongeng klasik? Atau mungkin justru beliau malah jadi mimpi buruk selanjutnya?
Buku pertama yang kuselesaikan di 2025. Semoga jadi awal baik untuk satu tahun ke depan 😊
Kamu, Matahariku bercerita tentang Dea, yatim piatu, yang selama ini hidup dibiayai oleh seorang "paman kaki panjang" bernama Om Pandji. Sejak Dea SMP sampai sekarang kuliah arsitektur, seluruh hidup Dea ditanggung oleh Om Pandji, yang nggak pernah Dea lihat orangnya. Merrka berkomunikasi lewat email dan seorang perempuan bernama Jannah. Lalu Dea bertemu dengan Aji, teman kuliahnya yang pemalu tapi serint disalahpahami jadi cowok dingin dan sombong. Dea awalnya kesel juga, tapi lama-lama dia tahu kalau Aji punya banyak trauma yang membuatnya bersikap demikian. Ketika perasaan Dea ke Aji makin besar, situasi jadi rumit terutama karena Om Pandji muncul juga dan menuntut "balas jasa" yang sulit Dea berikan.
Awal hingga 75 persen buku ini berjalan simpel dan unyu-unyu khas mahasiswa-mahasiswi ketemu di kampus dan jatuh cinta--kesampingkan dulu tentang latar belakang Dea yang yatim piatu dan Aji yang takut pada perempuan. Cocoklah dengan covernya yang sweet lovely itu. Tapi menjelang seperempat terakhir ini kok makin lama makin "sakit"? Mana ada berubah jadi genre action lagi 😭
Aku sediiih. Buat Dea, buat Aji, hidup mereka berat banget. Nggak kebayang gimana rasanya. Terlebih, Aji. Di sini terlihat banget gambaran seseorang yang mengalami pelecehan seksual (kalo kayak Aji gitu bisa disebut pelecehan seksual gak siih? 😭) yang benar-benar menghancurkan mentalnya. Ini lho jawaban kenapa kebanyakan korban nggak mampu melawan (buat yang sering nanya, kok nggak ngelawan? Kok nggak kabur), karena kekuatan fisik bukan lagi penentu utama di sini. Aji jelas lebih kuat secara fisik karena dia laki-laki, tapi dia bahkan nggak mampu bergerak karena yang diserang itu psikisnya juga. Sedih banget, dengan semua masalah hidupnya, Aji masih bisa hidup normal, berprestasi, dan bahkan kerja sana-sini. Kuat banget Aji 😭😭
Dea juga kuat, mengingat dia harus menguburkan kedua orangtuanya sekaligus di usia 14 tahun. Nggak kebayang gimana perasaannya ditinggali begitu banyak utang--ya walau kemudian ada pertolongan dari Om Pandji.
Ketika mulai baca buku ini, aku punya banyak pertanyaan. Sepele-sepele, tapi ya bikin heran gitu. Kayak, kenapa Aji ngomongnya campur-campur, siapa "om" yang Aji panggil "ayah" itu, gimana Dea bisa tahu Aji sakit mag di kosan. Tapi sebagian besarnya terjawab sih.
Oh, paling satu ini aja sih yang mengganjal. Nama Aji kan depannya Samiaji, sementara Dea itu Deandra. Kok bisa absen mereka berurutan? Seingatku dulu absen kampus ya sesuai abjad aja, bukan urutan daftar ulang (apa nggak berantakan nih susunan buku absennya?). Tapi mungkin sistem tiap kampus beda-beda sih. Btw, interaksi Dea dan Aji ini sweet. Emosi mereka dibangun pelan-pelan, tapi lumayan "kena". Aji niiih act of service bangeet 😍
Sama satu lagi, itu apes bener sih UKM Pencinta Alam mereka, tiap bikin event selalu ada tragedi wkwkw mumet gak tuh kepala Bram (ketuanya).
Novel ini sangat page turner, ya. Aku bacanya nggak sampe 2 hari, dan mostly terhenti karena udah jam 2 dini hari dan aku ngantuk banget hahaha sayangnya banyak typo 😭😭
Pertama kali baca karya ini di Wattpad bertahun-tahun lalu, tapi belum kelar juga. Plot novel ini lumayan mengejutkanku sih. Dan ada plot twist yang cukup oke, walau aku kurang paham dengan tujuan vilain-nya melakukan semua pertunangan itu. Apa untungnya, gitu.
