Yang menulis di buku ini belum tentu saya, sebab Rahwana tak mati-mati. Gunung kembar Sondara-Sondari yang menghimpit Rahwana cuma mematikan tubuhnya semata. Jiwa Rahwana terus hidup. Hidupnya menjadi gelembung-gelembung. Siapa pun bisa dihinggapi gelembung itu tak terkecuali saya.
Yang menulis di buku ini adalah gelembung-gelembung itu, gelembung Rahwana padaku. Yang menyampaikan buku ini padamu adalah gelembung-gelembung Rahwana pada penerbit, percetakan, distributor, toko buku dan lain-lain tak terkecuali tukang ojek yang mengantarmu ke toko buku maupun perpustakaan.
Bila gelembung-gelembung Rahwana itu tak ada padamu, kau akan menolak pergi ke toko buku. Sekadar meminjam buku ini ke teman pun, kau tak akan berdaya bila gelembung-gelembung Rahwana tak menjangkitimu. Kau pun tak akan nge-twit dan sebagainya tentang buku ini. Bila gelembung-gelembung Rahwana tak menjangkitimu, tak ada alasan bagimu mengggunakan seluruh media sosial dan getok tular buat menjalarkan cinta via buku ini?
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Saya takjub dengan isi dari buku ini. Mbah Sujiwo Tejo berhasil membuat saya hanyut dalam cinta "AKU" yang merasa dirinya sebagai "Wayang Rahwana". Ya, wayang. Karena bukan "Aku" yang menggerakkan cinta.
"Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kamu rencanakan cintamu untuk siapa... Bahwa yang membekas dari lilin itu bukan lelehnya, melainkan wajahmu sebelum gelap..." - Aku (Rahwana)
"Aku ingin mencintaimu walau penuh cacat, Rahwana. Tak peduli cacat itu membawa keburukan atau malah menampilkan hal yang indah-indah..." - Sinta
Menurut saya, inti dari buku ini tersirat pada makna Sastrajendra Hanyuningrat Pangruwating Diyu. Bahwa kegelapan melindungi seluruh warna. Kegelapan: Salah. Warna: Benar.
Berarti tak ada salah dan benar? Benar dan salah sama saja?
"Benar dan salah tentu ada. Tegakkanlah segitiga. Pada alas ada dua sudut, sudut benar dan sudut salah. Sinta, mari tarik lagi alas segitiga itu ke atas. Makin ke atas, sudut benar dan sudut salah itu semakin dekat. Di puncaknya, kedua sudut itu melenyap. Itulah titik Tuhan." - Aku (Rahwana)
"Salahkah Rahwana? Salahkah Sukesi? Aku selalu kurang tertarik untuk memikirkannya. Lebih suka aku untuk mencoba memahami semuanya, seperti Rahwana memahami dunia apa adanya melalui Sastrajendra Hanyuningrat Pangruwating Diyu. Ya, aku lebih tertarik untuk mencoba memahami." - Aku (Rahwana)
Memahami seisi dunia apa adanya. Memahami cinta. Jadi nikmati saja prosesnya, seperti saat menikmati jalan cerita yang absurd dalam buku ini ehehe.
Ohya, bagian favorit saya dalam buku ini adalah puisi terjemahan yang disisipkan oleh Mbah Tejo dalam bab 'Mata Sapi'.
When The Fish Close Their Eyes - Yao Feng
you said your life is perfect except for the emptiness in your heart
finally, we enlarge this paradox to spirit and flesh, even to all mankind whenever we borrow our body to solve a problem of the heart we're the losers
the world gets dimmer as we talk we haven't found a substitute for that colourful afterglow fashion designed by sunset to cover every body
MANUSIA diciptakan berpasang-pasangan. Dalam prakteknya, kebanyakan kita percaya itu artinya yang cakep dengan yang cantik, yang tidak ganteng dengan yang tidak cantik. Takdir adalah setimpal, adil, dan cinta sejati begitu artinya. Maka dari cerita Romeo-Juliet di Italia sampai Rama-Sinta di India peran pasangan ideal bukan ditunjukkan dari samanya kasta, melainkan serasinya rupa.
Kita akan merasa ganjil, dan mungkin tidak terima, kalau tokoh utama lelaki-perempuan bukan tampan-cantik. Juga pada keduanya tak boleh hanya baik salah satu.
Seperti itu juga kita melihat sampul buku Rahvayana: Aku Lala Padamu dari dalang Sujiwo Tejo yang terbit tahun ini. Dengan warna dominan kuning yang lembut desainernya, Fahmi Ilmansyah dan labusiam, meringkas tema besar buku itu dalam suatu adegan di mana satu sosok besar, yang kita kenal dengan Rahwana, tengah minum kopi, bersulang, dengan perempuan yang tidak lain kita bayangkan sebagai Sinta. Tidak boleh dilewatkan: tangan kiri mereka berdua saling menggenggam mesra.
Itulah yang terjadi: cerita tentang cinta raksasa yang punya sepuluh muka kepada manusia yang seperti bidadari. Sumber ide besarnya adalah cerita Ramayana: Rahwana, yang bertapa 50 ribu tahun untuk mati tapi malah dilarang mati oleh dewa-dewa, menanti cinta Dewi Sinta, pasangan yang dijanjikan untuknya, titisan Dewi Widowati. Sebelum menitis pada Sinta, Dewi Widowati menitis ke Dewi Sukasalya (yang disembunyikan Raden Dasarata) dan ke Dewi Citrawati (yang dilindungi Prabu Arjuna Sasrabahu). Penggemar Rahwana bisa lega: dalam Rahvayana cinta dan rindu Rahwana tak terhalang kisah heroik pangeran-pangeran tampan seperti Raden Dasarata, Prabu Arjuna, atau Raden Rama. Tak ada laki-laki lain selain Rahwana.
