Kazu dan Hana mengikuti Masaru dari belakang. Mereka berlari sampai ke tengah-tengah lapangan olahraga untuk bergabung dengan anak-anak klub baseball. Di luar dugaan, anak-anak klub dan penduduk yang entah dari mana datangnya, berbondong-bondong berlari melewati mereka menuju gedung sekolah sambil berteriak-teriak, “TSUNAMI! TSUNAMI!”
Awalnya, hari itu Hana jalani seperti biasa. Ia tak menyangka, pada hari itu pula, gempa besar dan tsunami menyerang kotanya, Minami Souma. Gadis keturunan Indonesia-Jepang itu tak hanya kehilangan rumah, dia juga kehilangan ibunya.
Bersama dengan ribuan pengungsi lainnya, Hana tinggal di dalam sebuah sekolah. Mencoba melanjutkan hidup, mencoba bertahan dengan harapan yang perlahan-lahan terkikis.
***
Silvia Iskandar menulis novel ini berdasarkan musibah yang terjadi di Provinsi Fukushima, yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa dan tsunami pada tanggal 11 Maret 2011 lalu.
Really cute! Gaya menulis silvi yang beda (dari kebanyakan buku-buku sekarang) di buku ini mengingatkan saya akan Toto-chan: sederhana, jujur, mampu memaparkan emosi yg dalam.
Gambaran bencana yang detil beserta konflik dan masalah yang mengikutinya terasa begitu realistis hingga sulit dipercaya silvi enggak ngalami sendiri semua ini.
Kalaupun ada sedikit kritik barangkali tentang baterai hp-nya salah satu tokoh cowok yang terkesan enggak ada habisnya padahal diceritakan dia cukup aktif menggunakannya. Hehehe.
bikinbaper parah, tapi penasaran jadinya sama hubungan mereka antara pilih masaru ataukah kazu? dan novel ini bener-bener membuka pikiran bangeeeeeeet tentang pengorbanan seorang ibu, nangis nggak bisa nahan air mata sumpah pas aunti mary mulai menceritakan kisah dari awal fakta yang sesungguhnya. Terima Kasih Kak Silvia atas reminder for me about mother <3
ceritanya mengalir banget, bikin terharu... sbenernya pengen ponakan yang abg juga baca buku ini biar belajar tegar seperti tokoh Hana. ternyata cerita cinta itu ada dimana-mana. Dari 2 buku karya Silvia yang saya baca, makes her one of the writers i would anticipate..
Wah novel keren nih, bikin terharu. Dari kisah nyata bencana gempa & tsunami di jepang. Alurnya ga ngebosenin sama sekali. Bener2 bikin nyadar abis baca ini. Keren!
Hana terlalu banyak mengeluh, bahkan untuk hal-hal yang sepele. Ketika temannya--udah lupa namanya--membuat tulisan kondisi di sana di internet, dia malah menganggap itu sikap pamrih dan kurang sensitif. Lebih-lebih dia mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan mengembalikan ibunya. Agak aneh kalau menurut saya. Padahal kalau berita bisa disebar lebih banyak, tidak menutup kemungkinan ada orang yang kebetulan ketemu atau kenal sama ibunya di pengungsian lain. Tapi, mungkin, mental Hana memang terguncang dengan musibah tersebut sehingga uring-uringan terus. Walau sebenarnya, mungkin, akan lebih menarik jika hana dan teman-teman mudanya ini lebih banyak terlibat dalam kegiatan sukarelawan atau gesit membantu kebutuhan orang-orang manula di pengungsian--bukan malah ngumpetin tisu toilet. :p
Ada satu adegan yang bikin saya ngikik, ketika Hana merasa bangga karena telah membantu proses kelahiran bayi. Padahal, kalau saya tidak salah--lupa lagi, Hana cuma bantu megangin si ibunya. Yang pontang-panting justru si temen cowoknya itu, mana dibentak-bentak lagi. :,)
Dan konflik bersama ibunya agak berlebihan. Hana terkesan terlalu memojokkan sang ibu, padahal setelah dijelaskan teman ibunya, justru ayahnya yang bermasalah. Tukang pukul, mabuk-mabukan, tapi kena Hana malah membenci ibunya? Dengan alasan ibunya terlalu bodoh karena mau menikah dengan ayahnya. Padahal akan Hana akan lebih mengesankan kalau jauh lebih peduli sama ibunya. Berusaha hidup lebih baik tanpa ayahnya, bukan malah memojokkan ibunya.
Terakhir soal pendidikan. Karena tidak sanggup kuliah, Hana memilih pasrah dengan nasib. Tidak berusaha mencari beasiswa atau apa gitu--tentunya sebelum ada bencana alam. Bukankah masih bisa diusahakan, bukannya malah menyalahkan ibunya lagi--yang katanya kurang mengerti dia. Pffft.
Selebihnya cukup, penggambaran tentang kondisi banjir dan tsunaminya sudah terasa.
Saya sampai berpikir Silvia betul-betul mengalami sendiri musibah Tsunami di Fukushima, lantaran begitu detil dan nyatanya penggambaran peristiwa dalam novel ini.. (haduh jangan sampai deh, ya..) Bila tidak mengalami sendiri, berarti Silvia punya ketelatenan yang super dalam melakukan riset, serta kemampuan hebat untuk melukiskan peristiwa tersebut melalui kata-katanya sendiri.
Saya suka, karena kejadian sedih sekalipun dituliskan dengan indah dan dapat mengirimkan maksud, walaupun tanpa bermenye-menye, tanpa kesan cengeng. Bersedih-sedih sepertinya hal yang lazim dilakukan oleh penulis pada umumnya --> menyetir pembaca agar tersayat-sayat demi mencapai klimaks emosional. Tapi buku ini tegar. Sejalan dengan spirit yang dianut para korban tsunami itu sendiri di Jepang waktu itu. (walaupun toh ibu saya bolak-balik mengusap air mata saat membacanya :D )
Silvia menggabungkan otak kanan dan kiri dengan sempurna. Fakta, logika, emosi, perasaan; semua diajak bicara dalam buku ini.
Kalau pun harus mengkritik, terus terang saya kurang sreg dengan judul dan cover bukunya. Sayang, kurang kuat.. Mungkin di karya-karya selanjutnya, penulis bisa memperjuangkan cover yang 'nendang' seperti novel kedua (Sakura Wonder) dulu :)