Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hijab For Sisters: Dakwah Juga Perlu Indah, Medina!

Rate this book
SEORANG QARIAH MENJADI VOKALIS BAND?

Demi mendapat permintaan maaf dan berhenti diganggu oleh band amatir yang sempat cekcok dengan Baba, Medina terpaksa menerima syarat menjadi vokalis band tersebut sampai festival musik berakhir . Medina tahu bahwa Baba akan kecewa. Oleh karenanya, dia bertekad keluar dari band sebelum Baba pulang dari safari dakwah di luar kota.

Namun, setelah yakin rencananya akan sempurna, Baba malah muncul di hari pertunjukan. Medina tertangkap basah! Sanggupkah dia menghadapi kebohongannya sendiri di hadapan Baba yang sangat menentang musik? Akankah Baba menerima bila putrinya yang seharusnya dekat dengan Alquran, malah diam-diam disibukkan dengan nyanyian?

208 pages, Paperback

Published December 26, 2024

Loading...
Loading...

About the author

Ana Latifa

7 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (40%)
4 stars
3 (60%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,557 reviews76 followers
October 3, 2025
Tapi belum tentu, lho, Reilan."

"Belum tentu apa? tanya Reilan kedengaran senang.

"Kalaupun yang Nada lihat adalah ceramah-ceramah, tetap belum tentu akan menggerakkan Nada buat salat."

Reilan tercenung. "Kok bisa?"

"Kita nggak akan pernah bisa diperintah sebelum condong kepada hal tersebut."

"Tapi, kan, bisa dipaksa? Bukannya itu fungsi adanya neraka? Buat apa kata orang-orang?" Reilan berusaha mengingat. "Ah, 'Lebih baik dipaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka'?"

Medina mengangguk lembut. Dia menatap lurus terus ke arah jalan.

"Tapi berapa banyak yang bisa mempertahankan semangatnya hanya karena paksaan? Bukankah malah akan semakin banyak orang yang akan mencari cara kabur dari hukuman?"

Reilan terdiam.

"Kalau ancaman tersebut dihilangkan, apa masih bisa seseorang semangat ibadah tanpa paksaan?" Medina bertanya lagi.

"Menurutku bisa saja, sih. Rasa takut itu selalu ampuh buat bikin orang patuh, tapi memang nggak semua orang bakal bisa betah sama hal tersebut," putus Reilan. "Makanya perlu dorongan atau... tarikan yang lain."

Medina mengeratkan pelukan pada mukenanya. Dia mengangguk. "Baba pernah bilang kalau hukuman itu pendorong terlemah untuk bisa membuat seseorang patuh. Kalau hukumannya dihilangkan, tetap nggak banyak yang akan bertahan menjadi patuh, karena kebanyakan mereka malah kehilangan makna dari kepatuhan itu sendri.

"Karena itu, seharusnya kita dibiasakan ibadah karena iman--karena rasa cinta kepada Allah, bukan yang lain. Seandainya surga dan neraka nggak pernah ada pun, nikmat Allah kepada kita, kan, nggak berkurang sedikit pun."

(Notasi Zaman)


*

"Kamu percaya kalau musik dapat memengaruhi pikiran dan jiwa?"

Medina diam, tetapi memperhatikan.

"Beat memengaruhi raga, ritme memengaruhi jiwa, harmoni memengaruhi roh."

Medina ingin membenarkan, tetapi tidak memiliki dasar. Dia hanya akan berkata sesuai pengalamannya barusan. Permainan musik Mbah Anon seolah menjelma tali-temali yang mengikat kendali pikiran, tubuh, bahkan jiwanya.

"Bukan kata saya, tapi kata musisi jenius dari Timur bernama Al-Kindi dan Al-Farabi."

(...)

"Bapakmu ngajar di kampus, kan, Neng? Bawa materi apa dia itu?" tanya Mbah Anon.

