Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kedai Bianglala

Rate this book
Di Kedai Bianglala, kau bisa menemukan segalanya yang hatimu
cari.

Cinta.
Pengharapan.
Rindu.
Kenangan.
Duka.

Pernahkah kau merasakan itu semua?
Persis rona bianglala yang aneka rupa
Yang muncul selepas hujan
Tidakkah kau ingin tahu warna hatimu sendiri?

184 pages, Paperback

First published April 7, 2014

Loading...
Loading...

About the author

Anggun Prameswari

20 books55 followers
After Rain adalah novel debut Anggun Prameswari. Sebelumnya, cewek Gemini yang juga pencinta bulan purnama ini, sering menulis cerpen di banyak media nasional.
Selain menulis, kesehariannya diisi dengan mengajar bahasa Inggris di SMP-SMA Harapan Bangsa, Tangerang

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (19%)
4 stars
26 (30%)
3 stars
33 (39%)
2 stars
8 (9%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
April 25, 2014
http://reinvandiritto.blogspot.com/20...

Tahukah kamu Capuccino yang tepat adalah terdiri dari sepertiga espresso, sepertiga susu yang dikukus dan sepertiganya lagi busa susu. Bedanya dengan Latte adalah proporsinya. Latte adalah kopi untuk belia. Rasanya lebih ringan dengan proporsi sepertiga espresso, setengah susu yang dikukus dan seperenam busa susu. Capuccino lazimnya diminum pagi hari bersama sepotong croissant.. Bahkan di Italia, ada larangan meminum capuccino di atas jam 12 siang.

Orang-orang Indonesia tampaknya mengabaikan itu. Termasuk di salah satu cerpen di buku ini, Laron dan Kunang-Kunang, sang tokoh pria memesan bergelas-gelas Cappucino pada malam hari. Aku bukan pencinta kopi, aku bahkan hampir tidak pernah minum kopi. Tapi bakda menonton Coffee Prince yang diperankan Yoon Eun Hyee, aku jadi mengerti, dunia kopi adalah dunia ketepatan dan presisi. Bahkan ada kompetisi barista kopi hingga pencicip kopi. Perbedaan urutan, waktu, sedikit saja, bisa mengubah aroma dan cita rasa kopi. Luar biasa.

Adalah hal yang baru bagiku membaca kumpulan cerita dengan tema dan cara yang disajikan di Kedai Bianglala. Perempuan banget. Inikah dunianya perempuan? Inikah common sense-nya perempuan?

Beberapa waktu belakangan, aku memang sengaja membaca buku cerita pop juga. Katakanlah ini semacam upaya memahami dunia pada umumnya. Bukan dunia sepi yang selama ini aku jalani. Untuk apa, aku juga ingin menulis cerita pop, tanpa harus mengorbankan idealisme.

Ada yang bilang laki-laki dan perempuan itu bak Venus dan Mars. Aku pikir keduanya berada pada galaksi yang berbeda. Sehingga untuk memahami Conditio Sine Qua Non atau syarat mutlak masing-masing begitu sulit. Akan ada banyak perbedaan definisi. Akan ada banyak pertentangan nilai. Miris, bukan? Ada satu cerita yang menurutku miris sekali. Aku sampai kesal membacanya. Kenangan Kembang Sepatu. Suami istri bercerai, tetapi aku tidak tahu sebabnya. Ada pernyataan dari tokoh perempuan, bahwa dirinya bukan lagi alasan pulang buat Banyu. Tidak diceritakan lebih detil, dari mana Sheila membuat kesimpulan itu, apa saja premis-premisnya. Cerita dimulai bahkan ketika masa idhahnya sudah mau selesai.

Mencoba masuk ke dalam cerita itu, aku teringat perdebatan di ILK beberapa waktu lalu. Tentang posisi perempuan. Di cerpen tersebut disebutkan Sheila memiliki pekerjaan. Banyu adalah alasannya pulang. Artinya, selama menikah, Banyu ada di rumah saat Sheila pulang. Ini berat bagi laki-laki mana pun. Biar deh mau disebut patriarkis kek, apa kek, tapi kami, laki-laki ingin selalu disambut istri tercinta saat pulang. Sebuah senyuman hangat di pandangan pertama, segelas teh hangat sudah disajikan di meja, dan ciuman panjang yang menuntaskan segala rindu. Mau Rosiana Silalahi bilang, apa sih lelaki ini soknya jadi pembuat kebijakan, pengatur, tapi hal seperti minta bikinin kopi atau teh saja masih minta tolong istrinya, manja sekali, itu adalah perbedaan definisi dan nilai tadi. Bagi laki-laki, melihat istri melakukan hal seperti itu bukan sebuah kejongosan, melainkan kemuliaan.