Satu saja pertanyaan mengganjal, kenapa "papanya Aji" mau melakukan semua itu? Aoa karena dia cinta Devina? Apa karena utang budi kepada Bisma? Tujuan dan alasan "papanya Aji" nggak dijelaskan di sini, jadi aku asumsikan bisa jadi dia juga punya tujuan yang sama dengan vilain, tapi belum ke-detect aja wkwkwk
Anyway, meski covernya secantik itu, novel ini mengandung banyak trigger warning: sexual abuse, domestic abuse, self harm, child abuse, toxic person, gaslighting, suicide. Dark banget 😰
Dea kehilangan papa dan mamanya 5 tahun yang lalu. Hidupnya seakan berhenti, sampai suatu ketika seseorang menolongnya, membayar utang kedua orang tuanya hingga membiayai hidup dan kuliahnya. Dea pun berjanji akan membalas budi kepada Daddy Long Legs-nya. Kalau ia masih muda, Dea berharap mungkin bisa bersama penyelamatnya. Sampai suatu ketika Dea bertemu dengan Aji, cowok tampan nan pintar yang penuh banyak luka dan misteri.
Di belakang sampul tertulis bahwa ini romance novel, tapi porsi romance-nya menurutku shadowing oleh genre mystery-almost thriller-agak magical realism terutama di 1/3 menuju akhir cerita.
Dea dan Aji ini sebagai tokoh sentral, memiliki karakter yang kompleks. Terutama Aji. Dia layering-nya banyak. Di act 1 dibuat bertanya-tanya Aji ini kenapa, ada sakit apa, ada trauma apa. Sayangnya di act 3, masa lalu Aji diceritakan melalui spiritual journey, menurut agak sedikit "aneh". Mungkin penulis memiliki intensi lain.
Peringatan pembaca: Mengandung adegan kekerasan seksual dan bunuh diri.
Pelik. Rumit. Sampul bukunya cerah dengan bunga matahari, tapi isinya gelap dan penuh luka. Bahkan menuju akhir malah makin seperti novel genre thriller.
Yang jadi perhatianku adalah seringnya switch suara di dalam satu chapter—tanpa ada pembatas. Jadi, saat bercerita dari sudut pandang Dea, masih di adegan sama langsung pindah ke Aji. Tapi, membaca catatan penulis di awal bahwa novel ini dibiarkan dengan taste dan penulisan yang sama di tahun 2017. Kalau misalkan dilakukan editing di versi tahun terbitnya, aku rasa hal teknis ini nggak akan ada [karena penulisnya juga editor, jadi beliau pasti ngeh akan "perpindahan" ini].
Sebenarnya aku berharap ada lanjutannya karena akhirnya nanggung. Atau minimal ada epilog-nya gitu. Atau membuat Kau, Matahariku versi tahun 2025, hehe [hanya sebatas keinginan pembaca].
"Laki-laki pun bisa mengalami kekerasan seksual." Melalui tokoh Aji, aku sebagai pembaca diajak untuk menyelami betapa pedihnya karakter Aji yang ditolak ibunya, struggle sendiri, bahkan memiliki trauma mendalam. Filosofi "Kamu, Matahariku" sangat pas—dan menyayat hati. Bagai matahari, penerang di kehidupannya yang gelap. Peluk untuk Aji.
Ya Alloh😭 nyesek bgt. Gimana rasanya jadi Dea. Hidup dari uang yg dikasih orang yg tidak pernah ia temui sebelumnya. Harus menahan rasa penasarannya bertahun-tahun agar tidak menyakiti kebaikan orang tsb. Apakah benar orang ini baik atau ada niat jahat dibaliknya?
Tokoh yg menarik perhatianku disini adalah Aji, dia tuh teman kuliah Dea. Di mata orang-orang dia adalah sosok yang keren, jadi pujaan semua orang. Namun, dibalik itu ada banyak luka & kehancuran yang dia pendam. Bagaimana dia masih memiliki sebuah alasan untuk tetap hidup.
Ada satu sosok lagi yg jauh menarik hatiku yaitu Pak Haris. Bagaimana dia dengan tulus menyayangi anak tirinya walaupun banyak orang bahkan dari keluarga istrinya yang mencibir, "itu cuma anak tiri kamu, gak usah segitunya, darahmu gak mengalir di tubuhnya". Namun, beliau beda, beliau berhasil membuktikan bahwa tidak semua darah lebih kental daripada air.