Medina mencoba mengingat-ingat. Ayahnya adalah seorang alumnus Al-Azhar di Departemen Sejarah, Fakultas Bahasa Arab.

"Sejarah Peradaban Islam," jawab Medina.

Senyum Mbah Anon menjadi utuh.

"Dia pasti tahu betul kalau nama musik sendiri diyakini berasal dari peradaban Islam abad ke-8 Masehi."

"Wih, canggih bener!" sela Bonbon takjub.

"Meski ya... nggak sedikit juga yang percaya kalau berasal dari bahasa Yunani, 'Muse' yang berarti renungan. Tapi sepertinya bisa saja karena Al-Kindi pada zamannya memang rajin menerjemahkan teks filosofis dan ilmiah bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab."

"Bentar-bentar, ini beneran apa bohongan, sih?" Alis Nada bergelombang heran.

Mbah Anon menyalak. Matanya ikut membelalak. "Ya betulan, lah! Al-Kindi buat banyak kitab tentang musik yang salah satunya berjudul 'Al-Madkhal Ila Sina'at Al-Musiq', terus pengetahuannya dikembangkan lagi oleh Al-Farabi di dalam kitabnya berjudul 'Al-Musiqa Al-Kabir'. Saking hebatnya Al-Farabi sampai dijuluki Sang Bapak Musik. Kitabnya itu jadi rujukan penting buat perkembangan musik klasik barat!"

(...)

"Jadi, teori musik ditemukan oleh keduanya, Mbak?" Medina bertanya karena benar-benar tidak tahu.

Mbah Anon mengangguk mantap. Dia mulai mengabsen apa saja yang tertulis di dalam kitab tersebut. Seolah benar-benar memilikinya. "Ada banyak ahli musik zaman itu. Penemuan notasi musik, interval, nada, oktaf, pembuatan alat musik senar, bahkan do-re-mi-fa-sol-la-si yang dikenalkan barat sudah diakui kalau asalnya dari teori musik Arab mi-fa-shad-la-sin-dal-ra. Semuanya dari sarjana muslim."

"Kok, bisa kepikiran gitu?" Nada menggumam.

"Dari Matematika." Mbah Anon mencetus, membuat anggota Rebel Souls menganga heran. "Dua nama tadi itu bukan orang sembarangan. Al-Kindi, filsuf pertama peradaban Islam. Dia juga ilmuwan di banyak bidang kayak matematika, astronomi, sampai kedokteran. Sama kayak Al-Farabi. Cerdas-cerdas mereka itu. Sampai bisa pakai musik buat terapi pengobatan."

Semua orang berkoor kagum. Mbah Anon mengusap tuts kibornya.

"Apa yang saya lakukan tadi itu bisa bikin kalian senang, ketawa, sedih, kan? Dua musisi dan ilmuwan tadi lebih canggih lagi bisa buat musik jadi terapi. Pernah diuji musiknya Al-Kindi sukses nyembuhin orang lumpuh."

(...)

Nada kemudian menyilangkan tangan di depan dada. Ada sesuatu yang ganjil di benaknya. "Pak Haji nggak mungkin nggak tahu, deh. Tapi kenapa malah anti banget sama musik?"

Mbah Anon menangkap pesan itu. Dia menggosok kulit dagu keringnya. "Bisa jadi. Musik sekarang itu memang terlalu liar. Segala macam genre ada, yang dorong buat bunuh diri pun ada, tapi apa karena ada buruknya jadi perlu dijauhi?" Mbah Anon terkikik geli. "Bahkan, sedekah saja bisa bikin manusia diseret ke neraka. Betul nggak, Neng?"

Medina mengaminkan dalam hati. Memang tidak akan pernah ada keadilan bila manusia berlagak menjadi hakim. Selalu ada ranah tersembunyi yang hanya bisa dimasuki oleh Tuhan. Ranahnya hati.

