Suparto Brata lahir di Surabaya, Jawa Timur, 27 Februari 1932. Ia anak nomor delapan dari pasangan Raden Suratman Bratatanaya dengan Raden Ayu Jembawati. Waktu Suparto lahir, ayahnya menganggur, sementara ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Masa kecil ia habiskan dengan mengikuti ibunya yang berpindah-pindah tempat kerja dari satu kota ke kota lain.
Setelah ibunya tak lagi menjadi pembantu rumah tangga dalam keluarga salah seorang kakaknya di Probolinggo, pada tahun 1947 Suparto kembali ke Surabaya, tempat ia meneruskan sekolah di SMPN Jalan Kepanjen 1. Namun, karena terkendala berbagai hal, meski nilai rapor untuk mata pelajaran IPA-nya bagus, ia tidak bisa meneruskan sekolah ke tingkat lebih tinggi.
Selulus SMP, Suparto langsung bekerja. Pertama di Rumah Sakit Kelamin (1951) dan kemudian di Kantor Pos, Telepon dan Telegrap di Surabaya, sambil ia melanjutkan sekolah di SMAK St. Louis. Setelah tamat SMA pada tahun 1957, ia meneruskan lagi bekerja di Kantor Telegrap (1952-1960) dan kemudian kembali berpindah-pindah tempat kerja dan profesi, mulai di PDN Jaya Bhakti Cabang Surabaya (1960-1967), menjadi pedagang kapuk/pengarang/wartawan freelance (1967-1971), dan menjadi pegawai Pemkot Surabaya sampai pensiun pada 1988.
Suparto menulis sejak tahun 1952. Karangannya dimuat di berbagai koran dan majalah, termasuk Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Tanahair, Surabaya Post, Jawa Pos, Kompas, dan Indonesia Raya. Sejak 1958 juga menulis dalam bahasa Jawa, yang hasilnya diterbitkan di koran-koran dan majalah seperti Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, Mekar Sari, dan Damar Jati.
Di antara puluhan karya sastra Suparto Brata yang sudah dibukukan antara lain yng berjudul Surabaya Tumpah Darahku, Saksi Mata, Gadis Tangsi, Saputangan Gambar Naga, Mencari Sarang Angin, Kremil, Republik Jungkir Balik, Donyané Wong Culika, Lelakoné Si lan Man, Ser! Randha Cocak, Suparto Brataès Omnibus, dan Pawèstri Tanpa Idhèntiti.
Nama Suparto Brata tercatat dalam buku Five Thousand Personalities of the World (edisi VI, 1988), terbitan The American Biographical Institute.
Gambaran dua dunia manusia jawa. Gusti Ayu Paraswati dan Teyi dua wanita jawa dari dua latar yang bertemu di tangsi Belawan. Yang pertama wanita ningrat yang berusaha keluar dari kepompong lingkungan istana. Yang kedua wanita tangsi dengan ke-kolong-annya. Pertemuan mereka menjalinkan terkaan: akankah kemuliaan datang dari hanya darah? ataukah ia dapat diraih dengan kepandaian?
Teyi, tokoh utama buku ini, lahir dari dua ibu. Ibu pertamanya dan sekaligus ibu biologisnya adalah Raminem. Ibunya menjadi istri Suratman Wongsodirdjo dengan dendam ingin keluar dari kemelaratan. Jalan keluarnya adalah bekerja guna membalaskan dendam pada Yu Camik yang menistanya semata perempuan desa yang akan merongrong harta warisa mertua. Ibunya Raminem selalu mendongengkan kepada Tey tentang orang kuasa, kaya, dan pandai. Kemenangan akhir ada pada orang pandai. Meski Teyi selalu menyimpan pertanyaan kepada ibunya, "kenapa ia hanya bercita-cita menjadi kaya?"