Suka bgt interaksi dari Dea & Aji. Hahahah, gemes-gemes gimana gituh. Setiap adegan Aji lagi nolong Dea, dengan ngakaknya, otomatis otakku muter efek sound "act full act act full" wkwk. Berkali kali loh gimana aku gak kegirangan sambil tutupan bantal sendiri 🤣🖐Kulkas pabrik nugget aja kalah dingin sama beliau😭😣 sama Dea kok beda💖
Jijik bgt sama Rania & Soraya. Katanya cantik, tapi ya Alloh, bar-bar bgt, sok iye bgt. Gak bisa dibilangin. Harus pake bahasa planet apa biar paham😭 Definisi hama tuh mereka. Oh ya ada lagi, Toni, versi lakinya aja. Sama-sama najis. Bikin ilfil & pamer kekayaan terus. Gak tau tuh dia bayar pajak apa enggak, ups.
Karena yang menjadi penarik kisah ini adalah sosok dibalik Om Pandji. Pas mereka ketemu, damn, kok beliau seh. Gak sesuai ekspektasi & ilmu cocokologi sok tau ku🤣😭 Sabar, selesaikan kisahnya untuk kejutannya 🤭
Pelajaran yg kupetik adalah bagaimana kita tetap berbuat kebaikan walaupun sekecil apapun kepada orang lain karena kita gak tahu hal dahsyat apa yg terjadi karena kebaikan itu.
4/5🌟 Rekomendasi untuk kamu yg ingin membaca buku romance dgn sensasi penasaran terus, sedih, trauma masa lalu, namun masih diselipi unsur lucu & ke-uwu-an para tokoh🤭
Kehidupan Dea berubah 180° saat kedua orang tuanya tiba-tiba meninggal. Dea menjadi sebatang kara, diwarisi banyak hutang dan kehilangan arah. Apalagi saat itu usianya masih belasan tahun!
Di tengah situasi itu, Dea mendapatkan bantuan dari Om Pandji. Mulai dari biaya sekolah, tempat tinggal, bahkan biaya untuk kebutuhannya sehari-hari. Tetapi Om Pandji tak pernah menemui Dea. Beliau melarang Dea mencari tau tentang dirinya. Lantas sebenernya siapa Om Pandji itu? Akankah Om Pandji meminta balasan atas kebaikannya??
🌻🌻 Waktu berlalu hingga Dea berhasil masuk ke kampus almamater orang tuanya. Om Pandji masih setia membiayai kebutuhannya. Namun masalah bertambah saat Dea bertemu Aji dan kak Toni. Aji ada pria dingin, mudah canggung, dan terkesan angkuh. Kak Toni sebaliknya, sangat ramah, perhatian, dan dikagumi cewek² di kampusnya. Semua menjadi runyam begitu Dea mengenal mereka semakin dalam. Dea dihadapkan situasi pelik! Pada akhirnya siapa yang menjadi matahari bagi Dea? Dan akankah Dea mengetahui siapa Om Pandji sebenarnya??
🌻🌻🌻 Baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia
Awalnya ku kira novel ini penuh romansa manis yang menggelitik, tapi 89% aku salah. Bukan sekedar kisah cinta, melainkan tentang toxic & abusive relationship, hamil di luar nikah, depresi, trauma, kisah keluarga yang kompleks dan cukup gelap!
Banyak insight yang ku dapatkan, di antaranya: • Kesan pertama sering kali salah. Jangan buru-buru menghakiminya seseorang dari apa yang kamu lihat! • Luka masa kecil akan membekas hingga dewasa. Bahkan dapat semakin parah jika penyebabnya tidak diatasi. • Laki-laki pun bisa menjadi korban KS. • Penting untuk mencari tau tentang motif seseorang yang berusaha mendekati kita.
Novel yang mengaduk-aduk perasaan. Menurutku terasa agak lambat di awal, namun semakin ke belakang semakin banyak insight. Banyak tokoh yang ku benci di sini, tidak hanya Om Pandji gadungan dan anaknya, aku juga benci dengan Mama dan Kakek Aji 🤧 Mereka adalah orang dewasa yang tidak dewasa 😏
Terakhir, masih ada beberapa typo yang bisa diperbaiki ke depannya. Aku juga berharap akan ada lanjutan dari novel ini, dengan versi lebih manis (saat Dea yang menjadi bunga matahari 😅).