Pernyataan Mbah Anon mengingatkannya tentang kisah si dermawan yang diseret ke neraka karena setelah penghakiman diketahuilah bahwa dia selalu berbagi bukan karena Allah, melainkan ingin dipuji manusia lain.

Mbah Anon mengawang-awang lagi. "Kesenangan bagi mata itu keserasian warna, bentuk, pokoknya rupa-rupa yang serasi. Kesenangan bagi hidung itu aroma wangi. Kesenangan bagi tangan itu tekstur lembut, halus, macam sutra. Kesenangan bagi lidah itu yang lezat-lezat. Kesenangan bagi telinga sudah jelas suara-suara yang indah. Tuhan tak mungkin ingkar terhadap apa yang telah Dia ciptakan, betul? Lihat saja ciptaannya. Selain bawa manfaat, pasti mampu memenuhi laparnya manusia terhadap keindahan."

(Notasi Zaman)


*

"Maaf A. Tapi aku sudah lama cinta sama dia."

Saat itu, Nada berusia sembilan tahun. Otaknya belum sempurna menerjemahkan apa yang sedang terjadi. Yang dia tahu hanya Bapak marah besar pada Mama. Tetapi lebih tampak kesedihannya ketimbang maki-makian kasar. Mama juga memasang wajah yang kelihatannya menyesal, tetapi tidak penuh. Nada tidak kalau sejak hari itu Mama tidak akan pulang lagi.

Nada pun dikenalkan pada kata cerai. Ternyata dua orang bisa menikah buka karena cinta--mungkin dulunya, tetapi cinta itu berkurang dan terisi lagi oleh orang lama yang dipertemukan kembali.

(Alunan Ketegangan)


*

"Mak Mar selalu nyuruh aku hijaban. Tapi baru kemarin aku tergerak buat pakai kain penutup kepala ini."

Medina mengangguk saja. Dia belum mampu menebak arah pembicaraan Nada.

"Baru tergerak kemarin, sejak Bapak ada di masa-masa paling genting." Suara Nada tercekat. Hidungnya berair panas.

(...)

"Kamu bilang di lagumu kalau cuma doa satu-satunya benda termewah yang bisa kita beri ke orangtua sebagai balas budi terbaik atas segala jasanya. Iya, kan, Din?"

Medina mengangguk pasti. Karena begitulah Medina diajarkan. Tanpa sadar, pemahamannya mengalir menjadi sebuah lirik nyanyian.

"Aku pakai hijab karena itu. Karena pengin Allah dengar doa yang selalu minta kesembuhan Bapak."

"Masyaallah," puji Medina tulus.

"Tapi... aku masih separuh hati, Din," aku Nada setelahnya.

"Kenapa?"

"Aku masih nggak ngerti kenapa cinta Tuhan itu bersyarat. Sebelum aku berhijab, apa Tuhan nggak sayang sama aku?"

"Tuhan selalu menyayangi seluruh hambaNya, tanpa terkecuali, Nada...."

"Ya, terus kenapa? Kenapa aku harus mengikuti segala aturannya kalau sebetulnya aku bisa menunjukkan rasa cintaku pada Tuhan dengan caraku sendiri?" cecar Nada menggebu. "Aku benar-benar nggak paham."

(...)

"Teh Riris pernah bertanya di satu kajian yang rutin kuikuti. Katanya, 'Hal terbaik apa yang bisa diberikan pada pecinta bunga?'"

"Bunga lah," sahut Nada tanpa berpikir.

"Lantas, apa yang akan pecinta bunga rasakan bila dikasih batu oleh seorang pecinta batu?"

Nada termenung, "Kurang... senang?"

"Betul, Nada. Batu oleh sang pecinta batu adalah hal terbaik dari dirinya yang bisa dikasih pada seseorang, tetapi saat kita mencintai, bukankah kita harus berhenti memikirkan soal aku dan mulai memikirkan soal dia?"

Nada terperangah. Punggungnya mendingin.