Dengan memakai sudut pandang “Aku”, Rahvayana (yang berarti “perjalanan Rahwana”) adalah kumpulan surat-surat Rahwana yang mesra kepada Sinta. Surat-surat itu, seperti diceritakan “Aku” sendiri, kadang dikirim dalam bentuk kapal-kapalan yang dihanyutkan di sungai. Atau dalam bentuk pesawat-pesawatan yang diterbangkan dari bocah ke bocah dari dusun ke dusun untuk sampai pada Sinta.
Memang dari awal, Sujiwo Tejo tidak mengatakan dengan terang benderang bahwa “Aku” dalam buku ini adalah Rahwana. Kita hanya mengetahui dari beberapa kalimat yang mengarahkan tokoh “Aku” pada sosok Rahwana, misalnya bagaimana Supiah mempermainkan tangan “Aku” seolah memainkan wayang Rahwana di bab Berlin, atau bagian surat saat “Aku” mengatakan “yang mana aku, yang mana Rahwana, sudah tak dapat kupilah-pilah lagi” di bab Lumba-lumba. “Aku” memposisikan diri sebagai Rahwana dalam Ramayana, dan di kesempatan lain sebagai Rahwana dalam Rahvayana. Barangkali Sujiwo Tejo tak terlalu tertarik memastikannya. Atau ia membebaskan pembaca dan yakin bayangan pembaca Rahvayana akan langsung pada sosok Rahwana yang kurang lebih sama: punya cinta pada seorang perempuan bernama Sinta.
Sujiwo Tejo juga membebaskan tokohnya. Sinta digambarkan bebas pergi ke mana pun, untuk bekerja apa pun. Dengan begitu, rayu-rayuan Rahwana pada Sinta tidak lagi terbatas pada satu tempat yang bernama Taman Argasoka. Dalam cerita Tejo, Sinta adalah perempuan yang suka membaca. Kecintaannya terhadap buku membuat Sinta sibuk keliling dunia untuk “mengumpulkan naskah-naskah cinta dari seluruh dunia sejak di alam semesta terdapat tangis manusia”. Naskah-naskah itu termasuk “Tristan dan Isolde” (yang memutus takdir pernikahan tua-muda untuk menjadikan pernikahan muda-muda), “Laila Majnun”, “Romeo dan Juliet”, “Scarlett O’Hara”, dan sebagainya.
Untuk tujuan itu, ruang dan waktu dibebaskan bagi Sinta: ia bisa hidup di zaman Cleopatra (hal. 76), atau hidup di zaman pasukan Tartar menyerang Babilonia (hal. 83), atau bisa ada di Kallang Theatre menyaksikan pementasan Les Miserables (hal. 91). Juga pada Rahwana: tokoh “Aku” mengaku hidup sezaman dengan Audrey Hepburn (hal. 77) dan sempat menghadiri upacara peresmian Burj Dubai, gedung berlantai 169 yang terkenal itu (hal. 23). Dalam Rahvayana, tokoh wayang telah dibawa seorang dalang, yaitu pengarangnya, untuk hidup di dunia modern (seperti testimoni Najwa Shihab di sampul belakang buku). Waktu tak penting bagi “Aku” Rahwana dan Sinta, barangkali karena dunia wayang telah terbiasa dengan umur yang beribu-ribu.
Buku Rahvayana, surat-surat kangen Rahwana kepada Sinta, menyelipkan cerita lakon di mana-mana. Suatu kali Rahwana menuliskan lakon Renuka dan Indradi dalam bab Dawet Ayu, kali lain lakon Lubdaka dari suku Nisada dalam Mata Sapi, juga lakon Danaraja yang bermata biru dalam Lokapala. Pengarangnya juga menyebut-menyebut Mandodari dalam Mandodari—saya tak tahu apakah Rahwana tergetar menyebut nama istrinya sendiri dalam surat kepada perempuan lain, meski agaknya tidak, karena Sujiwo Tejo menempatkan Rahwana dalam Ramayana dan Rahwana dalam Rahvayana sebagai sosok yang berbeda wujud.
Selain lakon-lakon itu memperkaya wawasan, saya kira terlalu banyak nama-nama—manusia, tempat, lagu, dll.—yang menyulitkan penyimpanan memori sehingga buku Rahvayana punya potensi bikin jenuh. Apalagi yang tidak terbiasa dengan cerita wayang yang memiliki banyak sekali tokoh berikut sifat dan senjata andalannya. Temponya lompat-lompat, dan pembaca seakan hanya dipameri pengetahuan penulisnya yang luas. Mungkin perlu saya sebutkan bab yang jelas dan ringan dipahami, misalnya paragraf Layang-Layang yang bagi saya cukup manis dan bab Soliloquy—yang artinya “percakapan dalam diri”—yang memunculkan ungkapan Trijata tentang Rama (yang membuat, lagi-lagi, muncul pertanyaan, apakah soliloquy itu milik Rahwana tokoh Rahvayana atau Rahwana tokoh Ramayana?).