Ibu kedua Gusti Ayu Parasi, ningrat jawa yang masih kerabat Ingkang Sinuwun Sunan Surakarta Hadiningrat. Melalui ibu kedua ini lah, Teyi mendapat dongeng tentang istana. tentang wahyu yang harus didapat dari darah keningratan. Wanita dalam gambaran ideal seperti itu adalah wanita yang mampu merawat diri dan tahu cara memperindah dirinya (ngadi salira dan ngadi busana). Namun pertanyaan tetap ada di kepala Gusti Ayu dan Teyi, "dimanakah letak kepandaian?" Karena di luar lingkungan tembok istana, seperti di lingkungan gopernemen, yang jadi ukuran adalah kepandaian untuk dapat mengembangkan diri dan berprestasi. Begitu juga yang dialami oleh Gusti Ayu yang bersuami Raden Sarjubehi yang priyayi alit dan bekerja di gupernemen sebagai kapten KNIL. Dari ibu kedua ini Teyi membangun mimpi cinderelanya.
Dari dua kutub itu Teyi berkembang. Dari kebiasaan kaum kolong yang keras. Kejawaan yang dibangun ditanah rantau berbeda dengan kejawaan yang datang dari sosok Gusti Ayu. Kemandirian dan kerja keras yang berpadu dengan etiket dan kecerdasa intelektual menjadi bekal Teyi untuk dapat keluar dari kepompong tangsinya.
Ada ganjalan tentang kutub-kutub yang berseberangan itu terasa sangat pelan dibangun konfliknya oleh Suparto Brata. Bahkan ada kesan feodalisme yang kuat ketika isinya wejangan tentang petatah-petitih kehidupan keraton. Mungkin bakat keliaran saya saja yang tidak terlalu suka dengan unggah-ungguh demikian. Bagian itu sesungguhnya yang cukup lambat untuk terus dibaca. Permakluman atas hal itu saya karena ingat seorang kawan yang Pujakesuma. Tentunya ikatan jawa yang berbeda itu yang membuat alur dialog Teyi-Gusti Ayu menjadi lebih lumrah. Kerinduan akan tanah asal terlebih "pusat" budaya tanah asal, serta juga potret jaman itu, menjadikan dialog intens yang mengusung semangat adilihungisme menjadi tempat yang wajar. Selain saya juga menduga Suparto Brata cukup sabar mengembangkan konflik itu di dua buku selanjutnya.
Cerita ini kayak akan deskripsi suasana jaman itu. Termasuk istilah kolong yang muasalnya adalah kolong rumah tangsi belanda yang lazim dibangun sebagai rumah panggung. Anak-anak prajurit tangsi biasa bermain di kolong rumah mereka yang kemudian biasa disebut sebagai anak kolong. Termasuk gambaran orang-orang jaman itu yang memilih jadi tentara belanda. Btw, pangkat sersan kepala yang disandang oleh Wongsodirdjo termasuk tinggi seharusnya untuk seorang pribumi, namun kenapa ia masih tergolong sama-rata dengan prajurit tangsi lainnya?
Salut dengan deskripsi jaman itu. Terutama dengan menggunakan Teyi sebagai teropongnya. ***
Matur sembah nuwun kanggo Jeng Roos atas bukunya.
Yang baca pertama malah bapakku duluan. Setengah gak percaya dia buka itu buku. Taunya dia nyeletuk, "itu bukumu lakonnya malah deket omah!" Bengong gue, "emang udah ampe halaman berapa? Sebelah mananya rumah?" "Itu sampe ...(nyebut nama tokohnya)...kan tangsinya di deket ngGajahan"
iye ye? gue malah baru mereka-reka gambar yang ada di buku "Burung-Burung Manyar" sama gak suasana tangsinya. Ketika bokap merusak gambaran yang gue dapat dari skimming itu, gue yakin gak yakin, cuma salut dengan mata tua yang masih membuka bacaan anaknya. hehehe
lumayan juga dongeng pak Brata ini - jadi dikenalkan dengan kehidupan tangsi jaman koloni Belanda. Gaya menulisnya lumayan asyik juga - next buku kedua dari trilogi