Ketiadaan situasi seperti itu memang akan membuat lelaki lelah. Harga diri lelaki biasanya sangat tinggi. Perasaan perempuan sangat sensitif. Kalau keduanya diadu, cocok deh, bisa berkelahi dan melahirkan keputusan-keputusan emosional. Apakah perceraian Sheila dan Banyu juga adalah perkara keputusan emosional itu, dan meski masih saling cinta, akibat harga diri, keduanya tetap tidak ingin saling kembali?

Ada yang tidak dimengerti oleh kedua insan tersebut. Ibunya melukis bunga sepatu di mug. Kembang sepatu acapkali disebut lambang kesabaran. Kembang sepatu adalah tanaman semak yang dulunya tidak dipedulikan orang. Ketika berbungalah, orang-orang baru memuji keindahannya dan berebut memetiknya. Masa mekarnya pun cukup berfase, yakni 5 hari, dan ada jenis tertentu yang sampai 20 hari.

Beberapa cerita lain, seperti juga After Rain, bersituasikan dosa termanis manusia. Cinta yang kadang pada kondisi tidak seharusnya. Si A punya hubungan asmara dengan Si B. Padahal Si A sudah menikah dengan Si C. Aku jadi bertanyatanya, apa penulis punya pengalaman seperti itu?

Sejujurnya, situasi seperti itu tidak menarik. Aku pikir omong kosong ada laki-laki yang bilang mencintai wanita lain selain pasangannya. Lebih tepatnya begini, laki-laki punya definisi berbeda soal cinta ketimbang perempuan. Laki-laki juga tidak mengenal kata selamanya. Cinta seperti hal lainnya juga punya masa kadaluwarsa seperti biskuit dan roti, daging kaleng dan mi instan. Apa pun. Laki-laki bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang berbeda atau sama. Ketika cinta itu hilang, yang tersisa adalah kasih sayang. Kalaulah kemudian laki-laki yang sudah menikah berhubungan dengan wanita lain, yang kebanyakan adalah masa lalunya (laki-laki rentan sekali pada masa lalu), itu hanyalah sebuah obsesi fana, juga hasrat. Laki-laki selalu butuh selingan dan memuaskan obsesinya pada kemungkinan untuk merengkuh segala hal. Dan pasti, ia akan meninggalkan obsesinya itu ketika sudah merasa bosan. Tapi laki-laki tidak pernah mau jadi terdakwa, ia pasti akan mencari alasan yang klasik, yang sok-sok dramatis untuk perpisahan.

Laki-laki paham betul ini. Arti bezit dan eigendom. Hak punya dan hak milik. Laki-laki mana pun yang normal, pasti hanya ingin memiliki satu orang saja di dalam hidupnya. Satu yang punya hubungan hukum. Tapi ingin punya yang lain. Yang dimaksud dengan bezit ialah keadaan memegang atau menikmati sesuatu benda yang dikuasai seseorang baik atas upaya sendiri, maupun dengan perantaraan orang lain, seolah-olah benda itu adalah miliknya sendiri. Apa kamu jadi merasa laki-laki itu kejam dan tidak berperasaan? Ya. Karena itu aku tidak pernah pacaran sama laki-laki.

Tema di luar itu, rasanya aku nggak usah bahas satu-satu. Ayah. Orientasi kulit. Aku pikir buku ini telah memberikan aku penggambaran tersendiri tentang perempuan. Satu hal lagi yang aku suka, Anggun Prameswari sama seperti aku, kami memutuskan untuk tidak mengambil jarak dengan tulisan. Terasa sekali nyawa Anggun di buku ini. Seseorang yang menulis dengan nyawanya, akan bisa menyentuh nyawa pembacanya. Meskipun, kedekatan dengan tulisan itu resiko pada amisilasi karakter dan kebiasan sudut pandang yang masih kita lihat di beberapa cerpen di dalamnya. Tapi, sebagai pembaca, aku bisa mengabaikan itu dan menikmati buku ini, sambil meminum segelas air putih.

Tidak akan ada kopi.