Seperti dalam setiap buku-bukunya terdahulu, Sujiwo Tejo tetap pada karakternya untuk yakin tak ada yang selamanya tunggal benar dan baik dalam hidup. Pada bab Mandodari ia mengatakan kerelahatian Mandodari mengenai datangnya Sinta di Alengka sama artinya dengan kerelahatian Mandodari untuk kematian Rahwana. Makna-makna itu bukan hanya bisa dipahami secara filsafat, melainkan secara ilmu pasti, sebagaimana kita mengerti bahwa oksigen menghidupkan manusia sekaligus menuakan sel-sel manusia sehingga mematikan manusia. Dua sifat berlawanan selalu menetap dalam satu takdir yang diputuskan Tuhan.
Makna-makna yang ditampilkan Sujiwo Tejo, juga tentang Rahwana, adalah bagian dari spirit zaman yang semakin memandang bahwa tidak ada yang total benar dan total salah di dunia itu. Rahwana bukan lagi dipandang tunggal sebagai raksasa jahat yang mesti dilawan oleh raja baik dalam sosok Rama. Rahwana, seperti kata pengagum-pengagumnya, memiliki cinta yang dahsyat, tulus, tapi tak pernah memaksa: ia tak pernah menyentuh Sinta, meskipun hal itu sebenarnya mudah saja, sebelum Sinta sendiri yang mengatakan bersedia disentuh.
Sudut pandang tafsir ini memang bukan hal baru, terutama kalau kita pernah membaca Rahwana Putih yang ditulis Sri Teddy Rusdy (terbit pertama 2013) atau beberapa yang terbit lebih lama seperti Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto (2007) dan Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma (2004)—ketiga buku itu sendiri ada dalam daftar Pustaka Rahvayana, selain juga buku-buku lain yang punya nafas serupa.
Tafsir Rahwana dalam spirit zaman yang sama juga muncul dalam dunia penyair sajak. Sajak Triyanto Tiwikromo yang berjudul Kutukan Rahwana (2008) menyebut Rahwana sebagai “raja harum, resi wangi, … kekasih sejati” dan puisi Pembakaran Sinta (2009) menyebut Rahwana sebagai “raksasa santun”; sementara di sisi lain, Rama disebut sebagai “ksatria pengecut” yang kejayaan dan kebijaksanaannya diprotes oleh Sinta. Pada tahun 1985, dalam kumpulan puisi Keroncong Motinggo, Subagio Sastrowardoyo telah menulis Asmaradana (yang kira-kira berarti “api percintaan” ) dalam suara Sinta, atau Sita, yang erotis “di tengah nyala api”: Raksasa yang melarikannya ke hutan/ begitu lebat bulu jantannya/ dan Sita menyerahkan diri. Dalam pembakaran diri itu, yang dalam cerita diminta oleh Rama sebagai bukti kesucian, Sinta berada di pihak Rahwana: “Sita tak merasa berlaku dosa/ sekedar menurutkan naluri”. Yang erotis ini muncul juga pada bab Swan, saat Rahwana (atau tokoh “Aku” yang kita asosiakan Rahwana) dan Sinta mengobrol sambil sama-sama telanjang di Dubai—erotisme yang membuat novel ini mesti diberi label “D”, dari kata “dewasa”.
Meski begitu, kiranya perlu disebut mengapa spirit tafsir Rahwana “putih” yang dibawa Sujiwo Tejo memiliki kekuatan tersendiri, semacam momentum, untuk disebarkan pada khalayak. Sebabnya, Sujiwo Tejo tidak seperti Agus Sunyoto, Sri Teddy Rusdy, atau Triyanto Tiwikromo yang kurang populer di media dan anak muda. Seno Gumira Ajidarma amat terkenal sebagai cerpenis, tapi jarang muncul di televisi dan Twitter. Sujiwo Tejo berbeda: ia mengasuh kolom Wayang Durangpo di Jawa Pos, selalu aktif di Twitter dengan pengikut yang ratusan ribu, pernah dipanggil untuk mengisi TED Talks Indonesia yang rekamannya terpajang di Youtube, juga kerap diundang dalam acara-acara televisi terkenal bersama tokoh-tokoh penting di Indonesia.
Yang saya ingin katakan, Sujiwo Tejo mempopulerkan wayang beserta makna-makna dan tafsir yang berbeda dari tafsir umum dalam beragam media dan dengan cara yang digemari khalayak dan anak muda. Ia meneror kita dengan kedalaman makna suatu peristiwa, memaksa keluar apa yang liar dari otak kita yang terbelenggu pakem-pakem tertentu, setiap hari.
Rahwana lahir untuk melindungi seluruh warna di dunia.
Ketika Rahwana bertemu dengan Dewi Widowati pertama kali diantara dunia fana dan kahyangan. Disitulah Rahwana jatuh cinta pada padangan pertama.
Karena ketidaksabarannya dalam menunggu sang dewi berganti hiasan. Rahwana pun melanggar aturan untuk melihat Dewi Widowati. Disinilah kutukkan sang dewi turun.
Dimulailah perjuangan Rahwana untuk meraih cinta Dewi Widowati yang menitis menjadi Dewi Sri kemudian menjadi Sinta.
Pertapaannya selama 50ribu tahun yang seharusnya menjemputnya kepada kematian tetapi malah membuatnya abadi.
Batara Guru mengabulkan permintaan Rahwana. Karena dunia membutuhkan Rahwana dan Rahwana membutuhkan dunia.
Pengejaran cinta Rahwana untuk bertemu dengan Sinta melintasi dimensi dongeng, waktu dan zaman.
