Dimulai dari penyetujuan saya atas ajakan ibu yang ingin pergi ke Gramedia, saya berbekal niat untuk setidaknya membeli satu novel.
Siang itu, untuk pertama kalinya lagi saya pergi ke Gramedia setelah lebih dari tiga bulan lebih terfokuskan oleh beberapa tes yang akan menentukan masa depan saya. Ujian Nasional tingkat SMA, SBMPTN, dan Ujian Mandiri yang diselenggarakan oleh pihak salah satu universitas, menahan saya untuk memikirkan novel-novel roman picisan yang biasanya saya beli tiap satu bulan sekali.
Sesampainya disana, saya langsung berkeliling di area novel. Hampir setengah jam lamanya, akhirnya saya menemukan novel Mba Maya. Honestly, dari tampilan luarnya alias cover, novel Mba Maya kurang begitu menarik. Gambar bayangan seseorang yang tengah berdiri dilatarbelakangi suasana sunset (apa sunrise?) dipantai yang gelap dan muram membuat novel itu tampak usang, lampau. Namun mun, mun, setelah membaca sinopsisnya, saya langsung tersenyum dan berkata dalam hati, ‘Inilah yang saya cari dari tadi.’
Sayang, berbalut keraguan saya tidak segera mengambil novel itu. Ternyata diri ini malu sama ibu saya, Mba. Saya agaknya tidak mau dianggap senang dengan novel yang berbau cinta macam perjodohan dan pernikahan. Kelihatannya begitu klise, meskipun nyatanya dalam hati saya sangat suka dengan genre novel seperti ini.
Menjauhi rak novel, saya malahan mendekati ibu saya dan menemaninya lihat-lihat buku resep masakan. Terlupakanlah sejenak novel itu. Baru setelah ibu mengambil beberapa buku resep makanan dan saya menawarkan untuk mengantre dikasir, keinginan untuk membeli novel Love, Interrupted kembali. Dengan gerakan cepat, saat ibu menoleh kearah lain, saya langsung mengambil novel tersebut dan manaruhnya dibagian paling bawah tumpukan. Sembunyi-sembunyi kayak maling. Takut ketahuan.
Menuju kasir, saya deg-degan takut ibu mengikuti. Alhamdulillahnya engga hahaha, muluslah penyelundupan saya (eitsss tapi tetap pakai uang sendiri ya). Saat mba-mba kasir sampai pada tumpukan terakhir, saya melafalkan doa dalam hati, “Semoga novelnya berkah,”
Alhamdulillah. Ternyata benar adanya. Novel Mba Maya memberikan berkah kepada saya. Bukan hanya memmberikan penyampaian baru yang menarik tentang pernikahan, tapi novel ini juga mengajarkan kepada saya bagaimana seharusnya memandang hidup lebih positif. Bagaimana seharusnya kita survive dalam keadaan menyakitkan sekalipun. Rencana-rencana Aisha untuk mendapatkan hati seorang Alex yang sekeras baja pun sungguh menggugah hati saya. Cerdas sekali. Bahkan makin membuka wawasan baru kepada saya tentang bagaimana seharusnya bersikap pada orang-orang disekeliling suami. Karena pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua insan yang berbeda tapi juga keluarga dan penghidupan yang berbeda pula.
Ah. Novel ini kadang membuat senyum terpeta dibibir saya. Tapi tak jarang juga hati saya sesak (sampai meneteskan air mata!). Duhaiiiii, kok bisa tahan ya si Aisha? Bener kata salah stau temannya si Alex, perempuan seperti Aisha itu langka.
Alurnya pun menurut saya oke punya. Kebetulan-kebetulan menyebalkan yang biasanya sengaja dibentuk oleh seorang penulis, jarang saya temukan dinovel ini. Menurut saya, novel ini sangat realistis. Mba pintar sekalli merangkai momen-momennya. Seperti kehidupan nyata. Dengan alur yang tidak terkesan ingin cepat-cepat diselesaikan, bahkan menurut saya agak lamban dibab-bab awal ketika Aisha belum ‘bangkit’.
Duh, syukur Alhamdulillah, banyak sekali pemahaman baru yang tidak saya dapatkan dari novel-novel ber-genre sama dengan novel Mba ini. Menyenangkan sekali bisa langsung menamatkannya. Saya pun langsung berani mengatakan ke ibu kalau saya tadi sebenarnya diam-diam membeli novel. Bercerita sedikit tentang sinopsisnya sambil malu-malu kucing, sampai ibu nyengir berkata mau ikut baca juga novelnya.
Dan setelah menamatkannya, entah kenapa, yang terngiang-ngiang dalam pikiran saya adalah salah satu ayat di Al-Quran yang intinya adalah bahwa Allah tidak akan merubah suatu kaum, kecuali kaum itu mengubahnya sendiri.
Oke. Cukup sekian Mba curhatan saya yang bersifat sangat subjektif ini. Banyak terimakasih saya haturkan kepada Mba Maya karena sudah menulis novel Love Interrupted. Salam! Semoga karyanya semakin banyak memberikan manfaat.