(2014)
Profile Image for Alvina.
739 reviews121 followers
December 17, 2015
sebenarnya saya lagi baca Perfect Pain, tapi kemaren ngga sengaja nemu Kedai Bianglala di Ijak. alhasil langsung pinjem. eh malah kelar dibaca duluan.
Anggun pintar menumpahkan kata kata manis, melankolis sekaligus tragis ke dalam cerita ceritanya.
Profile Image for Ayesa.
69 reviews3 followers
December 4, 2021
Kumpulan Cerpen yang rata-rata ceritanya bertemakan cinta. Ingat!. Cinta tak hanya antar sepasang kekasih saja. Namun lebih dari itu. Cinta bisa tercipta dari siapa saja.

Cerpen favorit saya diantaranya Dosa-dosa yang Manis, Mengecup Engkau, Perempuan Setengah Mati, Lara Hati Lara, Karma, dan Wanita Bergaun Merah.
Menurut saya, Cerpen ini secara keseluruhan sangat disarankan untuk dibaca.
⭐⭐⭐⭐
4/5
Profile Image for Musrifah Arfiati.
85 reviews15 followers
October 4, 2016
Awalnya, saya kira buku ini adalah novel. Tapi ternyata adalah kumpulan cerpen. Awalnya pula, saya menilai tulisan Mbak Anggun ini biasa banget. Yaa... karena di pembukaan kumcer ini banyak cerpen2 Mbak Anggun yang jaman dulu-dulu banget. Cerpen lama Mba Anggun memang masih kering emosi, kelebihannya cuma permainan diksi yang bagus. Tapi, semakin ke tengah, cerpen2 Mbak Anggun sukses bikin saya tersedot semakin dalam. Apalagi yang cerpen Mengecup Engkau, sukses membuat mata saya berkaca-kaca. Saya memang sering nggak kuat baca cerpen tentang orangtua, gampang metal, mellow total. Halah.

Lalu, cerpen yang berkesan banget di ingatan saya adalah Kenangan Kembang Sepatu. Saya suka banget metafora di cerpen itu yang membandingkan antara kondisi hati pasca kandasnya pernikahan dengan pecahan mug. Ah, suka banget sama penutup cerpen itu juga. Kalo kata saya sih, "mak greng" bikin bergetar. Hehehe.

Kemudian ada Akad Nikah juga. Ceritanya sih tentang ditinggal nikah mantan. Tapi yg nyeseknya, si tokoh utama sebagai seorang perias pengantin calon istri mantan. Coba kalau kalian di posisi itu, sungguh menyesakkan seluruh jiwa raga. Hiks. Terus, saya juga suka cerpen Cincin Kawin untuk Arin dan Karma.

Hmm... meskipun cerpen2 di Kedai Bianglala tidak hanya tentang manis getir cinta dalam pernikahan saja, tapi setelah dipikir2, kok saya kebanyakan malah suka sama cerpen2 yang temanya tentang pernikahan yaa... hmmm... baiklah... mungkin memang sudah umurnya. Haha. *malah curhat*
Profile Image for Ziyy.
653 reviews24 followers
December 13, 2015
Kali pertama baca karyanya Anggun Prameswari dan puas rasanya. Cerita-ceritanya smooth banget, dan Anggun keliatan menguasai tiap ceritanya.

Can't wait to read another books from her ;-)
Profile Image for Yunita Lestari.
81 reviews3 followers
May 23, 2021
20 judul cerpen yang masing-masing kisahnya tak terduga. Seperti satu paragraf yang tertulis di belakang buku. Kedai Bianglala menyajikan warna-warni cerita dengan banyak tokoh di dalamnya.

🌷

'Aku tidak suka menjawab sesuatu yang diawali kata kalau. Kau sendiri tidak yakin dengan pertanyaanmu, bagaimana aku bisa menjawabnya.' - KM. 40, halaman 30.


Judul yang singkat dan membuat penasaran apa yang terjadi di kilometer 40? Kecelakaan kah?. Tapi nyatanya yang terjadi adalah pergulatan batin dari seorang 'aku' dengan dirinya sendiri. Saat pertama membaca, dibuat bertanya-tanya dengan siapa sebenarnya tokoh ini berselisih pendapat. Sampai tiba di puncak cerita, akhir tak tertebak mengejutkan. Dari sebuah penanda jarak menjadi kisah bermakna.