Kelak apakah Rahwana mendapatkan cinta Sinta?
Tidak ada yang tahulah ya.. selama 12 tahun Sinta di penjara di taman Alengka milik Rahwana. Apakah Sinta pernah memikirkan sedikit tentang Rahwana?
Aku aja meragu...
Karena selama ini, kita membaca buku yang hanya menunjukkan kepahlawanan Rama. Tidak untuk Rahwana.
Di buku ini tuh lebih banyak diceritakan tentang Rahwana. Sisi lain dari Rahwana. Selembar surat yang ditinggalkan di setiap zaman dan pemerintahan era kejayaan peradaban pemimpin-pemimpin di seluruh dunia.
Banyak pelajaran yang bisa di petik, banyaknya referensi yang diberikan dan mengingatkanku untuk membuka kembali ingatan tentang pewayangan. Yang 20 tahun lalu pernah aku baca dan aku pernah tenggelam karena kehebatan tokoh-tokohnya.
Aku memperkaya diriku sendiri dengan buku ini.
Terima kasih untuk penulisnya. 😊🙏 Terima kasih Uum sudah meminjamkannya. 🙏
Aku suka banget sama buku ini 😍😍😍
Wayang, kejayaan masa lalu yang sudah hampir terlupakan oleh generasi muda.
Buku yg membingungkan. Mungkin karena ndag punya wawasan dan ketertarikan dengan ilmu perwayangan jadinya agak bingung.Atau memang Sujiwo Tejo itu pribadi yg membingungkan? Entahlah..
Aku baca review entah di mana, dan review itu mengatakan bahwa buku ini merupakan kumpulan surat Rahwana untuk Sinta. Did I get it right?
Dan buku ini memang benar kumpulan surat, tapi bukan dari tokoh wayang yang itu. Isi buku ini gila; batas antara kenyataan dan khayalan bertabrakan tanpa penjelasan logis. Rahwana, si penulis surat itu, seolah tidak lagi bisa membedakan mana nyata dan mana maya. Imajinasinya liar dan, sekali lagi, gila.
It was amazing.
Bagi beberapa orang yang mendengarku bercerita tentang buku ini, rata-rata respon mereka adalah, "Ngayal?"
Ya, dia berkhayal, tapi bukan cuma berkhayal.
You see, nggak waras kemungkinan adalah reaksi kebanyakan orang saat membaca buku ini. Buku ini GILA! Di satu surat ia membahas tokoh/tempat terkenal seolah benar-benar ada di sana, seolah benar-benar bertemu dengannya. Descartes dalam buku ini adalah seorang pedagang sayur keliling! Itu gila! Tidak pernah ada setting waktu yang jelas dalam buku ini kecuali apakah itu siang, sore, malam, atau pagi. Itu gila! Dan bagaimana mungkin seseorang dapat berlari-lari telanjang di Dubai tanpa ada seorang pun yang memerhatikan? Itu gila!
Delusional. Satu kata itu mungkin cukup untuk menggambarkan keseluruhan isi buku ini. Buku ini hebat, tapi aku sulit menjelaskan mengapa; mengapa secara rincinya. Bagaimana mungkin sebuah buku atau kumpulan surat seberantakan ini (dalam hal logika) bisa menjadi sebuah buku yang bagus bahkan lebih? Aku tidak tahu. Mungkin ini semacam sandi yang hanya bisa dimengerti oleh orang gila, karena penulisnya pun pasti gila!
Hmmm.... Sinta... Sinta. Siapapun perempuan yg membaca buku ini ku pastikan ia akan iri dengan Sinta. Ku pastikan Rahwana tak lagi dianggap sebagai pemeran antagonis dalam cerita Ramayana. Dan ku pastikan, semua perempuan ingin memiliki kekasih seperti Rahwana.
Buku ini sebenarnya dwilogi, masih ada lanjutannya. Istilah perfilmannya mungkin disebut sequel kali yah. Saya ingin sempurnakan cerita ini, makanya saya baca ulang, agak-agak lupa soalnya.
Ini buku si Mbah, Mbah Sujiwo Tedjo. Dia budayawan, bisa lukis, nyanyi, main musik, nge-dalang, pokoknya, kalau menurut saya sih, dia multi talenta.
Kalau dilihat dari gambar disampul bukunya, bisa ditebak, ini tentang pewayangan. Dan memang, isinya kental dengan dunia dalang-mendalang ala jawa. Dunia Dewa, Dunia Siluman dan Dunia Manusia. Kok Kayak film-film indos*ar sih? Hahaha.
Lebih spesifik, buku ini banyak bercerita tentang kisah Ramayana. Ada Batara guru, Rahwana, Sinta, Resi Wisrawa, Sibali, Dewi Sukesi, Dewi Widowati, Renuka, Indradi dan banyak lagi tokoh dari kisah yang baru saya tahu kalau ternyata cerita Ramayana banyak versinya.
Si Mbah menyelipkan bermacam pengetahuan dibukunya ini. Tak hanya yang kejawa-jawaan, tetapi banyak yang lainnya. Ada yang tau "hoax"? Kata itu ternyata mantra sulap abad ke-18 yang artinya "menipu" atau bisa juga "tipuan"(hal.160). Ada yang tau "Hum pim pah alaiyun gambreng"? Pasti tahu kan? Waktu kecil saya pakai main-main bersama teman. Ternyata itu artinya "dari tuhan kembali ke Tuhan"(hal.37).