"Begitu juga dengan cinta kepada Allah, Nada. Kita menuruti aturannya bukan berarti kita tidak akan bisa mencintai Tuhan dengan cara kita. Bisa saja hal itu dilakukan, tetapi bukankah sebaik-baik cara mencintai adalah dengan selalu mendengarkan siapa yang kita cintai? Kita dengar, kita penuhi, bahkan akan terus kita cari apa lagi yang bisa kita beri pada yang dicinta?"

Mata Nada berkabut. Dorongan menangis tak tertahankan, tetapi dia bersikeras menjadi keras kepala. Susah payah, ditelan lagi air matanya. Giginya merapat.

"Lagi pula, jiwa ini sebetulnya bukan milik kita, jadi dari mana sesungguhnya kita tahu apa saja yang terbaik untuk diri kita? Kita adalah ciptaaan yang rentan dengan kesalahan. Maka untuk terhindar dari kesalahan tersebut, bukankah kita memerlukan petunjuk dari Sang Pencipta?"

(Senandung Kepedihan)


*

Aku nggak nyangka pengikutku beneran mikir kalau aku seorang figur yang berhasil membawa kebebasan terhadap diri."

Dagu Medina mengayun lembut. Nada tersedak tawa geli.

"Padahal, kebebasan itu cuma ilusi dunia ini. Sebebas-bebasnya kita tetap terhalang sama kebebasan orang lain, kan? Sama saja omong kosong, dong? Apalagi definisi cinta yang bebas. Yang ada cinta yang nggak kenal aturan, cinta yang seenaknya, dan cinta-cinta itu cuma bakal melampaui batas."

Medina memperhatikan Nada yang bicara dengan mantap.

"Kayak kata Kang Albar barusan. Cinta Tuhan nggak pernah mengekang, tetapi melindungi. Tapi karena urutan kenalan kita sama Tuhan yang salah, persepsi kita terhadap cinta Tuhan juga jadi bermasalah.

"Kalau kita malah fokus dan keberatan sama aturan Tuhan, mungkin memang cinta kita saja yang kurang dari awal."

Medina mengangguk lagi. "Karena cinta tertulus adalah ketika sepenuh hati percaya pada yang dicinta."

Nada menjentikkan jarinya sepakat. "Nah, makanya jadi penting buat kita betul-betul mengenal siapa yang ingin kita cintai supaya dapat balas mencintai juga dengan betul."

Medina mengangguk. "Katanya, cinta itu selalu menuntut pengorbanan. Maka pastikanlah hal-hal yang kaucintai adalah hal-hal yang baik."

"Makasiiih banget, Din. Nggak kebayang deh, kalau aku masih jadi Nada yang cinta dirinya sendiri seenaknya, semaunya, sesukanya. Kemarin-kemarin aku bisa egois dan mengedepankan perasaanku sendiri atas apa pun yang terjadi. Dan mungkin ke depannya aku bakalan bisa teriak bahwa cinta bisa dijadikan pembenaran buat apa pun."

Nada menjauh, melempar pandangannya ke langit.

"Pembenaran tindakan korupsi atas dalih cinta keluarga, pembenaran pembunuhan atas dalih cinta sepihak, atau pembenaran-pembenaran buat cinta terhadap hal-hal yang berlawanan sama moral."

(Getaran Ancaman)


*

"Eh iya. Baba kamu, kan, benci banget sam amusik. Tapi kenapa kamu mau-mau saja jadi vokalis kami?" Nada bertanya. Medina berdiri tegak bagai tersengat listrik. "Kamu punya pandangan lain, ya?"

Medina merasakan keringat menembus ujung-ujung jari. Memang tidak semestinya berbeda pendapat dengan ayah sendiri, tetapi dia pun cukup sering mengkaji persoalan musik ini bersama IRMAZAH dan memang menemukan perbedaan pendapat. Ada yang menentang mutlak. Ada pula yang bersikap terbuka dengan beragam syarat.