🌷

'Potret adalah catatan kehidupan dan aku ingin mencatatmu dalam hidupku.' - Cinta Tertinggal di Bangku Panjang, halaman 38.'


Berkisah tentang Sena, seorang fotografer handal yang cintanya tak semulus keahliannya. Kenangan di bangku panjang selalu terngiang di kepalanya akan senyum bibir tipis wanita yang mengucap selamat tinggal pada Sena. Dan kenangan itu kembali memenuhi pikirannya ketika Amanda, sang model juga menjadikan bangku panjang sebagai tempat untuk potretnya.

🌷

Pembawaan setiap cerita selalu menarik. Apalagi akhir yang tidak terduga. ( Soalnya banyak salah pas nebak akhirnya aku tuh🙈). Ada pula yang mengangkat kehidupan masyarakat. Perbedaan keturunan yang berakibat pada kandasnya sebuah hubungan.
Profile Image for ayi.
57 reviews
February 26, 2026
sekelebatan waktu aku berubah menjadi sentimentil tiap kali membaca halaman buku ini. membacanya terasa seperti memandangi riuh kota di malam hari dari sudut jendela kaca gedung tertinggi, ditemani sepi pastinya. rasanya ada sesuatu yang hilang, bukan sesuatu yang buruk tapi bukan juga yang baik. rasanya seperti bernostalgia pada waktu waktu yang ngga pernah aku jalani. kalimat-kalimat yang merangkai cerita ini begitu sederhana, begitupun alurnya, tapi ngga sesederhana perasaan saat membacanya dan perasaan yang diceritakan. mengesampingkan separuh buku yang berisikan plot perselingkuhan, seharusnya buku ini bernilai 5/5
Profile Image for Dhia Aulia.
2 reviews
May 21, 2026
menurut saya adalah buku yang penuh cerita tentang cinta, kehilangan, kenangan, dan patah hati. Isi ceritanya lebih banyak bernuansa sedih dan melankolis, tetapi justru itu yang membuat pembaca ikut merasakan emosi dari setiap tokohnya. Bahasa yang digunakan juga indah dan mudah dibayangkan sehingga membuat cerita terasa hidup.

Yang menarik dari buku ini adalah setiap cerpennya memiliki cerita dan pesan yang berbeda, seperti tentang hubungan, perpisahan, pengorbanan, dan kehidupan perempuan. Banyak ending cerita yang tidak terduga dan meninggalkan kesan mendalam setelah membaca.
Profile Image for mil♡.
132 reviews
February 9, 2023
Kumpulan cerita mengenai cinta. Tapi setelah aku menutup lembar terakhir, beberapa kisah mungkin tidak pantas disebut mengenai cinta. Perselingkuhan dimataku memang tidak pernah berwujud cinta, hanya penuh keegoisan dan nafsu. Jadi, untuk cerita-cerita berkaitan tentang itu kurang cocok disandingkan dengan yang lainnya.

Favoritku diantaranya, Mengecup Engkau, Kedai Bianglala, Giwang, dan Dewi Sri dan Tanah Kenangan
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ratih Cahaya.
415 reviews8 followers
July 1, 2019
Sukaaaa banget. Baru pertama kali baca karya Anggun Prameswari dan langsung suka. dengan pemilihan diksinya, dengan tema ceritanya, dengan tokoh-tokohnya meskipun cerpen-cerpen di kumcer ini kebanyakan berakhir sedih atau tragis. Jadi penasaran dengan karya-karya Anggun Prameswari lainnya.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books345 followers
May 14, 2014
Selasa sore, saya abis window shopping di Togamas dan membawa pulang beberapa buku. Salah satunya adalah Kedai Bianglala. Belanjaan itu saya letakkan di meja belajar begitu saja. Seorang kawan kos (sebut W), yang biasa mengerti hari apa saya ke toko buku membuka plastik dan membaca beberap judul. Dia meraih Kedai Bianglala. Dibacanya cerpen pertama.

W: Guh, aku nggak jadi suka sama buku ini. Padahal sampul dan judulnya asyik.
T: Kenapa?
W: Ini cerpen pertama di paragraf pertama sudah menggurui begini. Apalagi ini kalimat yang bikin aneh, Dosa sepertinya seperti takdir..., seperti kok diulang berdekatan.