Ada juga nih baru saya tahu, ternyata lumba-lumba suka bersenggama dengan benda-benda mati seperti kayu, bahkan dengan kura-kura. Hahaha. Tapi lumba-lumba masih saling kenal setelah 20 tahun bersenggama (hal.68).
Namun, Sejatinya buku ini adalah kumpulan surat-surat cinta Rahwana kepada Sinta. Rahwana jatuh cinta kepada Sinta dan mengirim banyak surat untuknya. Kisah cinta Rahwana kepada Sinta adalah kisah yang belum berakhir. Kisah cinta yang bukan hanya tentang lelaki yang ingin merebutnya dari Rahwana. Tapi "Sinta adalah hikayat cintaku tentang teratai" (hal 199). Romantis, indah, dan penuh cinta.
Pertama ini adalah surat dari Rahwana buat Sinta, atau lebih tepat dari yang merasa seperti Rahwana kepada yang terlihat seperti Sinta.
Kedua, penjabaran ttg hidup si Rahwana itu sendiri, juga ttg Sinta dan kehidupan pewayangan antara mereka lumayan komplit. Lengkap dengan bumbu ala Om Tejo yang agak nyeleneh. Kalo jarang liat twitnya si penulis mungkin bakal nganggap ini karya orang gila yang pengen banget bukunya dibaca. Haha
Ketiga, jangan permasalahin setting waktu dalam membaca buku ini, karena gak penting. Lebih penting coba pahamin aja isi bukunya.
Keempat, campur aduknya tokoh pewayangan dengan filsuf, artis internasional, org2 penting dunia, dsb, semoga tidak mengganggu kamu saat nanti membaca, karena saya sih gak terganggu, malah lucu rasanya.
Sebenernya ada satu yang mengganggu yaitu tidak diceritakan mendalam kisah ttg Rama, padahal di lirik lagunya banyak bawa2 nama Rama. Mungkin karena si Rahwana gak terlalu suka sama Rama.
Tapi pas endingnya saya suka. Memberikan spekulasi bagaimana seri buku ini bila dilanjutkan. :D
Ah... The sweet, refreshing zest upon the height my journey... Yet another masterpiece from the Dalang, this time his insane idea brought us into another perspective that we might not hava a single glance on it. How if we see the Epic Ramayana from the point of view of Rahvana, the main antagonist ?. If you expect it to be a cruel, dark, and full of blood spilling action, you are wrong. With this book, you'll find another side of Rahvana that is so profound in the journey to meet his unrequited love. But, the most amazing part of this book is, through the eye of Rahvana, we are brought to a great story of a journey into the deepest part of ourselves, while the depicted places and landmarks that mentioned inside it, is actually a depiction of different parts of ourselves. Clearly put my head into a big-bang state of explosion.
Buku yang menarik khas dalang edan namun agak membingungkan karena penuturannya yang berloncatan lintas jaman.... Inti dari buku ini adalah tentang kesetiaan akan cinta dan kesabaran yang tiada tara seorang Rahwana. Rahwana yang dianggap sosok antagonis ternyata mempunyai sisi positif yaitu setia, sabar dan pantang menyerah.
Buku yang menghangatkan hati. Selesai dalam 24 jam.
Kepalamu tidak bebas memilih siapa yang kau cintai. Mata hanya sebatas melihat keindahan indrawi. Hati yang menuntun kepada siapa kau melabuhkan cinta, meski kadang sulit diterima logika.
Berhubung abis baca Anak Bajang Menggiring Angin dan masih fresh di ingatan, saya putuskan sekalian aja baca Rahvayana.
Seperti yang digembar-gemborkan oleh Sujiwo Tedjo, bahwa buku yang ditulisnya ini POVnya lebih menarik. Bukan seperti kisah yang standar, yaitu Rama yang menyelamatkan Sinta dari Rahwana yang jahat. Melainkan dari sudut pandang Rahwana, si jelek yang mencintai Sinta setengah mati.
Yang saya surprise dari bab awal, ternyata buku ini berupa kumpulan surat-surat yang ditulis oleh ‘Aku’ yang merasa dirinya Rahwana, seluruh surat-suratnya ditujukan pada ‘Sinta’, perempuan yang cintanya hanya untuk pria lain a.k.a ‘Rama’.
Overall konsepnya menarik. Saya serasa sedang iseng masuk ke kamarnya Sinta, menemukan tumpukan surat dari Rahwana dan usil membacanya diam-diam.
Kenapa merasa begitu? Karena saat membaca surat-suratnya sepertinya memang bukan ditujukan pada pembaca perempuan seperti saya. Karena saya nggak pernah punya fans yang segitunya wkwk. Isinya mungkin bisa mak nyess untuk pembaca yang ‘Sinta banget’.
Asiknya nulis surat sering kali membuat kita sengaja ngelantur kemana-mana, tujuannya ya biar panjang dan berlembar-lembar aja, supaya yang terima suratnya puas. Yang pernah hidup di jaman surat menyurat pasti paham maksud saya.
Begitu juga dengan ‘Rahwana’. isi suratnya tentu aja seenak udel. Suka-suka aja apa yang lagi pengen diceritakan. Jadi jangan heran kalau obrolannya ngalor-ngidul dari hal yang receh sampai pemikiran yang dalem banget. Yang sok sok filosofis gitu.