Rasanya hatiku benar-benar dibikin campur aduk. Aku sungguh jatuh hati sejatuh-jatuhnya pada kisah Dea dan Aji yang sangat mengharukan ini. Karena penulis mengatakan bahwa ia terinspirasi dari cerita Daddy Long Legs, aku benar-benar nggak menyangka begitu identitas asli Om Pandji alias Daddy Long Legs itu dibuka. Wuah. Astaga.
Meski begitu, aku masih bertanya-tanya soal Tante Jannah. Dia memangnya ada utang sama Om Akmal? Dia kan sekretarisnya Om Haris. Tapi kenapa justru menuruti Om Akmal di bagian yang paling fatal?
Hmm. Aku jadi pingin ikutan PO special buat baca bagian unpublished-nya.
Review lengkap akan ditambahkan nanti. Dalam pengantarnya, Mbak Vie meminta maaf jika karya ini dirasa kurang matang karena ini adalah karya lamanya yang ditulis saat dia masih belum menjadi penulis matang, baru selesai pada tahun 2020 dan baru dilirik Elexmedia untuk diterbitkan pada 2023. Aku sudah membaca semua karya Mbak Vie yang sudah terbit secara mayor (kecuali yang di antologi Iblis Di Pekarangan). Jujur saja, dari keempat karya Mbak Vie yang sudah kubaca, Kamu, Matahariku ini lah yang paling menyentuh perasaanku. Aku sungguh jatuh cintaaaaaa.
jadi ceritanya, saya lagi di fase hampir ctrl+A+del dari naskah coming of age yg saya bikin. kayak hopeless gitu deh pas self editing.
sampai akhirnya saya milih utk baca novel, pilihannya jatuh ke novel ini krn udh lepas segel. ternyataaaa, huhu, ketolong bgt. yg saya butuhkan itu mendalami vibe unyu YA, dan melepaskan vibe dewasa dari naskah sblmnya yg saya bikin. sambil mengafirmasi, kedua 'anak' itu karakternya berbeda.
ini buku ketiga kak vie yg pernah aku baca. yang ini porsi romensnya lebih banyak, dan sbnrnya daddy long legsnya udah bs saya tebak sih. cuma alhamdulillah jalan ceritanya ini 'kak vie bgt', dgn memasukkan unsur misteri, teka-teki, dan isu mental health yg perlu dibaca oleh usia belasan-dewasa muda. yg paling saya suka dr tokoh Aji karena mengangkat isu toxic masculinity. kerapuhannya memberi gambaran baru di antara karakter2 cowok fiksi yg dituntut maskulin sampe gak ada celah buat nunjukin kekurangan.
Cukup lama baca novel ini karena... yah, aku nggak tahu ada trigger warningnya. Aku sempat DM kak authornya buat nanyain apakah novel ini berkisah tentang grooming? Bisa aja gitu kan, karena dia bilang cerita ini terinspirasi dari Daddy Long Legs? Ternyata nggak, ini bukan tentang grooming, dan oke, aku checkout. Ternyata trigger warningnya sama triggering-nya dengan isu grooming yang kutakutkan 🥲
Aku suka banget karakter Dea. Dia cewek green flag yang green banget kayak hutan hujan tropis. Aji juga menyala hijaunya. Awal-awal baca aku cekikikan karena mereka berdua ini manis banget. Ijo dan manis. Kayak kelepon.
Eh tapi begitu masuk ke kepala Aji... gelap 🥲 aku gak kuat. Kasihan banget dia. Kenapa kak authornya jahat banget bikin masa lalu Aji kayak gitu. Tambah lagi urusan Dea dengan Toni ternyata lebih pelik daripada di permukaan.
Kekerasan yang hendak ditampilkan sukses membuat tidak nyaman membacanya. Bukan karena lukanya namun karena ketidakberdayaan untuk melawan sosok yang lebih berkuasa. Meski cowok, Aji tidak berkutik dihadapkan pada perjanjian kotor masa lalu yang digagas Om Akmal.
Memang sesekali kita perlu juga membaca novel yang mengangkat kasus tentang trauma psikis atau mental health terutama di kalangan anak muda saat ini. Setidaknya ada hikmah yang bisa diambil dan dijadikan acuan agar rasa pedih ini bisa tersembuhkan.