Temanku kos, W, itu adalah pecinta cerpen juga meski tidak intens membaca. Dia suka membaca Dee, Albertine Endah, Seno Gumira Ajidarma, dan Akutagawa. Tak kujawab karena memang saya belum membacanya sampai selesai. Dan ternyata buku ini tidak berjodoh cepat dengan diriku. Kosku kedatangan buku2 bagus dan harus sabar menjadi antrean kesekian.

Setiap membaca cerpen-cerpen perempuan, mengapa asosiasi saya tidak bisa lepas dari karya Oka Rusmini dan Alm.Ratna Indraswari Ibrahim? Menurutku keduanya adalah maestro cerpen feminis dari dunia perempuan. Pun saat membaca cerpen-cerpen di Kedai Bianglala punya Anggun Prameswari.

Ternyata kenangan adalah album lusuh dan menyedihkan di buku ini? Kenangan akan masa kecil dan gadis ojek payung? Kenaangan dengan kekasih di abngku taman? Kenangan dengan kenangan? Semunya membuat cerita menjadi melankoli dan sedih ketika berjumpa kenangan.

Saya sendiri merasa sangat lelah saat membaca cerpen KM.40. Bukan karena tema wanita yang diposisikan sebagai batur saja. Justru karena bentuk percakapan antara tokoh aku dan kamu yang memakai bahasa dewa. Jadi mirip monolog dengan bahasa yang berat banget. Mungkin ini ciri khas. Tetapi saya kurang suka saja dengan jenis percakapan yang seperti antara Jane Austine sama Haruki Murakami. (heehee) Kelas berat. Berbeda jenis 'kebosanan' di cerpen selanjutnya Cintaku Tertinggal Di bangku Taman (kenapa keingat judul2 FTV SCTV). Justru nama Sena yang menurutku di cerpen ini menjadi nama laki-laki terasa janggal. Atau memang Sena perempuan dan ini cerita lesbian? Atau ini adalah penulisan nama dengan bahasa jawa yang huruf 'o' ditulis 'a', jadinya Sena (dibaca Seno)?

Kenangan akan papa dan aku yang berbeda agama (isu sensitif tapi dibikin asyik) saat papa mati. Tetapi sepertinya kata teman saya W, ada ketidakefektifan bahasa. Misal bisa dilihat di kalimat Aku memegang erat peti kayu dengan erat, seerat pejaman mata papa.(h.49) Mungkin bisa ditalak salah satu 'erat'-nya biar nggak mendua. Heehee. Lebih getir lagi ketika seorang wanita korban perkosaan menjadi konselor bagi anak kecil korban perkosaan juga. Apa jiwa remuk bisa mengangkat jiwa remuk?

Saya hanya menimati sebagian dari buku ini. Bukan berarti buku ini jelek, bukan. Ini lebih ke selera. Seperti judulnya Kedai Bianglala, dengan aneka ramuan dan menu sajian, maka akan membuka peluang varian suka dan tidak suka semakin besar. Saya selalu kagum dengan kesabaran penulis, termasuk buku ini, yang begitu sabar bercerita. Seolah tidak hendak membuat hentakan-hentakan di setiap paragraf. Sehingga kadang terkesan alurnya sangat lambat, padahal ini adalah ketenangan bercerita. Penulis tidak terobsesi membuat 'teror'. Sehingga tampak penulis hanya 'kuli' dari cerita tokoh utama di buku ini.

Tema-tema kewanitaan jelas menjadi sorotan utama. Tetapi berbeda dengan Ratna Indraswari Ibrahim yang cenderung lebih menyorot perihal rumah tangga, Anggun menarik kacamara pengataman wanitanya lebih luas.

Komentar saya ini bukan komentar kritikus, ini hanya komentar pembaca dengan ngalor-ngidul. Jadi santai saja. Nggak usah dimasukin hati (khawatir mendapat protes dari penulis kayak lalu-lalu). Heeheee.... Karena saya pembaca, anggap saja pengunjung Kedai Bianglala, dan sedang memilih menu mana yang saya sukai...


Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
September 21, 2016
Mengejutkan ternyata sebagian besar cerita yang ada di buku ini pernah saya baca sebelumnya.

Perkenalan saya dengan penulis bermula ketika saya tahu bahwa penulis adalah pemenang salah satu lomba cerpen yang kebetulan saya ikuti (jangan tanya saya menang apa nggak, menang kok, menang, menangos kalau kata anak zaman sekarang hahaha). Dari sana, saya dapat alamat blog milik penulis. Ternyata, penulis memang suka membuat cerpen bahkan beberapa di antaranya dimuat entah di koran nasional atau majalah. Beberapa cerita melekat dengan kuat dalam ingatan saya, beberapa lagi memudar. Jadi, membaca kumpulan cerita ini bagi saya seolah bernostalgia sekaligus mengasah dan mengais ingatan yang ada di dalam kepala.