Namun surat-surat yang dikirimkan tidak pernah dibalas Sinta, hanya satu surat balasan yang dikirim ke Rahwana, itu pun bukan menanggapi surat dari Rahwana, tapi cuma ngasih tahu alamat barunya, karena Sinta abis pindah rumah.
Yaelah. Kasian amat.
Jadi plis deh, siapapun ‘Aku’ yang ngaku-ngaku Rahwana, sudahi nulis surat menye-menye kaga jelas gini. Jelas-jelas ‘Sinta’ ga peduli.
Awalnya saya pikir buku ini merupakan propaganda yang bertujuan untuk mencuci otak pembaca dengan menggambarkan Rahwana sebagai sosok yang protagonis, sisi baik seorang Rahwana yang tak pernah diceritakan di panggung Ramayana. Ternyata saya tidak sepenuhnya salah. Buku ini berhasil mengobrak-abrik kesan saya terhadap kisah Ramayana. Memang, versi yang saya baca sebelumnya menggambarkan karakter Ramayana secara hitam dan putih, baik dan buruk, tidak benar-benar mendekati kenyataan bahwa sejatinya manusia ada yang diantara kedua warna tersebut, bahkan dalam wujud berbagai warna.
Lagi-lagi saya terselamatkan karena membaca pengantar yang ditulis oleh penulis. Sujiwo Tejo melalui tulisannya mengatakan "Jiwa Rahwana terus hidup. Hidupnya menjadi gelembung-gelembung alias jisim. Siapa pun bisa dihinggapi gelembung itu, tak terkecuali saya. Yang menulis buku ini barangkali gelembung-gelembung itu, jisim Rahwana kepadaku."
Tidak saya pungkiri, awal membaca buku ini saya dibikin bingung karena diajak loncat kesana kemari. Sebentar-sebentar menceritakan kisah Ramayana, sesaat kemudian dibawa ke jaman modern dimana "aku" dan sosok perempuan yang dicintainya itu, Sinta, ke gedung teater, ke Borobudur, ke Ubud, ke mana sajalah terserah si penulis. Pantas saja banyak orang dibikin pusing kalau tidak benar-benar membacanya.
Untungnya, sebelum baca buku ini, saya sedikit banyak sudah paham jalan cerita Ramayana (versi Rahwana yang sangat jahat sekali). Sehingga, saya tidak terlalu bingung memahami. Kuncinya satu, membebaskan diri untuk memaknai tokoh "aku" sebagai karakter yang bermacam-macam rupa, bisa jadi siapa pun dan dalam bentuk apa pun, tidak perlu memaksakan diri untuk mencari moral value yang ingin disampaikan penulis. Hal ini telah disampaikan oleh salah satu teman saya yang telah membaca ini sebelumnya. Terima kasih ya kepadamu. Heuheuheu.
Rahvayana: Aku Lala Padamu adalah novel pertama dalam dwilogi Rahvayana yang ditulis oleh Sujiwo Tejo. Novel ini terdiri dari dua media bercerita: narasi dalam novel yang berisi surat-surat Rahwana kepada Sinta dan album lagu yang terdiri atas 14 judul lagu yang bercerita tentang awal kisah pembuangan Rama-Sinta ke hutan sampai peristiwa penyerbuan Rama ke kerajaan Rahwana.
Untuk pembaca yang sama sekali belum mengetahui alur cerita utama Ramayana, album lagu yang tersedia agaknya bisa sedikit memberi pencerahan. Karena walau sesekali menceritakan kisah Ramayana secara umum, kemunculannya dalam narasi terlalu acak dan urutan ceritanya terlalu berlompat-lompat. Sebagai gambaran, versi umum kisah Ramayana menurut saya bisa ditemukan dalam karya yang ditulis oleh P. Lal, Rajagopalachari, R.A. Kosasih atau Sindhunata.
Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang sudah pernah membaca Ramayana versi mainstream karya pengarang yang saya sebutkan di atas.
Satu hal yang menarik dalam novel ini adalah penulis coba menampilkan sosok Rahwayana dengan sisi puitisnya. Dalam versi ini, yang menabrak pakem ruang dan waktu umum dalam kisah Ramayana, Rahwana menjumpai Sinta lewat surat-surat yang ia tuliskan dalam keadaan dimabuk cinta.
Dan, adakah waktu lain yang tepat untuk menamatkan membaca novel tentang kisah cinta segitiga yang tragis antara Rama-Sinta-Rahwana ini, selain di hari kasih sayang?
Gila. Saya sampai speechless setelah membaca buku ini apalagi ketika menemukan Pak Plato si tukang sayur keliling.
Meskipun awalnya saya bingung karena Mbah Sujiwo Tejo mengaburkan batas antara khayalan dan kenyataan, tetapi pada akhirnya saya ikut hanyut juga seperti bahtera surat cinta yang ditujukan untuk Sinta.
"Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kamu rencanakan cintamu untuk siapa." - Rahwana.
"Karena, Sinta, Rahwana tak selalu menang. Rahwana itu persis suaramu ketika menyebut 'Rahwana' di Borobudur itu. Suaramu lantang, tapi dengan kerapuhan di sana sini." - Rahwana.
Tidak ada cinta yang sempurna, tetapi cinta membuat semuanya terasa sempurna. Pas. Cukup. Tidak ada yang kurang.
Inti dari buku ini saya pikir ada pada makna Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating diyu. Benar dan salah itu ada, tetapi tak ada yang selamanya benar dan tak ada yang selamanya salah. Namun, buku ini sebagaimana buku-buku Sujiwo Tejo lainnya menyimpan banyak pesan yang masih belum saya sadari.