Namun, hal yang paling Medina ingat adalah pernyataan bahwa perbedaan dalam menghukumi musik tidak seharusnya menjadi perdebatan, apalagi sampai menjadi alasan perselisihan.

Lalu, meski bukan sebuah keyakinan yang akan Medina pegang erat, dia tetap menyampaikan sesuatu yang dia pahami. Yang menjadi sebab terbukanya diri pada tawaran Reilan tempo hari.

Tentang indah, baik, dan benar. Tentang ketiganya yang menjadi sebuah kesatuan, tetapi seringkali dipecah-pecahkan.

Di bab lain, kemudian jawaban Medina pada Nada diperlihatkan.

"Di halaqah, kami selalu diingatkan bahwa pembacaan ayat suci dengan suara indah merupakan bagian dari dakwah. Banyak kejadian seseorang jadi mau ibadah, bahkan bertobat hanya karena telah mendengar lantunan ayat suci yang indah.

"Kami nggak perlu memaksakan mereka membaca kitab suci, datang ke masjid, atau menjelaskan secara rinci apa saja keindahan Alquran, kami hanya perlu membacakannya dengan baik dan benarr, dengan perasaan penuh keagungan terhadap setiap firman Tuhan, hingga kami berharap semoga suara kami dapat menyentuh hati orang-orang yang mendengarnya.

(...)

"Terus? Apa hubungannya sama musik?"

"Keindahan adalah hal yang sering luput dari cara orang berdakwah." Medina kemudian memberi contoh. "Meski yang dibawa seseorang tersebut adalah kebenaran, tapi bila disampaikan dengan perkataan kasar dibersamai tuduhan terhadap seseorang yang kelakuannya memang kurang baik, pasti akan menyakiti hati dan meninggalkan rasa nggak nyaman, kan?"

(...)

"Oleh karena itu, berdakwah juga perlu dilakukan melalui hal-hal yang indah. Karena seperti kata guruku, Ustazah Maryam, hanya ada satu pintu yang selalu mudah diterima semua orang. Bukan pintu kebenaran atau kebaikan. Kedua pintu tersebut bisa dengan cepat ditolak. Kebenarna bisa disangkal dan kebaikan bisa diragukan, tapi... nggak akan pernah ada yang bisa menolak keindahan."

(Bait Pengakuan)


*

"Terdapat kecenderungan terpeleset lebih besar kalau-kalau keindahan terlalu banyak ditonjolkan. Kebenaran bisa terbungkus terlalu samar di dalam keindahan yang hanya akan memburamkan kebenaran itu sendiri. Dan, tidak semua orang dapat berhati-hati. Melalui celah itu, lebih mudah membuat orang terpeleset hingga cenderung akan mengindahkan hal-hal buruk hanya supaya tetap dapat eksis.

(Haji Ghiffar pada Nada, Gelombang Perdamaian)


Profile Image for gq .
142 reviews
February 20, 2026
"Menurutku ... cinta yang bebas adalah cinta yang meracuni diri. Dan itu bukanlah cinta, melainkan keegoisan yang meng-atasnamakan cinta,"

"tetapi saat kita mencintai, bukankah kita harus berhenti memikirkan so-al aku dan mulai memikirkan soal dia?"

"Cinta Tuhan gak pernah mengekang, tetapi melindungi. Tapi karena urutan kenalan kita sama Tuhan yang salah, persepsi kita terhadap cinta Tuhan juga jadi bermasalah."

"Kita menuruti aturannya bukan berarti kita tidak akan bisa mencintai Tuhan dengan cara kita. Bisa saja hal itu dilakukan, tetapi bukankah sebaik-baik cara mencintai adalah dengan selalu mendengarkan siapa yang kita cintai? Kita dengar, kita penuhi, bahkan akan terus kita cari apa lagi yang bisa kita beri pada yang dicinta?"
Displaying 1 - 3 of 3 reviews