Cerita favorit yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah Akad Nikah. Sewaktu kali pertama, saya merasa takjub dengan kemampuan penulis untuk mengangkat cerita dan plot di dalamnya. Keren sekali. Lalu, cerita kedua (cerpen yang jadi pemenang di lomba itu) adalah Mengecup Engkau. Momen pertama kali saya membaca (kala itu saya spesial memesan buku kumpulan cerita yang menjadi finalis dalam lomba itu. Otomatis, cerpen Mbak Anggun ini ada di dalamnya), ternyata memang cerita ini sangat layak jadi juara. Keren. out of the box. Saat membaca ulang di buku ini pun, kesan itu tidak begitu saja lenyap. Cerita ini masih sama kerennya.

Di dalam kumpulan cerita dengan judul Melukis Bianglala ini, memang menyuguhkan banyak cerpen yang rata-rata berakhir tragis. Menyedihkan. Atau setidaknya itulah kesan yang coba dihimpun setelah membacanya. Saya jadi sedikit ketipu saat membaca blurb di cover belakangnya. Ekspektasi saya atau setidaknya apa yang saya pikirkan tentang "bianglala" adalah, kau disuguhkan dengan banyak gerbong yang akan membuatmu berputar 360 derajat. Kau akan menemukan manisnya cinta, getirnya kekecewaan, pahitnya kenyataan yang tidak sesuai harapan, indahnya sepotong kisah kehidupan. Kompleks. Sama seperti roda yang berputar dengan siklus konstan kadang di atas lalu ada satu waktu berada di bawah. Namun, secara keseluruhan, cerita di dalam buku ini mostly angst..., dark. Itu diibaratkan seperti kau naik bianglala, namun dalam siklus perputarannya, kau terlalu lama berhenti. Sehingga tidak ada perasaan gembira atau senang saat bianglala berputar menuju puncak, membiarkan kau sejenak menikmati indahnya pemandangan kota dari ketinggian. Yang ada, hanyalah kekhawatiran demi kekhawatiran. Ketakutan atau perasaan sejenis itu yang dominan dengan pahit. Apakah bianglala ini aman? Mengapa ia berhenti berputar terlalu lama? Adakah yang salah dengan bianglala ini? Adakah yang "salah" dengan buku ini?

Ya, begitulah yang dinamakan dengan ekspektasi. Kadang bisa mengacaukan sistem. Hahaha. Lantas, apakah ada yang salah dengan buku ini? Jawabannya tidak ada. Tapi, ya itu tadi, saya "terjebak" dengan penamaan "bianglala" yang dipakai sebagai judul yang mewakili keseluruhan kisah yang ada di dalamnya. Mungkin saya memang harus mengubah sudut pandang. Mungkin saya seharusnya tidak berada di satu gerbong bianglala yang berputar itu. Mungkin saya harus menganalogikan diri sebagai petugas pemeriksa karcisnya saja.