"Benar dan salah tentu ada. Tegakkanlah segitiga. Pada alas ada dua sudut, sudut benar dan sudut salah. Sinta, mari tarik lagi alas segitiga itu ke atas. Makin ke atas, sudut benar dan sudut salah itu semakin dekat. Di puncaknya, kedua sudut itu melenyap. Itulah titik Tuhan." - Rahwana.
Ada sangat banyak buku bercerita tentang betapa Rama mengasihi Sinta. Buku ini, unik dan anehnya, mengangkat cerita bagaimana Rahwana, jiwa dan raga, mencintai Sinta.
Saya sudah suka Ramayana sejak dini, karena menonton Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Rama adalah nama tokoh protagonis utama dalam cerita ini, sementara Yana artinya perjalanan atau pengembaraan, menceritakan bagaimana Rama melakukan perjalanan untuk membebaskan Sinta, istrinya, yang diculik Rahwana.
Akan tetapi, perlakuan Rahwana terhadap Sinta tidak seperti selayaknya pencuri dan sanderanya. Ia memperlakukan Sinta dengan hormat dan mencurahkan perhatian serta kemewahan pada Sinta, berbanding terbalik dengan keberadaan Rama dalam pengembaraannya bersama adiknya, Laksamana. Hal itu dilatarbelakangi oleh rasa memuja Rahwana kepada Sang Dewi.
Dalam buku ini, tokoh utama protagonis, Sinta, digambarkan tidak melulu agung dan tanpa cela. Ada kalanya dia berpikiran 'kotor' - seperti pada Laksamana - atau bertindak bodoh. Anehnya, Rahwana, diceritakan mempunyai hati yang lembut di balik niat piciknya.
Sebagai first-timer dalam membaca buku Tedjo, saya mengalami kesulitan memahami tuturnya. Namun, setelah beberapa bab, mungkin saya, selayaknya kamu, juga akan terbiasa.
Beberapa media yang menjadi langganan saya untuk menengok ada apa dengan dunia akhir-akhir ini, tak jarang memunculkan Sujiwo Tejo. Beberapa kali sempat sliweran juga di beranda media-media sosial saya. Hingga bertemu beberapa dengan potongan-potongan kalimat yang menarik, yang dari Tejo ini. Dan sempat mencari tahu buku apa saja yang ditulisnya, kemudian saya memilih Rahvayana ini. Berbekal bacaan Ramayana untuk melibas Rahvayana barangkali akan lebih memudahkan untuk memahami alur cerita yang dibuat Tejo. Namun, tanpa bekal tersebut, saya dibuatnya untuk menaruh Ramayana pada daftar tunggu bacaan. Berulangkali, sang tokoh utama dalam buku ini yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang serba tahu (jika saya tidak salah) dalam penceritaannya, menyuguhkan cara mencintai yang ... hmmm, bukan yang agung. Mungkin yang ... yang elegan barangkali, atau yang teguh, yang murni, atau bagaimana saya mendapatkan satu atau dua kata yang dapat mewakili cintanya itu kepada seorang perempuan yang diumpamakannya sebagai Sinta? Hmmm. Bagi saya buku ini mencerminkan seorang Sujiwo Tejo dalam mata saya, yang selalu mengajak melihat sesuatu dan ingin menunjukkan ada yang berbeda. 3,45/5 Tidak begitu menarik saya, namun membuat saya menikmati seluruh cerita.
Aku cinta dengan bahasa sastra yang mungkin bagi sebagian orang sulit dipahami, melalui buku ini aku sangat menikmati bahasa-bahasa indah itu walaupun dibeberapa bagian ada yang terlalu frontal. Tapi apalah kata, bila yang terpenting adalah makna. Sejauh membaca, aku nyaman dengan diksi-diksinya dan masih bisa mentolerir beberapa diksi yang liar.
Diawali dengan rekomendasi dari seorang teman. Sebelumnya pun sudah sering melihat buku ini berseliweran di mana-mana terjejer di review oleh rekan-rekan pecinta buku. Namun, kala itu aku meremehkan, "Ah, palingan kaya cerita sejarah biasa." Karena memang betul, dahulu ketika zaman SMP sudah pernah membahas cerita ini.
Namun, ternyata oh ternyata. Sebentar kubaca langsung jatuh cinta dengan sosok Rahwana yang ada di buku ini sebagai tokoh utama. Hilanglah sudah bersepsi buruk tentang dirinya yang selama ini tergambar jelas di benak orang-orang. Ternyata tidak sejahat itu lho. Dan ini bacaan yang sangat baik untuk memulai menilik kisah-kisah sejarah itu kembali.
Saya tipe orang yang ketika baca buku lebih sering menarik garis besarnya dari tiap-tiap bagian. Seperti menarik benang merah. Tapi jujur aja saya tidak bisa melakukan itu ketika membaca buku ini. Akhirnya saya mencoba menikmati tiap bagian buku ini sendiri-sendiri barulah saya bisa mencerna atau belajar sesuatu. Banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapat dari buku ini termasuk arti dari hompimpa alaihum gambreng. Sekian tahun hidup saya baru tahu sedalam itu artinya. Namun saya kurang bisa mengerti jalan cerita Rahwana dan Sinta. Maklum saya sangat awam dengan cerita Ramayana. Seandainya saya punya background knowledge yang memadai mungkin saya bisa lebih menikmati buku ini. Satu lagi, saya gak nyangka buku ini memiliki banyak lagu. Kaget juga pas tahu. Mantap Mbah. Lanjutkan... 😊
Rahvayana: Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo. Wahhh aku suka sekali gaya penulisan Sujiwo Tejo, sungguh baru untukku. Bagi aku yang sangat suka cerita sejarah dengan berlatar kerajaan memang ini tulisan yang lucu dan unik, karena ternyata cerita digiring dengan latar belakang moderen. Bagiku cerita dari sudut pandang Rahwana ini sangat menarik. Rahwana yang kita kenal dalam literatur sejarah sangat berbeda dengan kesan di dalam buku ini. Dan saya sangat suka.
"Tuhan, jika cintaku kepada Shinta terlarang, kenapa Kau bangun begitu megah rasa itu di hatiku?"
Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam menceritakan tentang kisah Mahabarata sehingga perlu pemahaman yang lebih untuk mendalami apakah yang sedang dibaca tentang cerita si orang pertama atau cerita Mahabarata. Karena si tokoh yang menceritakan kisah Mahabarata ini juga memiliki ceritanya sendiri. Kalau goyang konsentrasinya, mesti mengulang untuk memahami kembali. Lepas dari cara penulisan Sujiwo Tejo yang unik ini, novel ini memberikan perspektif baru akan cerita tentang Rama, Shinta, dan Rahwana. Cerita yang diusung tetap otentik sesuai dengan cerita Mahabarata yang ada namun hanya sudut pandangnya yang berbeda.
plotnya terlalu lambat. kebanyakan monolog membuat saya enggan menyelesaikan buku ini cepat-cepat. di sisi lain, humor khas Mbah Tejo yang diselipkan menambah aroma lain sehingga menutupi jalan cerita yang terasa membosankan. namun buku ini banyak mengajarkan nilai-nilai moral kehidupan walau kadang disematkan dalam bentuk guyonan. dari buku ini pula dapat menambah wawasan pembaca mengenai wayang Rawayana, adat, dan budaya Jawa.
adanya konten-konten yang eksplisit tidak dianjurkan pembaca di bawah 18 tahun. nanti kenapa2 loh, heuheuheu.
Aku jadi teringat dongeng yang selalu dihaturkan orangtuaku--terutama cerita-cerita tentang sejarah kerajaan jawa, arjuna, bima, yudistira, nakula&sadewa. Pun dengan kisah cinta antara rama-sinta-rahwana-hanoman. Buku ini mengajak pembaca kembali bertamasya seperti kata Najwa Shihab antara masa kini dan masa lalu. Seperti di mana ada nama2 Plato, Descartes, Aristoteles yang dipadukan dengan tempat Alengka, Manthili, dlsb.
This book is not a Wayang Story, this book only contain all the leters that Rahwana write to Shinta, it is not Rahwana and Shinta in Ramayana, but Rahwana in the writer or reader soul in modern world with writer perspective.
It is a good book? As always Sudjiwo Tedjo choise of word is very interesting and before you know it, you can't stop reading it. But for someone who doesn't know about Mahabharata, this book would be hard to understand, but you'll get it eventually.
Sempat bingung, ini gimana ceritanya, di 2 bab awal, tapi nanti lama2 mesti bisa ngikutin lah, btw, ini novel indonesia pertama yg saya baca
Untuk harganya sih ya, nggak sepadan sama pengalaman yang bakal ditemui di buku ini,epik, apalagi ada se album lagu dibelakangnya, yang berkualitas tentunya ala mbah jiwo tejo.. (murah)
First word after finishing this book: ba******
This entire review has been hidden because of spoilers.
awal baca agak sulit dipahami, mungkin karena ini kali pertama saya baca karya sujiwo tejo, namun setelah membaca beberapa bab saya larut kan ceritanya. jika makna dari setiap karya oleh pembaca punya nilai yang berbeda2, menurut saya buku ini dari pada mengisahkan cinta, lebih cocok jika dikatakan buku yang mengajarkan filsafat dan sufism
Awalnya saya cukup kesulitan memahaminya, mungkin karena wawasan yang kurang karena banyak istilah dan nama yang bagi saya kurang familiar. Cuma yang membuat saya terkesan dari buku ini adalah gaya penulisan Mbah Sujiwo yang suka nyleneh dan terkadang saru hehe. Menariknya lagi, Mbah Sujiwo Tejo juga sukses mengangkat sisi ketulusan cinta Rahwana sampai membuat saya berkata dalam hati "ohh sisi lain Rahwana ternyata seperti ini to", karena sebelum membaca buku ini gambaran Rahwana dalam pikiran saya adalah sosok yang antagonis. Ya secara keseluruhan buku ini menarik untuk dibaca.
Bercerita dari perspektif Rahwana, yang biasa dikenal sebagai tokoh antagonis dalam wayang Rama dan Sinta. From Rahwana, who's madly in love with Sinta, we learn what it's like to fall for someone already taken by someone far more powerful, good-looking, and loved (Rama). Rahwana feels more relatable, and maybe he's not as evil as the wayang tales portray him. :)
“Hanuman tertarik pada Trijata lantaran Trijata memang lebih hangat ketimbang Sinta. Trijata lebih manusiawi. Sebagai kera, Hanuman rindu pada bau manusia. Hanuman tak mencium bau manusia pada Sinta. Baginya bau Sinta terlalu bau bidadari.” ― Sujiwo Tejo, Rahvayana: Aku Lala Padamu