Empat bintang untuk beberapa cerpennya yang mengagumkan. Namun, untuk keseluruhan isi dalam kumpulan cerita ini, saya berpuas diri memberikan tiga bintang. Tiga masih berada di atas rata-rata, bukan? Karena memang buku ini bagus.
Profile Image for Sungging Raga.
6 reviews6 followers
September 10, 2016
Ketika membaca buku Kedai Bianglala, saya merasa sebuah dominasi seorang perempuan. Dominasi di sini bukan sifatnya mengalahkan, tapi lebih pada eksplorasi kejiwaan, eksplorasi yang nyaris kelewat batas sehingga laki-laki nyaris tak dapat bagian. Cerpen-cerpen di buku Kedai Bianglala kebanyakan adalah masalah cinta yang difokuskan pada sudut pandang perempuan. Secara garis besar tema, di buku ini banyak dicontohkan apa yang dialami seorang perempuan sebagai akibat dari interaksi dengan laki-laki. Mayoritas berupa kesedihan. Ada yang ditinggal menikah, ada yang KDRT, ada yang menjalin hubungan terlarang, ada yang dikhianati, ada yang sekadar mengenang. Proses pendeskripsian perasaan perempuan secara masif—yang juga didukung tempat-tempat sendu, membuat posisi lelaki seperti hanya obyek tak hidup dalam cerita-cerita di buku ini. Laki-laki hanya tiba-tiba muncul begitu saja, melukai, meninggalkan, tidak dipercaya, lalu lenyap lagi. Bahkan cenderung sikap laki-laki seperti telah dicap “memang harus seperti itu”.
Profile Image for Iklima Bhakti.
145 reviews13 followers
July 11, 2015
Mungkin setelah terpuruk berbulan-bulan hanya dengan nonton film, drama, anime, bahkan acara talkshow menyebalkan, Kedai Bianglala termasuk dari beberapa buku yang dapat aku tamatin dalam beberapa jam. secara dia kumpulan cerpen yang nggak setebal novel Harry Potter. kenal pertama kali dengan mbak Anggun, lewat novel After Rain-nya dan langsung ngefans. dan di Kedai Bianglala ini aku bisa simpulin bahwa sebagian besar kisah yang ada di kumcer ini satu line dengan tema novel After Rain-nya. bicara soal pernikahan, hubungan pria dan wanita yang sudah menikah dengan wanita simpanannya, dan segala macam tingkah polah di dalamnya. aku tetep suka, cerdas, dan my God sekali karena sering bangat mbak Anggun bicara soal affair di kumcernya dan soal Cina dan Jawa tentunya. At least, kumcer ini bikin aku kembali bernyawa untuk membabat habis tumbukan novel di kamar yang berlabel 'wants to read' hehe :D
Profile Image for Carolina Ratri.
Author 26 books40 followers
September 5, 2014
sebenarnya saya mengharap lebih setidaknya seperti saat saya membaca After Rain. di tengah-tengah buku saya bahkan bosan, yg biasanya jarang banget saya rasakan kalo baca kumcer. mungkin karena terlalu monokromnya kumcer ini. semua memang tentang perempuan dan kenangan. tapi kesan keseluruhan yang bisa saya tangkap, bahwa penulis hanya mengumpulkan tulisan berserak dari hard disk dan jadilah buku. tak tampak usaha untuk membuat irama semacam roller coaster yang bisa memacu adrenalin pembaca. belum lagi kekurangefektifan kata, EYD yang masih saja salah terutama penggunaan huruf kapital dan juga beberapa kata tak baku yang dipakai.
entah kenapa stelah baca ini, saya malah jadi pengin nambah bintang untuk "Girl Talk" :)))

dua setengah bintang sih sebenernya, tapi karena gaya nulisnya yang khas banget, maka saya rela kasih bonus setengah lagi :)))
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
June 23, 2016
Kumpulan cerita, yg lebih tepat disebut kumpulan fragmen ini mungkin salah satu yg terbaik, dan juga aku lebih suka ini daripada novel-novel bikinan miss Anggun lainnya. entahlah, mungkin karena tidak menggunakan bahasa yang bertele-tele. lugas, tapi tetep menarik.
Paling suka cerita Cincin Untuk Arin karena premisnya sederhana tapi langsung menohok. menyentil kita yang masih mementingkan gengsi dan materi di atas kemanusiaan.
banyak juga cerita yang bisa dikembangkan jadi novel dari kumcer ini. cerita-cerita bergenre 'roman legowo' yang diceritakan dengan apik oleh sang maestro roman legowo itu sendiri
Profile Image for Rajif Duchlun.
4 reviews1 follower
Read
August 9, 2014
Kumcer ini luar biasa. Sangat berwibawa. Perempuan memang sedang mencoba membopong kewibawaannya ke sini: dari sebatas kata-kata menjadi nyata. Bahwa, mereka perempuan, sosok yang anggun (seperti nama pengarang ini)akan membuktikan mereka hebat dalam merayu kami (laki-laki) lewat cerita atau caci-maki yang malu-malu keluar dari otak mereka. Mbak Anggun berkata-kata seperti namanya. Saya suka, tapi tak mau menyebut judul cerpennya (saya memang gengsi dan egois) hehe :)
Profile Image for Nadia Qorina.
29 reviews2 followers
September 4, 2014
woohoo... jadi yang pertama me-rate & me-review nih ;)


suram...
all about past..
khas mbak anggun banget,beberapa sudah pernah saya baca di blognya..
tapi tetap menyenangkan melahap buku ini.. :)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews